SOCIAL MEDIA

search

Tuesday, March 21, 2017

Aditya Car Wash & Cafe: Tempat Cuci Mobil Anti Mati Gaya

Siang itu, sepulang arisan… **saya yang arisan, ngajak anak-anak, dan suami yang antar jemput 😀** setelah awalnya berniat pulang saja, mendadak suami punya ide untuk mencuci mobil dulu. "Apa kita ke tempat cuci mobil yang waktu itu aja ya?" katanya. Dan langsung saya sambut, "Iya, ayok ke tempat waktu itu aja…" 


Beneran lho, ini suami ngajakin nyuci mobil… Dan ekspresi saya yang begitu excited itu juga bukan dibuat-buat. Tempat cuci mobil yang dimaksud suami itu memang berbeda dengan tempat cuci mobil kebanyakan. Disana, sembari menunggu mobil yang sedang dibersihkan, kita disediakan sebuah cafe dengan suasana yang begitu asri plus makanan dan minuman yang disajikan secara 'serius'!

Iya, 'serius', karena mereka begitu memperhatikan detail dari makanan dan minuman yang disajikan, baik dari segi penyajian maupun rasa. Kali pertama ke tempat ini, saya cukup amazed dengan cara mereka memotong telur rebus untuk soto secara melintang yang tidak biasa. Juga penyajian minuman yang selalu dipisahkan dari gulanya, membuat orang yang tidak terlalu suka manis seperti saya tidak kerepotan.

Ini adalah kali kedua kami mampir mencuci mobil di tempat ini; sebuah tempat cuci mobil, cafe dan guest house yang dikawinkan dengan apik bernama 'Aditya'.


Disini, kita bisa memilih untuk duduk di bagian luar atau di bagian dalam cafe. Jika memilih untuk duduk di bagian luar, maka kita akan disuguhi kesan sejuk, rindang dan asri yang begitu kental terasa. Bagian luar dihiasi dengan banyak tanaman hijau; bukan cuma yang ditanam di pot dan diletakkan di lantai, tapi juga yang berupa tanaman tempel dan gantung. Kita juga bisa menikmati lalu lalang kendaraan di jalan sambil sesekali melihat apakah mobil kita sudah selesai dicuci. Meskipun ini tidak begitu krusial, karena toh, kita akan diberitahu jika mobil kita sudah selesai dikerjakan.


Atau, jika ingin kesan yang lebih intim, kita juga bisa memilih duduk di bagian dalam yang diatur sedemikian rupa sehingga jauh dari kesan kaku… pemilihan perabot yang unik dan penataan yang detail membuat kesan santai, hangat dan intim begitu kental terasa dari cafe ini. Bagian dalam cafe juga adalah area bebas merokok, jadi kita bisa merasa lebih nyaman.


Karena suasana di dalam cafe yang demikian itu kemudian saya mengajak suami untuk duduk di dalam saja. Namun, suami mengajak duduk di luar saja dengan pertimbangan anak-anak akan lebih betah dan mudah dikendalikan daripada di dalam, hahaha 😂. Iya sih, kalau di luar mereka lebih banyak kegiatan; bisa asyik memperhatikan mobil kami yang sedang dicuci, naik-naik ke panggung yang digunakan untuk live music dan muter-muter tanpa mengganggu tamu yang lain… Dan kami pun bisa lebih santai menikmati minuman yang kami pesan. Lagi pula, waktu itu tidak ada tamu yang sedang merokok di luar, sehingga kami terganggu dengan asap rokok.


Untuk menunya sendiri, cukup bervariasi. Mulai dari Indonesian food seperti soto, Italian food semacam Spagheti sampai American food seperti aneka sandwich. Minumannya juga bervariasi, dari sekedar teh hangat, berbagai macam jus, sampai beraneka ragam es krim. Keturutan dah si Ganesh di sini, wajahnya sumringah bener dibolehin makan es krim 😄. Win-win bangetlah tempat ini, anak-anak suka, bapak-emaknya bisa santai, mobil juga jadi bersih kinclong. Yeay!

Foto dari Instagram Aditya Car Wash

Oh ya, dengan detail interiornya, tempat ini juga cocok banget lho dijadikan tempat meeting. Karena ada colokan listrik di masing-masing meja… Sederhana sih, tapi sangat dipertimbangkan untuk kegiatan-kegiatan yang membutuhkan listrik untuk sekedar charge hape atau laptop kan…

So, berminat untuk datang kesini? Silakan saja langsung ke sini, Aditya Carwash & Cafe di Jl. P. Emir M. Noer 47, TBU, Bandar Lampung dengan jam operasional car wash pukul 07.30 - 17.00 WIB. Sepertinya, untuk cafe-nya sih sampai malam, karena kami juga belum pernah datang kesini malam-malam. Untuk lebih jelasnya bisa hubungi kontak berikut 08117296559 / 089665977942.

Yeay, this is it… review pertama saya tentang suatu tempat. Semoga cukup membantu teman-teman yang ingin mencari tempat cuci mobil sekaligus refreshing di daerah Bandar Lampung ya… Terima-kasih.

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

When Being You is So Complicated

Banyak pendapat yang mengatakan, bahwa untuk bisa menjadi pribadi yang nyaman itu cukup dengan menjadi diri sendiri. Well, sesuatu yang mudah sepertinya, namun sangat sulit saya cerna… karena saya tidak mengerti siapa sebenarnya saya…

This whole post is like part 2 of previous story: DON'T LET YOU GET YOU

Hmmm… Mencari jati diri dan titik kenyamanan menjadi diri sendiri adalah sebuah pe-er dalam transisi saya dari seorang remaja menjadi seorang dewasa. Ada begitu banyak tuntuntan yang saya rasakan; dari lingkungan dan utamanya adalah dari dalam diri saya. If I simply an introversion yang lebih banyak berfokus pada perasaan dan pemikiran diri; yang seringkali tampak dari perilaku pendiam dan tertutup terhadap orang-orang yang belum dikenalnya dengan baik, serta hanya berlaku lebih sosiable pada kelompok orang yang dikenalnya… Jika demikian, maka sesungguhnya tidak ada suatu masalah yang berarti (bagi diri saya) seandainya bisa menerima hal tersebut. Seandainya saja… karena kenyataannya, saya tidak terlatih untuk itu. Sejak kecil, saya lebih diajari tentang sikap seperti apa yang disukai lingkungan, hingga tanpa sadar, itu pun menjadi tuntutan diri saya sendiri karena saya adalah seorang yang perfeksionis dan suka kompetisi. Padahal, bagaimana caranya saya bisa berenang jika saya adalah seekor burung; atau terbang saat saya adalah seekor ikan? Tanpa saya berusaha demikian keras untuk itu, merasa hopeless, dan demikian kecil karena tidak mampu…

Yah, itu hanya perumpamaan saja… Karena bagaimanapun saya berusaha untuk menjadi seorang yang supel, gampang bergaul, 'rame' dan sejenisnya; tetap saja, ganjalan itu ada. Lebih sering saya gagal dan berakhir dengan perasaan bahwa saya ini orang aneh…


Saya jelas memiliki masalah dalam mengekspresikan diri dengan perasaan semacam itu (perasaan takut gagal, takut tidak sempurna dan takut tidak bisa memenuhi ekspektasi diri dan lingkungan) di masa lalu. Situasi yang sungguh membuat frustrasi, di saat yang sama saya merasa memiliki pemikiran, ide dan kemampuan yang butuh teraktualisasi. Menurut saya, otak saya cukup encer, dan diam saat sesungguhnya ingin mengungkapkan sesuatu itu rasanya sungguh tidak nyaman. Sama tidak nyamannya saat ingin menunjukkan 'suara' saya, tapi selalu tercekat oleh ketakutan 'bagaimana jika hasilnya tidak sempurna seperti harapan saya'.

Saya seperti memiliki dua sifat yang kontradiktif… Menikmati menjadi pendiam, tapi ingin memiliki banyak teman; takut bertindak karena takut kegagalan, tapi memiliki keinginan yang begitu kuat untuk menunjukkan kemampuan… Hmm, kompleks bukan?

Well, itu dulu… Yang berlangsung cukup lama; sejak saya sangat kecil dan baru berakhir menjelang lulus kuliah. Dan beberapa orang menghubungkan itu dengan disiplin ilmu yang saya ambil, yaitu Psikologi. Hmm, ya, sekian lama belajar ilmu Psikologi memang membantu saya menemukan begitu banyak insight tentang diri saya. Tapi, jika mereka berpikir, bahwa proses ini semudah saya menjalani konsultasi psikologi dan kemudian berubah pikiran. Atau bahkan menjalani hipnosis lalu kemudian saya bisa berubah perilaku menjadi lebih ekspresif dan percaya diri… Itu jelas salah. Let me tell you once again, bahwa mengetahui lebih banyak tentang ilmu Psikologi memang membantu saya mendapatkan begitu banyak insight, tapi keputusan untuk berubah menjadi apa yang saya inginkan, diri saya yang lebih nyaman, sepenuhnya adalah tekad dan komitmen saya. Dimana sesungguhnya hal inilah yang paling berat dalam proses merubah perilaku dan pemikiran seseorang. Karena, percayalah, yang namanya proses perubahan itu selalu tidak nyaman, karena itu tekad dan komitmen yang kuat adalah satu-satunya hal yang bisa melewati proses ini.

Dan sekarang, saya akan menceritakan insight yang saya dapatkan…

Rasa ingin berubah menjadi pribadi yang lebih nyaman itu adalah motivasi dan tujuan pertama saya. Awalnya, saya pikir ini adalah sesuatu yang tidak terlalu sulit, saya cukup mendefinisikan seperti apa sesungguhnya diri saya dan menerimanya. At that time, saya pikir semua itu sederhana saja, sesederhana bahwa saya seorang introvert dengan segala sikap dan pandangannya yang harus saya terima. Dimana, ternyata saya sama sekali salah! Yes, I am an introversion, tapi saya juga memiliki dorongan yang begitu kuat untuk mengaktualisasikan diri ke dunia luar. Saya ingin suara saya didengar, dan itu tentu bukan dengan cara menerima saja sifat pendiam saya. Itulah yang membuat semuanya tidak sesederhana, "Ya, saya seorang introvert, it's OK to be quiet and a lot silence…" Itu yang membuat 'diam' dan berusaha untuk 'tampil' itu sama menyiksanya bagi saya.

