Saturday, September 23, 2017

Ello The Surviving Cat #1: Awal yang Sulit…

Bagi yang berteman dengan saya di Facebook ataupun Instagram, mungkin sudah tahu siapa Ello yang saya maksud… Seekor kucing kecil yang kami temukan di depan toko oleh-oleh khas Lampung 'Iyen'. Dalam kondisi yang membuat iba; masih sangat kecil, sendirian, ketendang-tendang pedagang kaki lima di sekitaran lokasi, dan hampir masuk got! Sampai-sampai Mahesh si anak perasa, ngotot mau keluar terus, nongkrongin si Ello dan bilang, "Papa, kasian kucingnya… ketendang sama om itu… Om yang pake topi itu nah…" saat papanya kemudian bertanya om yang mana.


Mahesh… Mahesh… Kamu membuat kami merasa dobel ga-sampai-hati dan akhirnya memutuskan membawa pulang Ello dengan sebuah kantong kertas. Saat itulah kisah Ello bersama kami berjuang untuk bertahan hidup dimulai… Bukan sebuah cerita panjang sebenarnya, tapi memberikan pengalaman dan pelajaran berharga buat kami semua. Itu kenapa saya pengen banget nulis detail perjalanan kami dengan Ello. And this is chapter 1, yaitu di saat kami merasa bahwa ternyata semua tidak semudah yang dibayangkan…

Tuesday, August 22, 2017

Menggali Represi dengan Film 'The Boss Baby'

Pertama kali liat poster film ini di internet dan membaca sinopsisnya, saya tidak terlalu berminat. Dari sinopsinya, waktu itu terkesan kalau film ini bukan untuk konsumsi anak-anak, walaupun formatnya animasi. Semacam film 'Despicable Me' yang menurut saya tidak terlalu kuat pesan/nilai positif di dalamnya, tapi sekedar lucu-lucuan saja. Dibandingkan film 'Cars' misalnya yang membawa pesan sportifitas dan kebaikan, atau film 'Planes' yang mengajarkan tentang usaha keras dan tekad yang kuat dalam mencapai suatu cita-cita, meski tampak mustahil.

Penggembar 'Despicable Me' jangan marah ya… Ini pendapat saja. Bukan berarti juga anggapan bahwa film ini tidak baik untuk ditonton, Ganesh kemarin nonton juga di bioskop sama papanya. Cuma, saya pribadi ga memasukkannya dalam list koleksi film pribadi di rumah.


Nah, kembali ke film 'The Baby Boss'… Menurut persepsi saya, sebenarnya film ini menceritakan imajinasi seorang anak (Tim) tentang adik barunya. Sebelum memiliki adik, hidupnya begitu sempurna; dia adalah prioritas kedua orang-tuanya! Dari mulai bangun tidur, hingga akan tertidur kembali dan bahkan saat tidur… he's the one and only!

Dimana semua itu berubah 180º saat sang Adik lahir, yang digambarkan dengan kedatangan seorang bayi botak dengan pakaian jas lengkap turun dari taksi dan berjalan menuju ke rumah Tim. Dialah bayi yang kemudian menyebut dirinya sebagai The Boss Baby dan oleh orang tua Tim disebut sebagai adik laki-laki Tim. Seorang bayi yang kemudian mengambil alih sebagian besar perhatian orang-tua Tim, hingga Tim pun merasa kesepian dan diabaikan.

Dari situlah, Tim semakin membenci adiknya (Boss Baby) dan berusaha mencari tahu siapa sebenarnya Boss Baby ini. Dan akhirnya dia menemukan kenyataan bahwa Boss Baby sesungguhnya adalah bagian dari Baby Corp, perusahaan (semoga tidak salah) pengirim bayi kepada manusia, yang sedang menyamar untuk mencari tahu mengapa seringkali anak anjing mendapatkan kasih sayang lebih daripada bayi. Dimana orang-tua Tim bekerja pada perusahaan Puppy Co yang usahanya bergerak di bidang (kurang lebih) menyediakan anak anjing untuk manusia.

