Monday, November 28, 2016

Mengalah untuk Menang

Sebagai seorang kakak dengan dua orang adik, ‘mengalah’ tentu bukan kata yang asing bagi saya. Setiap kali, terjadi pertengkaran yang terjadi karena kami berebut suatu barang; entah barang itu milik saya atau siapapun, ujung-ujungnya pasti saya yang disuruh mengalah. Dan itu ga enak sekali… Bahkan setelah saya beranjak remaja yang nota bene pemikiran sudah cukup matang. Menahan diri dan membiarkan hak kita diambil orang dan merasa diperlakukan tidak adil itu seringkali terasa menyebalkan.

Mengalah itu seringkali ‘makan hati’, tapi seringkali buahnya manis sekali. Dengan mengalah kita bisa menghindari banyak pertengkaran, perpecahan dan sebangsanya. Dengan mengalah, kita bisa menunjukkan kepedulian dan kasih kita pada orang yang kita cintai. Dan bahkan seorang yang mengalah adalah seorang yang terhormat karena kebesaran hatinya… Itu menurut saya sih, berikut ceritanya…


Saya ini hobi bernyanyi. Sejak dulu sekali masih kanak-kanak, hingga saat ini menginjak usia 30 tahun dan sepertinya akan terus berlanjut. Ada kepuasan tersendiri saat saya berhasil menaklukkan lagu-lagu yang menantang atau sebut saja sulit. Dan itu kenapa, selalu ada dorongan besar dalam diri saya untuk tampil di setiap kesempatan yang memungkinkan. I love to perform!

Demikian juga saat ternyata ada sebuah lomba karaoke di wilayah domisili saya (Lampung). Karena sangat memungkinkan untuk diikuti, tidak ada alasan untuk tidak berpartisipasi! Go, go, go! Dengan semangat 45 pun saya mempersiapkan diri, mulai dari nge-tune-in file karaoke sesuai suara saya, memilih kostum, dan latihan tiap hari saya jabanin… Bukan demi kemenangan sih, tapi demi kepuasan batin bahwa saya sudah menampilkan hal terbaik yang saya bisa. Prevent any possible flaws, karena memang saya perefeksionis.

Kompetisi ini memang tidak menyebutkan hadiahnya, it’s fine karena memang sifatnya lebih ke perayaan sebuah hari penting bagi perusahaan yang bergerak di bidang listrik. Dan saya pun memang tidak mempermasalahkan apa hadiahnya, karena ini murni sebuah keinginan untuk mengaktualisasikan hobi dan kemampuan yang saya rasa miliki.

I was having fun preparing all of the things for the competition… Bukan cuma persiapan pribadi saya, tapi juga dua orang peserta lain menjadi wakil dari unit kerja kami.

And it’s still fun and tolerable… selama kompetisi sampai dengan pengumuman yang menyebutkan bahwa unit kerja kami mendapatkan dua juara sekaligus; juara harapan 1 oleh seorang rekan saya dan juara 1 oleh saya sendiri… walaupun jujur saja tempat lombanya lebih mirip ruangan audisi saking sempitnya.

And then, it becomes less fun and tolerable… saat kemudian, saya mendapat informasi bahwa juara harapan 1-nya dianulir dan tidak akan diumumkan pada saat acara puncak. Dengan alasan bahwa tidak ada anggaran untuk juara ke harapan 1. Hmm, yang terlintas dalam pikiran kami (saya dan rekan juara harapan 1), “Kok segampang itu ya, menganulir secara sepihak sesuatu yang sudah diumumkan… tanpa pengumuman resmi pula…” Bagi kami para peserta, ini jelas bukan lagi menyangkut hadiah, tapi harga diri… Well, sedikit sulit dijelaskan dengan kata-kata; coba saja bayangkan, teman-teman sudah kadung senang dan cerita kemana-mana kalau menang suatu lomba, lalu tiba-tiba dianulir begitu saja… 

Sampai akhirnya ada sebuah kejadian yang menurut saya sangat fatal… Pada saat penyerahan hadiah, saya mendapat hadiah ini di depan puluhan peserta yang menghadiri acara saat itu…


Tapi, di dalamnya ini nih…


Sebuah baju lengkap dengan labelnya yang jelas tertera angka Rp. 169.500,-Kejadian yang waktu itu tidak terlalu menimbulkan perasaan macam-macam, karena saya masih berpikir bahwa mungkin itu hanya penyerahan secara simbolis dan cash-nya harus diminta kepada panitia. Saya saja yang saat itu tidak segera membuka bungkus hadiahnya sehingga tidak bisa segera mengkonfirmasikan hal ini.

Saya pikir ini hanyalah teknis pemberian hadiah yang tidak saya ketahui and it will fixed soon

Tapi ternyata saya salah, betapa kesalnya saya saat panitia yang saya hubungi pertama bilang bahwa hadiahnya berupa barang seharga Rp. 500.000,-… Whattt!!! Langsung saja saya komplain, “Maaf ya Pak, di bajunya itu masih ada labelnya Rp. 169.500,-

Dan saya pun tentu saja tidak bisa terima penjelasan ini… Lalu bertanya kepada panitia lain, yang akhirnya dijawab, bahwa itu kesalahan teknis. Bahwa tulisan di pembungkus hadiah itu adalah cetakan lama. Bahwa awalnya memang akan diberikan hadiah senilai itu, tapi manajemen berubah pikiran… and they say sorryThat’s all

Puas? Tentu saja belum… Sesungguhnya saya ingin memastikan bahwa kejadian ini sampai ke ketua panitia atau penanggung-jawabnya. Saya sebenarnya menuntut ada pengumuman resmi bahwa ada kesalahan pemberian hadiah. Atau paling tidak ada permintaan maaf yang lebih manusiawi, dari sekedar melalui whatsapp. Dan saya menunggu semua itu selama seminggu penuh…

Tapi, selama seminggu penuh, sama sekali tidak ada kabar… paling tidak apa tanggapan dari ketua panitia atau penanggung-jawabnya. Sungguh saya kesal, ingin rasanya mengembalikan hadiah yang mereka berikan, lengkap dengan pembungkusnya…

