Sunday, January 1, 2017

2016 in Review: Dan Titik Terang…

Malam tahun baru kali ini cukup random bagi kami. Saya dan anak-anak berada di Jogja, sementara suami berada di Lampung. Mahesh si kecil yang baru saja sembuh dari sakitnya, masih menikmati istirahatnya dengan khusuk. Iya, secara masih bayi, tak ada beda malam ini dengan malam-malam sebelumnya, dan doi pun sudah terlelap sejak pukul 20.00 tadi. Ganesh si anak TK yang tahun depan masuk SD, sudah lebih mengerti, meskipun baru sebatas di jalanan banyak penjual terompet dan kembang api; dan dia pun memilih untuk membakar 2 kotak kembang api lalu membuat kartu dengan kardusnya untuk merayakan perpindahan dari tahun ‘two thousand and sixteen’ menjadi ‘two thousand and seventeen’, sampai sekitar pukul 21.00, sampai akhirnya minta ditemenin gosok gigi dan kemudian nyusul adeknya tidur.


Si Bapak, seharian ini sepertinya sibuk dengan persiapan perayaan pergantian tahun di kantornya. Dan malam ini pasti dia melewatkan tahun 2016 dengan pesta kembang api dan printilannya di kantor, seperti tahun sebelumnya. Seems that he got the most mainstream end year party this year :D.

Sementara saya… sebenarnya tidak ada ide sama sekali ingin melakukan apa. Malam ini terasa tidak ada beda dengan malam-malam sebelumnya. Sampai akhirnya beberapa puluh menit yang lalu saat tiba-tiba pikiran melayang mengingat kejadian-kejadian di 2016 yang membuat tahun ini terasa begitu singkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bukan karena tahun ini dipenuhi dengan kebahagiaan tanpa henti, tapi karena tahun 2016 ini dipenuhi dengan kegamangan, perjuangan, keyakinan dan titik terang.

Well, here is my 2016 in review…



KEGAMANGAN. Menyandang status working mom, memang adalah perkara yang umum dalam masyarakat. Namun, saya yakin, sebagian besar ibu bekerja pernah mengalami kegamangan atas perannya ini. Kegelisahan akan kemampuannya memberikan kebutuhan keluarga (terutama anak-anaknya), sementara dia harus bekerja 8 jam sehari di luar rumah. Apalagi saat sang anak menunjukkan gejala perlunya perhatian lebih, seperti berubah menjadi mudah tantrum, sulit diatur atau tidak mau sekolah. Dan kegamangan itulah yang saya rasakan di awal tahun 2016, saat Ganesh menunjukkan semua gejala yang saya sebutkan tadi. Kegamangan yang saat itu sudah membulatkan tekad kami (saya dan suami) agar saya resign untuk bisa lebih intensif mendampingi Ganesh secara fisik dan psikis. Saat itu, bahkan kami sudah menetapkan deadline untuk realisasi keputusan itu, meski akhirnya terurung karena berbagai pertimbangan menyangkut orang-orang yang kami cintai.

PERJUANGAN. Sebuah keputusan yang membuat saya benar-benar berada titik tersibuk, ter-hectic dan ter-dilema dalam hidup saya. Saat akhirnya, saya kembali masuk bekerja setelah mengambil jatah cuti besar saya selama  2 minggu untuk mempersiapkan transisi Ganesh dengan sekolah barunya. Masa selama 4 bulan yang dipenuhi warna yang random; antara mengajak Ganesh ke kantor, waktu kerja yang sempit (kerena selalu terlambat ke kantor dan ada rutinitas mengantar Ganesh ke sekolah yang memakan waktu 30 menit), tuntutan kerja yang tidak rasional (mendadak dilimpahi pekerjaan seseorang yang sebut saja mengundurkan diri), sulit konsentrasi saat kerja (yah, namanya bawa anak umur 5 tahunan, ada aja… mau pipis, minta diliatin, dsb)…

KEYAKINAN. Semua itulah yang membuat hidup saya terasa begitu sibuk, hectic dan penuh dilema. Penuh dilema, karena saya bukanlah seorang yang merasa biasa saja dengan semua (akui saja) kinerja buruk dan ketidakprofesionalan kerja dalam masa 4 bulan itu. Sesuatu yang harus saya kuatkan untuk dijalani dengan penyemangat bahwa itu saya lakukan demi Ganesh, demi orang-orang yang saya cintai dan juga bahwa semua itu akan berakhir dengan sesuatu yang baik.

TITIK TERANG. Hingga akhirnya semua keyakinan itu menjadi nyata… perjuangan fisik dan psikis selama 4 bulan itu menghasilkan sesuatu yang baik. Dimulai dengan sikap Ganesh yang perlahan membaik dan dia begitu suka dan bersekolah di tempat barunya. Kemudian semakin baik saat Ganesh mulai masuk TK B yang dimulai pukul 07.30, sehingga saya bisa datang ke kantor dengan waktu keterlambatan yang minimal (jarak sekolah Ganesh ke kantor hanya 15 menit) dan waktu pulang pun menjadi tanggung-jawab si Bapak untuk mengantarkannya kembali ke rumah. *Oh ya, dulu Ganesh masuk siang karena waktu itu tinggal kelas siang yang ada**karena kan masuknya di tengah tahun ajaran*

Kemudian, menjadi semakin baik lagi… saat akhirnya ada tambahan personel dalam tim kami yang bisa meng-handle beberapa pekerjaan yang dilimpahkan kepada saya. Sehingga saya memiliki lebih banyak keleluasaan untuk bisa kembali memasang target kualitas dan kuantitas akan pekerjaan saya. Sehingga saya mulai merasakan kembali sebuah semangat kerja, yang sebelumnya benar-benar terkikis karena tidak adanya waktu untuk mengejar apa itu kualitas yang bagi saya adalah prestasi. Dan tanpa sebuah perasaan bisa mendapatkan sebuah prestasi itu, dunia kerja benar-benar membosankan dan stressfull!

