SOCIAL MEDIA

search

Wednesday, October 18, 2017

Ello The Surviving Cat #2: Bertemu dengan Orang-Orang Baik…

Hari itu, setelah sempat bersitegang dengan seorang kawan karena perkataannya yang bagi saya arogan dan tidak simpatik; saya pun menelpon Hotel Lusi sesuai saran seorang teman saya untuk memastikan bahwa Ello bisa saya titipkan disana selama acara…

Acara ini adalah sebuah rapat koordinasi dalam lingkup unit induk kami. Pesertanya adalah Kantor Induk dan sepuluh sektor di bawahnya yang tersebar di wilayah Sumatera Bagian Selatan. Acaranya sendiri diadakan di sebuah hotel, mengingat peserta yang cukup banyak sehingga tidak tertampung di ruang rapat kantor. Dan karena banyaknya agenda yang perlu dibahas dan waktu yang terbatas, acara pun disusun dari pagi hingga malam hari. Sedang tugas saya sendiri adalah sebagai panitia registrasi, yang tentu tugasnya di awal acara; serta bertugas menyanyi pada saat makan siang… Ya, kesepakatan awal pada saat rapat terakhir, saya diberikan tugas untuk mengisi pada saat acara makan siang, ini pun sudah saya koordinasikan dengan seksi acara… Jadi, saya pikir sebenarnya saya punya waktu kosong aman dari pukul 14.00 hingga 17.00 untuk pulang ke rumah menyusui Ello. Tapi, karena alasan yang saya ceritakan dalam ELLO THE SURVIVING CAT #1: AWAL YANG SULIT maka saya pun memilih opsi mencari hotel yang mengijinkan hewan peliharaan menginap.

Dan alhamdulillah, Hotel Lusi yang lokasinya hanya hitungan menit dari tempat acara ini tidak keberatan saya meninggalkan Ello di kamar selama acara. Selain itu, tarifnya pun sangat terjangkau, sehingga saya tidak ragu lagi membawa Ello ke sana esok paginya.



***

Hari Pertama. Pagi itu, karena malamnya begadang untuk gladi bersih acara, saya pun bangun terlambat. Harusnya, jam 5.00 saya sudah harus di salon untuk dandan, tapi baru sekitar pukul 05.30 saya berangkat dari rumah ke salon. Tentu saja dengan membawa Ello dalam kardus hangatnya (kardus dengan lampu LED yang saya sambungkan ke charger handphone untuk mobil dan ditutupi dengan kain untuk memastikannya tetap hangat). Dan di salon, sembari saya dandan, Ello saya tinggalkan di dalam mobil dengan kaca yang dibuka sedikit agar sirkulasi udara masih memadai. "Sabar ya Ello, sebentar aja kok…"

Ya, seandainya saja saya bisa dandan, sebenarnya ga perlu repot-repot ke salon… Tapi, apalah daya… saat kemampuan dandan hanya sebatas pakai lipstik, sementara hari itu saya harus tampil di depan para peserta rakor bersama pembawa acara yang dandan habis-habisan cantik dan ganteng, daripada begitu njomplang, saya pasrah saja disuruh dandan sama teman-teman panitia lainnya…

Selesai dandan, hari sudah cukup siang! Byuh, benar-benar mepet semepet-mepetnya, alhasil tidak sempat lagi menitipkan Ello ke Hotel Lusi. Bingung! Akhirnya saya membawa Ello ke pos satpam hotel tempat acara dan memohon agar saya bisa menitipkan Ello sampai sekitar jam 9.00. Dan, alhamdulillah, meskipun terlihat dari ekspresi wajahnya, betapa mereka berpikir permintaan saya sangat aneh, mereka mengijinkan saya menitipkan Ello di dalam kardus hangatnya di sana. Fiuhhh, "Terima-kasih banyak pak…"

Dan saya pun bisa menjalankan tugas saya, meski dengan sedikit kepikiran juga, bagaimana keadaan Ello di pos satpam. Apakah mengeong terus? Apakah stress? Atau malah karena mengeong-ngeong akhirnya diusir oleh pihak manajemen hotel? Huhu, rasanya tidak sabar menunggu waktu saya bisa membawa Ello ke tempat yang aman…

Kemudian, sekitar jam 10.00 saya pun punya kesempatan melipir membawa Ello ke Hotel Lusi. And surprisingly, di sana saya bertemu dengan Mbak Rika (bukan nama sebenarnya), resepsionis Hotel Lusi yang  sangat-sangat welcome dengan kehadiran Ello. Bukan cuma mengijinkan Ello transit di sana, bahkan dia menawarkan untuk menitipkan Ello pada kucingnya yang juga sedang beranak.  Hmm, jelas tawaran yang sangat menggiurkan ya, menjawab semua permasalahan saya akan perawatan Ello… Tapi, meski begitu, saya terpaksa menolak tawaran ini. Lha, kucing Mbak Rika ini ras Persia, sementara Ello kucing kampung, mencolok sekali perbedaannya; takutnya si induk kucing akan menolak Ello atau bahkan menyakitinya.

Setelah saya menolak tawaran itu, Mbak Rika juga menawarkan bantuan untuk memberi minum Ello saat saya sedang bekerja. "Emang jam berapa aja sih Mbak, kucingnya dikasih minum, biar saya yang kasih susu…" katanya. Wah, wah, saya benar-benar terharu dengan kebaikan Mbak Rika yang notabene baru saya kenal. Juga begitu amaze bagaimana saya bisa dipertemukan dengan orang yang begitu baik secara sangat spesifik… juga pecinta kucing dan jelas memahami kenapa saya berepot-repot merawat Ello sampai segitunya. Sesuatu yang sulit dipahami mereka yang jarang berhubungan dengan hewan peliharaan.

Tapi meskipun merasa sehati dalam hal ini dan yakin bahwa Mbak Rika akan merawat Ello dengan baik, saya terpaksa menolak tawarannya. Waktu itu, ya perlengkapan saya hanya sebatas botol tetes mata. Dengan media ini saya merasa bahwa proses memberi minum Ello cukup sulit sesungguhnya dan saya tidak tega merepotkannya. "Gapapa Mbak, saya ada waktu kokLha saya belum punya dot, kasian Mbak repot ngasih susunya…" jawab saya.

***

Hari kedua. Pagi hari kedua saya diajak suami berangkat barengan ke acara rakor. Secara dan suami berada pada perusahaan dan unit induk yang sama, jadi dia juga ikutan acara ini, jadi bisalah memanfaatkan momen ini untuk bernostalgia, mengenang masa-masa kami masih satu kantor dan berangkat-pulang kerja bareng, hehe… 😍.

Pagi itu, meskipun malamnya juga begadang membuat playlist untuk hari kedua. Baca: download lagu instrumental, puterin satu-satu untuk memastikan saya paham timing liriknya, ngepasin nada untuk beberapa lagu, menyusun urutan lagu agar tidak ngos-ngosan meskipun nyanyi banyak-banyak dan kumpulin liriknya… saya dan suami berangkat cukup pagi, sehingga sempat mampir ke Hotel Lusi dulu untuk menitipkan Ello sebelum ke tempat acara.

Hari kedua ini berjalan lebih smooth, hanya saja, siangnya saya harus memutar otak saat akan menjenguk Ello. Pagi tadi kan saya nebeng mobil suami, dan saya yang terbiasa dengan mobil manual tidak berani membawa mobil matic-nya yang cukup gede itu. Sementara suami, ya karena dia rapat, ya dia tidak bisa mengantar saya… 

Dan kemudian, setelah berpikir, akhirnya saya mendapat ide untuk meminta tolong seorang anak magang di kantor saya bernama Dila. Dila pun alhamdulillah tidak keberatan mengantar saya  dengan motornya ke hotel tempat Ello dititipkan. Dan bahkan, dia tidak ngedumel saat harus bolak-balik dua kali karena saya ketinggalan kunci… Iya, sampai di Hotel Lusi, saya tidak menemukan kunci saya dan akhirnya balik lagi ke tempat rakor karena tidak ada kunci cadangannya di resepsionis. "Thanks so much ya Dek, we count it to you…"

Nah, saat mencari kunci cadangan di resepsionis ini, saya sempat ngobrol banyak dengan Mbak Rika. Waktu itu lah kemudian dia memberikan saya satu sachet susu kucing, seperti yang pernah dijanjikannya saat kami bertemu di hari pertama, saat dia tahu saya tidak memberikan susu khusus kucing, tapi susu formula bayi usia 0 bulan. Fixed! Mbak Rika ini benar-benar kebangetan baiknya! Padahal kami baru sekali ketemu, tapi dia segitunya perhatian pada saya dan Ello. Membuat saya benar-benar dipertemukan secara misterius olehnya. Saya percaya ada banyak orang baik di luar sana, tapi, bertemu orang baik yang juga penyayang kucing di saat saya sedang kesulitan merawat Ello, benar-benar sesuatu yang sangat spesial. Call me whatever, but yes! That's make me feel special… Makasih sekali lagi Mbak Rika, bertemu denganmu benar-benar memberikan suntikan semangat untuk menjalani hari-hari berat merawat Ello…

***

Hari ketiga. Seperti hari sebelumnya, kami bertiga (saya, suami, dan Ello) berangkat menuju Hotel Lusi untuk menitipkan Ello. Dan setelah memastikan Ello aman di sana, kami pun berangkat menuju tempat kegiatan. Oh ya, di kamar hotel ini, Ello saya tempatkan di atas TV tabung yang ditempel ditembok, karena colokannya cuma ada disitu saja. That's why, saya harus memastikan posisi kardusnya sangat stabil dan jika pun Ello-nya jalan-jalan pun, dia ga akan jatuh. 

