Friday, October 18, 2013

Ganesha’s ‘Bye Bye Nenen’ Moment…

Dulu, setiap kali memandangi Ganesh berusaha ‘nenen’ pada saya yang waktu itu masih kaku memberikan ASI untuknya; saya selalu berpikir, jika dia sedang merasa kesepian dan rindu dengan kenyamanannya semasa dalam kandungan… tempat dimana dia mendapatkan segala yang dibutuhkannya tanpa perlu ‘berusaha’. Sedih dan terharu rasanya… (sambil menarik nafas panjang). Setelah itu, kembali perasaan yang sama muncul saat harus kembali bekerja dan mulai melatih Ganesh untuk minum ASI dengan media lain (waktu itu akhirnya menggunakan soft cup feeder karena Ganesh menolak menggunakan botol dot). Dia lagi-lagi harus beradaptasi untuk belajar melepaskan rasa nyamannya saat nenen pada waktu-waktu tertentu, dan tentu saja itu membuatnya protes dan menangis…

“Dalam perjalanan hidup manusia, belajar meninggalkan kenyamanan terkadang harus dilakukan untuk sampai pada titik nyaman yang lain,” itulah yang saya rasakan waktu itu dan itu pula yang kemudian membuat saya menguatkan hati untuk menghadapi tangis-tangis lain Ganesh dalam proses belajarnya. Hmm, tapi tentu saja bukan lantas main kejam-kejaman kaya ibu tiri di cerita Cinderella ya… :D. Maksud saya adalah bahwa dalam perkembangan hidup anak, mau tidak mau, dia harus terus berkembang, dan di dalamnya terkadang membutuhkan perubahan yang terasa tidak nyaman pada awalnya. Nah, tugas kita sebagai orang-tua adalah membimbing dan membantu anak melalui proses itu… proses beradaptasi setelah dilahirkan, proses penyapihan, proses berada di sekolah sendiri, dan seterusnya sampai akhirnya dia menjadi seorang anak yang mandiri. Panjang ya… Tapi percaya deh, perlahan-lahan tanpa kita sadari satu demi satu masa itu akan sampai juga.

Foto Ganesh dari Usia 4 Bulan Hingga 2 Tahun 2 Bulan
Kalau dibandingin begini, baru keliatan kalau dia memang semakin besar :*

KAPAN MULAI MENYAPIH
Rasanya baru kemarin melahirkan Ganesh, beberapa bulan yang lalu (24 Juni 2013) tahu-tahu harus menyadari bahwa usia anak lanang ini sudah tepat dua tahun, dan bisa mulai disapih. ‘Bisa’, karena sebenarnya dua tahun bukanlah titik mutlak seorang anak berhenti nenen, tapi usia dimana seorang anak tidak bergantung lagi pada nutrisi ASI, sehingga kalau sekiranya ASI masih berlimpah pemberiannya masih bisa dilanjutkan. Dan sebaliknya, jika ASI mulai menipis, ada baiknya anak mulai disapih…

Saya sendiri adalah tipe yang kedua, ASI saya mulai sangat menipis saat Ganesh berusia dua tahun. Jadi, saya memilih untuk memulai proses penyapihan pada usia ini, dengan pertimbangan menghindari Ganesh menggunakan nenen sekedar untuk ngempeng untuk mendapatkan rasa nyaman… meskipun jujur, rasanya berat… Moment breastfeeding yang intim; sambil bercanda-bercanda, sambil elus-elus rambut Ganesh, sambil menimang dan memeluk Ganesh itu benar-benar hal berat untuk dilepaskan. Menjadi penenangnya pada saat galau, membuatnya merasa benar-benar diperhatikan dan dimengerti itu juga hal agung dari prosesi nenen yang segera harus diakhiri. Sedih; tapi harus dilakukan, demi kebaikan Ganesh juga, supaya dia lebih mandiri.

