Tuesday, August 22, 2017

Menggali Represi dengan Film 'The Boss Baby'

Pertama kali liat poster film ini di internet dan membaca sinopsisnya, saya tidak terlalu berminat. Dari sinopsinya, waktu itu terkesan kalau film ini bukan untuk konsumsi anak-anak, walaupun formatnya animasi. Semacam film 'Despicable Me' yang menurut saya tidak terlalu kuat pesan/nilai positif di dalamnya, tapi sekedar lucu-lucuan saja. Dibandingkan film 'Cars' misalnya yang membawa pesan sportifitas dan kebaikan, atau film 'Planes' yang mengajarkan tentang usaha keras dan tekad yang kuat dalam mencapai suatu cita-cita, meski tampak mustahil.

Penggembar 'Despicable Me' jangan marah ya… Ini pendapat saja. Bukan berarti juga anggapan bahwa film ini tidak baik untuk ditonton, Ganesh kemarin nonton juga di bioskop sama papanya. Cuma, saya pribadi ga memasukkannya dalam list koleksi film pribadi di rumah.


Nah, kembali ke film 'The Baby Boss'… Menurut persepsi saya, sebenarnya film ini menceritakan imajinasi seorang anak (Tim) tentang adik barunya. Sebelum memiliki adik, hidupnya begitu sempurna; dia adalah prioritas kedua orang-tuanya! Dari mulai bangun tidur, hingga akan tertidur kembali dan bahkan saat tidur… he's the one and only!

Dimana semua itu berubah 180º saat sang Adik lahir, yang digambarkan dengan kedatangan seorang bayi botak dengan pakaian jas lengkap turun dari taksi dan berjalan menuju ke rumah Tim. Dialah bayi yang kemudian menyebut dirinya sebagai The Boss Baby dan oleh orang tua Tim disebut sebagai adik laki-laki Tim. Seorang bayi yang kemudian mengambil alih sebagian besar perhatian orang-tua Tim, hingga Tim pun merasa kesepian dan diabaikan.

Dari situlah, Tim semakin membenci adiknya (Boss Baby) dan berusaha mencari tahu siapa sebenarnya Boss Baby ini. Dan akhirnya dia menemukan kenyataan bahwa Boss Baby sesungguhnya adalah bagian dari Baby Corp, perusahaan (semoga tidak salah) pengirim bayi kepada manusia, yang sedang menyamar untuk mencari tahu mengapa seringkali anak anjing mendapatkan kasih sayang lebih daripada bayi. Dimana orang-tua Tim bekerja pada perusahaan Puppy Co yang usahanya bergerak di bidang (kurang lebih) menyediakan anak anjing untuk manusia.

Drama yang seru pun dimulai dari sini. Dari awalnya Tim membenci Boss Baby dan berusaha membongkar penyamarannya; Boss Baby meminta maaf dan akhirnya Tim membantunya untuk melaksanakan misi penyelidikan agar Boss Baby bisa segera kembali ke Baby Corp; hingga akhirnya misi terselesaikan, semua kembali seperti semula sebelum Boss Baby datang ke rumah Tim… dan ternyata baik Tim maupun Boss Baby merasa kehilangan. Hingga akhirnya, bisa ditebak, kemudian Tim menulis surat kepada Boss Baby dan Boss Baby pun dengan bahagia meninggalkan karirnya di Baby Corp untuk menjadi adik Tim… kembali ke keluarga Tim.

Poster Film 'The Boss Baby'
from DreamWorkAnimation
Picture from HERE

Begitulah kira-kira film ini diceritakan secara singkat… Cerita saya mungkin kurang seru ya, tapi percaya deh, filmnya benar-benar seru dan cukup menegangkan!

Nah, kembali ke nilai moral yang bisa kita sampaikan kepada anak berdasarkan film ini… Of course it's about sibling love.