That's why I saythat being me is so complicated… Tapi, menyerah bukanlah sifat saya! Saya menolak untuk menyerah begitu saja… Saya yakin, mengekspresikan diri dengan kondisi saya yang (sebut saja) cukup ekstrim introvert, bukanlah hal yang mustahil. Jika ini hal yang sulit, maka saya akan menjadi bukti nyata bahwa hal ini bisa dilakukan…

Dan kemudian, mulailah saya berusaha lebih banyak bicara. Mulai dengan kegiatan pada malam hari menulis topik apa yang akan bicarakan dengan teman A, B dan seterusnya. Yes, little silly maybe, tapi cara ini sangat membantu saya yang sangat tidak spontan. Termasuk juga, jika ingin bertanya atau berbicara di depan kelas, harus saya tulis dulu. Ini masih saya lakukan sampai memasuki semester 8 pada saat KKN lho, saya ingat betul, waktu itu saya menyiapkan catatan untuk berbicara pada seorang teman saya dalam rangka ala-ala konsultasi psikologis.

Siang harinya, atau pada saat harus berinteraksi, itulah 'medan peperangan' saya. Saya harus terus mengingatkan diri saya sendiri, "Harus maju! Harus ngomong! Persetan akan kelihatan konyol atau apa! Hidup cuma sekali, ambil risikomu untuk maju…" Berdamai dengan rasa dag-dig-dug setiap kali mau ngomong… Juga berdamai dengan rasa, "Aduh, kayaknya aku salah ngomong deh. Kayaknya tadi aku kelihatan konyol. Bla-bla-bla…" Pokoknya, siang hari, bagaimana caranya saya harus maju dan maju, ngomong dan ngomong, meskipun dengan segala ganjalan dan perasaan tidak nyamannya.

Baru pada malam harinya sebelum tidur, saya melepaskan semua ganjalan itu… Karena bagaimanapun juga, ganjalan itu harus dilepaskan, atau jika tidak tanpa disadari akan mempengaruhi mood kita. Seharian, saya 'berperang', ada banyak perasaan negatif yang perlu saya lepaskan (sebut saja, "Aduh, kayaknya aku salah ngomong deh. Dia mikir apa ya… Kayaknya tadi kelihatan konyol. Bla-bla-bla…"). Caranya adalah dengan berbicara dengan diri sendiri. Dengan membayangkan kejadian yang membuat saya merasa konyol (dan sebagainya), lalu menjelaskan pada diri sendiri, "It's OK Nian, berbicara salah itu adalah yang wajar, mereka juga tidak akan hanya menilaimu dari itu saja. Yang penting niatmu baik, berusaha berbuat baik, pasti pesanmu akan tersampaikan, terlepas dari kamu merasa itu konyol atau apa…"

Begitu terus selama hitungan bulan dan (mungkin) 1 tahun. Dari awalnya, benar-benar terasa berat; hingga perlahan-lahan terasa lebih ringan, hingga bahkan saya tidak perlu melakukan refleksi di malam hari karena merasakan ada ganjalan di hati saya. Dimana itu berarti, bahwa saya telah (lebih) menerima diri saya sendiri; seorang gadis introvert dengan banyak ide dan suara yang ingin disampaikan ke dunia luar. Satu tahun itu cukup lama bukan? Apalagi untuk merasakan hal-hal yang tidak nyaman karena perubahan sebuah perilaku yang mengarah pada kepribadian. Karena itu, setuju ya, jika saya sebut, butuh tekad dan komitmen yang kuat untuk itu.

And then… kembali ke judul post ini, 'When Being You is So Complicated', yang terinspirasi dari kelas diklat yang saya ikuti. Dimana seorang rekan saya memberikan komentar, bahwa untuk menjadi leader dalam posisi yang tinggi, hanya seorang yang memiliki kecerdasan berkaitan dengan manusia (people smart) yang dominan yang akan berhasil. Yang kemudian saya tanggapi, bahwa kecerdasan berkaitan dengan manusia memang penting untuk menjadi seorang pemimpin, tapi bukan berarti hanya orang-orang yang memiliki kecerdasan dominan itu saja yang akan berhasil. Karena toh, meskipun kita sesungguhnya tidak terlalu terampil dalam hal tersebut; dengan potensi, tekad dan komitmen yang kuat, kita memiliki kemampuan untuk mempelajarinya. Yah, meskipun mungkin memang tidak akan secerdas mereka yang memiliki bakat bawaan berkaitan dengan hal tersebut, tapi cukup memadai lah. Toh, yang namanya pemimpin kan bukan hanya sekedar masalah membina relasi dan sebangsanya, tapi juga tentang menggunakan kemampuan analitisnya untuk mengambil keputusan, dan banyak hal lainnya.

So, when being you is so complicated… Saat kamu memiliki sebuah keinginan yang sepertinya bertentangan dengan dirimu. Sesungguhnya kamu punya pilihan; untuk merasionalkan keinginan itu atau berusaha mewujudkannya. Tidak ada yang salah dengan keduanya, karena itu tergantung dari diri kita sendiri. Bukan hal yang salah, jika kemudian kita menyadari bahwa suatu keinginan sungguh tidak bisa dicapai dengan modal kepribadian yang kita miliki. Atau sebaliknya, berusaha mencari jalan tengah untuk tetap mengejar mimpi itu, dan menerima jika hasilnya tidak akan sesempurna bayangan kita.

Ya, seperti saya… Yang sekarang fine-fine saja berbicara di depan banyak orang, nyanyi juga lancar; meski kadang harus sedikit merasa dag-dig-dug juga. Dan meski kadang kala merasa tidak nyaman karena tidak sempurna, saya pun bisa menerimanya. I want to express myself, I'm an introversion, so I have to accept that little guilty and anxious feeling. It's OK

"Cause in life, there's gonna be time when you feeling low. And in your mind, insecurities they seems to take control. We start to look outside ourselves for acceptance and approval. We keep forgetting that, the one thing we should know is. Don't be scared to fly alone, find a path that is your own. Life will open every door, it's in your hand, the world is yours. Don't hold back and always know all the answers you will unfold. What are you waiting for? Spread your wings and soar!"
Lagunya Christina Aguilera nih… Yang menurut interpretasi saya sangat menggambarkan bagaimana galaunya pikiran pada saat struggling menghadapi berbagai tuntutan dalam diri dan dari lingkungan. Tapi satu hal yang harus diingat, yang terpenting dari dilema itu adalah, tentukan keinginanmu dan tetap kuat untuk meraihnya.


That's all I want to say… :)

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Tuesday, March 14, 2017

Don't Let 'You' Get You

Whoa, abstrak bener nih judulnya ya… Judulnya ini terinspirasi lagunya P!nk berjudul 'Don't Let Me Get Me', yang menceritakan situasi dimana si P!nk merasa bahwa dirinya ini memiliki begitu banyak kekurangan, sehingga berharap bahwa berharap bahwa dirinya adalah orang lain…
"Don't let me get me
I'm my own worst enemy
It's bad when you annoy yourself
So irritating
Don't wanna be my friend no more
I wanna be somebody else"
Sesuatu, yang pernah terjadi pada diri saya dan dalam beberapa kesempatan masih membuat saya risih akan keberadaannya. Dia adalah diri saya, dan dia bernama sifat perfeksionis. Atau lebih tepatnya sifat perfeksionis yang akut dan cenderung mal-adaptif. 

Huhu, yeah, begitulah saya, unfortunately punya beberapa sifat ekstrim yang (awalnya) membuat saya merasa kurang nyaman dengan diri sendiri. Sesuatu yang dulu saya pikir harus ditendang jauh-jauh dari diri saya; tapi ternyata tidak bisa! The only way to move on is to deal with that part of me… Terus maju, meskipun sesekali merasakan ganjalan dalam hati, dan juga menertawakan diri sambil berkata, "Oh, I hate myself…"


Hahaha, OK, sebelum makin abstrak penjelasan saya… baiklah, akan saya ceritakan sedikit tentang sebuah sifat perfeksionis yang cenderung mal-adaptif tadi…

Tuesday, March 7, 2017

Never Underestimate a Child: Sebuah Cerita Menyapih Anak

Halo ibu-ibu… apa kabar? Adakah yang sedang bergelut dengan episode dramatis bernama menyapih anak? Jika iya, mungkin cerita saya ini bisa menjadi bahan penyemangat dan penguat hati dalam proses menyapih buah hatinya. Dua kali menyapih anak, tentu ceritanya berbeda. Bukan sekedar karena anaknya beda karakter, tapi juga pengalaman saya juga bertambah.

Cerita menyapih anak pertama bisa dibaca disini: GANESHA’S ‘BYE BYE NENEN’ MOMENT…

Dan waktu itu… 3 tahun lebih dari masa itu; saya memutuskan untuk menyapih anak kedua saya, Mahesh, yang saat itu berusia 2 tahun 3 minggu. Sebuah keputusan yang sebenarnya berat bagi saya walaupun Mahesh sudah berusia 2 tahun lebih. Namanya juga ibu melankolis… Mendengar anak saya kala itu selalu menolak setiap saya tanya, “…Adek, Adek kan sudah gede, ga usah nenen lagi ya…” jelas saya belum sampai hati untuk menyapihnya. Ya, mungkin saat ini saya masih menyusuinya, seandainya tidak mendapat panggilan mengikuti diklat selama 2 minggu lamanya. Yang 3 hari 2 malam di antaranya mengharuskan saya menginap di tenda, tanpa komunikasi dengan dunia luar. Mau tidak mau, saya harus menyiapkannya, karena Mahesh memang sudah tidak minum ASIP sejak sebulan terakhir. Dan nenen baginya lebih untuk sekedar mencari kenyamanan psikologis.


