SOCIAL MEDIA

search

Tuesday, July 25, 2017

Once Upon A Time in Bali With 5 and 2 Year Old Kids...

Pernah suatu kali saya berkelakar dengan suami, "Wajar lah ya, beberapa orang memandang kita ini cukup tajir padahal sebenarnya penghasilan sama aja… Lha wong kita ini ga pernah liburan kaya orang-orang… Coba aja bayangin, ga usah ke luar negeri deh, ke luar kota aja kalo memang niatnya memang liburan, yakin deh pasti banyak keluar duit…"

Dan suami hanya nyengir…

Bukannya kepengen liburan sih, karena memang saya tidak terlalu suka traveling. Menurut saya, traveling itu ribet. Saya lebih suka ngendon di rumah atau jalan-jalan ke tempat yang dekat untuk menghabiskan hari libur. Dan suami pun sepertinya begitu. Dia tidak terlalu berhasrat untuk menghabiskan waktu untuk liburan. Baginya alasannya sepele dan tidak terbantahkan. Tidak ada waktu. Titik. Haha…

Dan begitulah waktu berjalan hingga 6 tahun pernikahan kami, tidak sekali pun benar-benar traveling untuk liburan. And we feel fine… Sampai pada suatu hari, timbul juga hasrat untuk merencanakan liburan berempat gara-gara momen Garuda Travel Fair tahun 2016. Yes, pada hari itu, di luar kebiasaan, kami bersedia berdesak-desakan untuk mencari tiket liburan pertama kami, yang akhirnya kami putuskan ke Bali.

Awalnya, kami berencana untuk berangkat pada bulan Januari, sebelum usia Mahesh 2 tahun demi menghemat tiket pesawat. Tapi karena bentrok dengan acara pernikahan sepupu, akhirnya dimundurin. Walaupun akhirnya nikahan sepupu pun kami tidak bisa hadir karena saya kena flu parah sampai harus bed rest… Dan liburan ke Bali yang direncanakan di Bulan Maret pun musti reschedule ke Bulan April karena Mahesh yang sakit, yang berarti menambah cost lagi. Sehingga harga tiket kami berasa benar-benar ga promo lagi, hiks… Kalau dipikir dari sisi materi, sebenarnya ini jadinya ga fun lagi… But it's OK lah, sekali-sekali ini kan, harus sehat semua biar bisa benar-benar dinikmati bersama.

Dan akhirnya tibalah kami di Bali 12 April 2017…


Kami menginap di The Kuta Beach Heritage Bali yang berlokasi di seberang Pantai Kuta, tepatnya di Jl. Pantai Kuta, Br. Pande Mas. Kuta, Badung 80361. Bali-Indonesia. Sebagai seorang yang (seingat saya) ga pernah merasakan hotel yang premium, hotel ini sangat reccomended menurut saya. Lokasinya yang sangat dekat dengan pantai kuta, membuat suasana terasa syahdu oleh deburan ombak, meskipun kadang terdengar juga suara alunan konser musik yang diadakan di sekitar hotel –tapi, tenang, ga sampai berisik kok.

Selain lokasi; yang paling OK dari hotel ini adalah sarapannya yang enak, bervariasi dan tempatnya di dekat kolam renang outdoor di lantai atas! Ini keren! Karena kami bisa main-main air dulu dan langsung lanjut sarapan.

Oh ya, tapi ada satu masukan untuk hotel ini, untuk pintu masuk dari belakang ada baiknya dipasang penunjuk arah. Saat datang, kami sempat cukup lama kebingungan mencari tempat check in, yang ternyata dikarenakan kami salah masuk lewat pintu belakang! Yah, seharusnya, jika itu memang pintu belakang, karena lokasinya di pinggir jalan, akan sangat membantu jika diberikan penunjuk arah tempat check in. Dah itu aja minusnya, lainnya cukup OK.

Tempat favorit anak-anak di hotel, bathup!
Dan kalau mereka sudah di sini, sibuklah saya cekrak-cekrek,
soalnya desainnya eye catchy sekali :D
Selama di Bali, setelah beristirahat semalaman, siangnya –iya, siang, karena anak-anak susah diajak buru-buru dengan segala excitement-nya– kami pun mulai petualangan kami menjelajahi Bali ke tempat-tempat berikut ini:

Bali Safari & Marine Park


Yeay! Day one, kami akhirnya memutuskan untuk ke Bali Safari & Marine Park yang berlokasi di Jl. Bypass Prof. Dr. Ida Bagus Mantra Km. 19,8, Serongga, Kec. Gianyar, Kabupaten Gianyar, Bali 80551.

Ada beberapa wahana dan atraksi yang bisa kita nikmati disini, dimana tiket bisa dibeli di masing-masing wahana/atraksi. Di sini, kami bersenang-senang dengan cara:
  • Memberi makan gajah! Jadi, disana kita bisa membeli makanan gajah dan memberikannya dengan dipandu oleh mbak dan mas pawang gajahnya.
  • Mengelilingi taman safari dengan mobil. Ini pertama kalinya kami berwisata seperti ini, jadi rasanya benar-benar seru; melihat binatang-binatang bebas di area yang luas, sampai sempat berhenti untuk menunggu seekor gajah lewat. Lalu heboh pada saat mobil melewati  semacam kolam berair dan tentu saja excited dengan binatang-binatang yang ada di sana.
  • Berfoto dengan gorila! Tentu saja dengan bantuan mbak dan mas pawang di sana. Ambil fotonya juga bayar, tapi it's OK, kan untuk pengelolaan binatangnya juga.
  • Melihat atraksi hewan terlatih. Waktu itu, atraksi yang kami lihat adalah atraksi burung elang.
  • Melihat ikan dan hewan air dalam akuarium. Yang spesial sebenarnya adalah atraksi memberi makan ikan piranha, yang kami lewatkan, karena anak-anak sudah kecapekan. Yes, anak-anak tidak bisa ditawar, jadi marilah kita pulang…
Ubud Monkey Forest


Di hari kedua, kami memilih Ubud Monkey Forest yang berlokasi di Jl. Monkey Forest, Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali 80571 sebagai tujuan.

Di sepanjang jalan dari parkiran menuju lokasi, kanan-kiri terdapat berbagai macam restaurant dan tempat makan, yang rata-rata bercita-rasa bule. Sehingga kami menyimpulkan bahwa tempat ini lebih banyak dikunjungi wisatawan asing daripada lokal.

Dan benar saja, sampai di sana mayoritas pengunjung adalah turis asing. Tapi, meskipun bukan bule, saya suka tempat ini! Suasananya hutan banget! Cuma, bagian agak ngerinya adalah saat ada monyet yang mendekat dan mau mengobrak-abrik kantong bagian bawah stroller Mahesh! Padahal ya, kami sudah mengindahkan peringatan yang diberikan dengan tidak membawa makanan ke dalam area. Eh, ternyata, monyet-monyet ini mengincar botol air mineral yang kami taruh disana 😅.

Di sini kami bersenang-senang dengan cara:
  • Berpetualang menjelajahi hutan dan kuil kuno ala-ala film juglebook. Beneran mirip! Karena disini kan ada monyetnya juga, jadi serasa berada di area monkey temple gitu.
  • Memberi makan monyet –tentu saja dengan makanan yang bisa dibeli di lokasi– tapi dilarang ya memberi makan monyet dengan makanan dari luar, untuk menjaga kesehatan monyet-monyet disana.
  • Menikmati kuliner bule yang ada di sepanjang jalan dari parkiran menuju lokasi. Tapi ini musti hati-hati, perlu tanya dulu apakah halal atau tidak.
Bulih Bali Turtle Park


Hari ketiga, setelah menimbang beberapa alternatif, akhirnya kami memutuskan berkunjung ke Pulau Penyu di Tanjung Benoa. Untuk mencapai lokasi Pulau Penyu, kami harus menyewa kapal boot yang akan mengantar kami berangkat dan pulang kembali dari pulau.

Di sana, kami bersenang-senang dengan cara:
  • Naik kapal boot menuju pulau penangkaran penyu yang cukup seru karena kecepatan dan air yang terciprat-ciprat ke arah kami, lalu makan ikan –bukan penyu ya– dengan roti yang sudah disediakan oleh penyewa.
  • Melihat dan berfoto dengan penyu yang super besar –walaupun kami ragu juga, apakah dia tidak merasa terganggu karena berkali-kali diangkat ke tepi pantai.
  • Melihat hewan-hewan lain seperti burung yang juga dipelihara disana.
Sebenarnya, secara pribadi ada hal yang kurang saya sukai dari tempat ini; pertama perlakuan pada hewan yang menurut saya kurang lembut dan hewan-hewan selain penyu yang kandangnya kurang terawat. Dan kedua, karena pengelolaan dan pelayanannya yang kurang profesional. Jadi pada saat datang ada guide yang mengantar kami menjelajahi area, yang bukannya tidak ramah atau baik, guide-nya baik, cuma kesannya terburu-buru dan grusah-grusuh.

Well, semoga suatu hari kesini lagi, tempat ini jauh-jauh lebih baik…

Pantai Pandawa


Masih di hari ketiga, sorenya bertolak dari Pulau Penyu, kami langsung menuju Pantai Pandawa yang berlokasi di Jl. Pantai Pandawa, Nusa Dua, Kutuh, Kuta Sel., Kabupaten Badung, Bali 80361. Awalnya saya kurang ngeh kenapa pantai ini diberi nama Pandawa, namun saat memperhatikan jalan menuju pantai di tepi gunung batu yang diukir membentuk tokoh Pandawa Lima, baru saya tahu. Patung ini sendiri sepertinya baru dibuat alias bukan peninggalan kuno, yup, tempat wisata ini memang tergolong baru!


Yang paling menyenangkan dari pantai ini adalah ombaknya yang relatif aman karena adanya tanggul yang sengaja dibuat. Karena itu, anak-anak pun bisa bermain kano dan berenang di tempat ini, dengan tentu saja tetap di bawah pengawasan orang dewasa.

Dan di sini, kami bersenang-senang dengan cara:
  • Bermain air di pinggir pantai! Klise sih, tapi tetap saja menyenangkan! Apalagi saat si Mahesh memang susah bener dirayu untuk main agak ke tengah. Jadilah kami main air di pinggir pantai sambil menunggu papa dan kakaknya pulang main kano.
  • Main kano! Karena pantainya memang kondusif, banyak pengunjung yang bermain kano yang disewakan disini.
  • Foto-foto dan menikmati langit sore yang indah pada saat pengunjung mulai berangsur pulang… Liat deh warna langitnya, gradasi biru, pink dan putihnya enak banget dilihat.

