SOCIAL MEDIA

search

Saturday, September 23, 2017

Ello The Surviving Cat #1: Awal yang Sulit…

Bagi yang berteman dengan saya di Facebook ataupun Instagram, mungkin sudah tahu siapa Ello yang saya maksud… Seekor kucing kecil yang kami temukan di depan toko oleh-oleh khas Lampung 'Iyen'. Dalam kondisi yang membuat iba; masih sangat kecil, sendirian, ketendang-tendang pedagang kaki lima di sekitaran lokasi, dan hampir masuk got! Sampai-sampai Mahesh si anak perasa, ngotot mau keluar terus, nongkrongin si Ello dan bilang, "Papa, kasian kucingnya… ketendang sama om itu… Om yang pake topi itu nah…" saat papanya kemudian bertanya om yang mana.


Mahesh… Mahesh… Kamu membuat kami merasa dobel ga-sampai-hati dan akhirnya memutuskan membawa pulang Ello dengan sebuah kantong kertas. Saat itulah kisah Ello bersama kami berjuang untuk bertahan hidup dimulai… Bukan sebuah cerita panjang sebenarnya, tapi memberikan pengalaman dan pelajaran berharga buat kami semua. Itu kenapa saya pengen banget nulis detail perjalanan kami dengan Ello. And this is chapter 1, yaitu di saat kami merasa bahwa ternyata semua tidak semudah yang dibayangkan…


***

Dalam perjalanan pulang dari toko ke rumah, kucing kecil yang belum kami beri nama itu terus mengeong… Jelas dia merasa tidak nyaman dan asing dengan kondisi yang dialaminya sekarang -di dalam sebuah kantong kertas, tanpa ibu di sampingnya. Saya seorang ibu, dan saya tahu bagaimana perasaannya; sehingga yang ada dalam kepala saya saat itu hanyalah segera membawanya ke rumah, memberikan susu dan memberinya tempat yang hangat. "Sabar ya… sebentar lagi kita sampai di rumah…"

Sesampainya di rumah, segera saya ambilkan susu UHT Ganesh, menuangkannya di dalam sebuah mangkuk kecil dan menyodorkannya pada si kucing kecil. Dimana saat itulah saya sadar, bahwa kucing ini benar-benar masih kecil! Bahkan matanya belum terbuka! Dan dari sebuah artikel di internet (disini), saya perkirakan bahwa usia si kucing kecil ini masih kurang dari satu minggu. Dan meskipun dia bayi binatang yang mungkin lebih kuat dari bayi manusia, dia belum bisa bertahan hidup sendiri tanpa bantuan induk atau pengasuh lainnya. Dia belum bisa minum susu sendiri, masih harus disusui, atau jika tidak dia akan mati kelaparan, disitu saya merasa bingung dan sedih.

So, browsing kembali di internet, saya menemukan sebuah artikel yang menyebutkan bahwa seekor anak kucing bisa diberikan susu formula bayi usia 0 bulan dengan menggunakan pipet. Baiklah, setelah menempatkan si kucing kecil di sebuah kardus dengan alas kain dan penghangat lampu LED USB yang saya sambungkan dengan charger handphone, memastikannya cukup hangat… saya pun pergi ke Indoma*et untuk mencari perlengkapan (baca: susu formula 0 bulan dan pipet).

Awalnya, saya berpikir bisa mendapatkan pipet dari obat penurun panas anak, tapi ternyata tidak, minimarket ini tidak menjual kemasan obat penurun panas yang memakai pipet. So, memutar otaklah saya, dan akhirnya membeli sebuah obat tetes mata, berharap si kucing kecil bisa diberi minum dengan obat tetes mata, yang cara kerjanya mirip pipet.


Dan syukur alhamdulillah, meskipun sulit, si kucing kecil bisa diberi minum dengan cara ini. Minumnya cuma sedikit, yah, saya pikir karena dia masih terlalu kecil, jadi memang kebutuhan minumnya belum terlalu banyak. Tetap positif thinking dan berusaha melakukan yang terbaik yang saya bisa untuk menyelamatkannya.

Selama beberapa hari, rutinitas baru pun dimulai; yaitu memberi minum si kucing kecil yang kemudian kami beri naman Ello, dari kata 'Yellow' yang artinya kuning. Awalnya sih, saya tawarkan untuk memberi nama si kucing kecil Yello, tapi anak-anak lebih memilih memanggilnya Ello. Baiklah, saya menurut saja…

Setiap pagi sebelum ke kantor, siang saat istirahat, sore sepulang kerja dan malam sebelum tidur; saya mengangkat Ello dari kardus hangatnya, menyelimutinya dengan kain agar tidak banyak bergerak dan sedikit 'memaksanya' minum susu dari botol tetes mata itu. "Baiklah Ello, aku tahu ini sulit, tapi kita harus supaya kamu bisa bertahan…" kata saya. Kadang saat dia mulai mengeong-ngeong, kemudian saya bilang, "Ello mau ketemu mama? Kalo gitu sekarang Ello minum susu dulu… Nanti kalo udah gede, Ello cari mama ya…" Baiklah, saya memang melankolis, dan kondisi seperti ini benar-benar membuat hati saya teriris-iris. "Come on Ello! We can do it!"

Baiklah, to be honest aktivitas baru ini cukup berat, dan tidak tidak sampai disini sajaKemudian selang sekitar sehari atau dua hari, saya bertanya-tanya, kok tempat tidur Ello ini kering terus ya? Tidak sekalipun ada bekas pipis atau pupnya, padahal kan dia dikasih minum susu, masa iya sama sekali ga dibuang?

Pertanyaan ini terjawab saat kemudian saya googling dan menemukan bahwa kucing kecil itu perlu dirangsang untuk pipis dan pup. What? OMG! Kayaknya ini susah deh… tapi baiklah, mari kita coba dulu. Dengan bekal video di Youtube, saya pun mencoba 'membantu' Ello untuk pipis dan pup. Caranya, dengan mengusap-usap area genitalnya dengan tisu basah. Dengan cara ini, Ello akan pipis jika memang ada urin dalam perutnya. Demikian juga dengan pup, meskipun untuk pup diperlukan usaha yang lebih banyak.

So, kegiatan pun bertambah… Setiap hari, empat kali sehari membantu Ello pipis terlebih dahulu sebelum minum susu. More things to do, tapi saya dan Ello memasang kaca mata kuda melakukan apa yang bisa kami lakukan, tanpa optimisme maupun pesimisme. Pokoknya lewati hari demi hari saja sebaik yang kami bisa.

Dan tantangan tidak berhenti sampai disitu saja. Pada suatu saat, kami dihadapkan pada kondisi dimana saya tidak bisa pulang saat jam istirahat karena ditugaskan dalam sebuah acara kantor yang lokasinya jauh dari rumah. Saya sudah mencoba semuanya; mulai dari berusaha mengatur waktu, agar bisa pulang sebentar saat tidak bertugas hingga mencari pet shop yang bisa dititipin Ello; karena mbak di rumah takut pada kucing. Apa mau dikata, saya tidak bisa memaksa bukan?

Semua usaha itu tidak membuahkan hasil. Malahan cobaan bertambah lagi, dengan komentar tidak simpatik dan arogan. Mengatakan bahwa saya berlebihan. Bahwa hewan punya naluri yang kuat, sehingga pasti bisa survive, hanya dengan menyediakan susu di dekatnya. "Well, helow, situ dokter?" Atau ga perlu lah jadi dokter hewan, kalau situ pecinta kucing yang berpengalaman ngerawat kucing atau paling enggak sudah cari informasi; saya masih bisa terima lah sikap arogan kaya gitu. Atau, kalau enggak, ngomongnya lembut sedikit, tunjukkan kalau situ sedang kasih saran, bukan nge-judge. Tapi, ya udah, gapapa, 'your mouth, your reputation', saya sih kalau ditantang kaya gini malah jadi semakin semangat dan pantang menyerah! **Baiklah, anggap paragraf ini sebagai curhat. Sekali-sekali lah katarsis di blog sendiri. Boleh kan teman-teman…**

So, ide itu pun datang, saya bisa menitipkan Ello di tempat lain yang dekat dengan lokasi hotel tempat acara. Hotel melati yang tidak melarang tamunya membawa hewan peliharaan adalah pilihan yang tepat! Dan alhamdulillah, atas rekomendasi seorang teman, saya menemukan tempat seperti itu. Fixed-lah saya booking satu kamar di hotel tersebut selama tiga hari, sehingga saya bisa wara-wiri mengurus Ello sembari menjalankan tugas saya.

