SOCIAL MEDIA

search

Thursday, January 10, 2013

Different Color, Different Treatment


Saya : “Kasian ya kucing betina itu, dia sendirian ngurus anaknya.”

Suami : “Kenapa tiba-tiba ngomongin kucing?”

Saya : “Yah, gara-gara liat kucing tetangga sendirian ngurusin anaknya. Kadang ga kebayang deh dia mesti kerjain semua sendiri… Harus ninggalin anaknya buat cari makan, harus nyusuin, jagain, semua sendirian, bapak anaknya entah kabur kemana. Soalnya, aku kan ngerasain sendiri repotnya semua kerjaan itu Mas… Ga bisa membayangkan kalau aku sendirian kaya dia.”

Suami : “Hmm… Salah kucing betina itu sendiri beranak banyak-banyak.”

Saya : “Lah, itu kan udah kodrat dia Mas… Liat aja nenen-nya ada enam, berarti dia emang didesain buat punya banyak anak sekaligus.”

Suami : “Ya udah kalo gitu, ga usah dipikirin lagi kan? Lagian kurang kerjaan amat sih mikirin kucing? Ga ada yang lebih penting apa?”

Saya : “Yah, untung deh, ga semua orang mikirin UU-Ketenagalistrikan.”

Suami : “Kenapa?”

Saya : “Ya, nanti ga ada yang mikirin soal kucing…”

Dan kami berdua pun tertawa :D

Di atas adalah obrolan saya dan suami pada suatu sore, obrolan yang mengingatkan betapa berbedanya karakter saya dan suami saya. Dari hal-hal yang kecil sehari-hari saja sudah berbeda; kalau buat mie instant dia lebih suka mie goreng dan saya mie kuah. Untuk bacaan, suami saya suka sekali koran dan artikel-artikel berat (menurut saya); sedangkan saya, lihat tulisan koran yang kecil-kecil, banyak dan minim gambar itu saja sudah malas… paling yang menarik artikel koran tentang artis, sesuatu yang menurut suami saya berita tidak berisi, hoho. Atau hal-hal yang lebih berat; seperti saya yang sangat un-organized dan suami yang sangat teratur mulai dari meletakkan barang, mengatur jadwal, soal keuangan dan sebagainya. Hal-hal yang terkadang menimbulkan kehebohan seperti omelan-omelan sayang karena saya lupa meletakkan kunci motor… Sampai, peringatan-peringatan keras, seperti, “Mama, belanjanya diitung dong” atau “Mama, kalo mau online shopping harus bilang dulu ya…” Hingga sesuatu yang lebih dalam lagi, “Papa ini ga pengertian banget sih!” atau “Mama ini ga realistis deh.” Haha, tapi it’s OK kok, bagi saya semua itu malah membuat semua jadi tidak membosankan… Dan mungkin justru perbedaan-perbedaan itu yang membuat kami saling tertarik dan jatuh cinta satu sama lain, hehe :D

Tapi saya sih, ga mau cerita soal cinta-cintanya… Saya ingin sedikit bercerita tentang arti “perbedaan” dan “memahami dari sudut pandang orang lain.”

Beberapa waktu yang lalu, pada saat saya asyik googling mencari teori tentang hubungan antara preferensi warna dan kepribadian, saya malah sampai ke website “The Color Code”. Yang membuat saya tertarik pertama kali dengan website ini adalah free personality test-nya, hehe :D, setelah itu barudeh saya mencari lebih banyak mengenai teori ini, karena menurut saya teori ini cukup masuk akal, aplikatif dan mudah dimengerti. Yah, selain karena ingin tahu lebih banyak soal hasil test saya ya… Karena, melalui website saya hanya diberi tahu gambaran umum mengenai kepribadian saya.

“The Hartman Personality Profile”, “The Color Code” atau “The People Code” yang diciptakan oleh Dr. Taylor Hartman membagi kepribadian berdasarkan motif menjadi empat kategori dan memberikannya label berupa warna; sebagai berikut: Merah (didasari oleh motif kekuatan/power), Biru (didasari oleh motif kedekatan personal/intimacy), Putih (didasari oleh motif kedamaian) dan Kuning (didasari oleh oleh motif kegembiraan/fun). Berdasarkan pendapat Hartman tersebut, maka setiap warna memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing. Misalnya saya, “Biru”, memiliki kekuatan sebagai individu yang stabil (steady),bersedia menerima perintah dan sabar menerima keadaan yang dianggap tidak adil; mencintai dengan antusias, berkomitmen dan setia, serta selalu berusaha melakukan yang terbaik.Sedang kelemahan dari Biru adalah seringkali merasa tidak aman secara psikologis dan menghakimi diri sendiri, kurang percaya pada orang lain, sulit memaafkan diri sendiri, menuntut cinta dan penerimaan, menuntut pengertian dari orang lain, saat disatu sisi dirinya sendiri kesulitan untuk mengerti dan menerima dirinya sendiri. 