Tapi saya tidak melakukan itu. Saya mengalahkan ego saya akan kejadian itu. Yah, sudahlah, toh mereka saya anggap masih saudara atas dasar hubungan kerja profesional kami. Meski, jujur, saya tidak habis pikir, bagaimana mereka bisa mengorbankan sebuah reputasi dalam permasalahan ini. Mengapa mereka tidak mempertimbangkan nama baik mereka yang mungkin akan semakin buruk atas kejadian ini? Kalau saya jadi mereka, saya tidak akan semudah itu dan sesepele itu menanggapi permasalahan menyangkut kepercayaan semacam ini. Oh really, kamu tidak berpikir apa yang akan orang pikirkan atas peristiwa ini? Bisa jadi lho, orang berpikir ini adalah sebuah kesengajaan dan karena apes saja si label lupa di lepas; atau berbagai skenario lainnya yang merugikan nama baik kalian. Walaupun sebenarnya, penjelasan dan cara meng-handle komplain kalian pun sesungguhnya sudah cukup memperburuk citra kalian.

Apa kalian pikir, saya yang dirugikan dalam permasalahan ini akan repot-repot membela nama baik kalian dengan tutup mulut atau memberikan klarifikasi bahwa ini kesalahan teknis yang harus dimaklumi?

Of course not! Saya punya hak, untuk menceritakan kejadian sebenarnya kepada teman-teman dan manajemen unit kerja saya. Sama persis seperti penjelasan yang kalian berikan, lengkap dengan buktinya. Bukan untuk memberikan hukuman, tapi untuk meminimalisir rasa diperlakukan tidak adil yang saya terima. Itu kenapa terakhir, saya bilang, “…Sebenarnya kedua belah pihak sudah dapat konsekuensinya kok… Saya udah ikhlasin…”

Ya, kedua belah pihak sudah mendapat konsekuensinya. Konsekuensi untuk panitia yang melakukan kesalahan teknis namun tidak meng-handle komplain ini dengan serius adalah reputasi yang memburuk; di mata orang-orang yang mengetahui kejadian ini. Dan yang terpenting adalah di mata saya…

Dan konsekuensi untuk saya adalah… Saya merasa bangga dengan diri saya sendiri, karena saya adalah si tangan di atas yang memaafkan keteledoran mereka, bahkan saat mereka tidak serius merasa bersalah. Dalam kejadian ini, saya merasa adalah orang yang lebih berkelas dari mereka. Dan saat harus bertemu, berpapasan atau berhubungan dengan mereka; saya adalah seorang yang pantas membusungkan dada, terlepas dari mereka merasa sebaliknya atau tidak.

Saya benar-benar merasakan semua itu pada saat situasi mempertemukan kami kembali… Aaah, untung saja saya memilih untuk mengalah dan menurunkan ego saya. Karena jika tidak, mungkin sayalah yang berada pada posisi mereka. Siapa yang tahu bahwa mereka justru menganggap saya hanya meributkan uang 500 ribu? Tidak bisa memaklumi kesalahan, ribet dan sebagainya… meskipun saya memang berhak untuk itu… Dengan mengalah, jelas saya menutup kemungkinan itu. Saya memenangkan situasi ini dengan mengalah…

Jadi teman-teman, pelajaran yang saya dapat dari peristiwa ini adalah pada saat kita diperlakukan tidak adil dan dirugikan, tetap utamakan untuk menyampaikan komplain with manner; dengan tata krama yang seharusnya. Jangan biarkan kita justru mendapat kerugian yang lebih besar dengan mengorbankan reputasi kita dengan tindakan yang kasar secara sikap dan verbal. Dan jika pihak yang berseberangan dengan kita adalah rekan kerja atau pihak yang akan sering berhubungan dengan kita, mengalah adalah tindakan yang bijak. Karena hal ini justru akan menaikkan reputasi kita satu level di atas mereka. Dan hal ini tentu akan sangat menguntungkan saat kita harus berinteraksi dengan mereka, karena kita akan merasa lebih percaya diri serta terhormat. Dan mereka pun (mungkin) tidak kehilangan rasa simpati dan hormatnya pada kita.

Iyah, paling tidak itu menurut pengalaman dan pendapat saya… Dan tentu saja, ini dalam kasus yang masih dalam ambang batas toleransi. Mungkin lain cerita kalau ini adalah sebuah lomba tingkat regional yang diumumkan lewat media massa, dengan hadiah jutaan rupiah, haha :D. Pasti saya akan terima begitu saja dengan penjelasan dan permintaan maaf seperti itu.

Bagaimana menurut teman-teman? 

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Monday, November 21, 2016

Tips Belanja Online ala-ala Smart Shopper

Sebelumnya maaf ya… kalo judulnya dirasa sedikit sombong :D. Tapi, maksudnya bukan seperti itu kok… ‘Belanja Online ala Smart Shopper’, semata-mata ingin mengisyaratkan bahwa belanja online pun perlu strategi tertentu; supaya mendapatkan barang yang berkualitas setinggi-tingginya, dengan harga yang sehemat-hematnya… Sebagaimana prinsip smart shopper ala saya… *Tapi akhirnya judulnya diganti jadi ‘Belanja Online ala-ala Smart Shopperdeh karena ga pede, hihi :D

Saya ini suka… suka banget belanja online… Kalau sedang kumat, seminggu bisa dua paket belanjaan saya terima…

Dan suatu hari security di kantor sampai nyeletuk, “Ibu belanjanya banyak ya…” 

Lalu beberapa teman (sepertinya) pun memperhatikan kebiasaan saya ini, karena beberapa teman suka menyindir dengan kata-kata, “Belanja apa lagi?”; “Belanja terus deh…” dll.

Dan yang paling parah nih komentar suami yang bilang, “Aku doain deh, itu toko online bangkrut biar Mama ga bisa belanja lagi!”