Lebih dari 1 tahun yang lalu, saya pernah mengundurkan diri dari diklat yang sama dan meminta penundaan semaksimal mungkin. Jadi, saat akhirnya dipanggil kembali, hati pun berkata bahwa saya harus berusaha kali ini. Apalagi anak saya sudah berusia 2 tahun lebih, sudah bisa disapih. Jadi, rasanya saya harus mencoba dulu, daripada begitu resisten dan langsung menolak.

Cerita tentang dilema saya sebagai ibu bekerja bisa dibaca disini: JALAN TENGAH YANG TIDAK BERTEMU

Singkat cerita, sekitar seminggu sebelum jadwal diklat, saya mulai mengajak Mahesh memasuki babak baru dalam proses menyapihnya. Karena, sesungguhnya proses sounding sudah saya lakukan sejak usianya mendekati 2 tahun. Pada saat Mahesha menyusu, seringkali saya ajak mengobrol, “Adek… Adek kan udah gede, udah mau 2 tahun umurnya… Nanti, kalo udah 2 tahun, Adek ga nenen lagi ya…” Terus dan terus, dengan variasi kata yang berbeda. Kadang saya tambahkan, “…biar Adek makin pinter, bisa sekolah kaya Kakak…” Atau, “Adek pasti bisa, duluMama, Papa, Kakak juga nenen, tapi pelan-pelan bisa kok ga nenen lagi…” dan sebagainya.

Hingga, saya ingat betul, hari itu Hari Kamis (09-02-2017), saya mulai berusaha lebih keras mengalihkan perhatiannya setiap kali ingin menyusu dengan kegiatan lain. Termasuk pada saat dia ingin tidur malam, saya menawarkannya untuk bobo gendong jalan-jalan. Awalnya, tentu dia masih saja ingin nenen yang tentu saja menguji keteguhan hati saya. Tapi dengan juga menguatkan diri, kembali lagi saya coba memberi pengertian, “Adekkita coba ya bobo-nya ga usah nenen yaMama gendong aja yuk! Adek pasti bisa! Kita coba sama-sama ya…” Dan kemudian saya menggendongnya dengan kain, mengajaknya keluar rumah melihat bulan dan cicak, hingga akhirnya dia semakin mengantuk, minta dinyanyiin dan tertidur.

Fiuhh, lega sekali Kamis malam itu acara menidurkan Mahesh berhasil kami lewati tanpa nenen. Dalam hati, tentu saja terbersit rasa haru dan sedih, serta juga rasa bangga dan kekuatan, melihat Mahesh pun berusaha menguatkan dirinya sendiri. Saya berjanji akan menguatkan diri juga dan membantu Mahesh melewati proses ini, dengan menunjukkan lebih banyak cinta dan juga konsistensi. Iya, karena seperti proses mendidik apapun, menyapih pun butuh konsistensi. Sikap kadang-kadang boleh, kadang-kadang tidak, hanya akan membingungkannya dan membuatnya lebih tersiksa karena berharap.

So? This is it? Inikah kali terakhir Mahesh menyusu? Dan jawabannya adalah ‘tidak’… Malamnya, Mahesh terbangun ingin menyusu dan dengan pertimbangan singkat, saya pun memenuhi keinginannya dengan alasan waktu itu posisi Mahesh sedang setengah sadar. Jadi, meskipun alam bawah sadarnya merekam hal ini, alam sadarnya kemungkinan besar tidak akan menyadarinya dan saya masih bisa melanjutkan penguatan esok hari. Atau sederhananya, dia ga akan ingat kejadian malam itu, tidak akan mempengaruhi pemahaman yang sudah dimilikinya saat sadar bahwa dia harus belajar untuk tidak nenen lagi. Serta juga, dari sisi saya, ini untuk mengurangi efek payudara yang penuh karena air susu yang tidak dikeluarkan. I think it’s OK for both of us

Dan benar saja, Jumat (10-02-2017) pagi dia terbangun, dia tidak serta merta meminta nenen seperti biasanya. Yang mungkin juga efek dari pujian dan semangat heboh yang kami kami berikan begitu dia membuka mata pagi itu. “Papa, Adek hebat lho! Semalem bobo-nya ga nenen lagi! Kan Adek udah gede ya…” kata saya pura-pura menceritakan kehebatan Mahesh pada papanya. And it works… Memang, Mahesh masih terucap, “Adek mau nenen…” tapi, sudah lebih mudah dialihkan pada aktivitas lain. Dan pagi itu pun, saya berangkat ke kantor tanpa sebelumnya menyusui Mahesh, alhamdulillah…

Demikian juga pada saat saya pulang kerja, Mahesh tidak lagi langsung minta nenen seperti sebelumnya. Dia sibuk mengajak saya main ini dan itu. Disitu terlihat sekali kalau dia pun berusaha untuk tidak meminta nenen, dan kalau pun akhirnya dia minta nenen, dia lebih mudah diberi pengertian, ditenangkan dan dialihkan dengan kegiatan lain. Sampai akhirnya tiba waktunya Mahesh mengantuk di malam hari tentu saja. Saat seperti ini, memang membutuhkan usaha ekstra untuk mengalihkannya dari keinginan untuk menyusu. Mahesh memang tidak sampai menangis, palingan, dia berkata, “Adek mau nenen…” beberapa kali. Namun saat saya kemudian menggendongnya, (masih dengan tema yang sama) keluar melihat bulan dan cicak, perhatiannya pun teralihkan. Lama kelamaan ngantuk, minta dinyanyiin dan tidur… Good job Le!

Nah, tantangannya adalah pagi dini harinya saat dia terbangun dan minta nenen. Waktu itu, dengan mengumpulkan semua kesadaran dan kekuatan; saya pun menggendongnya dan berkata, “Adek kan sudah gede, minum air putih aja ya… digendong sama Mama…” Yang, dia sambut dengan suara ngotot dan marah, “Adek maunya nenen!” lalu menangis. Ya, saya memakluminya, waktu terjaga di malam hari seperti ini, alam bawah sadarnya yang lebih banyak bekerja. Dan kebiasaan dan keinginan nenen tentu lebih kuat tertancap dalam ingatannya, daripada ingatan bahwa dia sudah gede dan harus berusaha untuk tidak nenen lagi.

Mahesh terus menangis, tantrum, menegangkan badannya tidak mau digendong meminta nenen. Dan dengan sedih (tapi harus kuat), saya pun berkata, “Adek, Mama juga sedih… Tapi kita harus belajar Adek… Kita pasti bisa! Adek minum air putih ya…” Terus dan terus, waktu terasa berjalan lama, hingga akhirnya dia berhenti menangis, minta air putih dan tidur dalam gendongannya. Yang ternyata semua itu hanya berlangsung selama kurang lebih 15 menit saat saya melirik ke arah jam dinding. Iya, waktu yang terasa begitu lama itu, ternyata hanya 15 menit saja. Dalam 15 menit, Mahesh bisa menenangkan dirinya, dan itu semakin membuat saya merasa yakin bahwa dia adalah anak yang hebat. Dia pun berusaha keras untuk menyapih dirinya sendiri, dan karena itu, saya pun harus lebih bersemangat meyakinkannya kalau kami berdua bisa. Semangattt!

Dan akhirnya, sejak Jumat malam itu, Mahesh resmi tidak nenen lagi hingga seterusnya. Beberapa hari berikutnya, sampai dengan sekitar 3 minggu, beberapa kali dia bilang, “Adek mau nenen…” Tapi, saat saya kemudian berkata, “Eit, Adek kan udah gede, jadi enggak nenen lagi…” dia pun tidak meminta lagi. Terkadang berkata, “Inum ai utih aja ya…” dan kemudian minum air putih. Yes, he’s my son! Saya benar-benar bangga padanya. Bangga dan terkagum-kagum! Karena sebelumnya, saya selalu berpikir bahwa proses menyapihnya akan jauh lebih sulit dari Kakaknya melihat perangainya yang ngotot-an dan sulit mendengarkan pendapat orang lain. Dalam hal ini saya jelas salah menilainya. Dia mungkin memang ngotot-an dan keras kepala, tapi (sepertinya) dia juga dibekali dengan willing yang kuat dan kesadaran untuk mengendalikan hal itu. Dia benar-benar membuktikannya dalam proses ini.

Termasuk bagaimana usahanya untuk terlelap dengan berbagai cara tanpa nenen. Kadang minta dikelonin dan baru tertidur setelah gulang-guling kesana-kemari beberapa lama. Kadang minta dinyanyiin; dari lagu Dusty sampai Skipper yang harus saya karang sendiri. Atau minta dipeluk pada saat kami sedang dalam perjalanan. Ya, baginya menyusu adalah cara untuk menenangkan diri dan tertidur; dan saat dia setuju untuk tidak nenen lagi, dia harus mencari cara baru dan beradaptasi.

Berdasarkan pengalaman saya ini salah satu insight yang saya dapatkan adalah untuk tidak sekali pun menganggap remeh kemampuan anak kita. Kadang, sebagai seorang ibu, kita memiliki begitu banyak ketakutan yang berasal dari rasa sayang yang begitu besar. Yang membawa kita takut membuatnya sedih, apalagi menyakitinya. Ketakutan itulah yang kadang membuat kita tidak memberi anak kesempatan untuk mengaktualisasikan potensinya. Untuk itu, terkadang kita harus memberinya kepercayaan, meski kita pun harus menguatkan diri untuk itu. Sebagaimana saya berusaha menguatkan diri untuk percaya bahwa Mahesh sudah besar dan bisa lepas dari nenen.

Dalam hal ini, saya pun tidak menggunakan cara seperti mengoleskan sesuatu ke puting, menempelkan plester dan sebagainya. Karena bagi saya, momen menyapih justru adalah salah satu kesempatan kita untuk mendidik anak; untuk mengendalikan keinginannya serta berkomitmen. Menurut pendapat saya; saat kita menyapih dengan ‘berbohong’, anak justru akan mengalami dilema antara keinginannya untuk menyusu dan rasa tidak suka karena putingnya terasa pahit. Sementara dengan memberikan penjelasan dan penguatan (tanpa berbohong), justru kita membantunya untuk menemukan insight dan keyakinan untuk menyapih dirinya sendiri. Jadi, ya, secara pribadi saya lebih merekomendasikan cara menyapih ini. Lebih lagi dalam pengalaman saya menyapih dua orang anak, saya membuktikan bahwa pikiran bahwa setiap anak pasti rewel, tantrum dan mati-matian menolak untuk disapih; atau bahwa proses ini akan jauh lebih berat daripada dengan menggunakan brotowali dan sebangsanya… menurut saya, itu hanya mitos! 