Hmm, sedikit spooky ya :D, tapi saya sendiri merasa biasa-biasa saja, karena sejak kuliah dulu sudah menjadikan diri sendiri kelinci percobaan untuk berbagai alat tes psikologi, sehingga sudah memperkirakan hasilnya sebelumnya :D. Menurut saya, tidak ada yang salah dengan apapun kepribadian seseorang, selama dia mampu memahami dirinya sendiri dan kemudian menerima semua itu. Contohnya pada diri saya sendiri ya, saya memahami bahwa saya cenderung menghakimi dan sulit memaafkan diri sendiri, cenderung tidak rasional kan? Maka pada saat saya melakukan kesalahan dan kemudian mulai merutuki nasib, merasa melakukan kesalahan besar, tidak bisa memaafkan diri sendiri sampai terasa begitu mengganjal di hati; saya berusaha tidak larut dalam perasaan itu sembari mencari waktu untuk bisa berdialog dengan diri saya sendiri. Mungkin jika disuarakan akan terdengar konyol, karena pada saat itu saya memerankan diri sebagai sisi rasional saya yang sedang menasehati atau lebih tepatnya menyadarkan diri sendiri. Misalnya begini nih:

“OK, kamu tadi kamu menegur teman sekantormu karena internetan ya? 

Terus temanmu tersinggung dan kamu merasa bersalah?

Ya, memang mungkin kamu tidak punya kewenangan untuk menegur ya, karena kalian kan sama-sama staf… tapi kan ga ada salahnya kamu mengingatkan mereka asal dengan cara yang ‘sesuai’…

Nah, mungkin temanmu tersinggung karena cara kamu yang salah… 

Wajar kok, namanya juga manusia, pasti pernah bikin salah. 

Yang penting jika kita buat salah kan kita minta maaf, dan berusaha supaya nantinya tidak terulang lagi… 

Sekarang, kamu udah minta maaf kan? 

Kalau sudah dan mereka masih marah, ya itu hal yang wajar juga kan… 

Kadang kan kita perlu waktu untuk memafkan, egois dong kalau kamu menuntut mereka segera memaafkan kamu. 

Karakteristik Kepribadian "Biru": Yang Harus Dilakukan dan Dihindari

Ribet ya? Dan kalau saya cerita sama suami saya tentang kegelisahan saya, pasti dia akan bilang, “Ya udah sih, biarin aja, ribet amat mikirin hal kaya gitu” atau “Makanya, besok lagi kalau ngomong hati-hati.” Hadeuh, sesuatu yang akan membuat saya semakin merasa bersalah :(.

Tapi, ini bukan tentang suami saya itu “pengertian” atau “tidak”, ga mungkin juga kan saya memilih suami yang tidak pengertian, hehe :D. Ini semua tentang “perbedaan” dan “melihat dari sudut pandang orang lain”, just it, tanpa syarat dan kondisi, karena itulah default kita, setting awal yang tidak bisa setiap saat kita modifikasi. Maksudnya begini, saya sadar bahwa saya seorang yang worry prone alias gampang khawatir, tapi pada saat saya menghadapi suatu kejadian, tetap saja saya akan secara otomatis merasa khawatir terlebih dahulu. Setelah beberapa saat, baru saya sadar bahwa mungkin saya berlebihan, dan setelah melalui keribetan berdialog dengan diri sendiri perasaan khawatir itu baru akan benar-benar hilang.

So, saya iseng memberikan suami link test tersebut dan memintanya mengerjakan. Saya sudah memperkirakan sebelumnya hasilnya seperti apa, ga mungkin kan saya tidak tahu karakter suami saya selama satu tahun lebih masa pertemanan dan dua tahun lebih pernikahan :D. Dan, tada! Benar sekali, he’s completely Red! Kekuatan Merah adalah percaya diri, pengambil keputusan, asertif*, disiplin, mandiri, logis, bertanggung-jawab, dominan, dan pragmatis. Kelemahannya: need to be right, kritis (kadang ke arah keras) dan terkadang cenderung kurang bisa menjadi pendengar yang baik. Haha, gimana? Jadi masuk akal kan kenapa saya dan suami tidak bisa sama-sama membahas malangnya nasib si ibu kucing…