Dan fixed juga rutinitas selama tiga hari itu pun bertambah berat. Pagi, saya menyetir sendiri membawa Ello beserta kardus dan penghangatnya yang dicolokkan  power supply di mobil bersama semua perlengkapannya; susu, air panas, mangkok kecil, tissue basah, dkk). Menitipkannya di hotel sebelum ke tempat acara, meskipun pada hari pertama terpaksa saya titipkan ke satpam dulu karena terburu-buru. Membersihkan badannya, membantunya untuk pipis dan memberikan susu di sela-sela kegiatan; dan menjemputnya kembali sepulang acara. Fiuh, trust me, it's pretty hectic, tapi, bisaa…

And in summary, 'awal yang sulit' yang saya maksud disini adalah:
  • Memutar otak memberi minum Ello yang belum bisa minum susu sendiri, tanpa adanya dot ataupun Kitten Milk Replacer/KMR. Yang akhirnya ditanggulangi dengan botol tetes mata dan susu formula bayi usia 0 bulan.
  • Memberi minum Ello dengan botol tetes mata selama dua minggu, yang itu jelas sulit dan berat. Botol obat tetes mata jelas jauh berbeda dengan puting induknya, ini saja sudah membutuhkan kesabaran. Ditambah lagi, bahwa pemberian susu ini harus dilakukan dalam intensitas yang cukup sering mengingat dia masih bayi. Ini berarti saya harus commit untuk ada di setiap waktu minum susunya.
  • Terkaget-kaget saat tahu bahwa anak kucing tidak bisa pipis dan pup sendiri, sehingga harus kita rangsang dan saya yang awam ini dengan pesimis berusaha belajar dari video youtube.
  • Mendapat tugas dalam acara kantor dari pagi hingga malam, sehingga (lagi-lagi) harus memutar otak agar bisa tetap merawatnya minimal empat kali setiap hari. Sampai akhirnya menitipkan Ello di sebuah hotel di dekat lokasi acara dan bolak-balik kesana saat ada kesempatan.
Dan akhirnya, setelah hari-hari yang sulit berjalan selama dua minggu, melihat perkembangan Ello yang tampak semakin baik, saya pun mencari dan mendapatkan botol dot dan susu khusus kucing untuk Ello. Tapi tentu saja petualangan Ello tidak sampai di sini saja… Setelah lebih dari 1.300 kata ini, masih ada kisah lain yang ingin saya ceritakan. Termasuk juga, hal apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan nyawa anak kucing yang usianya masih hitungan hari hingga empat minggu sebelum akhirnya bisa makan sendiri. Bagaimana cara dan kapan mengajarinya makan, minum, pipis, serta pup. Dan banyak lagi…


See you in the next post ya…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-


Tuesday, August 22, 2017

Menggali Represi dengan Film 'The Boss Baby'

Pertama kali liat poster film ini di internet dan membaca sinopsisnya, saya tidak terlalu berminat. Dari sinopsinya, waktu itu terkesan kalau film ini bukan untuk konsumsi anak-anak, walaupun formatnya animasi. Semacam film 'Despicable Me' yang menurut saya tidak terlalu kuat pesan/nilai positif di dalamnya, tapi sekedar lucu-lucuan saja. Dibandingkan film 'Cars' misalnya yang membawa pesan sportifitas dan kebaikan, atau film 'Planes' yang mengajarkan tentang usaha keras dan tekad yang kuat dalam mencapai suatu cita-cita, meski tampak mustahil.

Penggembar 'Despicable Me' jangan marah ya… Ini pendapat saja. Bukan berarti juga anggapan bahwa film ini tidak baik untuk ditonton, Ganesh kemarin nonton juga di bioskop sama papanya. Cuma, saya pribadi ga memasukkannya dalam list koleksi film pribadi di rumah.


Nah, kembali ke film 'The Baby Boss'… Menurut persepsi saya, sebenarnya film ini menceritakan imajinasi seorang anak (Tim) tentang adik barunya. Sebelum memiliki adik, hidupnya begitu sempurna; dia adalah prioritas kedua orang-tuanya! Dari mulai bangun tidur, hingga akan tertidur kembali dan bahkan saat tidur… he's the one and only!

Dimana semua itu berubah 180º saat sang Adik lahir, yang digambarkan dengan kedatangan seorang bayi botak dengan pakaian jas lengkap turun dari taksi dan berjalan menuju ke rumah Tim. Dialah bayi yang kemudian menyebut dirinya sebagai The Boss Baby dan oleh orang tua Tim disebut sebagai adik laki-laki Tim. Seorang bayi yang kemudian mengambil alih sebagian besar perhatian orang-tua Tim, hingga Tim pun merasa kesepian dan diabaikan.

Dari situlah, Tim semakin membenci adiknya (Boss Baby) dan berusaha mencari tahu siapa sebenarnya Boss Baby ini. Dan akhirnya dia menemukan kenyataan bahwa Boss Baby sesungguhnya adalah bagian dari Baby Corp, perusahaan (semoga tidak salah) pengirim bayi kepada manusia, yang sedang menyamar untuk mencari tahu mengapa seringkali anak anjing mendapatkan kasih sayang lebih daripada bayi. Dimana orang-tua Tim bekerja pada perusahaan Puppy Co yang usahanya bergerak di bidang (kurang lebih) menyediakan anak anjing untuk manusia.

Drama yang seru pun dimulai dari sini. Dari awalnya Tim membenci Boss Baby dan berusaha membongkar penyamarannya; Boss Baby meminta maaf dan akhirnya Tim membantunya untuk melaksanakan misi penyelidikan agar Boss Baby bisa segera kembali ke Baby Corp; hingga akhirnya misi terselesaikan, semua kembali seperti semula sebelum Boss Baby datang ke rumah Tim… dan ternyata baik Tim maupun Boss Baby merasa kehilangan. Hingga akhirnya, bisa ditebak, kemudian Tim menulis surat kepada Boss Baby dan Boss Baby pun dengan bahagia meninggalkan karirnya di Baby Corp untuk menjadi adik Tim… kembali ke keluarga Tim.

Poster Film 'The Boss Baby'
from DreamWorkAnimation
Picture from HERE

Begitulah kira-kira film ini diceritakan secara singkat… Cerita saya mungkin kurang seru ya, tapi percaya deh, filmnya benar-benar seru dan cukup menegangkan!

Nah, kembali ke nilai moral yang bisa kita sampaikan kepada anak berdasarkan film ini… Of course it's about sibling love.

Saya sendiri menggunakan film ini untuk kembali menggali perasaan Ganesh saat memiliki adek baru. Bagaimana dia jadi diabaikan dan bagaimana perasaannya waktu itu. Menggali kekecewaan, rasa marah, dan sedih yang mungkin dirasakannya dulu.

"Lho, ngapain menggali pengalaman/perasaan/ingatan negatif kok malah digali dan diingat-ingat lagi? Bukannya lebih baik dilupakan?" No! Big NO! Berusaha melupakan pengalaman negatif atau dalam istilah psikologi dikenal sebagai represi. Pada saat seseorang mengalami sesuatu yang sangat melukai 'hati'; sedih, kecewa, malu, dan sebagainya; dan kemudian dia berusaha melupakan peristiwa tersebut… itulah yang disebut dengan mekanisme represi. Melalui mekanisme represi, suatu pengalaman atau perasaan negatif mungkin memang tidak lagi kita sadari. Kita tidak lagi mengingatnya. Namun, sesungguhnya semua itu masih terekam dalam alam bawah sadar kita, dan mempengaruhi perilaku kita.

I've ever been there before… Dulu, seringkali saya menekan perasaan malu, minder, konyol dan sebagainya yang saya rasakan, hingga saya tidak lagi meningatnya. Yes, secara sadar, memang saya tidak mengingatnya; tapi somehow perasaan itu tanpa saya sadari membuat saya merasa semakin kecil dan buruk. Hingga akhirnya, saya belajar untuk menggali perasaan-perasaan negatif itu, dan berusaha menyelesaikannya, daripada berusaha melupakannya.

'Menyelesaikan' maksudnya adalah berusaha membuat hati dan pikiran kita bisa menerima perasaan itu… Nah, caranya seperti apa, bakalan panjang, jadi insyaallah akan saya ceritakan dalam tulisan tersendiri.

So, kembali ke cerita menggali perasaan Ganesh saat memiliki adik baru, saya pun mengajak Ganesh berbicara:

"Kakak, sedih ya TimSejak ada adek baru, dia jadi ga pernah diceritain sebelum tidur sama papa-mamanyaKaya kakak dulu ya? Dulu, kakak sedih enggak? tanya saya.

Waktu itu, saya sudah siap jika Ganesh akan berkata 'iya' dan berharap kemudian dia akan cerita panjang lebar tentang perasaannya. Tapi, Ganesh hanya menjawab, "Iya" dengan santai. Udah, gitu aja…

Well, kemudian saya pun masih coba mengulik lagi, "Dulu, sebelum ada adek, kakak suka diceritain ya sebelum tidurSetelah ada adek, kakak ga pernah diceritain lagiKakak juga sering dimarahin sama mama ya…"

Dan Ganesh masih tidak menunjukkan tanda-tanda emosional dengan perkataan saya, sehingga saya pun menyimpulkan jika kejadian 'itu' tidak meninggalkan trauma emosional pada dirinya. But still, kemudian saya berkata padanya, "Anesh, mama minta maaf ya kalau mama dan papa jadi kurang perhatian sama Anesh setelah ada adekMaaf kalau kadang jadi suka marah-marahMama sama papa bangga sama Anesh, makasih ya, sudah jadi kakak yang baik buat adek…"

Saya memeluknya dan kemudian berkata lagi, "Anesh sayang adek kan? Anesh yang sabar ya kalau adek kadang ga ngerti Anesh kasih tauNamanya juga masih kecil, belum sepintar kakak…" Lalu saya acak-acak rambutnya dan kemudian menciumnya. "Anesh harus jagain adek yaKaya Tim jagain adeknya pas kehabisan susu yang bikin pinter…"
Kurang lebih seperti itu, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa ada sedikit kejadian yang ditambah atau dikurangi karena keterbatasan ingatan… 😬

Semacam tidak ada sesuatu yang 'seru' dalam cerita saya ini ya… Tidak ada adegan Ganesh curhat serius soal perasaannya waktu itu, he seem's able to cope with that past experience well. Tapi ya tetep sih, saya akan terus berusaha untuk mencari tahu dan menggali pengalaman-pengalaman buruk yang mungkin masih mengendap dalam ingatan bawah sadarnya.

