Wednesday, January 24, 2018

Memahami Gender dan Peran Seksual melalui Film Mulan (1998)

Laki-laki dan perempuan itu beda… Dari sisi fisiologis saja laki-laki dan perempuan itu berbeda… Tidak hanya postur badan saja yang berbeda; bahkan metabolisme tubuh, struktur otak, dan juga hormon-hormon yang ada dalam tubuhnya. Sehingga karena inilah, kemudian adalah hal yang alami jika kemudian laki-laki dan perempuan memiliki sejumlah kecenderungan perilaku dan karakter yang berbeda. Lalu, berbagai perbedaan ini membentuk pola sosial yang berbeda juga antara keduanya. Karena keduanya (laki-laki dan perempuan) memiliki potensi, serta kelebihan dan kekurangan yang berbeda.
Gender adalah sekelompok karakteristik atau sifat yang diasosiasikan dengan jenis kelamin seseorang (laki-laki atau perempuan) (Wikipedia).
Itulah kemudian timbul tuntutan peran yang berbeda antara laki-laki dan perempuan… Laki-laki bekerja ke luar rumah, perempuan menjaga rumah dan merawat anak-anak. Atau laki-laki bekerja sebagai tentara dan perempuan bekerja sebagai perawat, dan sebagainya, dan sebagainya… Yang seringkali membentuk pemahaman yang overgeneralised tentang seperti apa laki-laki dan seperti apa perempuan. Ya kan walaupun memang sebagian besar pria memiliki kemampuan spasial yang lebih baik, bukan berarti semua wanita adalah pengendara yang buruk kan… dan banyak lagi, dan banyak lagi…
Gender Role atau Sex Role adalah peran sosial meliputi serangkaian perilaku dan sikap yang secara umum diterima, sesuai, atau diharapkan untuk seseorang berdasarkan jenis kelaminnya (Wikipedia).
So, muter-muter ini poinnya apa?

Poinnya ada dua teman-teman… Pertama, bahwa laki-laki dan perempuan itu memiliki perbedaan dalam beberapa hal, punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Kedua, karena itu, kemudian ada semacam prototype suatu aktivitas maupun profesi untuk laki-laki atau perempuan. Dimana hal tersebut harus dipahami, namun tidak untuk digeneralisir berlebihan. Adalah benar, pada umumnya profesi tentara yang banyak berhubungan dengan kekuatan fisik lebih cocok untuk laki-laki; namun tidak menutup kemungkinan bahwa seorang perempuan pun bisa menjadi tentara jika memang dia ‘mampu’.


Nah, kedua hal itulah yang tidak sengaja ternyata bisa saya sampaikan kepada Ganesh sembari menonton Film Mulan yang rilis pada tahun 1998. ‘Tidak sengaja’, karena awalnya saya tidak punya niat untuk itu. Semuanya mengalir begitu saja saat menonton bersama Ganesh, melalui pertanyaan-pertanyaannya yang membuat saya banyak menjelaskan kedua hal ini (gender dan sex role) secara sederhana kepadanya.

Penasaran?

Here it goes

Film Mulan ini adalah film animasi besutan Walt Disney yang mengangkat cerita rakyat Negeri Cina, tentang tokoh wanita pemberani bernama Hua Mulan (dalam film Fa Mulan) yang menggantikan ayahnya yang sudah uzur maju ke medan perang.

Film ini diawali dengan cerita tentang sosok Mulan sebagai seorang gadis yang cerdas dan lincah. Sosok yang berbeda tuntutan masyarakat Negeri Tirai Bambu saat itu kepada seorang gadis, yang harus penuh sopan santun dan tata krama, lemah lembut, serta tidak ‘ngeyel’ atau banyak berdebat… Pokoknya, seorang perempuan harus terlihat kalem dan penurut… kira-kira seperti itu.

Kebayang kan…

Nah, karena sikap Mulan yang lugas ini.. dia kemudian mengalami banyak benturan antara tuntutan sosial di lingkungannya dan keinginannya. Ada kalanya benturan ini kemudian membuatnya harus melakukan sesuatu tidak diinginkannya. Atau kemudian lingkungan memandangnya negatif karena perilakunya yang tidak sesuai dengan nilai ideal tersebut. Ingat lagu 'Reflection' yang menjadi soundtrack film ini? Kira-kira seperti itulah gambaran kegalauan hati Mulan saat itu… Mulan merasa tidak bisa mengekspresikan dirinya yang sesungguhnya…

Dan cerita terus mengalir sampai saat dimana pada suatu hari Negeri China diserang oleh pasukan jahat yang dipimpin oleh Shan Yu… Hingga Raja China kemudian memerintahkan setiap keluarga untuk mengirimkan seorang laki-laki ke medan perang. Dan keluarga Fa sendiri tidak memiliki anak laki-laki, maka ayah Mulan yang telah uzur pun mengajukan diri untuk memenuhi perintah raja tersebut.

Melihat hal ini, tentu saja Mulan tidak tinggal diam… Dia membujuk ayahnya untuk tidak menjalankan perintah tersebut, karena toh tidak masuk akal bukan seorang yang telah uzur maju ke medan perang? Namun, karena ayahnya berkeras untuk tetap maju ke medan perang, akhirnya Mulan pun mencuri pedang serta baju perang ayahnya, menyamar menjadi laki-laki dan pergi menggantikannya menuju ke camp pelatihan prajurit perang.