Di hari ketiga ini, suami bisa mengantar saya menjenguk Ello siang harinya. Hmm, ngomong-ngomong soal suami saya, I know dia pun berpikir bahwa saya sedikit berlebihan dalam merawat Ello, dia pernah ngomong kok… Tapi, kemudian dia memilih tidak banyak berkomentar setelah saya bilang, "Bukan lebay, tapi ya dia ini masih terlalu kecil, kalau ga dirawat seperti ini, ya sama saja membiarkan dia mati pelan-pelan… Walaupun kucing, ini nyawa juga lho… Emang tega? Dan karena kita sudah mungut dia, ya itu tanggung-jawab kita untuk merawat dia…"

Nah, pada saat saya mulai ribut mencari tempat transit untuk Ello dan akhirnya bolak-balik membawanya ke tempat rakor (dititipkan ke Hotel Lusi), saya merasa perhatiannya pada Ello semakin bertambah. Sampai-sampai beberapa kali dia whatsapp menanyakan kabar Ello di hotel, aman atau tidak, udah minum susu atau belum, dan sebagainya… Sesuatu yang membuat saya senyum-senyum sendiri karena bahagia. Senang aja, Ello akhirnya mempunyai tempat yang cukup spesial di hati suami saya. Senang, karena orang terdekat saya yang merasakan apa yang saya rasakan dan memberikan dukungan moril dan materiil. **Duh, bahasanya kaya pidato bener ya… 😅**

***

Yes! That's it what happen in three days, sampai akhirnya acara rakor berakhir dan kehidupan kami kembali berjalan normal. Bagi saya, ini benar-benar big story! Selama tiga hari acara rakor sembari merawat Ello memang benar-benar merepotkan dan melelahkan, tapi dari segala kesulitan itu ada banyak hal-hal indah yang terjadi. Bagaimana saya terbantu menghadapi kesulitan-kesulitan yang ada atas bantuan orang-orang baik di sekitar kita. Pertemuan saya dengan orang-orang baru yang begitu baik, terutama Mbak Rika benar-benar mengingatkan saya pada kata orang bijak bahwa:
Orang baik akan bertemu dengan orang baik...
That wise words maybe old, but so true! Bahwa saat kita berusaha berbuat baik, maka kita juga akan dipertemukan dengan orang-orang baik. And this was the sweet insight for this chapter of this story. So, berbuatlah baik, jangan takut, insyaallah kita akan dipertemukan dengan kemudahan dan bantuan. Sekali lagi terima-kasih untuk Mbak Rika, Pak Satpam dan Dilaorang-orang yang baru saya temui tapi begitu peduli pada saya dan Ello

Oh ya, juga setelah perjuangan saya selama tiga hari ini berkaitan dengan tugas saya di kantor juga tidak sia-sia! For these three days; begadang hingga tengah malam untuk gladi bersih, dan juga menyiapkan lagu instrumental untuk mengisi acara istirahatSampai-sampai tembus 26 lagu satu hari, mendapat apresiasi yang membuncahkan rasa bangga di dada. Pujian dari para peserta, keyboardis hingga teknisi sound system… dan yang perlu di-highlight adalah pujian dari General Manager hingga beliau memberikan bingkisan di akhir acara, sangat cukup membuat penyanyi amatir seperti saya tersenyum-senyum bahagia semalaman. Terima-kasih



Yeah, that's the story for this chapter. Selanjutnya, saya akan bercerita bagaimana merawat Ello memberikan insight bahwa terkadang sesuatu itu tidak sesulit yang kita kira. Semoga teman-teman nanti bakalan baca lagi kan Yayaya hihi 😀

Sekian, dan semoga cerita ini bermanfaat untuk teman-teman semua ya

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Monday, October 9, 2017

Sup Ikan Patin a.k.a. Ikan Kuah

Ini masakan yang cukup legendaris dalam katalog masak-memasak pribadi saya untuk anak-anak. Sejak jaman Ganesh kecil, sampe sekarang Mahesh… dua-duanya sama-sama suka dan ga bosen-bosen sampai sekarang. Which that's mean, 'sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui'… sekali masak, dua anak suka, haha…

Iya, karena selera dua anak ini seringkali berbeda; si kakak anti pedes, eh si adek hobi pedes; yang satu suka tahu, yang satu anti tahu, de el el. Nah, karena itu, dalam seminggu paling tidak sekali lah masak 'Sup Ikan Patin' ini… yang sama Mahesh seringkali disebut 'Ikan Kuah'.


Karena (sebut saja) kelegendarisannya, saya kira resep ini sudah saya dokumentasikan di blog. Eh, kok pas dicari enggak ada, padahal kaya inget-inget sudah pernah nulisnya… Tapi, sudah dicari di draft blog dan di arsip laptop emang ga ada. So, positif, memang resep ini belum pernah ditulis, jadi, ya sok mari ditulis aja mumpung sempet. Karena saya ini orangnya pelupa, daripada berkali-kali ngubek-ubek internet kalo lupa, atau ga yakin sama takaran bumbunya yang sudah pas sama lidah anak-anak…

Bahan untuk membuat 'Sup Ikan Patin' ini sederhana saja; cuma ikan patin, tomat, bawang merah putih, bawang daun, jahe, dan serai. Sedikit berbeda dengan pindang khas Sumatera yang juga memakai kunyit, daun salam, dan kecap manis. Ini, pakai kecap juga sih, tapi kecap ikan, haha… yang rasanya jelas jauh berbeda dengan kecap manis ya…


Ikan patin sendiri, adalah jenis ikan yang tidak hanya lezat, tapi juga sehat karena kandungan nutrisinya. Menurut ahli gizi Rosihan Anwar, Sgz (1); ikan patin memiliki kadar kolesterol yang rendah dan mengandung lemak tak jenuh yang tinggi. Dimana lemak tak jenuh ini bermanfaat untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah, sehingga dapat mencegah risiko penyakit jantung koroner.

Nah, makin cinta kan sama ikan ini? Apalagi harganya pun relatif terjangkau, meskipun mungkin di daerah tertentu sulit ditemukan. Iya kan? Saya pribadi baru kenal ikan patin ini setelah merantau ke Sumatera Selatan lho… Dulu, semasa di Jogja belum pernah sekali pun mencicip ikan ini. Dan sekarang, saat saya tanya ke orang-tua saya soal ikan ini, mereka pun tidak familiar. Katanya sih ikan ini ga ada di Jogja. Hmm, daripada penasaran, bagi yang belum familiar dengan ikan ini… ini nih, penampakan ikan patin yang saya maksud dalam resep ini…

Helichopagus Waandersii a.k.a. Ikan Patin (2)

Oke, kembali ke tujuan awal blogpost ini, berikut resep membuat sup ikan patin a.k.a. ikan kuah ala mama Ganesh-Mahesh…

Bahan:

1/2 kgIkan patin
2 buah Tomat dipotong sesuai selera
5 siungBawang merah
2 siungBawang putih
2 cmJahe
1 batangSerai
2 sendok makanKecap ikan
1 batangDaun bawang diiris-iris tipis atau sesuai selera
SecukupnyaGaram
SecukupnyaMinyak untuk menumis

Cara Membuat:
1.Haluskan bawang merah dan bawang putih.
2.Geprek/memarkan jahe dan serai.
3.Potong dan filet ikan patin sesuai selera. Jika suka, dipotong saja, tanpa difilet tidak masalah.
4.Tumis bumbu halus, jahe dan serai, lalu tambahkan air kurang lebih 1 liter.
5.Setelah mendidih, masukkan ikan patin dan kecap ikan.
6.Beberapa saat kemudian, masukkan tomat dan tambahkan garam hingga rasa sesuai selera.
7.Setelah matang, masukkan daun bawang dan matikan api.

Gampang dan praktis kan… Plus insyaallah sehat… Sekian sharing saya, semoga bermanfaat… Selamat mencoba 😋

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Readings:
  1. TribunNews.com. 2013. Takut Makan Patin Karena Berlemak? Ini Jawaban Ahli Gizihttp://www.tribunnews.com/kesehatan/2013/04/17/takut-makan-patin-karena-berlemak-ini-jawaban-ahli-gizi. Diakses tanggal 9 Oktober 2017.
  2. SemuaIkan.com. Jenis-Jenis Ikan Patin beserta Gambarnyahttp://www.semuaikan.com/jenis-jenis-ikan-patin-beserta-gambarnya/. Diakses tanggal 9 Oktober 2017.

Saturday, September 23, 2017

Ello The Surviving Cat #1: Awal yang Sulit…

Bagi yang berteman dengan saya di Facebook ataupun Instagram, mungkin sudah tahu siapa Ello yang saya maksud… Seekor kucing kecil yang kami temukan di depan toko oleh-oleh khas Lampung 'Iyen'. Dalam kondisi yang membuat iba; masih sangat kecil, sendirian, ketendang-tendang pedagang kaki lima di sekitaran lokasi, dan hampir masuk got! Sampai-sampai Mahesh si anak perasa, ngotot mau keluar terus, nongkrongin si Ello dan bilang, "Papa, kasian kucingnya… ketendang sama om itu… Om yang pake topi itu nah…" saat papanya kemudian bertanya om yang mana.