Ulang Tahun Ganesh yang Kedua
“Ganesh kan udah gede, umurnya sudah dua tahun,
kalo anak gede itu mimiknya ga nenen lagi” 

CARA MENYAPIH
OK, menurut saya, para ibu bisa memilih dua cara untuk menyapih anaknya; pertama dengan cara ‘terselubung’ dan yang kedua dengan cara ‘terang-terangan’ (istilah pribadi :D). Cara ‘terselubung’ yang saya maksud adalah dengan mengoleskan brotowali atau minyak kayu putih supaya anak menolak nenen; dengan menempelkan plester atau mengoleskan obat merah kemudian mengatakan bahwa payudara kita sedang sakit dan sebagainya. Sedangkan cara ‘terang-terangan’ yang saya maksud adalah dengan memberikan penjelasan yang benar pada anak dengan cara yang sederhana dan dapat dipahaminya. Hmm, mana yang bagus ya?

Kalau menurut saya sih ini tergantung opini masing-masing… Menyapih dengan cara ‘terselubung’ sepertinya memang lebih mudah dan effortless. Mengoleskan brotowali pada puting sehingga anak enggan menyusu dengan sendirinya tentu lebih mudah daripada berkali-kali menjelaskan kepada anak bahwa dia sudah cukup dewasa sehingga tidak perlu nenen lagi. Akan tetapi beberapa sumber berpendapat bahwa cara ini tidak baik, karena sama dengan kita mengambil paksa ‘kepemilikannya’ yang dapat menimbulkan luka batin1. Hmm, bisa jadi ya, karena proses menyapih yang drastis, tanpa memberi pengertian dan pilihan membuat anak merasa dipaksa meninggalkan nenen yang nota bene adalah sumber rasa nyamannya selama ini.

Saya sendiri memilih menyapih Ganesh dengan cara kedua karena menurut saya dengan cara ini ada nilai yang bisa kita ajarkan pada anak. Menanamkan rasa tanggung-jawab, bangga dan mengendalikan keinginan adalah beberapa hal yang bisa didapatkan saat kita memberikan pemahaman padanya pada saat proses penyapihan. Oh ya, cara penyapihan seperti ini seringkali disebut menyapih dengan cinta atau weaning with love.

HERE WE GO…
Teori untuk melakukan penyapihan dengan cinta memang sederhana (bisa lihat disini), namun dalam prosesnya seringkali terjadi drama yang menguras air mata. Saya sudah mulai sounding pada Ganesh bahwa dia sudah cukup besar dan itu saatnya berhenti nenen sejak beberapa minggu mulai mengurangi frekuensi nenen-nya. Awalnya semua berjalan mulus, saya melihat Ganesh cukup mengerti dan bisa menerima dengan jawaban-jawabannya dan kesukarelaannya untuk nenen sebentar saja. Tapi ritme yang sudah berjalan, jadi rusak pada saat kami harus mudik maraton ke Jogja dan Probolinggo dari Tanjung Enim Sumatera Selatan. Perjalanan yang memakan waktu minimal dua hari untuk satu tujuan itu banyak mempengaruhi mood Ganesh… alhasil, di perjalanan jadwal nenen menjadi semaunya :(. Setiba di tujuan pun, karena perubahan lingkungan akhirnya hal ini berlanjut hingga total tiga minggu Ganesh kembali ke ritme awal.

Baru setelah satu minggu berada di rumah kami kembali, saya mulai lagi proses penyapihan ini. Dan tentu saja hal ini menjadi lebih sulit, karena dalam semangat Ganesh sendiri mungkin sudah memudar. Tapi tentu saja, itu bukan alasan untuk menyerah dan kemudian menggunakan cara ‘terselubung’ untuk mempermudah… Big no! :D. OK, let’s start againSounding-sounding-sounding! Singkirkan dulu benda-benda yang membuat Ganesh teringat dengan nenen (selimut kesayangan diumpetin di lemari dulu). Lebih intensif bermain supaya lupa pada nenen. Pokoknya segala cara untuk mengurangi frekuensi nenen Ganesh sampai akhirnya siap untuk benar-benar stop.

