SOCIAL MEDIA

search

Wednesday, March 30, 2016

Obat Alami yang Bersahabat untuk Bayi

Anak-anak sakit, memang adalah hal yang wajar. Bahkan para dokter (membaca dari artikel di internet) menyebutkan bahwa hingga usia 1 tahun, rata-rata anak akan mengalami sakit 8 – 12 kali pertahun dan baru kemudian turun menjadi 6-8 kali pertahun memasuki tahun kedua hidupnya. Jadi ya begitulah adanya, benar-benar sesuatu yang wajar jika anak kecil kita sering sakit sebanyak itu (karena kalau lebih mungkin ada indikasi lain). Semua itu adalah hal yang alami, yaitu karena daya tahan bayi dan anak-anak memang lebih lemah dibandingkan orang dewasa. Baiklah, berarti kita tidak perlu terlalu khawatir ya, jika anak-anak kita mengalami sakit ringan seperti batuk pilek dan diare.

Iya, mungkin seharusnya seperti itu ya, dan saya pun rasanya bukan orang yang terlalu khawatir saat anak-anak mengalami sakit ringan semacam itu. Tapi, terlepas dari kewajaran itu Bukan semata merawat anak sakit itu melelahkan. Bukan semata menggendong seharian dan semalaman yang membuat kita ingin rasa sakit itu pergi dari tubuh anak kita. Tapi, melihat dan membayangkan seorang anak kecil yang belum bisa mengeluh dan berkompromi dengan rasa sakit; yang termanifestasi dalam perilaku susah tidur, susah makan, rewel dan sejenisnya itu, tentu menerbitkan rasa iba. Kita saja, orang dewasa yang bisa batuk-batuk atau ‘sisi’ (bahasa Jawa: buang ingus) untuk mengeluarkan dahak, masih merasa batuk pilek itu sangat membuat tidak nyaman. Apalagi anak-anak, yang belum menguasai dua keterampilan itu… pasti rasanya benar-benar tidak nyaman, sementara dia belum bisa mengeluh, hingga akhirnya hanya bisa kebingungan merasakan semua itu.

Nah, lalu solusinya apa? Hmm, paling praktis tentu dibawa ke dokter dan mengkonsumsi obat yang diberikannya untuk meringankan gejala-gejala flu. Hanya meringankan, karena katanya penyebab penyakit ini adalah virus, jadi hanya imun/sistem kekebalan tubuh kitalah yang bisa melawannya. Obat, sifatnya hanya meringankan gejala-gejala yang menimbulkan rasa tidak nyaman; dimana hal ini berefek juga pada kualitas istirahat yang lebih baik, sehingga berpeluang meningkatkan ketahanan tubuh.

Thursday, March 17, 2016

Sepatu, Kejadian dan Kepribadian...

‘Sepatu’, seperti halnya jenis pakaian lainnya, pada awalnya dia hanyalah sebuah benda yang dipakai untuk menutup atau melindungi bagian tubuh tertentu; supaya tidak sakit jika berjalan dan sebagainya. Tapi, seperti halnya jenis pakaian lainnya, sepatu pun mengalami transformasi menjadi sebuah benda fashion; yang tidak hanya dipilih karena kemampuannya melindungi, tapi juga kemampuannya mempercantik sepasang kaki. Dan transformasi itu tidak berhenti sampai disitu, seperti halnya benda-benda lainnya, sepatu pun kemudian bertransformasi lebih lanjut menjadi benda yang dipilih karena ‘gengsi’; sehingga lahirlah sepatu-sepatu bermerek ‘wah’ dengan harga yang ‘aduhai’…

Hehe, stop sampai situ sajalah… Saya belum sampai ke ranah sepatu atau pakaian sebagai barang yang membawa gengsi. Asal sepatu pas, nyaman dan cantik dipakai, itu sangat cukup… apalagi kalau harganya miring, lebih bagus lagi menurut saya.


Membicarakan mengenai sepatu, seperti halnya transformasi pada diri saya, ternyata preferensi pada sebuah sepatu pun berubah, seiring pertambahan usia dan perubahan pola pikir. Dulu, semasa SD, mungkin adalah masa tersulit menemukan sepatu atau barang lainnya bagi saya. Tuntutan saya akan ‘keunikan’ itu begitu tinggi! Saat itu, saya menolak mentah-mentah sebagus apapun sepatu jika itu sama dengan milik teman saya si A, si B dan seterusnya. Ibu saya saja sampai malas mengantar saya beli sepatu. “Kowe ki mending gawe pabrik sepatu dewe kok Nian…” ujarnya. Yang artinya, “Kamu tuh mendingan bikin pabrik sepatu sendiri Nian…”, saking dongkolnya beliau saya ajak muter-muter toko, haha :D.