Mahesh… Mahesh… Kamu membuat kami merasa dobel ga-sampai-hati dan akhirnya memutuskan membawa pulang Ello dengan sebuah kantong kertas. Saat itulah kisah Ello bersama kami berjuang untuk bertahan hidup dimulai… Bukan sebuah cerita panjang sebenarnya, tapi memberikan pengalaman dan pelajaran berharga buat kami semua. Itu kenapa saya pengen banget nulis detail perjalanan kami dengan Ello. And this is chapter 1, yaitu di saat kami merasa bahwa ternyata semua tidak semudah yang dibayangkan…


***

Dalam perjalanan pulang dari toko ke rumah, kucing kecil yang belum kami beri nama itu terus mengeong… Jelas dia merasa tidak nyaman dan asing dengan kondisi yang dialaminya sekarang -di dalam sebuah kantong kertas, tanpa ibu di sampingnya. Saya seorang ibu, dan saya tahu bagaimana perasaannya; sehingga yang ada dalam kepala saya saat itu hanyalah segera membawanya ke rumah, memberikan susu dan memberinya tempat yang hangat. "Sabar ya… sebentar lagi kita sampai di rumah…"

Sesampainya di rumah, segera saya ambilkan susu UHT Ganesh, menuangkannya di dalam sebuah mangkuk kecil dan menyodorkannya pada si kucing kecil. Dimana saat itulah saya sadar, bahwa kucing ini benar-benar masih kecil! Bahkan matanya belum terbuka! Dan dari sebuah artikel di internet (disini), saya perkirakan bahwa usia si kucing kecil ini masih kurang dari satu minggu. Dan meskipun dia bayi binatang yang mungkin lebih kuat dari bayi manusia, dia belum bisa bertahan hidup sendiri tanpa bantuan induk atau pengasuh lainnya. Dia belum bisa minum susu sendiri, masih harus disusui, atau jika tidak dia akan mati kelaparan, disitu saya merasa bingung dan sedih.

So, browsing kembali di internet, saya menemukan sebuah artikel yang menyebutkan bahwa seekor anak kucing bisa diberikan susu formula bayi usia 0 bulan dengan menggunakan pipet. Baiklah, setelah menempatkan si kucing kecil di sebuah kardus dengan alas kain dan penghangat lampu LED USB yang saya sambungkan dengan charger handphone, memastikannya cukup hangat… saya pun pergi ke Indoma*et untuk mencari perlengkapan (baca: susu formula 0 bulan dan pipet).

Awalnya, saya berpikir bisa mendapatkan pipet dari obat penurun panas anak, tapi ternyata tidak, minimarket ini tidak menjual kemasan obat penurun panas yang memakai pipet. So, memutar otaklah saya, dan akhirnya membeli sebuah obat tetes mata, berharap si kucing kecil bisa diberi minum dengan obat tetes mata, yang cara kerjanya mirip pipet.


Dan syukur alhamdulillah, meskipun sulit, si kucing kecil bisa diberi minum dengan cara ini. Minumnya cuma sedikit, yah, saya pikir karena dia masih terlalu kecil, jadi memang kebutuhan minumnya belum terlalu banyak. Tetap positif thinking dan berusaha melakukan yang terbaik yang saya bisa untuk menyelamatkannya.

Selama beberapa hari, rutinitas baru pun dimulai; yaitu memberi minum si kucing kecil yang kemudian kami beri naman Ello, dari kata 'Yellow' yang artinya kuning. Awalnya sih, saya tawarkan untuk memberi nama si kucing kecil Yello, tapi anak-anak lebih memilih memanggilnya Ello. Baiklah, saya menurut saja…

Setiap pagi sebelum ke kantor, siang saat istirahat, sore sepulang kerja dan malam sebelum tidur; saya mengangkat Ello dari kardus hangatnya, menyelimutinya dengan kain agar tidak banyak bergerak dan sedikit 'memaksanya' minum susu dari botol tetes mata itu. "Baiklah Ello, aku tahu ini sulit, tapi kita harus supaya kamu bisa bertahan…" kata saya. Kadang saat dia mulai mengeong-ngeong, kemudian saya bilang, "Ello mau ketemu mama? Kalo gitu sekarang Ello minum susu dulu… Nanti kalo udah gede, Ello cari mama ya…" Baiklah, saya memang melankolis, dan kondisi seperti ini benar-benar membuat hati saya teriris-iris. "Come on Ello! We can do it!"

Baiklah, to be honest aktivitas baru ini cukup berat, dan tidak tidak sampai disini sajaKemudian selang sekitar sehari atau dua hari, saya bertanya-tanya, kok tempat tidur Ello ini kering terus ya? Tidak sekalipun ada bekas pipis atau pupnya, padahal kan dia dikasih minum susu, masa iya sama sekali ga dibuang?

Pertanyaan ini terjawab saat kemudian saya googling dan menemukan bahwa kucing kecil itu perlu dirangsang untuk pipis dan pup. What? OMG! Kayaknya ini susah deh… tapi baiklah, mari kita coba dulu. Dengan bekal video di Youtube, saya pun mencoba 'membantu' Ello untuk pipis dan pup. Caranya, dengan mengusap-usap area genitalnya dengan tisu basah. Dengan cara ini, Ello akan pipis jika memang ada urin dalam perutnya. Demikian juga dengan pup, meskipun untuk pup diperlukan usaha yang lebih banyak.

So, kegiatan pun bertambah… Setiap hari, empat kali sehari membantu Ello pipis terlebih dahulu sebelum minum susu. More things to do, tapi saya dan Ello memasang kaca mata kuda melakukan apa yang bisa kami lakukan, tanpa optimisme maupun pesimisme. Pokoknya lewati hari demi hari saja sebaik yang kami bisa.

Dan tantangan tidak berhenti sampai disitu saja. Pada suatu saat, kami dihadapkan pada kondisi dimana saya tidak bisa pulang saat jam istirahat karena ditugaskan dalam sebuah acara kantor yang lokasinya jauh dari rumah. Saya sudah mencoba semuanya; mulai dari berusaha mengatur waktu, agar bisa pulang sebentar saat tidak bertugas hingga mencari pet shop yang bisa dititipin Ello; karena mbak di rumah takut pada kucing. Apa mau dikata, saya tidak bisa memaksa bukan?

Semua usaha itu tidak membuahkan hasil. Malahan cobaan bertambah lagi, dengan komentar tidak simpatik dan arogan. Mengatakan bahwa saya berlebihan. Bahwa hewan punya naluri yang kuat, sehingga pasti bisa survive, hanya dengan menyediakan susu di dekatnya. "Well, helow, situ dokter?" Atau ga perlu lah jadi dokter hewan, kalau situ pecinta kucing yang berpengalaman ngerawat kucing atau paling enggak sudah cari informasi; saya masih bisa terima lah sikap arogan kaya gitu. Atau, kalau enggak, ngomongnya lembut sedikit, tunjukkan kalau situ sedang kasih saran, bukan nge-judge. Tapi, ya udah, gapapa, 'your mouth, your reputation', saya sih kalau ditantang kaya gini malah jadi semakin semangat dan pantang menyerah! **Baiklah, anggap paragraf ini sebagai curhat. Sekali-sekali lah katarsis di blog sendiri. Boleh kan teman-teman…**

So, ide itu pun datang, saya bisa menitipkan Ello di tempat lain yang dekat dengan lokasi hotel tempat acara. Hotel melati yang tidak melarang tamunya membawa hewan peliharaan adalah pilihan yang tepat! Dan alhamdulillah, atas rekomendasi seorang teman, saya menemukan tempat seperti itu. Fixed-lah saya booking satu kamar di hotel tersebut selama tiga hari, sehingga saya bisa wara-wiri mengurus Ello sembari menjalankan tugas saya.

Dan fixed juga rutinitas selama tiga hari itu pun bertambah berat. Pagi, saya menyetir sendiri membawa Ello beserta kardus dan penghangatnya yang dicolokkan  power supply di mobil bersama semua perlengkapannya; susu, air panas, mangkok kecil, tissue basah, dkk). Menitipkannya di hotel sebelum ke tempat acara, meskipun pada hari pertama terpaksa saya titipkan ke satpam dulu karena terburu-buru. Membersihkan badannya, membantunya untuk pipis dan memberikan susu di sela-sela kegiatan; dan menjemputnya kembali sepulang acara. Fiuh, trust me, it's pretty hectic, tapi, bisaa…

And in summary, 'awal yang sulit' yang saya maksud disini adalah:
  • Memutar otak memberi minum Ello yang belum bisa minum susu sendiri, tanpa adanya dot ataupun Kitten Milk Replacer/KMR. Yang akhirnya ditanggulangi dengan botol tetes mata dan susu formula bayi usia 0 bulan.
  • Memberi minum Ello dengan botol tetes mata selama dua minggu, yang itu jelas sulit dan berat. Botol obat tetes mata jelas jauh berbeda dengan puting induknya, ini saja sudah membutuhkan kesabaran. Ditambah lagi, bahwa pemberian susu ini harus dilakukan dalam intensitas yang cukup sering mengingat dia masih bayi. Ini berarti saya harus commit untuk ada di setiap waktu minum susunya.
  • Terkaget-kaget saat tahu bahwa anak kucing tidak bisa pipis dan pup sendiri, sehingga harus kita rangsang dan saya yang awam ini dengan pesimis berusaha belajar dari video youtube.
  • Mendapat tugas dalam acara kantor dari pagi hingga malam, sehingga (lagi-lagi) harus memutar otak agar bisa tetap merawatnya minimal empat kali setiap hari. Sampai akhirnya menitipkan Ello di sebuah hotel di dekat lokasi acara dan bolak-balik kesana saat ada kesempatan.
Dan akhirnya, setelah hari-hari yang sulit berjalan selama dua minggu, melihat perkembangan Ello yang tampak semakin baik, saya pun mencari dan mendapatkan botol dot dan susu khusus kucing untuk Ello. Tapi tentu saja petualangan Ello tidak sampai di sini saja… Setelah lebih dari 1.300 kata ini, masih ada kisah lain yang ingin saya ceritakan. Termasuk juga, hal apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan nyawa anak kucing yang usianya masih hitungan hari hingga empat minggu sebelum akhirnya bisa makan sendiri. Bagaimana cara dan kapan mengajarinya makan, minum, pipis, serta pup. Dan banyak lagi…


See you in the next post ya…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-


Tuesday, August 22, 2017

Menggali Represi dengan Film 'The Boss Baby'

Pertama kali liat poster film ini di internet dan membaca sinopsisnya, saya tidak terlalu berminat. Dari sinopsinya, waktu itu terkesan kalau film ini bukan untuk konsumsi anak-anak, walaupun formatnya animasi. Semacam film 'Despicable Me' yang menurut saya tidak terlalu kuat pesan/nilai positif di dalamnya, tapi sekedar lucu-lucuan saja. Dibandingkan film 'Cars' misalnya yang membawa pesan sportifitas dan kebaikan, atau film 'Planes' yang mengajarkan tentang usaha keras dan tekad yang kuat dalam mencapai suatu cita-cita, meski tampak mustahil.