Ganesh & Selimut Kesayangannya
“Nenen pake celimut,”
katanya setiap minta nenen

Karena sudah menetapkan target bahwa meskipun prosesnya lambat, minimal jeda nenen Ganesh terus meningkat dari waktu ke waktu. Untuk itu, ada kalanya kami harus berhadapan dengan rengekan Ganesh yang minta nenen yang sangat meluluhkan perasaan. Menghadapi hal seperti itu, kami harus pantang menyerah sekaligus sabar. Pelukan dan kata-kata lembut bahwa Ganesh sudah besar dan harus belajar berhenti nenen seringkali bisa menenangkannya, meskipun ada kalanya akhirnya saya mengalah dan memberikan syarat, “Boleh nenen tapi sebentar aja ya…” Terus dan terus, sampai akhirnya saya merasa bahwa Ganesh sudah cukup beradaptasi, jeda nenen-nya terkadang sudah lebih dari 24 jam. Saat itu, saya merasa sudah saatnya saya lebih tegas, pada saat Ganesh ngotot meminta nenen; saya bertekad untuk terus menjelaskan, menenangkan dan tidak luluh untuk kemudian menurutinya. Menurut ingatan saya, ada dua kali Ganesh menangis hingga tantrum. Pada saat seperti itu, ada satu sisi hati yang ingin mengalah; namun di sisi lain saya sadar, jika saya maju-mundur Ganesh akan menjadi bingung dan proses ini akan menjadi lebih panjang dan menyakitkan baginya.

Dan akhirnya, pada usia ± 2 tahun 2 bulan, Ganesh benar-benar lepas dari nenen, meskipun waktu itu kami belum berani mengajaknya bepergian dengan mobil karena takut mengingatkannya pada nenen. Baru sekitar dua minggu kemudian kami berani mengajaknya kembali.

LESSON LEARNED
Hmm, berdasarkan pengalaman yang saya alami, ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat menyapih anak:
  1. Sounding secara intensif dengan bahasa yang dimengerti anak-anak. “Ganesh kan sudah gede, harus belajar ga nenen lagi, kan nanti mau sebentar lagi sekolah, nanti kalo di sekolahan kan ga bisa nenen Mama,” itu yang seringkali saya katakan waktu itu.
  2. Tunjukkan perhatian dan kasih sayang lebih, untuk sebisa mungkin menggantikan rasa nyaman yang terenggut karena anak tidak boleh nenen. Hal ini juga untuk menghindari anak merasa diacuhkan dan tidak disayangi seperti dulu. Kata-kata yang lembut, pelukan dan sentuhan lainnya pada saat dia gelisah akan sangat berarti.
  3. Hindarkan benda-benda atau situasi yang akan mendorong anak meminta nenen. Kalau pengalaman kami, selimut kucel yang selalu dipakainya untuk nenen dan bepergian dengan mobil adalah dua hal yang harus dihindari.
  4. Jangan menyapih pada saat anak harus menghadapi perubahan situasi yang cukup drastis yang mengurangi kenyamanannya. Misalnya sakit, atau dalam pengalaman kami misalnya adalah dalam perjalanan yang cukup panjang dan tinggal di lokasi yang asing baginya.
  5. Percaya diri dan konsisten setelah kita yakin bahwa anak sudah siap untuk benar-benar lepas dari nenen. Misalnya jeda nenen-nya sudah cukup panjang. Tetap sabar menenangkan pada saat anak tantrum dan jangan luluh, karena pada saat kita akhirnya tidak tega dan menuruti keinginan anak yang tantrum; hal itu akan membuatnya bingung. Dan membuatnya berpikir bahwa keinginannya akan dituruti dengan tantrum.

