Sunday, September 25, 2016

Bold to be Healthy

Big is beautiful
Ga papa gendut, yang penting sehat…”
Dst.

Adalah beberapa kalimat yang seringkali kita dengar berkaitan dengan bentuk tubuh besar, gendut’ atau ‘gemuk’. Kalimat yang mungkin adalah bentuk empati agar si pemilik tubuh besar tetap berpikiran positif dan bahagia. Kalimat yang sungguh tidak salah sedikit pun jika ‘big’ yang dimaksud tidak melampaui berat badan ideal seseorang. Namun menjadi salah, jika kalimat ini digunakan sebagai pembenaran atas berat-badan-berlebih yang dialami seseorang, sehingga orang tersebut tidak memperbaiki pola hidupnya menjadi lebih sehat.

Obesitas sebagai dampak dari pola hidup tidak sehat, faktanya bisa menyebabkan berbagai penyakit kronis. Misalnya yang dialami Yunita Maulidia (16 tahun) dengan bobot 125 kg, yang harus menjalani perawatan medis karena komplikasi jantung. So, berat-badan-berlebih bukan hanya masalah penampilan, tapi menyangkut kesehatan!


***

Berbicara mengenai penyakit jantung, pada tahun 1990-an, mungkin banyak dari kita yang sebatas mengenalnya melalui televisi. Mungkin melalui sinetron yang menampilkan adegan seorang paruh baya yang kesakitan memegangi dada sebelah kanannya karena serangan jantung. Kala itu, penyakit jantung masih tergolong langka dan belum masuk ke dalam daftar 10 besar penyakit penyebab kematian di Indonesia. Berbeda dengan sekarang, dimana penyakit jantung telah menempati peringkat kedua!

Tuesday, August 23, 2016

Berdamai dengan Rasa Takut


“Apa sih perbedaan antara ‘berdamai’ dan ‘mengalahkan’?

“Wo, ya jelas beda dong… Dari sisi manapun jelas ga ada persamaan. Kata kerja ‘mengalahkan’ dan ‘berdamai’ (mungkin) memang sama-sama diawali dengan suatu pertandingan, kompetisi atau bahkan peperangan, namun dengan ending yang berbeda. Kata kerja ‘mengalahkan’ didapatkan setelah seseorang dinyatakan lebih kuat, lebih baik dan sebagainya. Sedangkan ‘berdamai’ adalah kata kerja yang digunakan saat kedua belah pihak kemudian berusaha saling memahami dan mengerti kepentingan masing-masing, kemudian menurunkan ego masing-masing dan kemudian memutuskan untuk berjalan bersama tanpa predikat ‘menang’ dan ‘kalah’.

Yes, keduanya memang beda… Tapi, dalam kasus yang lebih abstrak, perbedaan keduanya menjadi samar.

Misalnya seperti ini: pada suatu hari, saya share cerita saya tentang belajar menyetir ini di Facebook. Dan kemudian, ada seorang teman yang berkomentar, bahwa dia belum bisa menyetir karena belum bisa MENGALAHKAN rasa takutnya. Dan saya jawab, bahwa rasa takut itu bukan untuk dikalahkan tapi diajak BERDAMAI. Yes, I know hal ini tidak mudah dijelaskan dengan singkat semacam berbalas komentar di Facebook. Komen di Facebook sebenarnya bisa panjang juga sih, tapi kalau saya yang seringnya pakai hape untuk akses Facebook, males ngetiknya :D. Jadi, mari kita bikin jadi blog post saja, sekalian update blog :D.


Back again, jadi, setelah komentar saya itu, teman saya kemudian menjawab, “…iya, intinya di rasa takut kan…” Hmm, yes she’s right, tapi saya merasa dia tidak memahami maksud saya. So, here what I mean perbedaan antara ‘MENGALAHKAN’ dan ‘BERDAMAI’…

Saya adalah seorang perfeksionis, mungkin itu ada pada gen saya, karena sedari kecil, saya adalah seorang perfeksionis. Saat kecil, saya ingat sekali bagaimana saya selalu berusaha melakukan semua hal sesempurna mungkin; mulai dari menulis, menggambar (melukis), cara berpakaian dan banyak hal lainnya. Saya selalu berusaha menulis dengan sangat rapi, melukis dengan sesuai bayangan saya dan selalu meminta baju saya dimasukkan ke dalam celana atau rok yang saya pakai. Hal yang tampaknya baik-baik saja atau bahkan terdengar bagus, namun saya menemukan banyak benturan dengan sifat ini.

