SOCIAL MEDIA

search

Friday, November 24, 2017

PGN Gencar Membangun Jaringan Gas: Saatnya Kita Membumi dengan Gas Bumi…

"Maaf ya Miss, Anesh terlambat lagi… jalannya macet banget, ga seperti biasanya…" pada suatu hari saya mengirim SMS pada guru Anesh di sekolah saat lampu merah terakhir menuju sekolahannya, setelah harus mengantri lebih dari lima kali lampu merah. Pembangunan di Lampung ini, masyaallah pikir saya, banyak banget yang dikerjain… Dan sampai di tikungan terakhir menuju sekolah Anesh, saya kembali tertegun, "Maaf perjalanan Anda terganggu, ada pekerjaan jaringan gas…" kurang lebih seperti itu bunyi pengumuman yang terpasang, sementara sepanjang jalan sempit itu memang tampak galian terbuka yang sedang dikerjakan.

Pembangunan Jaringan Gas di Bandar Lampung
Gambar diambil dari: Detik.com

Pekerjaan jaringan gas… hmm, baru sekali ini saya melihat proyek semacam… Kalau proyek perbaikan jalan dan gorong-gorong atau jaringan bawah tanah untuk keperluan telekomunikasi, masih familiar lah. Tapi, pekerjaan jaringan gas ini benar-benar sesuatu yang baru… tapi, forget about it, rasa ingin tahu itu tertelan ke-hectic-an menyuruh Anesh segera bersiap-siap masuk ke sekolahnya karena terlambat… "Anesh, ayo buruan pakai tasnya, udah mau sampai nih!" teriak saya berapi-api, padahal ya, tetap saja anaknya telat masuk sekolah…

Sampai akhirnya, beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah berita mengenai hal ini bertajuk 'Mengintip Pembangunan Jaringan Gas PGN di Lampung'. Melalui berita ini, baru saya tahu bahwa PGN (Perusahaan Gas Bumi) tengah membangun jaringan gas kota di Bandar Lampung yang nantinya akan tersambung ke 10.321 rumah warga di sana. "Wow, berarti galian gas yang kemarin itu untuk sambungan rumah tangga ya? Gas buat masak rupanya… Memang apa gitu kelebihan gas bumi PGN dibandingkan gas elpiji yang saya pakai sehari-hari?" Wah… wah… memang ya, perkara gas bumi ini belum terlalu familiar bagi masyarakat umum seperti saya. Selama ini, yang ada di benak saya, gas bumi di Indonesia ya lebih banyak dimanfaatkan untuk kepentingan industri. Ternyata, sekarang gas bumi sudah dimanfaatkan untuk keperluan dapur masyarakat rupanya, ada di Bandar Lampung kota domisili saya lagi…

Karena penasaran, kemudian pada suatu hari, saya pun mencari tahu perihal gas bumi ini melalui internet… Jaman sekarang gitu loh, apa sih ya ga ada di internet? 😏

Pertama kali kemudian saya berseluncur ke website PGN… Beberapa lama memperhatikan laman 'home' website ini, saya tertegun dengan tulisan berjalan yang menyebutkan kelebihan-kelegihan dari gas bumi; beberapa di antaranya adalah: harga yang kompetitif, efisiensi pembakaran yang tinggi, serta kebersihan dan keramahan lingkungannya. I was like… Oh really? Benarkah Gas Bumi yang ditawarkan PGN memiliki kelebihan-kelebihan itu? Ya, kalau memang demikian, berarti ga ada alasan untuk tidak berpindah ke bahan bakar ini kan. Sudah harganya lebih murah, efisiensi pembakarannya tinggi (lebih bertenaga), ramah lingkungan lagi…

Karena jaringan gas ini sudah masuk ke Bandar Lampung, sepertinya saya harus siap-siap cari tahu nih… Siapa tahu kan, dekat rumah saya kemudian dibangun jaringan gas juga, bisa langsung daftar jika memang dia begitu menguntungkan.

***

Apa itu gas bumi. Gas bumi atau natural gas sesungguhnya adalah gas yang terbentuk di dalam bumi dengan kandungan utama adalah Metana (CH4) dan juga sedikit gas hidrokarbon cair dan gas nonhidrokarbon. Gas bumi berasal dari tanaman dan hewan yang membusuk, membentuk lapisan tebal yang kadang bercampur dengan pasir dan lumpur, yang terkubur dalam pasir, lumpur, dan batu. Selanjutnya akibat adanya tekanan dan panas, material organik tersebut beberapa berubah menjadi batu-bara, beberapa berubah menjadi minyak bumi, dan beberapa berubah menjadi gas bumi. Di mana gas bumi ini saat ini dimanfaatkan sebagai bahan bakar dan bahan baku membuat material atau bahan kimia tertentu.

Perbedaan gas bumi dengan elpiji. Awalnya, saya berpikir bahwa perbedaan gas bumi dan elpiji (LPG / Liquified Petroleum Gas) hanya terletak pada bentuknya; gas bumi bentuknya gas, sedang LPG bentuknya cair. Dan itu lah mengapa gas bumi harus disalurkan melalui pipa-pipa gas, sementara LPG bisa didistribusikan dalam bentuk tabung. Dan ternyata pemahaman saya itu terlalu naif… Iya sih, bentuknya memang berbeda, gas dan cair, tapi bukan hanya itu saja perbedaan keduanya… Ada beberapa hal lain yang tidak kalah prinsipil membedakan keduanya…

Kandungan utama LPG adalah Propana (C3H8), sedangkan kandungan utama gas bumi adalah metana (CH4), sehingga keduanya benar-benar merupakan dua zat yang berbeda. Selain itu, perbedaan lain dari LPG dan gas bumi adalah sebagai berikut:

Data diambil dari: EIA.gov

Di samping LPG dan gas bumi, meskipun mungkin tidak terlalu familiar, kita juga mengenal istilah LNG (Liquefied Natural Gas) dan CNG (Compressed Natural Gas). LNG adalah Gas Metana yang didinginkan hingga 161ºC sehingga berubah menjadi cair, sementara CNG adalah Gas Metana yang ditempatkan pada tekanan tinggi (hingga 200 bars), sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar kendaraan (ditempatkan dalam tangki kendaraan bermotor).

Jadi, baik LNG maupun CNG, keduanya adalah gas bumi yang diperlakukan secara berbeda, sehingga bentuknya menjadi cair.

Pemanfaatan gas bumi di Indonesia. Sebagai emak-emak alias ibu rumah tangga, yang terpikirkan saat membicarakan gas bumi, ya urusan dapur atau untuk memasak. Padahal, gas bumi bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lain. Dan PGN sendiri membagi peruntukan gas bumi menjadi tiga, yaitu untuk residensial (rumah tangga) dan usaha kecil yang dikenal sebagai GasKita, bisnis, serta transportasi yang dikenal sebagai GasKu.

Untuk keperluan residensial dan usaha kecil, selain untuk memasak, gas bumi juga bisa dimanfaatkan untuk pemanas air (water heater) dan juga untuk mesin pengering pakaian.

Selanjutnya, gas bumi juga dimanfaatkan untuk berbagai proses industri dan komersial; misalnya untuk pembangkit listrik, bahan bakar pada proses pemanasan dan pengeringan, ketel uap, tungku pengering, oven, dan banyak lagi. Gas bumi ini bisa diterapkan pada proses industri kaca, karet, keramik, kertas, kimia, logam dasar, makanan, pabrikasi logam, dan tekstil.

Dan yang terakhir… ternyata gas bumi juga bisa digunakan sebagai bahan bakar kendaraan atau alat transportasi… Iya, gas bumi ternyata bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar kendaraan bermotor! Gas bumi untuk keperluan kendaraan bermotor yang digunakan adalah dalam bentuk CNG (Compressed Natural Gas) yang seringkali dikenal dengan sebutan BBG (Bahan Bakar Gas).

Dan tentu saja tidak semua kendaraan bermotor dalam hal ini bisa menggunakan BBG. Untuk itu, jika ingin menggunakan BBG sebagai bahan bakar kendaraan bermotor kita, maka harus cek kompatibilitas mesin kita serta kemungkinan dipasangi konverter kit.

Sementara ini BBG dari PGN sendiri telah digunakan beberapa operator taksi, bajaj rekondisi, bus Transjakarta, dan beberapa kendaraan lain. Sedangkan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) dan Mobile Refueling Unit (MRU) PGN sudah bisa di temukan di Propinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, dan Batam.

So, benarkah memakai gas bumi itu lebih menguntungkan? Untuk mengetahui keuntungan pemakaian gas bumi secara ekonomi, atau nilai rupiah yang bisa dihemat; kita bisa merujuk pada testimoni masyarakat yang telah menggunakan gas bumi. Misalnya Ibu Yuningsih yang tinggal di kawasan Rumah Susun (Rusun) Kebon Kacang Jakarta seperti yang dilansir OkeZone.com; dia mengaku hanya mengeluarkan biaya Rp. 40.000,- hingga Rp. 50.000,- per bulan untuk keperluan gas… yang menurutnya jauh lebih terjangkau daripada membeli gas dalam bentuk tabung 12 kg dengan harga Rp. 150.000,-.

Wow! Selisihnya lumayan banyak juga ya… sekitar 100 hingga 110 ribu per bulan lho… Beneran nih?

Beneran dong… Jadi, untuk menjawab pertanyaan ini kita bisa membandingkan gas bumi dan LPG melalui kebutuhan nilai kalori atau jumlah panas yang dihasilkan. Jika sebulan kita menggunakan satu tabung LPG ukuran 12 kg seharga Rp. 151.000,- (harga propinsi Lampung), dengan nilai kalori sebesar 11.220 kkal/kg; maka sebulan kita menghabiskan 134.400 kkal. Dengan jumlah ini, jika menggunakan gas bumi yang nilai kalorinya adalah 9.424 kkal/m3, maka volume gas bumi yang kita gunakan sebulan adalah sekitar 15 m3 per bulan atau Rp. 45.150,- (harga per m3 gas bumi pada kisaran Rp. 3.010,-).

Namun, selain harga gas buminya sendiri, kita juga perlu mempertimbangkan biaya instalasinya, yang dalam hal ini memang lebih mahal daripada biaya instalasi LPG.

Untuk instalasi LPG, mungkin kita hanya perlu membeli tabung 12 kg dan regulator yang jika ditotal mungkin tidak lebih dari 1 juta rupiah. Sementara untuk pemasangan instalasi baru gas bumi, menurut Bapak Wendi Purwanto (Sales Area Head PT PGN Lampung) seperti dilansir Republika.co.id, berkisar antara 3 - 5 juta rupiah untuk satu rumah, belum termasuk pipa dari jaringan gas menuju rumah atau selisih 2  - 3 juta rupiah.