Titik terang itu memang bukan berarti kemudian saya tidak menjalani hari-hari dengan santai, karena toh saya malah HARUS berangkat lebih pagi setiap hari. Yang itu sudah pasti diawali dengan bangun yang lebih pagi untuk menyiapkan segala printilan Ganesh dan Mahesh; sebut saja saja sarapan, makan siang, bekal sekolah, memandikan mereka dsb. sebelum akhirnya berangkat.

Yes, tiap pagi benar-benar hectic, namun kali ini hectic yang dipenuhi semangat, kebahagiaan dan tanpa dilema. Karena saya merasa bisa menjalankan peran saya sebagai ibu, istri sekaligus pekerja dengan baik. At this time, I really enjoying my life and don’t feel the urge to quit my job… Yah, jujur saja, saya akui sepertinya saya bukanlah tipe wanita yang bisa menikmati hidup sebagai ibu rumah tangga saja. Itu bukan sesuatu yang baik, juga bukan sesuatu yang buruk menurut saya, karena setiap manusia memiliki karakternya sendiri-sendiri. Tidak perlu memaksanakan sesuatu yang memang bukan diri kita tanpa sebuah alasan yang benar-benar kuat. Karena untuk merubah diri kita, memang dibutuhkan suatu momen yang benar-benar besar. For me, whatever a mother choose (to stay at home or work outside), it’s OK as long as they love their children and their children feel enough with that love

Keyakinan itu juga yang membuat hari-hari saya lebih menggembirakan dan tenang. Oh ya, saya tahunya anak-anak merasa puas dan sejahtera dengan perhatian yang saya berikan; ya dari ketenangan mereka secara fisik dan psikis… mereka happy di rumah dan di sekolah, perilakunya baik, menyambut saya dengan antusias saat pulang kerja, berangkat sekolah dengan semangat dan sebagainya.

So… itulah apa yang terjadi di 2016 dalam 900-an kata… Sebuah perjalanan yang alhamdulillah memberikan saya begitu banyak pelajaran, kebijaksanaan dan keyakinan baru dalam hidup saya. Semua yang saya butuhkan untuk melompat lagi lebih tinggi di tahun 2017, meraih pencapaian-pencapaian yang saya inginkan; seperti:
  • Belajar menjahit *ini sudah fixed, karena kemarin sudah beli mesin jahit pas Harbolnas :D
  • Berangkat lebih pagi untuk mengantar Ganesh sekolah dan ke kantor, karena meski cuma beberapa menit, Ganesh seringkali terlambat. And that is bad for a preschooler since they need more time to adapt the learning situation. Anak kecil perlu main-main sebentar, pemanasan sebelum ‘belajar’.
  • Berolah-raga minimal 30 menit setiap hari supaya lebih sehat dan bugar.
  • Mengerjakan tugas harian dengan lebih efisien sehingga bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk menulis. Karena menulis bagi saya adalah pelampiasan akan keinginan untuk mengungkapkan diri dan menghasilkan sebuah karya. Atau singkatnya, menulis itu sesuatu yang memuaskan batin saya :D.
  • Belajar lebih lagi dalam mengelola emosi, supaya lebih sabar menghadapi duo ‘cocil’ (cowo kecil) yang makin banyak tingkahnya. *Menurut saya, bagaimana pun juga, anak cowo itu lebih menguras energi dan emosi*
  • Hmm, apalagi ya? Lainnya mungkin ditambahkan nanti sambil jalan :D
Sementara, 5 poin di atas sudah cukup untuk memberi arah dan semangat di tahun yang baru, tahun 2017. Dengan harapan, tentu saja, saya bisa melewati tahun 2017 dengan makna yang sebaik-baiknya; pelajaran dari suka dan duka, semangat dalam mengejar sebuah impian dan juga kebahagiaan atas sebuah pencapaian. Amiin.

OK, now, it’s 1220 words already… Sudah jam 01.00 lebih juga… Dan Mahesh juga beberapa kali terbangun dan nangis kejer. Dugaan saya sih karena tadi terbangun dari tidur siang saya ga ada, padahal dia belum seberapa familiar dengan simbah dan buliknya. Semacam sedikit trauma, walaupun cuma 10 menitan saja lalu saya datang. Yah, begitulah, kadang keinginan emak untuk sedikit bersenang-senang tidak berbanding lurus dengan harapan dan keinginan anak :(. Maaf ya Le…

Nah kan, jadi ngelantur panjang lagi :D. This is it… Happy new year teman-teman semua. Semoga tahun 2017 lebih baik dari pada tahun 2016 bagi kita… Amiin :).

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Monday, November 28, 2016

Mengalah untuk Menang

Sebagai seorang kakak dengan dua orang adik, ‘mengalah’ tentu bukan kata yang asing bagi saya. Setiap kali, terjadi pertengkaran yang terjadi karena kami berebut suatu barang; entah barang itu milik saya atau siapapun, ujung-ujungnya pasti saya yang disuruh mengalah. Dan itu ga enak sekali… Bahkan setelah saya beranjak remaja yang nota bene pemikiran sudah cukup matang. Menahan diri dan membiarkan hak kita diambil orang dan merasa diperlakukan tidak adil itu seringkali terasa menyebalkan.

Mengalah itu seringkali ‘makan hati’, tapi seringkali buahnya manis sekali. Dengan mengalah kita bisa menghindari banyak pertengkaran, perpecahan dan sebangsanya. Dengan mengalah, kita bisa menunjukkan kepedulian dan kasih kita pada orang yang kita cintai. Dan bahkan seorang yang mengalah adalah seorang yang terhormat karena kebesaran hatinya… Itu menurut saya sih, berikut ceritanya…


Saya ini hobi bernyanyi. Sejak dulu sekali masih kanak-kanak, hingga saat ini menginjak usia 30 tahun dan sepertinya akan terus berlanjut. Ada kepuasan tersendiri saat saya berhasil menaklukkan lagu-lagu yang menantang atau sebut saja sulit. Dan itu kenapa, selalu ada dorongan besar dalam diri saya untuk tampil di setiap kesempatan yang memungkinkan. I love to perform!