Wednesday, March 9, 2016

Take a Break to See the Truth and what Really Matter is

Tidur sekitar pukul 23.00 agar sebelumnya bisa menyiapkan makanan untuk dua jagoan setiap harinya. Bangun setiap pukul 05.00 untuk minimal memasak 2 menu; makanan Mahesh (13 bulan), sarapan dan bekal sekolah Ganesh (4.5 tahun). Proses masaknya sendiri, fiuh, cukup menguras fisik dan psikis karena seringkali membutuhkan ketrampilan multitasking yang luar biasa; sambil gendong Mahesh atau lirak-lirik karena dia dibiarkan mengacak-acak isi kulkas agar mau diturunkan. Iya, saya tidak punya ART yang menginap, dan membangunkan suami yang terkadang pulang tengah malam untuk saat terjadi gangguan itu, mana tega saya lakukan. Jadi, selama masih ter-handle; masak 3 menu makanan (sederhana saja), menyuapi sarapan si Kakak, memandikan 2 bocah, menyiapkan keperluan sekolah Kakak dan bersiap-siap ke kantor; itu saya lakukan sendiri. Sehingga bisa dimaklumi walau bukan pembenaran jika saya kemudian berangkat terlambat ke kantor, yang jaraknya 30 Km dan memakan waktu 1 jam perjalanan itu. Dimana itu pun menguras hati, karena rasa bersalah…

Dan kemudian, di kantor pun karena banyaknya waktu yang terpotong karena terlambat dan untuk pumping; pekerjaan harus dilakukan dengan secepat mungkin. Lupakan makan siang di luar, cukup menitip makan pada OB dan makan kilat di kantor untuk mempersingkat waktu. Agar pukul 16.00 tepat bisa segera pulang dan bertemu dengan anak-anak. Oh ya, jangan lupa, setelah menempuh perjalanan 1 jam lagi ya…

Ah, mungkin juga saya terlalu berlebihan, karena teman-teman di ibukota pasti merasakan ke-hectic-an yang berlipat. Tapi dengan ke-cemen-an saya itu, rutinitas ternyata membuat saya merasa begitu terburu-buru dan lelah; hingga kadangkala tidak cukup sabar untuk melayani pertanyaan dan kebutuhan si Kakak yang sangat kritis dan penuntut… Dan inilah bagian kedua dari ‘When Our Good Boy Gone Bad’; cerita usaha kami mengembalikan anak baik kami yang sedang bad mood berkepanjangan. Yaitu, mengambil cuti panjang :)


14 Januari 2016, akhirnya resolusi pertama di tahun 2016 terlaksana! Setelah sesungguhnya di acc sekian lama, namun tidak kunjung dilaksanakan karena beberapa pekerjaan yang tidak bisa ditunda, cuti akhirnya terealisasi! Sehingga untuk 15 hari kedepan sejak saat itu, saya bisa beristirahat sejenak dari rutinitas kerja kantoran untuk mengalihkan fokus pada hal-hal yang selama ini tidak mendapatkan perhatian sebagaimana mestinya. Ya, saya berbicara tentang Ganesha yang mood-nya benar-benar buruk saat itu. Saya berharap dengan cuti dan berkurangnya traffic kegiatan sehari-hari akan membuat saya melihat hal-hal yang selama ini terlewat dan mendapatkan insight tentang masalah penting ini. Dimana alhamdulillah hal ini terbukti benar…

Saturday, February 20, 2016

Pizza Makaroni

Sebenarnya sudah setahunan Ganesh mulai masuk ‘sekolah’, sejak Bulan Februari 2015, di kelas Kelompok Bermain kala itu. Sejak itulah ada tugas baru bagi saya, yaitu menyiapkan bekal, karena memang ada waktu makan bersama di ‘sekolah’-nya. Sudah hampir setahunan ternyata… hmm, tapi baru akhir-akhir ini saya dibuat pusing dengan urusan perbekalan ini. Karena, jika dulu saya bisa asal saja dengan menu-menu kilat seperti nasi dan telur dadar atau roti tawar dengan selai coklat; maka sekarang saya harus benar-benar berpikir bagaimana menyiapkan bekal yang mudah disantap dan peluang habisnya besar. Kenapa demikian? Hmm, agak panjang nih penjelasannya…

Jadi, pasca pindah sekolah sebulan yang lalu, Ganesh harus berangkat sejak pagi dan transit dulu di kantor saya untuk kemudian masuk siang dari pukul 10:30 hingga pukul 13:00. Lalu, sepulang sekolah pun dia harus transit lagi di kantor saya hingga pukul 16:00 saat saya pulang kantor. Nah, disitu berarti bekal Ganesh akan dimakan pada saat makan siang (sekitar pukul 12:30), maka bekal Ganesh harus cukup mengenyangkan dan bernutrisi, serta untuk efisiensi waktu maka harus bisa dihabiskannya sendiri tanpa bantuan orang dewasa lainnya. Karena jika tidak dan saya harus menyuapinya lagi, berarti waktu kerja saya kembali berkurang dan pulangnya bisa lebih sore lagi… :(

Nah, karena kerumitan itu, sejauh ini baru ada tiga menu yang memenuhi syarat di atas dan rutin menjadi bekal Ganesh (4 tahun 6 bulan) ke sekolah. Pertama adalah (tentu saja) nasi goreng kesukaannya, pasta dan yang terbaru adalah pizza makaroni.