Saya sulit menerima adanya tulisan yang tidak rapi, coretan dan sebagainya dalam buku catatan saya. Saya sulit mentolerir hal yang semacam itu, dan jika hal itu terjadi, maka saya akan berusaha mengganti bukunya, karena saya maunya buku itu rapi! No stroke, no mistakes, no flaws, no compromise! Kebayang ya boros dan ribetnya… Lalu jika terpaksa harus berada dalam situasi tidak sempurna seperti keinginan saya, efeknya adalah rasa malas, tidak bersemangat dan sedikit (atau banyak tergantung kasusnya) merasa stress. Melihat atau berada dalam posisi yang tidak sesuai ekspektasi itu, sangat menyiksa* kaum perfeksionis seperti kami. Iya kan? (bertanya pada para perfeksionis).

Dan juga cukup fatal dalam beberapa kasus… Sewaktu SD, saya pernah tidak mengumpulkan tugas kerajinan tangan, karena berkali-kali berusaha membuat, tapi tidak berhasil seperti keinginan saya. Saya juga pernah menyobek lembar tes saya menjadi dua, karena merasa tulisan saya tidak rapi –saya menyobeknya untuk menghilangkan tulisan saya yang tidak rapi, saya menyalin jawabannya di sebelah kertas itu. Awkward, yes! Extreem, yes! Tapi bukan hal yang ter-ekstrim dan ter-fatal yang terjadi pada diri saya.

Monday, July 25, 2016

The Truth Behind 2 to 7 Years Old’s Mind

Geregetan! Gemes! Adalah dua kata yang paling menggambarkan efek kekesalan yang sering saya rasakan menghadapi ulah Ganesh yang semakin ‘sulit diatur’ akhir-akhir ini. Dulu, ‘kepintaran’-nya lebih banyak digunakan untuk memahami makna, maksud dan intruksi yang kami berikan; jadi begitu paham, insyaallah dia akan ‘menurut’. Beda dengan sekarang, urusan ‘paham-memahami’ jelas jauh lebih lancar; dengan mudah kami bisa membuatnya mengerti maksud kami. Lebih santai dan effortless sampai disini, tapi ‘kita-kita’ yang punya anak pra-sekolah-dasar (2 sd 7 tahun) pasti tahu bahwa saat ini, tantangan yang lebih menguras hati dan pikiran baru saja datang dan terus mengejar, selayaknya bola salju –makin lama, makin besar. Itu yang saya rasakan, semakin lama, Ganesh semakin suka mencari alternatif solusi yang kadang membuat semua serasa kurang efektif, atau bahkan membantah dan menolak sama sekali permintaan kita.

Ganesh mau pose macem-macem begini sebagai hukuman karena njatuhin gantungan tirai di rumah… Setelah berkali-kali diingetin, tapi anaknya masih penasaran juga ‘__’

Ganesh : “Mama, Anesh mau main dulu ya…” (Ini posisinya pagi-pagi mau berangkat sekolah dan ke kantor).
Saya      : “Anesh, bentar lagi kita berangkat lho… Mama tinggal ganti baju nih…”
Ganesh  : “Tapi Anesh mau main…”
Saya     : “Ya udah, sebentar aja ya… Jangan jauh-jauh… Biar nanti gampang manggilnya…” (Mengalah, daripada ngambek anaknya).
Ganesh  : “Anesh maunya lama! Kita berangkatnya nanti aja habis Anesh main…”
Saya      : “Aduh Anesh… @&*&)!^#*) ‘__’ (Mulai menjelaskan, tapi anaknya susah dijelasin = deadlock, stress, pengen nangis, pengen marah, bingung…)

Terbayang kan rasa sebalnya… Terutama pada saat-saat kritis; seperti sedang terburu-buru atau kita sedang kelelahan secara fisik/psikis. Harusnya sih kita tetap bisa sabar, tapi apalah daya, kadang pertahanan bobol juga… Memang harus belajar lebih banyak lagi dan mempertebal niat untuk mengatasi situasi-situasi seperti itu yang semakin sering terjadi.