Lalu disanalah segala masalah dan tantangan kemudian dimulai… Mulan yang notabene adalah seorang perempuan, tentu tidak memiliki fisik yang sekuat laki-laki tentu kesulitan dengan latihan berat yang harus dilakukan. Pun perilakunya yang tentu saja berbeda dengan laki-laki yang cenderung 'kasar' dan bercanda dengan fisik, membuatnya sulit diterima diantara teman-teman laki-lakinya. Oh ya, dan jangan lupa, karena Mulan perempuan dan semua teman-temannya laki-laki, itu juga berarti dia tidak bisa leluasa bergaul dengan mereka. Mulan harus tidur terpisah di tendanya sendiri dan juga mandi dengan sembunyi-sembunyi.

Akan tetapi, dengan segala tantangan itu, dengan ketekunan dan kecerdikan Mulan… semuanya bisa dilewati. Mulai dari Mulan bisa menjawab tantangan Panglima Li Shang untuk mengambil anak panah yang tertancap di puncak sebatang kayu tinggi, dimana teman-teman lainnya gagal. Bisa mengikuti latihan bela diri seperti halnya teman-teman laki-lakinya lainnya. Berhasil mengalahkan puluhan atau ratusan pasukan Shan Yu dengan kecerdikan dan keberaniannya menembakkan meriam ke sebuah gunung es. Dan bahkan akhirnya bisa menyelamatkan raja dan mengalahkan Shan Yu…

Ya, Mulan berhasil mengalahkan tantangan dan kesulitan yang dialaminya, mematahkan semua anggapan bahwa wanita itu lemah serta tidak bisa menjadi prajurit di medan perang… bahkan menjadi pahlawan dengan segala keberanian dan kecerdikannya. Note that!

Well, dari sini kelihatan bukan, ada banyak nilai berkaitan dengan gender dan peran seksual yang bisa diajarkan pada anak melalui film ini. Adapun menurut catatan saya, hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:
  • Bahwa perempuan dan laki-laki memiliki sejumlah perbedaan, salah satunya pada sisi fisik yang menyebabkan keduanya memiliki potensi yang berbeda. Dalam film ini ditunjukkan bagaimana laki-laki memiliki fisik yang lebih kuat daripada perempuan, sehingga Mulan kesulitan untuk mengikuti latihan sebelum maju ke medan perang. Sampai-sampai pada saat harus berlatih fisik membawa beban (memikul dua buah ember) sambil berlari, Mulan tidak bisa menyusul teman-temannya dan akhirnya dibantu oleh pelatihnya.
  • Bahwa itu juga mengapa kemudian ada profesi yang secara umum lebih cocok untuk laki-laki atau perempuan. Misalnya dalam hal ini yang menjadi tentara di medan perang… laki-laki secara umum lebih cocok, karena memiliki fisik yang lebih kuat. "Coba deh Anesh bayangin, kalo tentara itu gampang capek dan ga bisa ngangkat beban berat… nanti gampang ketangkap musuh deh… Baru bawa meriam misalnya, eh larinya jadi pelan banget… kan gampang ketangkap musuh…"
  • Bahwa karena fisiknya lebih kuat, seorang pria selayaknya membantu seorang wanita dalam hal yang relatif berat secara fisik. "Jadi, kalau Anesh liat ada cewe bawa barang berat, dibantuin ya…"
  • Bahwa, meskipun perempuan memiliki fisik yang lebih lemah, bukan berarti dia lebih tidak mampu dibanding laki-laki. Seperti halnya Mulan yang dengan lebih lemah secara fisik, namun selalu ketekunan dan sifat pantang menyerah yang membuatnya cakap dalam hal ilmu bela diri. Juga kecerdikannya dalam segala hal, sehingga bahkan dia bisa mengalahkan puluhan tentara musuh sekaligus dengan menembakkan meriam ke gunung es dan menyelamatkan raja dari serangan Shan Yu. Jadi, jangan pernah meremehkan seorang laki-laki atau perempuan dalam hal tertentu. Atau dengan kata lain, jangan menyamaratakan bahwa semua wanita atau pria tidak bisa melakukan suatu hal…
  • Bahwa pria dan wanita memiliki 'daerah pribadi' yang berbeda. Daerah pribadi adalah bagian tubuh yang hanya boleh dilihat dan disentuh oleh orang itu sendiri, serta papa-mama dan pengasuh pada saat masih kecil. Karena itu, ada adegan dimana para pria berlatih dengan bertelanjang dada, sementara Mulan tetap memakai baju. Juga kenapa Mulan harus diam-diam pergi dan tidak boleh mandi di sungai bersama teman-teman laki-lakinya.
Kurang lebih poin-poin itu yang tanpa kesengajaan saya sampaikan kepada Ganesh melalui pertanyaan-pertanyaannya. Seperti, "Emang kenapa kalo cewe pergi perang? Emang kenapa kalo Mulan mandi di sungai sama teman-temannya…" dll.

Benar-benar tidak direncanakan sebelumnya…

Nah, tapi ada satu pertanyaan yang saya masih agak bingung jawabnya… "Kenapa emangnya kalo cewe harus dandan?" Itu pertanyaan Ganesh melihat Mulan harus berdandan tebal pada saat bertemu dengan (sebut saja) bibi mak comblang profesional. Seorang yang menguji kepantasan seorang wanita untuk menjadi seorang istri dan kemudian dijodohkan.

Jika Ganesh sudah cukup dewasa (17 tahun), pastilah saya akan jelaskan bahwa itu adalah satu hal untuk menarik perhatian lingkungan, terutama lawan jenis. Pria secara alami memiliki ketertarikan pada hal yang indah secara visual, itu kenapa kemudian wanita berdandan. Walaupun kemudian, alasan wanita untuk berdandan kemudian telah berevolusi sedemikian rupa sehingga tidak lagi sesederhana itu.