Pizza makaroni ini sebenarnya terinspirasi dari resep bakwan makaroni yang saya temukan di internet. Tapi, karena pada percobaan pertama ternyata banyak memakan waktu untuk menggoreng satu per satu, maka saya tuang saja semua adonan ke dalam teflon kecil dan kemudian diiris-iris seperti pizza setelah matang, hehe :D. Jelas lebih hemat waktu dan bentuknya malahan lebih menarik (semoga bukan pembelaan :D). Dan berikut adalah langkah-langkah membuatnya…

Thursday, January 28, 2016

When Our Good Boy Gone Bad…

Tidak terasa, ternyata hampir setahun tidak membuat tulisan tentang Ganesha si Kakak yang sekarang berumur 4 tahun 6 bulan (terakhir menulis tentangnya di Ganesha The Big Brother). Padahal, dulu rajin sekali menulis tentang tingkah dan perkembangannya, hiks, sekarang baru tahu rasanya punya dua anak laki-laki yang aktif bukan main (we call it ‘usreg’, ‘tengil’, ‘pecicilan’, etc in a good way of course). Oh ya, dan tentu saja juga karena load pekerjaan yang sedang tidak bersahabat sehingga nyaris tidak ada waktu untuk mengerjakan hal selain ‘pekerjaan’ di kantor :(. Tapi, malam ini, spesial saya ingin menulis tentang dia, sebagaimana saya sengaja cuti 2 minggu untuknya… karena dia memang spesial… Hey boy, you’re so special for us, we love you so much… :).

OK, let’s start the story

[Disclaimer: ini cerita yang panjang (1885 kata), if you don’t have much time, bisa langsung skip ke bagian akhir untuk kesimpulannya. Happy reading :)]


Ganesha… tidak terbayang sebelumnya bahwa si bayi kecil yang lucu dan imut ini akhirnya tumbuh menjadi seorang anak berusia 4 tahun 6 bulan yang sangat lincah, penuh rasa ingin tahu, perfeksionis and so determine with what he want (baca: ngotot dengan kemauannya). Dulu, mungkin cukup mudah untuk mengarahkannya pada hal yang menurut kami benar; tapi sekarang, kami harus berusaha sangat keras untuk memberikan alasan hingga hati dan pikirannya bisa menerima dan menuruti perkataan kami… Hingga jujur, kadang kami kewalahan dan akhirnya pertengkaran pun tidak dapat dielakkan; seolah-olah Ganesha yang berusia 4 tahun 6 bulan itu adalah lawan debat yang sepadan dengan kami. Kepandaiannya berkata-kata dan berpikir seringkali mengelabui, hingga kami berbuat bodoh seperti itu. Ganesha kecil kami yang lucu, kini terlihat suka membangkang, sampai semakin sering berteriak dan menangis jika marah. Hingga bagi beberapa orang, sepertinya cukup mudah untuk melabelinya ‘nakal’. Dan kemudian menunjuk bahwa semua itu karena kurangnya perhatian kami (kedua orang-tuanya) yang sama-sama bekerja.

Yah, bisa jadi poin kedua itu benar; ada banyak kekurangan kami sebagai orang-tua yang perlu dikoreksi. Tapi, bahwa Ganesh adalah anak ‘nakal’, we don’t think so… Let me explain why, sekaligus mencari solusi permasalahan kami…

Seems like our good boy just gone bad, literallyBut really? Ah, tentu saja kami (orang-tuanya) tidak sependapat…

[SETIAP INDIVIDU ADALAH UNIK]. Menurut kami dia hanya mengalami (semacam) burnout alias kelelahan secara mental yang diwujudkannya dalam bentuk pemberontakan. Hal seperti ini memang tidak selalu ditandai dengan pemberontakan dan pembangkangan, ada juga anak yang kemudian menjadi pemurung atau mencari pelampiasan pada hal lain. Tapi, begitulah cara Ganesh sesuai dengan kepribadiannya…

Faktanya memang individual differences (keragaman individu) itu nyata adanya. Menghadapi suatu keadaan yang tidak ideal, seseorang bisa merespon dengan ketenangan tanpa terlalu mempermasalahkannya, ada juga yang kemudian justru menarik diri (bersedih)… Tapi ada juga yang berpikiran bahwa hal itu harus diubah sesuai keinginannya. Dimana pada saat tertentu (mungkin) dia masih bisa mengendalikan dan menahan keinginan itu, tapi saat dia harus menerima keadaan seperti itu terus-menerus, ada ambang dimana dia akan marah dan melakukan perlawanan.

Monday, December 21, 2015

Memaafkan, Tidak Sama dengan Menjadi 'Malaikat'...

Seminggu ini, (sebut saja) Sekar dan Ratna lagi-lagi menjadi hot topic infotaintment Indonesia (paling tidak itu pengamatan saya dari video yang di-share di social media). Masih seputar isu Sekar yang merebut Galih dari Ratna, yang notabene adalah orang yang melambungkan nama Sekar pertama kali di jagad hiburan. Dan kemudian, kesan inilah yang membuat Sekar memiliki begitu banyak haters alias pembenci, yang rajin menyatroni akun-akun social medianya dan menebarkan cacian hingga sumpah serapah. Bahkan, konon hal ini pun akan terjadi juga pada orang-orang yang berani mem-posting fotonya bersama Sekar. Waktu itu berita yang sempat mencuat adalah (sebut saja) Bagas yang mem-posting fotonya bersama Sekar dengan caption yang menantang para haters. Dan benar saja, foto Bagas dan Sekar itu sukses mengundang para haters berkunjung dan meninggalkan berbagai cacian. Bagas pun kemudian menghapus foto tersebut dari akun instagramnya. Luar biasa ya!

