Thursday, June 5, 2014

Memilih dan Memanfaatkan Tayangan yang Baik untuk Pendidikan Anak

Hampir seusia Ganesh, TV di rumah tidak dinyalakan. Awalnya bukan disengaja, tapi karena lupa membayar layanan TV Kabel sampai beberapa bulan gara-gara sering ditinggal suami dinas, sementara saya pun sibuk menyesuaikan diri sebagai ibu baru waktu itu. Sampai akhirnya tunggakan menjadi cukup ‘berasa’ dan kami malas membayarnya (berasa membayar sesuatu yang tidak kami nikmati). Dan saat itulah kami memutuskan untuk meneruskan hidup tanpa TV, yang ternyata tidak semenyeramkan bayangan kami sebelumnya. 

Karena tidak adanya TV, praktis kami jarang sekali menonton TV, karena itu hanya terjadi secara tidak sengaja saat bertamu atau menginap di hotel misalnya. Membosankan? Awalnya kami berpikir TV adalah hiburan wajib dan pasti akan sangat sepi jika sebuah rumah tidak dilengkapi dengan TV. Tapi ternyata itu salah! Karena nyatanya kami selalu menemukan kegiatan bersama yang menyenangkan tanpa TV (cerita lengkap disini). Paling-paling berasanya pada saat ada pertandingan bola kesukaan suami, hihi, dia harus update siapa yang menang lewat status BBM teman-temannya :D.

Kadang kami iseng streaming Youtube
Dan tidak menyangka Ganesh suka tanyangan seperti Wayang!?

Dengan tidak adanya TV, memang kegiatan kami bertiga lebih banyak didominasi aktivitas/interaksi fisik maupun verbal dan ini sangat menyenangkan! Namun demikian, itu bukan berarti kami antipati dengan TV atau tayangan lainnya. Kadang kami memanfaatkan YouTube untuk menonton tayangan-tayangan yang kami inginkan, seperti misalnya cuplikan berita atau penampilan kontestan Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) favorit suami. Sedangkan untuk Ganesh, tayangan yang kami pilihkan biasanya adalah lagu-lagu anak, kartun-kartun lambat (seperti Babar the Elephant), fenomena-fenomena alam (terjadinya hujan) dan sebagainya, asal memenuhi syarat sebagai berikut:
  1. Tema dan cara penyampaiannya cukup mudah dicerna. Coba bayangkan sebuah dengan tema percintaan misalnya, bisa dipastikan kita akan kesulitan menjelaskan pada anak kita apa yang sedang dilihatnya :D. Sementara jika anak menonton sesuatu yang tidak bisa dipahaminya, maka kecenderungannya dia hanya menikmati gambar, warna dan sebagainya tanpa ada proses berpikir alias bengong.
  2. Perpindahan adegan terlalu cepat (misalnya kartun Spongebob). Meskipun beberapa pihak masih meragukan bahwa tayangan berpengaruh buruk pada kemampuan konsentrasi anak, namun ada baiknya kita mempertimbangkan hal ini. Karena hal yang cukup logis, jika tayangan yang terlalu cepat akan membuat otak harus bekerja lebih keras untuk menangkapnya sehingga dapat mengganggu konsentrasinya kemudian.

Nah, berdasarkan poin-poin di atas, kita mungkin bisa mempertimbangkan tayangan khusus untuk anak-anak di TV, seperti ‘Sesame Street’, ‘Dora the Explorer’ atau ‘Si Unyil’ (jika masih tanyang :D) sebagai pilihan. Sedangkan untuk film, berdasarkan pengalaman, saya merekomendasikan film-film di bawah ini:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...