Penggembar 'Despicable Me' jangan marah ya… Ini pendapat saja. Bukan berarti juga anggapan bahwa film ini tidak baik untuk ditonton, Ganesh kemarin nonton juga di bioskop sama papanya. Cuma, saya pribadi ga memasukkannya dalam list koleksi film pribadi di rumah.


Nah, kembali ke film 'The Baby Boss'… Menurut persepsi saya, sebenarnya film ini menceritakan imajinasi seorang anak (Tim) tentang adik barunya. Sebelum memiliki adik, hidupnya begitu sempurna; dia adalah prioritas kedua orang-tuanya! Dari mulai bangun tidur, hingga akan tertidur kembali dan bahkan saat tidur… he's the one and only!

Dimana semua itu berubah 180º saat sang Adik lahir, yang digambarkan dengan kedatangan seorang bayi botak dengan pakaian jas lengkap turun dari taksi dan berjalan menuju ke rumah Tim. Dialah bayi yang kemudian menyebut dirinya sebagai The Boss Baby dan oleh orang tua Tim disebut sebagai adik laki-laki Tim. Seorang bayi yang kemudian mengambil alih sebagian besar perhatian orang-tua Tim, hingga Tim pun merasa kesepian dan diabaikan.

Dari situlah, Tim semakin membenci adiknya (Boss Baby) dan berusaha mencari tahu siapa sebenarnya Boss Baby ini. Dan akhirnya dia menemukan kenyataan bahwa Boss Baby sesungguhnya adalah bagian dari Baby Corp, perusahaan (semoga tidak salah) pengirim bayi kepada manusia, yang sedang menyamar untuk mencari tahu mengapa seringkali anak anjing mendapatkan kasih sayang lebih daripada bayi. Dimana orang-tua Tim bekerja pada perusahaan Puppy Co yang usahanya bergerak di bidang (kurang lebih) menyediakan anak anjing untuk manusia.

Drama yang seru pun dimulai dari sini. Dari awalnya Tim membenci Boss Baby dan berusaha membongkar penyamarannya; Boss Baby meminta maaf dan akhirnya Tim membantunya untuk melaksanakan misi penyelidikan agar Boss Baby bisa segera kembali ke Baby Corp; hingga akhirnya misi terselesaikan, semua kembali seperti semula sebelum Boss Baby datang ke rumah Tim… dan ternyata baik Tim maupun Boss Baby merasa kehilangan. Hingga akhirnya, bisa ditebak, kemudian Tim menulis surat kepada Boss Baby dan Boss Baby pun dengan bahagia meninggalkan karirnya di Baby Corp untuk menjadi adik Tim… kembali ke keluarga Tim.

Poster Film 'The Boss Baby'
from DreamWorkAnimation
Picture from HERE

Begitulah kira-kira film ini diceritakan secara singkat… Cerita saya mungkin kurang seru ya, tapi percaya deh, filmnya benar-benar seru dan cukup menegangkan!

Nah, kembali ke nilai moral yang bisa kita sampaikan kepada anak berdasarkan film ini… Of course it's about sibling love.

Saya sendiri menggunakan film ini untuk kembali menggali perasaan Ganesh saat memiliki adek baru. Bagaimana dia jadi diabaikan dan bagaimana perasaannya waktu itu. Menggali kekecewaan, rasa marah, dan sedih yang mungkin dirasakannya dulu.

"Lho, ngapain menggali pengalaman/perasaan/ingatan negatif kok malah digali dan diingat-ingat lagi? Bukannya lebih baik dilupakan?" No! Big NO! Berusaha melupakan pengalaman negatif atau dalam istilah psikologi dikenal sebagai represi. Pada saat seseorang mengalami sesuatu yang sangat melukai 'hati'; sedih, kecewa, malu, dan sebagainya; dan kemudian dia berusaha melupakan peristiwa tersebut… itulah yang disebut dengan mekanisme represi. Melalui mekanisme represi, suatu pengalaman atau perasaan negatif mungkin memang tidak lagi kita sadari. Kita tidak lagi mengingatnya. Namun, sesungguhnya semua itu masih terekam dalam alam bawah sadar kita, dan mempengaruhi perilaku kita.

I've ever been there before… Dulu, seringkali saya menekan perasaan malu, minder, konyol dan sebagainya yang saya rasakan, hingga saya tidak lagi meningatnya. Yes, secara sadar, memang saya tidak mengingatnya; tapi somehow perasaan itu tanpa saya sadari membuat saya merasa semakin kecil dan buruk. Hingga akhirnya, saya belajar untuk menggali perasaan-perasaan negatif itu, dan berusaha menyelesaikannya, daripada berusaha melupakannya.

'Menyelesaikan' maksudnya adalah berusaha membuat hati dan pikiran kita bisa menerima perasaan itu… Nah, caranya seperti apa, bakalan panjang, jadi insyaallah akan saya ceritakan dalam tulisan tersendiri.

So, kembali ke cerita menggali perasaan Ganesh saat memiliki adik baru, saya pun mengajak Ganesh berbicara:

"Kakak, sedih ya TimSejak ada adek baru, dia jadi ga pernah diceritain sebelum tidur sama papa-mamanyaKaya kakak dulu ya? Dulu, kakak sedih enggak? tanya saya.

Waktu itu, saya sudah siap jika Ganesh akan berkata 'iya' dan berharap kemudian dia akan cerita panjang lebar tentang perasaannya. Tapi, Ganesh hanya menjawab, "Iya" dengan santai. Udah, gitu aja…

Well, kemudian saya pun masih coba mengulik lagi, "Dulu, sebelum ada adek, kakak suka diceritain ya sebelum tidurSetelah ada adek, kakak ga pernah diceritain lagiKakak juga sering dimarahin sama mama ya…"

Dan Ganesh masih tidak menunjukkan tanda-tanda emosional dengan perkataan saya, sehingga saya pun menyimpulkan jika kejadian 'itu' tidak meninggalkan trauma emosional pada dirinya. But still, kemudian saya berkata padanya, "Anesh, mama minta maaf ya kalau mama dan papa jadi kurang perhatian sama Anesh setelah ada adekMaaf kalau kadang jadi suka marah-marahMama sama papa bangga sama Anesh, makasih ya, sudah jadi kakak yang baik buat adek…"

Saya memeluknya dan kemudian berkata lagi, "Anesh sayang adek kan? Anesh yang sabar ya kalau adek kadang ga ngerti Anesh kasih tauNamanya juga masih kecil, belum sepintar kakak…" Lalu saya acak-acak rambutnya dan kemudian menciumnya. "Anesh harus jagain adek yaKaya Tim jagain adeknya pas kehabisan susu yang bikin pinter…"
Kurang lebih seperti itu, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa ada sedikit kejadian yang ditambah atau dikurangi karena keterbatasan ingatan… 😬

Semacam tidak ada sesuatu yang 'seru' dalam cerita saya ini ya… Tidak ada adegan Ganesh curhat serius soal perasaannya waktu itu, he seem's able to cope with that past experience well. Tapi ya tetep sih, saya akan terus berusaha untuk mencari tahu dan menggali pengalaman-pengalaman buruk yang mungkin masih mengendap dalam ingatan bawah sadarnya.

Dan terlepas dari cerita yang kurang seru ini, apa yang ingin saya sampaikan dari tulisan ini adalah:
  • Suatu pengalaman negatif yang sangat melukai perasaan bisa jadi masih menjadi bagian dari diri kita. Kita hanya menekannya ke alam bawah sadar sehingga tidak menyadarinya. Namun, sesungguhnya hal itu masih mempengaruhi perilaku, perasaan dan reaksi kita pada lingkungan secara negatif. Hal inilah yang disebut represi, dan tidak menutup kemungkinan terjadi pada anak-anak.
  • Pengalaman negatif pada alam bawah sadar ini harus digali, disadari, dan diselesaikan secara sadar; misalnya dengan memafkan, memaklumi, dan sebagainya. 
  • Pada anak-anak, seringkali kita perlu untuk merangsang mereka mengingat suatu pengalaman negatif dan membantu mereka menyelesaikannya. Dalam hal ini, kita bisa memanfaatkan kejadian dalam kehidupan sehari-hari, maupun melalui cerita dan film.
  • Nah, dalam hal ini film 'The Boss Baby" ini menurut saya adalah media yang pas untuk menggali represi/pengalaman negatif berkaitan dengan kelahiran adik baru. Dimana sang kakak kemudian tidak mendapatkan perhatian sebesar sebelumnya.
That's it! So, sok lah nonton film ini… dijamin seru kok… dan semoga tulisan ini bermanfaat ya…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Sunday, August 13, 2017

Happy Kiddo's Room with INFORMA!

Rumah adalah tempat kita kembali dari segala aktivitas setiap harinya. Tempat melepas lelah, baik fisik maupun mental dan merasa relax. Juga tempat kita mengembalikan energi untuk kembali beraktivitas menyelesaikan berbagai tugas, serta merealisasikan mimpi-mimpi. Itulah definisi 'rumah' menurut saya… Dan kondisi itulah yang ingin saya capai berkaitan dengan 'rumah', salah satunya melalui penataan yang baik.

