SOCIAL MEDIA

search

Wednesday, November 18, 2015

My Pay It Forward Project

Muda dan galau, itulah saya di kala menginjak masa remaja hingga duduk di bangku kuliah. (Baca: muda, merasa memiliki cukup kemampuan dan banyak keinginan tapi selalu takut mewujudkannya menjadi sebuah tindakan). Dan sungguh, rasanya sangat konfrontatif! Merasa jago menyanyi, tapi takut tampil saat diberi kesempatan untuk berkompetisi. Merasa jago matematika, tapi malah down dan mati kutu setelah mendapat pengakuan dari orang-tua dan guru matematika di sekolah. Saya ingin sekali berteman, saya tidak bermaksud sombong; tapi rasa sungkan dan malu selalu menyergap setiap kali akan menyapa orang di sekitar saya. Saya selalu heran dan geram mengapa tidak bisa spontan bergurau dengan lawan bicara saya, selalu saja kaku! Dan semua itu membuat hari-hari saya terasa benar-benar tidak memuaskan, selalu dipenuhi dengan rasa kecewa yang menyesakkan.


Baik, saya melihat ada banyak orang yang pemalu, pendiam dan sebagainya; tapi adakah yang merasakan hal yang sama jauh di dalam hatinya? Sebuah pertentangan batin yang membingungkan saat sebuah keinginan yang begitu besar bertemu dengan ‘ketakutan’ mental yang tidak kalah besar?

Saat itu, saya begitu bingung, ada apa dengan saya dan apa yang harus saya lakukan. Berbagai upaya sudah saya coba, mulai dengan mencoba mengesampingkan perasaan itu, bahkan dengan mencoba di sebuah lingkungan yang benar-benar baru (sekolah baru); tapi selalu gagal! Semangat dan keinginan saya selalu kalah melawan rasa takut yang terwujud sebagai keinginan untuk menghindar, rasa nervous dan deg-deg-an serta rasa takut gagal yang tidak pernah saya kesampingkan. Sampai akhirnya, saking gundah gulananya saya, terlintas dalam pikiran saya untuk mencoba peruntungan memilih Jurusan Psikologi saat SPMB tahun 2003. Dan singkat cerita, dengan segala ketidakmungkinan yang besar dan juga ketakutan, atas ijin Alloh, saya diterima. What a surprise

Dan sejak dinyatakan diterima dan masuk kuliah, saya pun kembali berhadapan dengan ketakutan saya, apalagi karena saya menyadari bahwa saya HARUS benar-benar menghilangkan ‘sakit’ saya! Kalau saya benar-benar ingin menjadikan profesi di bidang ini sebagai masa depan saya. Mana ada sih lulusan Psikologi yang ‘sakit’ secara psikis diterima bekerja? Ada juga kami selalu dipandang sebagai orang yang lebih matang dan paham hal-hal berbau psikologis. Rasanya waktu itu, pengen lari saja, pindah jurusan, ikut SPMB tahun berikutnya… Tapi, untungnya rasa malas mendera dan akhirnya saya memilih bertahan dan menuntaskan doa yang telah disambut Tuhan ini. Saya HARUS bisa menjadi seorang pribadi yang sehat. Yang parameternya menurut saya saat itu adalah kemampuan untuk menjalani hari-hari dengan ‘beban’ yang minimal (baca: rasa bersalah, sesal dan kecewa) serta kemampuan mengekspresikan diri kepada lingkungan luar.

Dan singkat cerita (lagi), dengan perjalanan yang panjang dan percayalah sangat berat bagi saya yang penakut ini, perlahan saya pun berhasil memahami siapa diri saya dan menjadi diri saya yang lebih sehat. Melalui jalan yang diberikan oleh Tuhan, yang mempertemukan saya dengan berbagai situasi dan orang-orang yang memaksa, menginspirasi dan memberikan insight tentang pertanyaan-pertanyaan hidup saya. Akhirnya saya mengerti siapa diri saya, mengapa saya merasakan apa yang saya rasakan dan mampu berdamai dengan semua itu dan mengekspresikan diri saya ke dunia luar. Menurut teori kuno Hippocrates saya adalah si Melancholy yang introvert, moody dan ingin melakukan semua dengan sempurna, dengan sedikit unsur Sanguines yang ingin mendapat pengakuan dari dunia luar (penilaian pribadi). Atau menurut salah satu teori kepribadian sederhana yang disampaikan oleh Dr. Taylor Hartman (The Color Code) saya adalah seorang ‘BIRU’ sejati dengan unsur ‘KUNING’. 