Drama yang seru pun dimulai dari sini. Dari awalnya Tim membenci Boss Baby dan berusaha membongkar penyamarannya; Boss Baby meminta maaf dan akhirnya Tim membantunya untuk melaksanakan misi penyelidikan agar Boss Baby bisa segera kembali ke Baby Corp; hingga akhirnya misi terselesaikan, semua kembali seperti semula sebelum Boss Baby datang ke rumah Tim… dan ternyata baik Tim maupun Boss Baby merasa kehilangan. Hingga akhirnya, bisa ditebak, kemudian Tim menulis surat kepada Boss Baby dan Boss Baby pun dengan bahagia meninggalkan karirnya di Baby Corp untuk menjadi adik Tim… kembali ke keluarga Tim.

Poster Film 'The Boss Baby'
from DreamWorkAnimation
Picture from HERE

Begitulah kira-kira film ini diceritakan secara singkat… Cerita saya mungkin kurang seru ya, tapi percaya deh, filmnya benar-benar seru dan cukup menegangkan!

Nah, kembali ke nilai moral yang bisa kita sampaikan kepada anak berdasarkan film ini… Of course it's about sibling love.

Saya sendiri menggunakan film ini untuk kembali menggali perasaan Ganesh saat memiliki adek baru. Bagaimana dia jadi diabaikan dan bagaimana perasaannya waktu itu. Menggali kekecewaan, rasa marah, dan sedih yang mungkin dirasakannya dulu.

"Lho, ngapain menggali pengalaman/perasaan/ingatan negatif kok malah digali dan diingat-ingat lagi? Bukannya lebih baik dilupakan?" No! Big NO! Berusaha melupakan pengalaman negatif atau dalam istilah psikologi dikenal sebagai represi. Pada saat seseorang mengalami sesuatu yang sangat melukai 'hati'; sedih, kecewa, malu, dan sebagainya; dan kemudian dia berusaha melupakan peristiwa tersebut… itulah yang disebut dengan mekanisme represi. Melalui mekanisme represi, suatu pengalaman atau perasaan negatif mungkin memang tidak lagi kita sadari. Kita tidak lagi mengingatnya. Namun, sesungguhnya semua itu masih terekam dalam alam bawah sadar kita, dan mempengaruhi perilaku kita.

I've ever been there before… Dulu, seringkali saya menekan perasaan malu, minder, konyol dan sebagainya yang saya rasakan, hingga saya tidak lagi meningatnya. Yes, secara sadar, memang saya tidak mengingatnya; tapi somehow perasaan itu tanpa saya sadari membuat saya merasa semakin kecil dan buruk. Hingga akhirnya, saya belajar untuk menggali perasaan-perasaan negatif itu, dan berusaha menyelesaikannya, daripada berusaha melupakannya.

'Menyelesaikan' maksudnya adalah berusaha membuat hati dan pikiran kita bisa menerima perasaan itu… Nah, caranya seperti apa, bakalan panjang, jadi insyaallah akan saya ceritakan dalam tulisan tersendiri.

So, kembali ke cerita menggali perasaan Ganesh saat memiliki adik baru, saya pun mengajak Ganesh berbicara:
"Kakak, sedih ya TimSejak ada adek baru, dia jadi ga pernah diceritain sebelum tidur sama papa-mamanyaKaya kakak dulu ya? Dulu, kakak sedih enggak? tanya saya.
Waktu itu, saya sudah siap jika Ganesh akan berkata 'iya' dan berharap kemudian dia akan cerita panjang lebar tentang perasaannya. Tapi, Ganesh hanya menjawab, "Iya" dengan santai. Udah, gitu aja…
Well, kemudian saya pun masih coba mengulik lagi, "Dulu, sebelum ada adek, kakak suka diceritain ya sebelum tidurSetelah ada adek, kakak ga pernah diceritain lagiKakak juga sering dimarahin sama mama ya…"
Dan Ganesh masih tidak menunjukkan tanda-tanda emosional dengan perkataan saya, sehingga saya pun menyimpulkan jika kejadian 'itu' tidak meninggalkan trauma emosional pada dirinya. But still, kemudian saya berkata padanya, "Anesh, mama minta maaf ya kalau mama dan papa jadi kurang perhatian sama Anesh setelah ada adekMaaf kalau kadang jadi suka marah-marahMama sama papa bangga sama Anesh, makasih ya, sudah jadi kakak yang baik buat adek…"
Saya memeluknya dan kemudian berkata lagi, "Anesh sayang adek kan? Anesh yang sabar ya kalau adek kadang ga ngerti Anesh kasih tauNamanya juga masih kecil, belum sepintar kakak…" Lalu saya acak-acak rambutnya dan kemudian menciumnya. "Anesh harus jagain adek yaKaya Tim jagain adeknya pas kehabisan susu yang bikin pinter…"
Kurang lebih seperti itu, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa ada sedikit kejadian yang ditambah atau dikurangi karena keterbatasan ingatan… 😬

