Friday, March 21, 2014

Oase Pengetahuan Bernama Bidan Desa & Kelas Ibu Hamil

Hidup di daerah pedesaan itu benar-benar damai, bebas polusi dan alami; karena itu, saya lebih menyukai tinggal di pedesaan. Tapi ada satu hal yang kurang saya sukai dengan lokasi pedesaan, yaitu bahwa seringkali kami tidak terjangkau berbagai fasilitas kesehatan atau pendidikan modern. Hal ini mengingatkan kehamilan pertama saya sekitar 2.5 tahun lalu; mulai dari tidak adanya kelas untuk mempersiapkan kelahiran, sulitnya menentukan tempat melahirkan dan kegagalan melakukan IMD. Di daerah saya, hanya ada dua dokter kandungan yang bisa dijangkau. Dan cerita kegagalan IMD itu adalah kesalahpahaman saya dengan perawat yang membantu persalinan. Kami memiliki persepsi yang berbeda tentang IMD, menurut mereka IMD itu adalah prosedur dimana ibu dapat segera menyusui bayinya karena fasilitas rawat gabung. Padahal IMD dalam persepsi saya adalah prosedur dimana perawat atau pun dokter akan membantu meletakan bayi saya di dada, sehingga dapat mencari puting susu ibunya :D.

Tapi saya masih cukup beruntung. Berbekal rasa ingin tahu, pengetahuan dan fasilitas internet yang memadai; saya bisa mendapatkan begitu banyak informasi seputar kehamilan dan kelahiran. Informasi yang membuat saya mampu mengoptimalkan fasilitas yang ada dan tidak mencegah hal-hal negatif yang dapat terjadi. Dan alhamdulillah, saya pun berhasil melalui proses kehamilan dan kelahiran dengan baik, serta sukses memberikan ASI ekslusif sampai Ganesh berusia tepat 6 bulan dan melanjutkan pemberian ASI sampai usia sekitar 2 tahun 2 bulan.

Lokasi Rumah Mertua
Desa Kedung Rejoso, Kecamatan Kotaanyar,
Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur

Kondisi yang hampir mirip saya temui pada saat mudik ke rumah mertua pada minggu kedua bulan Maret 2014 lalu. Tentu saja ini bukan kali pertama saya mengunjungi rumah mertua, hanya saja waktu itu kebetulan istri adik ipar saya sedang mengandung. Saat itu, saya berkesempatan untuk mengikuti Kelas Ibu Hamil yang dibawakan oleh Bidan Desa Kedung Rejoso bernama Zumrotus Sholikah. ‘Kelas Ibu Hamil’ dimulai dengan semacam pre-test untuk mengetahui pengetahuan yang dimiliki para ibu mengenai kehamilan dan kelahiran. Kemudian, setelah pre-test didiskusikan bersama, kelas dilanjutkan dengan pemberian materi (plus diskusi), praktek senam ibu hamil, post-test dan diakhiri dengan praktek ‘Senam Ibu Hamil’. Materinya sendiri tentunya seputar kehamilan dan kelahiran, seperti perawatan, diet, proses melahirkan, pemberian ASI, KB dan banyak lagi.

Buku ‘Kesehatan Ibu & Anak’
Buku pegangan peserta ‘Kelas Ibu Hamil’
Materi ‘Kelas Ibu Hamil’
Dalam daftar isi ‘Buku Kesehatan Ibu & Anak’
Materi ‘Kelas Ibu Hamil’
Dalam daftar isi ‘Buku Kesehatan Ibu & Anak’

Dalam ‘Kelas Ibu Hamil’ ini saya juga diberikan kesempatan untuk mengikuti pre-test dan post-test. Dari sini dan juga interaksi yang terjadi dalam kelas, begitu terasa kesenjangan pengetahuan yang ada. Bagi saya, semua materi yang diberikan sama sekali bukan hal yang baru karena pada saat hamil dan pasca hamil saya cukup rajin mencari informasi melalui internet, majalah, dokter kandungan maupun sumber informasi lain. Karena itu, hasil pre-test maupun post-test saya relatif cukup baik :D. Tapi, bagi peserta lain yang (mungkin) dari lahir hingga saat ini tinggal di pedesaan dengan minimnya arus informasi mengenai kehamilan dan kelahiran secara klinis, pengetahuan seperti ini adalah sesuatu yang benar-benar baru. Dan disinilah peran penting seorang Bidan Desa seperti Bu Zum (panggilan ‘murid-murid’ kepadanya), yaitu membuat pengetahuan ini menjadi terjangkau bagi penduduk di pelosok negeri. Menurut Bu Zum, ‘Kelas Ibu Hamil’ adalah program Dinas Kesehatan dengan Bidan Desa sebagai pelaksananya. Satu desa sendiri memiliki satu Bidan Desa, sehingga Bu Zum sebagai Bidan Desa Kedung Rejoso memiliki tanggung-jawab untuk melaksanakan ‘Kelas Ibu Hamil’ di wilayah tersebut.

