Wednesday, March 26, 2014

Bercermin dan ‘Mengenali’ Diri Sendiri di Angka 29

25 Maret 1985, 29 tahun yang lalu saya terlahir di dunia. Kalau menurut cerita Ibu, tepat pukul 00.25 waktu itu, saya lahir, menangis begitu keras dan anjing-anjing di sekitar RS yang belum mendapat fasilitas listrik di malam hari pun menggonggong bersahutan. Hihi, lumayan spooky ya :D.

Menurut cerita Ibu, dulu saya adalah bayi yang sangat merepotkan. Setiap hari, sudah bisa dipastikan, dari jam 21:00 saya akan menangis non-stop sampai pukul 04:00. Hmm, berarti kurang lebih 7 jam ya… 7 jam setiap hari saya nyusahin Ibu yang waktu itu ditinggal Bapak kuliah di Bandung. Nyusahin Mamak (panggilan untuk Bude) yang tinggal serumah dan membuatnya harus mendendangkan kudangan ‘Kintong-kintong’ yang legendaris dalam hidup saya. Juga nyusahin Om saya, yang katanya waktu itu sedang ujian, dan tidak bisa berkonsentrasi karena tangisan dan suara kudangan Mamak. Tapi anehnya, menurut Ibu, saya akan tidur pulas semalaman saat Bapak sedang di rumah, semacam konspirasi saja :D.

Menginjak usia kanak-kanak, saya tumbuh menjadi anak yang keras kepala, semua keinginan saya harus dituruti! Buah kesukaan saya adalah nanas, dan setiap ke pasar, saya akan minta dibelikan nanas, padahal waktu itu Ibu bercerita kalau uang belanjanya pas-pasan saja. Tapi sayang, dasar anak kecil yang keras kepala dan belum dewasa, saya pun menangis di depan si penjual nanas. Hmm, entah bagaimana perasaan Ibu waktu itu, mungkin antara sedih, marah dan kesal :(. Dan pola itu, selalu saya ulangi untuk mendapatkan keinginan saya yang lain; boneka, baju baru, tas dan sebagainya. Masih dulu, kata Ibu, saya adalah anak yang mudah sekali demam. Bukan karena infeksi virus atau bakteri, tapi karena dimarahi. Iya, saya adalah seorang yang sangat perasa sejak kecil. Masih ada dalam ingatan saya, bagaimana merasa sangat sedih dan bersalah hanya karena dimarahi atau sedikit mendapat teriakan.

Menginjak dewasa, ya, semua kepribadian yang sudah nampak sedari kecil itu pun menemukan bentuknya. Saya tumbuh menjadi gadis yang sangat keras kepala, tapi sekaligus begitu perasa. Karena itu, saya pun sering beradu pendapat dengan Bapak yang memiliki karakter serupa. Hihi, akhirnya disini saya juga menyusahkan Bapak, dan tentu saja Ibu juga yang pusing memikirkan anaknya yang tidak bisa dinasehati :D. Ah, tapi untungnya Bapak, Ibu dan orang-orang di sekitar saya berhasil menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam diri saya. Walaupun keras kepala, saya tidak pernah berbuat negatif. Kekerasan saya hanya sampai tahap kukuh mempertahankan pendapat dan tidak mau mengikuti nasehat orang lain yang menurut saya tidak benar atau tidak efektif :D.

Karena kekerasan hati dan begitu sensitifnya perasaan saya, masa remaja terasa seperti rollercoaster penemuan jati diri. Ada banyak pertentangan dalam jiwa saya waktu itu. Ada kalanya ingin melakukan sesuatu, tapi tidak menjadi kenyataan karena takut gagal, kemudian merasa bersalah. Dan seringkali sifat perasa saya mengganggu pola pergaulan saya dengan teman-teman sebaya. Sampai akhirnya, dengan berjalannya waktu, pencarian jati diri itu pun menemukan titik terang atau lebih tepatnya titik nyaman. Yaitu titik dimana saya benar-benar mengenali siapa diri saya dan menerima komplikasi yang mungkin ditimbulkannya dalam kehidupan. Duh, berat sekali ya… Ya, proudly said, “That’s me :D.” Kalau menurut salah satu teori kepribadian sederhana Hartman, Color Code, saya ini ‘Biru’ dengan secondary color ‘Merah’. Maka dari itu, sangat wajar sering mengalami tekanan. Tertarik dengan Teori Color Code, bisa baca tulisan saya disini.