Semacam tidak ada sesuatu yang 'seru' dalam cerita saya ini ya… Tidak ada adegan Ganesh curhat serius soal perasaannya waktu itu, he seem's able to cope with that past experience well. Tapi ya tetep sih, saya akan terus berusaha untuk mencari tahu dan menggali pengalaman-pengalaman buruk yang mungkin masih mengendap dalam ingatan bawah sadarnya.

Dan terlepas dari cerita yang kurang seru ini, apa yang ingin saya sampaikan dari tulisan ini adalah:
  • Suatu pengalaman negatif yang sangat melukai perasaan bisa jadi masih menjadi bagian dari diri kita. Kita hanya menekannya ke alam bawah sadar sehingga tidak menyadarinya. Namun, sesungguhnya hal itu masih mempengaruhi perilaku, perasaan dan reaksi kita pada lingkungan secara negatif. Hal inilah yang disebut represi, dan tidak menutup kemungkinan terjadi pada anak-anak.
  • Pengalaman negatif pada alam bawah sadar ini harus digali, disadari, dan diselesaikan secara sadar; misalnya dengan memafkan, memaklumi, dan sebagainya. 
  • Pada anak-anak, seringkali kita perlu untuk merangsang mereka mengingat suatu pengalaman negatif dan membantu mereka menyelesaikannya. Dalam hal ini, kita bisa memanfaatkan kejadian dalam kehidupan sehari-hari, maupun melalui cerita dan film.
  • Nah, dalam hal ini film 'The Boss Baby" ini menurut saya adalah media yang pas untuk menggali represi/pengalaman negatif berkaitan dengan kelahiran adik baru. Dimana sang kakak kemudian tidak mendapatkan perhatian sebesar sebelumnya.
That's it! So, sok lah nonton film ini… dijamin seru kok… dan semoga tulisan ini bermanfaat ya…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Sunday, August 13, 2017

Happy Kiddo's Room with INFORMA!

Rumah adalah tempat kita kembali dari segala aktivitas setiap harinya. Tempat melepas lelah, baik fisik maupun mental dan merasa relax. Juga tempat kita mengembalikan energi untuk kembali beraktivitas menyelesaikan berbagai tugas, serta merealisasikan mimpi-mimpi. Itulah definisi 'rumah' menurut saya… Dan kondisi itulah yang ingin saya capai berkaitan dengan 'rumah', salah satunya melalui penataan yang baik.

Nah, yang akan saya ceritakan di sini adalah mengenai penataan kamar anak-anak (Ganesh dan Mahesh)…

Selama ini, anak-anak belum memiliki kamar sendiri. Tidurnya masih random, kadang barengan saya atau suami. Nah, setelah pindah ke rumah baru beberapa waktu yang lalu, kami pun menyiapkan sebuah kamar untuk mereka. Satu kamar untuk berdua; supaya anak-anak lebih banyak berinteraksi, tidak merasa eksklusif dan untuk mempercepat transisi Adek tidur sendiri tanpa mamanya.

Karena kamar yang tidak terlalu luas ini akan dipakai berdua, bunkbed (tempat tidur bertingkat) menjadi pilihan kami. Dan kami pun ingin bunkbed ini memiliki fungsi lain untuk memaksimalkan kamar anak yang minimalis ini.