Karakteristik Kepribadian "Merah": Yang Harus Dilakukan dan Dihindari

Tidak ada yang salah dengan memiliki kepribadian tertentu, sama seperti juga tidak ada yang salah dengan bekerja-sama atau berpartner dengan orang dengan kepribadian tertentu. Yang harus kita catat mengenai kepribadian adalah:
  1. Bahwa kepribadian** adalah fungsi dari aspek genetis (nature) dan lingkungan (nurture), sesuatu yang terbentuk bahkan sejak saat kita masih berada dalam kandungan. So, (hampir) mustahil untuk merubah kepribadian seseorang setelah kepribadian itu timbul dan menetap. Jadi, pada saat saya berhubungan dengan orang lain, saya selalu mengesampingkan harapan bila orang tersebut akan “berubah”. Singkatnya sih, minimalkan menuntut orang lain untuk bersikap seperti yang kita inginkan.
  2. Tidak ada kepribadian yang baik/buruk, yang penting adalah kesadaran akan kepribadian kita dan kemudian mengambil langkah agar kita mampu hidup seimbang dalam lingkungan serta mampu mengaktualisasikan diri kita. Kita seorang yang sensitif dan worry prone seperti saya, bukan masalah, cukup mencari cara untuk dapat me-releasetension/ketegangan karena hal itu; jika saya dengan self dialog, mungkin metode lain lebih efektif untuk orang lain.
  3. Memahami kepribadian orang yang sedang kita hadapi agar mengerti bagaimana harus bersikap untuk bisa berhubungan secara optimal. Hoho, kalau sulit dilakukan pada semua orang, paling tidak disesuaikan dengan tingkat kebutuhan dan kedekatan mereka ya… Jika kita tahu suami kita, seorang yang memang cenderung keras dan logis; ya jangan dipaksa untuk berkhayal. Lihat situasi dan kondisinya, kalau mood-nya lagi bagus, bisa kok diajakin ngomongin hal-hal yang kurang berisi, walaupun seringnya sih jawabnya juga kurang berisi alias bercanda saja :D
Gimana? Setuju kan dengan pendapat saya? Jadi, jangan serta merta memberikan label “tidak pengertian” jika suatu saat pasangan kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita. For my case; walaupun kadang merasa ribet dengan semua teguran suami saya soal berbagai hal, seperti:

“Tidurnya jangan malam-malam”

“Cepetan berangkat, nanti keburu hujan”

“Udah jam berapa nih, buruan berangkat, nanti telat lagi… Makanya, simbah diajarin nyiapin makan Ganesh biar bisa berangkat cepet”

“Kartu kreditnya jangan lupa, udah tanggal berapa ini?”

“Mama nih, kebiasaan ga nutup botol lotion habis dipakai”

Di telinga memang terdengar seperti dimarahin (terus), tapi itulahcara si Merah mengatakan kepedulian dan cintanya, dengan cara paling realistis yang dia tahu… Jadi, saya sih senang-senang saja mendengar semua itu jika kondisi mood sedang tidak terlalu buruk, tapi lain cerita kalau kondisi mood sedang benar-benar buruk. Karena seperti yang saya jelaskan sebelumnya, pada saat kita bad mood, kita cenderung kembali ke default kita. Begitu juga dengan saya saya, si Biru, akan kembali ke default saya sebagai seorang yang menuntut dimengerti dan dihargai.So, karena itu, memang terkadang benturan tidak bisa dihindari, tapi jangan berlarut-larut, apalagi sampai tenggelam dalam perasaan masing-masing. Sesegera mungkin, setelah kondisi emosi sudah cukup stabil, ambil kesempatan untuk melihat peristiwa itu dari sudut pandang berlawanan. Dengan begitu kita akan bisa mengerti dan selanjutnya bisa menerima kejadian itu sebagai bagian dari “perbedaan”. 

Hmm, sepertinya yang saya jelaskan di atas masuk akal dan bisa diterima ya? OK, sekarang jadi lebih tertarik untuk memahami karakter dan kepribadian pasangan? Untuk langkah awal bisa dengan melakukan test sederhana di www.colorcode.com, gratis kok. Saya secara pribadi bukan pemuja Teori Hartman ini sih, tapi saya suka bagaimana teori ini menjelaskan kepribadian dengan cara yang sederhana dan aplikatif, sehingga kita bisa tahu bagaimana memahami diri kita, orang lain dan bagaimana harus meng-handle hubungan kita dengan diri kita maupun orang lain tersebut. So, tidak ada salahnya mencoba :)