3D Art Museum DMZ Bali


Nah, hari terakhir di Bali, sebelum berangkat ke bandara untuk kembali ke Lampung, kami mampir ke 3D Art Museum DMZ Bali yang berlokasi di Jl. Nakula No.33X, Legian, Kuta, Kabupaten Badung, Bali 80361. Yang baru saat membuat tulisan ini, saya tahu ternyata adalah (semacam) franchise dari wahana yang sama di Korea.

Gambar 3D di sini bagus! –Tapi ini review dari seorang yang belum pernah ke museum serupa sebelumnya sih–

Di sini, kita bisa berfoto dengan berbagai latar gambar 3D yang membuat hasil foto kita benar-benar nyata –background terlihat nyata–.

Kami cukup excited dengan gambar 3D yang disajikan, meski kurang bisa menikmati karena berkali-kali Ganesh kabur! Hingga kami terpaksa perang urat saraf dengannya setiap kali dia menghilang dengan alasan bosan. Dasar bocah kinestetik, susah bener disuruh diem! 😤


Dan disini, kami bersenang-senang dengan cara:
  • Menikmati gambar 3D yang ada!
  • Berfoto dengan latar belakang gambar 3D tersebut! Untuk hal ini, di setiap scene ada panduan foto dan juga mbak-mbak yang dengan senang hati membantu mengarahkan dan mengambilkan foto untuk kami.
  • That's it. Wahana ini memang tidak butuh waktu lama untuk dieksplore, cukup sekedar mampir dan sebentar kemudian… selesai!
Selain ke tempat-tempat wisata ini, kami sempat juga mampir ke rumah saudara sepupu yang tinggal di Bali. Sebentar sih, tapi lumayan lah buat ngobatin kangen… Sempat juga mampir ke galeri lukisan, yang setelah kebingungan panjang, akhirnya ada juga yang dibeli. Bukan karena tidak ada yang bagus, justru karena bagus-bagus, tapi juga terasa mahal bagi kami yang sejujurnya bukan konsumen seni. Oleh bli yang mendampingi kami, sebenarnya sudah dibilang kalau kami boleh menawar, cuma, karena merasa ga ngerti seni, takut mau nawarnya… takut kurang menghargai seni gitu…


Total empat hari kami berada di Bali bersama dua anak berusia 5 dan 2 tahun, hanya lima tempat wisata yang bisa kami kunjungi dan hampir kesemuanya berbau binatang dan main air. Bukan tanpa alasan, tentu saja semuanya demi semua bisa menikmati liburan kali ini. Karena menurut perkiraan kami, anak-anak tidak akan terlalu tertarik dengan wisata semacam pura, melihat tari-tarian, dan sebagainya. Dan benar bukan, di tempat terakhir yang kami kunjungi, rasanya benar-benar effortful untuk membuat anak-anak mau foto-foto sesuai keinginan kami. Karena sukanya mereka di tempat seperti ini ya lari-larian 😂.

Dan finally, sebagai kali pertama kami liburan bersama, berikut adalah hal-hal yang kami rasa perlu diperhatikan saat akan mengajak anak-anak (di bawah 5 tahun) liburan bersama:
  • Persiapkan mental, setel kendo, jangan terlalu strict pada target… Namanya anak-anak, ada banyak kemungkinan waktu yang dibutuhkan untuk segala hal menjadi lebih lama dari perkiraan. Diajak bangun susah, diajak tidur susah, diajak mandi susah, diajak udahan mandinya juga susah. Belum lagi jika baru lanjut dari suatu tempat, kemudian minta pipis, sehingga perlu melambatkan kendaraan mencari SPBU terdekat… dan banyak lagi. Just be prepared for that…
  • Pilih tujuan wisata yang menyenangkan bagi anak. Karena, tentu saja kita ingin anak-anak juga menikmati liburan bukan? Selain, kalau anak-anak tidak tertarik dengan tempat tertentu, mereka cenderung bosan, kurang kooperatif dan akhirnya kita juga bete sendiri. Dan kalau dalam cerita kami, itu tidak jauh dari yang namanya binatang-binatang dan main air…
  • Di setiap pemberhentian, ajak anak-anak pipis… Lebih baik kosongkan tangki, dari pada harus dikeluarkan pada saat-saat yang kurang tepat; misalnya di jalan yang macet dan sebagainya.
  • Kondisikan anak-anak untuk tidur tepat waktu. Karena jika tidak, kita akan lebih sulit menyusun agenda hari berikutnya. Coba saja bayangkan, begitu bangun siang, acara persiapan akan menjadi lebih lama, bisa jadi pantai sudah jadi panas, kebun binatang sudah jadi ramai, dan sebagainya.
  • Bawa baju ganti, obat-obatan, susu dan keperluan anak lainnya. Ini standard sih…
Sudah, itu saja catatan kami dalam perjalanan ini. Dan semoga nanti akan ada kesempatan lagi untuk liburan bersama, lebih baik daripada liburan tahun ini. Amin.

That's it… bagaimana dengan teman-teman? Memiliki cerita liburan seru bersama anak juga?

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Monday, July 10, 2017

Ganesha's First Innocence Lie

Pada suatu hari…

"Anesh… Anesh tahu enggak kenapa headset Papa ini miring?" pada suatu hari suami saya bertanya pada Ganesh dengan serius sambil memperlihatkan colokan headset yang terlihat miring karena kena panas sehingga plastiknya terkena panas.

Ganesh kemudian tampak memperhatikan headset yang dimaksud suami saya sejenak dan kembali mengalihkan perhatiannya pada hal lain. 

"Anesh panasin headset Papa pake korek enggak?" lanjut suami saya bertanya, karena beberapa hari terakhir Ganesh memang terlihat asyik bermain dengan korek gas. **Iya, ini bahaya, dan kami beberapa kali memperingatkannya** 

Kemudian Ganesh tampak terdiam, lalu menjawab, "Iya. Anesh panasin pake api di kompor…" Dan kami hanya berpandangan… 

"Anesh, lalu kalo mainan Dusty kemarin sebenarnya keinjek atau digunting sih sama Anesh?" Lanjut saya bertanya pada kasus lain, dimana sebelumnya Ganesh mengaku bahwa mainan Dusty (dari film Planes) miliknya patah rodanya karena terinjak, sementara dua pengasuh kami bilang kalau itu digunting oleh Ganesh. 

Sejenak Ganesh kembali terdiam, kemudian menjawab, "Iya, Anesh gunting…" sambil nyengir ke arah saya. ***


Pada hari yang lain… Ganesh saya beri tugas untuk mengantarkan kado untuk seorang temannya yang berulang tahun. Detail tugasnya adalah,

"Anesh ketok pintu rumah Aurel ya… bilang sama om atau tante yang bukain pintu, kalo Anesh mau ketemu Aurel… terus kasih deh kadonya… Atau, kalau Aurel-nya ga ada, Anesh titipin ke om atau tante di rumah Aurel… bilang, ini kado buat Aurel sama Dave…"

Well, saya tahu… Ganesh sebenarnya segan melakukan tugas ini, karena beberapa kali dia bolak-balik lagi ke rumah. Katanya malu! Tapi, terus saya dorong hingga akhirnya dia kembali ke rumah tanpa kadonya, yang ternyata dia tinggal saja di depan rumah Aurel. Lalu saya dorong lagi, hingga kemudian dia pulang tanpa kadonya…

Saya pun bertanya untuk memastikan,

"Anesh, kadonya sudah dikasih?"

"Udah…" jawabnya.

"Dikasih sama siapa?"

"Anesh taruh di depan rumah Aurel" jawabnya.

"Anesh, kalo Anesh taroh di depan rumah aja, Aurel-nya mana tau kalo itu dari Anesh…"

Well, sebenarnya saya sudah kasih tulisan di kadonya sih, saya memintanya memberikan kadonya pada Aurel atau papa-mamanya langsung untuk mengajarinya (sebut saja) bersosialisasi dan bersopan-santun.

"Anesh balik kesana lagi ya… Anesh ketok pintu rumah Aurel, lalu kasih kadonya sama Aurel atau papa-mamanya… siapa aja deh yang bukain pintu… Bilang kalau kadonya untuk Aurel dan Dave…"

Dan setelah sesi memotivasi yang panjang, disertai sedikit pemaksaan akhirnya Ganesh mau kembali ke rumah Aurel untuk menyerahkan langsung kadonya.

Beberapa saat kemudian, dia kembali pulang ke rumah…

"Udah Anesh ketok pintunya? Terus sama siapa Anesh kasih kadonya?" Tanya saya.

"Udah. Anesh kasih sama Papa Aurel. Katanya Aurel sudah tidur. Tadi mamanya ngintip aja dari jendela." Jawab Ganesh.

Hmm, mission complete! Ganesh berhasil memberikan kadonya!

Iya, saya berpikir seperti itu. Sampai akhirnya menerima whatsapp dari Mama Aurel, bilang makasih plus cerita kalo dia kaget ada bungkusan di garasi rumahnya. Yang itu berarti, 'dibohongi' lagi sama Ganesh. Saya benar-benar shock dan terpukul 😭

***

Yes, he's getting smarter! Saya benar-benar tidak menyangka Ganesh bisa mengarang cerita yang sedemikian lengkap! Dia sudah bisa mengarang sebuah cerita yang cukup kompleks dan masuk akal, dia bisa menggabungkan antara imajinasi dan logika untuk membuat mamanya percaya.

Literally, Ganesh memang berbohong. Sesuai definisi berbohong sebagai sebuah usaha untuk membuat seseorang mempercayai sesuatu yang tidak benar. Yes he did it! Tapi saya yakin bahwa dia tidak bermaksud seperti itu, saya yakin bahkan dia belum paham sudut pandang moral dari perilaku berbohong. Itu kenapa saya sebut itu 'innocence lie'… Ganesha's first innocence lie…

Sebagai seorang anak-anak, konsep dan pemahaman akan moralitas Ganesh belum lah matang dan kaya. Menurut penelitian beberapa ahli, sejak usia prasekolah, anak-anak mulai menilai sesuatu sebagai 'baik' dan 'buruk' melalui konsekuensi yang ditimbulkan dan juga intensi atau niat untuk melakukan tindakan tersebut. Tindakan memukul misalnya, adalah sesuatu yang buruk karena akan membuat anak lain kesakitan dan menangis. Namun, pada saat itu terjadi karena ketidaksengajaan, maka mereka akan membela diri, karena merasa tidak bersalah.