Nah, yang akan saya ceritakan di sini adalah mengenai penataan kamar anak-anak (Ganesh dan Mahesh)…

Selama ini, anak-anak belum memiliki kamar sendiri. Tidurnya masih random, kadang barengan saya atau suami. Nah, setelah pindah ke rumah baru beberapa waktu yang lalu, kami pun menyiapkan sebuah kamar untuk mereka. Satu kamar untuk berdua; supaya anak-anak lebih banyak berinteraksi, tidak merasa eksklusif dan untuk mempercepat transisi Adek tidur sendiri tanpa mamanya.

Karena kamar yang tidak terlalu luas ini akan dipakai berdua, bunkbed (tempat tidur bertingkat) menjadi pilihan kami. Dan kami pun ingin bunkbed ini memiliki fungsi lain untuk memaksimalkan kamar anak yang minimalis ini.


Singkat cerita, pada April 2017 saya pernah mengajak Ganesh ke INFORMA untuk mencari referensi furniture. Waktu itu, dia terpaku pada sebuah bunkbed berwarna kuning cerah yang memang terlihat unik. Bukan sekedar tempat tidur bertingkat, bunkbed ini digabungkan juga dengan meja belajar, rak buku, lemari pakaian dan juga tangga yang dimanfaatkan sebagai laci.

"Mama, Anesh mau yang ini aja… Nanti Anesh tidur di atas ya!" katanya bersemangat waktu itu. Tapi, waktu itu belum bisa langsung direalisasikan, karena masih banyak hal yang harus ditimbang… Cek luas kamar, posisi jendela dan pintu, serta tentu saja masalah pendanaan.



Sampai akhirnya, menjelang Lebaran, kami berkunjung lagi ke INFORMA saat bunkbed impian Ganesh sedang diskon! Dan ternyata Mahesh juga begitu excited dengan tempat tidur pilihan kakaknya ini. Mereka berdua sampai lari-larian heboh memutari si bunkbed, sementara kami hanya bisa geleng-geleng karena 'omelan-omelan' kami sama sekali tidak digubris.

So, tidak ada alasan untuk menunda lagi, kami pun mantap membeli si bunkbed apalagi waktu itu juga sedang ada promo cashback untuk member. 

Dan beberapa hari kemudian INFORMA pun mengirimkan barang pesanan kami dan merakitkannya sehari berikutnya. Semua dikerjakan dengan profesional dan tanpa biaya tambahan… Sesuai standard kualitas yang tinggi, sehingga semua furniture terpasang rapi tanpa cacat. Itu mengapa, saya merasa furniture INFORMA tidaklah mahal, sepadan dengan kualitas produk dan pelayanan yang diberikan.

Dan akhirnya, inilah penampakan kamar anak-anak setelah bunkbed dan pernak-perniknya ditata…
    • Bunkbed super inovatif INFORMA yang menggabungkan fungsi tempat tidur, tangga, meja belajar, laci penyimpanan dan lemari pakaian yang sementara belum difungsikan karena digunakan sebagai ruang rahasia 😂. 




    • Set meja kursi berbahan besi INFORMA yang kokoh dan berwarna cerah untuk tempat belajar dan aktivitas lainnya
    • Whiteboard untuk beajar dan papan pengumuman untuk menempelkan informasi penting.
    • Jam dinding besar agar anak-anak belajar membaca waktu.
    • Wall sticker agar dinding terkesan lebih ceria.

    So, bagaimana menurut teman-teman? Keren kan? Seperti halnya anak-anak, saya pun excited dengan kamar ini. Kesannya anak-anak banget, ceria, dan fungsional. Anak-anak pun betah dan misi membuat mereka berani tidur sendiri terwujud! 

    Saya dan suami akhirnya bisa punya kamar sendiri lagi deh! 😉

    With Love,
    Nian Astiningrum
    -end-

    Monday, July 31, 2017

    Ooh, I Feel Underappreciated!

    Exactly! Itulah yang saya rasakan pasca ujian pelaksanaan proyek sebagai tugas pasca diklat di kantor untuk kenaikan (sebut saja) peringkat.

    Disclaimer: ini tulisan curhat. Tulisan ini jujur, tapi harap dimaklumi jika (mungkin) sedikit lebay dan dramatis 😂

    Bukannya ga lulus… Lulus sih, tapi sebenarnya saya berharap respon yang lebih 'menantang' dari penguji atas proyek saya ini. Karena, saya bukan sekedar mengerjakannya sebagai syarat kelulusan, tapi dengan passion… Bukan kenapa-kenapa, bukan sok-sok-an banyak waktu juga… Tapi, memang sudah bawaan saya perfeksionis dan cenderung malas mengerjakan sesuatu yang tidak sesuai standard saya. Jadi, daripada jadi proyek mangkrak, lebih baik dikerjakan bener-bener saja…


    Saya berusaha merancang dan mengerjakan sebuah proyek yang (memang) tidak bisa dibilang mahakarya sih, tapi menurut saya cukup original, unik dan ditulis dengan jelas.

    Saya membuat suatu metode pengembangan kemampuan kepemimpinan pegawai dengan basis kepribadian. Karena menurut pengamatan saya selama kurang lebih 8 tahun sebagai admin SDM, pengembangan soft skill yang dilakukan di perusahaan lainnya baru dikaitkan dengan dengan kompetensi yang dibutuhkan. Misalnya; orientasi pelayanan pelanggan, kepemimpinan, dan sebagainya. Selanjutnya, maka pengembangan dilakukan tanpa memperhatikan latar-belakang kepribadian seorang pegawai.

    Hmm, agak sulit dipahami ya… Hmm, kira-kira begini…

    Jadi, pada saat seseorang dinilai memiliki (misalnya) aspek pelayanan pelanggan yang rendah, sebenarnya akan sangat bermanfaat bagi seorang pengelola SDM untuk melihat kepribadian yang melatarbelakangi perilaku tersebut. Misalnya; sikap kurang ramah, hanya sekedar menjawab pertanyaan dari pelanggan tapi tidak berusaha mencari tahu kebutuhan pelanggan lainnya; bisa jadi hal ini disebabkan karena:
    • orang tersebut cenderung cuek dan lebih suka bermain-main,
    • orang tersebut cenderung pemalu, sehingga membatasi interaksi seperlunya saja,
    • atau malah orang ini merasa kalau pekerjaannya kurang menantang, pengennya cepet selesai, pengen merasa lebih produktif, dan sebagainya…

    Jadi, pada saat seorang yang dinilai kurang memiliki kemampuan pelayanan pelanggan yang baik lalu kemudian dipukul rata diberikan pelatihan pelayanan pelanggan; seperti menyapa pelanggan dengan ramah, memberikan pelayanan yang cepat, dan sebagainya; berusaha membekali mereka dengan pengetahuan dan keterampilan… Bukannya tidak bermanfaat, tapi sangat mungkin hal itu akan kurang efektif, karena tidak semua dilatarbelakangi ketidaktahuan atau kekurangterampilan, tapi bisa jadi karena sesuatu yang mendorong dalam diri mereka. Dan itu adalah 'kepribadian'… Sehingga treatment yang perlu diberikan pun akan lebih efektif jika disesuaikan dengan 'kepribadian' ini. 

    Masuk akal bukan…

    Lebih lanjut, mengapa kemudian saya secara spesifik memilih sasaran atasan dan menyasar kemampuan kepemimpinannya adalah tidak lain karena saya melihat hal ini adalah sesuatu yang sangat strategis dalam perusahaan. Selama 8 tahun mengurusi hal berkaitan dengan SDM, saya merasa bahwa berhasil tidaknya suatu program, bagaimana seorang pegawai di bawah suatu organisasi akan dikembangkan, bagaimana keputusan strategis akan diambil, sampai dengan urusan motivasi kerja bawahan; semuanya ditentukan oleh seorang atasan.

    Dan dalam banyak kasus, seorang atasan tidak mampu 'berfungsi' dengan baik karena kendala berkaitan dengan kepribadian seperti yang saya ceritakan di atas. Ada kalanya karena hal ini menghambatnya dalam melakukan suatu tindakan yang seharusnya dilakukan, atau bisa juga ketidakpahaman akan kepribadiannya justru membuatnya berjarak dengan bawahan. Dimana yang kedua ini tentu juga akan mempengaruhi efektivitas kepemimpinannya.

    It's like something, isn't it? Sesuatu yang menurut saya bisa membawa pengelolaan SDM yang ada di unit kerja saya ke level yang lebih tinggi. Lebih dari sekedar formalitas atau tembakan-tembakan random ke segala arah yang tidak efektif. Sesuatu yang terasa begitu effortful tapi low impact. Ya, ini bahasa ekstrimnya saja sih, bukan berarti benar-benar bahwa pengelolaan SDM yang sekarang benar-benar tanpa arti… bukan! Tapi, saya benar-benar ingin menunjukkan bahwa kita bisa lho bergerak ke tingkatan yang lebih tinggi! Sekarang! Dengan ide dan willing kita sendiri… Tanpa menunggu petunjuk atau instruksi dari level organisasi yang lebih tinggi.

    Terdengar dramatis ya… tapi memang begitu lah adanya 😂. Saya benar-benar menganggap serius proyek ini! I put all my heart and soul to do it lah pokoknya. Bukan sekedar sebagai syarat kelulusan…

    Dan saat para penguji bahkan tidak memahami memahami apa yang saya tulis, tapi tidak berusaha mencari tahu dan justru memberikan komentar atau pertanyaan. Saya memang lulus, tidak perlu mengulang diklat dua minggu yang penuh perjuangan dengan membawa anak + pengasuh, mendatangkan ibu saya untuk menjaga si Kakak, dan sebagainya… Tapi ada rasa kurang puas dalam hati saya.