Yah, tapi kalau menurut saya ini worthed sih… Toh, nanti kita akan merasakan penghematannya juga kan? Misalkan saja, penghematan yang kita dapatkan perbulannya adalah 100 ribu rupiah, dalam jangka waktu 3 tahunan, penghematan yang kita lakukan sudah bisa menutup selisih biaya instalasinya dan tinggal merasakan manfaatnya. Hmm, kita bukan hanya memasak dalam jangka waktu 3 tahunan saja kan? Jadi, ya menurut saya sih, tetap gas bumi lebih menguntungkan.

Hal yang sama juga berlaku bagi pemanfaatan gas bumi untuk bahan bakar kendaraan bermotor. Harga 1 liter BBG adalah Rp 3.100 per liter, jauh berbeda dengan harga Premium Rp. 6.450,- per liter. Sementara BBG sendiri memiliki nilai RON di atas 95, jauh berbeda dengan nilai RON Premium yang hanya 88; di mana ini berarti bahwa pembakaran BBG lebih sempurna dan mesin pun lebih bertenaga dari pada menggunakan Premium (6). Namun, untuk beberapa kendaraan bermotor, kita harus mengeluarkan biaya instalasi konverter agar mobil kita bisa menggunakan BBG.

Benarkah gas bumi adalah energi yang ramah lingkungan? OK, keuntungan ekonomi pemakaian gas bumi confirmed! Lalu bagaimana dengan dampaknya pada lingkungan? Sebagai masyarakat modern, tentu kita sudah sangat paham dengan permasalahan pemanasan global yang tengah kita hadapi saat ini… Bagaimana dengan gas bumi ini? Bagaimana perannya dalam pemanasan global?
Pemanasan global (global warming) adalah suatu proses meningkatnya suhu atmosfer bumi yang disebabkan oleh efek rumah kaca yang terjadi karena meningkatnya gas  rumah kaca yang menghalangi pelepasan panas dari bumi ke luar angkasa, seperti: uap air (H2O), Karbon Dioksida (CO2), Metana (CH4), Nitrogen Oksida (N2O), Ozone (O3), Klorofluorokarbon (CFCs), dan Hidrofluorokarbon (termasuk HCFCs dan HFCs)
Adalah hal yang tidak bisa dipungkiri, jika pemanfaatan bahan bakar fosil (termasuk gas bumi) melalui pembakaran untuk menghasilkan energi akan melepaskan gas-gas rumah kaca seperti CO2. Akan tetapi, meskipun sama-sama menghasilkan emisi gas CO2, berbagai jenis bahan bakar fosil memiliki efisiensi pembakaran yang berbeda, sehingga jumlah CO2 yang dilepaskan pun berbeda. Semakin sempurna pembakaran suatu bahan bakar, semakin sedikit emisi gas CO2-nya. Jadi, bagaimana dengan gas bumi? Seberapa banyak dia menghasilkan CO2 dalam pembakarannya untuk menghasilkan energi? Berikut adalah daftar beberapa bahan bakar fosil dan jumlah CO2 yang dihasilkan dari pembakarannya untuk menghasilkan energi yang sama:

Berbagai bahan bakar fosil dan CO2 yang dihasilkan
Sumber dari EIA.gov

Melalui daftar tersebut, jelas bahwa gas bumi sejauh ini adalah bahan bakar fosil dengan efisiensi pembakaran yang tinggi dan rendah emisi CO2 dibandingkan bahan bakar fosil lainnya, sehingga lebih ramah lingkungan.

Bonus! Selain itu, gas bumi ini ternyata juga bebas subsidi lho… Jadi, selain ramah lingkungan dalam artian kelestarian bumi, gas bumi ini juga ramah lingkungan sosial, karena ini berarti uang pemerintah bisa dihemat untuk keperluan pembangunan lain. Gas bumi adalah energi baik. Sudah murah, ramah lingkungan… bebas subsidi lagi… Tidak salah, jika kemudian pemerintah mendorong konversi ke bahan bakar ini…

Gas Bumi = Energi Baik
Gambar dari EnergiBaik.com

Jaringan gas bumi di Indonesia. Baiklah… aspek nilai ekonomis dan keramahan lingkungan dari gas bumi ini sudah terkonfirmasi, saya sendiri sih sudah siap-siap mendaftar jika ternyata jaringan gas sudah mencapai wilayah kami dan mungkin banyak masyarakat yang memiliki niat serupa. Lalu bagaimana perkembangan jaringan gas bumi di wilayah Indonesia sendiri?

Peta Insfrastruktur dan Jaringan Gas Bumi
Gambar diambil dari: PGN.co.id

Distribusi gas bumi di Indonesia saat ini memang belum seluas LPG maupun gasoline, sehingga tidak semua masyarakat bisa memilih untuk beralih menggunakan bahan bakar ini. Jaringan dan pelayanan gas bumi yang telah dibangun dan dioperasikan PGN sendiri kini telah mencapai lebih dari 7.270 km. Dimana melalui jaringan ini, pelayanan gas bumi PGN telah tersebar ke 19 kota di 12 propinsi; dengan jumlah pelanggan industri dan pembangkit listrik sebanyak 1.652 pelanggan, komersial dan usaha kecil sebanyak 1.929 pelanggan, serta rumah tangga sebanyak 204.000 pelanggan (8).

Adapun kota-kota yang telah memiliki jaringan pipa distribusi di antaranya adalah: Medan, Pekanbaru, Lampung, Tangerang, Cilegon, Jakarta, Bogor, Bekasi, Karawang, Cirebon, Semarang, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Pasuruan, Probolinggo, Tarakan dan Sorong.

Di daerah saya sendiri, Bandar Lampung, pembangunan jaringan gas tengah dilakukan. Menurut Alimuddin Baso (Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Kementerian ESDM); ada sebanyak 10.321 sambungan rumah yang akan dibangun di 21 kelurahan di Bandar Lampung. Dimana proyek jargas di Bandar Lampung ini mencapai total 204 km dan ditargetkan selesai pada akhir tahun 2017! (9).

Wow, ini benar-benar kabar gembira, meskipun sepertinya jargas ini belum melalui kelurahan tempat tinggal saya… Paling tidak, kemungkinan perluasan jaringan gas hingga daerah domisili kami lebih besar bukan…

Cara menjadi pelanggan gas bumi. Baiklah, setelah penjelasan panjang lebar mengenai gas bumi dan menyimpulkan bahwa bahan bakar ini memang layak diperhitungkan; kemudian pertanyaan terakhir adalah "Bagaimana sih cara menjadi pelanggan gas bumi?"

Dan berikut adalah lima langkah mudah yang perlu dilakukan calon pelanggan kecil dan rumah tangga sesuai dengan informasi dari website PGN.co.id:
  1. Pengisian formulir berlangganan gas bumi: formulir berlangganan gas dapat diperoleh melalui PGN contact center 1500 645, kantor area PGN terdekat, download di website PGN.co.id atau online registration.
  2. Survey lokasi: petugas PGN menghubungi calon pelanggan untuk melakukan verifikasi, pengumpulan data dan mendiskusikan rencana kebutuhan calon pelanggan.
  3. Penandatanganan perjanjian: calon pelanggan dan PGN akan menandatangani perjanjian jual beli gas setelah seluruh proses evaluasi berlangganan gas selesai dilakukan.
  4. Menyiapkan infrastruktur penyaluran gas: PGN selanjutnya akan menyiapkan infrastruktur gas mulai dari jaringan pipa induk sampai stasiun pengukur gas di lokasi pelanggan. Sedangkan calon pelanggan melakukan pembangunan pipa instalasi dalam serta persiapan peralatan yang akan menggunakan gas.
  5. Pelaksanan gas in: adalah pengaliran gas ke peralatan milik pelanggan yang menggunakan gas dan dilakukan setelah seluruh proses selesai dilakukan.
Tidak sulit bukan? Pokoknya, pertama kali kita isi formulir dulu, langkah selanjutnya pasti diinformasikan oleh pihak PGN.

Dan kesimpulannya adalah… Gas bumi adalah salah satu alternatif bahan bakar fosil yang memiliki berbagai keuntungan; di antaranya adalah menghasilkan emisi paling bersih, ramah lingkungan, bebas subsidi, dan efisien. Yes, gas bumi bukan hanya memberikan manfaat keuntungan ekonomis bagi pelanggannya karena efisiensinya, tapi juga manfaat bagi negara, dan juga terutama bagi kelestarian bumi kita. Karena itu, gas bumi disebut sebagai ENERGI BAIK.

Tanpa perhitungan yang njelimet, memang pelanggan harus merogoh kocek yang cukup dalam untuk biaya instalasinya (baik untuk jaringan gas ataupun konverter BBG), tapi sesungguhnya itu semua sangat worthed karena nantinya penghematan yang akan dinikmati cukup besar. Toh, kita bukan akan memasak dalam waktu sebulan dua bulan kan… tapi dalam hitungan tahunan atau bahkan puluhan tahun (hal yang sama juga berlaku untuk pemanfaatan BBG untuk kendaraan bermotor). Jadi, ya tidak perlu khawatir kalau rupiah lebih yang kita keluarkan tidak akan kembali membawa manfaat ekonomi.

Gas bumi memang belum bisa kita temukan dengan mudah sebagaimana LPG maupun gasoline. Saat ini pemerintah tengah gencar memperluas jaringan gas melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN), salah satunya PGN. Dan di sini lah kita sebagai masyarakat bisa turut serta menggalakkan program membumikan gas bumi alias menjadikan gas bumi lebih dikenal dan digunakan oleh masyarakat. Caranya, ya tentu saja dengan beralih ke bahan bakar ini jika fasilitas itu sudah bisa kita nikmati. Lagi pula, kita juga akan merasakan manfaat ekonominya secara langsung kan?

Dan satu lagi, yang menurut saya paling utama adalah mengenai peran gas bumi untuk meminimalisir emisi gas CO2 yang juga merupakan salah satu gas rumah kaca yang memicu terjadinya pemanasan global jika konsentrasinya terlampau banyak dalam atmosfer kita. Akibat dari pemanasan global ini tidak main-main lho… selain suhu bumi yang semakin meningkat sehingga mengakibatkan mencairnya es di kutub bumi, dia juga menyebabkan ternjadinya perubahan iklim, terjadinya bencana alam (cuaca ekstrim), dan juga punahnya beberapa spesies! Kita tidak ingin hal ini (pemanasan global) semakin parah terjadi kan? Kita sayang dengan bumi rumah kita ini kan?

