Monday, December 21, 2015

Memaafkan, Tidak Sama dengan Menjadi 'Malaikat'...

Seminggu ini, (sebut saja) Sekar dan Ratna lagi-lagi menjadi hot topic infotaintment Indonesia (paling tidak itu pengamatan saya dari video yang di-share di social media). Masih seputar isu Sekar yang merebut Galih dari Ratna, yang notabene adalah orang yang melambungkan nama Sekar pertama kali di jagad hiburan. Dan kemudian, kesan inilah yang membuat Sekar memiliki begitu banyak haters alias pembenci, yang rajin menyatroni akun-akun social medianya dan menebarkan cacian hingga sumpah serapah. Bahkan, konon hal ini pun akan terjadi juga pada orang-orang yang berani mem-posting fotonya bersama Sekar. Waktu itu berita yang sempat mencuat adalah (sebut saja) Bagas yang mem-posting fotonya bersama Sekar dengan caption yang menantang para haters. Dan benar saja, foto Bagas dan Sekar itu sukses mengundang para haters berkunjung dan meninggalkan berbagai cacian. Bagas pun kemudian menghapus foto tersebut dari akun instagramnya. Luar biasa ya!

Baik, kembali ke topik… Hmm, bukan perseteruan Sekar dan Ratna sih yang ingin saya bahas disini, tapi mengenai latar belakang kenapa mereka berdua kembali menjadi buah bibir di seantero Indonesia. ‘Sebuah permintaan maaf’ dari seorang Sekar kepada Ratna yang disampaikan melalui wawancara dengan (sebut saja) Riko yang diunggah di youtube. Disitu Sekar mengklaim bahwa dia sebelumnya sudah meminta maaf dan Ratna pun bilang sudah memaafkannya, namun pada saat bertemu di rumah sakit untuk menjenguk anak Ratna (dengan Galih yang menjadi anak tiri Sekar) dan Ratna menolak ajakannya berpeluk-cium, saat itu Sekar merasa bahwa Ratna belum benar-benar memaafkannya hingga akhirnya meminta maaf melalui wawancara yang diunggah di youtube tersebut.

Nah, disini nih yang membuat saya tergelitik, memang apa sih definisi ‘maaf’ menurutnya? Apa menurut dia itu berarti mengembalikan segala sesuatunya seperti sedia kala sebelum apapun kejadian yang terjadi di antara mereka? Apakah ini seperti jika dua orang sahabat kemudian kembali bersahabat setelah salah satu dari mereka merebut suami yang lainnya? Atau dua orang mantan kembali berpacaran setelah salah satunya ketahuan selingkuh? Atau seperti suami istri yang bercerai kemudian kembali rujuk walaupun sang suami telah menikah dengan selingkuhannya? Jawabannya tentu 'tidak' bukan…

Mengutip pernyataan dalam sebuah buku* yang cukup menginspirasi saya: “…memaafkan bukan adopsi dari posisi superior. Juga bukan menerima kekasaran orang lain dan berpendapat hal itu dapat diterima, jika demikian berarti tidak jujur. Memaafkan adalah melihat tidak ada landasan untuk adanya menyalahkan, berarti ada dasar tidak berdosa. Perilaku seseorang tidak dapat dirasionalkan. Dia melakukan dengan caranya. Mungkin motivasi lain dapat mendorong perilakunya, seperti rasa takut atau keegoisan… Memaafkan adalah pengalihan dari apa yang kita lihat secara fisik dan mencari kebenaran yang ada di balik ego seseorang.”

Di balik pernyataan itu terkandung makna bahwa memaafkan berarti tidak lagi mempermasalahkan tindakan buruk seseorang kepada kita. Pasti ada alasan dibalik tindakan buruk itu; mungkin kelemahannya, keinginannya, ambisinya, kekhilafannya atau apapun; dan kita menerimanya. Tapi, bukan berarti jika lantas kita harus bersikap seperti sebelum kejadian buruk itu terjadi. Memaafkan tidak sama dengan kemampuan menghapus segala memori yang menimbulkan rasa sakit. Kita hanya manusia biasa yang memiliki keterbatasan, sehingga ada kedekatan intensitas tertentu atau perbuatan tertentu yang mengembalikan ingatan kita pada peristiwa itu, luka yang sama. So, adalah hal yang bisa diterima jika kemudian kita berkata, “Aku memaafkanmu, tindakan yang kamu lakukan dengan segala alasanmu, aku tidak menghakimimu, tidak memintamu membayar apapun atas lukaku, tidak lagi sakit hati dan mengutukmu, tapi aku tidak ingin bertemu atau berhubungan lagi denganmu…”  Manusiawi kan?

