Monday, December 10, 2012

We Having Fun without TV at Home

Hmm, sebenarnya ada sih TV di rumah, tapi sudah lebih dari setahun tidak pernah dinyalakan!

Hal ini bukan sesuatu yang kami sengaja… Semua bermula pada saat suami lupa membayar tagihan langganan TV kabel di rumah karena sedang banyak dinas di luar kota. Sebulan, dua bulan, sampai entah berapa bulan tunggakan tagihan waktu itu, sampai akhirnya siaran diputus, haha… Saya sendiri cuek-cuek saja karena memang sudah tidak terlalu menikmati TV sejak mulai bekerja dan bertambah setelah Ganesh lahir. Lagi-lagi bukan karena unsur kesengajaan, tapi kesibukan tidak bisa intens mengikuti serial yang saya sukai; kadang nonton, kadang engga, jadi ga tau lagi jalan ceritanya. Dan singkat cerita, karena sudah terlalu lama menunggak, kami malas membayar tagihannya hingga sekarang!

Dulu saya termasuk orang yang gandrung dengan TV. Acara favorit saya (seperti wanita pada umumnya) adalah berita infotainment (seperti Silet, Check & Richeck), serial (seperti Jewel in The Palace) dan reality show (seperti Indonesian Idol, The X Factor dan Master Chef).  Suami juga bisa dibilang pecinta TV walaupun sedikit berbeda genre; suami saya lebih suka chanel berita dan film. Sebelum ada Ganesh, kami sering nonton TV berdua; tapi sejak Ganesh lahir TV lebih sering kami cuekin, sampai akhirnya tidak terurus seperti sekarang :D

Setahun lebih tanpa TV ternyata sama sekali tidak mengganggu kenyamanan kami, malah sekarang kalau dipikir-pikir lebih menyenangkan. Pada awalnya sih simpel saja; tanpa TV Ganesh ga terganggu tidurnya, waktu istirahat kami juga lebih teratur karena tidak ada acara menunda kegiatan karena nonton TV, tidak ada acara bengong-bengong di depan TV sampai mengabaikan pertanyaan orang lain (hehe..) dan ternyata lebih damai saja meluangkan waktu setiap malam setelah Ganesh tidur sambil ngobrol berdua ditemani suara kodok dan jangkrik di sekitar rumah :D.

Kegiatan Ganesh: [1] Ngeramin bebek; [2] Pake sandal Papa; 
[3] Nyobain headset Papa; [4] Mengamati kucing; 
[5] Masuk keranjang cucian; [6] Pake selimut bayi.


Sekarang, entah benar atau tidak, rasanya tidak adanya TV di rumah juga berdampak positif untuk Ganesh. Karena tidak ada TV, praktis kegiatannya setiap hari hampir semua digunakan untuk bermain dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya, yang saya rasa kegiatan itu lebih merangsang perkembangannya daripada menonton TV. Tepat tanggal 24 Bulan Desember ini, Ganesh tepat berusia 18 bulan atau 1,5 tahun. Sampai saat ini berikut hal-hal yang saya curigai didukung oleh kondisi TVless di rumah kami:
1.  Lincah dan banyak tingkah, serta koordinasi motorik yang bagus (kemampuan spasial Ganesh sudah sangat bagus dan mampu memperkirakan ruang, sehingga bisa melintasi pinggir celah sempit antara pintu pagar dengan saluran air atau mampu naik dan melompati saluran air tanpa bantuan).
2.  Sangat komunikatif (Ganesh bisa menirukan hampir semua kata-kata yang dia dengar pertama kali dan mampu mengucapkan rangkaian kata sederhana seperti “Itu ada bola”, “Kucing lari”, “Mama pipis”, “Mimik susu sapi moo, moo,” dsb.).
3.  Daya ingat yang baik (baru saja saya dikejutkan karena Ganesh mampu mengenali sapi, padahal dia melihat sapi yang sebenarnya hanya sekali pada usia 1 tahun atau 6 bulan yang lalu, setelah itu dia hanya melihat sapi versi kartun pada kotak susu UHT-nya).
4.  Daya nalar dan daya tangkap yang baik (Ganesh sudah mengerti konsep-konsep kata “juga” dan “ampun” serta mengerti perintah sehingga selalu bilang, “Mama pipis (atau eek)” setiap kali pipis atau eek, selalu membawa dengan hati-hati dan memberikan piring atau gelas yang diambilnya kepada orang lain sambil bilang, “Pecah”, dsb.).

Kegiatan Ganesh: [7] Nemu kacang panjang; [8] Masak sambil nonton video; 
[9] Nyobain kupluk mama; [10] Main air; [11] Ngobrol sama Papa.