Karena itu, hayuk, kita dukung usaha pemerintah dan PGN untuk membumikan gas bumi. Dengan ikut menyebarkan berita kebaikan bahan bakar ini ke lingkungan kita… Dan juga, tentu saja, beralih menggunakan gas bumi saat kesempatan itu ada ya… Ayo sama-sama kita upayakan kelestarian bumi dengan gas bumi… That's what I mean with 'Membumi dengan Gas Bumi'…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Referensi:
  1. Detik.com. Mengintip Pembangunan Jaringan Gas PGN di Lampung. https://finance.detik.com/energi/3567903/mengintip-pembangunan-jaringan-gas-pgn-di-lampung. Diakses tanggal 25 November 2017.
  2. EIA.gov. Natural Gas Explained. https://www.eia.gov/energyexplained/index.cfm?page=natural_gas_home. Diakses tanggal 20 November 2017.
  3. Elgas.com.au. Difference Between LPG & Natural Gas. http://www.elgas.com.au/blog/486-comparison-lpg-natural-gas-propane-butane-methane-lng-cng. Diakses tanggal 20 November 2017.
  4. EnergiBaik.com. Beda Gas Alam dengan LPG dan LNG Bukan Sekadar Komposisinya. http://energibaik.com/beda-gas-alam-dengan-lpg-dan-lng-bukan-sekadar-komposisinya/. Diakses tanggal 21 November 2017.
  5. OkeZone.com. PGN Membumikan Gas Bumi, Masyarakat Raih Keuntungan. https://economy.okezone.com/read/2016/10/06/320/1508218/pgn-membumikan-gas-bumi-masyarakat-raih-keuntungan?page=2. Diakses tanggal 23 November 2017.
  6. Republika.co.id. PGN Pasang 10 Ribu Jaringan Gas di Bandar Lampung. http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/energi/17/07/21/otf1z0368-pgn-pasang-10-ribu-jaringan-gas-di-bandarlampung. Diakses tanggal 24 November 2017.
  7. Liputan6.com. Ini Keuntungan Kendaraan Pakai Bahan Bakar Gas. http://bisnis.liputan6.com/read/2885908/ini-keuntungan-kendaraan-pakai-bahan-bakar-gas. Diakses tanggal 22 November 2017.
  8. EIA.gov. Frequently Asked Question: How Much Carbon Dioxide is Produced when Different Fuels are Burned? https://www.eia.gov/tools/faqs/faq.php?id=73&t=11. Diakses tanggal 22 November 2017.
  9. Detik.com. PGN Perluas Jaringan Infrastruktur Gas Bumi di Berbagai Daerah. https://finance.detik.com/energi/3537573/pgn-perluas-jaringan-infrastruktur-gas-bumi-di-berbagai-daerah. Diakses tanggal 23 November 2017.
  10. Website Perusahaan Gas Negara. PGN.co.id

Friday, November 10, 2017

Menjaga Langit Biru, Pelindung Bumi Kita…

Pertama kali mendengar frasa 'Langit Biru', yang terlintas di kepala saya adalah lukisan anak sulung saya Ganesh di dinding kamarnya (atau mungkin lebih tepat disebut corat-coret). Gambarnya sederhana saja, dia iseng menambahkan asap di belakang stiker pesawat yang menghiasi dinding kamarnya. Hmm, lucu ya…

Kalau dulu sih, kejadian seperti ini lumayan bikin kesal karena bagi saya orang dewasa, ya ini membuat dinding terlihat kotor… Tapi sekarang, karena sudah terbiasa, jadinya malah lucu. Bukan lucu gambarnya atau kelakuan anak saya, tapi 'lucu' saat memikirkan, kenapa anak jaman sekarang masih selalu gambar mobil, motor atau pesawat lengkap dengan asapnya? Bukannya sekarang di jalanan sudah jarang ditemui mobil atau motor yang mengeluarkan asap pekat? Beda dengan jaman masa kecil kita, dimana motor dan mobil yang asapnya ngebul pekat itu adalah sesuatu yang biasa.


Masih terekam jelas dalam ingatan saya, dulu bapak saya sering menjelaskan, kalau motor yang asapnya ngebul pekat itu pakai mesin 2 tak, sedang yang asapnya tidak terlihat itu pakai mesin 4 tak… Ya, waktu itu, tahun 90-an, seingat saya mesin motor 4 tak mulai populer di Indonesia. Kami memiliki motor 4 tak pertama kami tahun 1995. Waktu itu, mesin motor 4 tak masih tergolong teknologi yang baru diadopsi oleh perusahaan-perusahaan motor yang menjual produknya ke Indonesia.

Dibandingkan dengan mesin 2 tak, mesin motor 4 tak ini memang lebih ramah lingkungan, emisinya lebih rendah alias asapnya tidak sebanyak motor 2 tak. Asap buangan motor dengan mesin 4 tak jernih, sehingga tidak kasat mata. Dan ditinjau dari konsumsi bahan bakar, mesin 4 tak pun lebih irit, karena tidak perlu menggunakan oli samping seperti mesin 2 tak (1).

Dan kembali ke corat-coret Ganesh di dinding kamarnya, saya kemudian tercenung juga berpikir, "Kenapa ya, anak-anak yang lahir di tahun 2010 an, dimana motor, mobil, dan pesawat dengan asap pekat sudah jarang ditemukan, kenapa ya mereka masih mengidentikkan motor, mobil, atau pesawat dengan asap?" Oh, mungkin kalau pesawat karena pesawat-pesawat akrobatik yang seringkali muncul di layar televisi atau video itu biasanya memang asapnya pekat sebagai bagian dari performance-nya.

Nah, lalu kalau motor atau mobil kenapa ya? Hmm, jika diingat lagi, memang sih kadang kita masih menemukan mobil atau motor yang mungkin karena mesinnya bermasalah atau karena faktor usia mengeluarkan asap pekat di jalanan. Apakah kejadian-kejadian seperti ini begitu berkesan bagi anak-anak seusia Ganesh, sehingga masih menganggap bahwa asap akan menyempurnakan gambar motor atau mobilnya? Atau, jangan-jangan malahan kita-kita para orang dewasa yang tanpa sadar mendoktrinasi anak-anak dengan mengajarkan mereka bahwa menggambar motor atau mobil itu ya lengkap dengan asapnya. Hmm, kira-kira yang mana ya…

Wednesday, November 8, 2017

Wisata Adat di Manado: Cara Mudah Mengenal Lebih Dekat Suku Minahasa

Dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau… Sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia…
Lagu ini tentu tidak asing bagi kita… Sejak Sekolah Dasar (SD) kita pasti sudah diajarkan lagu ini, atau bahkan sejak Taman Kanak-kanak (TK); dan sejak itulah lagu ini akan sering kita temui dalam berbagai kesempatan. Hmm, kalau dulu sih, setiap Upacara Bendera Hari Senin akan ada sesi menyanyikan lagu wajib nasional, dan lagu ‘Dari Sabang sampai Merauke’ ini adalah salah satu lagu wajib yang dinyanyikan bersama.

Seumur hidup tinggal di Indonesia, selama kurang lebih 32 tahun, jika diingat-ingat sedikit reputasi penjelajahan saya ke berbagai daerah di Indonesia bisa dibilang cukup menyedihkan! Selama 32 tahun, hanya beberapa kota saja yang pernah saya kunjungi di luar Jawa sebagai pulau kelahiran saya; yaitu Palembang, Lampung, Medan, dan Pulau Bali. Padahal, jumlah provinsi di Indonesia ini ada 34 lho, ga usah dihitung lah, pokoknya banyak banget provinsi di Indonesia yang belum saya kunjungi. Padahal, hampir setiap provinsi ini memiliki icon wisatanya masing-masing… Sayang sekali ya, kalau dilewatkan begitu saja…

Kemudian, ngomong-ngomong soal daerah tujuan wisata di Indonesia, nama Bunaken tentu juga tidak asing bagi kita, bahkan untuk seorang yang tidak hobi traveling seperti saya… Terletak di lepas pantai Kota Manado, Bunaken sebagai salah satu ikon wisata tentu sudah jadi menu utama di daftar destinasi setiap traveler dunia. Keindahan alam yang ditawarkan Bunaken, tidak dimungkiri menjadi salah satu representasi indahnya alam Indonesia di mata turis lokal maupun mancanegara.

Bunaken National Marine Park
Foto dari: Indonesia-Tourism.com

Selain Bunaken, Manado juga memiliki beberapa daerah wisata lain, mulai dari alam bawah laut hingga kekayaan budaya dan suku aslinya, Minahasa. Adapun suku Minahasa--atau yang menyebut dirinya sebagai Kawanua--merupakan suku asli Sulawesi Utara yang sebagian besar menghuni Kota Manado.

Mengenal Suku Minahasa dan Upacara Adat
Dengan berkunjung ke Manado, kita dapat menemukan berbagai bentuk upacara terkait suku Minahasa. Ini meliputi upacara untuk mengiringi siklus hidup, serta babak-babak terpenting dari keseharian. Beberapa di antaranya diturunkan oleh nenek moyang dan masih lestari hingga kini. 

Berikut adalah beberapa upacara adat yang masih bisa kita saksikan saat berkunjung ke Kota Manado.

1. Monondeaga
Suku Minahasa menggelar upacara ini sebagai bentuk ucapan syukur. Adapun Monondeage merupakan satu jenis upacara berupa pengukuhan atas anak perempuan dalam satu keluarga, yang menginjak pubertas. 

2. Mupuk Im Bene
Kendati sama-sama bentuk ucapan syukur, Mupuk Im Bene berbeda dengan Monondeage. Ini merupakan sebuah upacara yang dilakukan untuk mensyukuri panen raya suku Minahasa. 

3. Metipu
Dilaksanakan sebagai bentuk penyembahan kepada Sang Pencipta alam semesta (suku Minahasa menyebutnya sebagai Benggona Langi Duatan Saluran). Adapun Metipu digelar dengan membakar dedaunan maupun akar-akaran.

4. Watu Pinawetengan
Diiringi kolintang, upacara ini diselenggarakan di depan batu besar wata’ esa ene. Konon, perwakilan semua etnis Tanah Toar Lumimut mengantarkan bagian peta tanah Minahasa sebagai pernyataan tekad persatuan. Setelah tekad dinyatakan, pelaku upacara akan menghentakkan kaki ke tanah tiga kali, dan bergandengan tangan membentuk lingkaran sembari menyanyikan Reranian pada penghujung acara.

Watu Pinawetengan
Gambar dari: IndonesiaWonder.com

5. Waruga
Sebagai salah satu tema destinasi wisata sejarah, ritual pemakaman suku Minahasa dapat ditemukan desa Sawangan. Dahulu, suku Minahasa akan membungkus orang yang meninggal dengan daun woka (semacam janur atau daun kelapa muda). Sebelum penguburan (atau ditanam), daun woka tadi akan diganti dengan wadah rongga pohon kayu atau nibung. 