Demikian juga saat ternyata ada sebuah lomba karaoke di wilayah domisili saya (Lampung). Karena sangat memungkinkan untuk diikuti, tidak ada alasan untuk tidak berpartisipasi! Go, go, go! Dengan semangat 45 pun saya mempersiapkan diri, mulai dari nge-tune-in file karaoke sesuai suara saya, memilih kostum, dan latihan tiap hari saya jabanin… Bukan demi kemenangan sih, tapi demi kepuasan batin bahwa saya sudah menampilkan hal terbaik yang saya bisa. Prevent any possible flaws, karena memang saya perefeksionis.

Kompetisi ini memang tidak menyebutkan hadiahnya, it’s fine karena memang sifatnya lebih ke perayaan sebuah hari penting bagi perusahaan yang bergerak di bidang listrik. Dan saya pun memang tidak mempermasalahkan apa hadiahnya, karena ini murni sebuah keinginan untuk mengaktualisasikan hobi dan kemampuan yang saya rasa miliki.

I was having fun preparing all of the things for the competition… Bukan cuma persiapan pribadi saya, tapi juga dua orang peserta lain menjadi wakil dari unit kerja kami.

And it’s still fun and tolerable… selama kompetisi sampai dengan pengumuman yang menyebutkan bahwa unit kerja kami mendapatkan dua juara sekaligus; juara harapan 1 oleh seorang rekan saya dan juara 1 oleh saya sendiri… walaupun jujur saja tempat lombanya lebih mirip ruangan audisi saking sempitnya.

And then, it becomes less fun and tolerable… saat kemudian, saya mendapat informasi bahwa juara harapan 1-nya dianulir dan tidak akan diumumkan pada saat acara puncak. Dengan alasan bahwa tidak ada anggaran untuk juara ke harapan 1. Hmm, yang terlintas dalam pikiran kami (saya dan rekan juara harapan 1), “Kok segampang itu ya, menganulir secara sepihak sesuatu yang sudah diumumkan… tanpa pengumuman resmi pula…” Bagi kami para peserta, ini jelas bukan lagi menyangkut hadiah, tapi harga diri… Well, sedikit sulit dijelaskan dengan kata-kata; coba saja bayangkan, teman-teman sudah kadung senang dan cerita kemana-mana kalau menang suatu lomba, lalu tiba-tiba dianulir begitu saja… 

Sampai akhirnya ada sebuah kejadian yang menurut saya sangat fatal… Pada saat penyerahan hadiah, saya mendapat hadiah ini di depan puluhan peserta yang menghadiri acara saat itu…


Tapi, di dalamnya ini nih…


Sebuah baju lengkap dengan labelnya yang jelas tertera angka Rp. 169.500,-Kejadian yang waktu itu tidak terlalu menimbulkan perasaan macam-macam, karena saya masih berpikir bahwa mungkin itu hanya penyerahan secara simbolis dan cash-nya harus diminta kepada panitia. Saya saja yang saat itu tidak segera membuka bungkus hadiahnya sehingga tidak bisa segera mengkonfirmasikan hal ini.

Saya pikir ini hanyalah teknis pemberian hadiah yang tidak saya ketahui and it will fixed soon

Tapi ternyata saya salah, betapa kesalnya saya saat panitia yang saya hubungi pertama bilang bahwa hadiahnya berupa barang seharga Rp. 500.000,-… Whattt!!! Langsung saja saya komplain, “Maaf ya Pak, di bajunya itu masih ada labelnya Rp. 169.500,-

Dan saya pun tentu saja tidak bisa terima penjelasan ini… Lalu bertanya kepada panitia lain, yang akhirnya dijawab, bahwa itu kesalahan teknis. Bahwa tulisan di pembungkus hadiah itu adalah cetakan lama. Bahwa awalnya memang akan diberikan hadiah senilai itu, tapi manajemen berubah pikiran… and they say sorryThat’s all

Puas? Tentu saja belum… Sesungguhnya saya ingin memastikan bahwa kejadian ini sampai ke ketua panitia atau penanggung-jawabnya. Saya sebenarnya menuntut ada pengumuman resmi bahwa ada kesalahan pemberian hadiah. Atau paling tidak ada permintaan maaf yang lebih manusiawi, dari sekedar melalui whatsapp. Dan saya menunggu semua itu selama seminggu penuh…

Tapi, selama seminggu penuh, sama sekali tidak ada kabar… paling tidak apa tanggapan dari ketua panitia atau penanggung-jawabnya. Sungguh saya kesal, ingin rasanya mengembalikan hadiah yang mereka berikan, lengkap dengan pembungkusnya…

Tapi saya tidak melakukan itu. Saya mengalahkan ego saya akan kejadian itu. Yah, sudahlah, toh mereka saya anggap masih saudara atas dasar hubungan kerja profesional kami. Meski, jujur, saya tidak habis pikir, bagaimana mereka bisa mengorbankan sebuah reputasi dalam permasalahan ini. Mengapa mereka tidak mempertimbangkan nama baik mereka yang mungkin akan semakin buruk atas kejadian ini? Kalau saya jadi mereka, saya tidak akan semudah itu dan sesepele itu menanggapi permasalahan menyangkut kepercayaan semacam ini. Oh really, kamu tidak berpikir apa yang akan orang pikirkan atas peristiwa ini? Bisa jadi lho, orang berpikir ini adalah sebuah kesengajaan dan karena apes saja si label lupa di lepas; atau berbagai skenario lainnya yang merugikan nama baik kalian. Walaupun sebenarnya, penjelasan dan cara meng-handle komplain kalian pun sesungguhnya sudah cukup memperburuk citra kalian.

