Monday, July 25, 2016

The Truth Behind 2 to 7 Years Old’s Mind

Geregetan! Gemes! Adalah dua kata yang paling menggambarkan efek kekesalan yang sering saya rasakan menghadapi ulah Ganesh yang semakin ‘sulit diatur’ akhir-akhir ini. Dulu, ‘kepintaran’-nya lebih banyak digunakan untuk memahami makna, maksud dan intruksi yang kami berikan; jadi begitu paham, insyaallah dia akan ‘menurut’. Beda dengan sekarang, urusan ‘paham-memahami’ jelas jauh lebih lancar; dengan mudah kami bisa membuatnya mengerti maksud kami. Lebih santai dan effortless sampai disini, tapi ‘kita-kita’ yang punya anak pra-sekolah-dasar (2 sd 7 tahun) pasti tahu bahwa saat ini, tantangan yang lebih menguras hati dan pikiran baru saja datang dan terus mengejar, selayaknya bola salju –makin lama, makin besar. Itu yang saya rasakan, semakin lama, Ganesh semakin suka mencari alternatif solusi yang kadang membuat semua serasa kurang efektif, atau bahkan membantah dan menolak sama sekali permintaan kita.

Ganesh mau pose macem-macem begini sebagai hukuman karena njatuhin gantungan tirai di rumah… Setelah berkali-kali diingetin, tapi anaknya masih penasaran juga ‘__’


Ganesh : “Mama, Anesh mau main dulu ya…” (Ini posisinya pagi-pagi mau berangkat sekolah dan ke kantor).
Saya      : “Anesh, bentar lagi kita berangkat lho… Mama tinggal ganti baju nih…”
Ganesh  : “Tapi Anesh mau main…”
Saya     : “Ya udah, sebentar aja ya… Jangan jauh-jauh… Biar nanti gampang manggilnya…” (Mengalah, daripada ngambek anaknya).
Ganesh  : “Anesh maunya lama! Kita berangkatnya nanti aja habis Anesh main…”
Saya      : “Aduh Anesh… @&*&)!^#*) ‘__’ (Mulai menjelaskan, tapi anaknya susah dijelasin = deadlock, stress, pengen nangis, pengen marah, bingung…)

Terbayang kan rasa sebalnya… Terutama pada saat-saat kritis; seperti sedang terburu-buru atau kita sedang kelelahan secara fisik/psikis. Harusnya sih kita tetap bisa sabar, tapi apalah daya, kadang pertahanan bobol juga… Memang harus belajar lebih banyak lagi dan mempertebal niat untuk mengatasi situasi-situasi seperti itu yang semakin sering terjadi.

Salah satunya ya dengan menyadari bahwa memang seperti itulah karakter pemikiran mereka pada usianya saat ini (5 tahun). Menurut Teori Perkembangan Kognitif (Piaget), pada usia ini (2 sd 7 tahun), anak sedang dalam tahap perkembangan kognitif preoperational. Mengutip dari Buku Life-Span Development (Sigelman & Rider, 2012); “Anak-anak pra-sekolah (2 sd 7 tahun) menggunakan kemampuan berpikir simbolisnya untuk membangun bahasa, terlibat dalam permainan peran dan memutuskan masalah. Tapi pemikiran mereka belum logis; mereka egosentris (tidak mampu untuk melihat dari perspektif orang lain) dan dengan mudahnya dikelabui oleh persepsi, gagal dalam hal konversi karena mereka tidak bisa memahami/mempercayai sepenuhnya hal yang logis.”