Salah satunya ya dengan menyadari bahwa memang seperti itulah karakter pemikiran mereka pada usianya saat ini (5 tahun). Menurut Teori Perkembangan Kognitif (Piaget), pada usia ini (2 sd 7 tahun), anak sedang dalam tahap perkembangan kognitif preoperational. Mengutip dari Buku Life-Span Development (Sigelman & Rider, 2012); “Anak-anak pra-sekolah (2 sd 7 tahun) menggunakan kemampuan berpikir simbolisnya untuk membangun bahasa, terlibat dalam permainan peran dan memutuskan masalah. Tapi pemikiran mereka belum logis; mereka egosentris (tidak mampu untuk melihat dari perspektif orang lain) dan dengan mudahnya dikelabui oleh persepsi, gagal dalam hal konversi karena mereka tidak bisa memahami/mempercayai sepenuhnya hal yang logis.”

Seperti halnya pada penggalan kasus saya dan Ganesh di atas. Dalam pikiran Ganesh, sekolah itu ya bisa nunggu dia main dulu, ga harus sekarang, bisa nanti… Egosentris, sulit memahami sudut pandang orang lain…Perlu effort dan waktu untuk membuatnya mengerti bahwa dalam sekolah itu ada aturan, ada jam masuk dan keluarnya, yang fixed dan bahwa waktu bermainnya itu yang flexible, jadi bisa menunggu…

Dan ya, mereka memang belum sepenuhnya logis… Sesuatu yang sepertinya sederhana saja terkadang begitu sulit diterima, apalagi jika itu bertentangan dengan keinginannya… Misalnya nih:

Ganesh  : “Mama, ini sudah sore belum?”
Saya      : “Hmm, kenapa Anesh? Anesh mau main ya?”
Ganesh  : “Iya… Ini sudah sore banget belum?”
Saya      : “Sudah sih Anesh, ini sudah mau Maghrib, Anesh main di rumah saja ya…”
Ganesh  : “Tapi Anesh mau main sepeda…”
Saya      : “Main sepedanya besok aja ya…”
Ganesh  : “Besok itu lama…”
Saya      : “Ya gimana dong, ini kan sudah sore, sudah mau malam… bla-bla-bla @^$(#&#^$^*^%$…
Ganesh  : “Besok itu lama Mama!”
Saya      : “Ya udah, sana Anesh kalo mau main, tapi sudah gelap ya… Nanti kalo jalannya ga keliatan gimana… bla-bla-bla…” (Ceritanya ngasih ijin biar dia mikir nih resikonya).
Ganesh  : “Jadi gimana ini!” (Nangis tantrum).

Coba deh dibayangin, ini kan sebenarnya sederhana saja ya… Ini sudah menjelang malam, berbahaya kalo main di luar; ya main di rumah saja, atau kalo memang pengen main di luar ya tanggung resikonya. Mau nangis seperti apa juga ga akan merubah keadaan; ga bisa memutar waktu, ga bisa mengembalikan matahari kembali ke atas, ga bisa merubah keadaan menjadi terang, juga tidak bisa mempercepat waktu… Jadi, kenapa harus nangis? Kan tinggal pilih lho; kalo mau main sekarang ya gelap-gelapan, sepi, dan bahaya. Nah, kalo ga mau, ya tunggu besok mainnya… Kita yang orang dewasa pasti ga habis pikir apanya yang ditangisi, tapi itulah salah satu akibat dari kemampuan kognitifnya sehingga belum bisa berpikir sepenuhnya berlandaskan logika.

Kadang, hal yang sebenarnya sepele bagi kita menjadi sesuatau yang rumit bagi mereka. Dan seringkali, mereka melakukan hal yang menurut kita tidak efektif; yang seharusnya bisa sebentar, jadinya lama; dan yang seharusnya gampang menjadi sulit. Kadang, sulit bagi kita untuk memahami cara mereka berpikir. Kadang itu membuat kita menjadi tidak sabar, gemas atau gregetan. Kadang mengapa hal yang sederhana saja tidak juga mengerti. Kadang juga gemas, kenapa begitu sulit bagi mereka untuk mempercayai kata-kata kita dan menurut saja untuk mempersingkat waktu saat mereka belum mampu memahami penjelasan kita.