Apa kalian pikir, saya yang dirugikan dalam permasalahan ini akan repot-repot membela nama baik kalian dengan tutup mulut atau memberikan klarifikasi bahwa ini kesalahan teknis yang harus dimaklumi?

Of course not! Saya punya hak, untuk menceritakan kejadian sebenarnya kepada teman-teman dan manajemen unit kerja saya. Sama persis seperti penjelasan yang kalian berikan, lengkap dengan buktinya. Bukan untuk memberikan hukuman, tapi untuk meminimalisir rasa diperlakukan tidak adil yang saya terima. Itu kenapa terakhir, saya bilang, “…Sebenarnya kedua belah pihak sudah dapat konsekuensinya kok… Saya udah ikhlasin…”

Ya, kedua belah pihak sudah mendapat konsekuensinya. Konsekuensi untuk panitia yang melakukan kesalahan teknis namun tidak meng-handle komplain ini dengan serius adalah reputasi yang memburuk; di mata orang-orang yang mengetahui kejadian ini. Dan yang terpenting adalah di mata saya…

Dan konsekuensi untuk saya adalah… Saya merasa bangga dengan diri saya sendiri, karena saya adalah si tangan di atas yang memaafkan keteledoran mereka, bahkan saat mereka tidak serius merasa bersalah. Dalam kejadian ini, saya merasa adalah orang yang lebih berkelas dari mereka. Dan saat harus bertemu, berpapasan atau berhubungan dengan mereka; saya adalah seorang yang pantas membusungkan dada, terlepas dari mereka merasa sebaliknya atau tidak.

Saya benar-benar merasakan semua itu pada saat situasi mempertemukan kami kembali… Aaah, untung saja saya memilih untuk mengalah dan menurunkan ego saya. Karena jika tidak, mungkin sayalah yang berada pada posisi mereka. Siapa yang tahu bahwa mereka justru menganggap saya hanya meributkan uang 500 ribu? Tidak bisa memaklumi kesalahan, ribet dan sebagainya… meskipun saya memang berhak untuk itu… Dengan mengalah, jelas saya menutup kemungkinan itu. Saya memenangkan situasi ini dengan mengalah…

Jadi teman-teman, pelajaran yang saya dapat dari peristiwa ini adalah pada saat kita diperlakukan tidak adil dan dirugikan, tetap utamakan untuk menyampaikan komplain with manner; dengan tata krama yang seharusnya. Jangan biarkan kita justru mendapat kerugian yang lebih besar dengan mengorbankan reputasi kita dengan tindakan yang kasar secara sikap dan verbal. Dan jika pihak yang berseberangan dengan kita adalah rekan kerja atau pihak yang akan sering berhubungan dengan kita, mengalah adalah tindakan yang bijak. Karena hal ini justru akan menaikkan reputasi kita satu level di atas mereka. Dan hal ini tentu akan sangat menguntungkan saat kita harus berinteraksi dengan mereka, karena kita akan merasa lebih percaya diri serta terhormat. Dan mereka pun (mungkin) tidak kehilangan rasa simpati dan hormatnya pada kita.

Iyah, paling tidak itu menurut pengalaman dan pendapat saya… Dan tentu saja, ini dalam kasus yang masih dalam ambang batas toleransi. Mungkin lain cerita kalau ini adalah sebuah lomba tingkat regional yang diumumkan lewat media massa, dengan hadiah jutaan rupiah, haha :D. Pasti saya akan terima begitu saja dengan penjelasan dan permintaan maaf seperti itu.

Bagaimana menurut teman-teman? 

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Monday, November 21, 2016

Tips Belanja Online ala-ala Smart Shopper

Sebelumnya maaf ya… kalo judulnya dirasa sedikit sombong :D. Tapi, maksudnya bukan seperti itu kok… ‘Belanja Online ala Smart Shopper’, semata-mata ingin mengisyaratkan bahwa belanja online pun perlu strategi tertentu; supaya mendapatkan barang yang berkualitas setinggi-tingginya, dengan harga yang sehemat-hematnya… Sebagaimana prinsip smart shopper ala saya… *Tapi akhirnya judulnya diganti jadi ‘Belanja Online ala-ala Smart Shopperdeh karena ga pede, hihi :D

Saya ini suka… suka banget belanja online… Kalau sedang kumat, seminggu bisa dua paket belanjaan saya terima…

Dan suatu hari security di kantor sampai nyeletuk, “Ibu belanjanya banyak ya…” 

Lalu beberapa teman (sepertinya) pun memperhatikan kebiasaan saya ini, karena beberapa teman suka menyindir dengan kata-kata, “Belanja apa lagi?”; “Belanja terus deh…” dll.

Dan yang paling parah nih komentar suami yang bilang, “Aku doain deh, itu toko online bangkrut biar Mama ga bisa belanja lagi!”


Baiklah, walaupun saya bukan artis, tapi pengen juga klarifikasi sekaligus bercerita tentang pengalaman saya berbelanja online, terutama untuk barang fashion. Yang benar-benar solutif untuk ibu beranak cowok dua yang lasak bukan main. Yang bekerja full time 5 hari seminggu dari Senin sampai Jumat. Yang rumahnya jauh dari kota dan pusat perbelanjaan dan kantor, jadi susah untuk mampir-mampir setelah jam kerja dan juga butuh effort tersendiri untuk benar-benar meluangkan waktu untuk belanja. Yang karena segala ke-riweuh-an itu, mencari baju di mall dan toko konvensional lainnya itu tidak lagi terasa menyenangkan dan memuaskan. Ya gimana mau memuaskan, rasanya serba terburu-buru, padahal saya butuh membandingkan baju A dengan baju B, dan toko X dengan toko Y.