Baca juga: 

Dulu hingga sekarang saya pun tetap seorang ‘BIRU’ sejati yang emosional, pencemas dan sering merasa bersalah; hanya saja, akhirnya saya bisa menjadi ‘BIRU’ yang lebih sehat. Akhirnya saya bisa menjadi pribadi yang hidup dengan (lebih) ringan dan bebas, serta mampu mengekspresikan diri saya ke dunia luar and I feel blessed. Dan menilik apa yang pernah saya alami serta perjalanan yang menurut saya cukup berliku, saya pun berjanji suatu saat ingin membagi cerita ini ke dunia luar. Tentang bagaimana saya akhirnya berdamai dengan ketakutan dan keinginan saya hingga menjadi pribadi yang lebih sehat.

Booklet yang bikinnya benar-benar kejar tayang 
Dan selesai dicetak beberapa menit sebelum acara :D 

Menerbitkan cerita panjang ini menjadi sebuah buku adalah sebuah harapan yang semoga saja bisa terwujud pada saatnya nanti. Namun, untuk sekarang saya mulai mencoba untuk berbagi awareness tentang arti sebuah kepribadian di komunitas di sekitar saya. Ide ini sesungguhnya muncul sejak beberapa bulan yang lalu, namun karena kesibukan belum juga terlaksana. Sampai akhirnya sekitar 4 minggu yang lalu saya nekad mengiyakan tawaran ibu-ibu arisan istri pegawai di kantor suami untuk sharing mengenai hal berbau psikologis, padahal itu berarti harus menyiapkan materi dan tetek bengek-nya di sela-sela kesibukan sebagai ibu pekerja. Tapi, saya pikir kalau tidak begitu, entah kapan niat ini bisa terlaksana, jadi ya hajar saja…

Dan 13 November 2015 kemarin, niat ini pun terwujud… Akhirnya saya sukses membawakan materi sharing ‘Mengenal Kepribadian Anak untuk Melejitkan Potensinya’ di acara arisan dimaksud. Sederhana memang, dan penyampaiannya jelas masih banyak sekali kekurangan. Tapi semoga saja bisa memberikan sedikit pemahaman tentang sudut pandang berbagai kepribadian. Sehingga para peserta yang adalah seorang ibu ini lebih memahami sudut pandang kepribadian anak-anak yang mungkin tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Dengan harapan bahwa pemahaman para ibu ini akan membantu anak-anaknya mengenali kepribadian dan mendapatkan perlakuan yang tepat sesuai kepribadiannya tersebut. Karena, menurut pengalaman saya, tidak semua anak bisa memahami kepribadiannya sendiri dengan cepat, kadangkala ada beberapa anak yang bahkan mengalami kebingungan saat tidak memperoleh bantuan dan perlakuan yang tepat.

13 November 2015 lalu adalah awal sederhana dari niat saya untuk meneruskan kebaikan dan kesempatan yang pernah saya dapatkan hingga dapat menjadi pribadi yang lebih sehat. Selanjutnya, satu occasion sudah menunggu, sesi parenting PAUD CSR kantor suami. Hihi, lagi-lagi masih seputar komunitas saya dan suami aja :D. Eh, tapi kalau ada yang berminat boleh lho ngundang ke acara kumpul-kumpulnya. Gratis! Jika diperlukan cukup mengganti biaya penggandaan materi saja. Tapi ya itu tadi, saya belum pro lho… sama sekali bukan trainer dan sebangsanya. Yang saya sampaikan sekedar pengalaman dan pengetahuan yang saya dapatkan selama kuliah Psikologi selama 4 tahun saja. Haha, kok jadinya kaya promo sih :D. Eh tapi ini serius kok, kalau memang memungkinkan saya sama sekali tidak keberatan. Selain dalam rangka mewujudkan cita-cita kecil saya saat mulai ‘merehabilitasi’ diri saya sendiri, juga menambah pengalaman kita bersama tentunya… Win-win kan… (malah diterusin promo, haha :D).

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Saturday, November 7, 2015

‘Cause Risks, They’re Exist Everywhere…

Beneran lho… resiko itu ada di manapun, bahkan bagi seorang pekerja administrasi di dalam kantor yang alat kerjanya komputer, bolpen dan sebangsanya! Resiko itu ada, kadang datang dengan sendirinya malah! Seperti sekitar 5 tahun yang lalu saat status saya masih pegawai training (OJT/On the Job Training), mendadak ada pegawai yang kalap (marah sampai lupa diri) saat merasa tidak puas dengan jawaban seputar kenaikan grade-nya (mungkin di perusahaan lain disebut sebagai ‘golongan’, ‘peringkat’, dsb.). Dan sontak, saya yang masih ‘unyu-unyu’ waktu itu langsung kabur ke ruangan lain dan menangis… shock gitu lho :’(.