Skipskip… ini sih keluar dari topik ya… Tadi kan ngomongin soal bagaimana Film Mulan bisa menjadi alat bantu menjelaskan hal berkaitan dengan gender dan peran seksual. Kalau paragraf di atas, ya jelas ga mungkin dijelaskan pada anak umur 6 tahun seperti Ganesh.

"Nanti ya Anesh… Mama jelasin kalau Anesh sudah cukup umur akan Mama jelasin… Tentu saja kalau kamu belum nemu jawabannya sendiri…"

Sementara, untuk pertanyaan, "Kenapa emangnya kalo cewe harus dandan?" saya jawab saja, "Ya supaya cantik Anesh… Kalau di China yang dianggap cantik ya seperti itu… pake bedak tebal, lipstiknya merah, bibirnya dibentuk seperti itu, disanggul, dll… Setiap daerah kan punya budaya sendiri-sendiri, misalnya kalau di Jogja, cewe juga disanggul, tapi beda sanggulnya, terus jidatnya digambarin item-item…"

Dah, seperti itu aja… setelah itu segera pindah ke topik lain sebelum anaknya nanya-nanya yang susah dijelasin…

Back to Mulan… menurut saya film ini recommended! First of all, adegan dalam film ini aman untuk semua umur alias ga ada yang 'aneh-aneh'. Secondly, meskipun animasinya mungkin ga sebagus film-film animasi jaman sekarang, tapi ga bisa dibilang jelek juga… Dan yang jelas, dari sisi jalan cerita sangat bagus, ada banyak nilai moral yang bisa kita ajarkan pada anak melaluinya. Jadi, ibu-ibu… silakan mengosongkan jadwal setiap kali film ini tayang supaya putra-putrinya ga nonton sendirian dan kita bisa memasukkan nilai-nilai kebaikan pada mereka. Kayaknya sih, di stasiun TV beberapa kali diputar ya? Atau cari saja filmnya di iTunes dan sebangsanya… 

Happy watching ;)

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Monday, January 8, 2018

Pengalaman Operasi Gigi Miring (Impaksi) di Lampung

Hari itu, pada suatu pagi… entah kenapa, saya merasakan sensasi ngilu di gigi bagian belakang saya. Hanya ngilu sedikit saja, tidak benar-benar sakit seperti sakit gigi yang digambarkan orang… tapi saya langsung khawatir jika ada sesuatu yang terjadi pada gigi saya. Rasa ngilu siang itu, serta merta merontokkan kepercayaan diri saya… Mendadak saya ingat, bahwa meskipun rajin gosok gigi setiap pagi dan malam sebelum tidur, semua itu seringkali saya lakukan dengan buru-buru. Bahkan, bukannya semenjak menjadi ibu, tidak terhitung berapa kali saya ketiduran saat ngelonin anak dan lupa gosok gigi… *Tepok jidat* Bisa-bisanya saya begitu percaya diri selama ini, merasa bahwa gigi saya begitu bagusnya, hingga tidak pernah minimal memeriksa kondisi gigi sendiri…

Dan benar saja, saat saya melihat gigi saya terasa ngilu itu… saya menemukan sebuah lubang yang besar di gigi geraham bungsu saya!


Langsung, pagi itu saya cari info dokter yang praktek pagi, dan meminta ijin untuk periksa gigi sebentar ke rumah sakit dekat kantor. Dan eng-ing-eng, yang tadinya saya kira gigi saya akan ditambal atau gimana, ternyata langsung divonis kalau dia harus dicabut! Bukan karena berlubang, karena menurut dokternya lubang gigi itu timbul karena gigi bungsu saya nabrak gigi sebelahnya kalah!  So, daripada menimbulkan masalah yang lebih pelik, si gigi bungsu ini harus diangkat! Dan bukan itu saja, dokter bilang kalau posisi gigi saya miring atau impaksi, kemungkinan tidak bisa dicabut, tapi harus dibedah… Sehingga hari itu saya mendapat pe-er untuk pergi ke klinik lain untuk melakukan rontgen gigi…

Huhu, saya sudah pasrah saja… sadar diri dengan keteledoran saya selama ini… *Mendadak ingat, iklan layanan di TV sewaktu saya kecil, setiap 6 bulan sekali kan harusnya kita periksa ke dokter gigi. Andai saja, saya ga terlalu sombong, mungkin gigi bungsu saya masih bisa diselamatkan. Dan saya tidak harus menghadapi, sesuatu bernama bedah gigi, yang jujur cukup membuat keder…

Friday, December 29, 2017

Pelajaran dari 'Drama' Sakitnya Mahesh: Totalitas Ibu, Ketenangan Anak dan Penyembuhannya…

Anak sakit, tidak perlu panik… Yes, karena konon anak usia di bawah satu tahun, mengalami sakit rata-rata 8-12 kali dalam kurun waktu setahun dan berkurang menjadi 6-8 kali setahun setelah lebih besar. Faktor penyebabnya di antaranya adalah karena mereka belum sadar pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan, serta sistem imunitasnya belum sempurna.
Dan saya memang relatif tidak pernah terlalu panik sih saat anak sakit. Demam, batuk pilek hingga diare ringan biasanya akan sembuh dengan sendirinya dengan perawatan di rumah (tidak perlu ke dokter). Bahkan, ada riwayatnya kala itu Ganesh yang mengalami muntaber, hingga menurut dokter mengalami dehidrasi sedang dan seharusnya rawat inap, kami rawat sendiri di rumah, karena tidak ada kamar di RS. Adanya kamar gabungan, ya kan mikir-mikir juga, bagaimana jika malahan nanti tertular sakit lain, sementara daya tahan tubuh anaknya memang sedang lemah. Masih ingat sekali kata dokter saat itu, "Ini dehidrasinya masih sedang kok Bu, saran saya dirawat di rumah saja karena kondisi di rumah sakit sedang tidak memungkinkan… Nanti jika kemudian anaknya masih terus-terusan mutah berak dan bertambah lemas, silakan di bawa ke rumah sakit lagi…"