    I feel underappreciated

    Sedih…

    Tidak puas…

    Kecewa…

    Merasa kerja keras saya tidak terbayar lunas…

    Saya berharap para penguji paling tidak membuka diri untuk memahami apa yang saya kerjakan, bukan sekedar mencari celah yang kurang krusial untuk dipermasalahkan karena harus ada sesuatu yang dipermasalahkan di dalam ruang sidang. Baiklah, jika memang itu sesuatu yang harus diperbaiki, saya setuju, saya akui dan akan saya perbaiki; so let's move to another point.

    Berkali-kali saya memberikan sinyal ini, berharap bahasan beralih ke sesuatu yang lebih 'seru', but failed… Mengenai format penulisan yang dikupas berulang-ulang meskipun saya sudah menerima untuk melakukan perbaikan, tentang data kualitatif yang dianggap kurang objektif yang sudah saya jelaskan tentang cara berpikirnya, dan beberapa hal lain. Harapan bahwa mereka akan menengok pada cara assessmen kepribadian yang saya gunakan, cara penentuan pengembangan yang saya rekomendasikan, bagaiman tanggapan responden yang sudah terlibat dalam proyek ini, hingga dampak dari proyek ini; tidak sedikit pun disentuh…

    Saya kecewa sih… jelas kecewa…

    Tapi saya tidak menyesal, karena saya merasa ini sama sekali tidak sia-sia! Seperti yang saya bilang, mengapa saya bersusah payah mengerjakan tugas ini, bukan sekedar untuk sebuah sertifikat kelulusan. Saya melakukannya sesuai dengan passion, standard, idealisme dan harapan saya. Tidak ada yang sia-sia disini; saat saya merasa puas dengan hasil kerja saya dan merasa bahwa proyek ini bisa menjadi batu loncatan untuk meraih idealisme dan harapan saya. I'll keep doing it; untuk diri saya sendiri dan untuk orang-orang di sekitar saya…

    Begitu kira-kira…

    Bagaimana menurut teman-teman? Pernah merasakan hal yang sama? Merasa hasil kerjanya kurang dianggap serius dan kemudian bete? Yes, it feels so bad! Rasanya nyebelin, tapi, jangan menyerah dan nglokro dalam istilah Jawa. Jika itu memang bermanfaat untuk diri kita dan orang di sekitar kita, kenapa harus mengambil pusing pendapat dan apresiasi beberapa orang?

    Setuju kan?

    With Love,
    Nian Astiningrum
    -end-

    Tuesday, July 25, 2017

    Once Upon A Time in Bali With 5 and 2 Year Old Kids...

    Pernah suatu kali saya berkelakar dengan suami, "Wajar lah ya, beberapa orang memandang kita ini cukup tajir padahal sebenarnya penghasilan sama aja… Lha wong kita ini ga pernah liburan kaya orang-orang… Coba aja bayangin, ga usah ke luar negeri deh, ke luar kota aja kalo memang niatnya memang liburan, yakin deh pasti banyak keluar duit…"

    Dan suami hanya nyengir…

    Bukannya kepengen liburan sih, karena memang saya tidak terlalu suka traveling. Menurut saya, traveling itu ribet. Saya lebih suka ngendon di rumah atau jalan-jalan ke tempat yang dekat untuk menghabiskan hari libur. Dan suami pun sepertinya begitu. Dia tidak terlalu berhasrat untuk menghabiskan waktu untuk liburan. Baginya alasannya sepele dan tidak terbantahkan. Tidak ada waktu. Titik. Haha…

    Dan begitulah waktu berjalan hingga 6 tahun pernikahan kami, tidak sekali pun benar-benar traveling untuk liburan. And we feel fine… Sampai pada suatu hari, timbul juga hasrat untuk merencanakan liburan berempat gara-gara momen Garuda Travel Fair tahun 2016. Yes, pada hari itu, di luar kebiasaan, kami bersedia berdesak-desakan untuk mencari tiket liburan pertama kami, yang akhirnya kami putuskan ke Bali.

    Awalnya, kami berencana untuk berangkat pada bulan Januari, sebelum usia Mahesh 2 tahun demi menghemat tiket pesawat. Tapi karena bentrok dengan acara pernikahan sepupu, akhirnya dimundurin. Walaupun akhirnya nikahan sepupu pun kami tidak bisa hadir karena saya kena flu parah sampai harus bed rest… Dan liburan ke Bali yang direncanakan di Bulan Maret pun musti reschedule ke Bulan April karena Mahesh yang sakit, yang berarti menambah cost lagi. Sehingga harga tiket kami berasa benar-benar ga promo lagi, hiks… Kalau dipikir dari sisi materi, sebenarnya ini jadinya ga fun lagi… But it's OK lah, sekali-sekali ini kan, harus sehat semua biar bisa benar-benar dinikmati bersama.

    Dan akhirnya tibalah kami di Bali 12 April 2017…


    Kami menginap di The Kuta Beach Heritage Bali yang berlokasi di seberang Pantai Kuta, tepatnya di Jl. Pantai Kuta, Br. Pande Mas. Kuta, Badung 80361. Bali-Indonesia. Sebagai seorang yang (seingat saya) ga pernah merasakan hotel yang premium, hotel ini sangat reccomended menurut saya. Lokasinya yang sangat dekat dengan pantai kuta, membuat suasana terasa syahdu oleh deburan ombak, meskipun kadang terdengar juga suara alunan konser musik yang diadakan di sekitar hotel –tapi, tenang, ga sampai berisik kok.

    Selain lokasi; yang paling OK dari hotel ini adalah sarapannya yang enak, bervariasi dan tempatnya di dekat kolam renang outdoor di lantai atas! Ini keren! Karena kami bisa main-main air dulu dan langsung lanjut sarapan.

    Oh ya, tapi ada satu masukan untuk hotel ini, untuk pintu masuk dari belakang ada baiknya dipasang penunjuk arah. Saat datang, kami sempat cukup lama kebingungan mencari tempat check in, yang ternyata dikarenakan kami salah masuk lewat pintu belakang! Yah, seharusnya, jika itu memang pintu belakang, karena lokasinya di pinggir jalan, akan sangat membantu jika diberikan penunjuk arah tempat check in. Dah itu aja minusnya, lainnya cukup OK.

    Tempat favorit anak-anak di hotel, bathup!
    Dan kalau mereka sudah di sini, sibuklah saya cekrak-cekrek,
    soalnya desainnya eye catchy sekali :D
    Selama di Bali, setelah beristirahat semalaman, siangnya –iya, siang, karena anak-anak susah diajak buru-buru dengan segala excitement-nya– kami pun mulai petualangan kami menjelajahi Bali ke tempat-tempat berikut ini:

    Bali Safari & Marine Park


    Yeay! Day one, kami akhirnya memutuskan untuk ke Bali Safari & Marine Park yang berlokasi di Jl. Bypass Prof. Dr. Ida Bagus Mantra Km. 19,8, Serongga, Kec. Gianyar, Kabupaten Gianyar, Bali 80551.

    Ada beberapa wahana dan atraksi yang bisa kita nikmati disini, dimana tiket bisa dibeli di masing-masing wahana/atraksi. Di sini, kami bersenang-senang dengan cara:
    • Memberi makan gajah! Jadi, disana kita bisa membeli makanan gajah dan memberikannya dengan dipandu oleh mbak dan mas pawang gajahnya.
    • Mengelilingi taman safari dengan mobil. Ini pertama kalinya kami berwisata seperti ini, jadi rasanya benar-benar seru; melihat binatang-binatang bebas di area yang luas, sampai sempat berhenti untuk menunggu seekor gajah lewat. Lalu heboh pada saat mobil melewati  semacam kolam berair dan tentu saja excited dengan binatang-binatang yang ada di sana.
    • Berfoto dengan gorila! Tentu saja dengan bantuan mbak dan mas pawang di sana. Ambil fotonya juga bayar, tapi it's OK, kan untuk pengelolaan binatangnya juga.
    • Melihat atraksi hewan terlatih. Waktu itu, atraksi yang kami lihat adalah atraksi burung elang.
    • Melihat ikan dan hewan air dalam akuarium. Yang spesial sebenarnya adalah atraksi memberi makan ikan piranha, yang kami lewatkan, karena anak-anak sudah kecapekan. Yes, anak-anak tidak bisa ditawar, jadi marilah kita pulang…
    Ubud Monkey Forest


    Di hari kedua, kami memilih Ubud Monkey Forest yang berlokasi di Jl. Monkey Forest, Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali 80571 sebagai tujuan.

    Di sepanjang jalan dari parkiran menuju lokasi, kanan-kiri terdapat berbagai macam restaurant dan tempat makan, yang rata-rata bercita-rasa bule. Sehingga kami menyimpulkan bahwa tempat ini lebih banyak dikunjungi wisatawan asing daripada lokal.

    Dan benar saja, sampai di sana mayoritas pengunjung adalah turis asing. Tapi, meskipun bukan bule, saya suka tempat ini! Suasananya hutan banget! Cuma, bagian agak ngerinya adalah saat ada monyet yang mendekat dan mau mengobrak-abrik kantong bagian bawah stroller Mahesh! Padahal ya, kami sudah mengindahkan peringatan yang diberikan dengan tidak membawa makanan ke dalam area. Eh, ternyata, monyet-monyet ini mengincar botol air mineral yang kami taruh disana 😅.