Dan terlepas dari cerita yang kurang seru ini, apa yang ingin saya sampaikan dari tulisan ini adalah:
  • Suatu pengalaman negatif yang sangat melukai perasaan bisa jadi masih menjadi bagian dari diri kita. Kita hanya menekannya ke alam bawah sadar sehingga tidak menyadarinya. Namun, sesungguhnya hal itu masih mempengaruhi perilaku, perasaan dan reaksi kita pada lingkungan secara negatif. Hal inilah yang disebut represi, dan tidak menutup kemungkinan terjadi pada anak-anak.
  • Pengalaman negatif pada alam bawah sadar ini harus digali, disadari, dan diselesaikan secara sadar; misalnya dengan memafkan, memaklumi, dan sebagainya. 
  • Pada anak-anak, seringkali kita perlu untuk merangsang mereka mengingat suatu pengalaman negatif dan membantu mereka menyelesaikannya. Dalam hal ini, kita bisa memanfaatkan kejadian dalam kehidupan sehari-hari, maupun melalui cerita dan film.
  • Nah, dalam hal ini film 'The Boss Baby" ini menurut saya adalah media yang pas untuk menggali represi/pengalaman negatif berkaitan dengan kelahiran adik baru. Dimana sang kakak kemudian tidak mendapatkan perhatian sebesar sebelumnya.
That's it! So, sok lah nonton film ini… dijamin seru kok… dan semoga tulisan ini bermanfaat ya…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Sunday, August 13, 2017

Happy Kiddo's Room with INFORMA!

Rumah adalah tempat kita kembali dari segala aktivitas setiap harinya. Tempat melepas lelah, baik fisik maupun mental dan merasa relax. Juga tempat kita mengembalikan energi untuk kembali beraktivitas menyelesaikan berbagai tugas, serta merealisasikan mimpi-mimpi. Itulah definisi 'rumah' menurut saya… Dan kondisi itulah yang ingin saya capai berkaitan dengan 'rumah', salah satunya melalui penataan yang baik.

Nah, yang akan saya ceritakan di sini adalah mengenai penataan kamar anak-anak (Ganesh dan Mahesh)…

Selama ini, anak-anak belum memiliki kamar sendiri. Tidurnya masih random, kadang barengan saya atau suami. Nah, setelah pindah ke rumah baru beberapa waktu yang lalu, kami pun menyiapkan sebuah kamar untuk mereka. Satu kamar untuk berdua; supaya anak-anak lebih banyak berinteraksi, tidak merasa eksklusif dan untuk mempercepat transisi Adek tidur sendiri tanpa mamanya.

Karena kamar yang tidak terlalu luas ini akan dipakai berdua, bunkbed (tempat tidur bertingkat) menjadi pilihan kami. Dan kami pun ingin bunkbed ini memiliki fungsi lain untuk memaksimalkan kamar anak yang minimalis ini.


Singkat cerita, pada April 2017 saya pernah mengajak Ganesh ke INFORMA untuk mencari referensi furniture. Waktu itu, dia terpaku pada sebuah bunkbed berwarna kuning cerah yang memang terlihat unik. Bukan sekedar tempat tidur bertingkat, bunkbed ini digabungkan juga dengan meja belajar, rak buku, lemari pakaian dan juga tangga yang dimanfaatkan sebagai laci.

"Mama, Anesh mau yang ini aja… Nanti Anesh tidur di atas ya!" katanya bersemangat waktu itu. Tapi, waktu itu belum bisa langsung direalisasikan, karena masih banyak hal yang harus ditimbang… Cek luas kamar, posisi jendela dan pintu, serta tentu saja masalah pendanaan.



Sampai akhirnya, menjelang Lebaran, kami berkunjung lagi ke INFORMA saat bunkbed impian Ganesh sedang diskon! Dan ternyata Mahesh juga begitu excited dengan tempat tidur pilihan kakaknya ini. Mereka berdua sampai lari-larian heboh memutari si bunkbed, sementara kami hanya bisa geleng-geleng karena 'omelan-omelan' kami sama sekali tidak digubris.

So, tidak ada alasan untuk menunda lagi, kami pun mantap membeli si bunkbed apalagi waktu itu juga sedang ada promo cashback untuk member. 

Dan beberapa hari kemudian INFORMA pun mengirimkan barang pesanan kami dan merakitkannya sehari berikutnya. Semua dikerjakan dengan profesional dan tanpa biaya tambahan… Sesuai standard kualitas yang tinggi, sehingga semua furniture terpasang rapi tanpa cacat. Itu mengapa, saya merasa furniture INFORMA tidaklah mahal, sepadan dengan kualitas produk dan pelayanan yang diberikan.

Dan akhirnya, inilah penampakan kamar anak-anak setelah bunkbed dan pernak-perniknya ditata…
    • Bunkbed super inovatif INFORMA yang menggabungkan fungsi tempat tidur, tangga, meja belajar, laci penyimpanan dan lemari pakaian yang sementara belum difungsikan karena digunakan sebagai ruang rahasia 😂. 




    • Set meja kursi berbahan besi INFORMA yang kokoh dan berwarna cerah untuk tempat belajar dan aktivitas lainnya
    • Whiteboard untuk beajar dan papan pengumuman untuk menempelkan informasi penting.
    • Jam dinding besar agar anak-anak belajar membaca waktu.
    • Wall sticker agar dinding terkesan lebih ceria.

    So, bagaimana menurut teman-teman? Keren kan? Seperti halnya anak-anak, saya pun excited dengan kamar ini. Kesannya anak-anak banget, ceria, dan fungsional. Anak-anak pun betah dan misi membuat mereka berani tidur sendiri terwujud! 

    Saya dan suami akhirnya bisa punya kamar sendiri lagi deh! 😉

    With Love,
    Nian Astiningrum
    -end-

    Monday, July 31, 2017

    Ooh, I Feel Underappreciated!

    Exactly! Itulah yang saya rasakan pasca ujian pelaksanaan proyek sebagai tugas pasca diklat di kantor untuk kenaikan (sebut saja) peringkat.

    Disclaimer: ini tulisan curhat. Tulisan ini jujur, tapi harap dimaklumi jika (mungkin) sedikit lebay dan dramatis 😂

    Bukannya ga lulus… Lulus sih, tapi sebenarnya saya berharap respon yang lebih 'menantang' dari penguji atas proyek saya ini. Karena, saya bukan sekedar mengerjakannya sebagai syarat kelulusan, tapi dengan passion… Bukan kenapa-kenapa, bukan sok-sok-an banyak waktu juga… Tapi, memang sudah bawaan saya perfeksionis dan cenderung malas mengerjakan sesuatu yang tidak sesuai standard saya. Jadi, daripada jadi proyek mangkrak, lebih baik dikerjakan bener-bener saja…


    Saya berusaha merancang dan mengerjakan sebuah proyek yang (memang) tidak bisa dibilang mahakarya sih, tapi menurut saya cukup original, unik dan ditulis dengan jelas.

    Saya membuat suatu metode pengembangan kemampuan kepemimpinan pegawai dengan basis kepribadian. Karena menurut pengamatan saya selama kurang lebih 8 tahun sebagai admin SDM, pengembangan soft skill yang dilakukan di perusahaan lainnya baru dikaitkan dengan dengan kompetensi yang dibutuhkan. Misalnya; orientasi pelayanan pelanggan, kepemimpinan, dan sebagainya. Selanjutnya, maka pengembangan dilakukan tanpa memperhatikan latar-belakang kepribadian seorang pegawai.

    Hmm, agak sulit dipahami ya… Hmm, kira-kira begini…

    Jadi, pada saat seseorang dinilai memiliki (misalnya) aspek pelayanan pelanggan yang rendah, sebenarnya akan sangat bermanfaat bagi seorang pengelola SDM untuk melihat kepribadian yang melatarbelakangi perilaku tersebut. Misalnya; sikap kurang ramah, hanya sekedar menjawab pertanyaan dari pelanggan tapi tidak berusaha mencari tahu kebutuhan pelanggan lainnya; bisa jadi hal ini disebabkan karena:
    • orang tersebut cenderung cuek dan lebih suka bermain-main,
    • orang tersebut cenderung pemalu, sehingga membatasi interaksi seperlunya saja,
    • atau malah orang ini merasa kalau pekerjaannya kurang menantang, pengennya cepet selesai, pengen merasa lebih produktif, dan sebagainya…

    Jadi, pada saat seorang yang dinilai kurang memiliki kemampuan pelayanan pelanggan yang baik lalu kemudian dipukul rata diberikan pelatihan pelayanan pelanggan; seperti menyapa pelanggan dengan ramah, memberikan pelayanan yang cepat, dan sebagainya; berusaha membekali mereka dengan pengetahuan dan keterampilan… Bukannya tidak bermanfaat, tapi sangat mungkin hal itu akan kurang efektif, karena tidak semua dilatarbelakangi ketidaktahuan atau kekurangterampilan, tapi bisa jadi karena sesuatu yang mendorong dalam diri mereka. Dan itu adalah 'kepribadian'… Sehingga treatment yang perlu diberikan pun akan lebih efektif jika disesuaikan dengan 'kepribadian' ini. 

    Masuk akal bukan…

    Lebih lanjut, mengapa kemudian saya secara spesifik memilih sasaran atasan dan menyasar kemampuan kepemimpinannya adalah tidak lain karena saya melihat hal ini adalah sesuatu yang sangat strategis dalam perusahaan. Selama 8 tahun mengurusi hal berkaitan dengan SDM, saya merasa bahwa berhasil tidaknya suatu program, bagaimana seorang pegawai di bawah suatu organisasi akan dikembangkan, bagaimana keputusan strategis akan diambil, sampai dengan urusan motivasi kerja bawahan; semuanya ditentukan oleh seorang atasan.