Kini Ganesh Bisa Tidur Tanpa Nenen
Dan selimut kesayangannya pun tidak membuatnya ingin nenen lagi

Begitulah kira-kira pengalaman kami menyapih Ganesh. Saya sendiri merasa ada banyak hal yang seharusnya bisa diperbaiki dan dieksekusi dengan lebih smooth, tapi semoga saja cerita ini bisa bermanfaat, paling tidak sebagai pengingat bagi saya pribadi kalau nanti menyapih anak kedua :). Finally, sekali lagi ingin cium si anak lanang yang sudah gede ini, “You did great son.”

Oh ya, bagi teman-teman yang akan menyapih juga bisa membaca tips dan triknya disini1, disini2 dan disini3. Let’s weaning love ;)

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Readings:
  1. AyahBunda.com. Tips Menyapih dengan Cinta. http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Tips/tips.menyapih.dengan.cinta/001/005/575/2/4. Diakses tanggal 16 Oktober 2013.
  2. AyahAsi.org. (07-02-2013). Weaning with Love = Menyapih dengan Cinta. http://www.ayahasi.org/2013/02/weaning-with-love-menyapih-dengan-cinta.html. Diakses tanggal 17 Oktober 2013.
  3. TabloidNova.com. (10-04-2010). Saat dan Cara Tepat Menyapih si Kecil. http://www.tabloidnova.com/Nova/Keluarga/Anak/Saat-Dan-Cara-Tepat-Menyapih-Si-Kecil. Diakses tanggal 17 Oktober 2013. 

6 comments:

  1. Ha ha ha
    Bermanfaat sekali mbak...
    Saya blom punya baby tp nanti kam bs saya terapkan ke anak saya..
    Denger cerita teman-teman kantor kok seru sekali prosea penyapihan iitu...

    Sekarang Ganesh siap-siap dibuatkan adek *oops* he he

    ReplyDelete
  2. Makasih @Pendar Bintang.. Proses menyapih memang seru, silakan coba sendiri nanti :D
    Hihi, doakan saja, segera ada adek Ganesh disaat yang tepat.. *anaknya sih sekarang kalo ditanyain sudah mau punya adek*

    ReplyDelete
  3. Salam kenal, mak. tulisannya informatif banget. Aku jg lagi siap2 nih, anakku bulan November jg udah 2 tahun, tp kok ya rasanya blm tega nyapihnya hehehe

    ReplyDelete
  4. Iya mak @Ririn, moment breastfeeding itu intim banget ya.. Bukan cuma anak yang ga rela, kita emaknya juga..
    Beberapa pendapat sih bilang kalo memang ASI masih banyak, masih boleh dilanjutkan kok..
    Meskipun ada juga yg berpendapat kalau umur 2 tahun sebaiknya sudah disapih supaya asupan nutrisinya tdk terganggu karena kenyang ASI yg nota bene katanya ga banyak nutrisi lagi di usia segitu..
    Silakan cari info mana yg lebih meyakinkan..
    Kalo saya sendiri, karena 2 tahun ASI sdh bener-bener menipis, daripada anaknya jadi ngempeng, ya saya sapih saja..
    Berat memang, karena itu semua harus kompak dan saling bantu, termasuk si Ayah dan lainnya..

    ReplyDelete
  5. saya termasuk yang beruntung tidak kesulitan menyapih...karena memang setelah kembali bekerja secara aktif, produksi asi menurun dan anak-anak jadi maleees nenen lagi :D.yang pasti saya selalu bilang ke anak-anak kalau memang sudah waktunya mereka berhenti nenen :D....tapi makasih tipsnya..very useful indeed

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama mbak @indah nuria savitri.. makasih sudah mampir.. saya juga merasakan hal yg sama, ASI menurun dan mulai 1 tahun sudah mulai dikenalkan dg susu UHT.. semoga anak kedua bisa lebih baik.. amin :)

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...