Tapi kan… sederhana dan sepele itu menurut kita, bagi mereka apa yang mereka lakukan ya memang harus seperti itu. Memang harus seperti itu caranya, bukan sesuatu yang rumit bagi mereka. Demikian juga dengan apa yang kita anggap ‘tidak efektif’ dan ‘tidak masuk akal’, ya memang harusnya seperti itu, tidak ada cara lain. Sekali lagi, melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda itu masih belum mereka kuasai; dan pemikiran mereka pun belum sepenuhnya logis. Berikut adalah karakter seorang preoperational thinker (kurang lebih usia 2 sd 7 tahun) menurut Teori Perkembangan Kognitif Piaget:
  • Memiliki pemikiran yang irreversible atau tidak mampu membalik suatu kegiatan secara mental;
  • Pemikiran terpusat pada satu aspek dari permasalahan (belum/kurang mampu melihat beberapa dimensi pada saat bersamaan);
  • Memiliki pemikiran yang statik, yaitu gagal untuk memahami transformasi atau proses dari berubahan dari satu bentuk ke bentuk lain;
  • Poin 1 sd 3 menyebabkan seorang preoperational thinker seringkali gagal untuk menyelesaikan permasalahan konversi. Misalnya pada saat air dalam gelas berukuran lebar dipindahkan ke dalam gelas yang tinggi dan sempit, maka mereka akan menganggap air dalam gelas tinggi dan sempit lebih banyak (padahal kan sama saja);
  • Pemahaman didorong oleh bagaimana suatu hal terlihat daripada hasil penalaran logis;
  • Seringkali menggabungkan beberapa fakta yang sesungguhnya tidak berhubungan, sehingga mengantarkan mereka untuk membuat kesimpulan yang salah akan penyebab suatu hal/kejadian;
  • Seringkali menggabungkan beberapa fakta yang sesungguhnya tidak berhubungan, sehingga mengantarkan mereka untuk membuat kesimpulan yang salah akan penyebab suatu hal/kejadian;
  • Kesulitan untuk melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain dan berasumsi bahwa apa yang ada dalam pikirannya juga ada dalam pikiran orang lain (egosentris);
  • Mengklasifikasikan objek berdasarkan satu dimensi pada saat bersamaan.

Jadi, the truth behind 2 to 7 years old’s mind atau fakta dibalik pemikiran anak usia 2 hingg 7 tahun itu adalah: bahwa mereka cukup mastered untuk memahami makna ucapan kita secara harafiah (bahasa), namun terkadang mereka gagal untuk memahami apa yang kita maksud secara logis.

Jadi, wajar ya kalau cara berpikir, kesimpulan dan solusi-solusi yang mereka hasilkan seringkali kita rasa tidak efektif atau tidak rasional. Kalau menurut saya sih cara berpikir mereka itu masih ‘nanggung’; mereka memahami makna dari kata-kata yang kita ucapkan, tapi cara berpikir mereka berbeda dengan kita, sehingga ya itu tadi, kesimpulan dan solusi-solusinya berbeda dengan harapan kita. Yang wajar juga jika seringkali membuat kita gemas dan gregetan, tapi tentu saja, kita harus bersabar kan… Jangan kemudian kita ikut-ikutan mengalami degradasi dalam berpikir, ikut-ikutan berpikir secara egosentris; berpikir bahwa cara berpikir mereka ya sama dengan cara berpikir kita.

Tetap berpikir jernih, sabar dan mengayomi… Bantu mereka memahami berbagai hal dan ajak mereka untuk melakukan hal yang baik untuk mereka lakukan sesuai cara berpikir mereka. Semua ada masanya, dan akan ada masanya dimana anak-anak yang sekarang terasa menggemaskan dan bikin geregetan ini tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas, logis dan bijak dalam menyikapi berbagai hal. Akan ada masanya dimana kita akan berdebat dengan anak-anak kita dalam level yang berbeda, lebih sulit, karena harus menggunakan berbagai fakta dan logika untuk meyakinkan mereka. Haha, sepertinya itu bukan berarti bahwa kita kemudian bisa menarik napas lega dan melepaskan ketegangan urat-urat saraf ya… Tapi bisa jadi lebih ‘menegangkan’ daripada apa yang kita hadapi sekarang :D.