Baiklah, walaupun saya bukan artis, tapi pengen juga klarifikasi sekaligus bercerita tentang pengalaman saya berbelanja online, terutama untuk barang fashion. Yang benar-benar solutif untuk ibu beranak cowok dua yang lasak bukan main. Yang bekerja full time 5 hari seminggu dari Senin sampai Jumat. Yang rumahnya jauh dari kota dan pusat perbelanjaan dan kantor, jadi susah untuk mampir-mampir setelah jam kerja dan juga butuh effort tersendiri untuk benar-benar meluangkan waktu untuk belanja. Yang karena segala ke-riweuh-an itu, mencari baju di mall dan toko konvensional lainnya itu tidak lagi terasa menyenangkan dan memuaskan. Ya gimana mau memuaskan, rasanya serba terburu-buru, padahal saya butuh membandingkan baju A dengan baju B, dan toko X dengan toko Y.

Beberapa orang mungkin tidak terlalu memilih untuk berbelanja barang fashion secara online karena beberapa alasan, misalnya:
  • Pendapat bahwa belanja online itu mahal ditambah dengan adanya ongkos kirim,
  • Tidak bisa memegang dan merasakan bahan baju-tas-sepatu dan sebagainya,
  • Takut tidak pas dipakai,
  • Takut tertipu; sudah bayar, tapi barang tidak dikirim.
Ketakutan-ketakutan yang sebenarnya bisa disiasati supaya tidak menjadi kenyataan atau paling tidak diminimalisir, sehingga bahkan belanja online bisa lebih menguntungkan dari sisi waktu, tenaga dan juga materi. Ya, kalau belanja online kan kita tidak perlu dandan, naik kendaraan, muter-muter di toko atau mall, menyediakan anggaran untuk makan di luar jika kelaparan dan sebagainya. Juga tidak perlu bingung dan ribet saat krucil yang diajak punya tujuan dan kesibukan sendiri…

Sedangkan untuk kelemahan-kelemahan yang mungkin timbul karena memang kita tidak bertemu langsung dengan pembeli dan juga tidak bisa melihat-mencoba barang yang akan kita beli, sebenarnya bisa diminimalkan atau bahkan ditiadakan dengan beberapa tips dan trik berikut:

[1] Pilih toko/mall online yang kredibel. Karena toko online yang kredibel akan mencantumkan harga jual sebenarnya dari suatu barang dan tidak melakukan mark up. Karena memang ada lho, mall online yang seller-nya mengelabui pembeli dengan seolah-olah memberikan diskon yang tinggi, padahal harga aslinya sudah dia mark up habis-habisan. Toko/mall online yang kredibel pastinya juga memiliki customer service yang helpful dan solutif, sehingga memudahkan kita untuk bertanya serta mengajukan komplain akan pelayanan mereka. Juga kelebihan-kelebihan lain guna memastikan pelayanannya memuaskan para customer.

[2] Pilih toko/mall online yang memberikan banyak benefit dan perlindungan pelanggan. Kemudahan pengembalian dan penukaran barang serta kemudahan tracking pesanan adalah poin penting. Demikian juga dengan validitas keterangan yang dicantumkan sebagai deskripsi produk yang ditawarkan. Sedangkan benefit lain yang menjadi nilai plus adalah gratis ongkos kirim, program poin reward, diskon bekerjasama dengan pembayaran bank tertentu dan sebagainya.

[3] Rajin membandingkan harga suatu barang pada beberapa toko online. Kenapa? Karena masing-masing toko online memiliki program diskon tersendiri. Kadang di toko A harganya normal, di toko B diskon 15%, eh di toko C bisa diskon 20%. Karena itu, saya berlangganan newsletter dari berbagai toko online untuk mendapatkan update dari program-program mereka.

[4] Sempatkan waktu untuk mencoba/mengamati baju-sepatu dari merek favorit kita di toko/mall konvensional. Setiap produsen baju pasti punya karakteristik masing-masing, yang ditentukan oleh designer dan menentukan standard ukuran, pemilihan bahan, cutting dan sebagainya. Pengalaman pribadi sih, walaupun biasa menggunakan sepatu ukuran 38, tapi pernah suatu kali membeli sepatu ukuran 38 dan kekecilan. Nah, yang seperti ini bisa diminimalkan risikonya dengan mengenali karakteristik merek itu tadi. Dan ini sekaligus alasan mengapa saya lebih suka memilih baju dengan merek tertentu, karena jaminan kepastiannya lebih tinggi.

[5] Perhatikan deskripsi barang! Seperti ukuran, bahan dan spesifikasi lainnya. Luangkan waktu untuk benar-benar mengukur badan atau kaki kita dan kemudian melakukan kroscek, apakah ukuran barang yang akan kita beli sesuai dengannya. Jangan lantas pukul rata, karena seringkali memakai ukuran ‘M’ (Medium) kemudian merasa yakin bahwa ukuran itu dipakai semua brand. Ya, terkadang standard ukuran yang digunakan berbagai brand itu berbeda.

[6] The power of whistlist. Nah, ini nih jurus belanja online andalan saya untuk memastikan bahwa saya mendapatkan harga terbaik dari barang yang saya inginkan. Caranya sederhana saja, saya yakin banyak yang melakukan cara ini… yaitu memasukkan barang yang kita incar ke wishtlist atau ‘daftar keinginan’. Ini akan mempermudah kita untuk memantau apakah barang yang kita incar sedang diskon atau tidak. Terkadang, bahkan toko online tertentu akan memberikan notifikasi jika barang yang ada di wishlist kita sedang diskon. Jadi, tinggal window shopping, masukkan ke wishlist jika kita belum ikhlas dengan rupiah yang harus untuk kita tebus untuknya, lalu tunggu sampai harganya masuk akal menurut kita.