Barulah, di abad IX, suku Minahasa mulai menggunakan waruga (kubur atau makam yang terbuat dari batu dan terdiri atas dua bagian). Orang yang meninggal akan didudukkan menghadap ke utara dengan posisi tumit kaki melekat di bagian pantat, serta kepala mencium lutut. 

***

Selain upacara adat yang telah disebutkan di atas, suku Minahasa masih menyimpan beberapa ritual bersejarah lain. Itu sebabnya, rasanya harus menyiapkan slot waktu yang lebih lama jika berkunjung ke Manado agar puas menjelajahi seluruh atraksi wisata di daerah ini. 

Nah, untuk dapat memuaskan rencana penjelajahan kita, ada baiknya kita benar-benar mempersiapkan dan mencari hotel yang cukup terjangkau untuk stay dalam waktu yang cukup lama. Salah satu cara menemukan hotel murah di Manado adalah dengan bantuan Airy Rooms. 

Airy Rooms merupakan Accomodation Network Orchestrator (ANO) yang bermitra dengan berbagai hotel budget terbaik di seluruh Indonesia. Melalui Airy Rooms kita akan menemukan hotel dengan jaminan kenyamanan seperti tempat tidur bersih, wifi gratis, TV layar datar, AC dan air hangat dengan harga terbaik. Fasilitas yang tidak kalah dengan hotel berbintang dengan harga yang lebih ekonomis. Benar-benar menarik bukan?

Untuk mendapatkan penginapan Airy Rooms kita dapat memesan melalui situs resmi Airy Rooms atau melalui aplikasi Airy Apps, dan melakukan pembayaran saat itu juga dengan cara transfer ATM atau kartu kredit.

Hmm, so simple and affordable… sipp, tinggal mencari waktu yang pas untuk menyempatkan waktu berkunjung ke Manado! Bagaimana teman-teman? Berminat menjelajah Indonesia dan Manado khususnya?

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Wednesday, October 18, 2017

Ello The Surviving Cat #2: Bertemu dengan Orang-Orang Baik…

Hari itu, setelah sempat bersitegang dengan seorang kawan karena perkataannya yang bagi saya arogan dan tidak simpatik; saya pun menelpon Hotel Lusi sesuai saran seorang teman saya untuk memastikan bahwa Ello bisa saya titipkan disana selama acara…

Acara ini adalah sebuah rapat koordinasi dalam lingkup unit induk kami. Pesertanya adalah Kantor Induk dan sepuluh sektor di bawahnya yang tersebar di wilayah Sumatera Bagian Selatan. Acaranya sendiri diadakan di sebuah hotel, mengingat peserta yang cukup banyak sehingga tidak tertampung di ruang rapat kantor. Dan karena banyaknya agenda yang perlu dibahas dan waktu yang terbatas, acara pun disusun dari pagi hingga malam hari. Sedang tugas saya sendiri adalah sebagai panitia registrasi, yang tentu tugasnya di awal acara; serta bertugas menyanyi pada saat makan siang… Ya, kesepakatan awal pada saat rapat terakhir, saya diberikan tugas untuk mengisi pada saat acara makan siang, ini pun sudah saya koordinasikan dengan seksi acara… Jadi, saya pikir sebenarnya saya punya waktu kosong aman dari pukul 14.00 hingga 17.00 untuk pulang ke rumah menyusui Ello. Tapi, karena alasan yang saya ceritakan dalam ELLO THE SURVIVING CAT #1: AWAL YANG SULIT… maka saya pun memilih opsi mencari hotel yang mengijinkan hewan peliharaan menginap.

Dan alhamdulillah, Hotel Lusi yang lokasinya hanya hitungan menit dari tempat acara ini tidak keberatan saya meninggalkan Ello di kamar selama acara. Selain itu, tarifnya pun sangat terjangkau, sehingga saya tidak ragu lagi membawa Ello ke sana esok paginya.



***

Hari Pertama. Pagi itu, karena malamnya begadang untuk gladi bersih acara, saya pun bangun terlambat. Harusnya, jam 5.00 saya sudah harus di salon untuk dandan, tapi baru sekitar pukul 05.30 saya berangkat dari rumah ke salon. Tentu saja dengan membawa Ello dalam kardus hangatnya (kardus dengan lampu LED yang saya sambungkan ke charger handphone untuk mobil dan ditutupi dengan kain untuk memastikannya tetap hangat). Dan di salon, sembari saya dandan, Ello saya tinggalkan di dalam mobil dengan kaca yang dibuka sedikit agar sirkulasi udara masih memadai. "Sabar ya Ello, sebentar aja kok…"

Ya, seandainya saja saya bisa dandan, sebenarnya ga perlu repot-repot ke salon… Tapi, apalah daya… saat kemampuan dandan hanya sebatas pakai lipstik, sementara hari itu saya harus tampil di depan para peserta rakor bersama pembawa acara yang dandan habis-habisan cantik dan ganteng, daripada begitu njomplang, saya pasrah saja disuruh dandan sama teman-teman panitia lainnya…

Selesai dandan, hari sudah cukup siang! Byuh, benar-benar mepet semepet-mepetnya, alhasil tidak sempat lagi menitipkan Ello ke Hotel Lusi. Bingung! Akhirnya saya membawa Ello ke pos satpam hotel tempat acara dan memohon agar saya bisa menitipkan Ello sampai sekitar jam 9.00. Dan, alhamdulillah, meskipun terlihat dari ekspresi wajahnya, betapa mereka berpikir permintaan saya sangat aneh, mereka mengijinkan saya menitipkan Ello di dalam kardus hangatnya di sana. Fiuhhh, "Terima-kasih banyak pak…"

Dan saya pun bisa menjalankan tugas saya, meski dengan sedikit kepikiran juga, bagaimana keadaan Ello di pos satpam. Apakah mengeong terus? Apakah stress? Atau malah karena mengeong-ngeong akhirnya diusir oleh pihak manajemen hotel? Huhu, rasanya tidak sabar menunggu waktu saya bisa membawa Ello ke tempat yang aman…

Kemudian, sekitar jam 10.00 saya pun punya kesempatan melipir membawa Ello ke Hotel Lusi. And surprisingly, di sana saya bertemu dengan Mbak Rika (bukan nama sebenarnya), resepsionis Hotel Lusi yang  sangat-sangat welcome dengan kehadiran Ello. Bukan cuma mengijinkan Ello transit di sana, bahkan dia menawarkan untuk menitipkan Ello pada kucingnya yang juga sedang beranak.  Hmm, jelas tawaran yang sangat menggiurkan ya, menjawab semua permasalahan saya akan perawatan Ello… Tapi, meski begitu, saya terpaksa menolak tawaran ini. Lha, kucing Mbak Rika ini ras Persia, sementara Ello kucing kampung, mencolok sekali perbedaannya; takutnya si induk kucing akan menolak Ello atau bahkan menyakitinya.

Setelah saya menolak tawaran itu, Mbak Rika juga menawarkan bantuan untuk memberi minum Ello saat saya sedang bekerja. "Emang jam berapa aja sih Mbak, kucingnya dikasih minum, biar saya yang kasih susu…" katanya. Wah, wah, saya benar-benar terharu dengan kebaikan Mbak Rika yang notabene baru saya kenal. Juga begitu amaze bagaimana saya bisa dipertemukan dengan orang yang begitu baik secara sangat spesifik… juga pecinta kucing dan jelas memahami kenapa saya berepot-repot merawat Ello sampai segitunya. Sesuatu yang sulit dipahami mereka yang jarang berhubungan dengan hewan peliharaan.

Tapi meskipun merasa sehati dalam hal ini dan yakin bahwa Mbak Rika akan merawat Ello dengan baik, saya terpaksa menolak tawarannya. Waktu itu, ya perlengkapan saya hanya sebatas botol tetes mata. Dengan media ini saya merasa bahwa proses memberi minum Ello cukup sulit sesungguhnya dan saya tidak tega merepotkannya. "Gapapa Mbak, saya ada waktu kok… Lha saya belum punya dot, kasian Mbak repot ngasih susunya…" jawab saya.

***

Hari kedua. Pagi hari kedua saya diajak suami berangkat barengan ke acara rakor. Secara dan suami berada pada perusahaan dan unit induk yang sama, jadi dia juga ikutan acara ini, jadi bisalah memanfaatkan momen ini untuk bernostalgia, mengenang masa-masa kami masih satu kantor dan berangkat-pulang kerja bareng, hehe… 😍.

Pagi itu, meskipun malamnya juga begadang membuat playlist untuk hari kedua. Baca: download lagu instrumental, puterin satu-satu untuk memastikan saya paham timing liriknya, ngepasin nada untuk beberapa lagu, menyusun urutan lagu agar tidak ngos-ngosan meskipun nyanyi banyak-banyak dan kumpulin liriknya… saya dan suami berangkat cukup pagi, sehingga sempat mampir ke Hotel Lusi dulu untuk menitipkan Ello sebelum ke tempat acara.

Hari kedua ini berjalan lebih smooth, hanya saja, siangnya saya harus memutar otak saat akan menjenguk Ello. Pagi tadi kan saya nebeng mobil suami, dan saya yang terbiasa dengan mobil manual tidak berani membawa mobil matic-nya yang cukup gede itu. Sementara suami, ya karena dia rapat, ya dia tidak bisa mengantar saya… 

Dan kemudian, setelah berpikir, akhirnya saya mendapat ide untuk meminta tolong seorang anak magang di kantor saya bernama Dila. Dila pun alhamdulillah tidak keberatan mengantar saya  dengan motornya ke hotel tempat Ello dititipkan. Dan bahkan, dia tidak ngedumel saat harus bolak-balik dua kali karena saya ketinggalan kunci… Iya, sampai di Hotel Lusi, saya tidak menemukan kunci saya dan akhirnya balik lagi ke tempat rakor karena tidak ada kunci cadangannya di resepsionis. "Thanks so much ya Dek, we count it to you…"

Nah, saat mencari kunci cadangan di resepsionis ini, saya sempat ngobrol banyak dengan Mbak Rika. Waktu itu lah kemudian dia memberikan saya satu sachet susu kucing, seperti yang pernah dijanjikannya saat kami bertemu di hari pertama, saat dia tahu saya tidak memberikan susu khusus kucing, tapi susu formula bayi usia 0 bulan. Fixed! Mbak Rika ini benar-benar kebangetan baiknya! Padahal kami baru sekali ketemu, tapi dia segitunya perhatian pada saya dan Ello. Membuat saya benar-benar dipertemukan secara misterius olehnya. Saya percaya ada banyak orang baik di luar sana, tapi, bertemu orang baik yang juga penyayang kucing di saat saya sedang kesulitan merawat Ello, benar-benar sesuatu yang sangat spesial. Call me whatever, but yes! That's make me feel special… Makasih sekali lagi Mbak Rika, bertemu denganmu benar-benar memberikan suntikan semangat untuk menjalani hari-hari berat merawat Ello…

***

Hari ketiga. Seperti hari sebelumnya, kami bertiga (saya, suami, dan Ello) berangkat menuju Hotel Lusi untuk menitipkan Ello. Dan setelah memastikan Ello aman di sana, kami pun berangkat menuju tempat kegiatan. Oh ya, di kamar hotel ini, Ello saya tempatkan di atas TV tabung yang ditempel ditembok, karena colokannya cuma ada disitu saja. That's why, saya harus memastikan posisi kardusnya sangat stabil dan jika pun Ello-nya jalan-jalan pun, dia ga akan jatuh. 