With Love,
Nian Astiningrum
-end-


Keterangan:
*Asertif: 
  1. Percaya diri dan langsung dalam menyatakan/menuntut kebenaran (hak) seseorang atau mengedepankan pandangan seseorang (http://www.thefreedictionary.com/assertive).
  2. Mampu menyatakan pendapat pribadi meskipun dalam kondisi yang akan mengundang konflik atau permasalahan lain tanpa menjadi agresif atau menyerang pendapat orang lain (terjemahan pribadi).
**Kepribadian: kepribadian terdiri dari karakteristik pola pemikiran, perasaan dan perilaku yang membuat seseorang unik. Karakteristik fundamental dari kepribadian adalah sebagai berikut:
  1. Cukup konsisten sepanjang hidup, 
  2. Merupakan konstruksi psikologis yang mempengaruhi aspek fisiologis, 
  3. Mempengaruhi perilaku dan tindakan,
  4. Ditampilkan dalam beberapa ekspresi; seperti pemikiran, perasaan, hubungan personal dan interaksi sosial lainnya.
Readings:
  1. About.com. What Is Personality. http://psychology.about.com/od/overviewofpersonality/a/persondef.htm. Diakses tanggal 10 Januari 2013. 
  2. Hartman, Taylor. The Power of Color: What Does Your Color Say About You? (Presentasi). http://www.mrharris.us/Focus/colorcode/colorcodepdf.pdf. Diakses tanggal 10 Januari 2013. 
  3. Wikipedia. 2013. Hartman Personality Profile. http://en.wikipedia.org/wiki/The_Color_Code. Diakses tanggal 10 Januari 2013. 
  4. http://www.colorcode.com
  5. http://www.thefreedictionary.com/assertive 

Friday, January 4, 2013

New "Warm" and "Fresh" Blog Look

Walaupun design saya masih kelas pengumuman yang ditempel di kantor atau presentasi yang belum tentu sebulan sekali, tapi memadu padankan warna dan bentuk merupakan salah satu hal yang sangat menarik buat saya. Sampai-sampai nih, kalau boleh buka kartu sedikit, terkadang begitu dapat order design undangan atau pengumuman untuk acara kantor, langsung deh saya betah duduk berjam-jam googling gambar, background atau font untuk keperluan itu… dan maaf, terkadang pekerjaan yang lain digeser ke samping arena permainan mouse saya :D.

Mulai dari situ, saya naik kelas dikit deh dengan mulai obsesif mengutak-atik blog saya yang saya buat Bulan Februari 2012 lalu. Dulu, saya cukup puas dengan template standard yang dimodifikasi seadanya; tapi pada saat saya mulai suka buka-buka blog teman, rasanya kok blog saya keliatan biasa banget ya… Hmm, dari situ timbullah keinginan untuk merenovasi dua blog saya.

Buku Tutorial Blogger yang Sempat Saya Baca :D

Perjalanan merenovasi blog ini tidak berjalan dengan smooth ya… Bermalam-malam bergadang; karena memang waktunya cuma pada saat Ganesh tidur; untuk googling ke website-website tutorial untuk meng-costumize blogger. Hmm, hasilnya tidak terlalu memuaskan, setelah dicoba-coba ternyata hasilnya belum seperti yang saya harapkan; dan akhirnya saya membeli beberapa buku tutorial blogger costumizing. Beberapa hari mencoba menekuni buku demi buku dibarengi dengan praktek, ternyata saya belum menemukan titik terang; akhirnya saya kembali ke metode lama; yaitu googling!

Dan mulailah saya mencari inspirasi dengan googling blog-blog yang menarik menurut saya, dan ternyata di luar sana ada banyak blog-blog yang eye catchy sekaligus memberikan tips and trick modifikasi blog. Berikut blog-blog yang sangat membantu saya:
Blog Design By Dani: http://www.blogdesignsbydani.com/
A Black Bird’s Epiphany: http://www.ablackbirdsepiphany.co.uk/

Dari blog Shintaries saya menemukan website http://design-seeds.com/ yang sangat membantu saya menemukan rangkaian warna yang sesuai dengan mood blog yang ingin saya buat. Sempat trial and error memilih warna sesuai pallete yang saya pilih, sampai akhirnya saya menemukan plugin keren untuk FireFox bernama ColorZilla yang membantu saya menemukan kode atau kombinasi RGB yang pas untuk warna yang saya temukan di halaman FireFox yang sedang saya buka (keren kan! Thanks to Kevin & Amanda untuk tutorialnya). Alhasil, setelah menemukan website design-seeds dan ColorZilla, saya merasa bebas merealisasikan imajinasi saya tentang padu padan warna :D