Nah, itulah 6 poin yang menurut pengalaman saya perlu dilakukan untuk menjamin kepuasan dan keamaan dalam belanja online. Sejauh ini, sejak mulai berbelanja online pertama kali tahun 2009, dulu pernah juga merasakan yang namanya tidak puas dengan barang yang saya beli, tapi tidak bisa dikembalikan. Tapi berbekal pengalaman, alhamdulillah (dan semoga saja), kejadian seperti itu tidak terulang lagi. Beberapa waktu lalu, bahkan saya dibuat terkagum-kagum pada saat mengembalikan baju dengan biaya yang benar-benar gratis karena toko online-nya sudah bekerjasama dengan POS.

Dan ngomong-ngomong soal diskon, teman-teman pecinta belanja online pasti tahu istilah ‘HARBOLNAS’, yaitu Hari Belanja Online Nasional. Ini adalah saat dimana toko-toko online berkolaborasi dan bersama-sama memberikan diskon besar-besaran pada tanggal 12-12 setiap tahunnya, dimulai sejak tahun 2012. Menurut pengalaman saya sih, diskonnya benar-benar menggiurkan, bahkan sampai 90% lho… Karena itu, sejak dilakukan pertama kali, saya selalu menunggu-nunggu tanggal ini. Sampai-sampai mengerem belanja beberapa bulan sebelumnya hanya untuk memastikan budget yang lebih besar untuk belanja saat HARBOLNAS :D.

Toko online yang berpartisipasi dalam event HARBOLNAS juga cukup banyak, termasuk toko online favorit saya, Zalora. Toko yang sejauh pengalaman saya sangat kredibel, serta memberikan benefit dan perlindungan pelanggan yang mumpuni. Karena itu, untuk event HARBOLNAS nanti, saya benar-benar menyiapkan wishlist saya. Siapa tahu saat HARBOLNAS nanti, yang harga 300K ke atas didiskon jadi harga dibawah 100K, hihi :D. Dan saya bisa memberikan barang-barang bagus dengan harga yang tidak kalah ‘bagus’ untuk orang-orang tercinta.

Bukan pencitraan ya… semangat belanja untuk diri sendiri memang sedang menurun karena rencana kantor yang menerapkan seragam seminggu penuh…

So, semoga tulisan ini cukup membantu (dan menghibur) teman-teman baik yang suka belanja online maupun yang tidak. Dan jangan lupa, be ready untuk HARBOLNAS ya… Jangan lewatkan juga HARBOLNAS di ZaloraCatet tanggalnya, 12-12-2016… ;)

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Thursday, October 6, 2016

Speak Good or Remain Silence

Pernah ga sih teman-teman liat gosip di acara infotainment? Kalau jaman saya dulu ada Cek n Ricek, Kabar Kabari, Silet dan sebagainya… Nah, kalau sekarang ga tau lagi nih apa acara infotainment yang nge-hits, secara kami ga punya TV lagi di rumah. Dan jawabannya, pasti pernah lah ya… Atau, jika pun tidak melalui televisi, pasti berita seputar gosip selebritas banyak kita akses lewat internet. Saya juga begitu, meski ga sampai follow akun @lambe_turah kaya beberapa teman sih, hihi :D.

Jadi, ini mau ngomongin apa sih? Gosip artis?

Bukan… hmm, somehow saya sedang memikirkan tentang membicarakan orang lain dan kemudian memberikan komentar sebagai sebuah hiburan’. Hmm, menghibur diri maksudnya, ngomongin orang lain itu seru kan?

Dan somehow, saya jadi berpikir bagaimana rasanya saat kita berada dalam posisi sebagai objek gosip/pembicaraan orang lain. Yah, tentu tidak sampai seperti artis yang dibicarakan ratusan ribu orang sih, tapi sekedar lingkaran kecil di lingkungan kita. Pernahkah kamu berpikir kesana? Bagaimana perasaan orang lain yang sedang kita bicarakan, entah secara langsung ataupun tidak langsung…


Dulu pada saat usia saya masih 24 tahunan; baru merantau ke seberang, masih lajang dan bebas, atau kalau bahasa kerennya ‘young and carefree… Itulah kali pertama saya merasakan berada dalam posisi para artis itu. Digosipin. Bukan cuma ibu-ibu komplek, tapi juga bapak-bapak yang suka nongkrong di pos satpam gerbang komplek. Yang tiap hari liat saya keluar bersama teman-teman. Kadang saya dibonceng si A, kadang si B… terus mendadak intens sama si D, lalu digosipin pacaran sama si D, padahal dulu si D dekat dengan si A. Yah, kurang lebih seperti itu… Teman-teman pernah mengalaminya? Bagaimana rasanya?

Yah, kalau dulu sihhave fun go madaja, tidak terlalu saya ambil pusing. Malahan saya bikin statement, ‘semakin diomongin orang, semakin terkenal, semakin seru’! And that is so true! Saya tidak terlalu peduli dengan apa yang orang bicarakan tentang diri saya, selama itu tidak mencemarkan nama baik saya. Catet, ‘ga sampai mencemarkan nama baik! Dan mereka memang tidak pernah sampai ke ranah itu kok, they’re all good person, niat mereka sama sekali bukan untuk menjelekkan atau menyakiti orang lain.

Nah, tapi ada saatnya dimana omongan orang mulai mengganggu ketentraman saya waktu itu. Bukan karena mencemarkan nama baik, tapi karena omongan itu membuat saya merasa semakin terpuruk, di saat saya butuh dukungan untuk bangkit. Atau dalam bahasa kerennya, ‘tidak empatik.’