Di hari ketiga ini, suami bisa mengantar saya menjenguk Ello siang harinya. Hmm, ngomong-ngomong soal suami saya, I know dia pun berpikir bahwa saya sedikit berlebihan dalam merawat Ello, dia pernah ngomong kok… Tapi, kemudian dia memilih tidak banyak berkomentar setelah saya bilang, "Bukan lebay, tapi ya dia ini masih terlalu kecil, kalau ga dirawat seperti ini, ya sama saja membiarkan dia mati pelan-pelan… Walaupun kucing, ini nyawa juga lho… Emang tega? Dan karena kita sudah mungut dia, ya itu tanggung-jawab kita untuk merawat dia…"

Nah, pada saat saya mulai ribut mencari tempat transit untuk Ello dan akhirnya bolak-balik membawanya ke tempat rakor (dititipkan ke Hotel Lusi), saya merasa perhatiannya pada Ello semakin bertambah. Sampai-sampai beberapa kali dia whatsapp menanyakan kabar Ello di hotel, aman atau tidak, udah minum susu atau belum, dan sebagainya… Sesuatu yang membuat saya senyum-senyum sendiri karena bahagia. Senang aja, Ello akhirnya mempunyai tempat yang cukup spesial di hati suami saya. Senang, karena orang terdekat saya yang merasakan apa yang saya rasakan dan memberikan dukungan moril dan materiil. **Duh, bahasanya kaya pidato bener ya… 😅**

***

Yes! That's it what happen in three days, sampai akhirnya acara rakor berakhir dan kehidupan kami kembali berjalan normal. Bagi saya, ini benar-benar big story! Selama tiga hari acara rakor sembari merawat Ello memang benar-benar merepotkan dan melelahkan, tapi dari segala kesulitan itu ada banyak hal-hal indah yang terjadi. Bagaimana saya terbantu menghadapi kesulitan-kesulitan yang ada atas bantuan orang-orang baik di sekitar kita. Pertemuan saya dengan orang-orang baru yang begitu baik, terutama Mbak Rika benar-benar mengingatkan saya pada kata orang bijak bahwa:
Orang baik akan bertemu dengan orang baik...
That wise words maybe old, but so true! Bahwa saat kita berusaha berbuat baik, maka kita juga akan dipertemukan dengan orang-orang baik. And this was the sweet insight for this chapter of this story. So, berbuatlah baik, jangan takut, insyaallah kita akan dipertemukan dengan kemudahan dan bantuan. Sekali lagi terima-kasih untuk Mbak Rika, Pak Satpam dan Dila… orang-orang yang baru saya temui tapi begitu peduli pada saya dan Ello…

Oh ya, juga setelah perjuangan saya selama tiga hari ini berkaitan dengan tugas saya di kantor juga tidak sia-sia! For these three days; begadang hingga tengah malam untuk gladi bersih, dan juga menyiapkan lagu instrumental untuk mengisi acara istirahat… Sampai-sampai tembus 26 lagu satu hari, mendapat apresiasi yang membuncahkan rasa bangga di dada. Pujian dari para peserta, keyboardis hingga teknisi sound system… dan yang perlu di-highlight adalah pujian dari General Manager hingga beliau memberikan bingkisan di akhir acara, sangat cukup membuat penyanyi amatir seperti saya tersenyum-senyum bahagia semalaman. Terima-kasih…



Yeah, that's the story for this chapter. Selanjutnya, saya akan bercerita bagaimana merawat Ello memberikan insight bahwa terkadang sesuatu itu tidak sesulit yang kita kira. Semoga teman-teman nanti bakalan baca lagi kan Ya… ya… ya… hihi… 😀

Sekian, dan semoga cerita ini bermanfaat untuk teman-teman semua ya…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Monday, October 9, 2017

Sup Ikan Patin a.k.a. Ikan Kuah

Ini masakan yang cukup legendaris dalam katalog masak-memasak pribadi saya untuk anak-anak. Sejak jaman Ganesh kecil, sampe sekarang Mahesh… dua-duanya sama-sama suka dan ga bosen-bosen sampai sekarang. Which that's mean, 'sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui'… sekali masak, dua anak suka, haha…

Iya, karena selera dua anak ini seringkali berbeda; si kakak anti pedes, eh si adek hobi pedes; yang satu suka tahu, yang satu anti tahu, de el el. Nah, karena itu, dalam seminggu paling tidak sekali lah masak 'Sup Ikan Patin' ini… yang sama Mahesh seringkali disebut 'Ikan Kuah'.


Karena (sebut saja) kelegendarisannya, saya kira resep ini sudah saya dokumentasikan di blog. Eh, kok pas dicari enggak ada, padahal kaya inget-inget sudah pernah nulisnya… Tapi, sudah dicari di draft blog dan di arsip laptop emang ga ada. So, positif, memang resep ini belum pernah ditulis, jadi, ya sok mari ditulis aja mumpung sempet. Karena saya ini orangnya pelupa, daripada berkali-kali ngubek-ubek internet kalo lupa, atau ga yakin sama takaran bumbunya yang sudah pas sama lidah anak-anak…

Bahan untuk membuat 'Sup Ikan Patin' ini sederhana saja; cuma ikan patin, tomat, bawang merah putih, bawang daun, jahe, dan serai. Sedikit berbeda dengan pindang khas Sumatera yang juga memakai kunyit, daun salam, dan kecap manis. Ini, pakai kecap juga sih, tapi kecap ikan, haha… yang rasanya jelas jauh berbeda dengan kecap manis ya…


Ikan patin sendiri, adalah jenis ikan yang tidak hanya lezat, tapi juga sehat karena kandungan nutrisinya. Menurut ahli gizi Rosihan Anwar, Sgz (1); ikan patin memiliki kadar kolesterol yang rendah dan mengandung lemak tak jenuh yang tinggi. Dimana lemak tak jenuh ini bermanfaat untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah, sehingga dapat mencegah risiko penyakit jantung koroner.

Nah, makin cinta kan sama ikan ini? Apalagi harganya pun relatif terjangkau, meskipun mungkin di daerah tertentu sulit ditemukan. Iya kan? Saya pribadi baru kenal ikan patin ini setelah merantau ke Sumatera Selatan lho… Dulu, semasa di Jogja belum pernah sekali pun mencicip ikan ini. Dan sekarang, saat saya tanya ke orang-tua saya soal ikan ini, mereka pun tidak familiar. Katanya sih ikan ini ga ada di Jogja. Hmm, daripada penasaran, bagi yang belum familiar dengan ikan ini… ini nih, penampakan ikan patin yang saya maksud dalam resep ini…

Helichopagus Waandersii a.k.a. Ikan Patin (2)

Oke, kembali ke tujuan awal blogpost ini, berikut resep membuat sup ikan patin a.k.a. ikan kuah ala mama Ganesh-Mahesh…

Bahan:

1/2 kgIkan patin
2 buah Tomat dipotong sesuai selera
5 siungBawang merah
2 siungBawang putih
2 cmJahe
1 batangSerai
2 sendok makanKecap ikan
1 batangDaun bawang diiris-iris tipis atau sesuai selera
SecukupnyaGaram
SecukupnyaMinyak untuk menumis

Cara Membuat:
1.Haluskan bawang merah dan bawang putih.
2.Geprek/memarkan jahe dan serai.
3.Potong dan filet ikan patin sesuai selera. Jika suka, dipotong saja, tanpa difilet tidak masalah.
4.Tumis bumbu halus, jahe dan serai, lalu tambahkan air kurang lebih 1 liter.
5.Setelah mendidih, masukkan ikan patin dan kecap ikan.
6.Beberapa saat kemudian, masukkan tomat dan tambahkan garam hingga rasa sesuai selera.
7.Setelah matang, masukkan daun bawang dan matikan api.

Gampang dan praktis kan… Plus insyaallah sehat… Sekian sharing saya, semoga bermanfaat… Selamat mencoba 😋

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Readings:
  1. TribunNews.com. 2013. Takut Makan Patin Karena Berlemak? Ini Jawaban Ahli Gizi. http://www.tribunnews.com/kesehatan/2013/04/17/takut-makan-patin-karena-berlemak-ini-jawaban-ahli-gizi. Diakses tanggal 9 Oktober 2017.
  2. SemuaIkan.com. Jenis-Jenis Ikan Patin beserta Gambarnya. http://www.semuaikan.com/jenis-jenis-ikan-patin-beserta-gambarnya/. Diakses tanggal 9 Oktober 2017.

Saturday, September 23, 2017

Ello The Surviving Cat #1: Awal yang Sulit…

Bagi yang berteman dengan saya di Facebook ataupun Instagram, mungkin sudah tahu siapa Ello yang saya maksud… Seekor kucing kecil yang kami temukan di depan toko oleh-oleh khas Lampung 'Iyen'. Dalam kondisi yang membuat iba; masih sangat kecil, sendirian, ketendang-tendang pedagang kaki lima di sekitaran lokasi, dan hampir masuk got! Sampai-sampai Mahesh si anak perasa, ngotot mau keluar terus, nongkrongin si Ello dan bilang, "Papa, kasian kucingnya… ketendang sama om itu… Om yang pake topi itu nah…" saat papanya kemudian bertanya om yang mana.