Dan hal 'berbohong' ini saya rasa memang sesuatu yang cukup unik dan perlu dijelaskan dari hati ke hati dengan anak. Kenapa? Karena anak tidak akan secara langsung bisa memahami konsekuensi buruk dari berbohong… Berbohong tidak akan membuat seseorang sakit atau menangis kan… Anak mungkin cenderung berpikir bahwa tidak ada hal yang salah dari tindakan berbohong, sampai kita bisa memberikan penjelasan yang bisa diterima anak, dan dia setuju bahwa berbohong itu adalah tindakan yang buruk.

Itu kenapa, pada awalnya saya mengira akan kesulitan menjelaskan pada Ganesh bahwa tindakan berbohong itu tidak baik. Tapi, ternyata saya salah!

Saat saya mengajaknya berbicara…

"Ganesh, sini deh…" kata saya sambil berusaha mempertahankan wajah serius dan menahan tawa.

"Kenapa mama?" Tanya Ganesh.

"Tadi barusan Mama Aurel SMS lho…" kata saya sambil memperhatikan mimik muka Ganesh. Dimana dia sepertinya belum tahu arah pembicaraan saya. "Anesh, tadi kadonya ditaruh di depan rumah Aurel kan? Bukan dikasih ke Papa Aurel?"

Dan kemudian Ganesh hanya cengar cengir sambil semakin mendekati saya…

"Anesh, itu namanya bohong… ga boleh lho…" lanjut saya berusaha memperlihatkan mimik yang semakin serius dan sedikit 'horor'.

"Emang kenapa?" tanya Ganesh polos…

"Anesh, bohong itu kan bikin orang lain sedih lho… Mama sedih lho Anesh bilang kalo kadonya sudah dikasih sama Papa Aurel padahal sama Anesh ditaruh di depan rumah aja… Anesh sedih ga, kalau misal Anesh minta tolong mama simpenin mainan Anesh di lemari, terus mama bilang 'iya', tapi ternyata mama taroh sembarangan aja?"

Ganesh terdiam.

"Anesh janji jangan bohong lagi ya sama mama… " lanjut saya sambil memeluknya, sembari juga berjanji pada diri sendiri untuk mengurangi marah-marah padanya, karena saya pikir intensitas kami marah dan mengomel padanya adalah salah satu pendorong mengapa Ganesh akhir-akhir ini suka 'berbohong'.

Saya pikir, setelah pembicaraan ini akan dibutuhkan penjelasan-penjelasan lain pada Ganesh berkaitan dengan tema 'berbohong'. Saya pikir, setelah ini dia akan masih melakukan 'kebohongan-kebohongan' karena belum benar-benar memahami bahwa berbohong adalah sesuatu yang tidak baik. Saya bahkan masih memasang kuda-kuda setiap kali Ganesh bercerita atau mengatakan sesuatu, karena berpikir bahwa dia akan 'berbohong' lagi.

Tapi, ternyata saya salah. Setelah pembicaraan itu, saya tidak lagi mendeteksi adanya kebohongan dalam perilaku Ganesh. Saya cukup yakin lah kalau Ganesh memang tidak berbohong lagi, karena kan 'bohong'-nya anak kecil itu relatif lebih mudah terdeteksi 😄.

Yah, demikianlah cerita Ganesh kali ini.

Dan dari kejadian ini, ada beberapa hal yang menjadi pembelajaran bagi kami sebagai seorang orang-tua:
  • Anak kecil, kecerdasan mereka berkembang dengan sangat-sangat pesat. Bersiaplah pada suatu saat kita akan terkaget-kaget dengan kepintaran mereka, dalam kasus kami adalah bagaimana Ganesh bisa 'berbohong' sedemikian meyakinkan. Jadi, adalah wajib kita selalu peka, waspada dan selalu update dengan informasi mengenai tumbuh-kembang anak seusia mereka. Jangan sampai lengah! 
  • Yes, anak-anak seusia Ganesh (kurang lebih 6 tahun, usia pra-sekolah) walaupun tampak telah memiliki penalaran yang baik, namun belum memilki konsep yang matang mengenai moralitas. Adapun perilaku buruk yang mungkin mereka lakukan, seringkali tidak disertai pemahaman akan dampaknya pada orang lain. Jadi, ya tugas kita sebagai orang-tua untuk memberikan pemahaman kepada mereka.
  • Saat memberikan pemahaman kepada anak pra-sekolah mengenai aspek moralitas lebih banyak sentuh pengaruh dari suatu perilaku pada orang lain, entah pada fisik atau psikis orang lain. Misalnya tindakan memukul akan membuat orang lain sakit, atau tindakan membentak akan membuat sedih orang lain. Menurut saya, konsep 'dosa' masih terlalu abstrak dan sulit mereka mengerti, jadi belum saatnya digunakan.
  • Lebih sabar… Kurangi marah-marah atau ngomel-ngomel, karena itu akan menekan mereka untuk mencari jalan pintas supaya tidak kena marah atau omel. Ya, ini sulit, kami pun merasa sangat sulit dan seringkali kelepasan. Tapi, bismillah, bisa… bisa… dan kalau gagal terus lakukan lagi dan lagi. Plus, jangan lupa minta maaf, jelaskan pada anak saat kita kelepasan marah yang sekiranya berlebihan. Stress-nya anak-anak ya salah satu sumbernya dari sana. So, finger crossed…
Kira-kira seperti itu. Apakah teman-teman punya pengalaman yang sama?

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Tuesday, April 25, 2017

Pengalaman Mengembalikan Barang di Blibli.com

Hola teman-teman, apa kabar? Semoga baik-baik saja ya… Aminn…

Sebagaimana wanita pada umumnya, berburu barang diskon adalah kepuasan tersendiri bagi saya. Jika dulu, sebelum mempunyai anak, saya masih bisa berburu diskon di berbagai pusat perbelanjaan konvensional; maka setelah memiliki anak, hal ini praktis tidak bisa saya lakukan lagi. Dan tentu saja alasannya adalah kegiatan ini terlalu banyak memakan waktu; mulai dari observasi ke berbagai toko, kemudian mencari dan mencoba ukuran yang pas (untuk baju), hingga akhirnya membeli. Hingga akhirnya saya pun beralih ke toko online untuk memuaskan kebutuhan dan hasrat saya berkaitan dengan belanja! Bukan cuma untuk barang-barang fashion, tapi juga perkakas kebutuhan rumah dan keperluan sehari-hari seperti sabun mandi 😂. Online shop really really my savior deh pokoknya… Disaat saya butuh sesuatu dan tidak bisa keluar terlalu lama, dan juga disaat saya butuh belanja sebagai refreshing di tengah hectic-nya kerja di kantor dan di rumah.

Nah, belanja online tentu bukannya tanpa risiko ya… Mulai dari risiko barang yang tidak sesuai foto dan deskripsi sampai kerusakan dalam perjalanan kita. Nah, karena itulah, ada beberapa tips belanja online yang perlu kita ikuti, dimana menurut pengalaman saya pernah saya tulis di sini: TIPS BELANJA ONLINE ALA-ALA SMART SHOPPER


Dan disini, saya ingin bercerita tentang pengalaman yang cukup mengesankan saat mengembalikan barang di Blibli.com. Well, ini saya sebut merek bukan karena ini sponsored post ya… Saya menulis ini, semata karena benar-benar merasa terbantu dengan layanan pengembalian barang Blibli.com dan juga apresiasi atas kinerja Customer Care-nya. Penasaran? Here it is the story…

Jadi, waktu itu saya memesan sebuah tempat beras dengan merek Tupper*are dari salah satu merchant di Blibli.com. Mungkin beberapa teman akan berpendapat, alangkah isengnya saya, beli Tupper*are pun pakai online segala, secara yang jualan konvensional juga banyak! Iyaa, yang jualan konvensional banyak, cuma mereka paling banter kan kasih diskon 20% dari harga katalog… Sementara ini, diskon dari merchant aja sudah lebih dari 20%, terus ditambahin diskon dari Blibli.com-nya 20% lagi, gimana ga tertarik coba? Apalagi harga tempat beras ini lumayan banget, sekitar 600 ribuan di katalog, yang kalau ga lagi diskon, kayaknya saya bakalan berpikir puluhan kali deh mau beli barang ini.

OK. Dan transaksi pun terjadi… barang dikirim tepat waktu… tapi, setelah saya cek, ternyata ada bagian yang gompel dari pesanan saya. Yang saya yakin bukan karena pengiriman, karena gompelan-nya tidak saya temukan di dalam paket pengiriman.

Hmm, whatever-lah, setelah saya pikir-pikir, mendingan saya kembalikan saja barang ini dan minta ganti produk sejenis… Atau jika tidak, mengingat belinya pada saat diskon dan hal ini tidak memungkinkan kecuali saya mau membayar kekurangan harga, di-refund juga cukup bisa saya terima.

Dan mulailah saya mencari tahu tata cara pengembalian barang di Blibli.com ini… Buka-buka aplikasi mobile-nya dan ternyata, mereka punya menu pengembalian barang melalui aplikasinya. Di sana kita tinggal memasukkan alasan pengembalian barang, deskripsi, solusi yang diharapkan, foto produk, ketersediaan dihubungi oleh customer care seperti gambar di bawah ini.


Lalu, setelah formulir dikirim, saya pun mendapatkan email dari customer care Blibli.com berisi nomor dan tata cara pengembalian produk. Setelah itu, besoknya, saya kirim deh barang tersebut lewat POS supaya gratis. Iya, Blibli.com bekerjasama dengan POS, sehingga kita tidak perlu membayar pengririman barang, padahal saat saya tanya petugas POS-nya, harga jasa pengiriman saya ini sampai 80 ribuan karena ukurannya yang besar. Dan kenapa saya iseng bertanya, karena saat itu memang sempat ingin membayar saja, karena sistem POS sedang gangguan… Yang untungnya tidak lama, sehingga saya bisa menikmati layanan gratis ini. Walaupun, menurut email yang saya terima dari Blibli.com, jika pun saya membayar, maka mereka akan mengganti ongkos kirim yang saya keluarkan.

And then… tiga hari kemudian saya mendapatkan email kembali dari Blibli.com, memberitahukan bahwa produk pengganti memiliki harga yang lebih mahal sehingga saya harus membayar kekurangannya atau jika tidak, penggantian produk akan diubah menjadi refund. Ya sudah, saya pikir jika memang tidak memungkinkan penggantian produk, ya refund saja. No problem…

Tapi, ternyata pada hari yang sama saya menerima email lagi bahwa proses penggantian produk saya sedang diproses dan akan dikirimkan segera. Lalu, saat saya cek akun saya melalui aplikasi mobile-nya; benar saja, ada history baru produk pengganti saya sedang diproses. Saya pun bertanya-tanya, apakah artinya merchant dan Blibli.com menyetujui penggantian produk saya?

