SOCIAL MEDIA

search

Tuesday, November 3, 2026

PERJALANAN MEDITASI SAYA (PERSONAL)

Hari itu, pagi-pagi sekali, sekitar pukul 06:00 WIB saya sudah berangkat dengan ojol menuju Candi Prambanan untuk mengikuti sesi Pound Unplugged yang merupakan rangkaian acara dari program Shape Project 2025. Saya suka banget olah-raga Poundfit, tapi jujur, belum pernah ikut cabor Pound Unplugged. Hanya tahu bahwa sesi ini terdiri dari dua bagian, 30 menit pertama Pound seperti biasa, dan 30 menit berikutnya adalah meditasi. Di antara begitu banyak rangkaian acara Shape Project, memilih sesi ini karena yang paling affordable untuk kantong saya, 300K, yang lain rata-rata di atas 500K bahkan sampai angka juta.

Saya sendiri, sesungguhnya belum pernah meditasi, tapi bayangan saya mungkin mirip dengan sesi relaksasi yang diajarkan semasa kuliah atau sesi renungan malam saat kemah pramuka. Mungkin seperti itu.

Sampai di meja panitia, ternyata terlambat banget...

Acara dimulai 06:00, bukan 06:30 seperti yang saya tahu. Huhu, ya sudah lah, memang jari saya juga belum sepenuhnya pulih dari cedera, gapapa ikut sesi meditasi saja.

Saya pun memilih tempat yang menurut saya paling strategis yang masih tersedia, duduk bersila, tanpa tahu kelanjutannya. Hari itu, Juli 2025, baru sekitar 4 bulan dari goncangan besar dalam hidup saja, tapi saya kesini bukan karena itu.

Dari tempat duduk saya di belakang, saya melihat seseorang yang akan menjadi fasilitator meditasi ini dipanggil oleh Pound Icon Tari Wirtjes yang membawakan sesi Pound yang baru berakhir. Dia memanggilnya Pishi, dan peserta lain tampak excited melihat dia muncul di panggung. Dalam hati saya berkata, "Hmm, kayaknya ini orang terkenal deh..."

Dan saya pun mengikuti instruksinya selama meditasi. Menutup mata, menarik napas panjang dan melepaskan dengan pelan, sembari mendengarkan alunan musik lembutnya, serta sesekali dentingan suara singing bowl. Suasana itu, ditambah suara Pishi yang saya sudah lupa tepatnya isinya apa, membawa saya masuk ke dalam diri saya. Saya adalah seorang dengan kecerdasan intrapersonal yang sangat tinggi (klaim pribadi berdasarkan pengetahuan saya). Saya merasa sangat mampu menganalisa dan merasakan apa-apa yang terjadi dalam diri saya, tapi, sesi meditasi itu membuat saya masuk lebih dalam, sangat dalam.

Saat itulah hati saya berkata, "Ini Nian yang harus kamu lakukan untuk masuk lebih dalam ke dalam dirimu..." Dan sejak itu, saya pun mulai belajar meditasi. Dari praktisi di sekitar saya, dari Pishi secara online, dan praktik mandiri.

Meditasi di Candi Prambanan Bersama Pishi

Pada awal saya mendalami meditasi, bukan visualisasi yang saya dapatkan tapi lebih ke insight atau apapun itu sebutannya, karena kadang juga seperti nasehat. Seperti diri saya berbicara pada diri saya sendiri. Pada satu sesi, satu hal yang sangat teringat yang mungkin adalah titik balik dari bagaimana saya melihat diri saya lebih dalam.

Saat itu saya berkata dalam hati, "Nian, kamu adalah satu titik kecil yang diciptakan Tuhan di dunia, untuk meneruskan cahaya cinta-Nya pada orang-orang di sekitarmu." Sesuatu yang terdengar sederhana atau bahkan naif, tapi terasa sangat dalam bagi saya. Membuat saya mengingat kembali apa-apa yang sudah saya alami.

Masa kecil saya yang dipenuhi kebingungan, ketidaknyamanan, ketakutan, rasa tidak terima dan segalanya. Insight demi insight yang saya dapatkan, yang kemudian saya pertanyakan, jika semua itu diberikan oleh Tuhan entah dengan perantara apa, mungkin hati saya. Hal-hal yang memudahkan jalan saya, yang dulu saya lihat sebagai keberuntungan. Mungkin lebih dari sekedar sesuatu yang random terjadi, tapi memang adalah pertolongan Tuhan.