Mahesh… Mahesh… Kamu membuat kami merasa dobel ga-sampai-hati dan akhirnya memutuskan membawa pulang Ello dengan sebuah kantong kertas. Saat itulah kisah Ello bersama kami berjuang untuk bertahan hidup dimulai… Bukan sebuah cerita panjang sebenarnya, tapi memberikan pengalaman dan pelajaran berharga buat kami semua. Itu kenapa saya pengen banget nulis detail perjalanan kami dengan Ello. And this is chapter 1, yaitu di saat kami merasa bahwa ternyata semua tidak semudah yang dibayangkan…


***

Dalam perjalanan pulang dari toko ke rumah, kucing kecil yang belum kami beri nama itu terus mengeong… Jelas dia merasa tidak nyaman dan asing dengan kondisi yang dialaminya sekarang -di dalam sebuah kantong kertas, tanpa ibu di sampingnya. Saya seorang ibu, dan saya tahu bagaimana perasaannya; sehingga yang ada dalam kepala saya saat itu hanyalah segera membawanya ke rumah, memberikan susu dan memberinya tempat yang hangat. "Sabar ya… sebentar lagi kita sampai di rumah…"

Sesampainya di rumah, segera saya ambilkan susu UHT Ganesh, menuangkannya di dalam sebuah mangkuk kecil dan menyodorkannya pada si kucing kecil. Dimana saat itulah saya sadar, bahwa kucing ini benar-benar masih kecil! Bahkan matanya belum terbuka! Dan dari sebuah artikel di internet (disini), saya perkirakan bahwa usia si kucing kecil ini masih kurang dari satu minggu. Dan meskipun dia bayi binatang yang mungkin lebih kuat dari bayi manusia, dia belum bisa bertahan hidup sendiri tanpa bantuan induk atau pengasuh lainnya. Dia belum bisa minum susu sendiri, masih harus disusui, atau jika tidak dia akan mati kelaparan, disitu saya merasa bingung dan sedih.

So, browsing kembali di internet, saya menemukan sebuah artikel yang menyebutkan bahwa seekor anak kucing bisa diberikan susu formula bayi usia 0 bulan dengan menggunakan pipet. Baiklah, setelah menempatkan si kucing kecil di sebuah kardus dengan alas kain dan penghangat lampu LED USB yang saya sambungkan dengan charger handphone, memastikannya cukup hangat… saya pun pergi ke Indoma*et untuk mencari perlengkapan (baca: susu formula 0 bulan dan pipet).

Awalnya, saya berpikir bisa mendapatkan pipet dari obat penurun panas anak, tapi ternyata tidak, minimarket ini tidak menjual kemasan obat penurun panas yang memakai pipet. So, memutar otaklah saya, dan akhirnya membeli sebuah obat tetes mata, berharap si kucing kecil bisa diberi minum dengan obat tetes mata, yang cara kerjanya mirip pipet.


Dan syukur alhamdulillah, meskipun sulit, si kucing kecil bisa diberi minum dengan cara ini. Minumnya cuma sedikit, yah, saya pikir karena dia masih terlalu kecil, jadi memang kebutuhan minumnya belum terlalu banyak. Tetap positif thinking dan berusaha melakukan yang terbaik yang saya bisa untuk menyelamatkannya.

Selama beberapa hari, rutinitas baru pun dimulai; yaitu memberi minum si kucing kecil yang kemudian kami beri naman Ello, dari kata 'Yellow' yang artinya kuning. Awalnya sih, saya tawarkan untuk memberi nama si kucing kecil Yello, tapi anak-anak lebih memilih memanggilnya Ello. Baiklah, saya menurut saja…

Setiap pagi sebelum ke kantor, siang saat istirahat, sore sepulang kerja dan malam sebelum tidur; saya mengangkat Ello dari kardus hangatnya, menyelimutinya dengan kain agar tidak banyak bergerak dan sedikit 'memaksanya' minum susu dari botol tetes mata itu. "Baiklah Ello, aku tahu ini sulit, tapi kita harus supaya kamu bisa bertahan…" kata saya. Kadang saat dia mulai mengeong-ngeong, kemudian saya bilang, "Ello mau ketemu mama? Kalo gitu sekarang Ello minum susu dulu… Nanti kalo udah gede, Ello cari mama ya…" Baiklah, saya memang melankolis, dan kondisi seperti ini benar-benar membuat hati saya teriris-iris. "Come on Ello! We can do it!"

Baiklah, to be honest aktivitas baru ini cukup berat, dan tidak tidak sampai disini saja… Kemudian selang sekitar sehari atau dua hari, saya bertanya-tanya, kok tempat tidur Ello ini kering terus ya? Tidak sekalipun ada bekas pipis atau pupnya, padahal kan dia dikasih minum susu, masa iya sama sekali ga dibuang?

Pertanyaan ini terjawab saat kemudian saya googling dan menemukan bahwa kucing kecil itu perlu dirangsang untuk pipis dan pup. What? OMG! Kayaknya ini susah deh… tapi baiklah, mari kita coba dulu. Dengan bekal video di Youtube, saya pun mencoba 'membantu' Ello untuk pipis dan pup. Caranya, dengan mengusap-usap area genitalnya dengan tisu basah. Dengan cara ini, Ello akan pipis jika memang ada urin dalam perutnya. Demikian juga dengan pup, meskipun untuk pup diperlukan usaha yang lebih banyak.

So, kegiatan pun bertambah… Setiap hari, empat kali sehari membantu Ello pipis terlebih dahulu sebelum minum susu. More things to do, tapi saya dan Ello memasang kaca mata kuda melakukan apa yang bisa kami lakukan, tanpa optimisme maupun pesimisme. Pokoknya lewati hari demi hari saja sebaik yang kami bisa.

Dan tantangan tidak berhenti sampai disitu saja. Pada suatu saat, kami dihadapkan pada kondisi dimana saya tidak bisa pulang saat jam istirahat karena ditugaskan dalam sebuah acara kantor yang lokasinya jauh dari rumah. Saya sudah mencoba semuanya; mulai dari berusaha mengatur waktu, agar bisa pulang sebentar saat tidak bertugas hingga mencari pet shop yang bisa dititipin Ello; karena mbak di rumah takut pada kucing. Apa mau dikata, saya tidak bisa memaksa bukan?

Semua usaha itu tidak membuahkan hasil. Malahan cobaan bertambah lagi, dengan komentar tidak simpatik dan arogan. Mengatakan bahwa saya berlebihan. Bahwa hewan punya naluri yang kuat, sehingga pasti bisa survive, hanya dengan menyediakan susu di dekatnya. "Well, helow, situ dokter?" Atau ga perlu lah jadi dokter hewan, kalau situ pecinta kucing yang berpengalaman ngerawat kucing atau paling enggak sudah cari informasi; saya masih bisa terima lah sikap arogan kaya gitu. Atau, kalau enggak, ngomongnya lembut sedikit, tunjukkan kalau situ sedang kasih saran, bukan nge-judge. Tapi, ya udah, gapapa, 'your mouth, your reputation', saya sih kalau ditantang kaya gini malah jadi semakin semangat dan pantang menyerah! **Baiklah, anggap paragraf ini sebagai curhat. Sekali-sekali lah katarsis di blog sendiri. Boleh kan teman-teman…**

So, ide itu pun datang, saya bisa menitipkan Ello di tempat lain yang dekat dengan lokasi hotel tempat acara. Hotel melati yang tidak melarang tamunya membawa hewan peliharaan adalah pilihan yang tepat! Dan alhamdulillah, atas rekomendasi seorang teman, saya menemukan tempat seperti itu. Fixed-lah saya booking satu kamar di hotel tersebut selama tiga hari, sehingga saya bisa wara-wiri mengurus Ello sembari menjalankan tugas saya.

Dan fixed juga rutinitas selama tiga hari itu pun bertambah berat. Pagi, saya menyetir sendiri membawa Ello beserta kardus dan penghangatnya yang dicolokkan  power supply di mobil bersama semua perlengkapannya; susu, air panas, mangkok kecil, tissue basah, dkk). Menitipkannya di hotel sebelum ke tempat acara, meskipun pada hari pertama terpaksa saya titipkan ke satpam dulu karena terburu-buru. Membersihkan badannya, membantunya untuk pipis dan memberikan susu di sela-sela kegiatan; dan menjemputnya kembali sepulang acara. Fiuh, trust me, it's pretty hectic, tapi, bisaa…

And in summary, 'awal yang sulit' yang saya maksud disini adalah:
  • Memutar otak memberi minum Ello yang belum bisa minum susu sendiri, tanpa adanya dot ataupun Kitten Milk Replacer/KMR. Yang akhirnya ditanggulangi dengan botol tetes mata dan susu formula bayi usia 0 bulan.
  • Memberi minum Ello dengan botol tetes mata selama dua minggu, yang itu jelas sulit dan berat. Botol obat tetes mata jelas jauh berbeda dengan puting induknya, ini saja sudah membutuhkan kesabaran. Ditambah lagi, bahwa pemberian susu ini harus dilakukan dalam intensitas yang cukup sering mengingat dia masih bayi. Ini berarti saya harus commit untuk ada di setiap waktu minum susunya.
  • Terkaget-kaget saat tahu bahwa anak kucing tidak bisa pipis dan pup sendiri, sehingga harus kita rangsang dan saya yang awam ini dengan pesimis berusaha belajar dari video youtube.
  • Mendapat tugas dalam acara kantor dari pagi hingga malam, sehingga (lagi-lagi) harus memutar otak agar bisa tetap merawatnya minimal empat kali setiap hari. Sampai akhirnya menitipkan Ello di sebuah hotel di dekat lokasi acara dan bolak-balik kesana saat ada kesempatan.
Dan akhirnya, setelah hari-hari yang sulit berjalan selama dua minggu, melihat perkembangan Ello yang tampak semakin baik, saya pun mencari dan mendapatkan botol dot dan susu khusus kucing untuk Ello. Tapi tentu saja petualangan Ello tidak sampai di sini saja… Setelah lebih dari 1.300 kata ini, masih ada kisah lain yang ingin saya ceritakan. Termasuk juga, hal apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan nyawa anak kucing yang usianya masih hitungan hari hingga empat minggu sebelum akhirnya bisa makan sendiri. Bagaimana cara dan kapan mengajarinya makan, minum, pipis, serta pup. Dan banyak lagi…


See you in the next post ya…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-


Tuesday, August 22, 2017

Menggali Represi dengan Film 'The Boss Baby'

Pertama kali liat poster film ini di internet dan membaca sinopsisnya, saya tidak terlalu berminat. Dari sinopsinya, waktu itu terkesan kalau film ini bukan untuk konsumsi anak-anak, walaupun formatnya animasi. Semacam film 'Despicable Me' yang menurut saya tidak terlalu kuat pesan/nilai positif di dalamnya, tapi sekedar lucu-lucuan saja. Dibandingkan film 'Cars' misalnya yang membawa pesan sportifitas dan kebaikan, atau film 'Planes' yang mengajarkan tentang usaha keras dan tekad yang kuat dalam mencapai suatu cita-cita, meski tampak mustahil.