    Di sini kami bersenang-senang dengan cara:
    • Berpetualang menjelajahi hutan dan kuil kuno ala-ala film juglebook. Beneran mirip! Karena disini kan ada monyetnya juga, jadi serasa berada di area monkey temple gitu.
    • Memberi makan monyet –tentu saja dengan makanan yang bisa dibeli di lokasi– tapi dilarang ya memberi makan monyet dengan makanan dari luar, untuk menjaga kesehatan monyet-monyet disana.
    • Menikmati kuliner bule yang ada di sepanjang jalan dari parkiran menuju lokasi. Tapi ini musti hati-hati, perlu tanya dulu apakah halal atau tidak.
    Bulih Bali Turtle Park


    Hari ketiga, setelah menimbang beberapa alternatif, akhirnya kami memutuskan berkunjung ke Pulau Penyu di Tanjung Benoa. Untuk mencapai lokasi Pulau Penyu, kami harus menyewa kapal boot yang akan mengantar kami berangkat dan pulang kembali dari pulau.

    Di sana, kami bersenang-senang dengan cara:
    • Naik kapal boot menuju pulau penangkaran penyu yang cukup seru karena kecepatan dan air yang terciprat-ciprat ke arah kami, lalu makan ikan –bukan penyu ya– dengan roti yang sudah disediakan oleh penyewa.
    • Melihat dan berfoto dengan penyu yang super besar –walaupun kami ragu juga, apakah dia tidak merasa terganggu karena berkali-kali diangkat ke tepi pantai.
    • Melihat hewan-hewan lain seperti burung yang juga dipelihara disana.
    Sebenarnya, secara pribadi ada hal yang kurang saya sukai dari tempat ini; pertama perlakuan pada hewan yang menurut saya kurang lembut dan hewan-hewan selain penyu yang kandangnya kurang terawat. Dan kedua, karena pengelolaan dan pelayanannya yang kurang profesional. Jadi pada saat datang ada guide yang mengantar kami menjelajahi area, yang bukannya tidak ramah atau baik, guide-nya baik, cuma kesannya terburu-buru dan grusah-grusuh.

    Well, semoga suatu hari kesini lagi, tempat ini jauh-jauh lebih baik…

    Pantai Pandawa


    Masih di hari ketiga, sorenya bertolak dari Pulau Penyu, kami langsung menuju Pantai Pandawa yang berlokasi di Jl. Pantai Pandawa, Nusa Dua, Kutuh, Kuta Sel., Kabupaten Badung, Bali 80361. Awalnya saya kurang ngeh kenapa pantai ini diberi nama Pandawa, namun saat memperhatikan jalan menuju pantai di tepi gunung batu yang diukir membentuk tokoh Pandawa Lima, baru saya tahu. Patung ini sendiri sepertinya baru dibuat alias bukan peninggalan kuno, yup, tempat wisata ini memang tergolong baru!


    Yang paling menyenangkan dari pantai ini adalah ombaknya yang relatif aman karena adanya tanggul yang sengaja dibuat. Karena itu, anak-anak pun bisa bermain kano dan berenang di tempat ini, dengan tentu saja tetap di bawah pengawasan orang dewasa.

    Dan di sini, kami bersenang-senang dengan cara:
    • Bermain air di pinggir pantai! Klise sih, tapi tetap saja menyenangkan! Apalagi saat si Mahesh memang susah bener dirayu untuk main agak ke tengah. Jadilah kami main air di pinggir pantai sambil menunggu papa dan kakaknya pulang main kano.
    • Main kano! Karena pantainya memang kondusif, banyak pengunjung yang bermain kano yang disewakan disini.
    • Foto-foto dan menikmati langit sore yang indah pada saat pengunjung mulai berangsur pulang… Liat deh warna langitnya, gradasi biru, pink dan putihnya enak banget dilihat.

    3D Art Museum DMZ Bali


    Nah, hari terakhir di Bali, sebelum berangkat ke bandara untuk kembali ke Lampung, kami mampir ke 3D Art Museum DMZ Bali yang berlokasi di Jl. Nakula No.33X, Legian, Kuta, Kabupaten Badung, Bali 80361. Yang baru saat membuat tulisan ini, saya tahu ternyata adalah (semacam) franchise dari wahana yang sama di Korea.

    Gambar 3D di sini bagus! –Tapi ini review dari seorang yang belum pernah ke museum serupa sebelumnya sih–

    Di sini, kita bisa berfoto dengan berbagai latar gambar 3D yang membuat hasil foto kita benar-benar nyata –background terlihat nyata–.

    Kami cukup excited dengan gambar 3D yang disajikan, meski kurang bisa menikmati karena berkali-kali Ganesh kabur! Hingga kami terpaksa perang urat saraf dengannya setiap kali dia menghilang dengan alasan bosan. Dasar bocah kinestetik, susah bener disuruh diem! 😤


    Dan disini, kami bersenang-senang dengan cara:
    • Menikmati gambar 3D yang ada!
    • Berfoto dengan latar belakang gambar 3D tersebut! Untuk hal ini, di setiap scene ada panduan foto dan juga mbak-mbak yang dengan senang hati membantu mengarahkan dan mengambilkan foto untuk kami.
    • That's it. Wahana ini memang tidak butuh waktu lama untuk dieksplore, cukup sekedar mampir dan sebentar kemudian… selesai!
    Selain ke tempat-tempat wisata ini, kami sempat juga mampir ke rumah saudara sepupu yang tinggal di Bali. Sebentar sih, tapi lumayan lah buat ngobatin kangen… Sempat juga mampir ke galeri lukisan, yang setelah kebingungan panjang, akhirnya ada juga yang dibeli. Bukan karena tidak ada yang bagus, justru karena bagus-bagus, tapi juga terasa mahal bagi kami yang sejujurnya bukan konsumen seni. Oleh bli yang mendampingi kami, sebenarnya sudah dibilang kalau kami boleh menawar, cuma, karena merasa ga ngerti seni, takut mau nawarnya… takut kurang menghargai seni gitu…


    Total empat hari kami berada di Bali bersama dua anak berusia 5 dan 2 tahun, hanya lima tempat wisata yang bisa kami kunjungi dan hampir kesemuanya berbau binatang dan main air. Bukan tanpa alasan, tentu saja semuanya demi semua bisa menikmati liburan kali ini. Karena menurut perkiraan kami, anak-anak tidak akan terlalu tertarik dengan wisata semacam pura, melihat tari-tarian, dan sebagainya. Dan benar bukan, di tempat terakhir yang kami kunjungi, rasanya benar-benar effortful untuk membuat anak-anak mau foto-foto sesuai keinginan kami. Karena sukanya mereka di tempat seperti ini ya lari-larian 😂.

    Dan finally, sebagai kali pertama kami liburan bersama, berikut adalah hal-hal yang kami rasa perlu diperhatikan saat akan mengajak anak-anak (di bawah 5 tahun) liburan bersama:
    • Persiapkan mental, setel kendo, jangan terlalu strict pada target… Namanya anak-anak, ada banyak kemungkinan waktu yang dibutuhkan untuk segala hal menjadi lebih lama dari perkiraan. Diajak bangun susah, diajak tidur susah, diajak mandi susah, diajak udahan mandinya juga susah. Belum lagi jika baru lanjut dari suatu tempat, kemudian minta pipis, sehingga perlu melambatkan kendaraan mencari SPBU terdekat… dan banyak lagi. Just be prepared for that
    • Pilih tujuan wisata yang menyenangkan bagi anak. Karena, tentu saja kita ingin anak-anak juga menikmati liburan bukan? Selain, kalau anak-anak tidak tertarik dengan tempat tertentu, mereka cenderung bosan, kurang kooperatif dan akhirnya kita juga bete sendiri. Dan kalau dalam cerita kami, itu tidak jauh dari yang namanya binatang-binatang dan main air…
    • Di setiap pemberhentian, ajak anak-anak pipis… Lebih baik kosongkan tangki, dari pada harus dikeluarkan pada saat-saat yang kurang tepat; misalnya di jalan yang macet dan sebagainya.
    • Kondisikan anak-anak untuk tidur tepat waktu. Karena jika tidak, kita akan lebih sulit menyusun agenda hari berikutnya. Coba saja bayangkan, begitu bangun siang, acara persiapan akan menjadi lebih lama, bisa jadi pantai sudah jadi panas, kebun binatang sudah jadi ramai, dan sebagainya.
    • Bawa baju ganti, obat-obatan, susu dan keperluan anak lainnya. Ini standard sih…
    Sudah, itu saja catatan kami dalam perjalanan ini. Dan semoga nanti akan ada kesempatan lagi untuk liburan bersama, lebih baik daripada liburan tahun ini. Amin.

    That's it… bagaimana dengan teman-teman? Memiliki cerita liburan seru bersama anak juga?

    With Love,
    Nian Astiningrum
    -end-

    Monday, July 10, 2017

    Ganesha's First Innocence Lie

    Pada suatu hari…

    "Anesh… Anesh tahu enggak kenapa headset Papa ini miring?" pada suatu hari suami saya bertanya pada Ganesh dengan serius sambil memperlihatkan colokan headset yang terlihat miring karena kena panas sehingga plastiknya terkena panas.

    Ganesh kemudian tampak memperhatikan headset yang dimaksud suami saya sejenak dan kembali mengalihkan perhatiannya pada hal lain. 

    "Anesh panasin headset Papa pake korek enggak?" lanjut suami saya bertanya, karena beberapa hari terakhir Ganesh memang terlihat asyik bermain dengan korek gas. **Iya, ini bahaya, dan kami beberapa kali memperingatkannya** 

    Kemudian Ganesh tampak terdiam, lalu menjawab, "Iya. Anesh panasin pake api di kompor…" Dan kami hanya berpandangan… 

    "Anesh, lalu kalo mainan Dusty kemarin sebenarnya keinjek atau digunting sih sama Anesh?" Lanjut saya bertanya pada kasus lain, dimana sebelumnya Ganesh mengaku bahwa mainan Dusty (dari film Planes) miliknya patah rodanya karena terinjak, sementara dua pengasuh kami bilang kalau itu digunting oleh Ganesh. 