    Dan dalam banyak kasus, seorang atasan tidak mampu 'berfungsi' dengan baik karena kendala berkaitan dengan kepribadian seperti yang saya ceritakan di atas. Ada kalanya karena hal ini menghambatnya dalam melakukan suatu tindakan yang seharusnya dilakukan, atau bisa juga ketidakpahaman akan kepribadiannya justru membuatnya berjarak dengan bawahan. Dimana yang kedua ini tentu juga akan mempengaruhi efektivitas kepemimpinannya.

    It's like something, isn't it? Sesuatu yang menurut saya bisa membawa pengelolaan SDM yang ada di unit kerja saya ke level yang lebih tinggi. Lebih dari sekedar formalitas atau tembakan-tembakan random ke segala arah yang tidak efektif. Sesuatu yang terasa begitu effortful tapi low impact. Ya, ini bahasa ekstrimnya saja sih, bukan berarti benar-benar bahwa pengelolaan SDM yang sekarang benar-benar tanpa arti… bukan! Tapi, saya benar-benar ingin menunjukkan bahwa kita bisa lho bergerak ke tingkatan yang lebih tinggi! Sekarang! Dengan ide dan willing kita sendiri… Tanpa menunggu petunjuk atau instruksi dari level organisasi yang lebih tinggi.

    Terdengar dramatis ya… tapi memang begitu lah adanya 😂. Saya benar-benar menganggap serius proyek ini! I put all my heart and soul to do it lah pokoknya. Bukan sekedar sebagai syarat kelulusan…

    Dan saat para penguji bahkan tidak memahami memahami apa yang saya tulis, tapi tidak berusaha mencari tahu dan justru memberikan komentar atau pertanyaan. Saya memang lulus, tidak perlu mengulang diklat dua minggu yang penuh perjuangan dengan membawa anak + pengasuh, mendatangkan ibu saya untuk menjaga si Kakak, dan sebagainya… Tapi ada rasa kurang puas dalam hati saya.

    I feel underappreciated

    Sedih…

    Tidak puas…

    Kecewa…

    Merasa kerja keras saya tidak terbayar lunas…

    Saya berharap para penguji paling tidak membuka diri untuk memahami apa yang saya kerjakan, bukan sekedar mencari celah yang kurang krusial untuk dipermasalahkan karena harus ada sesuatu yang dipermasalahkan di dalam ruang sidang. Baiklah, jika memang itu sesuatu yang harus diperbaiki, saya setuju, saya akui dan akan saya perbaiki; so let's move to another point.

    Berkali-kali saya memberikan sinyal ini, berharap bahasan beralih ke sesuatu yang lebih 'seru', but failed… Mengenai format penulisan yang dikupas berulang-ulang meskipun saya sudah menerima untuk melakukan perbaikan, tentang data kualitatif yang dianggap kurang objektif yang sudah saya jelaskan tentang cara berpikirnya, dan beberapa hal lain. Harapan bahwa mereka akan menengok pada cara assessmen kepribadian yang saya gunakan, cara penentuan pengembangan yang saya rekomendasikan, bagaiman tanggapan responden yang sudah terlibat dalam proyek ini, hingga dampak dari proyek ini; tidak sedikit pun disentuh…

    Saya kecewa sih… jelas kecewa…

    Tapi saya tidak menyesal, karena saya merasa ini sama sekali tidak sia-sia! Seperti yang saya bilang, mengapa saya bersusah payah mengerjakan tugas ini, bukan sekedar untuk sebuah sertifikat kelulusan. Saya melakukannya sesuai dengan passion, standard, idealisme dan harapan saya. Tidak ada yang sia-sia disini; saat saya merasa puas dengan hasil kerja saya dan merasa bahwa proyek ini bisa menjadi batu loncatan untuk meraih idealisme dan harapan saya. I'll keep doing it; untuk diri saya sendiri dan untuk orang-orang di sekitar saya…

    Begitu kira-kira…

    Bagaimana menurut teman-teman? Pernah merasakan hal yang sama? Merasa hasil kerjanya kurang dianggap serius dan kemudian bete? Yes, it feels so bad! Rasanya nyebelin, tapi, jangan menyerah dan nglokro dalam istilah Jawa. Jika itu memang bermanfaat untuk diri kita dan orang di sekitar kita, kenapa harus mengambil pusing pendapat dan apresiasi beberapa orang?

    Setuju kan?

    With Love,
    Nian Astiningrum
    -end-

    Tuesday, July 25, 2017

    Once Upon A Time in Bali With 5 and 2 Year Old Kids...

    Pernah suatu kali saya berkelakar dengan suami, "Wajar lah ya, beberapa orang memandang kita ini cukup tajir padahal sebenarnya penghasilan sama aja… Lha wong kita ini ga pernah liburan kaya orang-orang… Coba aja bayangin, ga usah ke luar negeri deh, ke luar kota aja kalo memang niatnya memang liburan, yakin deh pasti banyak keluar duit…"

    Dan suami hanya nyengir…

    Bukannya kepengen liburan sih, karena memang saya tidak terlalu suka traveling. Menurut saya, traveling itu ribet. Saya lebih suka ngendon di rumah atau jalan-jalan ke tempat yang dekat untuk menghabiskan hari libur. Dan suami pun sepertinya begitu. Dia tidak terlalu berhasrat untuk menghabiskan waktu untuk liburan. Baginya alasannya sepele dan tidak terbantahkan. Tidak ada waktu. Titik. Haha…

    Dan begitulah waktu berjalan hingga 6 tahun pernikahan kami, tidak sekali pun benar-benar traveling untuk liburan. And we feel fine… Sampai pada suatu hari, timbul juga hasrat untuk merencanakan liburan berempat gara-gara momen Garuda Travel Fair tahun 2016. Yes, pada hari itu, di luar kebiasaan, kami bersedia berdesak-desakan untuk mencari tiket liburan pertama kami, yang akhirnya kami putuskan ke Bali.

    Awalnya, kami berencana untuk berangkat pada bulan Januari, sebelum usia Mahesh 2 tahun demi menghemat tiket pesawat. Tapi karena bentrok dengan acara pernikahan sepupu, akhirnya dimundurin. Walaupun akhirnya nikahan sepupu pun kami tidak bisa hadir karena saya kena flu parah sampai harus bed rest… Dan liburan ke Bali yang direncanakan di Bulan Maret pun musti reschedule ke Bulan April karena Mahesh yang sakit, yang berarti menambah cost lagi. Sehingga harga tiket kami berasa benar-benar ga promo lagi, hiks… Kalau dipikir dari sisi materi, sebenarnya ini jadinya ga fun lagi… But it's OK lah, sekali-sekali ini kan, harus sehat semua biar bisa benar-benar dinikmati bersama.

    Dan akhirnya tibalah kami di Bali 12 April 2017…


    Kami menginap di The Kuta Beach Heritage Bali yang berlokasi di seberang Pantai Kuta, tepatnya di Jl. Pantai Kuta, Br. Pande Mas. Kuta, Badung 80361. Bali-Indonesia. Sebagai seorang yang (seingat saya) ga pernah merasakan hotel yang premium, hotel ini sangat reccomended menurut saya. Lokasinya yang sangat dekat dengan pantai kuta, membuat suasana terasa syahdu oleh deburan ombak, meskipun kadang terdengar juga suara alunan konser musik yang diadakan di sekitar hotel –tapi, tenang, ga sampai berisik kok.

    Selain lokasi; yang paling OK dari hotel ini adalah sarapannya yang enak, bervariasi dan tempatnya di dekat kolam renang outdoor di lantai atas! Ini keren! Karena kami bisa main-main air dulu dan langsung lanjut sarapan.

    Oh ya, tapi ada satu masukan untuk hotel ini, untuk pintu masuk dari belakang ada baiknya dipasang penunjuk arah. Saat datang, kami sempat cukup lama kebingungan mencari tempat check in, yang ternyata dikarenakan kami salah masuk lewat pintu belakang! Yah, seharusnya, jika itu memang pintu belakang, karena lokasinya di pinggir jalan, akan sangat membantu jika diberikan penunjuk arah tempat check in. Dah itu aja minusnya, lainnya cukup OK.

    Tempat favorit anak-anak di hotel, bathup!
    Dan kalau mereka sudah di sini, sibuklah saya cekrak-cekrek,
    soalnya desainnya eye catchy sekali :D
    Selama di Bali, setelah beristirahat semalaman, siangnya –iya, siang, karena anak-anak susah diajak buru-buru dengan segala excitement-nya– kami pun mulai petualangan kami menjelajahi Bali ke tempat-tempat berikut ini:

    Bali Safari & Marine Park


    Yeay! Day one, kami akhirnya memutuskan untuk ke Bali Safari & Marine Park yang berlokasi di Jl. Bypass Prof. Dr. Ida Bagus Mantra Km. 19,8, Serongga, Kec. Gianyar, Kabupaten Gianyar, Bali 80551.