Penggembar 'Despicable Me' jangan marah ya… Ini pendapat saja. Bukan berarti juga anggapan bahwa film ini tidak baik untuk ditonton, Ganesh kemarin nonton juga di bioskop sama papanya. Cuma, saya pribadi ga memasukkannya dalam list koleksi film pribadi di rumah.


Nah, kembali ke film 'The Baby Boss'… Menurut persepsi saya, sebenarnya film ini menceritakan imajinasi seorang anak (Tim) tentang adik barunya. Sebelum memiliki adik, hidupnya begitu sempurna; dia adalah prioritas kedua orang-tuanya! Dari mulai bangun tidur, hingga akan tertidur kembali dan bahkan saat tidur… he's the one and only!

Dimana semua itu berubah 180º saat sang Adik lahir, yang digambarkan dengan kedatangan seorang bayi botak dengan pakaian jas lengkap turun dari taksi dan berjalan menuju ke rumah Tim. Dialah bayi yang kemudian menyebut dirinya sebagai The Boss Baby dan oleh orang tua Tim disebut sebagai adik laki-laki Tim. Seorang bayi yang kemudian mengambil alih sebagian besar perhatian orang-tua Tim, hingga Tim pun merasa kesepian dan diabaikan.

Dari situlah, Tim semakin membenci adiknya (Boss Baby) dan berusaha mencari tahu siapa sebenarnya Boss Baby ini. Dan akhirnya dia menemukan kenyataan bahwa Boss Baby sesungguhnya adalah bagian dari Baby Corp, perusahaan (semoga tidak salah) pengirim bayi kepada manusia, yang sedang menyamar untuk mencari tahu mengapa seringkali anak anjing mendapatkan kasih sayang lebih daripada bayi. Dimana orang-tua Tim bekerja pada perusahaan Puppy Co yang usahanya bergerak di bidang (kurang lebih) menyediakan anak anjing untuk manusia.

Drama yang seru pun dimulai dari sini. Dari awalnya Tim membenci Boss Baby dan berusaha membongkar penyamarannya; Boss Baby meminta maaf dan akhirnya Tim membantunya untuk melaksanakan misi penyelidikan agar Boss Baby bisa segera kembali ke Baby Corp; hingga akhirnya misi terselesaikan, semua kembali seperti semula sebelum Boss Baby datang ke rumah Tim… dan ternyata baik Tim maupun Boss Baby merasa kehilangan. Hingga akhirnya, bisa ditebak, kemudian Tim menulis surat kepada Boss Baby dan Boss Baby pun dengan bahagia meninggalkan karirnya di Baby Corp untuk menjadi adik Tim… kembali ke keluarga Tim.

Poster Film 'The Boss Baby'
from DreamWorkAnimation
Picture from HERE

Begitulah kira-kira film ini diceritakan secara singkat… Cerita saya mungkin kurang seru ya, tapi percaya deh, filmnya benar-benar seru dan cukup menegangkan!

Nah, kembali ke nilai moral yang bisa kita sampaikan kepada anak berdasarkan film ini… Of course it's about sibling love.

Saya sendiri menggunakan film ini untuk kembali menggali perasaan Ganesh saat memiliki adek baru. Bagaimana dia jadi diabaikan dan bagaimana perasaannya waktu itu. Menggali kekecewaan, rasa marah, dan sedih yang mungkin dirasakannya dulu.

"Lho, ngapain menggali pengalaman/perasaan/ingatan negatif kok malah digali dan diingat-ingat lagi? Bukannya lebih baik dilupakan?" No! Big NO! Berusaha melupakan pengalaman negatif atau dalam istilah psikologi dikenal sebagai represi. Pada saat seseorang mengalami sesuatu yang sangat melukai 'hati'; sedih, kecewa, malu, dan sebagainya; dan kemudian dia berusaha melupakan peristiwa tersebut… itulah yang disebut dengan mekanisme represi. Melalui mekanisme represi, suatu pengalaman atau perasaan negatif mungkin memang tidak lagi kita sadari. Kita tidak lagi mengingatnya. Namun, sesungguhnya semua itu masih terekam dalam alam bawah sadar kita, dan mempengaruhi perilaku kita.

I've ever been there before… Dulu, seringkali saya menekan perasaan malu, minder, konyol dan sebagainya yang saya rasakan, hingga saya tidak lagi meningatnya. Yes, secara sadar, memang saya tidak mengingatnya; tapi somehow perasaan itu tanpa saya sadari membuat saya merasa semakin kecil dan buruk. Hingga akhirnya, saya belajar untuk menggali perasaan-perasaan negatif itu, dan berusaha menyelesaikannya, daripada berusaha melupakannya.

'Menyelesaikan' maksudnya adalah berusaha membuat hati dan pikiran kita bisa menerima perasaan itu… Nah, caranya seperti apa, bakalan panjang, jadi insyaallah akan saya ceritakan dalam tulisan tersendiri.

So, kembali ke cerita menggali perasaan Ganesh saat memiliki adik baru, saya pun mengajak Ganesh berbicara:

"Kakak, sedih ya Tim… Sejak ada adek baru, dia jadi ga pernah diceritain sebelum tidur sama papa-mamanya… Kaya kakak dulu ya? Dulu, kakak sedih enggak? tanya saya.

Waktu itu, saya sudah siap jika Ganesh akan berkata 'iya' dan berharap kemudian dia akan cerita panjang lebar tentang perasaannya. Tapi, Ganesh hanya menjawab, "Iya" dengan santai. Udah, gitu aja…

Well, kemudian saya pun masih coba mengulik lagi, "Dulu, sebelum ada adek, kakak suka diceritain ya sebelum tidur… Setelah ada adek, kakak ga pernah diceritain lagi… Kakak juga sering dimarahin sama mama ya…"

Dan Ganesh masih tidak menunjukkan tanda-tanda emosional dengan perkataan saya, sehingga saya pun menyimpulkan jika kejadian 'itu' tidak meninggalkan trauma emosional pada dirinya. But still, kemudian saya berkata padanya, "Anesh, mama minta maaf ya kalau mama dan papa jadi kurang perhatian sama Anesh setelah ada adek… Maaf kalau kadang jadi suka marah-marah… Mama sama papa bangga sama Anesh, makasih ya, sudah jadi kakak yang baik buat adek…"

Saya memeluknya dan kemudian berkata lagi, "Anesh sayang adek kan? Anesh yang sabar ya kalau adek kadang ga ngerti Anesh kasih tau… Namanya juga masih kecil, belum sepintar kakak…" Lalu saya acak-acak rambutnya dan kemudian menciumnya. "Anesh harus jagain adek ya… Kaya Tim jagain adeknya pas kehabisan susu yang bikin pinter…"
Kurang lebih seperti itu, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa ada sedikit kejadian yang ditambah atau dikurangi karena keterbatasan ingatan… 😬

Semacam tidak ada sesuatu yang 'seru' dalam cerita saya ini ya… Tidak ada adegan Ganesh curhat serius soal perasaannya waktu itu, he seem's able to cope with that past experience well. Tapi ya tetep sih, saya akan terus berusaha untuk mencari tahu dan menggali pengalaman-pengalaman buruk yang mungkin masih mengendap dalam ingatan bawah sadarnya.

Dan terlepas dari cerita yang kurang seru ini, apa yang ingin saya sampaikan dari tulisan ini adalah:
  • Suatu pengalaman negatif yang sangat melukai perasaan bisa jadi masih menjadi bagian dari diri kita. Kita hanya menekannya ke alam bawah sadar sehingga tidak menyadarinya. Namun, sesungguhnya hal itu masih mempengaruhi perilaku, perasaan dan reaksi kita pada lingkungan secara negatif. Hal inilah yang disebut represi, dan tidak menutup kemungkinan terjadi pada anak-anak.
  • Pengalaman negatif pada alam bawah sadar ini harus digali, disadari, dan diselesaikan secara sadar; misalnya dengan memafkan, memaklumi, dan sebagainya. 
  • Pada anak-anak, seringkali kita perlu untuk merangsang mereka mengingat suatu pengalaman negatif dan membantu mereka menyelesaikannya. Dalam hal ini, kita bisa memanfaatkan kejadian dalam kehidupan sehari-hari, maupun melalui cerita dan film.
  • Nah, dalam hal ini film 'The Boss Baby" ini menurut saya adalah media yang pas untuk menggali represi/pengalaman negatif berkaitan dengan kelahiran adik baru. Dimana sang kakak kemudian tidak mendapatkan perhatian sebesar sebelumnya.
That's it! So, sok lah nonton film ini… dijamin seru kok… dan semoga tulisan ini bermanfaat ya…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Sunday, August 13, 2017

Happy Kiddo's Room with INFORMA!

Rumah adalah tempat kita kembali dari segala aktivitas setiap harinya. Tempat melepas lelah, baik fisik maupun mental dan merasa relax. Juga tempat kita mengembalikan energi untuk kembali beraktivitas menyelesaikan berbagai tugas, serta merealisasikan mimpi-mimpi. Itulah definisi 'rumah' menurut saya… Dan kondisi itulah yang ingin saya capai berkaitan dengan 'rumah', salah satunya melalui penataan yang baik.

Nah, yang akan saya ceritakan di sini adalah mengenai penataan kamar anak-anak (Ganesh dan Mahesh)…

Selama ini, anak-anak belum memiliki kamar sendiri. Tidurnya masih random, kadang barengan saya atau suami. Nah, setelah pindah ke rumah baru beberapa waktu yang lalu, kami pun menyiapkan sebuah kamar untuk mereka. Satu kamar untuk berdua; supaya anak-anak lebih banyak berinteraksi, tidak merasa eksklusif dan untuk mempercepat transisi Adek tidur sendiri tanpa mamanya.

Karena kamar yang tidak terlalu luas ini akan dipakai berdua, bunkbed (tempat tidur bertingkat) menjadi pilihan kami. Dan kami pun ingin bunkbed ini memiliki fungsi lain untuk memaksimalkan kamar anak yang minimalis ini.


Singkat cerita, pada April 2017 saya pernah mengajak Ganesh ke INFORMA untuk mencari referensi furniture. Waktu itu, dia terpaku pada sebuah bunkbed berwarna kuning cerah yang memang terlihat unik. Bukan sekedar tempat tidur bertingkat, bunkbed ini digabungkan juga dengan meja belajar, rak buku, lemari pakaian dan juga tangga yang dimanfaatkan sebagai laci.

"Mama, Anesh mau yang ini aja… Nanti Anesh tidur di atas ya!" katanya bersemangat waktu itu. Tapi, waktu itu belum bisa langsung direalisasikan, karena masih banyak hal yang harus ditimbang… Cek luas kamar, posisi jendela dan pintu, serta tentu saja masalah pendanaan.