Baik, kembali ke topik… Hmm, bukan perseteruan Sekar dan Ratna sih yang ingin saya bahas disini, tapi mengenai latar belakang kenapa mereka berdua kembali menjadi buah bibir di seantero Indonesia. ‘Sebuah permintaan maaf’ dari seorang Sekar kepada Ratna yang disampaikan melalui wawancara dengan (sebut saja) Riko yang diunggah di youtube. Disitu Sekar mengklaim bahwa dia sebelumnya sudah meminta maaf dan Ratna pun bilang sudah memaafkannya, namun pada saat bertemu di rumah sakit untuk menjenguk anak Ratna (dengan Galih yang menjadi anak tiri Sekar) dan Ratna menolak ajakannya berpeluk-cium, saat itu Sekar merasa bahwa Ratna belum benar-benar memaafkannya hingga akhirnya meminta maaf melalui wawancara yang diunggah di youtube tersebut.

Nah, disini nih yang membuat saya tergelitik, memang apa sih definisi ‘maaf’ menurutnya? Apa menurut dia itu berarti mengembalikan segala sesuatunya seperti sedia kala sebelum apapun kejadian yang terjadi di antara mereka? Apakah ini seperti jika dua orang sahabat kemudian kembali bersahabat setelah salah satu dari mereka merebut suami yang lainnya? Atau dua orang mantan kembali berpacaran setelah salah satunya ketahuan selingkuh? Atau seperti suami istri yang bercerai kemudian kembali rujuk walaupun sang suami telah menikah dengan selingkuhannya? Jawabannya tentu 'tidak' bukan…

Mengutip pernyataan dalam sebuah buku* yang cukup menginspirasi saya: “…memaafkan bukan adopsi dari posisi superior. Juga bukan menerima kekasaran orang lain dan berpendapat hal itu dapat diterima, jika demikian berarti tidak jujur. Memaafkan adalah melihat tidak ada landasan untuk adanya menyalahkan, berarti ada dasar tidak berdosa. Perilaku seseorang tidak dapat dirasionalkan. Dia melakukan dengan caranya. Mungkin motivasi lain dapat mendorong perilakunya, seperti rasa takut atau keegoisan… Memaafkan adalah pengalihan dari apa yang kita lihat secara fisik dan mencari kebenaran yang ada di balik ego seseorang.”

Di balik pernyataan itu terkandung makna bahwa memaafkan berarti tidak lagi mempermasalahkan tindakan buruk seseorang kepada kita. Pasti ada alasan dibalik tindakan buruk itu; mungkin kelemahannya, keinginannya, ambisinya, kekhilafannya atau apapun; dan kita menerimanya. Tapi, bukan berarti jika lantas kita harus bersikap seperti sebelum kejadian buruk itu terjadi. Memaafkan tidak sama dengan kemampuan menghapus segala memori yang menimbulkan rasa sakit. Kita hanya manusia biasa yang memiliki keterbatasan, sehingga ada kedekatan intensitas tertentu atau perbuatan tertentu yang mengembalikan ingatan kita pada peristiwa itu, luka yang sama. So, adalah hal yang bisa diterima jika kemudian kita berkata, “Aku memaafkanmu, tindakan yang kamu lakukan dengan segala alasanmu, aku tidak menghakimimu, tidak memintamu membayar apapun atas lukaku, tidak lagi sakit hati dan mengutukmu, tapi aku tidak ingin bertemu atau berhubungan lagi denganmu…”  Manusiawi kan?

Thursday, December 17, 2015

Melatih Bayi Minum ASIP

Halo para ibu bekerja yang sedang menikmati cuti melahirkan selama 3 bulan… Apa kabar? Insyaallah baik dan bahagia ya… kan baru saja bertemu dengan si kecil yang sembilan bulan ada dalam kandungan :). Eh tapi, sebenarnya kalau saya pribadi merasa masa ini penuh dengan tantangan dan kegelisahan juga lho. Bulan pertama gelisah beradaptasi menjadi stay-at-home-mom; yang biasanya pagi-pagi udah sibuk dandan, 8 jam duduk di belakang meja dan baru pulang sore hari; lalu tiba-tiba 24 jam mengurusi rumah dan anak baru… hmm, that's tought hah? Dan kemudian, setelah mulai terbiasa dengan rutinitas baru, bulan berikutnya kita mulai pasang kuda-kuda untuk menyiapkan anak kembali ditinggal kerja (baca: mencari pengasuh, membiasakan keduanya dan lain-lain termasuk mengajarkan anak minum ASIP).


Dulu, saya pikir mengajari anak minum ASIP itu mudah saja. Makanya saya baru melatih Ganesh anak pertama saya 2 minggu sebelum cuti berakhir yang mana menurut pengalaman saya itu sangat-sangat terlambat. Saat itu Ganesh menolak memakai dot dengan nipple yang sudah diganti berkali-kali. Dan saat akhirnya mau minum dengan menggunakan soft-cup-feeder pun, sesungguhnya belum seberapa familiar saat saya tinggalkan ke kantor. 