Seperti halnya pada penggalan kasus saya dan Ganesh di atas. Dalam pikiran Ganesh, sekolah itu ya bisa nunggu dia main dulu, ga harus sekarang, bisa nanti… Egosentris, sulit memahami sudut pandang orang lain…Perlu effort dan waktu untuk membuatnya mengerti bahwa dalam sekolah itu ada aturan, ada jam masuk dan keluarnya, yang fixed dan bahwa waktu bermainnya itu yang flexible, jadi bisa menunggu…

Dan ya, mereka memang belum sepenuhnya logis… Sesuatu yang sepertinya sederhana saja terkadang begitu sulit diterima, apalagi jika itu bertentangan dengan keinginannya… Misalnya nih:

Ganesh  : “Mama, ini sudah sore belum?”
Saya      : “Hmm, kenapa Anesh? Anesh mau main ya?”
Ganesh  : “Iya… Ini sudah sore banget belum?”
Saya      : “Sudah sih Anesh, ini sudah mau Maghrib, Anesh main di rumah saja ya…”
Ganesh  : “Tapi Anesh mau main sepeda…”
Saya      : “Main sepedanya besok aja ya…”
Ganesh  : “Besok itu lama…”
Saya      : “Ya gimana dong, ini kan sudah sore, sudah mau malam… bla-bla-bla @^$(#&#^$^*^%$…
Ganesh  : “Besok itu lama Mama!”
Saya      : “Ya udah, sana Anesh kalo mau main, tapi sudah gelap ya… Nanti kalo jalannya ga keliatan gimana… bla-bla-bla…” (Ceritanya ngasih ijin biar dia mikir nih resikonya).
Ganesh  : “Jadi gimana ini!” (Nangis tantrum).

Coba deh dibayangin, ini kan sebenarnya sederhana saja ya… Ini sudah menjelang malam, berbahaya kalo main di luar; ya main di rumah saja, atau kalo memang pengen main di luar ya tanggung resikonya. Mau nangis seperti apa juga ga akan merubah keadaan; ga bisa memutar waktu, ga bisa mengembalikan matahari kembali ke atas, ga bisa merubah keadaan menjadi terang, juga tidak bisa mempercepat waktu… Jadi, kenapa harus nangis? Kan tinggal pilih lho; kalo mau main sekarang ya gelap-gelapan, sepi, dan bahaya. Nah, kalo ga mau, ya tunggu besok mainnya… Kita yang orang dewasa pasti ga habis pikir apanya yang ditangisi, tapi itulah salah satu akibat dari kemampuan kognitifnya sehingga belum bisa berpikir sepenuhnya berlandaskan logika.

Kadang, hal yang sebenarnya sepele bagi kita menjadi sesuatau yang rumit bagi mereka. Dan seringkali, mereka melakukan hal yang menurut kita tidak efektif; yang seharusnya bisa sebentar, jadinya lama; dan yang seharusnya gampang menjadi sulit. Kadang, sulit bagi kita untuk memahami cara mereka berpikir. Kadang itu membuat kita menjadi tidak sabar, gemas atau gregetan. Kadang mengapa hal yang sederhana saja tidak juga mengerti. Kadang juga gemas, kenapa begitu sulit bagi mereka untuk mempercayai kata-kata kita dan menurut saja untuk mempersingkat waktu saat mereka belum mampu memahami penjelasan kita.

Tapi kan… sederhana dan sepele itu menurut kita, bagi mereka apa yang mereka lakukan ya memang harus seperti itu. Memang harus seperti itu caranya, bukan sesuatu yang rumit bagi mereka. Demikian juga dengan apa yang kita anggap ‘tidak efektif’ dan ‘tidak masuk akal’, ya memang harusnya seperti itu, tidak ada cara lain. Sekali lagi, melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda itu masih belum mereka kuasai; dan pemikiran mereka pun belum sepenuhnya logis. Berikut adalah karakter seorang preoperational thinker (kurang lebih usia 2 sd 7 tahun) menurut Teori Perkembangan Kognitif Piaget:
  • Memiliki pemikiran yang irreversible atau tidak mampu membalik suatu kegiatan secara mental;
  • Pemikiran terpusat pada satu aspek dari permasalahan (belum/kurang mampu melihat beberapa dimensi pada saat bersamaan);
  • Memiliki pemikiran yang statik, yaitu gagal untuk memahami transformasi atau proses dari berubahan dari satu bentuk ke bentuk lain;
  • Poin 1 sd 3 menyebabkan seorang preoperational thinker seringkali gagal untuk menyelesaikan permasalahan konversi. Misalnya pada saat air dalam gelas berukuran lebar dipindahkan ke dalam gelas yang tinggi dan sempit, maka mereka akan menganggap air dalam gelas tinggi dan sempit lebih banyak (padahal kan sama saja);
  • Pemahaman didorong oleh bagaimana suatu hal terlihat daripada hasil penalaran logis;
  • Seringkali menggabungkan beberapa fakta yang sesungguhnya tidak berhubungan, sehingga mengantarkan mereka untuk membuat kesimpulan yang salah akan penyebab suatu hal/kejadian;
  • Seringkali menggabungkan beberapa fakta yang sesungguhnya tidak berhubungan, sehingga mengantarkan mereka untuk membuat kesimpulan yang salah akan penyebab suatu hal/kejadian;
  • Kesulitan untuk melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain dan berasumsi bahwa apa yang ada dalam pikirannya juga ada dalam pikiran orang lain (egosentris);
  • Mengklasifikasikan objek berdasarkan satu dimensi pada saat bersamaan.