Dan alhamdulillahnya, perkataan dokter tersebut tidak meleset… Dengan berusaha sekuat tenaga (baca: terus-menerus menggendong anak selagi terjaga, memberi cairan setiap 5 menit sekali 1 sendok makan, 'memaksanya minum obat', dan mengusahakannya istirahat dengan nyaman), kemudian keadaan si sulung kala itu membaik hingga benar-benar sembuh. Fiuhhhh, benarrr-benarrr legaaaa… (dengan penekanan).

Dengan pengalaman jungkir baliknya saat anak pertama sakit, jelas mental saya sudah terlatih menghadapi sakitnya anak kedua, Mahesh. Demam, batuk pilek, hingga diare ringan hingga tiga hari, saya masih tenang merawatnya di rumah tanpa ke dokter. Prinsipnya adalah menjaga agar anak tidak dehidrasi, mendapat istirahat yang cukup dan tidak kekurangan nutrisi, maka kondisi anak pun akan membaik sedikit demi sedikit.

Ini pose tutup hidung Mahesh supaya ingus ga meler, sementara
Mamanya belum datang…

Prinsipnya sih seperti itu, dan selama ini alhamdulillah selalu terbukti benar… Sampai akhirnya saya dibuat galau saat Mahesh kemudian sakit di Bulan Oktober - November 2017 lalu. Sakitnya sih ringan saja… demam, batuk pilek dan disusul dengan diare. Tapi, yang membuat ketenangan saya kemudian rontok adalah sakitnya itu datang dan pergi silih berganti. Sehari demam, batuk pilek… sehari berikutnya demamnya hilang tinggal batuk pilek saja selama beberapa hari, kemudian demam lagi masih batuk pilek, demam hilang batuk pilek membaik beberapa hari, demam lagi kemudian diare… Terus, hingga dihitung-hitung sampai juga sebulan kondisinya turun naik seperti itu… Nafsu makan kacau balau hingga tulang-tulang tampak bersilangan di tubuhnya karena terlihat kurus. Juga tingkat kerewelannya yang meningkat drastis… sementara saya harus bekerja, ibu mana yang tidak tumbang kepercayaan-dirinya coba? 

Huhu, sungguh, sakit Mahesh kala itu sungguh drama! Selain makannya jadi agak susah, anaknya juga jadi pemilih banget, apa-apa maunya harus mama! Bahkan untuk hal sekecil pipis dan ngelap ingus… juga harus mamanya. Sementara saya, walaupun dengan kantor yang hanya berjarak 10 menit saja dari rumah, tentu tidak bisa seleluasa itu untuk mengurus semua kebutuhan Mahesh… Dan anaknya, sungguh cranky dan ngotot dengan maunya… Alhasil, anaknya pernah nangis sambil nungguin mamanya di depan rumah sambil nempelin jarinya ke lubang hidung supaya ingusnya ga meler, demi menunggu mamanya yang ngelapin. Pernah juga ketiduran di karpet ruang tamu karena nungguin mau eek sama mamanya. Atau terus menerus nangis, sampai tetangga nelponin ngabarin kondisi Mahesh.

Iya, dramanya sakit Mahesh kala itu sampai seperti itu. Sesuatu yang sangat bisa saya maklumi karena badannya yang terasa tidak nyaman. Tapi, sungguh menjadi dilema tersendiri buat saya, karena tidak bisa selalu ada di sampingnya dalam kondisi seperti itu…

Sampai akhirnya melihat kondisi Mahesh yang naik turun, sakitnya tidak kunjung benar-benar pergi… pada demam dan diarenya yang terakhir, saya memutuskan untuk mengambil cuti setelah mengambil kesimpulan bahwa Mahesh benar-benar membutuhkan saya untuk membuatnya merasa nyaman. Dimana rasa nyaman secara psikis itu pastinya adalah satu hal yang sangat membantunya untuk benar-benar sembuh 100% dan tidak sakit-sakit lagi.

Sebenarnya bukan keputusan yang bulat sih, tapi masih melihat situasi… Jadi, ceritanya Jumat sore saya membawa Mahesh ke dokter, dan mikirnya sih kalau memang nanti Minggu Mahesh sudah benar-benar sembuh dan ikhlas melepas saya ke kantor (ga rewel-rewel lagi), ya saya ga akan cuti. Tapi kalau Mahesh-nya masih belum sepenuhnya sembuh dan masih demanding sekali akan kehadiran saya, ya saya akan cuti. Maklumlah, pekerja seperti saya, cutinya cuma 12 hari setiap tahun, harus benar-benar digunakan untuk saat-saat yang penting…

💡 Berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, bisa dibilang, kami (saya dan suami) ini penganut aliran yang jarang ke dokter saat anak-anak sakit. Palingan ya saat sakitnya parah, sakitnya ga sembuh-sembuh, atau sakitnya datang dan pergi seperti kali ini, baru kami ajak anak-anak ke dokter.