Beberapa orang mungkin tidak terlalu memilih untuk berbelanja barang fashion secara online karena beberapa alasan, misalnya:
  • Pendapat bahwa belanja online itu mahal ditambah dengan adanya ongkos kirim,
  • Tidak bisa memegang dan merasakan bahan baju-tas-sepatu dan sebagainya,
  • Takut tidak pas dipakai,
  • Takut tertipu; sudah bayar, tapi barang tidak dikirim.
Ketakutan-ketakutan yang sebenarnya bisa disiasati supaya tidak menjadi kenyataan atau paling tidak diminimalisir, sehingga bahkan belanja online bisa lebih menguntungkan dari sisi waktu, tenaga dan juga materi. Ya, kalau belanja online kan kita tidak perlu dandan, naik kendaraan, muter-muter di toko atau mall, menyediakan anggaran untuk makan di luar jika kelaparan dan sebagainya. Juga tidak perlu bingung dan ribet saat krucil yang diajak punya tujuan dan kesibukan sendiri…

Sedangkan untuk kelemahan-kelemahan yang mungkin timbul karena memang kita tidak bertemu langsung dengan pembeli dan juga tidak bisa melihat-mencoba barang yang akan kita beli, sebenarnya bisa diminimalkan atau bahkan ditiadakan dengan beberapa tips dan trik berikut:

[1] Pilih toko/mall online yang kredibel. Karena toko online yang kredibel akan mencantumkan harga jual sebenarnya dari suatu barang dan tidak melakukan mark up. Karena memang ada lho, mall online yang seller-nya mengelabui pembeli dengan seolah-olah memberikan diskon yang tinggi, padahal harga aslinya sudah dia mark up habis-habisan. Toko/mall online yang kredibel pastinya juga memiliki customer service yang helpful dan solutif, sehingga memudahkan kita untuk bertanya serta mengajukan komplain akan pelayanan mereka. Juga kelebihan-kelebihan lain guna memastikan pelayanannya memuaskan para customer.

[2] Pilih toko/mall online yang memberikan banyak benefit dan perlindungan pelanggan. Kemudahan pengembalian dan penukaran barang serta kemudahan tracking pesanan adalah poin penting. Demikian juga dengan validitas keterangan yang dicantumkan sebagai deskripsi produk yang ditawarkan. Sedangkan benefit lain yang menjadi nilai plus adalah gratis ongkos kirim, program poin reward, diskon bekerjasama dengan pembayaran bank tertentu dan sebagainya.

[3] Rajin membandingkan harga suatu barang pada beberapa toko online. Kenapa? Karena masing-masing toko online memiliki program diskon tersendiri. Kadang di toko A harganya normal, di toko B diskon 15%, eh di toko C bisa diskon 20%. Karena itu, saya berlangganan newsletter dari berbagai toko online untuk mendapatkan update dari program-program mereka.

[4] Sempatkan waktu untuk mencoba/mengamati baju-sepatu dari merek favorit kita di toko/mall konvensional. Setiap produsen baju pasti punya karakteristik masing-masing, yang ditentukan oleh designer dan menentukan standard ukuran, pemilihan bahan, cutting dan sebagainya. Pengalaman pribadi sih, walaupun biasa menggunakan sepatu ukuran 38, tapi pernah suatu kali membeli sepatu ukuran 38 dan kekecilan. Nah, yang seperti ini bisa diminimalkan risikonya dengan mengenali karakteristik merek itu tadi. Dan ini sekaligus alasan mengapa saya lebih suka memilih baju dengan merek tertentu, karena jaminan kepastiannya lebih tinggi.

[5] Perhatikan deskripsi barang! Seperti ukuran, bahan dan spesifikasi lainnya. Luangkan waktu untuk benar-benar mengukur badan atau kaki kita dan kemudian melakukan kroscek, apakah ukuran barang yang akan kita beli sesuai dengannya. Jangan lantas pukul rata, karena seringkali memakai ukuran ‘M’ (Medium) kemudian merasa yakin bahwa ukuran itu dipakai semua brand. Ya, terkadang standard ukuran yang digunakan berbagai brand itu berbeda.

[6] The power of whistlist. Nah, ini nih jurus belanja online andalan saya untuk memastikan bahwa saya mendapatkan harga terbaik dari barang yang saya inginkan. Caranya sederhana saja, saya yakin banyak yang melakukan cara ini… yaitu memasukkan barang yang kita incar ke wishtlist atau ‘daftar keinginan’. Ini akan mempermudah kita untuk memantau apakah barang yang kita incar sedang diskon atau tidak. Terkadang, bahkan toko online tertentu akan memberikan notifikasi jika barang yang ada di wishlist kita sedang diskon. Jadi, tinggal window shopping, masukkan ke wishlist jika kita belum ikhlas dengan rupiah yang harus untuk kita tebus untuknya, lalu tunggu sampai harganya masuk akal menurut kita.

Nah, itulah 6 poin yang menurut pengalaman saya perlu dilakukan untuk menjamin kepuasan dan keamaan dalam belanja online. Sejauh ini, sejak mulai berbelanja online pertama kali tahun 2009, dulu pernah juga merasakan yang namanya tidak puas dengan barang yang saya beli, tapi tidak bisa dikembalikan. Tapi berbekal pengalaman, alhamdulillah (dan semoga saja), kejadian seperti itu tidak terulang lagi. Beberapa waktu lalu, bahkan saya dibuat terkagum-kagum pada saat mengembalikan baju dengan biaya yang benar-benar gratis karena toko online-nya sudah bekerjasama dengan POS.