It’s OK ibu-ibu (dan bapak-bapak), tetap harus bersemangat dan bersyukur dalam menghadapi setiap moment dalam hidup kita. Karena waktu itu kan hanya sementara ya… Let’s make the best thing that we can… Dan untuk sekarang, yang bernasib sama dengan saya, memiliki anak dengan level kognitif yang sama (istilah kerennya preoperational), mari kita berusaha tetap berpikir jernih dan bijak dalam menghadapi tingkah polah mereka.

Semangat!!!

With Love,
Nian Astiningrum
-end-


Reading:
Sigelman, Carol K. & Rider, Elisabeth A. 2012. Life-Span Human Development, 7th Edition. Canada: Wadsworth.

Tuesday, July 19, 2016

Have a Happy Polka 5th Birthday, Ganesha!


Ganesh itu lahirnya di Bulan Juni, tepatnya 24 Juni 2011… Sejak awal, kami selalu berpikir, anak ini akan kesulitan jika ingin merayakan hari kelahirannya di sekolah, karena kan biasanya tanggal segitu adalah liburan pergantian tahun ajaran. Tapi, sampai dengan ulang-tahun yang keempat, hal itu sih belum menjadi masalah, karena anaknya belum sekolah dan perayaan di rumah pun hanya sekedar kumpul-kumpul dengan teman sekitar. Atau bahkan kadang hanya bagi-bagi goody bag saja ke teman-temannya.

Tanpa ribet, dan tanpa persiapan berarti… Tapi tidak untuk perayaan tahun kelimanya tahun ini…

Tahun ini, setelah berunding santai, akhirnya kami memutuskan untuk merayakan ulang-tahun Ganesh di sekolahnya. Dengan pertimbangan bahwa, kasian anaknya jika tidak dirayakan di sekolah, mengingat setiap kali temannya ulang-tahun, dia selalu bersemangat memamerkan undangannya ke kami. Pasti dia akan senang sekali jika akhirnya dia ada di posisi ‘the birthday boy’; yang bisa bagiin undangan ke teman-temannya, dapat ucapan ulang-tahun, tiup lilin dan sebagainya. Meskipun, akhirnya ulang-tahun itu harus dimajukan hampir 1 bulan karena tanggal 24 Juni 2016 sekolahnya sudah libur. Dan ditambah lagi tanggal 6 Juni 2016 sudah memasuki Bulan Puasa… Sedang jika perayaannya dimundurkan setelah liburan, Ganesh sudah pindah ke TK B, dengan teman-teman yang baru… Dan tentunya merayakan ulang-tahun dengan teman akrab akan lebih asyik daripada dengan teman-teman yang baru kenal kan.

Hingga akhirnya, setelah minta pendapat guru kelasnya, perayaan ulang-tahun Ganesh pun dijadwalkan pada tanggal 1 Juni 2016… Karena tanggal 2 Juni 2016 kelas Ganesh libur, dan dikhawatirkan pada tanggal 3 Juni 2016, teman-temannya banyak yang tidak masuk.

OK, fixed! Kami pun mulai bersiap-siap mencari pernak-pernik yang dibutuhkan untuk acara ini. Yang sebenarnya simpel saja sih; cuma kue, undangan, pernak-pernik dekorasi yang cuma balon-balon dan semacam umbul-umbul kertas. Ga pake ribet… Tapi karena kami berdua sama-sama kerja, akhirnya hampir semua diselesaikan secara online shop… Kecuali undangan yang sudah disiapin papanya sejak jauh-jauh hari, waktu sedang jalan-jalan ke toko buku.