Saya sendiri menggunakan film ini untuk kembali menggali perasaan Ganesh saat memiliki adek baru. Bagaimana dia jadi diabaikan dan bagaimana perasaannya waktu itu. Menggali kekecewaan, rasa marah, dan sedih yang mungkin dirasakannya dulu.

"Lho, ngapain menggali pengalaman/perasaan/ingatan negatif kok malah digali dan diingat-ingat lagi? Bukannya lebih baik dilupakan?" No! Big NO! Berusaha melupakan pengalaman negatif atau dalam istilah psikologi dikenal sebagai represi. Pada saat seseorang mengalami sesuatu yang sangat melukai 'hati'; sedih, kecewa, malu, dan sebagainya; dan kemudian dia berusaha melupakan peristiwa tersebut… itulah yang disebut dengan mekanisme represi. Melalui mekanisme represi, suatu pengalaman atau perasaan negatif mungkin memang tidak lagi kita sadari. Kita tidak lagi mengingatnya. Namun, sesungguhnya semua itu masih terekam dalam alam bawah sadar kita, dan mempengaruhi perilaku kita.

I've ever been there before… Dulu, seringkali saya menekan perasaan malu, minder, konyol dan sebagainya yang saya rasakan, hingga saya tidak lagi meningatnya. Yes, secara sadar, memang saya tidak mengingatnya; tapi somehow perasaan itu tanpa saya sadari membuat saya merasa semakin kecil dan buruk. Hingga akhirnya, saya belajar untuk menggali perasaan-perasaan negatif itu, dan berusaha menyelesaikannya, daripada berusaha melupakannya.

'Menyelesaikan' maksudnya adalah berusaha membuat hati dan pikiran kita bisa menerima perasaan itu… Nah, caranya seperti apa, bakalan panjang, jadi insyaallah akan saya ceritakan dalam tulisan tersendiri.

So, kembali ke cerita menggali perasaan Ganesh saat memiliki adik baru, saya pun mengajak Ganesh berbicara:
"Kakak, sedih ya TimSejak ada adek baru, dia jadi ga pernah diceritain sebelum tidur sama papa-mamanyaKaya kakak dulu ya? Dulu, kakak sedih enggak? tanya saya.
Waktu itu, saya sudah siap jika Ganesh akan berkata 'iya' dan berharap kemudian dia akan cerita panjang lebar tentang perasaannya. Tapi, Ganesh hanya menjawab, "Iya" dengan santai. Udah, gitu aja…
Well, kemudian saya pun masih coba mengulik lagi, "Dulu, sebelum ada adek, kakak suka diceritain ya sebelum tidurSetelah ada adek, kakak ga pernah diceritain lagiKakak juga sering dimarahin sama mama ya…"
Dan Ganesh masih tidak menunjukkan tanda-tanda emosional dengan perkataan saya, sehingga saya pun menyimpulkan jika kejadian 'itu' tidak meninggalkan trauma emosional pada dirinya. But still, kemudian saya berkata padanya, "Anesh, mama minta maaf ya kalau mama dan papa jadi kurang perhatian sama Anesh setelah ada adekMaaf kalau kadang jadi suka marah-marahMama sama papa bangga sama Anesh, makasih ya, sudah jadi kakak yang baik buat adek…"
Saya memeluknya dan kemudian berkata lagi, "Anesh sayang adek kan? Anesh yang sabar ya kalau adek kadang ga ngerti Anesh kasih tauNamanya juga masih kecil, belum sepintar kakak…" Lalu saya acak-acak rambutnya dan kemudian menciumnya. "Anesh harus jagain adek yaKaya Tim jagain adeknya pas kehabisan susu yang bikin pinter…"
Kurang lebih seperti itu, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa ada sedikit kejadian yang ditambah atau dikurangi karena keterbatasan ingatan… 😬

Semacam tidak ada sesuatu yang 'seru' dalam cerita saya ini ya… Tidak ada adegan Ganesh curhat serius soal perasaannya waktu itu, he seem's able to cope with that past experience well. Tapi ya tetep sih, saya akan terus berusaha untuk mencari tahu dan menggali pengalaman-pengalaman buruk yang mungkin masih mengendap dalam ingatan bawah sadarnya.