Demikian menurut pendapat dan pengalaman saya… Tapi tidak berarti saya tidak respek pada ibu-ibu yang memilih cara yang saya sebutkan di atas. Just another point of view, only follow it when you’re agree. If not, then respect it ;)

Nah, kemudian, untuk proses menyapih sendiri, berikut langkah-langkah yang kami lakukan:
  1. Sounding untuk memberikan pemahaman dan pengertian bahwa dia harus berpisah dengan nenen, apa alasannya, hal menyenangkan apa yang bisa dilakukan tanpa nenen, dan sebagainya. Tentu dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami anak dan jauh-jauh hari, sebelum memulai untuk mengurangi frekuensi menyusui dan sebagainya. 
  2. Pilih waktu yang tepat, yaitu waktu dimana anak cukup rileks dan stabil. Jangan menyapih saat anak menghadapi kondisi berat; seperti saat sakit, dalam perjalanan jauh, pindah rumah, ganti pengasuh, dan sebagainya. 
  3. Beri dukungan psikis. Berikan cinta dan perhatian yang lebih supaya anak merasa lebih tenang, serta percaya pada kita dan bahwa keadaan akan baik-baik saja. 
  4. Hindarkan benda-benda atau situasi-situasi yang membuatnya teringat pada momen menyusui; misalnya kamar, baju daster, dan sebagainya. 
  5. Pandai-pandai mencari kegiatan untuk mengalihkan perhatian saat anak ingin menyusu. Misalnya bermain, lihat bulan, lihat cicak, lihat burung, lihat ikan, dan sebagainya :D. 
  6. Percaya pada diri sendiri dan anak, bahwa berdua akan mampu melewati masa ini. Ingat, percaya potensi anak, never underestimate them
  7. Konsisten tapi jangan mendadak! Jangan tanpa angin tanpa hujan, tiba-tiba kita menghentikan proses menyusui. Tapi bukan berarti kemarin boleh, sekarang tidak boleh dan seterusnya; karena hanya akan menyiksa anak dan memperlama proses menyapih. 
**Whoa, nyaris 1700 kata! Saatnya kalimat penutup sebelum semua bosan membaca ocehan saya :D**

So, kira-kira itulah insight dan lesson learned apa yang saya dapatkan dari episode menyapih anak kedua saya ini. Terima-kasih sudah membaca, semoga bermanfaat… dan happy parenting ;).

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Tuesday, February 28, 2017

Padma Hotel Bandung: Hotel Termewah dengan Panorama Menakjubkan

Berbicara tentang Bandung, ada kenangan tersendiri bagi saya… Saya bukan orang Bandung, tidak sekolah di Bandung, juga baru sekali ke Bandung pada saat study tour dikala SMA. Sepertinya tidak ada yang spesial, tapi, Bandung itu tempat kekasih hati saya (a.k.a suami) kuliah dan menemukan jati diri; sehingga pada saat suatu hari dia bilang, "…kalau kamu ini kota, maka bagiku kamu itu Kota Bandung…" tanpa dijelaskan maksudnya apa, hati saya pun langsung terbang ke langit ke tujuh. Hahaha… Apalagi waktu itu, kami sedang tidak pacaran, dan baru pada tahap pendekatan, jadi makin greng lah perasaan saya saat itu.

Karena itu, saya ingin sekali suatu hari pergi ke Bandung bersama keluarga dan mengenal kota ini lebih dalam, dengan judul 'liburan'. Iya, saya ingin liburan ke Bandung, menjelajahi kota ini dan bersantai melepas lelah di hotel yang nyaman. One day, insyaallah… Sekarang mungkin masih angan-angan, tapi sekedar mencari tahu seperti apa itu Bandung dan mencari referensi hotel yang benar-benar nyaman, tentu tidak salah kan…

***

Di kalangan anak muda, Bandung dikenal sebagai kota pusat kreativitas. Di berbagai penjuru Kota Bandung, kita bisa menikmati beragam sajian kuliner unik, toko-toko pakaian anak muda berbagai gaya, bangunan-bangunan berdesain menarik, dan taman-taman cantik di dalam kota.

Bandung juga terkenal memiliki banyak jenis wisata alam. Tidak mengherankan, Bandung kini menjadi salah satu kota wisata terpopuler di Indonesia yang dikunjungi semua kalangan dari seluruh dunia.

Pesatnya perkembangan wisata di Bandung kian memudahkan para wisatawan dalam menemukan akomodasi penginapan. Ada banyak pilihan hotel di Bandung yang menawarkan berbagai fasilitas kenyamanan. 

Namun, apabila menginginkan sebuah tempat menginap termewah dengan panorama menakjubkan, kita bisa mencoba Padma Hotel Bandung.

Lokasi

Padma Hotel Bandung - Traveloka.com

Padma Hotel berada di Jalan Ranca Bentang Nomor 56–58, Ciumbuleuit, Bandung. Lokasinya yang terletak di area pegunungan membuat salah satu hotel termewah di Bandung ini jauh dari kebisingan dan polusi. Meskipun demikian, jarak Padma Hotel dari pusat Kota Bandung cukup dekat, yakni hanya sekitar 1,5 km.

Pilihan Kamar

Padma Hotel Bandung - Traveloka.com

Padma Hotel Bandung mempunyai 124 kamar yang terbagi ke dalam 6 tipe, yaitu Deluxe, Deluxe Balcony, Premier, Hillside Studio, Gallery, dan Premier Suite. Setiap kamar sudah dirancang dengan desain elegan dan modern, serta memiliki pemandangan menakjubkan berupa bukit-bukit hijau di sekitar hotel.

Sebagai hotel berbintang 5 dengan fasilitas terlengkap, Padma Hotel Bandung juga selalu memberikan pelayanan terbaik. Dengan demikian, kita bisa memperoleh kepuasan, mulai dari kebersihan, kenyamanan, makanan, dan seluruh pelayanan di Padma Hotel Bandung.

Keunikan Hotel

Padma Hotel Bandung - Traveloka.com

Salah satu keunikan hotel ini adalah nomor lantai. Jika pada umumnya nomor lantai dimulai dari bawah ke atas, sebaliknya, di Padma Hotel Bandung, kita akan menemukan lantai 1 terletak di bagian teratas bangunan. Semakin ke bawah, angka nomor lantainya pun semakin besar.

Hotel ini juga memiliki kolam renang dengan suhu yang bisa diubah. Bahkan di saat suhu udara sekitar sangat dingin, suhu air kolam bisa dinaikkan hingga 40 derajat celcius. Jadi, kita bisa menikmati sensasi relaksasi sembari memanjakan mata dengan suasana yang sangat asri.

Fasilitas Umum

Padma Hotel Bandung - Traveloka.com

Hotel termewah di Bandung yang bisa kita pesan melalui Traveloka ini menyediakan berbagai sarana dan prasarana dengan kualitas terbaik. Berikut ini beberapa fasilitas yang bisa kita nikmati selama berada di Padma Hotel Bandung.

● Restoran

Padma Hotel Bandung memiliki sebuah restoran yang berada di lantai 1 atau lantai teratas. Restoran mewah tersebut dikonsep dengan tata ruang terbuka sehingga kita dapat menikmati embusan angin sejuk dan menatap langsung pemandangan memukau dari ketinggian.

Di sana, kita juga bisa menikmati berbagai menu makanan Asia dan Eropa yang disajikan oleh para koki handal. Ada juga aneka jenis minuman segar dan hangat, serta makanan ringan untuk menemani waktu bersantai kita.

● Penitipan Anak 

Saat menghadiri acara di Padma Hotel Bandung, kita mungkin kerepotan apabila harus membawa anak. Namun, jangan khawatir. Di sana, sudah ada fasilitas penitipan anak yang bisa merawat buah hati, selama kita beraktivitas.

● Jasa Tur

Sebelum berlibur di Bandung, kita tentu perlu merencanakan berbagai hal. Kita harus mengetahui lokasi-lokasi mana saja yang bisa kita kunjungi, serta perkiraan jarak antar-lokasi untuk menentukan tujuan wisata mana yang harus didahulukan. 

Namun apabila ingin lebih praktis, kita bisa menggunakan jasa tur dari Padma Hotel Bandung. Kita bisa memilih destinasi-destinasi wisata di Bandung, seperti: Gedung Sate, Gedung Asia-Afrika, Curug Dago, Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda, Peneropong Bintang Bosscha, Kawah Putih Ciwidey, dan berbagai destinasi wisata populer lainnya.

● Fasilitas Bisnis

Selain mengakomodasi kebutuhan liburan keluarga, hotel termewah di Bandung ini juga menyediakan fasilitas untuk keperluan bisnis. Ada 8 ruangan yang bisa kita gunakan. 

Di sana, kita bisa menggelar rapat, seminar, atau pelatihan untuk para karyawan. Selain itu, pihak hotel juga bisa mengakomodasi keperluan lain, seperti pengadaan seminar kit dan penyediaan konsumsi selama acara.

Outbond

Satu lagi pengalaman liburan yang ditawarkan oleh Padma Hotel, yakni aktivitas outbond. Kita bisa menikmati serunya bermain flying fox, memanjat tebing, atau menjelajah alam di perbukitan sekitar hotel. 

Tidak hanya menyediakan perlengkapan outbond, Padma Hotel juga sudah menyiapkan para pemandu yang akan menjamin keselamatan kita dalam mengikuti kegiatan outbond.

Padma Hotel Bandung bisa menjadi pilhan kita selama berlibur di Bandung. Dengan berbagai fasilitas termewah dan terlengkap, kita bisa memesan kamar mulai harga Rp1.890.000. Dari rate-nya jelas kelihatan ya kalau ini memang sebuah hotel premium. So, next plan adalah menabung untuk bisa ke Bandung. Selamat berlibur!