Sampai akhirnya, menjelang Lebaran, kami berkunjung lagi ke INFORMA saat bunkbed impian Ganesh sedang diskon! Dan ternyata Mahesh juga begitu excited dengan tempat tidur pilihan kakaknya ini. Mereka berdua sampai lari-larian heboh memutari si bunkbed, sementara kami hanya bisa geleng-geleng karena 'omelan-omelan' kami sama sekali tidak digubris.

So, tidak ada alasan untuk menunda lagi, kami pun mantap membeli si bunkbed apalagi waktu itu juga sedang ada promo cashback untuk member. 

Dan beberapa hari kemudian INFORMA pun mengirimkan barang pesanan kami dan merakitkannya sehari berikutnya. Semua dikerjakan dengan profesional dan tanpa biaya tambahan… Sesuai standard kualitas yang tinggi, sehingga semua furniture terpasang rapi tanpa cacat. Itu mengapa, saya merasa furniture INFORMA tidaklah mahal, sepadan dengan kualitas produk dan pelayanan yang diberikan.

Dan akhirnya, inilah penampakan kamar anak-anak setelah bunkbed dan pernak-perniknya ditata…
    • Bunkbed super inovatif INFORMA yang menggabungkan fungsi tempat tidur, tangga, meja belajar, laci penyimpanan dan lemari pakaian yang sementara belum difungsikan karena digunakan sebagai ruang rahasia 😂. 




    • Set meja kursi berbahan besi INFORMA yang kokoh dan berwarna cerah untuk tempat belajar dan aktivitas lainnya
    • Whiteboard untuk beajar dan papan pengumuman untuk menempelkan informasi penting.
    • Jam dinding besar agar anak-anak belajar membaca waktu.
    • Wall sticker agar dinding terkesan lebih ceria.

    So, bagaimana menurut teman-teman? Keren kan? Seperti halnya anak-anak, saya pun excited dengan kamar ini. Kesannya anak-anak banget, ceria, dan fungsional. Anak-anak pun betah dan misi membuat mereka berani tidur sendiri terwujud! 

    Saya dan suami akhirnya bisa punya kamar sendiri lagi deh! 😉

    With Love,
    Nian Astiningrum
    -end-

    Monday, July 31, 2017

    Ooh, I Feel Underappreciated!

    Exactly! Itulah yang saya rasakan pasca ujian pelaksanaan proyek sebagai tugas pasca diklat di kantor untuk kenaikan (sebut saja) peringkat.

    Disclaimer: ini tulisan curhat. Tulisan ini jujur, tapi harap dimaklumi jika (mungkin) sedikit lebay dan dramatis 😂

    Bukannya ga lulus… Lulus sih, tapi sebenarnya saya berharap respon yang lebih 'menantang' dari penguji atas proyek saya ini. Karena, saya bukan sekedar mengerjakannya sebagai syarat kelulusan, tapi dengan passion… Bukan kenapa-kenapa, bukan sok-sok-an banyak waktu juga… Tapi, memang sudah bawaan saya perfeksionis dan cenderung malas mengerjakan sesuatu yang tidak sesuai standard saya. Jadi, daripada jadi proyek mangkrak, lebih baik dikerjakan bener-bener saja…


    Saya berusaha merancang dan mengerjakan sebuah proyek yang (memang) tidak bisa dibilang mahakarya sih, tapi menurut saya cukup original, unik dan ditulis dengan jelas.

    Saya membuat suatu metode pengembangan kemampuan kepemimpinan pegawai dengan basis kepribadian. Karena menurut pengamatan saya selama kurang lebih 8 tahun sebagai admin SDM, pengembangan soft skill yang dilakukan di perusahaan lainnya baru dikaitkan dengan dengan kompetensi yang dibutuhkan. Misalnya; orientasi pelayanan pelanggan, kepemimpinan, dan sebagainya. Selanjutnya, maka pengembangan dilakukan tanpa memperhatikan latar-belakang kepribadian seorang pegawai.

    Hmm, agak sulit dipahami ya… Hmm, kira-kira begini…

    Jadi, pada saat seseorang dinilai memiliki (misalnya) aspek pelayanan pelanggan yang rendah, sebenarnya akan sangat bermanfaat bagi seorang pengelola SDM untuk melihat kepribadian yang melatarbelakangi perilaku tersebut. Misalnya; sikap kurang ramah, hanya sekedar menjawab pertanyaan dari pelanggan tapi tidak berusaha mencari tahu kebutuhan pelanggan lainnya; bisa jadi hal ini disebabkan karena:
    • orang tersebut cenderung cuek dan lebih suka bermain-main,
    • orang tersebut cenderung pemalu, sehingga membatasi interaksi seperlunya saja,
    • atau malah orang ini merasa kalau pekerjaannya kurang menantang, pengennya cepet selesai, pengen merasa lebih produktif, dan sebagainya…

    Jadi, pada saat seorang yang dinilai kurang memiliki kemampuan pelayanan pelanggan yang baik lalu kemudian dipukul rata diberikan pelatihan pelayanan pelanggan; seperti menyapa pelanggan dengan ramah, memberikan pelayanan yang cepat, dan sebagainya; berusaha membekali mereka dengan pengetahuan dan keterampilan… Bukannya tidak bermanfaat, tapi sangat mungkin hal itu akan kurang efektif, karena tidak semua dilatarbelakangi ketidaktahuan atau kekurangterampilan, tapi bisa jadi karena sesuatu yang mendorong dalam diri mereka. Dan itu adalah 'kepribadian'… Sehingga treatment yang perlu diberikan pun akan lebih efektif jika disesuaikan dengan 'kepribadian' ini. 

    Masuk akal bukan…

    Lebih lanjut, mengapa kemudian saya secara spesifik memilih sasaran atasan dan menyasar kemampuan kepemimpinannya adalah tidak lain karena saya melihat hal ini adalah sesuatu yang sangat strategis dalam perusahaan. Selama 8 tahun mengurusi hal berkaitan dengan SDM, saya merasa bahwa berhasil tidaknya suatu program, bagaimana seorang pegawai di bawah suatu organisasi akan dikembangkan, bagaimana keputusan strategis akan diambil, sampai dengan urusan motivasi kerja bawahan; semuanya ditentukan oleh seorang atasan.

    Dan dalam banyak kasus, seorang atasan tidak mampu 'berfungsi' dengan baik karena kendala berkaitan dengan kepribadian seperti yang saya ceritakan di atas. Ada kalanya karena hal ini menghambatnya dalam melakukan suatu tindakan yang seharusnya dilakukan, atau bisa juga ketidakpahaman akan kepribadiannya justru membuatnya berjarak dengan bawahan. Dimana yang kedua ini tentu juga akan mempengaruhi efektivitas kepemimpinannya.

    It's like something, isn't it? Sesuatu yang menurut saya bisa membawa pengelolaan SDM yang ada di unit kerja saya ke level yang lebih tinggi. Lebih dari sekedar formalitas atau tembakan-tembakan random ke segala arah yang tidak efektif. Sesuatu yang terasa begitu effortful tapi low impact. Ya, ini bahasa ekstrimnya saja sih, bukan berarti benar-benar bahwa pengelolaan SDM yang sekarang benar-benar tanpa arti… bukan! Tapi, saya benar-benar ingin menunjukkan bahwa kita bisa lho bergerak ke tingkatan yang lebih tinggi! Sekarang! Dengan ide dan willing kita sendiri… Tanpa menunggu petunjuk atau instruksi dari level organisasi yang lebih tinggi.

    Terdengar dramatis ya… tapi memang begitu lah adanya 😂. Saya benar-benar menganggap serius proyek ini! I put all my heart and soul to do it lah pokoknya. Bukan sekedar sebagai syarat kelulusan…

    Dan saat para penguji bahkan tidak memahami memahami apa yang saya tulis, tapi tidak berusaha mencari tahu dan justru memberikan komentar atau pertanyaan. Saya memang lulus, tidak perlu mengulang diklat dua minggu yang penuh perjuangan dengan membawa anak + pengasuh, mendatangkan ibu saya untuk menjaga si Kakak, dan sebagainya… Tapi ada rasa kurang puas dalam hati saya.

    I feel underappreciated…

    Sedih…

    Tidak puas…

    Kecewa…

    Merasa kerja keras saya tidak terbayar lunas…

    Saya berharap para penguji paling tidak membuka diri untuk memahami apa yang saya kerjakan, bukan sekedar mencari celah yang kurang krusial untuk dipermasalahkan karena harus ada sesuatu yang dipermasalahkan di dalam ruang sidang. Baiklah, jika memang itu sesuatu yang harus diperbaiki, saya setuju, saya akui dan akan saya perbaiki; so let's move to another point.

    Berkali-kali saya memberikan sinyal ini, berharap bahasan beralih ke sesuatu yang lebih 'seru', but failed… Mengenai format penulisan yang dikupas berulang-ulang meskipun saya sudah menerima untuk melakukan perbaikan, tentang data kualitatif yang dianggap kurang objektif yang sudah saya jelaskan tentang cara berpikirnya, dan beberapa hal lain. Harapan bahwa mereka akan menengok pada cara assessmen kepribadian yang saya gunakan, cara penentuan pengembangan yang saya rekomendasikan, bagaiman tanggapan responden yang sudah terlibat dalam proyek ini, hingga dampak dari proyek ini; tidak sedikit pun disentuh…

    Saya kecewa sih… jelas kecewa…

    Tapi saya tidak menyesal, karena saya merasa ini sama sekali tidak sia-sia! Seperti yang saya bilang, mengapa saya bersusah payah mengerjakan tugas ini, bukan sekedar untuk sebuah sertifikat kelulusan. Saya melakukannya sesuai dengan passion, standard, idealisme dan harapan saya. Tidak ada yang sia-sia disini; saat saya merasa puas dengan hasil kerja saya dan merasa bahwa proyek ini bisa menjadi batu loncatan untuk meraih idealisme dan harapan saya. I'll keep doing it; untuk diri saya sendiri dan untuk orang-orang di sekitar saya…

    Begitu kira-kira…

    Bagaimana menurut teman-teman? Pernah merasakan hal yang sama? Merasa hasil kerjanya kurang dianggap serius dan kemudian bete? Yes, it feels so bad! Rasanya nyebelin, tapi, jangan menyerah dan nglokro dalam istilah Jawa. Jika itu memang bermanfaat untuk diri kita dan orang di sekitar kita, kenapa harus mengambil pusing pendapat dan apresiasi beberapa orang?

    Setuju kan?

    With Love,
    Nian Astiningrum
    -end-