Dan tadi siang, sekitar 5 tahun kemudian, kejadian itu kembali terulang dengan setting yang berbeda. Kali ini, sedikit banyak saya bukan hanya penonton dalam kejadian itu. Yah, walaupun bukan pemeran utama juga, tapi amarah bapak itu berasal dari sesuatu yang saya kerjakan. Bapak itu marah karena kuitansi berobatnya tidak bisa di-reimburst karena ada masalah administrasi. Lha gimana, kuitansi apotik dia cuma tertulis ‘pembelian obat-obatan’; copy resepnya sama semua, bener-bener di-copy sendiri (bukan copy dari apotik) dan itu resep dari tahun 2014 dan 2013, harganya beda-beda!? Benar-benar mengundang kecurigaan bukan? Malah pernah dengar kalau resep obat yang sama itu hanya bisa ditebus 3 kali, setelah itu harus konsultasi kembali karena mungkin kan kondisi pasien sudah berubah sehingga obatnya pun perlu diganti. Itupun seharusnya salinan resep dibuat lagi oleh apotik, bukan fotokopian…

Sunday, November 1, 2015

Jalan Tengah yang Tidak Bertemu

Lulus kuliah, bekerja, menikah dan kemudian mempunyai anak… menjadi wanita karir sekaligus membangun keluarga yang hangat, itulah mimpi saya. Mimpi yang saat itu terasa sederhana dan mudah saja dicapai… waktu itu saya masih begitu naïve (tutup muka :D). Sekarang, sejak memiliki Si Sulung Ganesha, semua berubah… Mimpi menjadi wanita karir terbang begitu saja, ternyata saya tidak bisa mengesampingkan anak dan keluarga saya lebih dari lima hari seminggu dan delapan jam sehari. Ternyata saya posesif sekali, saya tidak ingin kehilangan waktu bersama keluarga saya lebih dari kewajiban saya sebagai pekerja. Hingga bekerja lebih dari pukul 07:30 sampai dengan 16:00 itu terasa pengorbanan yang berat sekali. Saat itu, mimpi saya pun berubah… Bekerja selama 8 jam sehari dan lima hari seminggu itu seperti ‘me time’ untuk bisa mengekspresikan sisi ‘suka mengejar target’ dalam diri saya. Namun, di luar itu adalah ‘hidup dan tujuan’ saya sesungguhnya… keluarga…


Dan kemudian ‘drama-drama’ si ibu posesif yang tetap harus menjadi nomor satu ‘di rumah’ tapi masih membutuhkan ‘kerja’ untuk menyeimbangkan jiwa; pun hadir silih berganti. Mulai dari ringan hingga berat, dan yang paling umum terjadi adalah pada saat harus pergi ke luar kota untuk dinas. Dan saat-saat seperti itu, saya selalu membawa anak yang belum saya sapih. Alasannya sederhana saja, karena menurut saya pada masa menyusui, anak masih sangat tergantung secara fisik dan terlebih secara psikis pada ibu dan saya tidak tega meninggalkan mereka di malam hari. Yah, sebenarnya bisa saja sih anak dibiasakan untuk ditinggalkan di malam hari juga, tapi saya sengaja tidak melakukan hal itu. Bagi saya kebersamaan di malam hari itu adalah waktu untuk mengobati rasa rindu setelah selama 8 jam berpisah di siang hari, bagi saya maupun anak-anak. Dan saya tidak keberatan untuk lebih repot dan mengeluarkan dana pribadi mengajak anak dinas keluar kota bersama pengasuhnya. Demi kesehatan mental bersama, pengorbanan itu sepadan…

Ganesha 2 tahun ikut dinas ke Palembang dari Tanjung Enim
Juni 2013

Friday, October 16, 2015

Berkaca dari ‘Kenakalan’ Anak Kita

Sang Ibu
:
“Papa, kayaknya Doni udah mulai ga kontrol deh main hape-nya…”
Sang Ayah
:
“Doni… udahan ya main hape-nya… Kan udah lama…”
Sang Anak
:
“Enggak…”
Sang Ayah
:
(Mulai naik darah) “Doni, udahan main hape-nya… kalo ga, Papa hapus nanti semua game di hape Papa…”
Sang Anak
:
“Enggaaaakkkk!!!”
Sang Ayah
:
(Makin emosi) “Eh, kamu makin nggak bisa diatur ya… kebanyakan diturutin… Papa itung sampe 10, kalo ga berhenti juga, Papa hapus game-nya!!!”
Sang Anak
:
“Enggaaakk…” (Mulai menangis)

Aah… sebuah cerita klasik dan umum terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sebuah cerita yang saya pun mengalaminya semasa kecil. Dan sekarang seolah terulang kembali saat saya menjadi seorang ibu. Iya, kadang kejadian seperti di atas dalam setting yang berbeda (tidak terelakkan) terjadi dalam kehidupan kita. Sesuatu yang memang klasik dan (mungkin) umum terjadi, tapi membuat saya berpikir… “Memang anak-anak ini apa iya dengan tiba-tiba menjadi ‘nakal’? Masa sikap yang tidak menyenangkan (misalnya suka teriak-teriak) itu bawaan gen?”