Waktu itu saya sedang putus dengan si D, sedang sensitif-sensitifnya dan mengharu-biru. Lalu ada yang berkomentar, “Duh, sakitnya…” saat seorang teman cerita bahwa liat si D jalan sama si X… ngomongnya di depan saya dan banyak orang, bayangkan rasanya Hati saya nyut-nyutan rasanya, saya sangat terganggu dengan komentarnya, dan disaat yang sama saya harus terlihat strong di depan banyak orang. Bukan cuma annoying, itu hurting! Itu menyakiti hati saya

Pernah juga, saya hanya manggut-manggut tanda paham sesuatu, saat seseorang bilang, “Yah, orang sih mungkin mikirnya gengsi ya beli mobil baru… Bla-bla-bla…” Padahal waktu itu, dia tahu teman di sebelah kami baru saja beli mobil baru. Hmm, beberapa kali hal seperti ini terjadi juga pada saya, tapi ya saya manggut-manggut saja dan tidak berkomentar, sembari berpikir, bahwa bagaimana (sebut saja) si C berbicara menunjukkan bahwa betapa pendek cara berpikirnya. Dia berpikir bahwa alasan seseorang beli mobil baru itu ya seperti dia, sekedar untuk gengsi-gengsian. Dia tidak berpikir, bahwa kadang cara berpikir orang sama sekali tidak seperti itu. Beli mobil itu ya karena butuh; kenapa baru, ya beberapa orang lebih memilih seperti itu karena tidak terlalu mengerti mesin mobil dan perawatan mobil baru itu lebih mudah… Dan sebagainya…

Bahasa kerennya, egosentris, alias berpikir bahwa jalan pikiran orang lain sama dengan jalan pikiran kita. Yah, beberapa kali berada dalam posisi yang sama, dan ya rasanya sedikit tidak nyaman sih, tapi tidak terlalu mengganggu jadi saya diam saja tanpa komentar. Tapi, menurut pengalaman saya, ada beberapa orang yang benar-benar merasa iritated alias terganggu dengan komentar-komentar egosentris semacam ini. So, better you avoid that

Yes, there are 3 things yang menurut pengalaman saya adalah konten-konten yang buruk dan berpotensi mengganggu kenyamanan orang lain. Yang menurut hemat saya sebaiknya dihindari. Tapi, yah, jika pun perlu diucapkan, berikut beberapa hal yang harus diperhatikan untuk meminimalisir dampak buruk dari kata-kata itu kepada orang lain:

1. Pilih audience-mu! Well, kamu bukan sedang konferensi pers kan? Jadi, pilih audience yang benar-benar sesuai dengan bahan pembicaraanmu. Terutama jika itu adalah pembicaraan yang sensitif, berpotensi menimbulkan konflik, atau menyakiti hati orang.

Misalnya; “Si C itu habis beli mobil baru lho… Cash! Padahal dia cuma sekretaris… duit darimana coba kalau bukan seseran alias tips tamu-tamu yang mau nemuin bosnya. Atau malah dia ada affair sama bosnya…” Ish, ini benar-benar serangkaian kata-kata yang sensitif, tidak empatik, bagaikan dalil yang tidak disertai landasan fakta dan menunjukkan betapa pendek pemikiranmu… Karena bisa jadi si C habis dapet undian, atau dapet warisan, atau habis jual tanah, dll… ada begitu banyak kemungkinan.

So chose your audience wisely. Atau kamu akan membuat seseorang marah besar karena pendapatmu itu bocor ke telinganya…

2. Perhatikan nada bicara, kekuatan suara dan bahasa tubuh (aspek nonverbal). “Ih kamu, sok cantik banget sih…” Coba bayangkan kalimat itu diucapkan dengan suara keras dan nada tinggi plus berkacak pinggan dan mata mendelik, pasti semua orang akan menilai itu adalah sebuah cemoohan untuk menjatuhkan harga diri seseorang. Berbeda saat ucapan itu diucapkan nada rendah yang genit, disertai colekan lembut, senyum dan mata yang genit; pasti orang akan mengartikan kalimat ini sebagai candaan, godaan atau rayuan.

3. Perhatikan situasi dan kondisi. “Ah, kalo aku sih enggak lah anak di taruh di day care, mendingan bayar pengasuh aja… Di day care kita enggak bisa kontrol dia makan apa… bla-bla-bla…” Dan itu kamu ucapkan saat seorang di sebelahmu gundah gulana karena akhirnya menitipkan anaknya di day care sebagai pilihan terakhir. Bukan karena tidak bisa bayar pengasuh lho, tapi karena dia tidak juga mendapatkan pengasuh setelah beberapa lama mencari. Hingga akhirnya, life must go on, dan dia memilih menitipkan anaknya ke day care tadi…

Nah, keliatan kan, kalau situasi yang salah akan membuat kalimatmu menyakiti orang lain. Termasuk misalnya saat kamu menegur seseorang, pastikan itu dilakukan secara pribadi, bukan di depan banyak orang…

Ada 3 hal yang menurut saya perlu bisa dilakukan agar ucapan kita tidak mengganggu atau menyakiti orang lain. Tapi, bagaimana pun juga, pertanyaan besar yang sesungguhnya harus kita jawab berkaitan dengan pola berbicara kita adalah, apa sih sebenarnya tujuan kita berbicara sesuatu? Apakah untuk nge-judge seseorang? Apakah untuk menjelekkan orang lain? Sekedar omong kosong untuk mengisi waktu luang? Atau untuk katarsis melampiaskan kekesalan?

Hmm…

Sebenarnya, jika sebuah pembicaraan sungguh hanya mengandung hal yang buruk, kita bisa kok memilih untuk diam. Toh, melampiaskan kekesalan, bercanda dan sejenisnya tidak musti dengan mengeluarkan kata-kata buruk, tidak benar atau menyakiti orang lain. Bisa lho dengan ngomel-ngomel sendiri di kamar mandi, bisa lho dengan curhat di buku harian, dan sebagainya. Tapi jangan di social media ya, karena ini sih sama saja :D.

Saya tahu, kadang ada dorongan yang kuat dalam hati kita untuk berbicara sesuatu yang buruk; yang kesannya sinis, menjatuhkan orang lain, menyakiti orang lain dan sebagainya. Saya pun terkadang merasakannya. Ini hal yang manusiawi. Tapi, janganlah diumbar begitu saja keinginan seperti ini, tapi belajar untuk mengendalikannya. Paling tidak, jika memang harus ‘dikeluarkan’ (baca: dibicarakan) lakukan 3 trik di atas (pilih audience, jaga aspek nonverbal dan perhatikan situasi dan kondisi). Sekali lagi, agar perkataan kita tidak mengganggu atau menyakiti hati orang lain…

But still, in this case, the best quality of a speaker is to ‘speak good or remain silence’… Kualitas terbaik dari seorang dalam hal berbicara adalah untuk membicarakan sesuatu yang baik dan dengan cara yang baik dan tujuan yang baik, atau lebih baik kita diam…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Sunday, September 25, 2016

Bold to be Healthy

Big is beautiful
Ga papa gendut, yang penting sehat…”
Dst.