Monday, February 27, 2017

Finally! New Blog Look!

Sebenarnya sudah dari lama banget, pengen make over tampilan blog. Sudah beberapa kali coba-coba ubah tampilan blog lewat template designer bawaan blogger dan tutorial yang bersliweran di internet… tapi, selalu mentok. I don’t get the look that I want dan akhirnya kembali lagi ke tampilan awal, lalu terakhir palingan ganti header dan favicon saja. Beberapa kali juga pengen ganti tema warna, tapi selalu dan selalu… sulit sekali move on dari warna pink, yang sebenarnya sudah tidak terlalu saya gandrungi lagi. **Hmm, yang namanya zona nyaman itu memang sulit ditinggalkan, even saat kita sebenarnya sudah tidak terlalu nyaman dengannya**

Warna pink blog lama yang bikin susah move on

Singkat cerita, akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa saya harus minta bantuan pada seseorang yang memang ahli coding untuk merubah tampilan blog semirip mungkin dengan keinginan saya. Dimana, hal ini sudah tidak bisa difasilitasi dengan blogger template editor alias harus ngutak-atik template HTML-nya.

Dan bertemulah saya (melalui dunia maya) dengan Mbak Handriati yang sukses me-make over beberapa blog, seperti salah satunya milik Grace Melia yang menurut saya cukup eye-catchy dan detail. **‘Cukup’ saja, karena sepertinya selera kami memang berbeda dan saya jelas sedang ingin move on dari warna pink yang menjadi tema blog mbak Grace ya… :D** And back to Mbak Handriati, akhirnya saya pun berhasil membuat appointment dengannya, setelah sempat ter-pending karena dia baru saja melahirkan. Yeay!

Next step, kemudian saya berusaha memvisualisasikan keinginan saya; yang ternyata seperti yang sudah-sudah, proses ini tidak gampang. Ada trial-and-error, karena terkadang apa yang saya pikir bagus, saat direalisasikan ternyata tidak seperti yang diharapkan. Bukan karena masalah orang yang merealisasikan gambaran saya itu, tapi saya sendiri yang gagal membayangkan hasil akhir dari imajinasi saya. Waktu itu, saya sempat ingin tema warnanya abu-abu, putih dan merah (dalam bayangan saya seperti es krim strawberry), tapi kemudian, saat kerangkanya sudah jadi, kok menurut saya ga OK, huhu… 

Cara memvisualisasikan ide yang tidak berhasil :(

Memang, biasaya jika harus mengerjakan sesuatu yang berbau desain, ya saya harus utak-atik, liat hasilnya, ubah lagi jika tidak sesuai, sampai akhirnya dapat hasil yang pas. Which is, hal ini tentu tidak mungkin dilakukan saat saya meminta orang lain untuk mengeksekusi ide saya. Ya akhirnya bolak-balik ga kelar-kelar kan… Dan saya rasa hasilnya pun tidak akan memuaskan.

So, sadar bahwa cara pertama ini kurang efisien, akhirnya saya coba memvisualisasikan imajinasi saya lewat aplikasi Microsoft Publisher; which is ga rumit dan saya bisa mendapatkan gambaran yang lebih konkret terkait warna dan tampilan. Tinggal bikin kotak-kotak untuk layout blog-nya, diberi warna, disesuaikan posisi dan juga font-nya untuk membantu merealisasikan ide saya. Dan alhamdulillah, cara ini berhasil!

Waktu itu, saya mengirimkan desain dan tema warna fixed seperti ini:


Botanical Hue from design-seeds

Winter Tones from design-seeds

Dengan modal desain saya tersebut dan pallete warna spesifik yang saya inginkan, Mbak Handriati pun merealisasikan blog impian saya. Yang, tunggu dulu, tentu tidak secepat itu, mengingat bawaan saya yang ribet dan perfeksionis :D. 

Setelah kerangka blog berbentuk, saya banyak meminta perubahan-perubahan yang sifatnya printilan dan detail sekali; misal minta font spesifik, di-bold, di tengahin, warna hurufnya apa, bentuk kolom ‘search’, kurang simetris dan sebagainya. Iyah, mata saya sepertinya memang punya fitur untuk gampang mendeteksi ‘ketidaksempurnaan’; baik sekedar celah kecil atau sesuatu yang tidak simetris :D. Dan itu mengganggu saya, jadi yah, terima-kasih Mbak Handriati, atas kesabarannya meng-handle permintaan printil-printil saya ya… Hingga akhirnya, saya benar-benar puas dengan tampilan blog ini.

Nah, template sudah, selanjutnya mulailah saya memikirkan desain header, satu elemen yang sangat besar pengaruhnya pada tampilan sebuah blog. Dan karena saya hanya bisa urun ide tapi tidak bisa merealisasikan, karena kemampuan menggambar manual maupun digital yang minimal, saya pun berniat mencari ilustrator yang style-nya sesuai keinginan saya. Waktu itu, Mbak Handriati memberikan beberapa alternatif opsi beberapa orang yang dikenalnya jago gambar. Yang akhirnya, setelah mencari dan melacak, saya ketemu dengan Mbak Puty Puar, yang pinter dan buka jasa bikin doodle lucu-lucu. Begitu liat karya Mbak Puty di instagram-nya, saya langsung jatuh cinta…

Untuk pengerjaan header ini tidak memakan waktu cukup lama, saya hanya sekali memberikan gambaran yang saya inginkan. Gambarnya saya dapat dari googling, seorang wanita yang sedang menggenggam mic dengan ekspresi sedang berpikir, yang kabel mic-nya kemudian tersambung dengan tulisan ‘Lemon Juice Story’. Yang alasannya adalah: pertama, karena saya suka bernyanyi. Dan kedua, itu menggambarkan saya mengungkapkan sebuah cerita atau pemikiran saya melalui mic-yang terhubung dengan blog ini ‘Lemon Juice Story’. Atau bisa digabungkan, bahwa blog ini adalah salah satu cara saya mengekspresikan diri… kira-kira begitu.

Lalu, kenapa lemon kok ijo, bukannya lemon itu kuning? Mbak Puty juga sempat mengkonfirmasi hal ini, “Ini lemon apa jeruk nipis?” saat saya minta digambarkan jeruk nipis, tapi judul blog-nya ‘Lemon Juice Story’. 

Hmm, jadi begini ceritanya; asal mula nama blog ini sebenarnya dari pengalaman saya menggunakan air jeruk nipis untuk mengobati jerawat yang datang dan pergi sesuka hati sejak saya menginjak bangku SMA. Jerawat yang tetap saja kembali meski saya sudah perawatan ke klinik estetika, ke dokter kulit dan bahkan ke pengobatan alternatif. Yang akhirnya, saat hamil anak pertama, karena semua itu riskan saya hentikan dan setelah membaca beberapa referensi, mencoba menggunakan air jeruk nipis; yang ternyata perlahan-lahan membantu membuat wajah saya terhindar dari jerawat. Yah, bukan terus 100% bebas jerawat setiap saat sih; pada saat stress atau mau datang bulan, jerawat itu kadang hadir; tapi masih dalam kisaran normal, tidak lagi sebesar dan sebanyak dulu. That’s the point, ordinary insight(s) from ordinary walk of life, tentang menghilangkan jerawat dengan sari jeruk nipis. Yang dalam Bahasa Inggris sebenarnya di-translate ‘lime juice’, tapi karena kurang ear catchy akhirnya saya rubah menjadi ‘lemon juice’… toh sama-sama jeruk kan :D.

Nah, waktu itu, saya mengirim gambar ini nih ke Mbak Puty:


Lalu, saya minta wajahnya disesuaikan dengan wajah saya dan tema warna sesuai pallete warna yang saya pakai untuk blog. Dan, tada! Beberapa hari kemudian outline-nya jadi, dan saya hanya meminta revisi kostum dan font yang dipakai. Dan kenapa proses ini lebih sederhana, tidak seribet membuat template blog-nya? Itu karena saya berpikir bahwa setiap artis pasti punya keunikannya sendiri. Sehingga kalau saya terlalu banyak meminta revisi apalagi soal raut muka, malahan gambar yang saya dapat kurang nyeni. Karena itulah, pada header ini, saya cuma minta revisi dua hal itu saja (kostum dan font); walaupun jujur, awalnya sempat mikir, kok wajahku ga keliatan cantik ya… hahaha :D. Tapi, terbukti kan… feeling saya benar; hasilnya setelah diberi warna benar-benar cantik, lucu, imut dan unik. I really adore it lah pokoknya!

And then finally, one day di sela-sela kesibukan saya menjalani diklat yang cukup rempong dengan tugas yang mengalir, anak yang tidurnya malam, dan saya sendiri yang akhirnya kecapekan lalu seringkali ikutan ketiduran pas ngelonin (insyaallah diceritain di blogpost berikutnya)… saya pun memasang template blog yang ‘perfectly’ coded by Mbak Handriati dan header karya Mbak Puty. Yang rasanya, fiuhh, melegakan sekali, karena rasanya takut saja, kalau pas dipasang hasilnya kacau ga seperti harapan. Seperti pengalaman dulu menggunakan Artisteer, yang ternyata tidak seperti harapan. **Padahal waktu itu aplikasi Artisteer ini bisa jadi solusi buat saya yang punya keinginan spesifik soal desain, tapi ga ngerti coding**

Setelah dipasang, iyah, masih ada beberapa penyesuaian yang saya minta; seperti diubahin warna tulisan ‘Related Posts’, troubleshooting ‘Up’, dan sebaginya. Tapi, ga banyak lagi… Cuma sedikit penyesuaian, dan… tada! This is how my blog look like! Cute, fresh, neat and compact. Just like what I want ;). So thanks once again untuk Mbak Handriati yang sudah meng-coding blog ini dan juga Mbak Puty untuk header-nya. You two are awesome!

So, bagaimana menurut teman-teman, suka dengan tampilan blog baru saya?