Dan jawabannya tentu saja TIDAK… Tentu saja anak-anak ini bukan mendadak, begitu bangun tidur tiba-tiba bersikap ‘nakal’. Dan lebih tidak masuk akal lagi kalau sikap seperti suka teriak-teriak itu adalah bawaan gen (ada-ada saja :D). Sikap-sikap yang ditunjukkan anak-anak yang bagi kita kadangkala dengan mudah disebut sebagai ‘nakal’ itu, bukan terjadi secara serta merta dan tanpa sebab. Ada latar belakang yang menyebabkan seorang anak bersikap seperti itu. Dan sayang sekali, kita sebagai orang-tua sesungguhnya pasti ada dalam rangkaian latar belakang itu; secara langsung atau tidak langsung, secara sadar atau tidak sadar…

Seringkali, meskipun tidak selalu…

“Masa iya sih? Rasanya kita sebagai orang-tua tidak pernah dan tidak akan pernah mengajarkan hal-hal yang negatif seperti itu deh…” Baiklah, mari kita renungkan bersama…

Anak memang tidak terlahir seperti selembar kertas kosong, tapi mereka selalu terlahir sebagai ‘malaikat-malaikat’ kecil yang tidak punya niat buruk sama sekali. Sedari bayi pun mungkin mereka kadangkala bersikap yang bagi kita orang dewasa ‘merepotkan’ atau ‘mengganggu’, misalnya rewel. Namun, tentu kita semua sadar, bahwa sikap ini bukanlah manifestasi dari keinginan mereka untuk mengganggu kita. Rewel, seringkali adalah satu-satunya cara yang mereka tahu untuk mengkomunikasikan kondisi yang membuat mereka tidak nyaman, baik fisik maupun psikis. Baik, kalau soal ini sih sebagian besar dari kita bisa memaklumi dengan mudah… Tapi, perlahan-lahan kemakluman dan kesabaran kita mungkin akan menipis dengan bertambahnya usia anak. Lagi-lagi ini juga permasalahan klasik yang umum terjadi…

Wednesday, October 7, 2015

Memanusiakan Sifat Perfeksionis

It’s been a while… Tidak terasa, sudah dua bulan tidak meninggalkan jejak di blog ini. Beneran lho, sewaktu kembali berseluncur ke blog semata wayang ini, post terakhir adalah tanggal 24 Juli 2015. Hmm, what happen? Mungkin ada yang bertanya demikian (ada kan ya… :D). Dan jawabannya adalah… complicated. Yang jelas, menulis itu masih-masih kegiatan yang sangat menyenangkan bagi saya, dan ide-ide tulisan pun masih bersliweran di kepala saya… Tapi, yang namanya ide dan kemauan itu, kalau tidak bertemu dengan situasi dan mood yang mendukung, seringnya terbang begitu saja, alih-alih terdokumentasi menjadi ‘sesuatu’.

Dan itulah yang terjadi pada saya… Ada beberapa kejadian yang membuat ide dan keinginan menulis saya terbengkalai begitu saja; sebut saja pelimpahan pekerjaan tambahan yang menyita waktu dan membuat jet lag. Yang membuat hasil kerja tidak memuaskan, karena mau tidak mau harus menurunkan standard agar (paling tidak) semua bisa terselesaikan, terlepas dari seberapa berkualitas hasil kerja kita. And trust me, untuk kami-kami dan kita-kita yang bernama tengah ‘perfectionist’ itu adalah hal yang sangat menyebalkan dan stressfull! Fiuhh… But the show must go on, the life must go onand everything exactly must go on… Dan akhirnya setelah dua bulan kelimpungan seperti cacing kepanasan, I’m finally cope with my situation… Bukannya akhirnya bisa membuat kehidupan kerja dan keluarga jadi sempurna dua-duanya, tapi paling tidak saya bisa mulai menikmatinya. Dengan menyadari bahwa waktu dan sumber daya yang saya miliki itu terbatas, membuat skala prioritas dan menerima saat sesuatu tidak berjalan ‘sesempurna’ yang kita inginkan.

Baik, sebelum semua menjadi semakin abstrak, saya akan menceritakan sedikit situasi yang saya alami… Siapa tahu kan, ada teman-teman yang senasib, yang merasa kalang kabut dan tidak puas karena hasrat perfeksionis-nya tidak tersalurkan, terhambat waktu dan sumber daya yang ada… siapa tahu :D.