Dan ikhtiar membawa anak ke dokter pun, diawali dengan pencarian dokter anak yang menurut kami kompeten dan mudah dijangkau. So, sehari sebelumnya, saya sudah hunting dokter anak yang recommended, yang buka hari Jumat dan lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah. Yes, kami baru pindah rumah dan di Lampung sendiri sedang banyak pembangunan fly over jadi macet dimana-mana… Mau nyamperin dokter kami yang dulu, kok rasanya effortful sekali, sudah jauh, ngantrinya panjang lagi…

Dan akhirnya, setelah survey ke beberapa teman, saya yakin untuk membawa Mahesh ke dr. Sri Murni A. Ritonga, Sp.A yang katanya teman saya yang pasien dia, orangnya ramah banget… Kalau ketemu anak-anak pasiennya, pasti menyapa dengan lembut, "Adeek… hayo, kenapa ya…" dalam bayangan saya sih kaya suaranya Princess Syah**ni gitu 👸. Lokasi prakteknya juga tidak terlalu jauh dari rumah, ideal lah pokoknya.

So, sore itu, sepulang dari kantor, saya pun langsung mengangkut Mahesh dan kakaknya dengan go-car menuju rumah sakit tempat praktek dokter. Sengaja pakai taksi online, karena nanti mau ketemuan dengan papanya yang pulang kerja di sana… jadi biar bisa pulangnya barengan, soalnya tempat kerja suami jauh, bakal telat kalau nunggu minta dianterin dari rumah… Tapi kalau saya benar-benar sendirian bawa dua anak cowo satu usil dan satunya gendongan terus, kayaknya juga berat 😅. Makanya, itu sudah jalan tengah banget deh…

Nah, di sana saya berusaha menceritakan poin-poin dari sakitnya Mahesh sedetail mungkin kepada perawat untuk diberikan kepada dokter sebagai berikut:
  • Keluhannya apa? Demam, batuk pilek dan diare. 
  • Demamnya sudah berapa hari? Dua hari, kalau dikasih obat penurun panas turun, tapi kemudian naik lagi. 
  • Diarenya berapa kali sehari? Sebenarnya sih ga sering mbak… cuma dua sampai tiga kali, tapi teksturnya encer sekali dan baunya tidak seperti biasanya. 
  • Sebelum diare, makan atau minum apa? Yang agak aneh mungkin pasta di Pi**a Hut… sorenya, Mahesh langsung demam dan diare. Sementara kakaknya juga demam sehari setelahnya. 
  • Susu yang diminum apa? Susu UHT Ul**a Mimi yang rasa strawberry… Biasanya ga ada masalah kok minum susu ini. 
  • Makan dan minumnya gimana? Nah, itu dia mbak… Kalau minumnya sih banyak, tapi makannya agak susah. Sebenarnya bukan ga nafsu makan, tapi setiap kali makan terlalu banyak dia akan muntah, makanya dia jadi ngerem makannya… 
  • Oh ya mbak, dia ini sakitnya kalau dihitung-hitung udah satu bulanan lho… Demam, batuk pilek, dan juga diare… Kalau batuk pileknya selama sebulan ini belum pernah sembuh 100%, kalau demamnya, pada saat ngedrop aja sih, kalau diare baru dua hari ini. Jadi sakitnya itu, misal dua hari demam, lalu pemulihan, lima hari sehat, terus tahu-tahu demam lagi… kaya gitu mbak. *Penting ini disampaikan, karena inilah alasan utama saya akhirnya mengajak Mahesh ke dokter. 
Informasi ini kemudian digunakan dokter untuk menegakkan diagnosa setelah memeriksa Mahesh secara fisik. Oh ya, pada saat diperiksa ini Mahesh nangis tantrum menolak, padahal sebelumnya saya sudah berusaha sounding bahwa dia akan diperiksa tante dokter supaya sembuh. Tapi ya anaknya tetap nangis, ya gapapa lah… for your goodness Le…

Dari hasil pemeriksaan dan informasi yang saya berikan sebelumnya itu kemudian dokter menyimpulkan dan memberikan saran kepada kami sebagai berikut:
  • Mahesh mengalami infeksi pada saluran cerna, kemungkinan besar karena pasta yang dimakan. So, stop dulu semua jajanan, makanan yang berpewarna dan berpengawet, semua jenis junk food (mau pasta, ayam goreng, pizza, dan semuanya makanan siap saji). Makannya hanya boleh nasi putih, dengan lauk ayam, daging sapi atau tahu, jenis sop lebih baik. Jangan dulu diberikan buah kecuali pisang atau sayur dan minumnya air hanya boleh air putih… Susu UHT-nya stop dulu, ganti dengan susu soya. "Kalau minum teh boleh enggak dokter?" tanya saya. "Teh tapi tanpa gula boleh, tapi sebaiknya ga usah, karena teh itu menghambat penyerapan zat besi," demikian penjelasan dokter.
  • Mahesh juga mengalami infeksi pada saluran pernapasannya, banyak lendir di sana, makanya dia batuk dan ada suara grok-grok. Jadi, jauhkan dulu dari segala potensi debu; selimut bulu, karpet bulu, boneka bulu dan sebagainya yang dapat menyimpan debu.
  • Kemudian dokter menanyakan obat apa saja yang sudah diberikan dan meresepkan obat untuk Mahesh. "Obat turun demam masih ada?" tanyanya. "Masih ada Dok, Tempra…" jawab saya. "OK, jika demam, lanjutkan pemberian tempranya sesuai dosis… Yang lain, saya resepkan obat antibiotik yang harus dihabiskan; obat X untuk saluran napasnya diminum sampai suara grok-groknya benar-benar hilang; obat Y minimal diminumkan selama sepuluh hari; obat Z untuk batuknya, hentikan jika sudah tidak batuk…" katanya kemudian, yang benar-benar berusaha saya rekam baik-baik dalam ingatan.
💡 Merawat Fisiknya Anak Selama Sakit.  Dengan penjelasan dokter yang begitu jelas, terperinci dan logis itu, saya pun merasa sependapat dengan penanganan yang diberikannya. Dan setelah pulang ke rumah pun, saya langsung memulai pemberian obat untuk Mahesh sesuai petunjuk dan melaksanakan petunjuk-petunjuk dokter lainnya. Awalnya tentu saja Mahesh menolak… dan saya pun akhirnya harus mengeluarkan kalimat ancaman kepada Mahesh, "Adek, nanti kalau ga diminum obatnya, nanti disuruh tante dokter nginep di rumah sakit lho… Emang Adek mau sendirian di rumah sakit?" Dan dia pun akhirnya mau minum obat meskipun dengan berat hati.