Just arrived! Pernak-pernik pesta Ganesh
dari Ourdreamparty

So, hunting-lah saya ke Bukalapak dan menemukan sebuah lapak (Ourdreamparty) yang menyediakan perlengkapan pesta lucu-lucu. Disanalah saya menemukan pernak-pernik pesta Ganesh dengan nuansa pink dan biru, motif polkadot dan hewan-hewan. Sehingga sebut saja, ulang-tahun Ganesh kali ini bertema ‘animal parade in polkadot’. Ditambah dengan kue ulang tahun dengan nuansa biru dan coklat, dengan gambar karakter gajah… Pas dengan nama Ganesh dan juga tema (kecelakaan) ulang-tahunnya. Oh ya, kuenya juga pesan secara online lho, di Monique’s Cakery yang ternyata juga alumni dari sekolah Ganesh…

Kue ultah Ganesh… Super cute!

Goody bag-nya cup cakes, pesan di Monique’s Cakery juga ;)

Dan dengan segala pernak pernik ini, jadilah pesta ulang-tahun kecil-kecilan Ganesh di sekolahnya seperti ini

Liat senyum sumringahnya Ganesh deh ;)

Suapin Mama :D

Giliran Papa :D

Yang lain heboh, Ganesh-nya malah ngadep belakang :D

Makan kue bersama! Pesannya Miss, jangan banyak-banyak ya, soalnya habis ini masih makan siang :)

Yuhu, kelihatannya ceria sekali ya… Tapi asal tahu saja, ada beberapa kehebohan yang terjadi sebelumnya –mulai dari kerepotan membawa puluhan balon, sampai kebingungan menaruh kue karena tampak akan meleleh padahal acara masih beberapa jam lagi. Yah, jarak rumah dan sekolah Ganesh memang cukup jauh, sekitar 30 km, jadi pada saat hari H, kami benar-benar datang berbondong-bondong dengan segala perlengkapan yang akan digunakan, tidak bisa dicicil sedikit demi sedikit :D. Ya, kalau balon dibawa sehari sebelumnya takut kempes, apalagi kue, lebih tidak memungkinkan lagi :D.

Cukup ribet dan menegangkan (pada bagian mencari ruangan dingin untuk menaruh kue supaya tidak leleh), tapi benar-benar terbayar lunas dengan senyum sumringahnya Ganesh selama acara. Juga dengan antusiasme teman-temannya dengan performance yang lucu-lucu, dengan bingkisan-bingkisan yang disiapkan dari rumah dan ucapan selamat ulang-tahun yang polos. Ah, pokoknya saya puas banget lah…

Dan semua itu tentu tidak lepas dari bantuan banyak pihak… Mulai dari Miss Mira dan Miss Bertha yang sudah meluangkan waktu untuk menata dekorasi ulang-tahunnya. Seorang teman yang bersedia mengantarkan kami ke sekolah Ganesh dengan puluhan balon, goody bag dan perlengkapan lainnya. Mbak Monik yang sudah mewujudkan kue ultah impian kami -saya sih sebenarnya :D. Ourdreamparty yang cepat kilat kirim paket pernak-perniknya –kebayang kan kalau mereka kirimnya ga tepat waktu, pasti  kami kebingungan. Dan tentu saja, semua teman-teman Ganesh yang sudah meluangkan waktu dan tenaga untuk memeriahkan pesta kecil-kecilan Ganesh…

Oh ya, dan spesialnya untuk suami dan papa tercinta yang sudah meluangkan waktu, menempuh jarak 30 km dari kantor di tengah segala kesibukannya untuk bersama-sama mendampingi pesta ulang-tahun si sulung. Thanks ya… We love you so much :*

So Ganesh, kamu happy dengan ulang-tahun ke-lima mu ini kan ;). Keliatan lho dari senyum-senyum jaim-mu sepanjang acara :D. And so are we, Papa dan Mama… Sekarang Ganesh sudah semakin gede ya… -sudah semakin pinter dan banyak maunya, hehe :D. Harapan Mama sih, kamu juga bisa semakin dewasa dan sabar, karena kadang maunya kamu ga selalu Mama Papa turutin. Kadang Papa Mama memang sengaja untuk mengajarkanmu sesuatu, dan kadang juga karena Papa Mama tidak bisa menurutinya –kami tidak bisa selalu sabar dengan kemauanmu, maaf ya… :) Doakan Papa Mama juga ya, supaya bisa menjadi orang-tua yang baik untukmu dan adek…