Terlepas dari penilaian di atas bias karena Ganesh adalah anak saya sendiri (ibu mana sih yang ga muji-muji anaknya), rasanya hal tersebut cukup masuk akal dengan logika yang cukup sederhana; Ganesh memiliki lebih banyak waktu untuk belajar semua hal itu tanpa TV!

Seperti yang kita ketahui, bahwa pertumbuhan dan perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh faktor nature (bakat/genetis) dan nurture (lingkungan). Faktor nature menurut saya adalah suatu batasan bagi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Sedangkan nature adalah kondisi yang mempengaruhi sejauh mana bakat tersebut dapat dikembangkan. Pemahaman sederhananya seperti ini; seorang anak bisa saja memiliki gen untuk menjadi jangkung, tapi karena kekurangan nutrisi, ia tidak dapat mencapai tinggi badan maksimalnya. Begitu juga dengan aspek perkembangan, seorang anak bisa saja memiliki IQ yang tinggi, tapi tanpa belajar dia tidak akan bisa mengerjakan (misalnya) soal-soal matematika yang bisa dikerjakan anak seusianya. Dalam hal ini, TV termasuk dalam faktor nurture tentunya.

Lebih lanjut, saya teringat pendapat Dr. Mehmet Oz (yang saya kenal lewat The Oprah Winfrey Show) dan Michael F. Roizen dalam buku Raising Your Child (terjemahan). Kedua dokter tersebut berpendapat bahwa mulai usia 1 tahun, ketika bayi mulai mengenali lingkungan di sekitarnya, titik berat perkembangan otak beralih dari pertumbuhan menjadi pemangkasan. Ibaratnya sebuah pohon, maka cabang-cabang atau ranting yang tidak penting harus kita pangkas agar cabang-cabang yang sehat dan penting bisa tumbuh dengan optimal. Lebih lanjut mereka menjelaskan bahwa seorang anak akan memliki jumlah sinapsis* maksimal yang bisa dimilikinya seumur hidup saat mencapai usia 1 tahun dan pada usia 3 tahun, jumlah itu akan berkurang setengahnya. Sehingga, inilah pentingnya kenapa seorang anak harus mendapatkan rangsangan yang tepat sejak lahir hingga usaia 3 tahun, yaitu agar ia bisa memangkas sel-sel saraf dengan bijak. Mengenai pengaruh TV sendiri, penelitian membuktikan bahwa anak-anak kehilangan sinapsis lebih cepat jika TV terus menerus menyala.

Menurut saya, TV bukan sepenuhnya tidak baik sih… Hanya saja, berkaitan dengan perkembangan anak-anak, kita harus memperhatikan konten dari acara TV itu sendiri. Acara seperti Indonesian Idol atau Sinetron tentu tidak tepat dalam hal ini walaupun mungkin kita beranggapan bahwa bayi belum mengerti isinya; karena dengan begitu sama saja dengan kita membiarkan bayi kita menumbuhkan cabang-cabang yang tidak penting, seperti cara memegang mic atau menari di panggung :D. Selain itu, saya juga sependapat dengan Oz dan Roizen yang menyebutkan bahwa bila seorang bayi ditaruh di depan TV seharian, maka hanya akan ada sedikit sinapsis* di otaknya. Masuk akal kan, meskipun TV juga memberikan rangsangan berpikir (meskipun sangat terbatas), tapi TV tidak mampu memberikan unsur practice atau latihan, sehingga bayi tidak bisa belajar cara berinteraksi, berbahasa/berkomunikasi ataupun koordinasi gerakan.

Saya sih belum terpikir kapan akan menyalakan kembali TV di rumah; karena kami sekeluarga lebih bisa having fun without it (selain juga malas mengurus pendaftaran kembali**). Tanpa TV, Ganesh bisa menikmati hari-harinya dengan bermain dengan kucing, bercanda dengan orang-orang yang lewat di depan rumah, nge-godain ART kami (nggangguin masak, dsb.), lari-lari, main petak umpet, dsb. Sedangkan saya dan suami juga belum merasakan urgensi dari TV, walaupun saya suka ketinggalan gosip artis atau suami ketinggalan siaran bola kesukaannya, (haha); tapi rasanya itu ga terlalu penting lagi. Setelah seharian ngantor, ngobrol berdua sambil mendengarkan kodok dan jangkrik itu sangat romantis (hehe). Toh, berita dan segala macam informasi atau streaming video dan musik bisa melalui internet, itung-itung optimasi smartphone juga kan :D.

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Keterangan:
*sinapsis = sambungan/cabang antara satu sel saraf dengan yang lainnya. Banyaknya sinapsis berkaitan dengan banyaknya pemahaman seseorang.

Referensi:
Oz, Mehmet C. & Roizen, Michael F. 2010. Raising Your Child: Panduan Orang Tua Cerdas bagi Perkembangan Optimal Buah Hati (Terjemahan). Bandung: Penerbit Qanita

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...