I was born perfectionist… Banyak orang yang berpikir bahwa ‘perfeksionis’ itu adalah sesuatu yang positif dan itu sama sekali tidak salah, lihat saja Agnes Monica yang selalu spektakuler di setiap penampilannya karena sifatnya yang satu ini. Tapi, sesungguhnya ada sisi negatif dari sifat ini, salah satunya rentan menimbulkan stress; untuk bisa memenuhi ekspektasi kita dan makin stress lagi saat ekspektasi tersebut benar-benar tidak tercapai :’(. Benar, sifat perfeksionis itu mendorong kita untuk mencapai target yang tinggi; tapi semua itu masih dikendalikan oleh faktor dari dalam kita (kemampuan mencapai si target) dan dari luar (sumberdaya dan kesempatan). Jadi (lagi), sifat ini hanyalah modal awal untuk mencapai hasil yang tinggi, akan tetapi jika si empunya target ternyata suka menunda-nunda waktu atau ternyata memiliki banyak kegiatan lain sehingga tidak punya banyak waktu untuk mengejar target itu, maka target ini tidak akan tercapai. Dan yang kedua inilah yang terjadi pada saya…

Tuesday, June 30, 2015

Belajar Menyetir Mobil Itu…


“Apa sih susahnya nyetir itu… gampangan nyetir mobil daripada motor tauk…”

Mungkin apa yang dibilang suami saya itu benar baginya, atau sebagian besar orang, tapi bukan saya :(. Bagi saya, mobil adalah sebuah kendaraan yang sulit dikendalikan; dengan ukuran dan tenaganya yang besar, serta (jangan lupakan) tuas-tuas kemudi yang kompleks (baca: setir, kopling, rem tangan, dkk.). Dan itu sebabnya, saya selalu menolak untuk belajar menyetir, selain karena memang belum ada urgensinya. Saat itu, kemampuan saya bermotor sudah lebih dari memadai untuk memfasilitasi kebutuhan mobilisasi saya; karena saat itu memang kantor, bank, pasar, midi market dan sejenisnya jaraknya tidak lebih dari 4 km. Namun, all good things come to and end (meminjam lirik lagu Nelly Furtado dan Mandy Moore), akhirnya semua kemudahan itu berakhir…

Setelah mutasi ke Lampung, jarak ke kantor melar sampai 30 km (1 jam perjalanan) dan jalanan-jalanan kampung yang sangat bersahabat dengan pengendara motor berubah menjadi jalan lintas propinsi yang dipenuhi kendaraan-kendaraan raksasa. Beberapa saat setelah pindah ke Lampung juga, kami harus mencari pengasuh yang baik dan sayang pada Ganesh dan Mahesh, yang alhamdulillah kami temukan, namun tidak bersedia untuk menginap ataupun bekerja terlalu jauh dari tempat tinggal mereka (rumah kami saat ini), sehingga opsi pindah rumah mendekati kantor saya pun kami coret. Dua hal itulah yang akhirnya membuat saya (terpaksa) harus belajar menyetir! Karena jika tidak; itu sama artinya membuat suami saya terus terlambat ke kantor karena harus mengantar saya dulu dan juga harus meninggalkan Ganesh dan Mahesh lebih lama karena untuk pulang saya harus menunggu jemputan suami. Dan ini stressfull, karena pada saat sampai di rumah kadangkala Mahesh sudah rewel ingin tidur dan Ganesh jadi terabaikan. Padahal setiap pulang, Ganesh sudah menunggu-nunggu kedatangan saya.

Lupa pernah baca quote ini dimana,
tapi saya setuju bahwa rasa takut terkadang hanyalah ilusi yang tampak nyata