Once again, happy birthday Ganesh! We love you so much ;)

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Wednesday, June 15, 2016

Perkedel Tahu Kukus

Dulu seringkali saya mendengar ibu mengeluh, “Bingung, mau masak apalagi hari ini…” dan saya yang kala itu masih remaja mengabaikannya. Pikir saya yang masih bau kencur waktu itu, “Hal seperti kan ga perlu dipikirkan secara berlebihan, masak aja apa yang ada, gitu aja kok repot…” Aah, benar-benar pemikiran yang naif sekali kan, dan sekarang setelah menikah dan punya anak, baru saya mengerti apa yang ibu rasakan waktu itu. Urusan mengolah bahan makanan yang bergizi dan bervariasi agar suami dan anak tidak bosan itu memang cukup tricky. Apalagi bagi saya yang memang tidak jago masak dan setiap kali harus browsing resep di internet, terkadang tidur malam saja kepikiran besok pagi musti masak apa…


Seperti halnya yang terjadi kemarin, malam-malam saya kepikiran mesti masak apa untuk makan siang dan sore anak-anak yang saya tinggal ke kantor. Saking lamanya mikir dan ga juga dapat ide, saya pun ketiduran sewaktu ngelonin bocah-bocah sampai pagi. Dan alhasil, sukseslah pagi itu saya bangun kemudian langsung memutar otak, apa yang bisa saya masak dengan cepat dan anak-anak suka. Hmm, masakan ajaib apakah itu… Aha, kemudian saya teringat beberapa waktu yang lalu pernah mengolah tahu menjadi perkedel, yang tidak terlalu sukses karena sulit digoreng. Sewaktu digoreng si adonan tahu sedikit hancur dan bentuknya pun menjadi kurang enak diliat. Waktu itu, si Ganesh cukup suka dibawain bekal perkedel tahu dan si Mahesh pun tidak ada komplain dengan lauk itu. So, let’s try again, apalagi kemarin habis beli wadah-wadah aluminium foil kecil, jadi terpikir si adonan tahu dikukus dulu sebelum digoreng, sehingga bentuknya lebih solid… Yeay!

Bahan:

4 buah
Tahu putih ukuran besar, hancurkan
5 butir
Telur ayam kampung (dia kan kecil ukurannya, kalau ayam biasa bisa disesuaikan), kocok 4 butir untuk adonan tahu dan 1 butir untuk lapisan saat digoreng
1 buah
Wortel ukuran sedang, parut dengan parutan keju
2 siung
Bawang putih, cincang
1/2 buah
Bawang bombay ukuran kecil, cincang dan tumis hingga harum
2 batang
Daun bawang ukuran sedang, ambil bagian hijaunya saja, iris tipis
Secukupnya
Garam
Secukupnya
Merica bubuk

Cara Membuat:
1.
Campur tahu putih, 4 butir telur, wortel, bawang putih, bawang bombay, daun bawang, garam dan merica bubuk hingga merata.
2.
Cicip untuk memastikan rasa.
3.
Masukkan adonan kedalam wadah tahan panas (saya memakai wadah aluminium foil yang sering dipakai untuk memasak klapetart)
4.
Kukus sampai matang (kurang lebih 20 menit)
5.
Setelah matang, dinginkan kemudian iris-iris sesuai selera
6.
Masukkan potongan perkedel tahu dalam telur kocok dan goreng dengan api sedang-kecil hingga kuning keemasan
7.
Jika perlu ganti minyak setelah beberapa kali goreng, karena minyak menjadi berbusa dan hasil gorengan menjadi buruk
8.
Sajikan

Penampakan sebelum dipotong dan digoreng

So simple, tinggal campur aduk bahan jadi satu, cicip, kukus, iris dan goreng. Dan yang menyenangkan itu adalah saat mbak di rumah cerita, tadi Ganesh sebenarnya mau minta lagi, tapi sudah habis :D. Yang artinya dia suka banget! Yeay! “Tenang aja Ganesh, besok mama bikinkan lagi banyak-banyak ya…”