    Sejenak Ganesh kembali terdiam, kemudian menjawab, "Iya, Anesh gunting…" sambil nyengir ke arah saya. ***


    Pada hari yang lain… Ganesh saya beri tugas untuk mengantarkan kado untuk seorang temannya yang berulang tahun. Detail tugasnya adalah,

    "Anesh ketok pintu rumah Aurel ya… bilang sama om atau tante yang bukain pintu, kalo Anesh mau ketemu Aurel… terus kasih deh kadonya… Atau, kalau Aurel-nya ga ada, Anesh titipin ke om atau tante di rumah Aurel… bilang, ini kado buat Aurel sama Dave…"

    Well, saya tahu… Ganesh sebenarnya segan melakukan tugas ini, karena beberapa kali dia bolak-balik lagi ke rumah. Katanya malu! Tapi, terus saya dorong hingga akhirnya dia kembali ke rumah tanpa kadonya, yang ternyata dia tinggal saja di depan rumah Aurel. Lalu saya dorong lagi, hingga kemudian dia pulang tanpa kadonya…

    Saya pun bertanya untuk memastikan,

    "Anesh, kadonya sudah dikasih?"

    "Udah…" jawabnya.

    "Dikasih sama siapa?"

    "Anesh taruh di depan rumah Aurel" jawabnya.

    "Anesh, kalo Anesh taroh di depan rumah aja, Aurel-nya mana tau kalo itu dari Anesh…"

    Well, sebenarnya saya sudah kasih tulisan di kadonya sih, saya memintanya memberikan kadonya pada Aurel atau papa-mamanya langsung untuk mengajarinya (sebut saja) bersosialisasi dan bersopan-santun.

    "Anesh balik kesana lagi ya… Anesh ketok pintu rumah Aurel, lalu kasih kadonya sama Aurel atau papa-mamanya… siapa aja deh yang bukain pintu… Bilang kalau kadonya untuk Aurel dan Dave…"

    Dan setelah sesi memotivasi yang panjang, disertai sedikit pemaksaan akhirnya Ganesh mau kembali ke rumah Aurel untuk menyerahkan langsung kadonya.

    Beberapa saat kemudian, dia kembali pulang ke rumah…

    "Udah Anesh ketok pintunya? Terus sama siapa Anesh kasih kadonya?" Tanya saya.

    "Udah. Anesh kasih sama Papa Aurel. Katanya Aurel sudah tidur. Tadi mamanya ngintip aja dari jendela." Jawab Ganesh.

    Hmm, mission complete! Ganesh berhasil memberikan kadonya!

    Iya, saya berpikir seperti itu. Sampai akhirnya menerima whatsapp dari Mama Aurel, bilang makasih plus cerita kalo dia kaget ada bungkusan di garasi rumahnya. Yang itu berarti, 'dibohongi' lagi sama Ganesh. Saya benar-benar shock dan terpukul 😭

    ***

    Yes, he's getting smarter! Saya benar-benar tidak menyangka Ganesh bisa mengarang cerita yang sedemikian lengkap! Dia sudah bisa mengarang sebuah cerita yang cukup kompleks dan masuk akal, dia bisa menggabungkan antara imajinasi dan logika untuk membuat mamanya percaya.

    Literally, Ganesh memang berbohong. Sesuai definisi berbohong sebagai sebuah usaha untuk membuat seseorang mempercayai sesuatu yang tidak benar. Yes he did it! Tapi saya yakin bahwa dia tidak bermaksud seperti itu, saya yakin bahkan dia belum paham sudut pandang moral dari perilaku berbohong. Itu kenapa saya sebut itu 'innocence lie'… Ganesha's first innocence lie

    Sebagai seorang anak-anak, konsep dan pemahaman akan moralitas Ganesh belum lah matang dan kaya. Menurut penelitian beberapa ahli, sejak usia prasekolah, anak-anak mulai menilai sesuatu sebagai 'baik' dan 'buruk' melalui konsekuensi yang ditimbulkan dan juga intensi atau niat untuk melakukan tindakan tersebut. Tindakan memukul misalnya, adalah sesuatu yang buruk karena akan membuat anak lain kesakitan dan menangis. Namun, pada saat itu terjadi karena ketidaksengajaan, maka mereka akan membela diri, karena merasa tidak bersalah.

    Dan hal 'berbohong' ini saya rasa memang sesuatu yang cukup unik dan perlu dijelaskan dari hati ke hati dengan anak. Kenapa? Karena anak tidak akan secara langsung bisa memahami konsekuensi buruk dari berbohong… Berbohong tidak akan membuat seseorang sakit atau menangis kan… Anak mungkin cenderung berpikir bahwa tidak ada hal yang salah dari tindakan berbohong, sampai kita bisa memberikan penjelasan yang bisa diterima anak, dan dia setuju bahwa berbohong itu adalah tindakan yang buruk.

    Itu kenapa, pada awalnya saya mengira akan kesulitan menjelaskan pada Ganesh bahwa tindakan berbohong itu tidak baik. Tapi, ternyata saya salah!

    Saat saya mengajaknya berbicara…

    "Ganesh, sini deh…" kata saya sambil berusaha mempertahankan wajah serius dan menahan tawa.

    "Kenapa mama?" Tanya Ganesh.

    "Tadi barusan Mama Aurel SMS lho…" kata saya sambil memperhatikan mimik muka Ganesh. Dimana dia sepertinya belum tahu arah pembicaraan saya. "Anesh, tadi kadonya ditaruh di depan rumah Aurel kan? Bukan dikasih ke Papa Aurel?"

    Dan kemudian Ganesh hanya cengar cengir sambil semakin mendekati saya…

    "Anesh, itu namanya bohong ga boleh lho…" lanjut saya berusaha memperlihatkan mimik yang semakin serius dan sedikit 'horor'.

    "Emang kenapa?" tanya Ganesh polos…

    "Anesh, bohong itu kan bikin orang lain sedih lhoMama sedih lho Anesh bilang kalo kadonya sudah dikasih sama Papa Aurel padahal sama Anesh ditaruh di depan rumah ajaAnesh sedih ga, kalau misal Anesh minta tolong mama simpenin mainan Anesh di lemari, terus mama bilang 'iya', tapi ternyata mama taroh sembarangan aja?"

    Ganesh terdiam.

    "Anesh janji jangan bohong lagi ya sama mama… " lanjut saya sambil memeluknya, sembari juga berjanji pada diri sendiri untuk mengurangi marah-marah padanya, karena saya pikir intensitas kami marah dan mengomel padanya adalah salah satu pendorong mengapa Ganesh akhir-akhir ini suka 'berbohong'.

    Saya pikir, setelah pembicaraan ini akan dibutuhkan penjelasan-penjelasan lain pada Ganesh berkaitan dengan tema 'berbohong'. Saya pikir, setelah ini dia akan masih melakukan 'kebohongan-kebohongan' karena belum benar-benar memahami bahwa berbohong adalah sesuatu yang tidak baik. Saya bahkan masih memasang kuda-kuda setiap kali Ganesh bercerita atau mengatakan sesuatu, karena berpikir bahwa dia akan 'berbohong' lagi.

    Tapi, ternyata saya salah. Setelah pembicaraan itu, saya tidak lagi mendeteksi adanya kebohongan dalam perilaku Ganesh. Saya cukup yakin lah kalau Ganesh memang tidak berbohong lagi, karena kan 'bohong'-nya anak kecil itu relatif lebih mudah terdeteksi 😄.

    Yah, demikianlah cerita Ganesh kali ini.

    Dan dari kejadian ini, ada beberapa hal yang menjadi pembelajaran bagi kami sebagai seorang orang-tua:
    • Anak kecil, kecerdasan mereka berkembang dengan sangat-sangat pesat. Bersiaplah pada suatu saat kita akan terkaget-kaget dengan kepintaran mereka, dalam kasus kami adalah bagaimana Ganesh bisa 'berbohong' sedemikian meyakinkan. Jadi, adalah wajib kita selalu peka, waspada dan selalu update dengan informasi mengenai tumbuh-kembang anak seusia mereka. Jangan sampai lengah! 
    • Yes, anak-anak seusia Ganesh (kurang lebih 6 tahun, usia pra-sekolah) walaupun tampak telah memiliki penalaran yang baik, namun belum memilki konsep yang matang mengenai moralitas. Adapun perilaku buruk yang mungkin mereka lakukan, seringkali tidak disertai pemahaman akan dampaknya pada orang lain. Jadi, ya tugas kita sebagai orang-tua untuk memberikan pemahaman kepada mereka.
    • Saat memberikan pemahaman kepada anak pra-sekolah mengenai aspek moralitas lebih banyak sentuh pengaruh dari suatu perilaku pada orang lain, entah pada fisik atau psikis orang lain. Misalnya tindakan memukul akan membuat orang lain sakit, atau tindakan membentak akan membuat sedih orang lain. Menurut saya, konsep 'dosa' masih terlalu abstrak dan sulit mereka mengerti, jadi belum saatnya digunakan.
    • Lebih sabar… Kurangi marah-marah atau ngomel-ngomel, karena itu akan menekan mereka untuk mencari jalan pintas supaya tidak kena marah atau omel. Ya, ini sulit, kami pun merasa sangat sulit dan seringkali kelepasan. Tapi, bismillah, bisa… bisa… dan kalau gagal terus lakukan lagi dan lagi. Plus, jangan lupa minta maaf, jelaskan pada anak saat kita kelepasan marah yang sekiranya berlebihan. Stress-nya anak-anak ya salah satu sumbernya dari sana. So, finger crossed
    Kira-kira seperti itu. Apakah teman-teman punya pengalaman yang sama?

    With Love,
    Nian Astiningrum
    -end-