Adalah beberapa kalimat yang seringkali kita dengar berkaitan dengan bentuk tubuh besar, gendut’ atau ‘gemuk’. Kalimat yang mungkin adalah bentuk empati agar si pemilik tubuh besar tetap berpikiran positif dan bahagia. Kalimat yang sungguh tidak salah sedikit pun jika ‘big’ yang dimaksud tidak melampaui berat badan ideal seseorang. Namun menjadi salah, jika kalimat ini digunakan sebagai pembenaran atas berat-badan-berlebih yang dialami seseorang, sehingga orang tersebut tidak memperbaiki pola hidupnya menjadi lebih sehat.

Obesitas sebagai dampak dari pola hidup tidak sehat, faktanya bisa menyebabkan berbagai penyakit kronis. Misalnya yang dialami Yunita Maulidia (16 tahun) dengan bobot 125 kg, yang harus menjalani perawatan medis karena komplikasi jantung. So, berat-badan-berlebih bukan hanya masalah penampilan, tapi menyangkut kesehatan!


***

Berbicara mengenai penyakit jantung, pada tahun 1990-an, mungkin banyak dari kita yang sebatas mengenalnya melalui televisi. Mungkin melalui sinetron yang menampilkan adegan seorang paruh baya yang kesakitan memegangi dada sebelah kanannya karena serangan jantung. Kala itu, penyakit jantung masih tergolong langka dan belum masuk ke dalam daftar 10 besar penyakit penyebab kematian di Indonesia. Berbeda dengan sekarang, dimana penyakit jantung telah menempati peringkat kedua!

Tuesday, August 23, 2016

Berdamai dengan Rasa Takut


“Apa sih perbedaan antara ‘berdamai’ dan ‘mengalahkan’?

“Wo, ya jelas beda dong… Dari sisi manapun jelas ga ada persamaan. Kata kerja ‘mengalahkan’ dan ‘berdamai’ (mungkin) memang sama-sama diawali dengan suatu pertandingan, kompetisi atau bahkan peperangan, namun dengan ending yang berbeda. Kata kerja ‘mengalahkan’ didapatkan setelah seseorang dinyatakan lebih kuat, lebih baik dan sebagainya. Sedangkan ‘berdamai’ adalah kata kerja yang digunakan saat kedua belah pihak kemudian berusaha saling memahami dan mengerti kepentingan masing-masing, kemudian menurunkan ego masing-masing dan kemudian memutuskan untuk berjalan bersama tanpa predikat ‘menang’ dan ‘kalah’.

Yes, keduanya memang beda… Tapi, dalam kasus yang lebih abstrak, perbedaan keduanya menjadi samar.

Misalnya seperti ini: pada suatu hari, saya share cerita saya tentang belajar menyetir ini di Facebook. Dan kemudian, ada seorang teman yang berkomentar, bahwa dia belum bisa menyetir karena belum bisa MENGALAHKAN rasa takutnya. Dan saya jawab, bahwa rasa takut itu bukan untuk dikalahkan tapi diajak BERDAMAI. Yes, I know hal ini tidak mudah dijelaskan dengan singkat semacam berbalas komentar di Facebook. Komen di Facebook sebenarnya bisa panjang juga sih, tapi kalau saya yang seringnya pakai hape untuk akses Facebook, males ngetiknya :D. Jadi, mari kita bikin jadi blog post saja, sekalian update blog :D.


Back again, jadi, setelah komentar saya itu, teman saya kemudian menjawab, “…iya, intinya di rasa takut kan…” Hmm, yes she’s right, tapi saya merasa dia tidak memahami maksud saya. So, here what I mean perbedaan antara ‘MENGALAHKAN’ dan ‘BERDAMAI’…

Saya adalah seorang perfeksionis, mungkin itu ada pada gen saya, karena sedari kecil, saya adalah seorang perfeksionis. Saat kecil, saya ingat sekali bagaimana saya selalu berusaha melakukan semua hal sesempurna mungkin; mulai dari menulis, menggambar (melukis), cara berpakaian dan banyak hal lainnya. Saya selalu berusaha menulis dengan sangat rapi, melukis dengan sesuai bayangan saya dan selalu meminta baju saya dimasukkan ke dalam celana atau rok yang saya pakai. Hal yang tampaknya baik-baik saja atau bahkan terdengar bagus, namun saya menemukan banyak benturan dengan sifat ini.

Saya sulit menerima adanya tulisan yang tidak rapi, coretan dan sebagainya dalam buku catatan saya. Saya sulit mentolerir hal yang semacam itu, dan jika hal itu terjadi, maka saya akan berusaha mengganti bukunya, karena saya maunya buku itu rapi! No stroke, no mistakes, no flaws, no compromise! Kebayang ya boros dan ribetnya… Lalu jika terpaksa harus berada dalam situasi tidak sempurna seperti keinginan saya, efeknya adalah rasa malas, tidak bersemangat dan sedikit (atau banyak tergantung kasusnya) merasa stress. Melihat atau berada dalam posisi yang tidak sesuai ekspektasi itu, sangat menyiksa* kaum perfeksionis seperti kami. Iya kan? (bertanya pada para perfeksionis).

Dan juga cukup fatal dalam beberapa kasus… Sewaktu SD, saya pernah tidak mengumpulkan tugas kerajinan tangan, karena berkali-kali berusaha membuat, tapi tidak berhasil seperti keinginan saya. Saya juga pernah menyobek lembar tes saya menjadi dua, karena merasa tulisan saya tidak rapi –saya menyobeknya untuk menghilangkan tulisan saya yang tidak rapi, saya menyalin jawabannya di sebelah kertas itu. Awkward, yes! Extreem, yes! Tapi bukan hal yang ter-ekstrim dan ter-fatal yang terjadi pada diri saya.