Dan hari ini, setelah malamnya kami mengobrol tentang si Perkedel Tahu Kukus dengan Ganesh. Dimana saya mendengar sendiri kalau dia masih so addicted dengan tahu tadi sore, saya pun membuat lagi hari ini. Kali ini lebih banyak, plus persediaan di kulkas yang belum digoreng. Sewaktu-waktu ada yang pengen, tinggal iris-iris dan goreng deh… So simple, dan insyaallah bernutrisi ;)

Want to try? ;)

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Friday, May 27, 2016

Resep Chicken Nugget Idola

Berkali-kali bikin chicken nugget, tapi masih saja cari resepnya di internet, alias ga hapal-hapal juga… Dan semua itu bukan saya lakukan semata-mata untuk mencari resep yang paling OK, tapi lebih karena saya tidak yakin dengan ingatan saya sendiri :D. Yes! Dengan kata lain, saya memang pelupa untuk hal-hal yang berbau langkah-langkah dan tutorial semacam ini. Eh, tapi saya memang tidak pernah berusaha menghapal sih, secara jauh dalam lubuk hati saya berkata, “Kalau lupa ya tinggal search lagi… Gitu aja kok repot…” Haha…

Sebuah kebiasaan yang tidak hemat paket data sih memang, tapi ada nilai plusnya juga. Yaitu saya jadi ketemu dan mencoba berbagai resep yang berbeda untuk masakan tertentu, sehingga akhirnya ketemu deh resep yang paling pas dengan lidah kami (saya dan keluarga). Salah satunya, ya resep chicken nugget ini… Dimana-mana resep chicken nugget ya kaya gitu… Intinya daging ayam giling campur roti tawar plus bawang putih dan merica sebagai bumbu, lalu kukus, iris-iris dan seterusnya. Entah kemudian ditambah dengan keju, serutan wortel atau sayur lainnya, pakem itu tidak pernah berubah.

Iya, sesederhana itu, tapi hari itu saya tidak yakin dengan ingatan saya, hingga akhirnya berselancar ke dunia maya dan menemukan resep baru yang cukup berbeda dengan resep sebelumnya. Tidak seperti resep yang pernah saya ikuti, chicken nugget ini tidak memakai roti tawar, tapi sedikit tepung tapioka/tepung sagu/tepung kanji. Kemudian, bumbunya pun selain menggunakan bawang putih dan merica, juga ditambahkan dengan bawang bombay dan kecap ikan. Hmm, sempat bertanya-tanya, rasanya bakal seperti apa, tapi karena blog dan penulisnya cukup kredibel serta referensinya pun tidak kalah kredibel, saya pun tidak ragu mencoba. Meskipun akhirnya, tetap menggunakan roti tawar karena suami kadung membeli whole bread saat saya bilang mau bikin chicken nugget. Dan bawang bombaynya pun saya tumis terlebih dahulu supaya lebih lunak (tidak keras), padahal saya tidak tahu sih apakah benar-benar akan keras jika tidak ditumis sebelumnya. Intinya, ini semua (sebenarnya) improvisasi yang didasari pemikiran seorang novice saja…


Tuesday, May 24, 2016

Tips Agar Skripsimu Cepat Selesai

Skripsi, pada hakikatnya hanyalah sebuah karya tulis. Tapi, menurut pengamatan saya, dia seringkali menjadi momok bagi seorang mahasiswa, bagaikan sebuah ujian berat sebelum seseorang dinyatakan lulus. Hmm, apakah kamu termasuk yang berpendapat demikian? Jika ‘ya’, maka kamu punya pemikiran yang sama dengan saya sekitar 8 tahun yang lalu, saat menginjak semester ke-7 kuliah, 1 semester sebelum mengambil mata kuliah penulisan skripsi. Dan karena itu, saya pun mengambil ancang-ancang sebelum benar-benar mengambil mata kuliah penulisan skripsi pada semester ke 8. Dan kamu percaya atau tidak, saya berhasil menyelesaikan skripsi saya dalam waktu sekitar 6 bulan saja. Atau mungkin kurang dari itu, karena saya mengerjakannya sembari mengambil mata kuliah KKN yang mengharuskan saya menginap di daerah KKN (yang cukup pelosok) selama 2 bulan, sampai akhirnya bisa fokus mengerjakan skripsi sekembali dari sana.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...