Suasana ‘Kelas Ibu Hamil’
Pada saat mengerjakan post-test

Selain ‘Kelas Ibu Hamil’ dan tugas pokok untuk membantu perawatan kehamilan, proses kelahiran dan perawatan pasca kelahiran bagi warga Desa Kedung Rejoso, Bu Zum juga terlibat aktif dalam program-program Dinas Kesehatan lainnya. Misalnya saja pelaksanaan Posyandu, Desa Siaga dan survey PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Hmm, cukup banyak juga ya… dan tentunya semua itu sangat penting untuk mengangkat derajat kesehatan masyarakat yang masih minim pengetahuan berkaitan dengan hal tersebut.

Lembar Jawaban Evaluasi
Pre-test salah 1, post-test benar semua :D
Senam Ibu Hamil
Disini saya memilih foto-foto saja :D

Ada tantangan tersendiri dalam profesi sebagai Bidan Desa di lokasi dengan penduduk yang mayoritas masih ‘awam’ dengan pengetahuan kehamilan dan kelahiran klinis. Karena keawaman ini menyebabkan banyaknya orang yang skeptis, memandang hal ini sebagai hal yang tidak penting dan akhirnya memilih untuk tidak ambil bagian. Seperti ‘Kelas Ibu Hamil’ yang dibawakan Bu Zum, yang hanya dihadiri oleh 5 orang. Dan dari percakapan yang saya tangkap, sesungguhnya ada beberapa ibu hamil yang tidak mengikuti kelas ini, karena dilarang oleh keluarganya. Ya, terkadang stigma yang ada di masyarakat membuat tugas Bu Zum menjadi lebih berat. Dan tanpa ketegaran, ketekunan dan semangat pengabdian, semua itu akan dengan mudah membuat seseorang menjadi patah semangat dan tidak sepenuh hati melaksanakan tugasnya.

Karena itu, salut kepada Bu Zum dan orang-orang sepertinya yang bisa menjalankan profesinya dengan segala tantangannya dengan ikhlas dan tekun. Orang-orang yang terus dan terus menyebarkan kebaikan disaat semua itu tidak selalu mendapat tanggapan positif. Orang-orang yang mendedikasikan profesinya bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk kebaikan komunitas di sekitarnya. Bu Zum sebagai seorang Bidan Desa terus tekun mengadakan ‘Kelas Ibu Hamil’, terlibat aktif dalam Posyandu, Desa Siaga, survey PHBS dan lain-lain; meskipun tidak selalu mendapat sambutan positif. Terus mengupayakan perubahan ke arah kebaikan bagi orang di sekitarnya, sekecil apa pun dan sesulit apa pun.

Benar-benar inspiring bukan? Bayangkan jika banyak orang melakukan hal yang sama… mendedikasikan profesinya bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk kebaikan komunitas di sekitarnya. Bekerja bukan hanya untuk mendapatkan gaji, tapi untuk perubahan menuju kebaikan sekecil apa pun di sekitarnya. Melalui cara yang kita bisa, kepada komunitas di sekitar yang bisa kita jangkau. Polisi, hakim dan jaksa berdedikasi untuk menegakkan hukum, seorang guru berdedikasi untuk menjadikan murid-muridnya orang yang bermoral dan cerdas, serta banyak lagi. Siapa pun kita, pasti memiliki kemampuan sekecil apa pun untuk menebarkan kebaikan dan membuat dunia menjadi lebih baik karena keberadaan kita #IwasHere.

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

2 comments:

  1. wah artikel yang bagus Mak Nian :)
    *jadi pengen hamil lagi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hayuk ah.. hamil lagi :D
      makasih mak, semoga cerita si Bu Bidan bisa menginspirasi banyak orang :)

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...