Singkat cerita, pada April 2017 saya pernah mengajak Ganesh ke INFORMA untuk mencari referensi furniture. Waktu itu, dia terpaku pada sebuah bunkbed berwarna kuning cerah yang memang terlihat unik. Bukan sekedar tempat tidur bertingkat, bunkbed ini digabungkan juga dengan meja belajar, rak buku, lemari pakaian dan juga tangga yang dimanfaatkan sebagai laci.

"Mama, Anesh mau yang ini aja… Nanti Anesh tidur di atas ya!" katanya bersemangat waktu itu. Tapi, waktu itu belum bisa langsung direalisasikan, karena masih banyak hal yang harus ditimbang… Cek luas kamar, posisi jendela dan pintu, serta tentu saja masalah pendanaan.


Monday, July 31, 2017

Ooh, I Feel Underappreciated!

Exactly! Itulah yang saya rasakan pasca ujian pelaksanaan proyek sebagai tugas pasca diklat di kantor untuk kenaikan (sebut saja) peringkat.

Disclaimer: ini tulisan curhat. Tulisan ini jujur, tapi harap dimaklumi jika (mungkin) sedikit lebay dan dramatis 😂

Bukannya ga lulus… Lulus sih, tapi sebenarnya saya berharap respon yang lebih 'menantang' dari penguji atas proyek saya ini. Karena, saya bukan sekedar mengerjakannya sebagai syarat kelulusan, tapi dengan passion… Bukan kenapa-kenapa, bukan sok-sok-an banyak waktu juga… Tapi, memang sudah bawaan saya perfeksionis dan cenderung malas mengerjakan sesuatu yang tidak sesuai standard saya. Jadi, daripada jadi proyek mangkrak, lebih baik dikerjakan bener-bener saja…


Saya berusaha merancang dan mengerjakan sebuah proyek yang (memang) tidak bisa dibilang mahakarya sih, tapi menurut saya cukup original, unik dan ditulis dengan jelas.

Saya membuat suatu metode pengembangan kemampuan kepemimpinan pegawai dengan basis kepribadian. Karena menurut pengamatan saya selama kurang lebih 8 tahun sebagai admin SDM, pengembangan soft skill yang dilakukan di perusahaan lainnya baru dikaitkan dengan dengan kompetensi yang dibutuhkan. Misalnya; orientasi pelayanan pelanggan, kepemimpinan, dan sebagainya. Selanjutnya, maka pengembangan dilakukan tanpa memperhatikan latar-belakang kepribadian seorang pegawai.

Hmm, agak sulit dipahami ya… Hmm, kira-kira begini…

Jadi, pada saat seseorang dinilai memiliki (misalnya) aspek pelayanan pelanggan yang rendah, sebenarnya akan sangat bermanfaat bagi seorang pengelola SDM untuk melihat kepribadian yang melatarbelakangi perilaku tersebut. Misalnya; sikap kurang ramah, hanya sekedar menjawab pertanyaan dari pelanggan tapi tidak berusaha mencari tahu kebutuhan pelanggan lainnya; bisa jadi hal ini disebabkan karena:
  • orang tersebut cenderung cuek dan lebih suka bermain-main,
  • orang tersebut cenderung pemalu, sehingga membatasi interaksi seperlunya saja,
  • atau malah orang ini merasa kalau pekerjaannya kurang menantang, pengennya cepet selesai, pengen merasa lebih produktif, dan sebagainya…

Jadi, pada saat seorang yang dinilai kurang memiliki kemampuan pelayanan pelanggan yang baik lalu kemudian dipukul rata diberikan pelatihan pelayanan pelanggan; seperti menyapa pelanggan dengan ramah, memberikan pelayanan yang cepat, dan sebagainya; berusaha membekali mereka dengan pengetahuan dan keterampilan… Bukannya tidak bermanfaat, tapi sangat mungkin hal itu akan kurang efektif, karena tidak semua dilatarbelakangi ketidaktahuan atau kekurangterampilan, tapi bisa jadi karena sesuatu yang mendorong dalam diri mereka. Dan itu adalah 'kepribadian'… Sehingga treatment yang perlu diberikan pun akan lebih efektif jika disesuaikan dengan 'kepribadian' ini. 