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Sunday, January 1, 2017

2016 in Review: Dan Titik Terang…

Malam tahun baru kali ini cukup random bagi kami. Saya dan anak-anak berada di Jogja, sementara suami berada di Lampung. Mahesh si kecil yang baru saja sembuh dari sakitnya, masih menikmati istirahatnya dengan khusuk. Iya, secara masih bayi, tak ada beda malam ini dengan malam-malam sebelumnya, dan doi pun sudah terlelap sejak pukul 20.00 tadi. Ganesh si anak TK yang tahun depan masuk SD, sudah lebih mengerti, meskipun baru sebatas di jalanan banyak penjual terompet dan kembang api; dan dia pun memilih untuk membakar 2 kotak kembang api lalu membuat kartu dengan kardusnya untuk merayakan perpindahan dari tahun ‘two thousand and sixteen’ menjadi ‘two thousand and seventeen’, sampai sekitar pukul 21.00, sampai akhirnya minta ditemenin gosok gigi dan kemudian nyusul adeknya tidur.


Si Bapak, seharian ini sepertinya sibuk dengan persiapan perayaan pergantian tahun di kantornya. Dan malam ini pasti dia melewatkan tahun 2016 dengan pesta kembang api dan printilannya di kantor, seperti tahun sebelumnya. Seems that he got the most mainstream end year party this year :D.

Sementara saya… sebenarnya tidak ada ide sama sekali ingin melakukan apa. Malam ini terasa tidak ada beda dengan malam-malam sebelumnya. Sampai akhirnya beberapa puluh menit yang lalu saat tiba-tiba pikiran melayang mengingat kejadian-kejadian di 2016 yang membuat tahun ini terasa begitu singkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bukan karena tahun ini dipenuhi dengan kebahagiaan tanpa henti, tapi karena tahun 2016 ini dipenuhi dengan kegamangan, perjuangan, keyakinan dan titik terang.

Well, here is my 2016 in review


KEGAMANGAN. Menyandang status working mother, memang adalah perkara yang umum dalam masyarakat. Namun, saya yakin, sebagian besar ibu bekerja pernah mengalami kegamangan atas perannya ini. Kegelisahan akan kemampuannya memberikan kebutuhan keluarga (terutama anak-anaknya), sementara dia harus bekerja 8 jam sehari di luar rumah. Apalagi saat sang anak menunjukkan gejala perlunya perhatian lebih, seperti berubah menjadi mudah tantrum, sulit diatur atau tidak mau sekolah. Dan kegamangan itulah yang saya rasakan di awal tahun 2016, saat Ganesh menunjukkan semua gejala yang saya sebutkan tadi. Kegamangan yang saat itu sudah membulatkan tekad kami (saya dan suami) agar saya resign untuk bisa lebih intensif mendampingi Ganesh secara fisik dan psikis. Saat itu, bahkan kami sudah menetapkan deadline untuk realisasi keputusan itu, meski akhirnya terurung karena berbagai pertimbangan menyangkut orang-orang yang kami cintai.

PERJUANGAN. Sebuah keputusan yang membuat saya benar-benar berada titik tersibuk, ter-hectic dan ter-dilema dalam hidup saya. Saat akhirnya, saya kembali masuk bekerja setelah mengambil jatah cuti besar saya selama 2 minggu untuk mempersiapkan transisi Ganesh dengan sekolah barunya. Masa selama 4 bulan yang dipenuhi warna yang random; antara mengajak Ganesh ke kantor, waktu kerja yang sempit (kerena selalu terlambat ke kantor dan ada rutinitas mengantar Ganesh ke sekolah yang memakan waktu 30 menit), tuntutan kerja yang tidak rasional (mendadak dilimpahi pekerjaan seseorang yang sebut saja mengundurkan diri), sulit konsentrasi saat kerja (yah, namanya bawa anak umur 5 tahunan, ada aja… mau pipis, minta diliatin, dsb)… 

KEYAKINAN. Semua itulah yang membuat hidup saya terasa begitu sibuk, hectic dan penuh dilema. Penuh dilema, karena saya bukanlah seorang yang merasa biasa saja dengan semua (akui saja) kinerja buruk dan ketidakprofesionalan kerja dalam masa 4 bulan itu. Sesuatu yang harus saya kuatkan untuk dijalani dengan penyemangat bahwa itu saya lakukan demi Ganesh, demi orang-orang yang saya cintai dan juga bahwa semua itu akan berakhir dengan sesuatu yang baik.

TITIK TERANG. Hingga akhirnya semua keyakinan itu menjadi nyata… perjuangan fisik dan psikis selama 4 bulan itu menghasilkan sesuatu yang baik. Dimulai dengan sikap Ganesh yang perlahan membaik dan dia begitu suka dan bersekolah di tempat barunya. Kemudian semakin baik saat Ganesh mulai masuk TK B yang dimulai pukul 07.30, sehingga saya bisa datang ke kantor dengan waktu keterlambatan yang minimal (jarak sekolah Ganesh ke kantor hanya 15 menit) dan waktu pulang pun menjadi tanggung-jawab si Bapak untuk mengantarkannya kembali ke rumah. *Oh ya, dulu Ganesh masuk siang karena waktu itu tinggal kelas siang yang ada**karena kan masuknya di tengah tahun ajaran*

Kemudian, menjadi semakin baik lagi… saat akhirnya ada tambahan personel dalam tim kami yang bisa meng-handle beberapa pekerjaan yang dilimpahkan kepada saya. Sehingga saya memiliki lebih banyak keleluasaan untuk bisa kembali memasang target kualitas dan kuantitas akan pekerjaan saya. Sehingga saya mulai merasakan kembali sebuah semangat kerja, yang sebelumnya benar-benar terkikis karena tidak adanya waktu untuk mengejar apa itu kualitas yang bagi saya adalah prestasi. Dan tanpa sebuah perasaan bisa mendapatkan sebuah prestasi itu, dunia kerja benar-benar membosankan dan stressfull!

Titik terang itu memang bukan berarti kemudian saya tidak menjalani hari-hari dengan santai, karena toh saya malah HARUS berangkat lebih pagi setiap hari. Yang itu sudah pasti diawali dengan bangun yang lebih pagi untuk menyiapkan segala printilan Ganesh dan Mahesh; sebut saja saja sarapan, makan siang, bekal sekolah, memandikan mereka dsb. sebelum akhirnya berangkat.

Yes, tiap pagi benar-benar hectic, namun kali ini hectic yang dipenuhi semangat, kebahagiaan dan tanpa dilema. Karena saya merasa bisa menjalankan peran saya sebagai ibu, istri sekaligus pekerja dengan baik. At this time, I really enjoying my life and don’t feel the urge to quit my job… Yah, jujur saja, saya akui sepertinya saya bukanlah tipe wanita yang bisa menikmati hidup sebagai ibu rumah tangga saja. Itu bukan sesuatu yang baik, juga bukan sesuatu yang buruk menurut saya, karena setiap manusia memiliki karakternya sendiri-sendiri. Tidak perlu memaksanakan sesuatu yang memang bukan diri kita tanpa sebuah alasan yang benar-benar kuat. Karena untuk merubah diri kita, memang dibutuhkan suatu momen yang benar-benar besar. For me, whatever a mother choose (to stay at home or work outside), it’s OK as long as they love their children and their children feel enough with that love… 

Keyakinan itu juga yang membuat hari-hari saya lebih menggembirakan dan tenang. Oh ya, saya tahunya anak-anak merasa puas dan sejahtera dengan perhatian yang saya berikan; ya dari ketenangan mereka secara fisik dan psikis… mereka happy di rumah dan di sekolah, perilakunya baik, menyambut saya dengan antusias saat pulang kerja, berangkat sekolah dengan semangat dan sebagainya.

So… itulah apa yang terjadi di 2016 dalam 900-an kata… Sebuah perjalanan yang alhamdulillah memberikan saya begitu banyak pelajaran, kebijaksanaan dan keyakinan baru dalam hidup saya. Semua yang saya butuhkan untuk melompat lagi lebih tinggi di tahun 2017, meraih pencapaian-pencapaian yang saya inginkan; seperti:
  1. Belajar menjahit *ini sudah fixed, karena kemarin sudah beli mesin jahit pas Harbolnas :D 
  2. Berangkat lebih pagi untuk mengantar Ganesh sekolah dan ke kantor, karena meski cuma beberapa menit, Ganesh seringkali terlambat. And that is bad for a preschooler since they need more time to adapt the learning situation. Anak kecil perlu main-main sebentar, pemanasan sebelum ‘belajar’. 
  3. Berolah-raga minimal 30 menit setiap hari supaya lebih sehat dan bugar. 
  4. Mengerjakan tugas harian dengan lebih efisien sehingga bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk menulis. Karena menulis bagi saya adalah pelampiasan akan keinginan untuk mengungkapkan diri dan menghasilkan sebuah karya. Atau singkatnya, menulis itu sesuatu yang memuaskan batin saya :D. 
  5. Belajar lebih lagi dalam mengelola emosi, supaya lebih sabar menghadapi duo ‘cocil’ (cowo kecil) yang makin banyak tingkahnya. *Menurut saya, bagaimana pun juga, anak cowo itu lebih menguras energi dan emosi* 
  6. Hmm, apalagi ya? Lainnya mungkin ditambahkan nanti sambil jalan :D 
Sementara, 5 poin di atas sudah cukup untuk memberi arah dan semangat di tahun yang baru, tahun 2017. Dengan harapan, tentu saja, saya bisa melewati tahun 2017 dengan makna yang sebaik-baiknya; pelajaran dari suka dan duka, semangat dalam mengejar sebuah impian dan juga kebahagiaan atas sebuah pencapaian. Amiin.

OK, now, it’s 1220 words already… Sudah jam 01.00 lebih juga… Dan Mahesh juga beberapa kali terbangun dan nangis kejer. Dugaan saya sih karena tadi terbangun dari tidur siang saya ga ada, padahal dia belum seberapa familiar dengan simbah dan buliknya. Semacam sedikit trauma, walaupun cuma 10 menitan saja lalu saya datang. Yah, begitulah, kadang keinginan emak untuk sedikit bersenang-senang tidak berbanding lurus dengan harapan dan keinginan anak :(. Maaf ya Le…

Nah kan, jadi ngelantur panjang lagi :D. This is itHappy new year teman-teman semua. Semoga tahun 2017 lebih baik dari pada tahun 2016 bagi kita… Amiin :).