STEP ONE. Langkah pertama yang saya lakukan adalah menentukan mood yang saya inginkan untuk blog saya. Setelah itu, saya mencari pallete-pallete yang pas di design-seeds. Untuk blog pertama saya ingin menampilkan mood yang hangat karena blog “Lemon Juice Story” sifatnya lebih personal dan intim; karena itu saya memilih kombinasi sekitar warna pink sebagai berikut sebagai background:
  
Berry Brights by design-seeds

Mushroomed Tones by design-seeds

Sedangkan untuk blog profesional saya, “Teropong Bintang” saya ingin menampilkan kesan fresh, untuk meredam kesan kaku dan ambisius yang kental dalam dunia kerja dan bisnis, sehingga saya memilih kombinasi warna hijau segar untuk background sebagai berikut:

Christmas Tones by design-seeds

Sedangkan untuk pemilihan warna font, untuk mendapatkan kontras yang pas, saya menggunakan pallete-pallete di bawah ini untuk kedua blog saya:

Unearthed Hues by design-seeds

MushroomColor by design-seeds

STEP TWO. Langkah kedua adalah membuat header untuk blog saya. Bagi saya, header ini sangat penting, karena dialah yang akan menjadi ciri khas blog kita. Dalam membuat header ini, karena belum pro, saya menggunakan program dasar saja, hehe, microsoft publisher! Hasilnya cukup memuaskan saya sebagai berikut:

Blog Header "Lemon Juice Story"

Blog Header "Teropong Bintang"

Untuk tampilan blog header ini, ada tiga elemen yang saya gunakan; yaitu warna, fonts dan gambar. Untuk fonts saya menggunakan free fonts dari blog Kevin & Amanda [http://www.kevinandamanda.com/fonts/].

STEP THREE. Langkah ketiga adalah melakukan adjusting widhths (menyesuaikan lebar halaman blog) dan menentukan page/tab serta gadget apa saja yang harus ada dalam blog saya. Page/tab yang harus ada pastinya ‘about’ untuk memberikan gambaran tentang isi blog saya; ‘contact’ dan link ke blog saya yang lain. Sedangkan untuk blog profesional saya, pastinya saya masukkan page ‘promo terbaru’ dan ‘daftar’ untuk memudahkan pembaca jika tertarik dengan bisnis yang saya tekuni. Untuk gadget sendiri saya pasti memasukkan ‘blog archive’, ‘link ke blog lain saya’, ‘about me’, ‘popular post’, ‘facebook badge’ dan link informasi tentang minuman favorit saya ‘nutrishake’. Dan lagi-lagi, untuk blog profesional saya, saya tambahkan link untuk bergabung dengan bisnis saya :D

STEP FOUR. Langkah keempat setelah kerangka blog jadi adalah mengutak-atik warna dan font blog yang ada. Untuk masalah warna, tentu saja saya menggunakan jurus andalan dengan menggunakan kreasi Jessica dalam websitenya design seeds dengan bantuan ColorZilla untuk mengidentifikasi kode warna yang akurat (blogger menggunakan kode warna RGB/Red Green Blue).

STEP FIVE. Langkah terakhir yang saya lakukan tentunya adalah finishing touch; mengamati kembali hasil akhir tampilan blog, menyesuaikan urutan gadget, memodifikasi template HTML atau dengan add CSS untuk meningkatkan copyright blog saya dengan tidak mengijinkan copy-paste dan klik kanan. Untuk kedua trik terakhir saya dapatkan dengan googling ke http://www.beinggeeks.com/2009/02/how-to-disable-right-click-in-blogger-blogspot.html dan http://palingkomplet.blogspot.com/2012/03/cara-disable-copy-paste-di-blogspot.html. Hehe, sebenarnya tulisan saya mungkin bukan sesuatu yang memiliki tingkat orisinalitas tinggi sih, hanya saja saya kurang sependapat dengan tindakan copy-paste karya orang lain tanpa menyertakan sumbernya :D

Well, at last… inilah hasil kerja keras saya, my new ‘warm’ and ‘fresh’ blog. Untuk saat ini, saya cukup puas dengan hasil keringat saya… Bagaimana menurut teman-teman sendiri?