Thursday, December 17, 2015

Melatih Bayi Minum ASIP

Halo para ibu bekerja yang sedang menikmati cuti melahirkan selama 3 bulan… Apa kabar? Insyaallah baik dan bahagia ya… kan baru saja bertemu dengan si kecil yang sembilan bulan ada dalam kandungan :). Eh tapi, sebenarnya kalau saya pribadi merasa masa ini penuh dengan tantangan dan kegelisahan juga lho. Bulan pertama gelisah beradaptasi menjadi stay-at-home-mom; yang biasanya pagi-pagi udah sibuk dandan, 8 jam duduk di belakang meja dan baru pulang sore hari; lalu tiba-tiba 24 jam mengurusi rumah dan anak baru… hmm, that's tought hah? Dan kemudian, setelah mulai terbiasa dengan rutinitas baru, bulan berikutnya kita mulai pasang kuda-kuda untuk menyiapkan anak kembali ditinggal kerja (baca: mencari pengasuh, membiasakan keduanya dan lain-lain termasuk mengajarkan anak minum ASIP).


Dulu, saya pikir mengajari anak minum ASIP itu mudah saja. Makanya saya baru melatih Ganesh anak pertama saya 2 minggu sebelum cuti berakhir yang mana menurut pengalaman saya itu sangat-sangat terlambat. Saat itu Ganesh menolak memakai dot dengan nipple yang sudah diganti berkali-kali. Dan saat akhirnya mau minum dengan menggunakan soft-cup-feeder pun, sesungguhnya belum seberapa familiar saat saya tinggalkan ke kantor. Waktu itu sih, walaupun berat meninggalkan Ganesh ke kantor, saya tidak terlalu khawatir, karena jarak kantor-rumah hanya 5 menit. Pada jam istirahat dan saat darurat saya bisa kembali ke rumah. Tapi tidak demikian saat melahirkan Mahesh anak kedua saya. Saat itu saya telah dimutasi ke Lampung (baca: Better than This but Still I Fly), semua kemewahan itu berubah karena jarak tempuh kantor-rumah menjadi 1 jam. Sangat tidak mungkin untuk pulang sewaktu istirahat atau kondisi darurat. Karena itu, belajar dari pengalaman sebelumnya, saya pun mempersiapkan hal ini (melatih Mahesh minum ASIP) jauh-jauh hari. Memastikan bahwa dia sudah cukup lancar minum ASIP sehingga tidak rewel ditinggal kurang lebih 10 jam setiap harinya.

***

Kami mulai melatih Mahesha minum ASIP sejak usia 1 bulan dengan menggunakan soft-cup-feeder. Kenapa soft-cup-feeder, tentu karena ingin menghindarkannya dari resiko bingung puting dimana bayi menolak menyusu pada payudara atau tetap mau menyusu tapi tidak lagi dengan teknik yang benar sehingga tidak bisa mengosongkan payudara dengan baik yang berimbas pada menurunnya produksi ASI. Dan alasan kedua, karena sudah ada soft-cup-feeder kakaknya dulu, jadi tidak perlu beli :D.

Sunday, December 6, 2015

Because Data, They Should Speak the Truth

Pada suatu hari pada Bulan September saya tergopoh-gopoh menaiki tangga ke ruang rapat kecil di lantai dua kantor saya untuk mengikuti sekaligus menjadi nara sumber kegiatan CoC (Code of Conduct) yang diadakan dadakan di kantor. Iya, benar-benar dadakan, karena awalnya kegiatan ini akan di-skip triwulan ini karena belum ada koordinasi pelaksanaannya. Sampai akhirnya saya berubah pikiran, karena toh masih bisa dilakukan walau seadanya dan ini menyangkut kinerja bidang SDM yang harus dilaporkan tiap triwulan. Benar-benar dadakan, sampai-sampai undangannya pun dari mulut ke mulut dengan bantuan beberapa teman. “Bantuin kumpulin orang dong, seadanya gapapa, kita adain CoC, materinya soal pengelolaan SDM… Aku pematerinya… hahaha, jadi harap maklum kalau banyak kekurangan ya…” Hari itu menyebar undangan, hari itu juga acaranya…

Sampai di atas, kebetulan ada Manajer kami dan langsung saja saya mengajaknya ikut bergabung, “Pak, kami mau ngadain CoC, bapak gabung ya…” “Lha bukannya tinggal edarin absennya aja ya… sini nanti saya tanda-tangani…” katanya sambil terseyum dan masuk ke ruangannya. “Ah, bapak itu sepertinya menguji integritas dan profesionalitas saya,” pikir saya dalam hati (haha :D). “Manipulasi data, enggak lah ya,” gumam saya dalam hati dan kemudian buru-buru masuk ke ruang rapat untuk memulai CoC ala kadarnya ala saya. Memang ala kadarnya, tapi benar-benar dilakukan, dengan materi yang benar-benar di-sharing-kan, hanya saja peserta dan waktu pelaksanaan yang tanpa perencanaan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...