Jadi, the truth behind 2 to 7 years old’s mind atau fakta dibalik pemikiran anak usia 2 hingg 7 tahun itu adalah: bahwa mereka cukup mastered untuk memahami makna ucapan kita secara harafiah (bahasa), namun terkadang mereka gagal untuk memahami apa yang kita maksud secara logis.

Jadi, wajar ya kalau cara berpikir, kesimpulan dan solusi-solusi yang mereka hasilkan seringkali kita rasa tidak efektif atau tidak rasional. Kalau menurut saya sih cara berpikir mereka itu masih ‘nanggung’; mereka memahami makna dari kata-kata yang kita ucapkan, tapi cara berpikir mereka berbeda dengan kita, sehingga ya itu tadi, kesimpulan dan solusi-solusinya berbeda dengan harapan kita. Yang wajar juga jika seringkali membuat kita gemas dan gregetan, tapi tentu saja, kita harus bersabar kan… Jangan kemudian kita ikut-ikutan mengalami degradasi dalam berpikir, ikut-ikutan berpikir secara egosentris; berpikir bahwa cara berpikir mereka ya sama dengan cara berpikir kita.

Tetap berpikir jernih, sabar dan mengayomi… Bantu mereka memahami berbagai hal dan ajak mereka untuk melakukan hal yang baik untuk mereka lakukan sesuai cara berpikir mereka. Semua ada masanya, dan akan ada masanya dimana anak-anak yang sekarang terasa menggemaskan dan bikin geregetan ini tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas, logis dan bijak dalam menyikapi berbagai hal. Akan ada masanya dimana kita akan berdebat dengan anak-anak kita dalam level yang berbeda, lebih sulit, karena harus menggunakan berbagai fakta dan logika untuk meyakinkan mereka. Haha, sepertinya itu bukan berarti bahwa kita kemudian bisa menarik napas lega dan melepaskan ketegangan urat-urat saraf ya… Tapi bisa jadi lebih ‘menegangkan’ daripada apa yang kita hadapi sekarang :D.

It’s OK ibu-ibu (dan bapak-bapak), tetap harus bersemangat dan bersyukur dalam menghadapi setiap moment dalam hidup kita. Karena waktu itu kan hanya sementara ya… Let’s make the best thing that we can… Dan untuk sekarang, yang bernasib sama dengan saya, memiliki anak dengan level kognitif yang sama (istilah kerennya preoperational), mari kita berusaha tetap berpikir jernih dan bijak dalam menghadapi tingkah polah mereka.

Semangat!!!

With Love,
Nian Astiningrum
-end-


Reading:
Sigelman, Carol K. & Rider, Elisabeth A. 2012. Life-Span Human Development, 7th Edition. Canada: Wadsworth.

2 comments:

  1. Ganesh! You made my day! :D Gemes banget si! Thanks for sharing mbaknyaaa

    salam,
    kesya

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...