Dan 29 tahun itu ternyata terasa singkat sekali. Si gadis keras kepala yang perasa dan pemalu itu akhirnya lulus kuliah, merantau untuk pertama kali dalam hidupnya dan bertemu pangeran dalam mimpinya. Selanjutnya, happily ever after? Hmm, mungkin kata ‘hidup bahagia selamanya’ di dongeng-dongeng itu hanya untuk mempersingkat cerita ya :D. Iya, saya bahagia, tapi di dalamnya pasti masih tetap ada ‘riak-riak kecil’ sampai ‘gelombang besar’ yang kadang mengombang-ambingkan jiwa saya. Hanya saja, alhamdulillah, tidak sampai mengkaramkannya :). Sampai saat ini pun, saya masih sering mengkoreksi makna hidup bagi saya, apa tujuan saya di dunia dan pemikiran-pemikiran filosofis lainnya. Ada kalanya juga, saya merasa bersikap terlalu keras, terlalu sensitif dan semacamnya, sehingga kembali me-review semua itu.

Monggo lho dinikmati
‘Brownis Kukus Pandan Coklat’ sama ‘Madu Mongso’-nya
Habis itu, jawab pertanyaan di jurnal saya ini ya :D

Friday, March 21, 2014

Oase Pengetahuan Bernama Bidan Desa & Kelas Ibu Hamil

Hidup di daerah pedesaan itu benar-benar damai, bebas polusi dan alami; karena itu, saya lebih menyukai tinggal di pedesaan. Tapi ada satu hal yang kurang saya sukai dengan lokasi pedesaan, yaitu bahwa seringkali kami tidak terjangkau berbagai fasilitas kesehatan atau pendidikan modern. Hal ini mengingatkan kehamilan pertama saya sekitar 2.5 tahun lalu; mulai dari tidak adanya kelas untuk mempersiapkan kelahiran, sulitnya menentukan tempat melahirkan dan kegagalan melakukan IMD. Di daerah saya, hanya ada dua dokter kandungan yang bisa dijangkau. Dan cerita kegagalan IMD itu adalah kesalahpahaman saya dengan perawat yang membantu persalinan. Kami memiliki persepsi yang berbeda tentang IMD, menurut mereka IMD itu adalah prosedur dimana ibu dapat segera menyusui bayinya karena fasilitas rawat gabung. Padahal IMD dalam persepsi saya adalah prosedur dimana perawat atau pun dokter akan membantu meletakan bayi saya di dada, sehingga dapat mencari puting susu ibunya :D.

Tapi saya masih cukup beruntung. Berbekal rasa ingin tahu, pengetahuan dan fasilitas internet yang memadai; saya bisa mendapatkan begitu banyak informasi seputar kehamilan dan kelahiran. Informasi yang membuat saya mampu mengoptimalkan fasilitas yang ada dan tidak mencegah hal-hal negatif yang dapat terjadi. Dan alhamdulillah, saya pun berhasil melalui proses kehamilan dan kelahiran dengan baik, serta sukses memberikan ASI ekslusif sampai Ganesh berusia tepat 6 bulan dan melanjutkan pemberian ASI sampai usia sekitar 2 tahun 2 bulan.

Lokasi Rumah Mertua
Desa Kedung Rejoso, Kecamatan Kotaanyar,
Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur

Kondisi yang hampir mirip saya temui pada saat mudik ke rumah mertua pada minggu kedua bulan Maret 2014 lalu. Tentu saja ini bukan kali pertama saya mengunjungi rumah mertua, hanya saja waktu itu kebetulan istri adik ipar saya sedang mengandung. Saat itu, saya berkesempatan untuk mengikuti Kelas Ibu Hamil yang dibawakan oleh Bidan Desa Kedung Rejoso bernama Zumrotus Sholikah. ‘Kelas Ibu Hamil’ dimulai dengan semacam pre-test untuk mengetahui pengetahuan yang dimiliki para ibu mengenai kehamilan dan kelahiran. Kemudian, setelah pre-test didiskusikan bersama, kelas dilanjutkan dengan pemberian materi (plus diskusi), praktek senam ibu hamil, post-test dan diakhiri dengan praktek ‘Senam Ibu Hamil’. Materinya sendiri tentunya seputar kehamilan dan kelahiran, seperti perawatan, diet, proses melahirkan, pemberian ASI, KB dan banyak lagi.