Dan ngomong-ngomong soal diskon, teman-teman pecinta belanja online pasti tahu istilah ‘HARBOLNAS’, yaitu Hari Belanja Online Nasional. Ini adalah saat dimana toko-toko online berkolaborasi dan bersama-sama memberikan diskon besar-besaran pada tanggal 12-12 setiap tahunnya, dimulai sejak tahun 2012. Menurut pengalaman saya sih, diskonnya benar-benar menggiurkan, bahkan sampai 90% lho… Karena itu, sejak dilakukan pertama kali, saya selalu menunggu-nunggu tanggal ini. Sampai-sampai mengerem belanja beberapa bulan sebelumnya hanya untuk memastikan budget yang lebih besar untuk belanja saat HARBOLNAS :D.

Toko online yang berpartisipasi dalam event HARBOLNAS juga cukup banyak, termasuk toko online favorit saya, Zalora. Toko yang sejauh pengalaman saya sangat kredibel, serta memberikan benefit dan perlindungan pelanggan yang mumpuni. Karena itu, untuk event HARBOLNAS nanti, saya benar-benar menyiapkan wishlist saya. Siapa tahu saat HARBOLNAS nanti, yang harga 300K ke atas didiskon jadi harga dibawah 100K, hihi :D. Dan saya bisa memberikan barang-barang bagus dengan harga yang tidak kalah ‘bagus’ untuk orang-orang tercinta.

Bukan pencitraan ya… semangat belanja untuk diri sendiri memang sedang menurun karena rencana kantor yang menerapkan seragam seminggu penuh…

So, semoga tulisan ini cukup membantu (dan menghibur) teman-teman baik yang suka belanja online maupun yang tidak. Dan jangan lupa, be ready untuk HARBOLNAS ya… Jangan lewatkan juga HARBOLNAS di ZaloraCatet tanggalnya, 12-12-2016… ;)

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Thursday, October 6, 2016

Speak Good or Remain Silence

Pernah ga sih teman-teman liat gosip di acara infotainment? Kalau jaman saya dulu ada Cek n Ricek, Kabar Kabari, Silet dan sebagainya… Nah, kalau sekarang ga tau lagi nih apa acara infotainment yang nge-hits, secara kami ga punya TV lagi di rumah. Dan jawabannya, pasti pernah lah ya… Atau, jika pun tidak melalui televisi, pasti berita seputar gosip selebritas banyak kita akses lewat internet. Saya juga begitu, meski ga sampai follow akun @lambe_turah kaya beberapa teman sih, hihi :D.

Jadi, ini mau ngomongin apa sih? Gosip artis?

Bukan… hmm, somehow saya sedang memikirkan tentang membicarakan orang lain dan kemudian memberikan komentar sebagai sebuah hiburan’. Hmm, menghibur diri maksudnya, ngomongin orang lain itu seru kan?

Dan somehow, saya jadi berpikir bagaimana rasanya saat kita berada dalam posisi sebagai objek gosip/pembicaraan orang lain. Yah, tentu tidak sampai seperti artis yang dibicarakan ratusan ribu orang sih, tapi sekedar lingkaran kecil di lingkungan kita. Pernahkah kamu berpikir kesana? Bagaimana perasaan orang lain yang sedang kita bicarakan, entah secara langsung ataupun tidak langsung…


Dulu pada saat usia saya masih 24 tahunan; baru merantau ke seberang, masih lajang dan bebas, atau kalau bahasa kerennya ‘young and carefree… Itulah kali pertama saya merasakan berada dalam posisi para artis itu. Digosipin. Bukan cuma ibu-ibu komplek, tapi juga bapak-bapak yang suka nongkrong di pos satpam gerbang komplek. Yang tiap hari liat saya keluar bersama teman-teman. Kadang saya dibonceng si A, kadang si B… terus mendadak intens sama si D, lalu digosipin pacaran sama si D, padahal dulu si D dekat dengan si A. Yah, kurang lebih seperti itu… Teman-teman pernah mengalaminya? Bagaimana rasanya?

Yah, kalau dulu sihhave fun go madaja, tidak terlalu saya ambil pusing. Malahan saya bikin statement, ‘semakin diomongin orang, semakin terkenal, semakin seru’! And that is so true! Saya tidak terlalu peduli dengan apa yang orang bicarakan tentang diri saya, selama itu tidak mencemarkan nama baik saya. Catet, ‘ga sampai mencemarkan nama baik! Dan mereka memang tidak pernah sampai ke ranah itu kok, they’re all good person, niat mereka sama sekali bukan untuk menjelekkan atau menyakiti orang lain.

Nah, tapi ada saatnya dimana omongan orang mulai mengganggu ketentraman saya waktu itu. Bukan karena mencemarkan nama baik, tapi karena omongan itu membuat saya merasa semakin terpuruk, di saat saya butuh dukungan untuk bangkit. Atau dalam bahasa kerennya, ‘tidak empatik.’

Waktu itu saya sedang putus dengan si D, sedang sensitif-sensitifnya dan mengharu-biru. Lalu ada yang berkomentar, “Duh, sakitnya…” saat seorang teman cerita bahwa liat si D jalan sama si X… ngomongnya di depan saya dan banyak orang, bayangkan rasanya Hati saya nyut-nyutan rasanya, saya sangat terganggu dengan komentarnya, dan disaat yang sama saya harus terlihat strong di depan banyak orang. Bukan cuma annoying, itu hurting! Itu menyakiti hati saya

Pernah juga, saya hanya manggut-manggut tanda paham sesuatu, saat seseorang bilang, “Yah, orang sih mungkin mikirnya gengsi ya beli mobil baru… Bla-bla-bla…” Padahal waktu itu, dia tahu teman di sebelah kami baru saja beli mobil baru. Hmm, beberapa kali hal seperti ini terjadi juga pada saya, tapi ya saya manggut-manggut saja dan tidak berkomentar, sembari berpikir, bahwa bagaimana (sebut saja) si C berbicara menunjukkan bahwa betapa pendek cara berpikirnya. Dia berpikir bahwa alasan seseorang beli mobil baru itu ya seperti dia, sekedar untuk gengsi-gengsian. Dia tidak berpikir, bahwa kadang cara berpikir orang sama sekali tidak seperti itu. Beli mobil itu ya karena butuh; kenapa baru, ya beberapa orang lebih memilih seperti itu karena tidak terlalu mengerti mesin mobil dan perawatan mobil baru itu lebih mudah… Dan sebagainya…