Waktu itu sih, walaupun berat meninggalkan Ganesh ke kantor, saya tidak terlalu khawatir, karena jarak kantor-rumah hanya 5 menit. Pada jam istirahat dan saat darurat saya bisa kembali ke rumah. Tapi tidak demikian saat melahirkan Mahesh anak kedua saya. Saat itu saya telah dimutasi ke Lampung (baca: Better than This but Still I Fly), semua kemewahan itu berubah karena jarak tempuh kantor-rumah menjadi 1 jam. Sangat tidak mungkin untuk pulang sewaktu istirahat atau kondisi darurat. Karena itu, belajar dari pengalaman sebelumnya, saya pun mempersiapkan hal ini (melatih Mahesh minum ASIP) jauh-jauh hari. Memastikan bahwa dia sudah cukup lancar minum ASIP sehingga tidak rewel ditinggal kurang lebih 10 jam setiap harinya.

***

Kami mulai melatih Mahesha minum ASIP sejak usia 1 bulan dengan menggunakan soft-cup-feeder. Kenapa soft-cup-feeder, tentu karena ingin menghindarkannya dari resiko bingung puting dimana bayi menolak menyusu pada payudara atau tetap mau menyusu tapi tidak lagi dengan teknik yang benar sehingga tidak bisa mengosongkan payudara dengan baik yang berimbas pada menurunnya produksi ASI. Dan alasan kedua, karena sudah ada soft-cup-feeder kakaknya dulu, jadi tidak perlu beli :D.

Sebelum mulai melatih Mahesh, kami (saya dan pengasuhnya) melakukan simulasi terlebih dahulu, bagaimana cara menggunakan gadget ini. Dan untuk lebih memberikan gambaran, saya pun mencari video youtube (kebetulan ada). Nah, setelah yakin baru kami mulai training Mahesha… Dengan memilih waktu pagi hari sekitar pukul 09.00 sekitar 1 jam setelah menyusu ke payudara terakhir. Kenapa demikian, karena saya berpikir bahwa pada saat pagi Mahesh masih fresh (belum kecapekan) sehingga mengurangi satu faktor yang akan membuatnya rewel.

Dalam melatih Mahesha saya menetapkan beberapa aturan main. Pertama, bahwa setiap kali pemberian ASIP saya akan bersembunyi di kamar, sementara pengasuhnya memberikan ASIP di halaman rumah. Alasannya, supaya Mahesh tidak menyadari keberadaan saya sehingga menolak ASIP. Kedua, waktu berlatih adalah 1 jam, dan pada saat itu pengasuh harus berusaha mengajarkan Mahesh minum ASIP dan menenangkannya jika rewel. Saya tidak akan keluar sebelum waktu itu. Alasannya, supaya Mahesh tidak mengasosiasikan penolakan terhadap ASIP dan sikap rewelnya dengan kehadiran saya. Bayi itu pintar lho! Jika, kita kemudian buru-buru mendatanginya dan memberikan ASI melalui payudara saat menolak ASIP, lama kelamaan dia akan terus menolak karena berpikir pasti mamanya akan datang :D. Dan alasan kedua, juga untuk membangun rasa percaya diri pengasuh. Kalau sedikit-sedikit nangis langsung kita datangin, sedikit banyak akan membuatnya merasa tidak dipercayai kan. Dan rasa tidak percaya diri itu tentu berdampak negatif dalam proses belajar ini dan pemberian ASIP selanjutnya, karena (lagi-lagi) bayi itu pintar, dia akan cenderung lebih rewel jika pengasuhnya pun tidak tenang.

Begitulah cara Mahesha belajar minum ASIP, hari demi hari secara rutin supaya dia cepat familiar. Awalnya dia memang tidak terlalu terbuka menerima cara baru minum ASI ini. Mahesh memang menolak sampai mengamuk, tapi pada awal latihan hanya sedikit saja dia mau minum ASIP. Dan baru setelah beberapa lama, dia mulai terbiasa dan bisa menghabiskan sekitar 80 ml ASIP sekali minum, which means dia sudah siap untuk ditinggal sebentar-sebentar. Dan kemudian saya pun mulai melatihnya untuk ditinggal lebih lama, 2 jam setiap hari saya meninggalkannya untuk mengantar si kakak ke sekolah barunya dengan harapan dia tidak kaget saat ditinggal lebih lama nantinya. And it works, tepat 3 bulan setelah cuti saya habis, Mahesh menunggu saya kembali dengan tenang di rumah, minum ASIP-nya lancar. Tidak ada gejala bingung puting, karena begitu saya sampai d rumah dia langsung minta nenen dan berkali-kali hingga malam dan pagi kembali. Mission completed! 