Mengenai makanan dan minuman, saya juga ikutin banget sarannya dokter… Saat sakit, Mahesh cenderung ingin makan yang segar-segar, seperti mangga, jeruk dan semangka; makanya kami seringkali berdebat dulu, sampai akhirnya Mahesh menurut dan mau makan pisang saja. Sementara untuk makan berat, dia cenderung mau makan nasi saja atau nasi dengan telor dadar. Telor dadar memang tidak masuk dalam list lauk anjuran dokter sih, tapi, rasanya ga masalah lah dikasih ke Mahesh.

💡 Merawat Psikisnya Anak Selama Sakit.  Selain merawat fisiknya dengan makanan, minuman dan obat-obatan yang mendukung penyembuhannya; sebagai seorang yang melankolis, saya sadar sekali bahwa salah satu hal yang akan mempercepat penyembuhan adalah perasaan tenang dan bahagianya anak. Sebagaimana jika anak merasa cemas, gelisah dan kurang bahagia, maka penyembuhan akan lebih lambat, meskipun fisiknya telah dirawat dengan baik. Jadi, sementara saya libur dan menjaga Mahesh, saya berusaha menuruti kemauannya yang tidak bertentangan dengan anjuran dokter. Ya, ambilin minum, ya ngajak ke kamar mandi, ya ngelapin ingus, ya ngelonin tidur, sampai gendong-gendong sama mama… semua saya turutin, walaupun artinya itu saya harus selalu di samping dia dan tidak melakukan aktivitas lain. Bahkan untuk mandi dan buang air besar kecil saja harus pamitan dulu supaya anaknya ga nyariin 😅

Saat sakit, Mahesh baru bisa tertidur setelah digendong kain Mamanya…

Dan alhamdulillah, setelah dua hari perawatan full body and soul, Mahesh sudah membaik; tidak demam lagi, tidak diare lagi dan batuk pileknya sudah berkurang. Tapi, melihat kondisinya yang masih terlihat masih lemas dan kurang nafsu makan, akhirnya niat cuti pun direalisasikan. "Pokoknya, kali ini Mama ga akan lengah lagi Mahesh… Mama akan memastikan kamu benar-benar sembuh dan siap mental melepas Mama ke kantor, baru mama ke kantor lagi… Tapi, tentu saja harapannya dua hari cukup ya Nak, soalnya cuti mama tinggal sedikit… huhu…"

Untuk membuatnya lebih bahagia, saya juga mengajak Mahesh mengantar jemput kakaknya ke sekolah sementara saya cuti, toh jaraknya tidak terlalu jauh, hanya 20 menit saja. Bawa bantal, berjaga-jaga kalau anaknya capek… Tapi, Mahesh-nya sih ternyata happy-happy saja ngobrol sama kakaknya di perjalanan. Senang melihatnya seperti itu, dia bahagia, berarti tubuhnya juga akan lebih cepat pulih…

***

Daaaan… setelah semua perawatan full body and soul extended-nya Mahesh… dia terlihat sudah cukup segar, ceria dan banyak makannya, woohoo! Kemudian, Selasa sore saat pun saya bertanya padanya, "Adek, besok Mama boleh ke kantor ga? Nanti kita anterin Kakak ke sekolah… Lalu, nanti Adek anterin Mama ke kantor… Terus, Mama anterin Adek ke rumah… Adek tunggu Kakak sama Mama di rumah sama Bude sama Mbak ya…" Dan dia bilang 'iya' dengan tetap ceria.. Nyess rasanya hati saya…

Walaupun jadinya lebih rempong karena itu artinya setiap pagi harus menyiapkan tetek bengek anak-anak sebelum berangkat jam 6.45; bolak balik dari rumah - sekolah kakak - kantor - rumah - kantor, semua itu terbayar lunas dengan keikhlasan dan ketenangan hati Mahesh yang berimbas juga pada kesehatan dan mood-nya. Lalu, apa kabar kantor? Alhamdulillah, jarak dari rumah ke kantor cuma 10 menit… jadi, dengan panjangnya perjalanan itu, saya bisa mulai bekerja pukul 07.50, dimana ini masih terlambat dari seharusnya jam 07.30, jadi pe-er saya sampai saat ini adalah supaya bisa berangkat dari rumah pukul 06.30! Which is, memang agak susah karena tidak ada IRT yang menginap… tapi, tetap optimis bisaa!!