Bahasa kerennya, egosentris, alias berpikir bahwa jalan pikiran orang lain sama dengan jalan pikiran kita. Yah, beberapa kali berada dalam posisi yang sama, dan ya rasanya sedikit tidak nyaman sih, tapi tidak terlalu mengganggu jadi saya diam saja tanpa komentar. Tapi, menurut pengalaman saya, ada beberapa orang yang benar-benar merasa iritated alias terganggu dengan komentar-komentar egosentris semacam ini. So, better you avoid that

Yes, there are 3 things yang menurut pengalaman saya adalah konten-konten yang buruk dan berpotensi mengganggu kenyamanan orang lain. Yang menurut hemat saya sebaiknya dihindari. Tapi, yah, jika pun perlu diucapkan, berikut beberapa hal yang harus diperhatikan untuk meminimalisir dampak buruk dari kata-kata itu kepada orang lain:

1. Pilih audience-mu! Well, kamu bukan sedang konferensi pers kan? Jadi, pilih audience yang benar-benar sesuai dengan bahan pembicaraanmu. Terutama jika itu adalah pembicaraan yang sensitif, berpotensi menimbulkan konflik, atau menyakiti hati orang.

Misalnya; “Si C itu habis beli mobil baru lho… Cash! Padahal dia cuma sekretaris… duit darimana coba kalau bukan seseran alias tips tamu-tamu yang mau nemuin bosnya. Atau malah dia ada affair sama bosnya…” Ish, ini benar-benar serangkaian kata-kata yang sensitif, tidak empatik, bagaikan dalil yang tidak disertai landasan fakta dan menunjukkan betapa pendek pemikiranmu… Karena bisa jadi si C habis dapet undian, atau dapet warisan, atau habis jual tanah, dll… ada begitu banyak kemungkinan.

So chose your audience wisely. Atau kamu akan membuat seseorang marah besar karena pendapatmu itu bocor ke telinganya…

2. Perhatikan nada bicara, kekuatan suara dan bahasa tubuh (aspek nonverbal). “Ih kamu, sok cantik banget sih…” Coba bayangkan kalimat itu diucapkan dengan suara keras dan nada tinggi plus berkacak pinggan dan mata mendelik, pasti semua orang akan menilai itu adalah sebuah cemoohan untuk menjatuhkan harga diri seseorang. Berbeda saat ucapan itu diucapkan nada rendah yang genit, disertai colekan lembut, senyum dan mata yang genit; pasti orang akan mengartikan kalimat ini sebagai candaan, godaan atau rayuan.

3. Perhatikan situasi dan kondisi. “Ah, kalo aku sih enggak lah anak di taruh di day care, mendingan bayar pengasuh aja… Di day care kita enggak bisa kontrol dia makan apa… bla-bla-bla…” Dan itu kamu ucapkan saat seorang di sebelahmu gundah gulana karena akhirnya menitipkan anaknya di day care sebagai pilihan terakhir. Bukan karena tidak bisa bayar pengasuh lho, tapi karena dia tidak juga mendapatkan pengasuh setelah beberapa lama mencari. Hingga akhirnya, life must go on, dan dia memilih menitipkan anaknya ke day care tadi…

Nah, keliatan kan, kalau situasi yang salah akan membuat kalimatmu menyakiti orang lain. Termasuk misalnya saat kamu menegur seseorang, pastikan itu dilakukan secara pribadi, bukan di depan banyak orang…

Ada 3 hal yang menurut saya perlu bisa dilakukan agar ucapan kita tidak mengganggu atau menyakiti orang lain. Tapi, bagaimana pun juga, pertanyaan besar yang sesungguhnya harus kita jawab berkaitan dengan pola berbicara kita adalah, apa sih sebenarnya tujuan kita berbicara sesuatu? Apakah untuk nge-judge seseorang? Apakah untuk menjelekkan orang lain? Sekedar omong kosong untuk mengisi waktu luang? Atau untuk katarsis melampiaskan kekesalan?

Hmm…

Sebenarnya, jika sebuah pembicaraan sungguh hanya mengandung hal yang buruk, kita bisa kok memilih untuk diam. Toh, melampiaskan kekesalan, bercanda dan sejenisnya tidak musti dengan mengeluarkan kata-kata buruk, tidak benar atau menyakiti orang lain. Bisa lho dengan ngomel-ngomel sendiri di kamar mandi, bisa lho dengan curhat di buku harian, dan sebagainya. Tapi jangan di social media ya, karena ini sih sama saja :D.

Saya tahu, kadang ada dorongan yang kuat dalam hati kita untuk berbicara sesuatu yang buruk; yang kesannya sinis, menjatuhkan orang lain, menyakiti orang lain dan sebagainya. Saya pun terkadang merasakannya. Ini hal yang manusiawi. Tapi, janganlah diumbar begitu saja keinginan seperti ini, tapi belajar untuk mengendalikannya. Paling tidak, jika memang harus ‘dikeluarkan’ (baca: dibicarakan) lakukan 3 trik di atas (pilih audience, jaga aspek nonverbal dan perhatikan situasi dan kondisi). Sekali lagi, agar perkataan kita tidak mengganggu atau menyakiti hati orang lain…

But still, in this case, the best quality of a speaker is to ‘speak good or remain silence’… Kualitas terbaik dari seorang dalam hal berbicara adalah untuk membicarakan sesuatu yang baik dan dengan cara yang baik dan tujuan yang baik, atau lebih baik kita diam…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Sunday, September 25, 2016

Bold to be Healthy

Big is beautiful
Ga papa gendut, yang penting sehat…”
Dst.