Jadi, meskipun pesimis akan hasilnya, saya pun ‘menutup mata’ dan berusaha, seperti ini…
  1. Diajarin suami. Beberapa minggu sebelum cuti melahirkan habis beberapa kali suami mengajari saya menyetir. Tapi usaha ini mandeg sampai usaha menjalankan mobil dan saya semakin percaya bahwa mobil itu memang kendaraaan yang sulit dikendalikan. Kopling itu adalah benda yang menyusahkan sekali dan setir adalah alat kendali yang abstrak karena tidak jelas berapa derajat diputar akan membuat mobil belok sekian derajat. Alhasil, mau jalan saja mati mesin berkali-kali. Dan kalau pun berhasil jalan, pada saat panik merasa akan menabrak, reaksi saya adalah menginjak rem sekuat tenaga (tanpa injak kopling), sehingga (lagi-lagi) mati mesin dan mobil melompat! Stress? Iya! Hopeless? Juga iya… Sampai suami pun ikut-ikutan hopeless :'(. 
  2. Belajar di tempat kursus setir profesional. Ternyata beda lho instruksi orang yang memang biasa ngajarin nyetir! Lebih mudah dipahami dan dipraktekkan… Selain itu, karena kopling dan remnya diparalel (ada dua), tekanan mentalnya juga lebih ringan. “Ga mungkin nabrak…” paling tidak itu membuat proses belajar lebih santai daripada diajarin suami :D. Karena itu, disini saya akhirnya bisa menjalankan mobil, mengarahkan mobil dengan setir dan berhenti tanpa mati mesin! Yeay! Tapi, tetap saja sih, saat mencoba mobil sendiri masih kocar-kacir dan tidak semudah mengemudi mobil latihan, jadi artinya tetap harus membiasakan diri dengan mobil sendiri… 
  3. Belajar didampingi suami (lagi). Setelah pengetahuan tentang dasar-dasar menyetir; menjalankan mobil, pindah gigi, berhenti, jalan di jalan tanjakan, berbatu dan berkelok-kelok; sudah ada di kepala. Maka untuk membiasakan diri dan berani menyetir mobil sendiri, saya harus sering-sering membawa mobil sendiri. Nah, ini mah tugas suami, mau siapa lagi? And I called it, uji mental! Karena sepanjang jalan saya harus tahan diberi instruksi-instruksi yang kadang bagi saya membuat stress! Please note, instruktur itu sudah terlatih dan berpengalaman, jadi tidak bisa disamakan dengan suami atau siapa pun yang mengajari kita. Kalaupun ada kata-kata yang ‘gimana-gimana’, jangan dimasukkan ke hati, cukup masukkan ke otak saja. Dan tetap ingat pada tujuan utama untuk bisa menyetir. Jadi, kalaupun harus nangis saking stress-nya, ya cukup menepi dulu, setelahnya, ya jalan lagi… :D. 
  4. Ke kantor didampingi driver kantor. Suatu hari muncullah ide, mengajak driver kantor yang tinggal di dekat rumah untuk mendampingi pulang-pergi rumah – kantor setiap hari, dan ternyata dia bersedia. Jadilah selama 5 hari, saya menyetir pulang-pergi kantor bersamanya sambil belajar. Mulus? Tentu tidak semudah itu :D. Hari pertama, mobil sempat lompat karena nervous karena mobil mundur saat harus berjalan setelah berhenti di tanjakan. Lalu dag-dig-dug saat menyeberang jalan, mengambil u-turn atau berjalan lagi di lampu merah adalah makanan sehari-hari. Kopling, masih benda yang sulit saya pahami dan mati mesin itu bagaikan rutinitas. Dan setelah 5 hari, saya akhirnya menghentikan usaha ini karena mas driver ini ditugaskan dinas keluar kota. 
  5. (Finally) memberanikan diri membawa sendiri! Setelah 5 hari itu, saya pun meminta suami saya mendampingi ke kantor untuk menilai kelayakan saya membawa mobil sendiri, meskipun sebenarnya masih dag-dig-dug juga. Dan hasilnya adalah yes! Meskipun masih mati mesin beberapa kali, kecepatan maksimal 50 km/jam dan belum berani menyalip di jalan dua arah; hari berikutnya saya diijinkan berangkat sendiri. Dan rasanya perdana menyetir sendiri ke kantor itu adalah dag-dig-dug sepanjang jalan, setir basah oleh keringat, sakit perut sebelum berangkat, stress saat berhenti di tanjakan atau macet atau diklakson orang di lampu merah dkk. Tapi berbekal usaha maksimal, doa dan tekad perjalanan demi perjalanan pun saya lalui dengan selamat :). Alhamdulillah… 
Dan akhirnya, setelah 3 minggu, dag-dig-dug membawa mobil sendiri ke kantor, tulisan ‘belajar’ yang tertempel di belakang pun di lepas. Bukan karena sepenuhnya sudah ‘jago’ di segala kondisi (karena nyatanya untuk kondisi-kondisi sulit, seperti berhenti dan berjalan lagi di tanjakan masih belum lancar), tapi rasanya secara mental dan kemampuan sudah cukup memadai untuk tidak selalu minta dimaklumi oleh pengendara lain.

And now, here I am… memiliki kehidupan yang lebih manusiawi setelah bisa berangkat dan pulang sendiri ke kantor. Tidak lagi pontang-panting berangkat pagi-pagi sekali supaya suami tidak terlalu terlambat; tidak lagi tiba di rumah saat matahari terbenam saat anak mulai rewel ingin tidur. Fiuhh, akhirnya, setelah perjuangan panjang yang menegangkan, saya bisa (bukan ahli ya…) juga menyetir :).