***

Hmm, long story ya… Dan kemudian, lesson learned yang saya dapatkan dari pengalaman sakit anak-anak, terutama sakit Mahesh yang terakhir yang saya ceritakan panjang lebar adalah:
  • Bagaimanapun juga, sakitnya anak itu akan membawa banyak 'kerugian' bagi anak maupun orang-tua. Bagi anak, sebut saja, salah satunya adalah kurangnya asupan nutrisi yang (dikhawatirkan) berimbas pada pertumbuhannya. Huhu, inilah yang saya rasakan pada sakit Mahesh yang terakhir, sungguh sedih melihat badannya yang menjadi kurus karena sakitnya yang datang dan pergi… So, mencegah lebih baik daripada mengobati, caranya tentu saja dengan menjaga daya tahan tubuh dengan menjaga asupan nutrisinya, menjaga kebersihan, menjauhkan anak dari potensi sumber penyakit, dan imunisasi.
  • Jika anak terlanjur sakit, untuk mempercepat penyembuhan, kita harus total dalam merawatnya; baik fisik maupun psikisnya seperti yang saya ceritakan di atas. Fisik: dengan memastikan anak tidak kekurangan cairan dan nutrisi serta istirahat cukup. Dimana dalam hal ini, jika anak mengalami demam lebih dari 38o maka anak perlu diberikan obat penurun panas seperti Tempra agar anak bisa beristirahat lebih tenang dan juga menghindari dampak lebih serius karenanya.
  • Nah, jika sakit anak berlanjut setelah semua perawatan yang kita berikan atau seperti Mahesh yang sakitnya datang dan pergi, sangat dianjurkan untuk untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosa dan treatment yang lebih intensif.
Bonus… ngomong-ngomong soal obat penurun panas, sesungguhnya pada awalnya juga sedikit menghindari alias tidak memberikannya meskipun anak demam cukup tinggi (lebih dari 38o Celcius). Saya sih mikirnya waktu itu, toh demamnya masih normal, dan demam sendiri kan sesungguhnya hanyalah reaksi tubuh terhadap infeksi penyakit tertentu, bukan penyakitnya. Jadi, kalau pun diberi obat penurun panas dan panasnya turun, bukan penyakitnya yang hilang, tapi hanya simptomnya saja. Hingga perlahan-lahan, setelah memahami beberapa literatur yang ada serta terlebih lagi pengalaman akan dampak demam yang membuat anak kesulitan untuk beristirahat dan memperlambat penyembuhan, saya pun berubah pandangan…
Penggunaan obat penurun panas memang tidak menyembuhkan penyakit yang diderita tapi adalah sesuatu yang bermanfaat dan diperlukan pada kondisi dimana demam anak lebih dari sama dengan 38o Celcius; untuk menghindari gejala yang lebih buruk (kejang) atau sekedar untuk membuat anak nyaman dan dapat beristirahat dengan lebih baik.
Untuk obat penurun panasnya sendiri, kami selalu menggunakan Tempra yang selalu ada di kotak obat keluarga kami. Tempra adalah salah satu obat penurun panas untuk anak dengan kandungan aktif paracetamol dalam tiga varian yang bisa dipilih sesuai usia anak; Tempra Drops (0-1 tahun), Tempra Syrup (1-6 tahun), dan Tempra Forte (6 tahun ke atas).


Adapun alasan saya lebih memilih Tempra daripada obat penurun panas lain adalah:
  • Aman di lambung. Jadi rasanya lebih tenang memberikannya pada anak, sementara anak makannya cukup minimalis selama sakit.
  • Dosis Tempra tepat, tidak menimbulkan over dosis maupun kurang dosis. Sehingga obat ini bekerja secara efektif untuk menurunkan demam dan tidak berbahaya jika digunakan sesuai petunjuk.
  • Seringkali diresepkan oleh dokter anak yang menurut kami kompeten, sehingga kami yakin bahwa kualitas Tempra cukup terpercaya.
  • Rasanya disukai anak-anak. Rasa anggur untuk Tempra Drops dan Tempra Syrup, serta rasa jeruk untuk Tempra Forte.
  • Tidak dikocok karena larut 100%.
  • Mudah didapatkan di minimarket terdekat dan harganya relatif ekonomis.
  • Kemasannya aman (botol ulirnya tidak mudah dibuka anak-anak), serta lengkap dengan takaran yang mudah digunakan sesuai usia anak. Untuk Tempra Drops, takarannya sejenis pipet, sehingga mudah diberikan pada bayi.
Fiuhh, jadi begitu deh kira-kira pengalaman dan insight yang saya dapatkan terkait anak sakit, yang akhirnya ditulis karena sakit Mahesh terakhir yang begitu membekas alias drama banget… Semoga anak-anak kita selalu sehat ya ibu-ibu, tapi kalau sampai anak kita sakit, ya semoga saja segera sembuh dan sehat kembali. Amiin…

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Monday, December 11, 2017

Catatan-Catatan 'Naive' Ganesh di Sekolah

Menjadi orang-tua itu bukan perkara mudah… 
Bukan cuma masalah merawat fisik macam menjaga asupan nutrisi dan kesehatan; tapi juga merawat psikis mereka dengan kesabaran dan memberikan pendidikan yang tepat. Ya, semua orang-tua, pasti tahu yang saya maksud, termasuk breakdown-nya hingga perkara terkecil. Juga pasti setuju jika perkara (merawat fisik dan psikis anak) itu bagaikan ombak yang datang silih berganti; kadang sekedar riak-riak kecil yang menggelitik… kadang adalah ombak besar yang membahayakan keselamatan. Dan poinnya adalah, bahwa semua itu tidak pernah berhenti, tidak pernah selesai sepenuhnya… Sampai kapan pun, selama kita hidup, peran kita sebagai orang-tua tidak akan pernah berakhir. Merdeka!!