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Monday, November 28, 2016

Mengalah untuk Menang

Sebagai seorang kakak dengan dua orang adik, ‘mengalah’ tentu bukan kata yang asing bagi saya. Setiap kali, terjadi pertengkaran yang terjadi karena kami berebut suatu barang; entah barang itu milik saya atau siapapun, ujung-ujungnya pasti saya yang disuruh mengalah. Dan itu ga enak sekali… Bahkan setelah saya beranjak remaja yang nota bene pemikiran sudah cukup matang. Menahan diri dan membiarkan hak kita diambil orang dan merasa diperlakukan tidak adil itu seringkali terasa menyebalkan.

Mengalah itu seringkali ‘makan hati’, tapi seringkali buahnya manis sekali. Dengan mengalah kita bisa menghindari banyak pertengkaran, perpecahan dan sebangsanya. Dengan mengalah, kita bisa menunjukkan kepedulian dan kasih kita pada orang yang kita cintai. Dan bahkan seorang yang mengalah adalah seorang yang terhormat karena kebesaran hatinya… Itu menurut saya sih, berikut ceritanya…


Saya ini hobi bernyanyi. Sejak dulu sekali masih kanak-kanak, hingga saat ini menginjak usia 30 tahun dan sepertinya akan terus berlanjut. Ada kepuasan tersendiri saat saya berhasil menaklukkan lagu-lagu yang menantang atau sebut saja sulit. Dan itu kenapa, selalu ada dorongan besar dalam diri saya untuk tampil di setiap kesempatan yang memungkinkan. I love to perform!

Demikian juga saat ternyata ada sebuah lomba karaoke di wilayah domisili saya (Lampung). Karena sangat memungkinkan untuk diikuti, tidak ada alasan untuk tidak berpartisipasi! Go, go, go! Dengan semangat 45 pun saya mempersiapkan diri, mulai dari nge-tune-in file karaoke sesuai suara saya, memilih kostum, dan latihan tiap hari saya jabanin… Bukan demi kemenangan sih, tapi demi kepuasan batin bahwa saya sudah menampilkan hal terbaik yang saya bisa. Prevent any possible flaws, karena memang saya perefeksionis.

Kompetisi ini memang tidak menyebutkan hadiahnya, it’s fine karena memang sifatnya lebih ke perayaan sebuah hari penting bagi perusahaan yang bergerak di bidang listrik. Dan saya pun memang tidak mempermasalahkan apa hadiahnya, karena ini murni sebuah keinginan untuk mengaktualisasikan hobi dan kemampuan yang saya rasa miliki.

I was having fun preparing all of the things for the competition… Bukan cuma persiapan pribadi saya, tapi juga dua orang peserta lain menjadi wakil dari unit kerja kami.

And it’s still fun and tolerable… selama kompetisi sampai dengan pengumuman yang menyebutkan bahwa unit kerja kami mendapatkan dua juara sekaligus; juara harapan 1 oleh seorang rekan saya dan juara 1 oleh saya sendiri… walaupun jujur saja tempat lombanya lebih mirip ruangan audisi saking sempitnya.

And then, it becomes less fun and tolerable… saat kemudian, saya mendapat informasi bahwa juara harapan 1-nya dianulir dan tidak akan diumumkan pada saat acara puncak. Dengan alasan bahwa tidak ada anggaran untuk juara ke harapan 1. Hmm, yang terlintas dalam pikiran kami (saya dan rekan juara harapan 1), “Kok segampang itu ya, menganulir secara sepihak sesuatu yang sudah diumumkan… tanpa pengumuman resmi pula…” Bagi kami para peserta, ini jelas bukan lagi menyangkut hadiah, tapi harga diri… Well, sedikit sulit dijelaskan dengan kata-kata; coba saja bayangkan, teman-teman sudah kadung senang dan cerita kemana-mana kalau menang suatu lomba, lalu tiba-tiba dianulir begitu saja… 

Sampai akhirnya ada sebuah kejadian yang menurut saya sangat fatal… Pada saat penyerahan hadiah, saya mendapat hadiah ini di depan puluhan peserta yang menghadiri acara saat itu…


Tapi, di dalamnya ini nih…


Sebuah baju lengkap dengan labelnya yang jelas tertera angka Rp. 169.900,-Kejadian yang waktu itu tidak terlalu menimbulkan perasaan macam-macam, karena saya masih berpikir bahwa mungkin itu hanya penyerahan secara simbolis dan cash-nya harus diminta kepada panitia. Saya saja yang saat itu tidak segera membuka bungkus hadiahnya sehingga tidak bisa segera mengkonfirmasikan hal ini.

Saya pikir ini hanyalah teknis pemberian hadiah yang tidak saya ketahui and it will fixed soon

Tapi ternyata saya salah, betapa kesalnya saya saat panitia yang saya hubungi pertama bilang bahwa hadiahnya berupa barang seharga Rp. 500.000,-… Whattt!!! Langsung saja saya komplain, “Maaf ya Pak, di bajunya itu masih ada labelnya Rp. 169.900,-”

Dan saya pun tentu saja tidak bisa terima penjelasan ini… Lalu bertanya kepada panitia lain, yang akhirnya dijawab, bahwa itu kesalahan teknis. Bahwa tulisan di pembungkus hadiah itu adalah cetakan lama. Bahwa awalnya memang akan diberikan hadiah senilai itu, tapi manajemen berubah pikiran… and they say sorry… That’s all

Puas? Tentu saja belum… Sesungguhnya saya ingin memastikan bahwa kejadian ini sampai ke ketua panitia atau penanggung-jawabnya. Saya sebenarnya menuntut ada pengumuman resmi bahwa ada kesalahan pemberian hadiah. Atau paling tidak ada permintaan maaf yang lebih manusiawi, dari sekedar melalui whatsapp. Dan saya menunggu semua itu selama seminggu penuh…

Tapi, selama seminggu penuh, sama sekali tidak ada kabar… paling tidak apa tanggapan dari ketua panitia atau penanggung-jawabnya. Sungguh saya kesal, ingin rasanya mengembalikan hadiah yang mereka berikan, lengkap dengan pembungkusnya… 

Tapi saya tidak melakukan itu. Saya mengalahkan ego saya akan kejadian itu. Yah, sudahlah, toh mereka saya anggap masih saudara atas dasar hubungan kerja profesional kami. Meski, jujur, saya tidak habis pikir, bagaimana mereka bisa mengorbankan sebuah reputasi dalam permasalahan ini. Mengapa mereka tidak mempertimbangkan nama baik mereka yang mungkin akan semakin buruk atas kejadian ini? Kalau saya jadi mereka, saya tidak akan semudah itu dan sesepele itu menanggapi permasalahan menyangkut kepercayaan semacam ini. Oh really, kamu tidak berpikir apa yang akan orang pikirkan atas peristiwa ini? Bisa jadi lho, orang berpikir ini adalah sebuah kesengajaan dan karena apes saja si label lupa di lepas; atau berbagai skenario lainnya yang merugikan nama baik kalian. Walaupun sebenarnya, penjelasan dan cara meng-handle komplain kalian pun sesungguhnya sudah cukup memperburuk citra kalian.

Apa kalian pikir, saya yang dirugikan dalam permasalahan ini akan repot-repot membela nama baik kalian dengan tutup mulut atau memberikan klarifikasi bahwa ini kesalahan teknis yang harus dimaklumi?

Of course not! Saya punya hak, untuk menceritakan kejadian sebenarnya kepada teman-teman dan manajemen unit kerja saya. Sama persis seperti penjelasan yang kalian berikan, lengkap dengan buktinya. Bukan untuk memberikan hukuman, tapi untuk meminimalisir rasa diperlakukan tidak adil yang saya terima. Itu kenapa terakhir, saya bilang, “…Sebenarnya kedua belah pihak sudah dapat konsekuensinya kok… Saya udah ikhlasin…

Ya, kedua belah pihak sudah mendapat konsekuensinya. Konsekuensi untuk panitia yang melakukan kesalahan teknis namun tidak meng-handle komplain ini dengan serius adalah reputasi yang memburuk; di mata orang-orang yang mengetahui kejadian ini. Dan yang terpenting adalah di mata saya…

Dan konsekuensi untuk saya adalah… Saya merasa bangga dengan diri saya sendiri, karena saya adalah si tangan di atas yang memaafkan keteledoran mereka, bahkan saat mereka tidak serius merasa bersalah. Dalam kejadian ini, saya merasa adalah orang yang lebih berkelas dari mereka. Dan saat harus bertemu, berpapasan atau berhubungan dengan mereka; saya adalah seorang yang pantas membusungkan dada, terlepas dari mereka merasa sebaliknya atau tidak. 

Saya benar-benar merasakan semua itu pada saat situasi mempertemukan kami kembali… Aaah, untung saja saya memilih untuk mengalah dan menurunkan ego saya. Karena jika tidak, mungkin sayalah yang berada pada posisi mereka. Siapa yang tahu bahwa mereka justru menganggap saya hanya meributkan uang 500 ribu? Tidak bisa memaklumi kesalahan, ribet dan sebagainya… meskipun saya memang berhak untuk itu… Dengan mengalah, jelas saya menutup kemungkinan itu. Saya memenangkan situasi ini dengan mengalah…

Jadi teman-teman, pelajaran yang saya dapat dari peristiwa ini adalah pada saat kita diperlakukan tidak adil dan dirugikan, tetap utamakan untuk menyampaikan komplain with manner; dengan tata krama yang seharusnya. Jangan biarkan kita justru mendapat kerugian yang lebih besar dengan mengorbankan reputasi kita dengan tindakan yang kasar secara sikap dan verbal. Dan jika pihak yang berseberangan dengan kita adalah rekan kerja atau pihak yang akan sering berhubungan dengan kita, mengalah adalah tindakan yang bijak. Karena hal ini justru akan menaikkan reputasi kita satu level di atas mereka. Dan hal ini tentu akan sangat menguntungkan saat kita harus berinteraksi dengan mereka, karena kita akan merasa lebih percaya diri serta terhormat. Dan mereka pun (mungkin) tidak kehilangan rasa simpati dan hormatnya pada kita.