Monday, July 25, 2016

The Truth Behind 2 to 7 Years Old’s Mind

Geregetan! Gemes! Adalah dua kata yang paling menggambarkan efek kekesalan yang sering saya rasakan menghadapi ulah Ganesh yang semakin ‘sulit diatur’ akhir-akhir ini. Dulu, ‘kepintaran’-nya lebih banyak digunakan untuk memahami makna, maksud dan intruksi yang kami berikan; jadi begitu paham, insyaallah dia akan ‘menurut’. Beda dengan sekarang, urusan ‘paham-memahami’ jelas jauh lebih lancar; dengan mudah kami bisa membuatnya mengerti maksud kami. Lebih santai dan effortless sampai disini, tapi ‘kita-kita’ yang punya anak pra-sekolah-dasar (2 sd 7 tahun) pasti tahu bahwa saat ini, tantangan yang lebih menguras hati dan pikiran baru saja datang dan terus mengejar, selayaknya bola salju –makin lama, makin besar. Itu yang saya rasakan, semakin lama, Ganesh semakin suka mencari alternatif solusi yang kadang membuat semua serasa kurang efektif, atau bahkan membantah dan menolak sama sekali permintaan kita.

Ganesh mau pose macem-macem begini sebagai hukuman karena njatuhin gantungan tirai di rumah… Setelah berkali-kali diingetin, tapi anaknya masih penasaran juga ‘__’

Ganesh : “Mama, Anesh mau main dulu ya…” (Ini posisinya pagi-pagi mau berangkat sekolah dan ke kantor).
Saya      : “Anesh, bentar lagi kita berangkat lho… Mama tinggal ganti baju nih…”
Ganesh  : “Tapi Anesh mau main…”
Saya     : “Ya udah, sebentar aja ya… Jangan jauh-jauh… Biar nanti gampang manggilnya…” (Mengalah, daripada ngambek anaknya).
Ganesh  : “Anesh maunya lama! Kita berangkatnya nanti aja habis Anesh main…”
Saya      : “Aduh Anesh… @&*&)!^#*) ‘__’ (Mulai menjelaskan, tapi anaknya susah dijelasin = deadlock, stress, pengen nangis, pengen marah, bingung…)

Terbayang kan rasa sebalnya… Terutama pada saat-saat kritis; seperti sedang terburu-buru atau kita sedang kelelahan secara fisik/psikis. Harusnya sih kita tetap bisa sabar, tapi apalah daya, kadang pertahanan bobol juga… Memang harus belajar lebih banyak lagi dan mempertebal niat untuk mengatasi situasi-situasi seperti itu yang semakin sering terjadi.

Salah satunya ya dengan menyadari bahwa memang seperti itulah karakter pemikiran mereka pada usianya saat ini (5 tahun). Menurut Teori Perkembangan Kognitif (Piaget), pada usia ini (2 sd 7 tahun), anak sedang dalam tahap perkembangan kognitif preoperational. Mengutip dari Buku Life-Span Development (Sigelman & Rider, 2012); “Anak-anak pra-sekolah (2 sd 7 tahun) menggunakan kemampuan berpikir simbolisnya untuk membangun bahasa, terlibat dalam permainan peran dan memutuskan masalah. Tapi pemikiran mereka belum logis; mereka egosentris (tidak mampu untuk melihat dari perspektif orang lain) dan dengan mudahnya dikelabui oleh persepsi, gagal dalam hal konversi karena mereka tidak bisa memahami/mempercayai sepenuhnya hal yang logis.”

Seperti halnya pada penggalan kasus saya dan Ganesh di atas. Dalam pikiran Ganesh, sekolah itu ya bisa nunggu dia main dulu, ga harus sekarang, bisa nanti… Egosentris, sulit memahami sudut pandang orang lain…Perlu effort dan waktu untuk membuatnya mengerti bahwa dalam sekolah itu ada aturan, ada jam masuk dan keluarnya, yang fixed dan bahwa waktu bermainnya itu yang flexible, jadi bisa menunggu…

Dan ya, mereka memang belum sepenuhnya logis… Sesuatu yang sepertinya sederhana saja terkadang begitu sulit diterima, apalagi jika itu bertentangan dengan keinginannya… Misalnya nih:

Ganesh  : “Mama, ini sudah sore belum?”
Saya      : “Hmm, kenapa Anesh? Anesh mau main ya?”
Ganesh  : “Iya… Ini sudah sore banget belum?”
Saya      : “Sudah sih Anesh, ini sudah mau Maghrib, Anesh main di rumah saja ya…”
Ganesh  : “Tapi Anesh mau main sepeda…”
Saya      : “Main sepedanya besok aja ya…”
Ganesh  : “Besok itu lama…”
Saya      : “Ya gimana dong, ini kan sudah sore, sudah mau malam… bla-bla-bla @^$(#&#^$^*^%$…
Ganesh  : “Besok itu lama Mama!”
Saya      : “Ya udah, sana Anesh kalo mau main, tapi sudah gelap ya… Nanti kalo jalannya ga keliatan gimana… bla-bla-bla…” (Ceritanya ngasih ijin biar dia mikir nih resikonya).
Ganesh  : “Jadi gimana ini!” (Nangis tantrum).

Coba deh dibayangin, ini kan sebenarnya sederhana saja ya… Ini sudah menjelang malam, berbahaya kalo main di luar; ya main di rumah saja, atau kalo memang pengen main di luar ya tanggung resikonya. Mau nangis seperti apa juga ga akan merubah keadaan; ga bisa memutar waktu, ga bisa mengembalikan matahari kembali ke atas, ga bisa merubah keadaan menjadi terang, juga tidak bisa mempercepat waktu… Jadi, kenapa harus nangis? Kan tinggal pilih lho; kalo mau main sekarang ya gelap-gelapan, sepi, dan bahaya. Nah, kalo ga mau, ya tunggu besok mainnya… Kita yang orang dewasa pasti ga habis pikir apanya yang ditangisi, tapi itulah salah satu akibat dari kemampuan kognitifnya sehingga belum bisa berpikir sepenuhnya berlandaskan logika.