Dan ternyata benar sekali! Selang beberapa hari, saya mendapatkan notifikasi resi pengiriman produk, update proses pengiriman, dan tada… akhirnya produk pengganti saya benar-benar saya terima! Kali ini packing-nya lebih kokoh dan produknya pun bebas cacat! Whoa, saya benar-benar excited dan mengapresiasi Blibli.com beserta customer care-nya. Thumbs up!

Nah, berdasarkan pengalaman retur barang (ini kali kedua saya retur barang di toko yang berbeda), hal-hal yang menurut saya penting dalam prosesnya adalah sebagai berikut:

  1. Segera setelah barang diterima, ambil foto pengemasan barang. Karena ini penting bagi pihak toko online menentukan kelayakan pengemasan yang mungkin menjadi permasalahan kerusahakan barang, jika alasan retur adalah cacat barang.
  2. Segera buka packaging, pastikan kondisi barang dan jangan dulu buang segala packaging dan pernak-pernik yang menyertai pengiriman barang. 
  3. Jika terdapat kerusakan, ambil foto kerusakan barang dimaksud sejelas mungkin.
  4. Cari informasi mengenai tata cara pengembalian barang melalui toko online tersebut. Ikuti semua langkahnya dengan benar agar proses retur barang dapat diproses secepat mungkin dan yang terpenting kita mendapatkan barang pengganti seperti yang kita inginkan.
  5. Pastikan prosedur pengembalian barang dilakukan sesegera mungkin untuk mencegah terlewatinya jangka waktu pengembalian barang.
  6. Selanjutnya sabar dan rajin memantau update proses pengembalian barang kita. Jangan sampai, melewatkan email atau telepon dari pihak toko online.
That's all… tidak terlalu ribet bukan? Yah, walaupun rasanya tidak secepat pengembalian barang langsung ke toko konvensional, tapi mengingat waktu yang sudah di-saving karena proses belanja yang tidak sudah menghemat waktu… worthed lah masih belanja online ini. Meski, ya memang harus diakui, inilah salah satu kelemahan dari online shopping, dimana proses transaksi kita relatif memerlukan waktu yang lebih lama dan bahwa kita tidak bisa memastikan produk belanjaan kita secara langsung seperti pada saat belanja di toko konvensional.

That is my sharing friends… semoga bermanfaat… 😉

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Tuesday, April 11, 2017

Membuat Bakso Sapi Sendiri!

Byuh… Selama hampir dua minggu ini Mahesh si anak kedua sakit. Tiga hari pertama demamnya, saya sudah membawanya ke dokter, dan menurut diagnosa dokter dia hanya terkena radang tenggorok dan flu saja. So, I guess, nothing to worry… Dan benar saja, hari berikutnya demamnya seharian sudah hilang dan dia sudah ceria kembali dan bermain seperti biasa. 

Amannn… itu pikir saya… Sampai hari berikutnya, ternyata dia kembali demam, datang dan pergi seiring hilangnya efek obat penurun demam, hingga tiga hari kemudian, dan saya pun kembali membawanya ke dokter…

"Ga ada gejala penyakit berat kok Bu. Yang keliatan hanya radangnya saja… Besok atau paling lambat lusa, jika demamnya tidak kunjung reda, baru kita test darah ya…" begitu penjelasan dokter kali kedua ini. "Tapi Dok, kan demamnya sejak udah lebih dari seminggu kalau dihitung dari pertama kali kemarin itu… Ya, memang sempat reda sampai dua hari sih demamnya," kata saya kemudian, karena saya pikir hari ini lah Mahesh harus test darah. "Hmm, jadi kan Adek sempat turun demamnya ya, dan ini baru hari kedua demamnya, jadi untuk pemeriksaan darah menurut saya belum urgent dilakukan… Apalagi, menurut pemeriksaan saya, Adek ini hanya radang tenggorok dan batuk pilek saja. Nah, Adek ini kan berat badannya kurang, jadi wajar jika dia gampang sakit…" begitu penjelasan dokter panjang lebar; yang membuat saya sedikit tenang, tersadar urgensinya mengembalikan berat badan Mahesh ke kisaran normal dan juga bersemangat untuk berusaha keras untuk itu!

Nah kan, kaya ga ada korelasinya dengan judulnya, 'Membuat Bakso Sapi Sendiri!' 😃

Heit, ada ya… Ada ya teman-teman… Benang merahnya adalah di bersemangat untuk menaikkan berat badan Mahesh kembali ke kisaran normal! Yes, karena keinginan itulah, akhirnya sejak hari Sabtu pun saya sudah berencana untuk membuat sesuatu olahan makanan yang kemungkinan akan disukai Mahesh, yaitu bakso sapi. 

Kenapa bakso sapi? Hmm, sebenarnya bukan karena Mahesh suka bakso sapi sih… Dan selama ini dia malah cenderung tidak terlalu tertarik dengan Bakso Sony yang dulu sering kami stok di rumah. Tapi, karena berpikir bahwa jika tekstur si bakso lebih empuk dan rasanya lebih light Mahesh akan suka… Lalu mengingat tingginya protein pada daging sapi yang jelas mendukung visi dan misi saya menaikkan berat badan Mahesh… Saya pun bertekad bulat akan mewujudkannya Sabtu ini!

"Emang kamu bisa bikin bakso Nian?" tanya seorang teman terkagum-kagum dengan niat saya. Yang lantas saya jawab, "Yaelah Mbak, tahun berapa lah ini, tinggal buka hape, keluar deh itu resep bakso dari Sabang sampai Merauke," dengan wajah serius.

Yes, ini percobaan pertama, tapi saya sangat optimis, saya akan berhasil! Cukup ikuti resep dari website yang kredibel soal masak memasak. Which is justtryandtaste.com, situs yang seringkali saya kunjungi untuk mencontek resep berbagai masakan, karena langkah-langkah dan penjelasannya yang mudah dipahami. Mbak Endang, sosok di bali JTT memang tidak diragukan lagi kredibilitas resep-resepnya, mengingat beliau sudah menghasilkan beberapa buku resep masakan dari hobi memasak dan menulisnya.

Then, back to proses membuat bakso sapi sendiri… Setelah sempat kebingungan mencari baking soda saat belanja bahan… **karena di resep dibutuhkan baking powder dan baking soda, sementara saya hanya nemu baking powder** Juga setelah kehebohan, karena saya menyalakan food processor tengah malam, yang menuai protes dari suami dan juga akhirnya Mahesh terbangun. **Saya rasa, ibu-ibu pasti tahu lah jalan pikiran saya sampai nekat memulai masak tengah malam… Yang tidak lain adalah karena menunggu anak tertidur 😅** Akhirnya, Sabtu pagi (01-04-2017) sebelum semuanya terbangun, bakso sapi buatan sendiri pun tereksekusi! Walaupun dengan kekurangan di sana sini. 

Tada… 


Akhirnya bakso sapi home made ala saya jadi juga! Kalau menurut suami saya, "Rasanya enak! Cuma mungkin karena kita terbiasa dengan tekstur bakso yang padat dan kenyal, jadi kesannya sedikit aneh…" Well, karena suami saya itu pelit kalo ngasih pujian ke istrinya, jadi saya simpulkan kalau bakso ini memang enak dan layak di-share resepnya😄. Sebagai berikut… 

Bahan:

½ kgDaging sapi giling
125 mlAir es
1 sendok makanKecap ikan
2 sendok tehGaram 
7 siungBawang putih
3 siungBawang merah
1 butirTelur
2 sendok makanTepung tapioka
2 sendok tehBaking powder
1 sendok tehGula pasir
½ sendok makanMinyak sayur
1 sendok tehMerica bubuk

Cara Membuat:
1.Haluskan bawang putih dan bawang merah bersama garam agar lebih mudah halus.
2.Campur hasil nomor 1 dengan kecap ikan, air es, telur, tepung tapioka, baking powder, gula pasir, minyak sayur dan merica bubuk secara merata.
3.Campur hasil nomor 2 dengan daging giling, uleni hingga merata, diamkan sebentar, kemudian proses dengan food processor atau blender.
4.Didihkan air, bentuk sedikit adonan dan masak hingga mengapung untuk mencoba rasa bakso setelah jadi.
5.Jika kurang asin, bisa ditambahkan kembali garam atau kecap asin yang lebih mudah tercampur. Ulangi nomor 4 untuk mencoba kembali.
6.Jika rasa bakso sudah pas, tutup baskom berisi adonan dengan plastik dan diamkan di dalam freezer selama 30 menit.
7.Didihkan cukup banyak air dalam panci yang cukup besar dengan api yang kecil sehingga tidak sampai bergolak. Kemudian masukkan adonan yang setelah dibentuk bulat* ke dalamnya hingga matang (mengambang).

Teman-teman, membentuk bakso ini ada teknik khususnya lho ternyata. Kalau saya sih dengan cara mencelupkan tangan ke air bersih, mengambil sedikit adonan, dan menggelinding-gelindingkannya pada kedua tangan hingga bentuknya cukup bulat… Which is, tidak terlalu efektif ternyata. Dan saya baru bahwa cara membentuk bakso dengan cepat adalah dengan menggenggam adonan dengan tangan yang sudah dibasahi dengan air, mengepalnya di atas panci berisi air, mengeluarkan adonan sedikit demi sedikit dan memanfaatkan sendok untuk membentuk/memotong adonan hingga menyerupai bakso.

Yes, saya baru tahu saat suami turun ke dapur, terheran-heran dengan cara saya membentuk bakso dan kemudian mempraktekkan cara ini dengan bangganya. Well, tapi saya sih sama sekali ga merasa inferior dengan cara saya membentuk bakso kok, kalau kata Ganesh, "Kan orang itu beda-beda…" Hahaha, meski harus saya akui, cara yang diajarkan suami saya, yang saya bold dan underline itu memang lebih efisien 😁.

OK, kembali ke resep bakso sapi… resep ini saya modifikasi sedikit dari resep aslinya di justtryandtaste.com karena keterbatasan alat dan bahan. Di antaranya; saya tidak menggunakan daging sapi yang digiling sendiri dengan air es, tapi menggunakan daging sapi giling. Saya juga tidak menggunakan baking soda, tapi hanya baking powder juga untuk menggantikan porsi baking soda. Dan juga, saya tidak cukup optimal mencampur adonan dengan food processor atau blender; karena food processor saya ternyata terlalu kecil dan blender  saya pun tidak cukup kuat, sehingga beberapa saat setelah digunakan berasap karena putarannya berat 😂.