Yep, akhirnya saya sangat sependapat dengan quote pendek yang makna penjabarannya sangat panjang itu. Bukannya dulu tidak sependapat, tapi intensitas sependapatnya lebih-lebih lagi sekarang… setelah 6 tahun 5 bulan resmi menjadi seorang ibu. Setelah pada suatu hari, akhirnya merasakan sendiri mempunyai anak sekolah dan menerima laporan dari gurunya bahwa si anak melakukan tindakan yang negatif di sekolahnya. Saya kemudian benar-benar menjiwai sepenuhnya bahwa memang menjadi orang-tua itu bukan perkara mudah…

Setelah ombak besar Ganesh mogok sekolah di usia 4,5 tahun sekitar 2 tahun yang lalu… padahal awalnya dia sendiri yang ingin sekolah… Dimana kejadian ini praktis membuat mood Ganesh kacau balau karena bosan seharian di rumah tanpa kegiatan yang menyibukkannya; sementara mamanya 'harus' bekerja dari pukul 7.00 hingga 17.00… Ombak kali ini hitungannya cukup besar juga dan membuat saya cukup shock dan was-was…

Hari itu, saya mendapat laporan akan 4 perilaku buruk Ganesh di sekolah, yang dalam hal ini wali kelas sudah kewalahan dan kehabisan akal untuk menasehatinya.


Dan perilaku ini adalah: berkata jorok, bermain berlebihan hingga temannya kesakitan, bercanda tidak sopan (berkaitan dengan daerah pribadi), dan permasalahan kepatuhan pada aturan.

Friday, November 24, 2017

PGN Gencar Membangun Jaringan Gas: Saatnya Kita Membumi dengan Gas Bumi…

"Maaf ya Miss, Anesh terlambat lagi… jalannya macet banget, ga seperti biasanya…" pada suatu hari saya mengirim SMS pada guru Anesh di sekolah saat lampu merah terakhir menuju sekolahannya, setelah harus mengantri lebih dari lima kali lampu merah. Pembangunan di Lampung ini, masyaallah pikir saya, banyak banget yang dikerjain… Dan sampai di tikungan terakhir menuju sekolah Anesh, saya kembali tertegun, "Maaf perjalanan Anda terganggu, ada pekerjaan jaringan gas…" kurang lebih seperti itu bunyi pengumuman yang terpasang, sementara sepanjang jalan sempit itu memang tampak galian terbuka yang sedang dikerjakan.

Pembangunan Jaringan Gas di Bandar Lampung
Gambar diambil dari: Detik.com

Pekerjaan jaringan gas… hmm, baru sekali ini saya melihat proyek semacam… Kalau proyek perbaikan jalan dan gorong-gorong atau jaringan bawah tanah untuk keperluan telekomunikasi, masih familiar lah. Tapi, pekerjaan jaringan gas ini benar-benar sesuatu yang baru… tapi, forget about it, rasa ingin tahu itu tertelan ke-hectic-an menyuruh Anesh segera bersiap-siap masuk ke sekolahnya karena terlambat… "Anesh, ayo buruan pakai tasnya, udah mau sampai nih!" teriak saya berapi-api, padahal ya, tetap saja anaknya telat masuk sekolah…

Sampai akhirnya, beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah berita mengenai hal ini bertajuk 'Mengintip Pembangunan Jaringan Gas PGN di Lampung'. Melalui berita ini, baru saya tahu bahwa PGN (Perusahaan Gas Bumi) tengah membangun jaringan gas kota di Bandar Lampung yang nantinya akan tersambung ke 10.321 rumah warga di sana. "Wow, berarti galian gas yang kemarin itu untuk sambungan rumah tangga ya? Gas buat masak rupanya… Memang apa gitu kelebihan gas bumi PGN dibandingkan gas elpiji yang saya pakai sehari-hari?" Wah… wah… memang ya, perkara gas bumi ini belum terlalu familiar bagi masyarakat umum seperti saya. Selama ini, yang ada di benak saya, gas bumi di Indonesia ya lebih banyak dimanfaatkan untuk kepentingan industri. Ternyata, sekarang gas bumi sudah dimanfaatkan untuk keperluan dapur masyarakat rupanya, ada di Bandar Lampung kota domisili saya lagi…

Karena penasaran, kemudian pada suatu hari, saya pun mencari tahu perihal gas bumi ini melalui internet… Jaman sekarang gitu loh, apa sih ya ga ada di internet? 😏

Pertama kali kemudian saya berseluncur ke website PGN… Beberapa lama memperhatikan laman 'home' website ini, saya tertegun dengan tulisan berjalan yang menyebutkan kelebihan-kelegihan dari gas bumi; beberapa di antaranya adalah: harga yang kompetitif, efisiensi pembakaran yang tinggi, serta kebersihan dan keramahan lingkungannya. I was likeOh really? Benarkah Gas Bumi yang ditawarkan PGN memiliki kelebihan-kelebihan itu? Ya, kalau memang demikian, berarti ga ada alasan untuk tidak berpindah ke bahan bakar ini kan. Sudah harganya lebih murah, efisiensi pembakarannya tinggi (lebih bertenaga), ramah lingkungan lagi…

Karena jaringan gas ini sudah masuk ke Bandar Lampung, sepertinya saya harus siap-siap cari tahu nih… Siapa tahu kan, dekat rumah saya kemudian dibangun jaringan gas juga, bisa langsung daftar jika memang dia begitu menguntungkan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...