Iyah, paling tidak itu menurut pengalaman dan pendapat saya… Dan tentu saja, ini dalam kasus yang masih dalam ambang batas toleransi. Mungkin lain cerita kalau ini adalah sebuah lomba tingkat regional yang diumumkan lewat media massa, dengan hadiah jutaan rupiah, haha :D. Pasti saya akan terima begitu saja dengan penjelasan dan permintaan maaf seperti itu.

Bagaimana menurut teman-teman? 

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Monday, November 21, 2016

Tips Belanja Online ala-ala Smart Shopper

Sebelumnya maaf ya… kalo judulnya dirasa sedikit sombong :D. Tapi, maksudnya bukan seperti itu kok… ‘Belanja Online ala Smart Shopper’, semata-mata ingin mengisyaratkan bahwa belanja online pun perlu strategi tertentu; supaya mendapatkan barang yang berkualitas setinggi-tingginya, dengan harga yang sehemat-hematnya… Sebagaimana prinsip smart shopper ala saya… *Tapi akhirnya judulnya diganti jadi ‘Belanja Online ala-ala Smart Shopper’ deh karena ga pede, hihi :D

Saya ini suka… suka banget belanja online… Kalau sedang kumat, seminggu bisa dua paket belanjaan saya terima…

Dan suatu hari security di kantor sampai nyeletuk, “Ibu belanjanya banyak ya…”

Lalu beberapa teman (sepertinya) pun memperhatikan kebiasaan saya ini, karena beberapa teman suka menyindir dengan kata-kata, “Belanja apa lagi?”; “Belanja terus deh…” dll.

Dan yang paling parah nih komentar suami yang bilang, “Aku doain deh, itu toko online bangkrut biar Mama ga bisa belanja lagi!”


Baiklah, walaupun saya bukan artis, tapi pengen juga klarifikasi sekaligus bercerita tentang pengalaman saya berbelanja online, terutama untuk barang fashion. Yang benar-benar solutif untuk ibu beranak cowok dua yang lasak bukan main. Yang bekerja full time 5 hari seminggu dari Senin sampai Jumat. Yang rumahnya jauh dari kota dan pusat perbelanjaan dan kantor, jadi susah untuk mampir-mampir setelah jam kerja dan juga butuh effort tersendiri untuk benar-benar meluangkan waktu untuk belanja. Yang karena segala ke-riweuh-an itu, mencari baju di mall dan toko konvensional lainnya itu tidak lagi terasa menyenangkan dan memuaskan. Ya gimana mau memuaskan, rasanya serba terburu-buru, padahal saya butuh membandingkan baju A dengan baju B, dan toko X dengan toko Y.

Beberapa orang mungkin tidak terlalu memilih untuk berbelanja barang fashion secara online karena beberapa alasan, misalnya:
  1. Pendapat bahwa belanja online itu mahal ditambah dengan adanya ongkos kirim,
  2. Tidak bisa memegang dan merasakan bahan baju-tas-sepatu dan sebagainya,
  3. Takut tidak pas dipakai,
  4. Takut tertipu; sudah bayar, tapi barang tidak dikirim.
Ketakutan-ketakutan yang sebenarnya bisa disiasati supaya tidak menjadi kenyataan atau paling tidak diminimalisir, sehingga bahkan belanja online bisa lebih menguntungkan dari sisi waktu, tenaga dan juga materi. Ya, kalau belanja online kan kita tidak perlu dandan, naik kendaraan, muter-muter di toko atau mall, menyediakan anggaran untuk makan di luar jika kelaparan dan sebagainya. Juga tidak perlu bingung dan ribet saat krucil yang diajak punya tujuan dan kesibukan sendiri…

Sedangkan untuk kelemahan-kelemahan yang mungkin timbul karena memang kita tidak bertemu langsung dengan pembeli dan juga tidak bisa melihat-mencoba barang yang akan kita beli, sebenarnya bisa diminimalkan atau bahkan ditiadakan dengan beberapa tips dan trik berikut:

[1] Pilih toko/mall online yang kredibel. Karena toko online yang kredibel akan mencantumkan harga jual sebenarnya dari suatu barang dan tidak melakukan mark up. Karena memang ada lho, mall online yang seller-nya mengelabui pembeli dengan seolah-olah memberikan diskon yang tinggi, padahal harga aslinya sudah dia mark up habis-habisan. Toko/mall online yang kredibel pastinya juga memiliki customer service yang helpful dan solutif, sehingga memudahkan kita untuk bertanya serta mengajukan komplain akan pelayanan mereka. Juga kelebihan-kelebihan lain guna memastikan pelayanannya memuaskan para customer.

[2] Pilih toko/mall online yang memberikan banyak benefit dan perlindungan pelanggan. Kemudahan pengembalian dan penukaran barang serta kemudahan tracking pesanan adalah poin penting. Demikian juga dengan validitas keterangan yang dicantumkan sebagai deskripsi produk yang ditawarkan. Sedangkan benefit lain yang menjadi nilai plus adalah gratis ongkos kirim, program poin reward, diskon bekerjasama dengan pembayaran bank tertentu dan sebagainya.

[3] Rajin membandingkan harga suatu barang pada beberapa toko online. Kenapa? Karena masing-masing toko online memiliki program diskon tersendiri. Kadang di toko A harganya normal, di toko B diskon 15%, eh di toko C bisa diskon 20%. Karena itu, saya berlangganan newsletter dari berbagai toko online untuk mendapatkan update dari program-program mereka.

[4] Sempatkan waktu untuk mencoba/mengamati baju-sepatu dari merek favorit kita di toko/mall konvensional. Setiap produsen baju pasti punya karakteristik masing-masing, yang ditentukan oleh designer dan menentukan standard ukuran, pemilihan bahan, cutting dan sebagainya. Pengalaman pribadi sih, walaupun biasa menggunakan sepatu ukuran 38, tapi pernah suatu kali membeli sepatu ukuran 38 dan kekecilan. Nah, yang seperti ini bisa diminimalkan risikonya dengan mengenali karakteristik merek itu tadi. Dan ini sekaligus alasan mengapa saya lebih suka memilih baju dengan merek tertentu, karena jaminan kepastiannya lebih tinggi.

[5] Perhatikan deskripsi barang! Seperti ukuran, bahan dan spesifikasi lainnya. Luangkan waktu untuk benar-benar mengukur badan atau kaki kita dan kemudian melakukan kroscek, apakah ukuran barang yang akan kita beli sesuai dengannya. Jangan lantas pukul rata, karena seringkali memakai ukuran ‘M’ (Medium) kemudian merasa yakin bahwa ukuran itu dipakai semua brand. Ya, terkadang standard ukuran yang digunakan berbagai brand itu berbeda.

[6] The power of wishlist's. Nah, ini nih jurus belanja online andalan saya untuk memastikan bahwa saya mendapatkan harga terbaik dari barang yang saya inginkan. Caranya sederhana saja, saya yakin banyak yang melakukan cara ini… yaitu memasukkan barang yang kita incar ke wishtlist atau ‘daftar keinginan’. Ini akan mempermudah kita untuk memantau apakah barang yang kita incar sedang diskon atau tidak. Terkadang, bahkan toko online tertentu akan memberikan notifikasi jika barang yang ada di wishlist kita sedang diskon. Jadi, tinggal window shopping, masukkan ke wishlist jika kita belum ikhlas dengan rupiah yang harus untuk kita tebus untuknya, lalu tunggu sampai harganya masuk akal menurut kita.

Nah, itulah 6 poin yang menurut pengalaman saya perlu dilakukan untuk menjamin kepuasan dan keamaan dalam belanja online. Sejauh ini, sejak mulai berbelanja online pertama kali tahun 2009, dulu pernah juga merasakan yang namanya tidak puas dengan barang yang saya beli, tapi tidak bisa dikembalikan. Tapi berbekal pengalaman, alhamdulillah (dan semoga saja), kejadian seperti itu tidak terulang lagi. Beberapa waktu lalu, bahkan saya dibuat terkagum-kagum pada saat mengembalikan baju dengan biaya yang benar-benar gratis karena toko online-nya sudah bekerjasama dengan POS.

Dan ngomong-ngomong soal diskon, teman-teman pecinta belanja online pasti tahu istilah ‘HARBOLNAS’, yaitu Hari Belanja Online Nasional. Ini adalah saat dimana toko-toko online berkolaborasi dan bersama-sama memberikan diskon besar-besaran pada tanggal 12-12 setiap tahunnya, dimulai sejak tahun 2012. Menurut pengalaman saya sih, diskonnya benar-benar menggiurkan, bahkan sampai 90% lho… Karena itu, sejak dilakukan pertama kali, saya selalu menunggu-nunggu tanggal ini. Sampai-sampai mengerem belanja beberapa bulan sebelumnya hanya untuk memastikan budget yang lebih besar untuk belanja saat HARBOLNAS :D.

Toko online yang berpartisipasi dalam event HARBOLNAS juga cukup banyak, termasuk toko online favorit saya, Zalora. Toko yang sejauh pengalaman saya sangat kredibel, serta memberikan benefit dan perlindungan pelanggan yang mumpuni. Karena itu, untuk event HARBOLNAS nanti, saya benar-benar menyiapkan wishlist saya. Siapa tahu saat HARBOLNAS nanti, yang harga 300K ke atas didiskon jadi harga dibawah 100K, hihi :D. Dan saya bisa memberikan barang-barang bagus dengan harga yang tidak kalah ‘bagus’ untuk orang-orang tercinta.

Bukan pencitraan ya… semangat belanja untuk diri sendiri memang sedang menurun karena rencana kantor yang menerapkan seragam seminggu penuh…

So, semoga tulisan ini cukup membantu (dan menghibur) teman-teman baik yang suka belanja online maupun yang tidak. Dan jangan lupa, be ready untuk HARBOLNAS ya… Jangan lewatkan juga HARBOLNAS di Zalora. Catet tanggalnya, 12-12-2016… ;)

With Love,
Nian Astiningrum
-end-