Tapi, yah, dengan segala kekurangn dan kendala itu, bakso sapi saya masih dapat apresiasi dari suami kan… Yang harus digarisbawahi, orangnya rada pelit ngasih pujian ke istri… Jadi, bisa dipercaya lah ya, kalau bakso sapi saya ini memang enak 😁. So, teman-teman, jangan ragu jika ingin mencobanya ya… **Atau kalau masih ragu, silakan merujuk ke resep aslinya deh…**

Dan jangan lupa, doakan saya berhasil menaikkan berat badan Mahesh ke batas normal ya… Amiin…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Sunday, April 2, 2017

#MemesonaItu… Saat Kamu Bersinar dengan Segala Kerumitan Hidupmu

Setiap pribadi itu unik. Setiap pribadi itu rumit untuk dipahami. Terlebih bagi mereka yang merasa bahwa dirinya demikian. Dan itulah saya… Saya selalu berpikir bahwa diri saya begitu rumit, ada begitu banyak dalam diri saya bertentangan satu sama lain. Hingga bermuara pada perasaan 'buruk rupa' dan tidak puas akan diri sendiri; sebut saja merasa tidak cantik, tidak keren, tidak menarik dan banyak melakukan hal konyol…

Itu yang saya rasakan… Sementara orang di sekitar melihatnya secara sederhana, bahwa saya adalah seorang dengan sifat yang pendiam dan pemalu…

***

Saat saya kanak-kanak… masih sekelebat tersisa di ingatan bagaimana saya begitu terobsesi untuk menjadi seperti artis-artis cilik di televisi; dengan dress-dress mengembang ala princess dan juga lenggak-lenggok gayanya di atas panggung. Masih tersisa sedikit dalam ingatan saya, kegiatan pagi saya sebelum masuk bangku sekolah adalah mandi, memakai baju ala princess berwarna merah yang jarang dicuci (karena setiap hari dipakai), memakai sepatu merah, dan kemudian duduk menyilangkan kaki di atas bangku kecil, sebelum akhirnya berlenggak-lenggok menyanyi meniru artis-artis di TV.

Hihi, sedikit geli rasanya setiap kali ibu saya bercerita tentang kelakuan saya itu di masa lalu. Geli, tapi masih berlanjut ke masa sekolah, masa remaja dan bahkan hingga kini di usia saya yang ke 32 tahun! Tapi, tentu dalam wujud yang berbeda… Sejak duduk di bangku SMA hingga kuliah, obsesi ini termanifestasi dalam kegiatan rutin setiap pukul 19.00 - 20.00 di dalam kamar bertajuk 'Konser ala-ala Diva'. Saat di mana saya akan memutar album diva-diva idola saya; seperti Christina Aguilera, Celine Dion, Kelly Clarkson, Amy Lee (Evanescence), Stacie Orrico, dan sebangsanya… bernyanyi dan berusaha menaklukkan nada-nada sulit andalan mereka.

Hmm, terdengar seperti sebuah masa kanak-kanak dan remaja yang seru bukan? Tapi, bagi saya pribadi sesungguhnya lebih tepat disebut situasi yang sungguh rumit… 

Ya, saya suka bernyanyi, tapi takut jika nada-nada tinggi dan kekuatan suara saya akan terdengar terlalu keras dan mengganggu orang di sekitar saya. Saya suka tampil dan haus akan prestasi, tapi saya tidak memiliki cukup keberanian untuk menunjukkan kemampuan saya di depan umum. Saya takut penampilan saya buruk, takut grogi, takut gagal… saya takut tidak terlihat sempurna! Itu mengapa, saya lebih memilih mengunci diri di kamar atau kamar mandi untuk bernyanyi… Saya tidak memiliki keberanian untuk menunjukkan apa yang saya miliki di luar sana… 

Baiklah, sekedar hobi (atau bakat) bernyanyi yang tidak tersalurkan saja, mungkin bukan sebuah masalah besar bukan? Tapi, sayangnya hal ini pun sering kali terjadi pada banyak setting kehidupan saya yang lain. Hingga saya memutuskan mundur dari tim jurnalistik yang cukup elite semasa SMA karena takut tidak mampu. Juga pemilihan penampilan yang seadanya, tidak berani berdandan dan memakai pakaian yang sebiasa mungkin; memilih untuk terlihat se-tidak-mencolok-mungkin, karena takut terlihat aneh. Dan banyak lagi…

Poinnya adalah bahwa ada sifat yang kontradiktif dalam diri saya; yaitu sebuah keinginan untuk mengaktualisasikan diri, haus akan prestasi dan pengakuan, tapi juga ketakutan untuk berusaha mewujudkannya… Saya takut gagal. Ya, kala itu, sifat perfeksionis saya justru membuat saya demikian cemas, gelisah dan khawatir untuk melakukan banyak hal. Sehingga alih-alih bisa meraih target yang saya inginkan, yang ada adalah perasaan frustrasi dan tertekan karena begitu banyak hal yang ingin dan saya pikir bisa capai, akhirnya hanya menjadi angan-angan. Karena akhirnya saya lebih memilih untuk diam. Kalah pada ketakutan yang menguasai fisik dan mental saya. Kalah pada keringat dingin yang mengalir deras, jantung yang berdebar-debar dan tangan yang bergetar setiap kali ingin menunjukkan sesuatu yang saya pikir bisa saya lakukan dengan baik.

Karenanya, saya pun tidak kuasa membendung perasaan pesimis dan hopeless akan masa depan saya. "Apalah yang bisa saya capai dalam hidup dengan diri saya yang seperti ini? Bisakah saya menuntaskan kuliah saya dengan baik? Akankah saya mendapatkan pekerjaan untuk hidup mandiri? Dan yang terpenting, apakah selamanya saya akan hidup dalam kegelisahan seperti ini?"

Kala itu, berbagai cara telah saya lakukan demi mendapatkan kenyamanan dalam batin… Saya pernah memaksakan diri untuk menjadi seorang yang 'rame' dan suka bergaul di sekolah yang baru, demi menciptakan konsep diri yang baru yang lebih ekspresif… dan gagal. Pernah juga, berusaha meredam keinginan untuk mengaktualisasikan diri (baca: keinginan tampil dan menunjukkan kemampuan untuk memperoleh pengakuan), karena saya pikir tanpa keinginan itu, maka hidup saya akan lebih damai. Dan ini pun gagal…

Bagaimanapun juga, kedua sifat itu adalah diri saya sendiri. Bagaikan darah dan daging yang membentuk tubuh saya, tidak ada salah satu dari keduanya yang bisa dibuang atau ditiadakan. Mereka adalah bagian dari diri saya dan saya tidak punya pilihan selain tetap berjalan dengan apa pun diri saya, dengan segala karakter dan kepribadian saya… Percaya, jika Tuhan menciptakan demikian, berarti ada cara di mana saya bisa menjalani hidup saya dengan ketenteraman batin, karena Tuhan tidak mungkin bermaksud melakukan sesuatu hanya untuk membuat hidup seseorang menjadi berat. Ini bukan sesuatu yang tidak mungkin, saya hanya perlu meyakini hal ini lalu berusaha dan berusaha…

Hingga akhirnya, tanpa diduga, nasib membawa saya kuliah di Jurusan Psikologi. Yang tentu saja tidak memberikan solusi instan atas permasalahan saya, tapi memberikan begitu banyak insight tentang apa itu kepribadian, bahwa dia adalah sesuatu yang tetap (tidak akan berubah kecuali pada kasus-kasus langka) dan seperti apa kepribadian saya sesungguhnya. Mengerti bahwa bukanlah mengalahkan salah satu sifat yang saya benci, solusi dari permasalahan ini… tapi berusaha mencari jalan tengah dan berdamai dengannya. Memahami bahwa manusia dianugerahi budi pekerti untuk menentukan langkah kita dengan kepribadian itu. Serta kemampuan untuk membentuk tekad untuk mendorong dan melatih diri kita sendiri, menerima diri sembari berusaha meraih impian-impian kita. Meskipun itu terlihat sangat sulit bagi kita.

Kemudian, mulailah saya berusaha berdamai dengan diri saya sendiri. Mulai mendorong diri sendiri untuk mengekspresikan diri seperti yang saya inginkan, berkata pada diri sendiri, "Apa pun hasilnya, meski tidak seperti harapan, harus dilakukan!" Dan juga berusaha menenangkan diri sendiri saat ternyata hasil yang didapatkan benar-benar tidak seperti yang diharapkan. "Hey, apa pun hasilnya, paling tidak kamu berusaha dengan maksimal. Urusan hasilnya ternyata tidak sebaik yang kamu inginkan, kamu bisa berusaha lebih baik nanti. Hal yang paling penting dari semuanya adalah, bahwa kamu mendapatkan pelajaran dari tindakan yang kamu lakukan. It's OK…"

Terus dan terus, sampai akhirnya dalam hitungan mendekati satu tahun, perlahan-lahan, perubahan itu terjadi. Tidak, ini bukan berarti saya sama sekali tidak merasakan segala kegelisahan dan ketakutan setiap kali akan melakukan sesuatu berhubungan dengan menunjukkan kemampuan saya. Saya masih merasakan deg-degan saat akan berbicara di depan banyak orang dan sebangsanya. Tapi kali ini, saya menerima segala perasaan itu, saya cukup berdamai dengan perasaan itu, membiarkannya muncul, namun tetap tegak untuk melakukan hal yang ingin saya lakukan.

Dan selanjutnya, setelah perjalanan berdamai dengan diri sendiri itu, satu demi satu impian saya pun terwujud…

Akhirnya saya bisa menyelesaikan kuliah selama empat tahun dengan IPK yang sangat baik. Padahal dulu pada saat akan masuk pertama kali kuliah sempat menangis, karena merasa bahwa diri saya yang tidak pandai berbicara ini tidak cocok untuk berkuliah di Jurusan Psikologi yang notabene menuntut banyak interaksi sosial. Saya menangis karena merasa terjebak oleh keisengan saya sendiri memilih jurusan itu pada saat SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru).

Akhirnya saya bisa diterima bekerja di bidang Manajemen SDM (Human Resources Management/HRM) yang juga berhubungan dengan banyak orang. Sesuatu yang saya percaya cukup sulit, mengingat kemampuan komunikasi saya yang masih jauh dibandingkan saingan lainnya. Setelah belajar melalui kegagalan pada sepuluh kali tahap wawancara lainnya dalam kurun waktu kurang lebih delapan bulan.