Adalah beberapa kalimat yang seringkali kita dengar berkaitan dengan bentuk tubuh besar, gendut’ atau ‘gemuk’. Kalimat yang mungkin adalah bentuk empati agar si pemilik tubuh besar tetap berpikiran positif dan bahagia. Kalimat yang sungguh tidak salah sedikit pun jika ‘big’ yang dimaksud tidak melampaui berat badan ideal seseorang. Namun menjadi salah, jika kalimat ini digunakan sebagai pembenaran atas berat-badan-berlebih yang dialami seseorang, sehingga orang tersebut tidak memperbaiki pola hidupnya menjadi lebih sehat.

Obesitas sebagai dampak dari pola hidup tidak sehat, faktanya bisa menyebabkan berbagai penyakit kronis. Misalnya yang dialami Yunita Maulidia (16 tahun) dengan bobot 125 kg, yang harus menjalani perawatan medis karena komplikasi jantung. So, berat-badan-berlebih bukan hanya masalah penampilan, tapi menyangkut kesehatan!


***

Berbicara mengenai penyakit jantung, pada tahun 1990-an, mungkin banyak dari kita yang sebatas mengenalnya melalui televisi. Mungkin melalui sinetron yang menampilkan adegan seorang paruh baya yang kesakitan memegangi dada sebelah kanannya karena serangan jantung. Kala itu, penyakit jantung masih tergolong langka dan belum masuk ke dalam daftar 10 besar penyakit penyebab kematian di Indonesia. Berbeda dengan sekarang, dimana penyakit jantung telah menempati peringkat kedua!

Tuesday, August 23, 2016

Berdamai dengan Rasa Takut


“Apa sih perbedaan antara ‘berdamai’ dan ‘mengalahkan’?

“Wo, ya jelas beda dong… Dari sisi manapun jelas ga ada persamaan. Kata kerja ‘mengalahkan’ dan ‘berdamai’ (mungkin) memang sama-sama diawali dengan suatu pertandingan, kompetisi atau bahkan peperangan, namun dengan ending yang berbeda. Kata kerja ‘mengalahkan’ didapatkan setelah seseorang dinyatakan lebih kuat, lebih baik dan sebagainya. Sedangkan ‘berdamai’ adalah kata kerja yang digunakan saat kedua belah pihak kemudian berusaha saling memahami dan mengerti kepentingan masing-masing, kemudian menurunkan ego masing-masing dan kemudian memutuskan untuk berjalan bersama tanpa predikat ‘menang’ dan ‘kalah’.

Yes, keduanya memang beda… Tapi, dalam kasus yang lebih abstrak, perbedaan keduanya menjadi samar.

Misalnya seperti ini: pada suatu hari, saya share cerita saya tentang belajar menyetir ini di Facebook. Dan kemudian, ada seorang teman yang berkomentar, bahwa dia belum bisa menyetir karena belum bisa MENGALAHKAN rasa takutnya. Dan saya jawab, bahwa rasa takut itu bukan untuk dikalahkan tapi diajak BERDAMAI. Yes, I know hal ini tidak mudah dijelaskan dengan singkat semacam berbalas komentar di Facebook. Komen di Facebook sebenarnya bisa panjang juga sih, tapi kalau saya yang seringnya pakai hape untuk akses Facebook, males ngetiknya :D. Jadi, mari kita bikin jadi blog post saja, sekalian update blog :D.


Back again, jadi, setelah komentar saya itu, teman saya kemudian menjawab, “…iya, intinya di rasa takut kan…” Hmm, yes she’s right, tapi saya merasa dia tidak memahami maksud saya. So, here what I mean perbedaan antara ‘MENGALAHKAN’ dan ‘BERDAMAI’…

Saya adalah seorang perfeksionis, mungkin itu ada pada gen saya, karena sedari kecil, saya adalah seorang perfeksionis. Saat kecil, saya ingat sekali bagaimana saya selalu berusaha melakukan semua hal sesempurna mungkin; mulai dari menulis, menggambar (melukis), cara berpakaian dan banyak hal lainnya. Saya selalu berusaha menulis dengan sangat rapi, melukis dengan sesuai bayangan saya dan selalu meminta baju saya dimasukkan ke dalam celana atau rok yang saya pakai. Hal yang tampaknya baik-baik saja atau bahkan terdengar bagus, namun saya menemukan banyak benturan dengan sifat ini.

Saya sulit menerima adanya tulisan yang tidak rapi, coretan dan sebagainya dalam buku catatan saya. Saya sulit mentolerir hal yang semacam itu, dan jika hal itu terjadi, maka saya akan berusaha mengganti bukunya, karena saya maunya buku itu rapi! No stroke, no mistakes, no flaws, no compromise! Kebayang ya boros dan ribetnya… Lalu jika terpaksa harus berada dalam situasi tidak sempurna seperti keinginan saya, efeknya adalah rasa malas, tidak bersemangat dan sedikit (atau banyak tergantung kasusnya) merasa stress. Melihat atau berada dalam posisi yang tidak sesuai ekspektasi itu, sangat menyiksa* kaum perfeksionis seperti kami. Iya kan? (bertanya pada para perfeksionis).

Dan juga cukup fatal dalam beberapa kasus… Sewaktu SD, saya pernah tidak mengumpulkan tugas kerajinan tangan, karena berkali-kali berusaha membuat, tapi tidak berhasil seperti keinginan saya. Saya juga pernah menyobek lembar tes saya menjadi dua, karena merasa tulisan saya tidak rapi –saya menyobeknya untuk menghilangkan tulisan saya yang tidak rapi, saya menyalin jawabannya di sebelah kertas itu. Awkward, yes! Extreem, yes! Tapi bukan hal yang ter-ekstrim dan ter-fatal yang terjadi pada diri saya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...