Karakter Gator diambil dari sini

And at last… saran saya untuk teman-teman senasib yang merasa belajar menyetir itu sesuatu yang sangat sulit dan bahkan menakutkan; just remember that, fear is in your mind… Dimana sesungguhnya dia tidak perlu ditaklukkan, tapi diajak bersahabat dalam artian kita bersedia menerima rasa takut sebagai konsekuensi dari suatu usaha kita. Kalau katanya Gator dalam film Thomas and Friends: Tale of the Brave, “Being brave isn’t the same as not feeling scared, being brave is about what you do even when you do feel scared.” Jadi, kalau memang ingin bisa, ya go ahead, meskipun dengan rasa takut di hati kita. Percaya deh, pelan-pelan rasa itu akan hilang semakin sering kita bersamanya, meskipun pada awalnya harapan itu terasa kecil sekali.

If you really want something, just take the risk (of being scared) so you got the chance to get it…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Friday, June 12, 2015

Mahesha’s 4th Month: The Very Sociable Mahesha!

Tanggal 18 Mei 2015 lalu (hampir 2 minggu lalu), Mahesha tepat berusia 4 bulan! Yeay! Senang itu pasti, karena semakin bertambah usianya, berarti semakin bisa diajak jalan-jalan anaknya, hehe :D. Senang, salah satunya juga karena sehari sebelum usianya tepat 4 bulan, akhirnya Mahesh bisa tengkurap. Setelah beberapa hari sebelumnya sempat bertanya-tanya, kenapa si kecil tembem ini belum juga menunjukkan tanda-tanda belajar tengkurap, yang notabene adalah salah satu milestone perkembangan bayi 4 bulan. Iya, tepat sehari sebelum usianya 4 bulan, tanpa ada tanda-tanda belajar, mendadak dia tengkurap begitu saja! Wuah, leganya Le… Kamu ternyata pengen bikin kejutan buat Mama sama Papa ya :*

Mahesha Si Pantang Menyerah :D

Dan selain tengkurap, ada perkembangan lain yang membuat bermain bersama si kecil tembem ini lebih seru! Yes, sejak sebulan ke belakang (3 s/d 4 bulan) rasanya ‘antena’ Mahesh menjadi semakin tinggi sehingga mampu menangkap berbagai ‘sinyal’ yang ada di sekitarnya, sekaligus memberikan respon dengan caranya sendiri… dan ini jelas membuatnya semakin lucu! :D.

Jika sebelumnya paling Mahesh senyum jika ada yang mengajaknya berinteraksi (misal tersenyum dan mengajak ngobrol); tapi sekarang, dia bisa tertawa terkekeh-kekeh bahkan memalingkan wajah (seperti mengajak bercanda). Jika dulu, kosakata bayi Mahesha hanya teriakan ‘ang!’ dan menangis untuk semua maksudnya, maka sekarang dia bisa membuat berbagai bunyi yang lebih variatif, termasuk bermain ludah :P. Dan dengan kemampuan barunya mengekspresikan perasaan dan keinginannya, praktis Mahesha jadi lebih jarang menangis, karena dia punya cara lain untuk ‘berbicara’. Misalnya saja memonyongkan bibir sambil meluruskan kaki dan menegangkan tangannya plus mendengus, itu artinya dia bosan dan ingin segera diangkat. Atau kalau mau minta ‘nenen’ dia akan bergumam pelan (seperti merengek) sambil memandang saya dan menggerakkan kaki dan tangannya. Well, setelah 4 bulan, Mahesha kini sudah mulai beranjak dewasa, lebih sadar akan lingkungannya dan memberikan respon yang lebih ‘berarti’.

Thursday, May 7, 2015

Mahesha’s 3rd Months: Memahami Pola Sederhana


Hayo, siapa yang sempat mengabadikan foto si kecil dengan pose di atas? Jujur lho, saya baru sadar kalau pose ini sangat umum dilakukan anak-anak di antara usia 2 sampai dengan 3 bulan, setelah memiliki anak kedua. Dan ternyata ada sesuatu lho yang melatarbelakangi pose lucu nan serius ini. Sesuatu yang menjadi pertanda bayi lucu kita semakin memahami dunia di sekitarnya, mengenal pola sederhana dalam dunia, sesederhana bahwa dia bisa menggerakkan tangan yang selama ini (mungkin) tidak disadari keterkaitannya dengan dirinya… Sebuah lompatan pemahaman yang oleh van de Rijt & Plooij disebut sebagai ‘leap of pattern’. *Ulasan tentang pendapatnya menyusul di postingan berikutnya.