Dan dalam kehidupan sehari-hari, akhirnya saya bisa mengekspresikan diri dan keinginan saya ke dunia luar dengan lebih leluasa. Bagi beberapa orang, ini terlihat dari penampilan fisik; yang dulunya super sembarangan, menjadi lebih berani berdandan dan feminin. Bagi beberapa lainnya, ini terlihat dari perubahan sikap menjadi lebih berani tampil dan menunjukkan bakat dan kemampuan dalam diri saya. Jika dulu, saya terlihat sangat pendiam dan pemalu; kini saya tidak segan tampil di depan umum untuk bernyanyi atau menyuarakan pendapat. Walaupun terkadang masih ada rasa takut akan hasil yang tidak sempurna dalam diri, tapi kini saya bisa berdamai dengan perasaan itu.

Menyanyi Sebagai Perwakilan Sektor dalam Acara HUT Unit Induk

Akhirnya, saya mendapatkan ketenteraman batin yang selama ini saya cari… Akhirnya saya merasa begitu memesona bagi diri dan orang di sekitar saya… Dan itu terasa begitu luar biasa!

Dalam Sebuah Presentasi Kerja di Kantor

tulah arti memesona menurut saya… Dalam perjalanan hidup kita, pasti ada masa di mana kita merasa bahwa diri atau situasi kita sangatlah rumit. Ada kalanya kita memiliki sebuah keinginan yang bertentangan dengan diri dan situasi kita, seolah kita tidak akan mampu meraihnya. Sebut saja, saat kita ingin cepat menyelesaikan kuliah, tapi terhambat rasa malas dan suka menunda-nunda waktu. Pada saat kita begitu mencintai anak kita dan ingin membahagiakannya, tapi sering kali justru melukai perasaannya karena sifat temperamental yang membuat kita sulit mengendalikan amarah. Dan banyak lagi…

Diri atau situasi rumit yang hanya bisa kita lewati dan perbaiki dengan sebuah keyakinan yang kuat, usaha yang keras dan komitmen untuk tidak menyerah yang terus kita jaga.


#MemesonaItu adalah saat di mana kita menyadari dan menerima segala diri dan situasi kita, kekurangan dan kelebihannya, berdamai dengan semua itu, berjalan ke depan untuk meraih mimpi-mimpi kita, dan menerima apa pun hasil dari usaha keras kita dengan bangga. 

Jadi, siapa pun kamu, dan bagaimana pun rumitnya diri atau situasimu, kamu bisa menjadi pribadi yang memesona… Jika kau memilih dan berkomitmen untuk itu…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #MemesonaItu

Tuesday, March 21, 2017

Aditya Car Wash & Cafe: Tempat Cuci Mobil Anti Mati Gaya

Siang itu, sepulang arisan… **saya yang arisan, ngajak anak-anak, dan suami yang antar jemput 😀** setelah awalnya berniat pulang saja, mendadak suami punya ide untuk mencuci mobil dulu. "Apa kita ke tempat cuci mobil yang waktu itu aja ya?" katanya. Dan langsung saya sambut, "Iya, ayok ke tempat waktu itu aja…" 


Beneran lho, ini suami ngajakin nyuci mobil… Dan ekspresi saya yang begitu excited itu juga bukan dibuat-buat. Tempat cuci mobil yang dimaksud suami itu memang berbeda dengan tempat cuci mobil kebanyakan. Disana, sembari menunggu mobil yang sedang dibersihkan, kita disediakan sebuah cafe dengan suasana yang begitu asri plus makanan dan minuman yang disajikan secara 'serius'!

Iya, 'serius', karena mereka begitu memperhatikan detail dari makanan dan minuman yang disajikan, baik dari segi penyajian maupun rasa. Kali pertama ke tempat ini, saya cukup amazed dengan cara mereka memotong telur rebus untuk soto secara melintang yang tidak biasa. Juga penyajian minuman yang selalu dipisahkan dari gulanya, membuat orang yang tidak terlalu suka manis seperti saya tidak kerepotan.

Ini adalah kali kedua kami mampir mencuci mobil di tempat ini; sebuah tempat cuci mobil, cafe dan guest house yang dikawinkan dengan apik bernama 'Aditya'.


Disini, kita bisa memilih untuk duduk di bagian luar atau di bagian dalam cafe. Jika memilih untuk duduk di bagian luar, maka kita akan disuguhi kesan sejuk, rindang dan asri yang begitu kental terasa. Bagian luar dihiasi dengan banyak tanaman hijau; bukan cuma yang ditanam di pot dan diletakkan di lantai, tapi juga yang berupa tanaman tempel dan gantung. Kita juga bisa menikmati lalu lalang kendaraan di jalan sambil sesekali melihat apakah mobil kita sudah selesai dicuci. Meskipun ini tidak begitu krusial, karena toh, kita akan diberitahu jika mobil kita sudah selesai dikerjakan.


Atau, jika ingin kesan yang lebih intim, kita juga bisa memilih duduk di bagian dalam yang diatur sedemikian rupa sehingga jauh dari kesan kaku… pemilihan perabot yang unik dan penataan yang detail membuat kesan santai, hangat dan intim begitu kental terasa dari cafe ini. Bagian dalam cafe juga adalah area bebas merokok, jadi kita bisa merasa lebih nyaman.


Karena suasana di dalam cafe yang demikian itu kemudian saya mengajak suami untuk duduk di dalam saja. Namun, suami mengajak duduk di luar saja dengan pertimbangan anak-anak akan lebih betah dan mudah dikendalikan daripada di dalam, hahaha 😂. Iya sih, kalau di luar mereka lebih banyak kegiatan; bisa asyik memperhatikan mobil kami yang sedang dicuci, naik-naik ke panggung yang digunakan untuk live music dan muter-muter tanpa mengganggu tamu yang lain… Dan kami pun bisa lebih santai menikmati minuman yang kami pesan. Lagi pula, waktu itu tidak ada tamu yang sedang merokok di luar, sehingga kami terganggu dengan asap rokok.


Untuk menunya sendiri, cukup bervariasi. Mulai dari Indonesian food seperti soto, Italian food semacam Spagheti sampai American food seperti aneka sandwich. Minumannya juga bervariasi, dari sekedar teh hangat, berbagai macam jus, sampai beraneka ragam es krim. Keturutan dah si Ganesh di sini, wajahnya sumringah bener dibolehin makan es krim 😄. Win-win bangetlah tempat ini, anak-anak suka, bapak-emaknya bisa santai, mobil juga jadi bersih kinclong. Yeay!

Foto dari Instagram Aditya Car Wash

Oh ya, dengan detail interiornya, tempat ini juga cocok banget lho dijadikan tempat meeting. Karena ada colokan listrik di masing-masing meja… Sederhana sih, tapi sangat dipertimbangkan untuk kegiatan-kegiatan yang membutuhkan listrik untuk sekedar charge hape atau laptop kan…

So, berminat untuk datang kesini? Silakan saja langsung ke sini, Aditya Carwash & Cafe di Jl. P. Emir M. Noer 47, TBU, Bandar Lampung dengan jam operasional car wash pukul 07.30 - 17.00 WIB. Sepertinya, untuk cafe-nya sih sampai malam, karena kami juga belum pernah datang kesini malam-malam. Untuk lebih jelasnya bisa hubungi kontak berikut 08117296559 / 089665977942.

Yeay, this is it… review pertama saya tentang suatu tempat. Semoga cukup membantu teman-teman yang ingin mencari tempat cuci mobil sekaligus refreshing di daerah Bandar Lampung ya… Terima-kasih.

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

When Being You is So Complicated

Banyak pendapat yang mengatakan, bahwa untuk bisa menjadi pribadi yang nyaman itu cukup dengan menjadi diri sendiri. Well, sesuatu yang mudah sepertinya, namun sangat sulit saya cerna… karena saya tidak mengerti siapa sebenarnya saya…

This whole post is like part 2 of previous story: DON'T LET YOU GET YOU

Hmmm… Mencari jati diri dan titik kenyamanan menjadi diri sendiri adalah sebuah pe-er dalam transisi saya dari seorang remaja menjadi seorang dewasa. Ada begitu banyak tuntuntan yang saya rasakan; dari lingkungan dan utamanya adalah dari dalam diri saya. If I simply an introversion yang lebih banyak berfokus pada perasaan dan pemikiran diri; yang seringkali tampak dari perilaku pendiam dan tertutup terhadap orang-orang yang belum dikenalnya dengan baik, serta hanya berlaku lebih sosiable pada kelompok orang yang dikenalnya… Jika demikian, maka sesungguhnya tidak ada suatu masalah yang berarti (bagi diri saya) seandainya bisa menerima hal tersebut. Seandainya saja… karena kenyataannya, saya tidak terlatih untuk itu. Sejak kecil, saya lebih diajari tentang sikap seperti apa yang disukai lingkungan, hingga tanpa sadar, itu pun menjadi tuntutan diri saya sendiri karena saya adalah seorang yang perfeksionis dan suka kompetisi. Padahal, bagaimana caranya saya bisa berenang jika saya adalah seekor burung; atau terbang saat saya adalah seekor ikan? Tanpa saya berusaha demikian keras untuk itu, merasa hopeless, dan demikian kecil karena tidak mampu…

Yah, itu hanya perumpamaan saja… Karena bagaimanapun saya berusaha untuk menjadi seorang yang supel, gampang bergaul, 'rame' dan sejenisnya; tetap saja, ganjalan itu ada. Lebih sering saya gagal dan berakhir dengan perasaan bahwa saya ini orang aneh…


Saya jelas memiliki masalah dalam mengekspresikan diri dengan perasaan semacam itu (perasaan takut gagal, takut tidak sempurna dan takut tidak bisa memenuhi ekspektasi diri dan lingkungan) di masa lalu. Situasi yang sungguh membuat frustrasi, di saat yang sama saya merasa memiliki pemikiran, ide dan kemampuan yang butuh teraktualisasi. Menurut saya, otak saya cukup encer, dan diam saat sesungguhnya ingin mengungkapkan sesuatu itu rasanya sungguh tidak nyaman. Sama tidak nyamannya saat ingin menunjukkan 'suara' saya, tapi selalu tercekat oleh ketakutan 'bagaimana jika hasilnya tidak sempurna seperti harapan saya'.

Saya seperti memiliki dua sifat yang kontradiktif… Menikmati menjadi pendiam, tapi ingin memiliki banyak teman; takut bertindak karena takut kegagalan, tapi memiliki keinginan yang begitu kuat untuk menunjukkan kemampuan… Hmm, kompleks bukan?