Masuk akal bukan…

Lebih lanjut, mengapa kemudian saya secara spesifik memilih sasaran atasan dan menyasar kemampuan kepemimpinannya adalah tidak lain karena saya melihat hal ini adalah sesuatu yang sangat strategis dalam perusahaan. Selama 8 tahun mengurusi hal berkaitan dengan SDM, saya merasa bahwa berhasil tidaknya suatu program, bagaimana seorang pegawai di bawah suatu organisasi akan dikembangkan, bagaimana keputusan strategis akan diambil, sampai dengan urusan motivasi kerja bawahan; semuanya ditentukan oleh seorang atasan.

Dan dalam banyak kasus, seorang atasan tidak mampu 'berfungsi' dengan baik karena kendala berkaitan dengan kepribadian seperti yang saya ceritakan di atas. Ada kalanya karena hal ini menghambatnya dalam melakukan suatu tindakan yang seharusnya dilakukan, atau bisa juga ketidakpahaman akan kepribadiannya justru membuatnya berjarak dengan bawahan. Dimana yang kedua ini tentu juga akan mempengaruhi efektivitas kepemimpinannya.

It's like something, isn't it? Sesuatu yang menurut saya bisa membawa pengelolaan SDM yang ada di unit kerja saya ke level yang lebih tinggi. Lebih dari sekedar formalitas atau tembakan-tembakan random ke segala arah yang tidak efektif. Sesuatu yang terasa begitu effortful tapi low impact. Ya, ini bahasa ekstrimnya saja sih, bukan berarti benar-benar bahwa pengelolaan SDM yang sekarang benar-benar tanpa arti… bukan! Tapi, saya benar-benar ingin menunjukkan bahwa kita bisa lho bergerak ke tingkatan yang lebih tinggi! Sekarang! Dengan ide dan willing kita sendiri… Tanpa menunggu petunjuk atau instruksi dari level organisasi yang lebih tinggi.

Terdengar dramatis ya… tapi memang begitu lah adanya 😂. Saya benar-benar menganggap serius proyek ini! I put all my heart and soul to do it lah pokoknya. Bukan sekedar sebagai syarat kelulusan…

Dan saat para penguji bahkan tidak memahami memahami apa yang saya tulis, tapi tidak berusaha mencari tahu dan justru memberikan komentar atau pertanyaan. Saya memang lulus, tidak perlu mengulang diklat dua minggu yang penuh perjuangan dengan membawa anak + pengasuh, mendatangkan ibu saya untuk menjaga si Kakak, dan sebagainya… Tapi ada rasa kurang puas dalam hati saya.

I feel underappreciated

Sedih…

Tidak puas…

Kecewa…

Merasa kerja keras saya tidak terbayar lunas…

Saya berharap para penguji paling tidak membuka diri untuk memahami apa yang saya kerjakan, bukan sekedar mencari celah yang kurang krusial untuk dipermasalahkan karena harus ada sesuatu yang dipermasalahkan di dalam ruang sidang. Baiklah, jika memang itu sesuatu yang harus diperbaiki, saya setuju, saya akui dan akan saya perbaiki; so let's move to another point.

Berkali-kali saya memberikan sinyal ini, berharap bahasan beralih ke sesuatu yang lebih 'seru', but failed… Mengenai format penulisan yang dikupas berulang-ulang meskipun saya sudah menerima untuk melakukan perbaikan, tentang data kualitatif yang dianggap kurang objektif yang sudah saya jelaskan tentang cara berpikirnya, dan beberapa hal lain. Harapan bahwa mereka akan menengok pada cara assessmen kepribadian yang saya gunakan, cara penentuan pengembangan yang saya rekomendasikan, bagaiman tanggapan responden yang sudah terlibat dalam proyek ini, hingga dampak dari proyek ini; tidak sedikit pun disentuh…