Nah, kalau dirangkum, kira-kira berikut poin-poin yang kami lakukan untuk melatih Mahesh minum ASIP: 
  1. Pilih media pemberian ASIP yang sesuai dengan harapan ibu dan pengasuh, misalnya dengan sendok, botol sendok atau gelas sloki jika khawatir anak mengalami bingung puting atau dengan botol dot jika khawatir ASIP akan tumpah-tumpah. Banyak orang berpendapat bahwa menggunakan media selain dot pada akan lebih 'merepotkan', pendapat ini mungkin ada benarnya, tapi menurut pengalaman saya melatih anak dan pengasuh menggunakan botol sendok (soft cup feeder) hanya membutuhkan lebih banyak kesabaran dan waktu. Tapi tentunya tidak semua kasus tidak bisa disamakan, jadi kembali lagi kepada keyakinan kita. Kalau memang pengasuh atau anak benar-benar tidak mau menggunakan sendok, ya jangan dipaksakan… 
  2. Belajar minum ASIP sebaiknya dilakukan sedini mungkin jika menggunakan media selain botol dot. Alasannya salah satu simtom bingung puting, yaitu bayi lebih memilih minum menggunakan botol dot tidak akan terjadi. Tapi jika menggunakan dot, disarankan untuk menunggu sampai bayi nyaman menyusu langsung kepada kita. Waktu itu, karena memilih menggunakan soft cup feeder, mulai usia sebulan adek sudah dilatih minum ASIP. 
  3. Mengajarkan minum ASIP sangat dianjurkan dilakukan oleh orang selain ibu, karena kalau sama emaknya sendiri, pasti si anak memilih nenen langsung :D. 
  4. Simulasikan penggunaan media pemberian ASIP kepada pengasuh (bisa dengan video di youtube juga kalau ada) biarkan mereka mencoba dulu baru setelah paham dicobakan kepada bayi. 
  5. Pilih satu waktu dalam 24 jam untuk melatih minum ASIP, pada saat dia belum terlalu lapar. Kalau saya waktu itu, memilih pagi hari sekitar jam 9 kurang lebih 1 jam setelah minum ASI terakhir, karena menurut pemikiran saya jam-jam segitu bayi masih fresh dan belum capek. 
  6. Pada saat yang ditentukan bayi kita akan belajar minum ASIP, saatnya kita sembunyi! Karena kalau dia menyadari kehadiran kita, kemungkinan menolaknya lebih besar kan. 
  7. Jangan langsung keluar dari tempat persembunyian jika bayi kita menolak atau menangis, berikan mereka berdua (bayi kita dan pengasuhnya) waktu. Pertama supaya tidak mengasosiasikan penolakan, rewel dan sejenisnya dengan kehadiran kita. Kedua, untuk membangun rasa percaya diri dari pengasuh karena merasa kita berikan kepercayaan. 
  8. Rutin dan konsisten. Terus latihkan secara rutin dan konsisten pemberian ASIP ini supaya bayi kita cepat familiar dan tidak lupa. 
Kira-kira demikian pengalaman kami untuk melatih Mahesh minum ASIP. 8 poin saja, tidak sulit sebenarnya, hanya membutuhkan konsistensi dan kesabaran dalam melakukannya. Jadi untuk teman-teman yang sedang atau akan melatih anaknya minum ASIP, beberapa yang mengeluh bahwa ini hal yang sulit, hayuk ah semangat lagi… Bisa kok; pelan-pelan, sabar dan konsisten… :)

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Sunday, December 6, 2015

Because Data, They Should Speak the Truth

Pada suatu hari pada Bulan September saya tergopoh-gopoh menaiki tangga ke ruang rapat kecil di lantai dua kantor saya untuk mengikuti sekaligus menjadi nara sumber kegiatan CoC (Code of Conduct) yang diadakan dadakan di kantor. Iya, benar-benar dadakan, karena awalnya kegiatan ini akan di-skip triwulan ini karena belum ada koordinasi pelaksanaannya. Sampai akhirnya saya berubah pikiran, karena toh masih bisa dilakukan walau seadanya dan ini menyangkut kinerja bidang SDM yang harus dilaporkan tiap triwulan. Benar-benar dadakan, sampai-sampai undangannya pun dari mulut ke mulut dengan bantuan beberapa teman. “Bantuin kumpulin orang dong, seadanya gapapa, kita adain CoC, materinya soal pengelolaan SDM… Aku pematerinya… hahaha, jadi harap maklum kalau banyak kekurangan ya…” Hari itu menyebar undangan, hari itu juga acaranya…

Sampai di atas, kebetulan ada Manajer kami dan langsung saja saya mengajaknya ikut bergabung, “Pak, kami mau ngadain CoC, bapak gabung ya…” “Lha bukannya tinggal edarin absennya aja ya… sini nanti saya tanda-tangani…” katanya sambil terseyum dan masuk ke ruangannya. “Ah, bapak itu sepertinya menguji integritas dan profesionalitas saya,” pikir saya dalam hati (haha :D). “Manipulasi data, enggak lah ya,” gumam saya dalam hati dan kemudian buru-buru masuk ke ruang rapat untuk memulai CoC ala kadarnya ala saya. Memang ala kadarnya, tapi benar-benar dilakukan, dengan materi yang benar-benar di-sharing-kan, hanya saja peserta dan waktu pelaksanaan yang tanpa perencanaan.