Dan terlepas dari cerita yang kurang seru ini, apa yang ingin saya sampaikan dari tulisan ini adalah:
  • Suatu pengalaman negatif yang sangat melukai perasaan bisa jadi masih menjadi bagian dari diri kita. Kita hanya menekannya ke alam bawah sadar sehingga tidak menyadarinya. Namun, sesungguhnya hal itu masih mempengaruhi perilaku, perasaan dan reaksi kita pada lingkungan secara negatif. Hal inilah yang disebut represi, dan tidak menutup kemungkinan terjadi pada anak-anak.
  • Pengalaman negatif pada alam bawah sadar ini harus digali, disadari, dan diselesaikan secara sadar; misalnya dengan memafkan, memaklumi, dan sebagainya. 
  • Pada anak-anak, seringkali kita perlu untuk merangsang mereka mengingat suatu pengalaman negatif dan membantu mereka menyelesaikannya. Dalam hal ini, kita bisa memanfaatkan kejadian dalam kehidupan sehari-hari, maupun melalui cerita dan film.
  • Nah, dalam hal ini film 'The Boss Baby" ini menurut saya adalah media yang pas untuk menggali represi/pengalaman negatif berkaitan dengan kelahiran adik baru. Dimana sang kakak kemudian tidak mendapatkan perhatian sebesar sebelumnya.
That's it! So, sok lah nonton film ini… dijamin seru kok… dan semoga tulisan ini bermanfaat ya…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Sunday, August 13, 2017

Happy Kiddo's Room with INFORMA!

Rumah adalah tempat kita kembali dari segala aktivitas setiap harinya. Tempat melepas lelah, baik fisik maupun mental dan merasa relax. Juga tempat kita mengembalikan energi untuk kembali beraktivitas menyelesaikan berbagai tugas, serta merealisasikan mimpi-mimpi. Itulah definisi 'rumah' menurut saya… Dan kondisi itulah yang ingin saya capai berkaitan dengan 'rumah', salah satunya melalui penataan yang baik.

Nah, yang akan saya ceritakan di sini adalah mengenai penataan kamar anak-anak (Ganesh dan Mahesh)…

Selama ini, anak-anak belum memiliki kamar sendiri. Tidurnya masih random, kadang barengan saya atau suami. Nah, setelah pindah ke rumah baru beberapa waktu yang lalu, kami pun menyiapkan sebuah kamar untuk mereka. Satu kamar untuk berdua; supaya anak-anak lebih banyak berinteraksi, tidak merasa eksklusif dan untuk mempercepat transisi Adek tidur sendiri tanpa mamanya.

Karena kamar yang tidak terlalu luas ini akan dipakai berdua, bunkbed (tempat tidur bertingkat) menjadi pilihan kami. Dan kami pun ingin bunkbed ini memiliki fungsi lain untuk memaksimalkan kamar anak yang minimalis ini.


Singkat cerita, pada April 2017 saya pernah mengajak Ganesh ke INFORMA untuk mencari referensi furniture. Waktu itu, dia terpaku pada sebuah bunkbed berwarna kuning cerah yang memang terlihat unik. Bukan sekedar tempat tidur bertingkat, bunkbed ini digabungkan juga dengan meja belajar, rak buku, lemari pakaian dan juga tangga yang dimanfaatkan sebagai laci.

"Mama, Anesh mau yang ini aja… Nanti Anesh tidur di atas ya!" katanya bersemangat waktu itu. Tapi, waktu itu belum bisa langsung direalisasikan, karena masih banyak hal yang harus ditimbang… Cek luas kamar, posisi jendela dan pintu, serta tentu saja masalah pendanaan.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...