Kadang, hal yang sebenarnya sepele bagi kita menjadi sesuatau yang rumit bagi mereka. Dan seringkali, mereka melakukan hal yang menurut kita tidak efektif; yang seharusnya bisa sebentar, jadinya lama; dan yang seharusnya gampang menjadi sulit. Kadang, sulit bagi kita untuk memahami cara mereka berpikir. Kadang itu membuat kita menjadi tidak sabar, gemas atau gregetan. Kadang mengapa hal yang sederhana saja tidak juga mengerti. Kadang juga gemas, kenapa begitu sulit bagi mereka untuk mempercayai kata-kata kita dan menurut saja untuk mempersingkat waktu saat mereka belum mampu memahami penjelasan kita.

Tapi kan… sederhana dan sepele itu menurut kita, bagi mereka apa yang mereka lakukan ya memang harus seperti itu. Memang harus seperti itu caranya, bukan sesuatu yang rumit bagi mereka. Demikian juga dengan apa yang kita anggap ‘tidak efektif’ dan ‘tidak masuk akal’, ya memang harusnya seperti itu, tidak ada cara lain. Sekali lagi, melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda itu masih belum mereka kuasai; dan pemikiran mereka pun belum sepenuhnya logis. Berikut adalah karakter seorang preoperational thinker (kurang lebih usia 2 sd 7 tahun) menurut Teori Perkembangan Kognitif Piaget:
  • Memiliki pemikiran yang irreversible atau tidak mampu membalik suatu kegiatan secara mental;
  • Pemikiran terpusat pada satu aspek dari permasalahan (belum/kurang mampu melihat beberapa dimensi pada saat bersamaan);
  • Memiliki pemikiran yang statik, yaitu gagal untuk memahami transformasi atau proses dari berubahan dari satu bentuk ke bentuk lain;
  • Poin 1 sd 3 menyebabkan seorang preoperational thinker seringkali gagal untuk menyelesaikan permasalahan konversi. Misalnya pada saat air dalam gelas berukuran lebar dipindahkan ke dalam gelas yang tinggi dan sempit, maka mereka akan menganggap air dalam gelas tinggi dan sempit lebih banyak (padahal kan sama saja);
  • Pemahaman didorong oleh bagaimana suatu hal terlihat daripada hasil penalaran logis;
  • Seringkali menggabungkan beberapa fakta yang sesungguhnya tidak berhubungan, sehingga mengantarkan mereka untuk membuat kesimpulan yang salah akan penyebab suatu hal/kejadian;
  • Seringkali menggabungkan beberapa fakta yang sesungguhnya tidak berhubungan, sehingga mengantarkan mereka untuk membuat kesimpulan yang salah akan penyebab suatu hal/kejadian;
  • Kesulitan untuk melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain dan berasumsi bahwa apa yang ada dalam pikirannya juga ada dalam pikiran orang lain (egosentris);
  • Mengklasifikasikan objek berdasarkan satu dimensi pada saat bersamaan.

Jadi, the truth behind 2 to 7 years old’s mind atau fakta dibalik pemikiran anak usia 2 hingg 7 tahun itu adalah: bahwa mereka cukup mastered untuk memahami makna ucapan kita secara harafiah (bahasa), namun terkadang mereka gagal untuk memahami apa yang kita maksud secara logis.

Jadi, wajar ya kalau cara berpikir, kesimpulan dan solusi-solusi yang mereka hasilkan seringkali kita rasa tidak efektif atau tidak rasional. Kalau menurut saya sih cara berpikir mereka itu masih ‘nanggung’; mereka memahami makna dari kata-kata yang kita ucapkan, tapi cara berpikir mereka berbeda dengan kita, sehingga ya itu tadi, kesimpulan dan solusi-solusinya berbeda dengan harapan kita. Yang wajar juga jika seringkali membuat kita gemas dan gregetan, tapi tentu saja, kita harus bersabar kan… Jangan kemudian kita ikut-ikutan mengalami degradasi dalam berpikir, ikut-ikutan berpikir secara egosentris; berpikir bahwa cara berpikir mereka ya sama dengan cara berpikir kita.

Tetap berpikir jernih, sabar dan mengayomi… Bantu mereka memahami berbagai hal dan ajak mereka untuk melakukan hal yang baik untuk mereka lakukan sesuai cara berpikir mereka. Semua ada masanya, dan akan ada masanya dimana anak-anak yang sekarang terasa menggemaskan dan bikin geregetan ini tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas, logis dan bijak dalam menyikapi berbagai hal. Akan ada masanya dimana kita akan berdebat dengan anak-anak kita dalam level yang berbeda, lebih sulit, karena harus menggunakan berbagai fakta dan logika untuk meyakinkan mereka. Haha, sepertinya itu bukan berarti bahwa kita kemudian bisa menarik napas lega dan melepaskan ketegangan urat-urat saraf ya… Tapi bisa jadi lebih ‘menegangkan’ daripada apa yang kita hadapi sekarang :D.

It’s OK ibu-ibu (dan bapak-bapak), tetap harus bersemangat dan bersyukur dalam menghadapi setiap moment dalam hidup kita. Karena waktu itu kan hanya sementara ya… Let’s make the best thing that we can… Dan untuk sekarang, yang bernasib sama dengan saya, memiliki anak dengan level kognitif yang sama (istilah kerennya preoperational), mari kita berusaha tetap berpikir jernih dan bijak dalam menghadapi tingkah polah mereka.

Semangat!!!

With Love,
Nian Astiningrum
-end-


Reading:
Sigelman, Carol K. & Rider, Elisabeth A. 2012. Life-Span Human Development, 7th Edition. Canada: Wadsworth.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...