    Ada beberapa wahana dan atraksi yang bisa kita nikmati disini, dimana tiket bisa dibeli di masing-masing wahana/atraksi. Di sini, kami bersenang-senang dengan cara:
    • Memberi makan gajah! Jadi, disana kita bisa membeli makanan gajah dan memberikannya dengan dipandu oleh mbak dan mas pawang gajahnya.
    • Mengelilingi taman safari dengan mobil. Ini pertama kalinya kami berwisata seperti ini, jadi rasanya benar-benar seru; melihat binatang-binatang bebas di area yang luas, sampai sempat berhenti untuk menunggu seekor gajah lewat. Lalu heboh pada saat mobil melewati  semacam kolam berair dan tentu saja excited dengan binatang-binatang yang ada di sana.
    • Berfoto dengan gorila! Tentu saja dengan bantuan mbak dan mas pawang di sana. Ambil fotonya juga bayar, tapi it's OK, kan untuk pengelolaan binatangnya juga.
    • Melihat atraksi hewan terlatih. Waktu itu, atraksi yang kami lihat adalah atraksi burung elang.
    • Melihat ikan dan hewan air dalam akuarium. Yang spesial sebenarnya adalah atraksi memberi makan ikan piranha, yang kami lewatkan, karena anak-anak sudah kecapekan. Yes, anak-anak tidak bisa ditawar, jadi marilah kita pulang…
    Ubud Monkey Forest


    Di hari kedua, kami memilih Ubud Monkey Forest yang berlokasi di Jl. Monkey Forest, Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali 80571 sebagai tujuan.

    Di sepanjang jalan dari parkiran menuju lokasi, kanan-kiri terdapat berbagai macam restaurant dan tempat makan, yang rata-rata bercita-rasa bule. Sehingga kami menyimpulkan bahwa tempat ini lebih banyak dikunjungi wisatawan asing daripada lokal.

    Dan benar saja, sampai di sana mayoritas pengunjung adalah turis asing. Tapi, meskipun bukan bule, saya suka tempat ini! Suasananya hutan banget! Cuma, bagian agak ngerinya adalah saat ada monyet yang mendekat dan mau mengobrak-abrik kantong bagian bawah stroller Mahesh! Padahal ya, kami sudah mengindahkan peringatan yang diberikan dengan tidak membawa makanan ke dalam area. Eh, ternyata, monyet-monyet ini mengincar botol air mineral yang kami taruh disana 😅.

    Di sini kami bersenang-senang dengan cara:
    • Berpetualang menjelajahi hutan dan kuil kuno ala-ala film juglebook. Beneran mirip! Karena disini kan ada monyetnya juga, jadi serasa berada di area monkey temple gitu.
    • Memberi makan monyet –tentu saja dengan makanan yang bisa dibeli di lokasi– tapi dilarang ya memberi makan monyet dengan makanan dari luar, untuk menjaga kesehatan monyet-monyet disana.
    • Menikmati kuliner bule yang ada di sepanjang jalan dari parkiran menuju lokasi. Tapi ini musti hati-hati, perlu tanya dulu apakah halal atau tidak.
    Bulih Bali Turtle Park


    Hari ketiga, setelah menimbang beberapa alternatif, akhirnya kami memutuskan berkunjung ke Pulau Penyu di Tanjung Benoa. Untuk mencapai lokasi Pulau Penyu, kami harus menyewa kapal boot yang akan mengantar kami berangkat dan pulang kembali dari pulau.

    Di sana, kami bersenang-senang dengan cara:
    • Naik kapal boot menuju pulau penangkaran penyu yang cukup seru karena kecepatan dan air yang terciprat-ciprat ke arah kami, lalu makan ikan –bukan penyu ya– dengan roti yang sudah disediakan oleh penyewa.
    • Melihat dan berfoto dengan penyu yang super besar –walaupun kami ragu juga, apakah dia tidak merasa terganggu karena berkali-kali diangkat ke tepi pantai.
    • Melihat hewan-hewan lain seperti burung yang juga dipelihara disana.
    Sebenarnya, secara pribadi ada hal yang kurang saya sukai dari tempat ini; pertama perlakuan pada hewan yang menurut saya kurang lembut dan hewan-hewan selain penyu yang kandangnya kurang terawat. Dan kedua, karena pengelolaan dan pelayanannya yang kurang profesional. Jadi pada saat datang ada guide yang mengantar kami menjelajahi area, yang bukannya tidak ramah atau baik, guide-nya baik, cuma kesannya terburu-buru dan grusah-grusuh.

    Well, semoga suatu hari kesini lagi, tempat ini jauh-jauh lebih baik…

    Pantai Pandawa


    Masih di hari ketiga, sorenya bertolak dari Pulau Penyu, kami langsung menuju Pantai Pandawa yang berlokasi di Jl. Pantai Pandawa, Nusa Dua, Kutuh, Kuta Sel., Kabupaten Badung, Bali 80361. Awalnya saya kurang ngeh kenapa pantai ini diberi nama Pandawa, namun saat memperhatikan jalan menuju pantai di tepi gunung batu yang diukir membentuk tokoh Pandawa Lima, baru saya tahu. Patung ini sendiri sepertinya baru dibuat alias bukan peninggalan kuno, yup, tempat wisata ini memang tergolong baru!


    Yang paling menyenangkan dari pantai ini adalah ombaknya yang relatif aman karena adanya tanggul yang sengaja dibuat. Karena itu, anak-anak pun bisa bermain kano dan berenang di tempat ini, dengan tentu saja tetap di bawah pengawasan orang dewasa.

    Dan di sini, kami bersenang-senang dengan cara:
    • Bermain air di pinggir pantai! Klise sih, tapi tetap saja menyenangkan! Apalagi saat si Mahesh memang susah bener dirayu untuk main agak ke tengah. Jadilah kami main air di pinggir pantai sambil menunggu papa dan kakaknya pulang main kano.
    • Main kano! Karena pantainya memang kondusif, banyak pengunjung yang bermain kano yang disewakan disini.
    • Foto-foto dan menikmati langit sore yang indah pada saat pengunjung mulai berangsur pulang… Liat deh warna langitnya, gradasi biru, pink dan putihnya enak banget dilihat.

    3D Art Museum DMZ Bali


    Nah, hari terakhir di Bali, sebelum berangkat ke bandara untuk kembali ke Lampung, kami mampir ke 3D Art Museum DMZ Bali yang berlokasi di Jl. Nakula No.33X, Legian, Kuta, Kabupaten Badung, Bali 80361. Yang baru saat membuat tulisan ini, saya tahu ternyata adalah (semacam) franchise dari wahana yang sama di Korea.

    Gambar 3D di sini bagus! –Tapi ini review dari seorang yang belum pernah ke museum serupa sebelumnya sih–

    Di sini, kita bisa berfoto dengan berbagai latar gambar 3D yang membuat hasil foto kita benar-benar nyata –background terlihat nyata–.

    Kami cukup excited dengan gambar 3D yang disajikan, meski kurang bisa menikmati karena berkali-kali Ganesh kabur! Hingga kami terpaksa perang urat saraf dengannya setiap kali dia menghilang dengan alasan bosan. Dasar bocah kinestetik, susah bener disuruh diem! 😤


    Dan disini, kami bersenang-senang dengan cara:
    • Menikmati gambar 3D yang ada!
    • Berfoto dengan latar belakang gambar 3D tersebut! Untuk hal ini, di setiap scene ada panduan foto dan juga mbak-mbak yang dengan senang hati membantu mengarahkan dan mengambilkan foto untuk kami.
    • That's it. Wahana ini memang tidak butuh waktu lama untuk dieksplore, cukup sekedar mampir dan sebentar kemudian… selesai!
    Selain ke tempat-tempat wisata ini, kami sempat juga mampir ke rumah saudara sepupu yang tinggal di Bali. Sebentar sih, tapi lumayan lah buat ngobatin kangen… Sempat juga mampir ke galeri lukisan, yang setelah kebingungan panjang, akhirnya ada juga yang dibeli. Bukan karena tidak ada yang bagus, justru karena bagus-bagus, tapi juga terasa mahal bagi kami yang sejujurnya bukan konsumen seni. Oleh bli yang mendampingi kami, sebenarnya sudah dibilang kalau kami boleh menawar, cuma, karena merasa ga ngerti seni, takut mau nawarnya… takut kurang menghargai seni gitu…


    Total empat hari kami berada di Bali bersama dua anak berusia 5 dan 2 tahun, hanya lima tempat wisata yang bisa kami kunjungi dan hampir kesemuanya berbau binatang dan main air. Bukan tanpa alasan, tentu saja semuanya demi semua bisa menikmati liburan kali ini. Karena menurut perkiraan kami, anak-anak tidak akan terlalu tertarik dengan wisata semacam pura, melihat tari-tarian, dan sebagainya. Dan benar bukan, di tempat terakhir yang kami kunjungi, rasanya benar-benar effortful untuk membuat anak-anak mau foto-foto sesuai keinginan kami. Karena sukanya mereka di tempat seperti ini ya lari-larian 😂.

    Dan finally, sebagai kali pertama kami liburan bersama, berikut adalah hal-hal yang kami rasa perlu diperhatikan saat akan mengajak anak-anak (di bawah 5 tahun) liburan bersama:
    • Persiapkan mental, setel kendo, jangan terlalu strict pada target… Namanya anak-anak, ada banyak kemungkinan waktu yang dibutuhkan untuk segala hal menjadi lebih lama dari perkiraan. Diajak bangun susah, diajak tidur susah, diajak mandi susah, diajak udahan mandinya juga susah. Belum lagi jika baru lanjut dari suatu tempat, kemudian minta pipis, sehingga perlu melambatkan kendaraan mencari SPBU terdekat… dan banyak lagi. Just be prepared for that
    • Pilih tujuan wisata yang menyenangkan bagi anak. Karena, tentu saja kita ingin anak-anak juga menikmati liburan bukan? Selain, kalau anak-anak tidak tertarik dengan tempat tertentu, mereka cenderung bosan, kurang kooperatif dan akhirnya kita juga bete sendiri. Dan kalau dalam cerita kami, itu tidak jauh dari yang namanya binatang-binatang dan main air…
    • Di setiap pemberhentian, ajak anak-anak pipis… Lebih baik kosongkan tangki, dari pada harus dikeluarkan pada saat-saat yang kurang tepat; misalnya di jalan yang macet dan sebagainya.
    • Kondisikan anak-anak untuk tidur tepat waktu. Karena jika tidak, kita akan lebih sulit menyusun agenda hari berikutnya. Coba saja bayangkan, begitu bangun siang, acara persiapan akan menjadi lebih lama, bisa jadi pantai sudah jadi panas, kebun binatang sudah jadi ramai, dan sebagainya.
    • Bawa baju ganti, obat-obatan, susu dan keperluan anak lainnya. Ini standard sih…
    Sudah, itu saja catatan kami dalam perjalanan ini. Dan semoga nanti akan ada kesempatan lagi untuk liburan bersama, lebih baik daripada liburan tahun ini. Amin.