Well, itu dulu… Yang berlangsung cukup lama; sejak saya sangat kecil dan baru berakhir menjelang lulus kuliah. Dan beberapa orang menghubungkan itu dengan disiplin ilmu yang saya ambil, yaitu Psikologi. Hmm, ya, sekian lama belajar ilmu Psikologi memang membantu saya menemukan begitu banyak insight tentang diri saya. Tapi, jika mereka berpikir, bahwa proses ini semudah saya menjalani konsultasi psikologi dan kemudian berubah pikiran. Atau bahkan menjalani hipnosis lalu kemudian saya bisa berubah perilaku menjadi lebih ekspresif dan percaya diri… Itu jelas salah. Let me tell you once again, bahwa mengetahui lebih banyak tentang ilmu Psikologi memang membantu saya mendapatkan begitu banyak insight, tapi keputusan untuk berubah menjadi apa yang saya inginkan, diri saya yang lebih nyaman, sepenuhnya adalah tekad dan komitmen saya. Dimana sesungguhnya hal inilah yang paling berat dalam proses merubah perilaku dan pemikiran seseorang. Karena, percayalah, yang namanya proses perubahan itu selalu tidak nyaman, karena itu tekad dan komitmen yang kuat adalah satu-satunya hal yang bisa melewati proses ini.

Dan sekarang, saya akan menceritakan insight yang saya dapatkan…

Rasa ingin berubah menjadi pribadi yang lebih nyaman itu adalah motivasi dan tujuan pertama saya. Awalnya, saya pikir ini adalah sesuatu yang tidak terlalu sulit, saya cukup mendefinisikan seperti apa sesungguhnya diri saya dan menerimanya. At that time, saya pikir semua itu sederhana saja, sesederhana bahwa saya seorang introvert dengan segala sikap dan pandangannya yang harus saya terima. Dimana, ternyata saya sama sekali salah! Yes, I am an introversion, tapi saya juga memiliki dorongan yang begitu kuat untuk mengaktualisasikan diri ke dunia luar. Saya ingin suara saya didengar, dan itu tentu bukan dengan cara menerima saja sifat pendiam saya. Itulah yang membuat semuanya tidak sesederhana, "Ya, saya seorang introvert, it's OK to be quiet and a lot silence…" Itu yang membuat 'diam' dan berusaha untuk 'tampil' itu sama menyiksanya bagi saya.

That's why I say… that being me is so complicated… Tapi, menyerah bukanlah sifat saya! Saya menolak untuk menyerah begitu saja… Saya yakin, mengekspresikan diri dengan kondisi saya yang (sebut saja) cukup ekstrim introvert, bukanlah hal yang mustahil. Jika ini hal yang sulit, maka saya akan menjadi bukti nyata bahwa hal ini bisa dilakukan…

Dan kemudian, mulailah saya berusaha lebih banyak bicara. Mulai dengan kegiatan pada malam hari menulis topik apa yang akan bicarakan dengan teman A, B dan seterusnya. Yes, little silly maybe, tapi cara ini sangat membantu saya yang sangat tidak spontan. Termasuk juga, jika ingin bertanya atau berbicara di depan kelas, harus saya tulis dulu. Ini masih saya lakukan sampai memasuki semester 8 pada saat KKN lho, saya ingat betul, waktu itu saya menyiapkan catatan untuk berbicara pada seorang teman saya dalam rangka ala-ala konsultasi psikologis.

Siang harinya, atau pada saat harus berinteraksi, itulah 'medan peperangan' saya. Saya harus terus mengingatkan diri saya sendiri, "Harus maju! Harus ngomong! Persetan akan kelihatan konyol atau apa! Hidup cuma sekali, ambil risikomu untuk maju…" Berdamai dengan rasa dag-dig-dug setiap kali mau ngomong… Juga berdamai dengan rasa, "Aduh, kayaknya aku salah ngomong deh. Kayaknya tadi aku kelihatan konyol. Bla-bla-bla…" Pokoknya, siang hari, bagaimana caranya saya harus maju dan maju, ngomong dan ngomong, meskipun dengan segala ganjalan dan perasaan tidak nyamannya.

Baru pada malam harinya sebelum tidur, saya melepaskan semua ganjalan itu… Karena bagaimanapun juga, ganjalan itu harus dilepaskan, atau jika tidak tanpa disadari akan mempengaruhi mood kita. Seharian, saya 'berperang', ada banyak perasaan negatif yang perlu saya lepaskan (sebut saja, "Aduh, kayaknya aku salah ngomong deh. Dia mikir apa ya… Kayaknya tadi kelihatan konyol. Bla-bla-bla…"). Caranya adalah dengan berbicara dengan diri sendiri. Dengan membayangkan kejadian yang membuat saya merasa konyol (dan sebagainya), lalu menjelaskan pada diri sendiri, "It's OK Nian, berbicara salah itu adalah yang wajar, mereka juga tidak akan hanya menilaimu dari itu saja. Yang penting niatmu baik, berusaha berbuat baik, pasti pesanmu akan tersampaikan, terlepas dari kamu merasa itu konyol atau apa…"

Begitu terus selama hitungan bulan dan (mungkin) 1 tahun. Dari awalnya, benar-benar terasa berat; hingga perlahan-lahan terasa lebih ringan, hingga bahkan saya tidak perlu melakukan refleksi di malam hari karena merasakan ada ganjalan di hati saya. Dimana itu berarti, bahwa saya telah (lebih) menerima diri saya sendiri; seorang gadis introvert dengan banyak ide dan suara yang ingin disampaikan ke dunia luar. Satu tahun itu cukup lama bukan? Apalagi untuk merasakan hal-hal yang tidak nyaman karena perubahan sebuah perilaku yang mengarah pada kepribadian. Karena itu, setuju ya, jika saya sebut, butuh tekad dan komitmen yang kuat untuk itu.

And then… kembali ke judul post ini, 'When Being You is So Complicated', yang terinspirasi dari kelas diklat yang saya ikuti. Dimana seorang rekan saya memberikan komentar, bahwa untuk menjadi leader dalam posisi yang tinggi, hanya seorang yang memiliki kecerdasan berkaitan dengan manusia (people smart) yang dominan yang akan berhasil. Yang kemudian saya tanggapi, bahwa kecerdasan berkaitan dengan manusia memang penting untuk menjadi seorang pemimpin, tapi bukan berarti hanya orang-orang yang memiliki kecerdasan dominan itu saja yang akan berhasil. Karena toh, meskipun kita sesungguhnya tidak terlalu terampil dalam hal tersebut; dengan potensi, tekad dan komitmen yang kuat, kita memiliki kemampuan untuk mempelajarinya. Yah, meskipun mungkin memang tidak akan secerdas mereka yang memiliki bakat bawaan berkaitan dengan hal tersebut, tapi cukup memadai lah. Toh, yang namanya pemimpin kan bukan hanya sekedar masalah membina relasi dan sebangsanya, tapi juga tentang menggunakan kemampuan analitisnya untuk mengambil keputusan, dan banyak hal lainnya.

So, when being you is so complicated… Saat kamu memiliki sebuah keinginan yang sepertinya bertentangan dengan dirimu. Sesungguhnya kamu punya pilihan; untuk merasionalkan keinginan itu atau berusaha mewujudkannya. Tidak ada yang salah dengan keduanya, karena itu tergantung dari diri kita sendiri. Bukan hal yang salah, jika kemudian kita menyadari bahwa suatu keinginan sungguh tidak bisa dicapai dengan modal kepribadian yang kita miliki. Atau sebaliknya, berusaha mencari jalan tengah untuk tetap mengejar mimpi itu, dan menerima jika hasilnya tidak akan sesempurna bayangan kita.

Ya, seperti saya… Yang sekarang fine-fine saja berbicara di depan banyak orang, nyanyi juga lancar; meski kadang harus sedikit merasa dag-dig-dug juga. Dan meski kadang kala merasa tidak nyaman karena tidak sempurna, saya pun bisa menerimanya. I want to express myself, I'm an introversion, so I have to accept that little guilty and anxious feeling. It's OK. 

"Cause in life, there's gonna be time when you feeling low. And in your mind, insecurities they seems to take control. We start to look outside ourselves for acceptance and approval. We keep forgetting that, the one thing we should know is. Don't be scared to fly alone, find a path that is your own. Life will open every door, it's in your hand, the world is yours. Don't hold back and always know all the answers you will unfold. What are you waiting for? Spread your wings and soar!"
Lagunya Christina Aguilera nih… Yang menurut interpretasi saya sangat menggambarkan bagaimana galaunya pikiran pada saat struggling menghadapi berbagai tuntutan dalam diri dan dari lingkungan. Tapi satu hal yang harus diingat, yang terpenting dari dilema itu adalah, tentukan keinginanmu dan tetap kuat untuk meraihnya.


That's all I want to say… :)

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Tuesday, March 14, 2017

Don't Let 'You' Get You

Whoa, abstrak bener nih judulnya ya… Judulnya ini terinspirasi lagunya P!nk berjudul 'Don't Let Me Get Me', yang menceritakan situasi dimana si P!nk merasa bahwa dirinya ini memiliki begitu banyak kekurangan, sehingga berharap bahwa berharap bahwa dirinya adalah orang lain…
"Don't let me get me
I'm my own worst enemy
It's bad when you annoy yourself
So irritating
Don't wanna be my friend no more
I wanna be somebody else"
Sesuatu, yang pernah terjadi pada diri saya dan dalam beberapa kesempatan masih membuat saya risih akan keberadaannya. Dia adalah diri saya, dan dia bernama sifat perfeksionis. Atau lebih tepatnya sifat perfeksionis yang akut dan cenderung mal-adaptif. 

Huhu, yeah, begitulah saya, unfortunately punya beberapa sifat ekstrim yang (awalnya) membuat saya merasa kurang nyaman dengan diri sendiri. Sesuatu yang dulu saya pikir harus ditendang jauh-jauh dari diri saya; tapi ternyata tidak bisa! The only way to move on is to deal with that part of me… Terus maju, meskipun sesekali merasakan ganjalan dalam hati, dan juga menertawakan diri sambil berkata, "Oh, I hate myself…"


Hahaha, OK, sebelum makin abstrak penjelasan saya… baiklah, akan saya ceritakan sedikit tentang sebuah sifat perfeksionis yang cenderung mal-adaptif tadi…

Tuesday, March 7, 2017

Never Underestimate a Child: Sebuah Cerita Menyapih Anak

Halo ibu-ibu… apa kabar? Adakah yang sedang bergelut dengan episode dramatis bernama menyapih anak? Jika iya, mungkin cerita saya ini bisa menjadi bahan penyemangat dan penguat hati dalam proses menyapih buah hatinya. Dua kali menyapih anak, tentu ceritanya berbeda. Bukan sekedar karena anaknya beda karakter, tapi juga pengalaman saya juga bertambah.