Wednesday, November 18, 2015

My Pay It Forward Project

Muda dan galau, itulah saya di kala menginjak masa remaja hingga duduk di bangku kuliah. (Baca: muda, merasa memiliki cukup kemampuan dan banyak keinginan tapi selalu takut mewujudkannya menjadi sebuah tindakan). Dan sungguh, rasanya sangat konfrontatif! Merasa jago menyanyi, tapi takut tampil saat diberi kesempatan untuk berkompetisi. Merasa jago matematika, tapi malah down dan mati kutu setelah mendapat pengakuan dari orang-tua dan guru matematika di sekolah. Saya ingin sekali berteman, saya tidak bermaksud sombong; tapi rasa sungkan dan malu selalu menyergap setiap kali akan menyapa orang di sekitar saya. Saya selalu heran dan geram mengapa tidak bisa spontan bergurau dengan lawan bicara saya, selalu saja kaku! Dan semua itu membuat hari-hari saya terasa benar-benar tidak memuaskan, selalu dipenuhi dengan rasa kecewa yang menyesakkan.


Baik, saya melihat ada banyak orang yang pemalu, pendiam dan sebagainya; tapi adakah yang merasakan hal yang sama jauh di dalam hatinya? Sebuah pertentangan batin yang membingungkan saat sebuah keinginan yang begitu besar bertemu dengan ‘ketakutan’ mental yang tidak kalah besar?

Saat itu, saya begitu bingung, ada apa dengan saya dan apa yang harus saya lakukan. Berbagai upaya sudah saya coba, mulai dengan mencoba mengesampingkan perasaan itu, bahkan dengan mencoba di sebuah lingkungan yang benar-benar baru (sekolah baru); tapi selalu gagal! Semangat dan keinginan saya selalu kalah melawan rasa takut yang terwujud sebagai keinginan untuk menghindar, rasa nervous dan deg-deg-an serta rasa takut gagal yang tidak pernah saya kesampingkan. Sampai akhirnya, saking gundah gulananya saya, terlintas dalam pikiran saya untuk mencoba peruntungan memilih Jurusan Psikologi saat SPMB tahun 2003. Dan singkat cerita, dengan segala ketidakmungkinan yang besar dan juga ketakutan, atas ijin Alloh, saya diterima. What a surprise

Dan sejak dinyatakan diterima dan masuk kuliah, saya pun kembali berhadapan dengan ketakutan saya, apalagi karena saya menyadari bahwa saya HARUS benar-benar menghilangkan ‘sakit’ saya! Kalau saya benar-benar ingin menjadikan profesi di bidang ini sebagai masa depan saya. Mana ada sih lulusan Psikologi yang ‘sakit’ secara psikis diterima bekerja? Ada juga kami selalu dipandang sebagai orang yang lebih matang dan paham hal-hal berbau psikologis. Rasanya waktu itu, pengen lari saja, pindah jurusan, ikut SPMB tahun berikutnya… Tapi, untungnya rasa malas mendera dan akhirnya saya memilih bertahan dan menuntaskan doa yang telah disambut Tuhan ini. Saya HARUS bisa menjadi seorang pribadi yang sehat. Yang parameternya menurut saya saat itu adalah kemampuan untuk menjalani hari-hari dengan ‘beban’ yang minimal (baca: rasa bersalah, sesal dan kecewa) serta kemampuan mengekspresikan diri kepada lingkungan luar.

Dan singkat cerita (lagi), dengan perjalanan yang panjang dan percayalah sangat berat bagi saya yang penakut ini, perlahan saya pun berhasil memahami siapa diri saya dan menjadi diri saya yang lebih sehat. Melalui jalan yang diberikan oleh Tuhan, yang mempertemukan saya dengan berbagai situasi dan orang-orang yang memaksa, menginspirasi dan memberikan insight tentang pertanyaan-pertanyaan hidup saya. Akhirnya saya mengerti siapa diri saya, mengapa saya merasakan apa yang saya rasakan dan mampu berdamai dengan semua itu dan mengekspresikan diri saya ke dunia luar. Menurut teori kuno Hippocrates saya adalah si Melancholy yang introvert, moody dan ingin melakukan semua dengan sempurna, dengan sedikit unsur Sanguines yang ingin mendapat pengakuan dari dunia luar (penilaian pribadi). Atau menurut salah satu teori kepribadian sederhana yang disampaikan oleh Dr. Taylor Hartman (The Color Code) saya adalah seorang ‘BIRU’ sejati dengan unsur ‘KUNING’. 

Baca juga: 

Dulu hingga sekarang saya pun tetap seorang ‘BIRU’ sejati yang emosional, pencemas dan sering merasa bersalah; hanya saja, akhirnya saya bisa menjadi ‘BIRU’ yang lebih sehat. Akhirnya saya bisa menjadi pribadi yang hidup dengan (lebih) ringan dan bebas, serta mampu mengekspresikan diri saya ke dunia luar and I feel blessed. Dan menilik apa yang pernah saya alami serta perjalanan yang menurut saya cukup berliku, saya pun berjanji suatu saat ingin membagi cerita ini ke dunia luar. Tentang bagaimana saya akhirnya berdamai dengan ketakutan dan keinginan saya hingga menjadi pribadi yang lebih sehat.