    That's it… bagaimana dengan teman-teman? Memiliki cerita liburan seru bersama anak juga?

    With Love,
    Nian Astiningrum
    -end-

    Monday, July 10, 2017

    Ganesha's First Innocence Lie

    Pada suatu hari…

    "Anesh… Anesh tahu enggak kenapa headset Papa ini miring?" pada suatu hari suami saya bertanya pada Ganesh dengan serius sambil memperlihatkan colokan headset yang terlihat miring karena kena panas sehingga plastiknya terkena panas.

    Ganesh kemudian tampak memperhatikan headset yang dimaksud suami saya sejenak dan kembali mengalihkan perhatiannya pada hal lain. 

    "Anesh panasin headset Papa pake korek enggak?" lanjut suami saya bertanya, karena beberapa hari terakhir Ganesh memang terlihat asyik bermain dengan korek gas. **Iya, ini bahaya, dan kami beberapa kali memperingatkannya** 

    Kemudian Ganesh tampak terdiam, lalu menjawab, "Iya. Anesh panasin pake api di kompor…" Dan kami hanya berpandangan… 

    "Anesh, lalu kalo mainan Dusty kemarin sebenarnya keinjek atau digunting sih sama Anesh?" Lanjut saya bertanya pada kasus lain, dimana sebelumnya Ganesh mengaku bahwa mainan Dusty (dari film Planes) miliknya patah rodanya karena terinjak, sementara dua pengasuh kami bilang kalau itu digunting oleh Ganesh. 

    Sejenak Ganesh kembali terdiam, kemudian menjawab, "Iya, Anesh gunting…" sambil nyengir ke arah saya. ***


    Pada hari yang lain… Ganesh saya beri tugas untuk mengantarkan kado untuk seorang temannya yang berulang tahun. Detail tugasnya adalah,

    "Anesh ketok pintu rumah Aurel ya… bilang sama om atau tante yang bukain pintu, kalo Anesh mau ketemu Aurel… terus kasih deh kadonya… Atau, kalau Aurel-nya ga ada, Anesh titipin ke om atau tante di rumah Aurel… bilang, ini kado buat Aurel sama Dave…"

    Well, saya tahu… Ganesh sebenarnya segan melakukan tugas ini, karena beberapa kali dia bolak-balik lagi ke rumah. Katanya malu! Tapi, terus saya dorong hingga akhirnya dia kembali ke rumah tanpa kadonya, yang ternyata dia tinggal saja di depan rumah Aurel. Lalu saya dorong lagi, hingga kemudian dia pulang tanpa kadonya…

    Saya pun bertanya untuk memastikan,

    "Anesh, kadonya sudah dikasih?"

    "Udah…" jawabnya.

    "Dikasih sama siapa?"

    "Anesh taruh di depan rumah Aurel" jawabnya.

    "Anesh, kalo Anesh taroh di depan rumah aja, Aurel-nya mana tau kalo itu dari Anesh…"

    Well, sebenarnya saya sudah kasih tulisan di kadonya sih, saya memintanya memberikan kadonya pada Aurel atau papa-mamanya langsung untuk mengajarinya (sebut saja) bersosialisasi dan bersopan-santun.

    "Anesh balik kesana lagi ya… Anesh ketok pintu rumah Aurel, lalu kasih kadonya sama Aurel atau papa-mamanya… siapa aja deh yang bukain pintu… Bilang kalau kadonya untuk Aurel dan Dave…"

    Dan setelah sesi memotivasi yang panjang, disertai sedikit pemaksaan akhirnya Ganesh mau kembali ke rumah Aurel untuk menyerahkan langsung kadonya.

    Beberapa saat kemudian, dia kembali pulang ke rumah…

    "Udah Anesh ketok pintunya? Terus sama siapa Anesh kasih kadonya?" Tanya saya.

    "Udah. Anesh kasih sama Papa Aurel. Katanya Aurel sudah tidur. Tadi mamanya ngintip aja dari jendela." Jawab Ganesh.

    Hmm, mission complete! Ganesh berhasil memberikan kadonya!

    Iya, saya berpikir seperti itu. Sampai akhirnya menerima whatsapp dari Mama Aurel, bilang makasih plus cerita kalo dia kaget ada bungkusan di garasi rumahnya. Yang itu berarti, 'dibohongi' lagi sama Ganesh. Saya benar-benar shock dan terpukul 😭

    ***

    Yes, he's getting smarter! Saya benar-benar tidak menyangka Ganesh bisa mengarang cerita yang sedemikian lengkap! Dia sudah bisa mengarang sebuah cerita yang cukup kompleks dan masuk akal, dia bisa menggabungkan antara imajinasi dan logika untuk membuat mamanya percaya.

    Literally, Ganesh memang berbohong. Sesuai definisi berbohong sebagai sebuah usaha untuk membuat seseorang mempercayai sesuatu yang tidak benar. Yes he did it! Tapi saya yakin bahwa dia tidak bermaksud seperti itu, saya yakin bahkan dia belum paham sudut pandang moral dari perilaku berbohong. Itu kenapa saya sebut itu 'innocence lie'… Ganesha's first innocence lie

    Sebagai seorang anak-anak, konsep dan pemahaman akan moralitas Ganesh belum lah matang dan kaya. Menurut penelitian beberapa ahli, sejak usia prasekolah, anak-anak mulai menilai sesuatu sebagai 'baik' dan 'buruk' melalui konsekuensi yang ditimbulkan dan juga intensi atau niat untuk melakukan tindakan tersebut. Tindakan memukul misalnya, adalah sesuatu yang buruk karena akan membuat anak lain kesakitan dan menangis. Namun, pada saat itu terjadi karena ketidaksengajaan, maka mereka akan membela diri, karena merasa tidak bersalah.

    Dan hal 'berbohong' ini saya rasa memang sesuatu yang cukup unik dan perlu dijelaskan dari hati ke hati dengan anak. Kenapa? Karena anak tidak akan secara langsung bisa memahami konsekuensi buruk dari berbohong… Berbohong tidak akan membuat seseorang sakit atau menangis kan… Anak mungkin cenderung berpikir bahwa tidak ada hal yang salah dari tindakan berbohong, sampai kita bisa memberikan penjelasan yang bisa diterima anak, dan dia setuju bahwa berbohong itu adalah tindakan yang buruk.

    Itu kenapa, pada awalnya saya mengira akan kesulitan menjelaskan pada Ganesh bahwa tindakan berbohong itu tidak baik. Tapi, ternyata saya salah!

    Saat saya mengajaknya berbicara…

    "Ganesh, sini deh…" kata saya sambil berusaha mempertahankan wajah serius dan menahan tawa.

    "Kenapa mama?" Tanya Ganesh.

    "Tadi barusan Mama Aurel SMS lho…" kata saya sambil memperhatikan mimik muka Ganesh. Dimana dia sepertinya belum tahu arah pembicaraan saya. "Anesh, tadi kadonya ditaruh di depan rumah Aurel kan? Bukan dikasih ke Papa Aurel?"

    Dan kemudian Ganesh hanya cengar cengir sambil semakin mendekati saya…

    "Anesh, itu namanya bohong ga boleh lho…" lanjut saya berusaha memperlihatkan mimik yang semakin serius dan sedikit 'horor'.

    "Emang kenapa?" tanya Ganesh polos…

    "Anesh, bohong itu kan bikin orang lain sedih lhoMama sedih lho Anesh bilang kalo kadonya sudah dikasih sama Papa Aurel padahal sama Anesh ditaruh di depan rumah ajaAnesh sedih ga, kalau misal Anesh minta tolong mama simpenin mainan Anesh di lemari, terus mama bilang 'iya', tapi ternyata mama taroh sembarangan aja?"

    Ganesh terdiam.

    "Anesh janji jangan bohong lagi ya sama mama… " lanjut saya sambil memeluknya, sembari juga berjanji pada diri sendiri untuk mengurangi marah-marah padanya, karena saya pikir intensitas kami marah dan mengomel padanya adalah salah satu pendorong mengapa Ganesh akhir-akhir ini suka 'berbohong'.

    Saya pikir, setelah pembicaraan ini akan dibutuhkan penjelasan-penjelasan lain pada Ganesh berkaitan dengan tema 'berbohong'. Saya pikir, setelah ini dia akan masih melakukan 'kebohongan-kebohongan' karena belum benar-benar memahami bahwa berbohong adalah sesuatu yang tidak baik. Saya bahkan masih memasang kuda-kuda setiap kali Ganesh bercerita atau mengatakan sesuatu, karena berpikir bahwa dia akan 'berbohong' lagi.

    Tapi, ternyata saya salah. Setelah pembicaraan itu, saya tidak lagi mendeteksi adanya kebohongan dalam perilaku Ganesh. Saya cukup yakin lah kalau Ganesh memang tidak berbohong lagi, karena kan 'bohong'-nya anak kecil itu relatif lebih mudah terdeteksi 😄.