Saya kecewa sih… jelas kecewa…

Tapi saya tidak menyesal, karena saya merasa ini sama sekali tidak sia-sia! Seperti yang saya bilang, mengapa saya bersusah payah mengerjakan tugas ini, bukan sekedar untuk sebuah sertifikat kelulusan. Saya melakukannya sesuai dengan passion, standard, idealisme dan harapan saya. Tidak ada yang sia-sia disini; saat saya merasa puas dengan hasil kerja saya dan merasa bahwa proyek ini bisa menjadi batu loncatan untuk meraih idealisme dan harapan saya. I'll keep doing it; untuk diri saya sendiri dan untuk orang-orang di sekitar saya…

Begitu kira-kira…

Bagaimana menurut teman-teman? Pernah merasakan hal yang sama? Merasa hasil kerjanya kurang dianggap serius dan kemudian bete? Yes, it feels so bad! Rasanya nyebelin, tapi, jangan menyerah dan nglokro dalam istilah Jawa. Jika itu memang bermanfaat untuk diri kita dan orang di sekitar kita, kenapa harus mengambil pusing pendapat dan apresiasi beberapa orang?

Setuju kan?

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Tuesday, July 25, 2017

Once Upon A Time in Bali With 5 and 2 Year Old Kids...

Pernah suatu kali saya berkelakar dengan suami, "Wajar lah ya, beberapa orang memandang kita ini cukup tajir padahal sebenarnya penghasilan sama aja… Lha wong kita ini ga pernah liburan kaya orang-orang… Coba aja bayangin, ga usah ke luar negeri deh, ke luar kota aja kalo memang niatnya memang liburan, yakin deh pasti banyak keluar duit…"

Dan suami hanya nyengir…

Bukannya kepengen liburan sih, karena memang saya tidak terlalu suka traveling. Menurut saya, traveling itu ribet. Saya lebih suka ngendon di rumah atau jalan-jalan ke tempat yang dekat untuk menghabiskan hari libur. Dan suami pun sepertinya begitu. Dia tidak terlalu berhasrat untuk menghabiskan waktu untuk liburan. Baginya alasannya sepele dan tidak terbantahkan. Tidak ada waktu. Titik. Haha…

Dan begitulah waktu berjalan hingga 6 tahun pernikahan kami, tidak sekali pun benar-benar traveling untuk liburan. And we feel fine… Sampai pada suatu hari, timbul juga hasrat untuk merencanakan liburan berempat gara-gara momen Garuda Travel Fair tahun 2016. Yes, pada hari itu, di luar kebiasaan, kami bersedia berdesak-desakan untuk mencari tiket liburan pertama kami, yang akhirnya kami putuskan ke Bali.

Awalnya, kami berencana untuk berangkat pada bulan Januari, sebelum usia Mahesh 2 tahun demi menghemat tiket pesawat. Tapi karena bentrok dengan acara pernikahan sepupu, akhirnya dimundurin. Walaupun akhirnya nikahan sepupu pun kami tidak bisa hadir karena saya kena flu parah sampai harus bed rest… Dan liburan ke Bali yang direncanakan di Bulan Maret pun musti reschedule ke Bulan April karena Mahesh yang sakit, yang berarti menambah cost lagi. Sehingga harga tiket kami berasa benar-benar ga promo lagi, hiks… Kalau dipikir dari sisi materi, sebenarnya ini jadinya ga fun lagi… But it's OK lah, sekali-sekali ini kan, harus sehat semua biar bisa benar-benar dinikmati bersama.

Dan akhirnya tibalah kami di Bali 12 April 2017…


Kami menginap di The Kuta Beach Heritage Bali yang berlokasi di seberang Pantai Kuta, tepatnya di Jl. Pantai Kuta, Br. Pande Mas. Kuta, Badung 80361. Bali-Indonesia. Sebagai seorang yang (seingat saya) ga pernah merasakan hotel yang premium, hotel ini sangat reccomended menurut saya. Lokasinya yang sangat dekat dengan pantai kuta, membuat suasana terasa syahdu oleh deburan ombak, meskipun kadang terdengar juga suara alunan konser musik yang diadakan di sekitar hotel –tapi, tenang, ga sampai berisik kok.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...