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Sunday, December 23, 2012

Omelet Bayam + Ikan Patin


Long weekend! Hmm, kalau dulu waktu masih lajang, pasti saya langsung berburu tiket untuk mudik ke tempat kelahiran saya Jogja. Tapi, sejak menikah 2.5 tahun lalu dan kelahiran si kecil 1.5 tahun lalu, saya jadi ga selincah dulu lagi. Tapi, itu bukan berarti saya tidak menikmati liburan ya… Liburan tetap menyenangkan, hanya aktivitasnya saja yang berubah; menjadi full time mother and wife :D [senyum lebar manandakan kalau ini super menyenangkan]. OK, jadi seperti yang teman-teman tahu, akhir Desember ini kan banyak tanggal merah dan cuti bersama… Dan karena cuti saya dan suami tidak mencukupi untuk lalu lalang Tanjung Enim – Jogja – Probolinggo; akhirnya kami memilih untuk stay di rumah.

Sore ini, mumpung lagi libur, sebenarnya saya sudah berencana untuk bikin masakan spesial buat Ganesh, jadi saya sengaja menyuruh pengasuh untuk menyiapkan nasi tim untuk makan siang saja. Tapi ternyata suami punya agenda sendiri, dia mengajak kami jalan-jalan ke keluar untuk mencari kipas angin yang memang sudah rusak karena alasan lifetime [meminjam istilah di kantor]. Jadilah saya berubah haluan dan meminta pengasuh memasak pindang ikan patin dan nasi tim dengan slow cooker untuk Ganesh, saya pikir, nanti kalau pulangnya terlalu sore, sudah ada makanan darurat untuk Ganesh.

Resep Asli "Omelet Bayam"

Ternyata, kami sampai di rumah sekitar pukul 16.00 dan saya masih punya kesempatan untuk masak… Hmm, pindang ikan patin bisa dimodifikasi jadi apa ya? Lalu saya teringat buku yang baru saja saya beli; “Buku Pintar Menu Balita 30 Hari” yang salah satu menunya adalah Omelet Bayam; aha! Campur aja dengan ikan patinnya! Dan akhirnya jadilah resep modifikasi Omelet Bayam + Ikan Patin. Begini Resepnya:


PINDANG IKAN PATIN

Bahan:
1 potong ikan patin

Bumbu:
Bawang merah
Bawang putih
Jahe
Daun sereh
Daun salam
Lengkuas
Merica
Kunyit
Sedikit garam

Cara membuat:
Cara membuat masakan pindang cukup sederhana; cukup iris-iris semua bumbu dan rebus bersama ikan patin dan garam. Untuk alasan kepraktisan bisa menggunakan slow cooker atau bisa juga direbus dengan menggunakan kompor seperti biasa.

Omelet Bayam
Telat Fotonya, Tinggal Tersisa Beberapa Potong :D

OMELET BAYAM + IKAN PATIN

Bahan:
1 butir telur ayam kampung
Bayam [cincang]
Seledri [iris halus]
Daun bawang [iris halus]
Keju cheddar parut
Ikan patin masak pindang [cincang]

Cara membuat:
Kocok telur, campurkan dengan semua bahan hingga menyatu sempurna. Panaskan margarine, kemudian goreng adonan omelet dengan api kecil dan tutup agar bagian atas omelet ikut mengental dan saat dibalik tidak lepas. Masak hingga matang.

Saran penyajian:
Potong dadu kecil omelet sehingga praktis saat diberikan bersama nasi. Kuah pindang bisa digunakan sebagai kuah.

Sederhana bukan cara masaknya, dan yang lebih penting rasanya gurih sekali sehingga disukai anak-anak suka :D. Untuk nutrisi juga cukup berisi; ada protein dari telur, ikan patin dan keju; ada vitamin C, E & K, betakaroten, mangan, seng, selenium, falvonoid* dan zeaxantin**

Hmm, gimana? Berminat untuk mencoba?

With Love,
Nian Astiningrum
-end-
Note:
*flavonoid: sebuah phytonutrisi yang memiliki anti kanker di dalamnya.
**zeaxantin: mampu melindungi sel lensa manusia dari paparan sinar UV, yang merupakan penyebab utama terjadinya penyakit katarak.

Reading:
Apriadji, Wied Harry. 2012. Buku Pintar Menu Balita 30 Hari. Jakarta: Pustaka Bunda.

Melindacare. 2012. Manfaat Bayam Bagi Kesehatan. http://www.melindahospital.com/modul/user/detail_artikel.php?id=1897_Manfaat-Bayam-Bagi-Kesehatan-. Diakses tanggal 23 Desember 2012.


Thursday, December 20, 2012

Measuring Depths from Its Surface


Pernahkah teman-teman menyadari bahwa perubahan aspek-aspek psikologis seringkali diikuti dengan perubahan-perubahan kecil dalam diri kita? Perubahan kecil seperti perubahan bentuk suatu huruf yang kita tulis atau perubahan selera berpakaian? Hmm, menarik ya?