    Yah, demikianlah cerita Ganesh kali ini.

    Dan dari kejadian ini, ada beberapa hal yang menjadi pembelajaran bagi kami sebagai seorang orang-tua:
    • Anak kecil, kecerdasan mereka berkembang dengan sangat-sangat pesat. Bersiaplah pada suatu saat kita akan terkaget-kaget dengan kepintaran mereka, dalam kasus kami adalah bagaimana Ganesh bisa 'berbohong' sedemikian meyakinkan. Jadi, adalah wajib kita selalu peka, waspada dan selalu update dengan informasi mengenai tumbuh-kembang anak seusia mereka. Jangan sampai lengah! 
    • Yes, anak-anak seusia Ganesh (kurang lebih 6 tahun, usia pra-sekolah) walaupun tampak telah memiliki penalaran yang baik, namun belum memilki konsep yang matang mengenai moralitas. Adapun perilaku buruk yang mungkin mereka lakukan, seringkali tidak disertai pemahaman akan dampaknya pada orang lain. Jadi, ya tugas kita sebagai orang-tua untuk memberikan pemahaman kepada mereka.
    • Saat memberikan pemahaman kepada anak pra-sekolah mengenai aspek moralitas lebih banyak sentuh pengaruh dari suatu perilaku pada orang lain, entah pada fisik atau psikis orang lain. Misalnya tindakan memukul akan membuat orang lain sakit, atau tindakan membentak akan membuat sedih orang lain. Menurut saya, konsep 'dosa' masih terlalu abstrak dan sulit mereka mengerti, jadi belum saatnya digunakan.
    • Lebih sabar… Kurangi marah-marah atau ngomel-ngomel, karena itu akan menekan mereka untuk mencari jalan pintas supaya tidak kena marah atau omel. Ya, ini sulit, kami pun merasa sangat sulit dan seringkali kelepasan. Tapi, bismillah, bisa… bisa… dan kalau gagal terus lakukan lagi dan lagi. Plus, jangan lupa minta maaf, jelaskan pada anak saat kita kelepasan marah yang sekiranya berlebihan. Stress-nya anak-anak ya salah satu sumbernya dari sana. So, finger crossed
    Kira-kira seperti itu. Apakah teman-teman punya pengalaman yang sama?

    With Love,
    Nian Astiningrum
    -end-

    Tuesday, April 25, 2017

    Pengalaman Mengembalikan Barang di Blibli.com

    Hola teman-teman, apa kabar? Semoga baik-baik saja ya… Aminn…

    Sebagaimana wanita pada umumnya, berburu barang diskon adalah kepuasan tersendiri bagi saya. Jika dulu, sebelum mempunyai anak, saya masih bisa berburu diskon di berbagai pusat perbelanjaan konvensional; maka setelah memiliki anak, hal ini praktis tidak bisa saya lakukan lagi. Dan tentu saja alasannya adalah kegiatan ini terlalu banyak memakan waktu; mulai dari observasi ke berbagai toko, kemudian mencari dan mencoba ukuran yang pas (untuk baju), hingga akhirnya membeli. Hingga akhirnya saya pun beralih ke toko online untuk memuaskan kebutuhan dan hasrat saya berkaitan dengan belanja! Bukan cuma untuk barang-barang fashion, tapi juga perkakas kebutuhan rumah dan keperluan sehari-hari seperti sabun mandi 😂. Online shop really really my savior deh pokoknya… Disaat saya butuh sesuatu dan tidak bisa keluar terlalu lama, dan juga disaat saya butuh belanja sebagai refreshing di tengah hectic-nya kerja di kantor dan di rumah.

    Nah, belanja online tentu bukannya tanpa risiko ya… Mulai dari risiko barang yang tidak sesuai foto dan deskripsi sampai kerusakan dalam perjalanan kita. Nah, karena itulah, ada beberapa tips belanja online yang perlu kita ikuti, dimana menurut pengalaman saya pernah saya tulis di sini: TIPS BELANJA ONLINE ALA-ALA SMART SHOPPER


    Dan disini, saya ingin bercerita tentang pengalaman yang cukup mengesankan saat mengembalikan barang di Blibli.com. Well, ini saya sebut merek bukan karena ini sponsored post ya… Saya menulis ini, semata karena benar-benar merasa terbantu dengan layanan pengembalian barang Blibli.com dan juga apresiasi atas kinerja Customer Care-nya. Penasaran? Here it is the story

    Jadi, waktu itu saya memesan sebuah tempat beras dengan merek Tupper*are dari salah satu merchant di Blibli.com. Mungkin beberapa teman akan berpendapat, alangkah isengnya saya, beli Tupper*are pun pakai online segala, secara yang jualan konvensional juga banyak! Iyaa, yang jualan konvensional banyak, cuma mereka paling banter kan kasih diskon 20% dari harga katalog… Sementara ini, diskon dari merchant aja sudah lebih dari 20%, terus ditambahin diskon dari Blibli.com-nya 20% lagi, gimana ga tertarik coba? Apalagi harga tempat beras ini lumayan banget, sekitar 600 ribuan di katalog, yang kalau ga lagi diskon, kayaknya saya bakalan berpikir puluhan kali deh mau beli barang ini.

    OK. Dan transaksi pun terjadi… barang dikirim tepat waktu… tapi, setelah saya cek, ternyata ada bagian yang gompel dari pesanan saya. Yang saya yakin bukan karena pengiriman, karena gompelan-nya tidak saya temukan di dalam paket pengiriman.

    Hmm, whatever-lah, setelah saya pikir-pikir, mendingan saya kembalikan saja barang ini dan minta ganti produk sejenis… Atau jika tidak, mengingat belinya pada saat diskon dan hal ini tidak memungkinkan kecuali saya mau membayar kekurangan harga, di-refund juga cukup bisa saya terima.

    Dan mulailah saya mencari tahu tata cara pengembalian barang di Blibli.com ini… Buka-buka aplikasi mobile-nya dan ternyata, mereka punya menu pengembalian barang melalui aplikasinya. Di sana kita tinggal memasukkan alasan pengembalian barang, deskripsi, solusi yang diharapkan, foto produk, ketersediaan dihubungi oleh customer care seperti gambar di bawah ini.


    Lalu, setelah formulir dikirim, saya pun mendapatkan email dari customer care Blibli.com berisi nomor dan tata cara pengembalian produk. Setelah itu, besoknya, saya kirim deh barang tersebut lewat POS supaya gratis. Iya, Blibli.com bekerjasama dengan POS, sehingga kita tidak perlu membayar pengririman barang, padahal saat saya tanya petugas POS-nya, harga jasa pengiriman saya ini sampai 80 ribuan karena ukurannya yang besar. Dan kenapa saya iseng bertanya, karena saat itu memang sempat ingin membayar saja, karena sistem POS sedang gangguan… Yang untungnya tidak lama, sehingga saya bisa menikmati layanan gratis ini. Walaupun, menurut email yang saya terima dari Blibli.com, jika pun saya membayar, maka mereka akan mengganti ongkos kirim yang saya keluarkan.

    And then tiga hari kemudian saya mendapatkan email kembali dari Blibli.com, memberitahukan bahwa produk pengganti memiliki harga yang lebih mahal sehingga saya harus membayar kekurangannya atau jika tidak, penggantian produk akan diubah menjadi refund. Ya sudah, saya pikir jika memang tidak memungkinkan penggantian produk, ya refund saja. No problem

    Tapi, ternyata pada hari yang sama saya menerima email lagi bahwa proses penggantian produk saya sedang diproses dan akan dikirimkan segera. Lalu, saat saya cek akun saya melalui aplikasi mobile-nya; benar saja, ada history baru produk pengganti saya sedang diproses. Saya pun bertanya-tanya, apakah artinya merchant dan Blibli.com menyetujui penggantian produk saya?

    Dan ternyata benar sekali! Selang beberapa hari, saya mendapatkan notifikasi resi pengiriman produk, update proses pengiriman, dan tada… akhirnya produk pengganti saya benar-benar saya terima! Kali ini packing-nya lebih kokoh dan produknya pun bebas cacat! Whoa, saya benar-benar excited dan mengapresiasi Blibli.com beserta customer care-nya. Thumbs up!

    Nah, berdasarkan pengalaman retur barang (ini kali kedua saya retur barang di toko yang berbeda), hal-hal yang menurut saya penting dalam prosesnya adalah sebagai berikut:

    1. Segera setelah barang diterima, ambil foto pengemasan barang. Karena ini penting bagi pihak toko online menentukan kelayakan pengemasan yang mungkin menjadi permasalahan kerusahakan barang, jika alasan retur adalah cacat barang.
    2. Segera buka packaging, pastikan kondisi barang dan jangan dulu buang segala packaging dan pernak-pernik yang menyertai pengiriman barang. 
    3. Jika terdapat kerusakan, ambil foto kerusakan barang dimaksud sejelas mungkin.
    4. Cari informasi mengenai tata cara pengembalian barang melalui toko online tersebut. Ikuti semua langkahnya dengan benar agar proses retur barang dapat diproses secepat mungkin dan yang terpenting kita mendapatkan barang pengganti seperti yang kita inginkan.
    5. Pastikan prosedur pengembalian barang dilakukan sesegera mungkin untuk mencegah terlewatinya jangka waktu pengembalian barang.
    6. Selanjutnya sabar dan rajin memantau update proses pengembalian barang kita. Jangan sampai, melewatkan email atau telepon dari pihak toko online.
    That's all… tidak terlalu ribet bukan? Yah, walaupun rasanya tidak secepat pengembalian barang langsung ke toko konvensional, tapi mengingat waktu yang sudah di-saving karena proses belanja yang tidak sudah menghemat waktu… worthed lah masih belanja online ini. Meski, ya memang harus diakui, inilah salah satu kelemahan dari online shopping, dimana proses transaksi kita relatif memerlukan waktu yang lebih lama dan bahwa kita tidak bisa memastikan produk belanjaan kita secara langsung seperti pada saat belanja di toko konvensional.

