Thursday, January 28, 2016

When Our Good Boy Gone Bad…

Tidak terasa, ternyata hampir setahun tidak membuat tulisan tentang Ganesha si Kakak yang sekarang berumur 4 tahun 6 bulan (terakhir menulis tentangnya di Ganesha The Big Brother). Padahal, dulu rajin sekali menulis tentang tingkah dan perkembangannya, hiks, sekarang baru tahu rasanya punya dua anak laki-laki yang aktif bukan main (we call it ‘usreg’, ‘tengil’, ‘pecicilan’, etc in a good way of course). Oh ya, dan tentu saja juga karena load pekerjaan yang sedang tidak bersahabat sehingga nyaris tidak ada waktu untuk mengerjakan hal selain ‘pekerjaan’ di kantor :(. Tapi, malam ini, spesial saya ingin menulis tentang dia, sebagaimana saya sengaja cuti 2 minggu untuknya… karena dia memang spesial… Hey boy, you’re so special for us, we love you so much… :).

OK, let’s start the story

[Disclaimer: ini cerita yang panjang (1885 kata), if you don’t have much time, bisa langsung skip ke bagian akhir untuk kesimpulannya. Happy reading :)]


Ganesha… tidak terbayang sebelumnya bahwa si bayi kecil yang lucu dan imut ini akhirnya tumbuh menjadi seorang anak berusia 4 tahun 6 bulan yang sangat lincah, penuh rasa ingin tahu, perfeksionis and so determine with what he want (baca: ngotot dengan kemauannya). Dulu, mungkin cukup mudah untuk mengarahkannya pada hal yang menurut kami benar; tapi sekarang, kami harus berusaha sangat keras untuk memberikan alasan hingga hati dan pikirannya bisa menerima dan menuruti perkataan kami… Hingga jujur, kadang kami kewalahan dan akhirnya pertengkaran pun tidak dapat dielakkan; seolah-olah Ganesha yang berusia 4 tahun 6 bulan itu adalah lawan debat yang sepadan dengan kami. Kepandaiannya berkata-kata dan berpikir seringkali mengelabui, hingga kami berbuat bodoh seperti itu. Ganesha kecil kami yang lucu, kini terlihat suka membangkang, sampai semakin sering berteriak dan menangis jika marah. Hingga bagi beberapa orang, sepertinya cukup mudah untuk melabelinya ‘nakal’. Dan kemudian menunjuk bahwa semua itu karena kurangnya perhatian kami (kedua orang-tuanya) yang sama-sama bekerja.

Yah, bisa jadi poin kedua itu benar; ada banyak kekurangan kami sebagai orang-tua yang perlu dikoreksi. Tapi, bahwa Ganesh adalah anak ‘nakal’, we don’t think so… Let me explain why, sekaligus mencari solusi permasalahan kami…

Seems like our good boy just gone bad, literallyBut really? Ah, tentu saja kami (orang-tuanya) tidak sependapat…

[SETIAP INDIVIDU ADALAH UNIK]. Menurut kami dia hanya mengalami (semacam) burnout alias kelelahan secara mental yang diwujudkannya dalam bentuk pemberontakan. Hal seperti ini memang tidak selalu ditandai dengan pemberontakan dan pembangkangan, ada juga anak yang kemudian menjadi pemurung atau mencari pelampiasan pada hal lain. Tapi, begitulah cara Ganesh sesuai dengan kepribadiannya…

Faktanya memang individual differences (keragaman individu) itu nyata adanya. Menghadapi suatu keadaan yang tidak ideal, seseorang bisa merespon dengan ketenangan tanpa terlalu mempermasalahkannya, ada juga yang kemudian justru menarik diri (bersedih)… Tapi ada juga yang berpikiran bahwa hal itu harus diubah sesuai keinginannya. Dimana pada saat tertentu (mungkin) dia masih bisa mengendalikan dan menahan keinginan itu, tapi saat dia harus menerima keadaan seperti itu terus-menerus, ada ambang dimana dia akan marah dan melakukan perlawanan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...