Booklet yang bikinnya benar-benar kejar tayang 
Dan selesai dicetak beberapa menit sebelum acara :D 

Menerbitkan cerita panjang ini menjadi sebuah buku adalah sebuah harapan yang semoga saja bisa terwujud pada saatnya nanti. Namun, untuk sekarang saya mulai mencoba untuk berbagi awareness tentang arti sebuah kepribadian di komunitas di sekitar saya. Ide ini sesungguhnya muncul sejak beberapa bulan yang lalu, namun karena kesibukan belum juga terlaksana. Sampai akhirnya sekitar 4 minggu yang lalu saya nekad mengiyakan tawaran ibu-ibu arisan istri pegawai di kantor suami untuk sharing mengenai hal berbau psikologis, padahal itu berarti harus menyiapkan materi dan tetek bengek-nya di sela-sela kesibukan sebagai ibu pekerja. Tapi, saya pikir kalau tidak begitu, entah kapan niat ini bisa terlaksana, jadi ya hajar saja…

Dan 13 November 2015 kemarin, niat ini pun terwujud… Akhirnya saya sukses membawakan materi sharing ‘Mengenal Kepribadian Anak untuk Melejitkan Potensinya’ di acara arisan dimaksud. Sederhana memang, dan penyampaiannya jelas masih banyak sekali kekurangan. Tapi semoga saja bisa memberikan sedikit pemahaman tentang sudut pandang berbagai kepribadian. Sehingga para peserta yang adalah seorang ibu ini lebih memahami sudut pandang kepribadian anak-anak yang mungkin tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Dengan harapan bahwa pemahaman para ibu ini akan membantu anak-anaknya mengenali kepribadian dan mendapatkan perlakuan yang tepat sesuai kepribadiannya tersebut. Karena, menurut pengalaman saya, tidak semua anak bisa memahami kepribadiannya sendiri dengan cepat, kadangkala ada beberapa anak yang bahkan mengalami kebingungan saat tidak memperoleh bantuan dan perlakuan yang tepat.

13 November 2015 lalu adalah awal sederhana dari niat saya untuk meneruskan kebaikan dan kesempatan yang pernah saya dapatkan hingga dapat menjadi pribadi yang lebih sehat. Selanjutnya, satu occasion sudah menunggu, sesi parenting PAUD CSR kantor suami. Hihi, lagi-lagi masih seputar komunitas saya dan suami aja :D. Eh, tapi kalau ada yang berminat boleh lho ngundang ke acara kumpul-kumpulnya. Gratis! Jika diperlukan cukup mengganti biaya penggandaan materi saja. Tapi ya itu tadi, saya belum pro lho… sama sekali bukan trainer dan sebangsanya. Yang saya sampaikan sekedar pengalaman dan pengetahuan yang saya dapatkan selama kuliah Psikologi selama 4 tahun saja. Haha, kok jadinya kaya promo sih :D. Eh tapi ini serius kok, kalau memang memungkinkan saya sama sekali tidak keberatan. Selain dalam rangka mewujudkan cita-cita kecil saya saat mulai ‘merehabilitasi’ diri saya sendiri, juga menambah pengalaman kita bersama tentunya… Win-win kan… (malah diterusin promo, haha :D).

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Saturday, November 7, 2015

‘Cause Risks, They’re Exist Everywhere…

Beneran lho… resiko itu ada di manapun, bahkan bagi seorang pekerja administrasi di dalam kantor yang alat kerjanya komputer, bolpen dan sebangsanya! Resiko itu ada, kadang datang dengan sendirinya malah! Seperti sekitar 5 tahun yang lalu saat status saya masih pegawai training (OJT/On the Job Training), mendadak ada pegawai yang kalap (marah sampai lupa diri) saat merasa tidak puas dengan jawaban seputar kenaikan grade-nya (mungkin di perusahaan lain disebut sebagai ‘golongan’, ‘peringkat’, dsb.). Dan sontak, saya yang masih ‘unyu-unyu’ waktu itu langsung kabur ke ruangan lain dan menangis… shock gitu lho :’(.



Dan tadi siang, sekitar 5 tahun kemudian, kejadian itu kembali terulang dengan setting yang berbeda. Kali ini, sedikit banyak saya bukan hanya penonton dalam kejadian itu. Yah, walaupun bukan pemeran utama juga, tapi amarah bapak itu berasal dari sesuatu yang saya kerjakan. Bapak itu marah karena kuitansi berobatnya tidak bisa di-reimburst karena ada masalah administrasi. Lha gimana, kuitansi apotik dia cuma tertulis ‘pembelian obat-obatan’; copy resepnya sama semua, bener-bener di-copy sendiri (bukan copy dari apotik) dan itu resep dari tahun 2014 dan 2013, harganya beda-beda!? Benar-benar mengundang kecurigaan bukan? Malah pernah dengar kalau resep obat yang sama itu hanya bisa ditebus 3 kali, setelah itu harus konsultasi kembali karena mungkin kan kondisi pasien sudah berubah sehingga obatnya pun perlu diganti. Itupun seharusnya salinan resep dibuat lagi oleh apotik, bukan fotokopian…