    That is my sharing friends… semoga bermanfaat… 😉

    With Love,
    Nian Astiningrum
    -end-

    Tuesday, April 11, 2017

    Membuat Bakso Sapi Sendiri!

    Byuh… Selama hampir dua minggu ini Mahesh si anak kedua sakit. Tiga hari pertama demamnya, saya sudah membawanya ke dokter, dan menurut diagnosa dokter dia hanya terkena radang tenggorok dan flu saja. So, I guess, nothing to worry… Dan benar saja, hari berikutnya demamnya seharian sudah hilang dan dia sudah ceria kembali dan bermain seperti biasa. 

    Amannn… itu pikir saya… Sampai hari berikutnya, ternyata dia kembali demam, datang dan pergi seiring hilangnya efek obat penurun demam, hingga tiga hari kemudian, dan saya pun kembali membawanya ke dokter…

    "Ga ada gejala penyakit berat kok Bu. Yang keliatan hanya radangnya saja… Besok atau paling lambat lusa, jika demamnya tidak kunjung reda, baru kita test darah ya…" begitu penjelasan dokter kali kedua ini. "Tapi Dok, kan demamnya sejak udah lebih dari seminggu kalau dihitung dari pertama kali kemarin itu… Ya, memang sempat reda sampai dua hari sih demamnya," kata saya kemudian, karena saya pikir hari ini lah Mahesh harus test darah. "Hmm, jadi kan Adek sempat turun demamnya ya, dan ini baru hari kedua demamnya, jadi untuk pemeriksaan darah menurut saya belum urgent dilakukanApalagi, menurut pemeriksaan saya, Adek ini hanya radang tenggorok dan batuk pilek saja. Nah, Adek ini kan berat badannya kurang, jadi wajar jika dia gampang sakit…" begitu penjelasan dokter panjang lebar; yang membuat saya sedikit tenang, tersadar urgensinya mengembalikan berat badan Mahesh ke kisaran normal dan juga bersemangat untuk berusaha keras untuk itu!

    Nah kan, kaya ga ada korelasinya dengan judulnya, 'Membuat Bakso Sapi Sendiri!' 😃

    Heit, ada ya… Ada ya teman-teman… Benang merahnya adalah di bersemangat untuk menaikkan berat badan Mahesh kembali ke kisaran normal! Yes, karena keinginan itulah, akhirnya sejak hari Sabtu pun saya sudah berencana untuk membuat sesuatu olahan makanan yang kemungkinan akan disukai Mahesh, yaitu bakso sapi. 

    Kenapa bakso sapi? Hmm, sebenarnya bukan karena Mahesh suka bakso sapi sih… Dan selama ini dia malah cenderung tidak terlalu tertarik dengan Bakso Sony yang dulu sering kami stok di rumah. Tapi, karena berpikir bahwa jika tekstur si bakso lebih empuk dan rasanya lebih light Mahesh akan suka… Lalu mengingat tingginya protein pada daging sapi yang jelas mendukung visi dan misi saya menaikkan berat badan Mahesh… Saya pun bertekad bulat akan mewujudkannya Sabtu ini!

    "Emang kamu bisa bikin bakso Nian?" tanya seorang teman terkagum-kagum dengan niat saya. Yang lantas saya jawab, "Yaelah Mbak, tahun berapa lah ini, tinggal buka hape, keluar deh itu resep bakso dari Sabang sampai Merauke," dengan wajah serius.

    Yes, ini percobaan pertama, tapi saya sangat optimis, saya akan berhasil! Cukup ikuti resep dari website yang kredibel soal masak memasak. Which is justtryandtaste.com, situs yang seringkali saya kunjungi untuk mencontek resep berbagai masakan, karena langkah-langkah dan penjelasannya yang mudah dipahami. Mbak Endang, sosok di bali JTT memang tidak diragukan lagi kredibilitas resep-resepnya, mengingat beliau sudah menghasilkan beberapa buku resep masakan dari hobi memasak dan menulisnya.

    Then, back to proses membuat bakso sapi sendiri… Setelah sempat kebingungan mencari baking soda saat belanja bahan… **karena di resep dibutuhkan baking powder dan baking soda, sementara saya hanya nemu baking powder** Juga setelah kehebohan, karena saya menyalakan food processor tengah malam, yang menuai protes dari suami dan juga akhirnya Mahesh terbangun. **Saya rasa, ibu-ibu pasti tahu lah jalan pikiran saya sampai nekat memulai masak tengah malam… Yang tidak lain adalah karena menunggu anak tertidur 😅** Akhirnya, Sabtu pagi (01-04-2017) sebelum semuanya terbangun, bakso sapi buatan sendiri pun tereksekusi! Walaupun dengan kekurangan di sana sini. 

    Tada… 


    Akhirnya bakso sapi home made ala saya jadi juga! Kalau menurut suami saya, "Rasanya enak! Cuma mungkin karena kita terbiasa dengan tekstur bakso yang padat dan kenyal, jadi kesannya sedikit aneh…" Well, karena suami saya itu pelit kalo ngasih pujian ke istrinya, jadi saya simpulkan kalau bakso ini memang enak dan layak di-share resepnya😄. Sebagai berikut… 

    Bahan:

    ½ kgDaging sapi giling
    125 mlAir es
    1 sendok makanKecap ikan
    2 sendok tehGaram 
    7 siungBawang putih
    3 siungBawang merah
    1 butirTelur
    2 sendok makanTepung tapioka
    2 sendok tehBaking powder
    1 sendok tehGula pasir
    ½ sendok makanMinyak sayur
    1 sendok tehMerica bubuk

    Cara Membuat:
    1.Haluskan bawang putih dan bawang merah bersama garam agar lebih mudah halus.
    2.Campur hasil nomor 1 dengan kecap ikan, air es, telur, tepung tapioka, baking powder, gula pasir, minyak sayur dan merica bubuk secara merata.
    3.Campur hasil nomor 2 dengan daging giling, uleni hingga merata, diamkan sebentar, kemudian proses dengan food processor atau blender.
    4.Didihkan air, bentuk sedikit adonan dan masak hingga mengapung untuk mencoba rasa bakso setelah jadi.
    5.Jika kurang asin, bisa ditambahkan kembali garam atau kecap asin yang lebih mudah tercampur. Ulangi nomor 4 untuk mencoba kembali.
    6.Jika rasa bakso sudah pas, tutup baskom berisi adonan dengan plastik dan diamkan di dalam freezer selama 30 menit.
    7.Didihkan cukup banyak air dalam panci yang cukup besar dengan api yang kecil sehingga tidak sampai bergolak. Kemudian masukkan adonan yang setelah dibentuk bulat* ke dalamnya hingga matang (mengambang).

    Teman-teman, membentuk bakso ini ada teknik khususnya lho ternyata. Kalau saya sih dengan cara mencelupkan tangan ke air bersih, mengambil sedikit adonan, dan menggelinding-gelindingkannya pada kedua tangan hingga bentuknya cukup bulat… Which is, tidak terlalu efektif ternyata. Dan saya baru bahwa cara membentuk bakso dengan cepat adalah dengan menggenggam adonan dengan tangan yang sudah dibasahi dengan air, mengepalnya di atas panci berisi air, mengeluarkan adonan sedikit demi sedikit dan memanfaatkan sendok untuk membentuk/memotong adonan hingga menyerupai bakso.

    Yes, saya baru tahu saat suami turun ke dapur, terheran-heran dengan cara saya membentuk bakso dan kemudian mempraktekkan cara ini dengan bangganya. Well, tapi saya sih sama sekali ga merasa inferior dengan cara saya membentuk bakso kok, kalau kata Ganesh, "Kan orang itu beda-beda…" Hahaha, meski harus saya akui, cara yang diajarkan suami saya, yang saya bold dan underline itu memang lebih efisien 😁.

    OK, kembali ke resep bakso sapi… resep ini saya modifikasi sedikit dari resep aslinya di justtryandtaste.com karena keterbatasan alat dan bahan. Di antaranya; saya tidak menggunakan daging sapi yang digiling sendiri dengan air es, tapi menggunakan daging sapi giling. Saya juga tidak menggunakan baking soda, tapi hanya baking powder juga untuk menggantikan porsi baking soda. Dan juga, saya tidak cukup optimal mencampur adonan dengan food processor atau blender; karena food processor saya ternyata terlalu kecil dan blender  saya pun tidak cukup kuat, sehingga beberapa saat setelah digunakan berasap karena putarannya berat 😂.

    Tapi, yah, dengan segala kekurangn dan kendala itu, bakso sapi saya masih dapat apresiasi dari suami kan… Yang harus digarisbawahi, orangnya rada pelit ngasih pujian ke istri… Jadi, bisa dipercaya lah ya, kalau bakso sapi saya ini memang enak 😁. So, teman-teman, jangan ragu jika ingin mencobanya ya… **Atau kalau masih ragu, silakan merujuk ke resep aslinya deh…**

    Dan jangan lupa, doakan saya berhasil menaikkan berat badan Mahesh ke batas normal ya… Amiin…

    With Love,
    Nian Astiningrum
    -end-