Jadi ceritanya hari ini saya baru saja shopping di dunia maya alias belanja online dan dari sana saya menyadari adanya perubahan preferensi saya terhadap warna. Dulu, saya begitu tergila-gila dengan warna putih, sampai-sampai memilih motor, mobil, handphone dan tidak terhitung pernak-pernik kecil dengan warna itu; tapi kok sekarang mata saya lebih tertarik dengan warna merah? Ada apa ini? Lalu, jika saya runut ke belakang, saya memang berkali-kali berganti warna favorit selama kurang lebih 27 tahun ini. Pertama, pada saat saya kecil warna favorit pertama saya adalah merah; kemudian menginjak remaja awal saya menyukai warna biru donker. Lalu, pada saat kuliah semester akhir warna favorit berubah menjadi biru muda dan selanjutnya tamat kuliah, perlahan-lahan saya menyukai warna merah muda (pink) bertahan hingga sekitar usia 24 tahun. Dan setelah itulah, baru saya menekuni putih sebagai warna favorit saya sampai beberapa minggu lalu, sebelum saya memilih sebuah tas ransel berwarna merah daripada warna lain. Sebenarnya saya tidak akan menyadari hal itu, sampai suami bertanya, “Tumben pilih warna merah.” Hmm, pada saat itu saya masih menolak kalau saya sudah berganti warna favorit, terutama karena warna merah adalah warna yang paling tidak saya sukai selama beberapa tahun terakhir. Tapi, akhirnya setelah beberapa lama menyimpan dalam hati saja kebahagiaan saya melihat diri saya sendiri di depan cermin dengan baju berwarna merah, yang menurut saya membuat saya terlihat cerah dan mencolok; akhirnya hari ini saya mengakui bahwa saya memang menyukai warna merah!

My Color Timeline

Wednesday, December 12, 2012

The Therapeutic Effect of Writing

Ya, saya suka menulis hanya kurang teraktualisasi :D… Hehe, penyebabnya lebih ke diri saya sendiri sih… saya kurang commit untuk menulis, semasa sekolah dan kuliah, saya baru akan berhasil menciptakan sebuah tulisan yang utuh (sampai ke bagian ending) dengan dua alasan: untuk kepentingan tugas atau media katarsis*. Hasil tulisan yang pernah dipublikasikan ya skripsi saya dengan judul “Hubungan Antara Minat terhadap Komik Jepang (Manga) dengan Kemampuan Rekognisi emosi Melalui Ekspresi Wajah” yang dimuat pada Jurnal Psikologi Fakultas UGM tahun 2007. Skripsi yang sangat berkesan karena dibimbing oleh dosen yang menurut saya waktu itu bikin ga pede dalam waktu hanya 6 bulan disela-sela waktu KKN selama 3 bulan di daerah yang cukup terpencil. Judulnya adalah “berjuang mati-matian supaya bisa lulus tepat 4 tahun di semester-semester terakhir :D”

Selain itu, persis seperti yang saya ceritakan, tulisan saya kebanyakan dengan tujuan me-maintain psikologis saya sendiri, semacam menulis buku harian. Sejak SD saya sudah mulai menulis buku harian, tapi baru semasa kuliah (waktu itu ada tugas dari mata kuliah Kesehatan Mental untuk membuat semacam analisis diri. Waktu itu dosen saya, Ibu Silvia Retnowati, di dalam kuliahnya memberikan satu statement yang membuat saya merasa terserang sekaligus bertekad harus melakukan sesuatu. Beliau mengatakan bahwa kami (red: mahasiswa Psikologi) harus menyehatkan mental kami sendiri sebelum bisa menyehatkan mental orang lain. Huks, rasanya nyesek gimana gitu permasalahan psikologis saya waktu itu sederhana sih, yaitu tidak percaya diri akut. Sesuatu yang sebenarnya menurut saya sederhana dalam tulisan saja, tapi treatment-nya sangat tidak mudah, karena sudah berbagai cara saya lakukan tapi tetap saja saya masih suka ‘lari dan sembuyi’, hoho

Buku Harian Saya Sejak 2009
Belum penuh sampai sekarang :D

Monday, December 10, 2012

We Having Fun without TV at Home

Hmm, sebenarnya ada sih TV di rumah, tapi sudah lebih dari setahun tidak pernah dinyalakan!