Wednesday, April 8, 2015

‘Better than This’ but ‘Still I Fly’…


Seumur hidup, selama lebih dari 29 tahun, baru dua kali saya meninggalkan tempat yang saya sebut ‘rumah’. Tahun 2008 saat saya menerima tugas kerja pertama saya di Palembang kemudian ke Tanjung Enim, dan awal tahun 2015 saat saya menerima keputusan mutasi pertama saya ke Bandar Lampung. Migrasi yang membawa kebaikan sejauh ini, karena migrasi pertama membawa saya bertemu suami saya saat ini dan migrasi kedua pun mendekatkan kembali kami sekeluarga setelah suami terlebih dahulu mutasi di bulan Juli 2014. Hmm, kedengarannya memang nasib benar-benar berpihak kepada kami bukan? Dan sudah sepantasnya kami bahagia dan bersyukur… Tapi, selama 6 tahun tinggal di suatu tempat hingga kami menyebutnya rumah, tentu menyisakan kenangan tersendiri. Kenangan yang membuat kami berkali-kali melihat ke belakang, tapi tentu saja tidak membuat kami lupa bahwa tempat baru ini adalah jawaban atas doa-doa kami untuk bisa bersama-sama sekeluarga dan kami begitu bersyukur.

Tanjung Enim… 6 tahun lalu, di tahun 2008 saya pertama kali menginjakkan kaki di tempat itu sebagai seorang dewasa. Karena lucunya, semasa kecil saya pernah tinggal disana bersama orang-tua karena tugas kerja. Hmm, mungkin benar juga mitos yang beredar disana, bahwa sekali seseorang meminum air Sungai Enim, dia pasti akan kembali kesana. Saya buktinya :D. Waktu itu, dengan segala suka cita karena mendapatkan pekerjaan pertama saya sekaligus mimpi yang terwujud untuk hidup (benar-benar) mandiri setelah 25 tahun tinggal bersama orang-tua; saya pun melangkah dengan begitu mantap.

Tuesday, April 7, 2015

Menemukan Alasan yang Penting Bagi Anak untuk Mendorongnya Melakukan Sesuatu

“Ganesh, kalo di kelas ikutin katanya Bu Guru dong…  Biar Bu Gurunya tau kalo Anesh bisa nyanyi, terus dikasih nilai deh…” Beberapa kali saya sounding seperti itu pada Ganesh supaya mau aktif bernyanyi saat pelajaran sentra musik di kelas SPS*-nya. Tapi, tetott!  Apa pentingnya nilai untuk anak seusia Ganesh (3.5 tahun)? Dan Ganesh pun tetap tidak mau bernyanyi di kelas, meskipun sebenarnya memiliki katalog lagu yang cukup banyak… mulai dari lagu berbahasa Indonesia sampai berbahasa Inggris; dari ‘Balonku Ada Lima’ sampai ‘Still I Fly’ soundtrack-nya Planes: Fire & Rescue… (Beberapa rekaman nyanyian Ganesh ada di ‘Singing Ganesha: Mengenalkan Musik pada Anak').

  
Baik, pendekatan pertama gagal, kita coba cara lain…
Saya: “Ganesh, nanti kalo udah bisa nyanyi bisa ikut lomba nyanyi lho…  Nanti bisa dapet piala kaya mama… ”
Ganesh: “Mama, Anesh sudah pinter nyanyi, mana pialanya?”
Saya: “Kan nyanyinya harus di depan banyak orang, di depan juri biar bisa dinilai bagus apa enggak. Makanya Anesh belajar dulu…”
Ganesh: “Juri itu apa Mama?”
Saya: “Juri itu orang yang ngeliatin kita nyanyi dan ngasih nilai bagus ga nyanyian kita”
Ganesh: “Anesh kan nyanyi di depan Mama, Mama aja beliin Anesh piala…”
Saya: “(Speechless) (Ya sudahlah Le…  nikmati saja apa yang kamu inginkan di kelas…  mungkin nanti kamu akan menemukan alasan untuk bernyanyi di kelas).
Tamat.

Sampai pada suatu hari, dari kelas SPS terdengar suara lantang seorang anak bernyanyi, “Lihat kebunku penuh dengan bunga, ada yang putih dan ada yang merah…” Sontak saya dan beberapa ibu yang juga sedang menunggu anaknya menengok ke kelas. Suara itu tidak asing bagi saya, tapi masa iya Ganesh bernyanyi di kelas? Karena selama 2 bulan ini dia belum mau bernyanyi di kelas. Bukan karena tidak bisa, tapi karena tidak merasa perlu melakukan hal itu; menyanyi kan bisa dimana saja, kenapa harus di kelas dan di depan Bu Guru? Berbeda dengan permainan lain; seperti puzzle dan bantal bercerita yang hanya ada di kelas.