Buku ‘Kesehatan Ibu & Anak’
Buku pegangan peserta ‘Kelas Ibu Hamil’

Tuesday, March 4, 2014

I Was Here

Bekerja di BUMN itu sedikit ‘rumit’, apalagi bagi mereka yang memandang ‘kerja’ sebagai sarana aktualisasi diri, bukan hanya ‘menyambung hidup’. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh, mungkin bisa membaca tulisan-tulisan Dahlan Iskan dalam perjalanannya membangun harapan dalam BUMN, “Manufacturing Hope”. Saya sendiri sejak On the Job Training (OJT) ditempatkan di bidang HR di sebuah unit BUMN di pelosok daerah. Sehari-hari saya berurusan dengan peraturan perusahaan dan peraturan disiplin pegawai serta menjalankan fungsi administrasi dan juga sosialisasi berkaitan kedua hal tersebut. Well, seharusnya pekerjaan saya tidak terlalu rumit dan penuh intrik ya… Karena semua sudah jelas dalam peraturan, baik prosedur maupun reward-punishment-nya. Tugas saya kan sekedar memahami peraturan, mensosialisasikan, menjaga supaya peraturan tersebut dilaksanakan serta melaporkan dan merekomendasikan reward atau punishment atas tindakan pegawai berkaitan dengan peraturan tersebut.

Tapi kenyataannya tidaklah sesederhana itu. Proses mensosialisasikan sebuah kebijakan itu sesuatu yang effortfull, tidak selesai dengan sekedar membuka sesi diskusi atau tanya jawab. Seringkali, peraturan itu ‘ditawar’, dikomplain dengan alasan memberatkan sampai tidak dilaksanakan karena alasan lupa, tidak paham atau (ternyata) masih tidak setuju :D. Lalu punishment-nya juga tidak konsisten dijatuhkan, entah karena ‘kebijaksanaan’ atau ketidakpedulian ‘__’. Akhirnya saya (pernah) benar-benar merasa meaningless, powerless dan selanjutnya merasa kurang puas dengan profesi yang menurut saya sama sekali tidak profesional ini ‘__’. Sementara, sayangnya saya juga bukan orang yang mudah untuk memutuskan resign dengan banyaknya pertimbangan.

Singkat cerita, membutuhkan waktu beberapa lama akhirnya saya merasa bisa melakukan sesuatu. Walaupun saya belum bisa menjangkau ranah sistem karena belum bisa meyakinkan mayoritas pembuat keputusan, saya masih bisa berusaha menjalankan fungsi saya dan meyakinkan para pembuat keputusan untuk melaksanakan fungsi HRM (Human Resources Management) seprofesional mungkin. Menyampaikan logika-logika setiap keputusan menyangkut HRM, pengaruhnya pada motivasi pegawai, budaya kerja dan sebagainya. Adakalanya usaha saya mental dan keputusan yang diambil tidak berpihak pada terciptanya budaya kerja yang sehat, tidak memupuk motivasi pegawai dan sebagainya. Saya mengerti bahwa keputusan itu mungkin diambil untuk menghindari konflik atau lainnya. Tapi, tetap tugas saya adalah untuk memberikan pertimbangan-pertimbangan dari sisi HRM dan saya akan terus menyuarakan semua itu.

Hal kecil lain yang saya lakukan adalah dengan berusaha memberikan pemahaman yang benar  dan menguatkan mindset orang-orang dalam perusahaan. Jika menurut Dahlan Iskan, dalam sebuah perusahaan terdapat 10% orang yang kurang baik, 10% orang yang baik dan 80% sisanya hanya ikut-ikutan; maka permasalahan tempat kerja saya adalah kegagalan pelaksanaan sistem reward dan punishment, sehingga menyebabkan 10% orang yang tidak baik tersebut mampu meracuni 80% orang yang hanya ikut-ikutan. Jadi, mari kita berusaha memperkuat 10% orang baik dalam perusahaan dengan pengetahuan-pengetahuan dan pemahaman yang benar tentang peraturan perusahaan. Memberikan pilihan kepada 80% orang yang hanya ikut-ikutan untuk memilih mengikuti hal yang benar. Dan menggunakan kekuatan 10% orang baik dan beberapa % orang yang mengikuti kebenaran untuk menghambat 10% orang yang kurang baik ‘menebarkan racun’ ke tempat yang lebih luas :D.

Buletin ‘Kepegawaian in News’ Edisi Pertama
Proyek tugas akhir OJT tahun 2008

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...