Saya merasa diajarkan begitu banyak untuk memahami begitu banyak hal tentang kehidupan. Dan jika selama ini saya terbawa arus menganggap diri saya cengeng, over-analyst, naif, dan sebagainya. Terbawa arus berusaha meredam semua pemikiran mendalam saya tentang kehidupan dan intuisi saya tentang hal-hal di sekitar saya. Kemudian saya hanya bisa menangis, merasa selama beberapa saat dalam saya, saya mengkhianati diri saya sendiri. Meminta maaf. Sekaligus bahagia, akhirnya saya mengerti dan kembali pada siapa diri saya sesungguhnya.

Itu adalah sebuah momen besar dalam hidup saya, semua yang terjadi kini tampak penuh dengan makna dan keterkaitan. Dan saya membiarkan diri saya melihat dan merasakan segalanya sebagai diri saya. Bukan seperti kata orang-orang untuk tidak terlalu perasa, untuk mengabaikan, untuk tidak berpikir terlalu dalam dan sebagainya.

I am me. Tuhan menciptakan saya seperti ini. Memberikan begitu banyak pelajaran dan pertolongan untuk melaluinya. Semua itu punya tujuan, bukan kebetulan.

Tapi, itu bukan lah akhir dari perjalanan saya untuk memahami meditasi. Karena sesungguhnya selalu ada pertanyaan, apakah meditasi saya sudah benar? Apakah ini yang disebut meditasi? Kenapa saya tidak mendapat visualisasi dan bahkan sulit untuk memvisualisasikan apa-apa yang disampaikan instruktur jika meditasinya guided.

Yang muncul pada saat saya meditasi adalah perasaan dan emosi yang begitu besar, bukan hanya perasaan dan emosi karena pengalaman pribadi saya, tapi juga apa yang dirasakan orang lain. Juga diri saya berkata pada diri saya sendiri, memberikan insight, pemahaman, penguatan, dan bahkan nasehat. Bukan dalam bentuk suara, tapi saya merasakan kata-kata itu.

Meditasi demi meditasi saya berusaha menemukan pengalaman yang dialami orang lain, visualisasi, tapi belum juga bisa merasakannya. Sampai akhirnya, pada satu sesi meditasi yang saya ikuti dengan pendeta muda dari sebuah vihara, saya bertanya padanya.

"Pak, kenapa ya saya sulit mengikuti arahan meditasi guided, pikiran saya tidak mau nurut memvisualisasikan apa-apa yang disampaikan. Semakin saya paksa, malah jadi tidak tenang dan sibuk dengan pikiran yang berkelahi. Tapi, jika saya membiarkan diri saya tenang, tanpa target, membiarkan pikiran dan hati saya merespon apapun atas apa yang saya dengar atau saya rasakan, kemudian diri saya seperti berkata pada diri saya sendiri. Apakah meditasi saya salah ya?"

Kemudian beliau manjawab, "Itu karena kamu adalah seorang yang analytical, dan itu tidak apa-apa. Pengalaman meditasi orang itu berbeda-beda. Jika melalui teknik meditasi itu yang kamu rasakan dan terjadi padamu, dan itu membawamu pada ketenangan, pemahaman, dan hal yang baik, maka itu sesuatu yang baik. Bukan meditasimu tidak benar."

Dan sejak itu, saya berhenti mencari visualisasi atau apapun seperti yang ditemukan orang lain. Meditasi adalah pengalaman pribadi saya, yang tidak perlu sesuai dengan kebanyakan orang. Saya tetap rutin melakukan meditasi beberapa kali seminggu, tidak lama, hanya 17 menit saja. Atau kapan pun pada saat saya merasakan ada sesuatu yang membuat saya gelisah. 

Semua itu membawa saya pada ketenangan dan pemahaman menghadapi kehidupan dari hari ke hari. I embrace it, membiarkan diri saya mengerti dengan cara saya sendiri.

Yah, begitulah pengalaman perjalanan meditasi saya selama setahun lebih ini. Menurut pengalaman dan pemahaman saya, jika teman-teman pun sedang mempraktekkan meditasi dan merasa itu membawa hal yang baik. Maka lakukan. Tidak perlu membebani diri dengan pertanyaan, "Apakah meditasiku sudah benar? Kenapa aku tidak mengalami apa yang dialami orang lain?" dan sebagainya.

Karena sejatinya meditasi menurut saya adalah sebuah cara yang bisa dilakukan untuk masuk dalam ke dalam diri kita. Dimana setiap dari kita adalah unik, sehingga pengalamannya pun tentu saja akan berbeda.

Sekian, semoga bermanfaat.

With Love,
Nian Asti
-end-

No comments :

Post a Comment

Hai! Terima-kasih sudah membaca..
Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan disini atau silakan DM IG @nianastiningrum for fastest response ya ;)