Hal ini bukan sesuatu yang kami sengaja… Semua bermula pada saat suami lupa membayar tagihan langganan TV kabel di rumah karena sedang banyak dinas di luar kota. Sebulan, dua bulan, sampai entah berapa bulan tunggakan tagihan waktu itu, sampai akhirnya siaran diputus, haha… Saya sendiri cuek-cuek saja karena memang sudah tidak terlalu menikmati TV sejak mulai bekerja dan bertambah setelah Ganesh lahir. Lagi-lagi bukan karena unsur kesengajaan, tapi kesibukan tidak bisa intens mengikuti serial yang saya sukai; kadang nonton, kadang engga, jadi ga tau lagi jalan ceritanya. Dan singkat cerita, karena sudah terlalu lama menunggak, kami malas membayar tagihannya hingga sekarang!

Dulu saya termasuk orang yang gandrung dengan TV. Acara favorit saya (seperti wanita pada umumnya) adalah berita infotainment (seperti Silet, Check & Richeck), serial (seperti Jewel in The Palace) dan reality show (seperti Indonesian Idol, The X Factor dan Master Chef).  Suami juga bisa dibilang pecinta TV walaupun sedikit berbeda genre; suami saya lebih suka chanel berita dan film. Sebelum ada Ganesh, kami sering nonton TV berdua; tapi sejak Ganesh lahir TV lebih sering kami cuekin, sampai akhirnya tidak terurus seperti sekarang :D

Setahun lebih tanpa TV ternyata sama sekali tidak mengganggu kenyamanan kami, malah sekarang kalau dipikir-pikir lebih menyenangkan. Pada awalnya sih simpel saja; tanpa TV Ganesh ga terganggu tidurnya, waktu istirahat kami juga lebih teratur karena tidak ada acara menunda kegiatan karena nonton TV, tidak ada acara bengong-bengong di depan TV sampai mengabaikan pertanyaan orang lain (hehe..) dan ternyata lebih damai saja meluangkan waktu setiap malam setelah Ganesh tidur sambil ngobrol berdua ditemani suara kodok dan jangkrik di sekitar rumah :D.

Kegiatan Ganesh: [1] Ngeramin bebek; [2] Pake sandal Papa; 
[3] Nyobain headset Papa; [4] Mengamati kucing; 
[5] Masuk keranjang cucian; [6] Pake selimut bayi.


Wednesday, December 5, 2012

Little Superhero’s Breakfast: First and Then…


*Sebenarnya tulisan berikut bukan cuma membahas sarapan sih, pemilihan judul mempertimbangkan juga aspek catchyness*

Sebagai seorang ibu, meskipun dengan embel-embel full time worker, menyiapkan menu untuk si kecil adalah hal yang menyenangkan dan tidak bisa saya tinggalkan, meski sesempit apapun waktu yang ada. Pada awalnya tidak terpikir juga caranya seperti apa, berbekal browsing artikel-artikel di internet, baca buku panduan menu bayi dan beberapa modifikasi menyesuaikan kondisi saya dan Ganesh, alhamdulillah kami bisa bekerja-sama sampai sekarang… Ganesh menikmati menu-menu yang saya siapkan dan saya sendiri juga tenang, karena tahu pasti apa yang masuk ke perut anak saya.

Pada awal masa MPASI (usia 6 bulan) saya memperkenalkan bubur beras merah dan kacang hijau organik pada Ganesh dan alhamdulillah tidak ada kendala waktu itu. Alasan waktu itu sih, karena ada pendapat bahwa untuk MPASI pertama sebaiknya dipilih bahan yang rasanya tawar. Selain itu juga dianjurkan untuk tidak mencampur beberapa bahan makanan sekaligus untuk mengetahui reaksi alergi pada bayi. Alasan lain, karena beras merah dan kacang hijau mengandung energi dan gizi yang cukup, sedangkan embel-embel ‘organik’ pasti saya pilih untuk alasan keamanan.

Satu bulan pertama menyiapkan makan dan proses memberikan makan untuk Ganesh adalah pekerjaan yang cukup sederhana, cukup mencampur tepung beras dengan air dan memasaknya beberapa saat. Semua itu bisa saya lakukan sendiri, karena kebetulan waktu itu saya mengambil cuti untuk mengunjungi keluarga di Jawa. Setelah satu minggu pertama itulah tantangan pertama dimulai… Sebelumnya saya sudah sempat browsing bahan makanan apa saja yang aman untuk berbagai usia bayi, cara menyiapkan sekaligus penyimpanannya, dengan tujuan saya tetap bisa menyediakan makanan sehat untuk Ganesh meskipun harus bekerja.

His Food First [from 6m]