Tuesday, November 25, 2014

Singing Ganesha: Mengenalkan Musik pada Anak

“Kaka… kaka… kaka…” begitulah senandung Ganesh pertama kali dulu, sewaktu usianya masih satu tahunan. Waktu itu, karena belum ada nadanya, saya tidak sadar kalau dia sedang menirukan lagu ‘Matahari Terbenam’ dan berusaha bersenandung, “Kuku… kuku… kukukuku…”. Sampai, suatu saat saya ngeh kalau dia menggumamkan kata-kata tersebut setelah mendengar lagu ‘Matahari Terbenam’ yang sering diputar di mobil saat berjalan-jalan dengannya. “Owalah Le… kamu ini sedang nyanyi toh…” itu pikir saya waktu itu.

Kalau menurut pengamatan saya sih, Ganesh memang tergolong anak yang cerewet (atau malah sangat cerewet ya :D). Yang bisa diartikan juga bahwa perkembangan verbalnya sedikit menonjol dibandingkan perkembangan lainnya yang kasat mata. Sejak usia satu tahunan, sebelum dia mulai berjalan, kosakata dan kejelasan pelafalan bahasanya sudah lebih dulu berkembang. Akibatnya ya itu tadi, Ganesh kelihatan cerewet sekali! Apa-apa ditanyain, apa-apa ditiruin dan kemudian… apa-apa dinyanyiin :D. Yah, semua itu sepertinya tidak lepas dari pengaruh kebiasaan saya yang suka bernyanyi dimanapun; tidak hanya di kamar mandi, kadang pas mandiin Ganesh atau pas dia main. Kadang saya ganti lirik lagu sesuai kebutuhan dan setting permainan kami, hmm, sampai terkadang suami suka sewot kalau saya mulai bernyanyi ngawur-ngawur seperti ini :D. Katanya sih, "Ringam!" alias bikin risih.

Selain itu, sejak kecil, Ganesh selalu saya suguhi dengan lagu-lagu anak yang saya download dari YouTube yang  diputar dengan laptop. Dan kemudian, sejak mulai mengenal gadget Android setahun lalu, saya juga hobi men-download aplikasi-aplikasi lagu anak-anak; sehingga lagu-lagu anak seperti ‘Balonku Ada Lima’, ‘Bintang Kecil’, ‘Twinkle-Twinkle Little Star’ dan sebagainya sudah begitu familiar bagi Ganesh sejak kecil. Berkaitan dengan hal ini, sebenarnya saya tidak melakukannya dengan sengaja apalagi memiliki ambisi agar Ganesh pandai bernyanyi. Awalnya, saya mengajak Ganesh menonton video, mendengar lagu atau bersenandung pada saat bermain, hanya karena merasa bahwa itu aktivitas yang menyenangkan bagi kami berdua dan mendidik baginya. Dan ternyata, pada saat dia malah menikmati kegiatan berhubungan dengan musik, saat itulah dia sendiri yang meminta diputarkan berbagai lagu, meminta saya menyanyi dan bahkan meminta suaranya direkam, haha :D. Berikut adalah beberapa nyanyian Ganesh hasil rekaman kami beberapa minggu ini, di usianya yang ke 3 tahun 3 bulan (kurang lebih).

Friday, November 21, 2014

When the Morning Comes: Simply Marit Larsen’s Fresh Sounds

Baiklah, saya ga terlalu mengerti soal musik sebenarnya… Tapi kalo pencinta musik, tentu saja! Saya adalah seorang yang sangat-sangat menikmati musik, baik secara pasif sebagai pendengar maupun secara aktif sebagai orang yang didengar atau menyanyi *terlepas dari how it sounds ya :D.

Dan sekarang, saya ingin bercerita tentang album baru artis favorit saya nomor satu, yaitu Marit Larsen. Yang pernah populer bersama Marion Ravn melalui band M2M pada tahun 2000-an (baca disini dan disini). Dimana melalui album bertajuk ‘When the Morning Comes’ ini, Marit kembali membuktikan kemampuannya dengan berhasil mencapai puncak chart album Norwegia!

Menurut saya pribadi, album berisi 10 lagu yang digubah oleh Marit bersama beberapa kolaborator ini memang enak didengar dan memiliki makna yang mendalam. Wajar jika berhasil memikat hati penggemarnya di Norwegia sana. Dalam 10 lagu tersebut, Marit menceritakan berbagai kisah; mulai dari percintaan, persahabatan dan juga kehidupan melalui nada-nada dan melodi yang lemah lembut seperti ‘Lean on Me Lisa’ maupun bersemangat seperti ‘Travelling Alone. Sebuah album dengan variasi tema lagu, nada dan tempo yang membuat dinamika album ini jauh dari kata membosankan.

Di album keempat yang masih ber-genre pop/folk ini, Marit memilih berkolaborasi dengan musisi-musisi baru, tidak seperti ketiga albumnya, ‘Under the Surface’, ‘The Chase’ dan ‘Sparks’. Dan bahkan di album ketiga ini, Marit memproduseri sendiri albumnya, sementara ketiga albumnya diproduseri oleh orang yang sama, yaitu ‘Kåre Christoffer Vestrheim’. Jika biasanya Marit lebih sering menulis lagunya secara individual, setiap lagu dalam album ini digubah bersama musisi lain. Hmm, mungkin itu yang membuat album ini terkesan berbeda. Terkesan lebih rapi, tanpa mengabaikan sisi artistik dan juga unsur enak didengar. Album ini terkesan tidak mengabaikan selera penikmatnya, namun juga tidak mengesampingkan sisi artistik dan pesan yang ingin disampaikan. Saya memberikan nilai 4 dari skala 5 pada album ini.

Tuesday, November 18, 2014

Menanamkan Konsep ‘Kakak-Adik’ pada Anak

Rasanya baru kemarin,Ganesh selalu saja menjawab ‘tidak’, setiap kali ditanya mau punya adek atau enggak… dan tak terasa, sekarang saya sudah mengandung 6 bulan dan itu berarti sekitar 3 bulan lagi Ganesh akan resmi menjadi seorang kakak… Amin :).

Lalu, bagaimana Ganesh sekarang? Apakah dia masih kukuh tidak ingin punya adek? Hmm, sepertinya tidak… Alhamdulillah :). Sejak di-sounding bahwa ada adek di dalam perut mamanya, tidak sekali pun dia menunjukkan ketidaksukaan dan sebangsanya. Dan bahkan, dengan semakin tampak nyatanya eksistensi sang adek melalui perut saya yang semakin membesar, Ganesh pun semakin sering menyertakan adeknya dalam permainan-permainannya. Lho kok bisa? Hihi, iya, itulah salah satu kelebihan imajinasi seorang anak yang belum dibatasi logika yang rumit.

Ada kalanya, kesadaran Ganesh akan adanya adek di dalam perut mamanya dan keinginannya untuk berinteraksi dengannya menimbulkan kelucuan, keharuan atau ‘kekesalan’ bagi saya. Penasaran? Berikut adalah daftar kehebohan pertama Adek dan Kakak yang membekas bagi saya:
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...