Cerita menyapih anak pertama bisa dibaca disini: GANESHA’S ‘BYE BYE NENEN’ MOMENT…

Dan waktu itu… 3 tahun lebih dari masa itu; saya memutuskan untuk menyapih anak kedua saya, Mahesh, yang saat itu berusia 2 tahun 3 minggu. Sebuah keputusan yang sebenarnya berat bagi saya walaupun Mahesh sudah berusia 2 tahun lebih. Namanya juga ibu melankolis… Mendengar anak saya kala itu selalu menolak setiap saya tanya, “…Adek, Adek kan sudah gede, ga usah nenen lagi ya…” jelas saya belum sampai hati untuk menyapihnya. Ya, mungkin saat ini saya masih menyusuinya, seandainya tidak mendapat panggilan mengikuti diklat selama 2 minggu lamanya. Yang 3 hari 2 malam di antaranya mengharuskan saya menginap di tenda, tanpa komunikasi dengan dunia luar. Mau tidak mau, saya harus menyiapkannya, karena Mahesh memang sudah tidak minum ASIP sejak sebulan terakhir. Dan nenen baginya lebih untuk sekedar mencari kenyamanan psikologis.


Lebih dari 1 tahun yang lalu, saya pernah mengundurkan diri dari diklat yang sama dan meminta penundaan semaksimal mungkin. Jadi, saat akhirnya dipanggil kembali, hati pun berkata bahwa saya harus berusaha kali ini. Apalagi anak saya sudah berusia 2 tahun lebih, sudah bisa disapih. Jadi, rasanya saya harus mencoba dulu, daripada begitu resisten dan langsung menolak.

Cerita tentang dilema saya sebagai ibu bekerja bisa dibaca disini: JALAN TENGAH YANG TIDAK BERTEMU. 

Singkat cerita, sekitar seminggu sebelum jadwal diklat, saya mulai mengajak Mahesh memasuki babak baru dalam proses menyapihnya. Karena, sesungguhnya proses sounding sudah saya lakukan sejak usianya mendekati 2 tahun. Pada saat Mahesha menyusu, seringkali saya ajak mengobrol, “Adek… Adek kan udah gede, udah mau 2 tahun umurnya… Nanti, kalo udah 2 tahun, Adek ga nenen lagi ya…” Terus dan terus, dengan variasi kata yang berbeda. Kadang saya tambahkan, “…biar Adek makin pinter, bisa sekolah kaya Kakak…” Atau, “Adek pasti bisa, dulu… Mama, Papa, Kakak juga nenen, tapi pelan-pelan bisa kok ga nenen lagi…” dan sebagainya.

Hingga, saya ingat betul, hari itu Hari Kamis (09-02-2017), saya mulai berusaha lebih keras mengalihkan perhatiannya setiap kali ingin menyusu dengan kegiatan lain. Termasuk pada saat dia ingin tidur malam, saya menawarkannya untuk bobo gendong jalan-jalan. Awalnya, tentu dia masih saja ingin nenen yang tentu saja menguji keteguhan hati saya. Tapi dengan juga menguatkan diri, kembali lagi saya coba memberi pengertian, “Adek… kita coba ya bobo-nya ga usah nenen ya… Mama gendong aja yuk! Adek pasti bisa! Kita coba sama-sama ya…” Dan kemudian saya menggendongnya dengan kain, mengajaknya keluar rumah melihat bulan dan cicak, hingga akhirnya dia semakin mengantuk, minta dinyanyiin dan tertidur.

Fiuhh, lega sekali Kamis malam itu acara menidurkan Mahesh berhasil kami lewati tanpa nenen. Dalam hati, tentu saja terbersit rasa haru dan sedih, serta juga rasa bangga dan kekuatan, melihat Mahesh pun berusaha menguatkan dirinya sendiri. Saya berjanji akan menguatkan diri juga dan membantu Mahesh melewati proses ini, dengan menunjukkan lebih banyak cinta dan juga konsistensi. Iya, karena seperti proses mendidik apapun, menyapih pun butuh konsistensi. Sikap kadang-kadang boleh, kadang-kadang tidak, hanya akan membingungkannya dan membuatnya lebih tersiksa karena berharap.

So? This is it? Inikah kali terakhir Mahesh menyusu? Dan jawabannya adalah ‘tidak’… Malamnya, Mahesh terbangun ingin menyusu dan dengan pertimbangan singkat, saya pun memenuhi keinginannya dengan alasan waktu itu posisi Mahesh sedang setengah sadar. Jadi, meskipun alam bawah sadarnya merekam hal ini, alam sadarnya kemungkinan besar tidak akan menyadarinya dan saya masih bisa melanjutkan penguatan esok hari. Atau sederhananya, dia ga akan ingat kejadian malam itu, tidak akan mempengaruhi pemahaman yang sudah dimilikinya saat sadar bahwa dia harus belajar untuk tidak nenen lagi. Serta juga, dari sisi saya, ini untuk mengurangi efek payudara yang penuh karena air susu yang tidak dikeluarkan. I think it’s OK for both of us…

Dan benar saja, Jumat (10-02-2017) pagi dia terbangun, dia tidak serta merta meminta nenen seperti biasanya. Yang mungkin juga efek dari pujian dan semangat heboh yang kami kami berikan begitu dia membuka mata pagi itu. “Papa, Adek hebat lho! Semalem bobo-nya ga nenen lagi! Kan Adek udah gede ya…” kata saya pura-pura menceritakan kehebatan Mahesh pada papanya. And it works… Memang, Mahesh masih terucap, “Adek mau nenen…” tapi, sudah lebih mudah dialihkan pada aktivitas lain. Dan pagi itu pun, saya berangkat ke kantor tanpa sebelumnya menyusui Mahesh, alhamdulillah…

Demikian juga pada saat saya pulang kerja, Mahesh tidak lagi langsung minta nenen seperti sebelumnya. Dia sibuk mengajak saya main ini dan itu. Disitu terlihat sekali kalau dia pun berusaha untuk tidak meminta nenen, dan kalau pun akhirnya dia minta nenen, dia lebih mudah diberi pengertian, ditenangkan dan dialihkan dengan kegiatan lain. Sampai akhirnya tiba waktunya Mahesh mengantuk di malam hari tentu saja. Saat seperti ini, memang membutuhkan usaha ekstra untuk mengalihkannya dari keinginan untuk menyusu. Mahesh memang tidak sampai menangis, palingan, dia berkata, “Adek mau nenen…” beberapa kali. Namun saat saya kemudian menggendongnya, (masih dengan tema yang sama) keluar melihat bulan dan cicak, perhatiannya pun teralihkan. Lama kelamaan ngantuk, minta dinyanyiin dan tidur… Good job Le!

Nah, tantangannya adalah pagi dini harinya saat dia terbangun dan minta nenen. Waktu itu, dengan mengumpulkan semua kesadaran dan kekuatan; saya pun menggendongnya dan berkata, “Adek kan sudah gede, minum air putih aja ya… digendong sama Mama…” Yang, dia sambut dengan suara ngotot dan marah, “Adek maunya nenen!” lalu menangis. Ya, saya memakluminya, waktu terjaga di malam hari seperti ini, alam bawah sadarnya yang lebih banyak bekerja. Dan kebiasaan dan keinginan nenen tentu lebih kuat tertancap dalam ingatannya, daripada ingatan bahwa dia sudah gede dan harus berusaha untuk tidak nenen lagi.

Mahesh terus menangis, tantrum, menegangkan badannya tidak mau digendong meminta nenen. Dan dengan sedih (tapi harus kuat), saya pun berkata, “Adek, Mama juga sedih… Tapi kita harus belajar Adek… Kita pasti bisa! Adek minum air putih ya…” Terus dan terus, waktu terasa berjalan lama, hingga akhirnya dia berhenti menangis, minta air putih dan tidur dalam gendongannya. Yang ternyata semua itu hanya berlangsung selama kurang lebih 15 menit saat saya melirik ke arah jam dinding. Iya, waktu yang terasa begitu lama itu, ternyata hanya 15 menit saja. Dalam 15 menit, Mahesh bisa menenangkan dirinya, dan itu semakin membuat saya merasa yakin bahwa dia adalah anak yang hebat. Dia pun berusaha keras untuk menyapih dirinya sendiri, dan karena itu, saya pun harus lebih bersemangat meyakinkannya kalau kami berdua bisa. Semangattt!

Dan akhirnya, sejak Jumat malam itu, Mahesh resmi tidak nenen lagi hingga seterusnya. Beberapa hari berikutnya, sampai dengan sekitar 3 minggu, beberapa kali dia bilang, “Adek mau nenen…” Tapi, saat saya kemudian berkata, “Eit, Adek kan udah gede, jadi enggak nenen lagi…” dia pun tidak meminta lagi. Terkadang berkata, “Inum ai utih aja ya…” dan kemudian minum air putih. Yes, he’s my son! Saya benar-benar bangga padanya. Bangga dan terkagum-kagum! Karena sebelumnya, saya selalu berpikir bahwa proses menyapihnya akan jauh lebih sulit dari Kakaknya melihat perangainya yang ngotot-an dan sulit mendengarkan pendapat orang lain. Dalam hal ini saya jelas salah menilainya. Dia mungkin memang ngotot-an dan keras kepala, tapi (sepertinya) dia juga dibekali dengan willing yang kuat dan kesadaran untuk mengendalikan hal itu. Dia benar-benar membuktikannya dalam proses ini.

Termasuk bagaimana usahanya untuk terlelap dengan berbagai cara tanpa nenen. Kadang minta dikelonin dan baru tertidur setelah gulang-guling kesana-kemari beberapa lama. Kadang minta dinyanyiin; dari lagu Dusty sampai Skipper yang harus saya karang sendiri. Atau minta dipeluk pada saat kami sedang dalam perjalanan. Ya, baginya menyusu adalah cara untuk menenangkan diri dan tertidur; dan saat dia setuju untuk tidak nenen lagi, dia harus mencari cara baru dan beradaptasi.

Berdasarkan pengalaman saya ini salah satu insight yang saya dapatkan adalah untuk tidak sekali pun menganggap remeh kemampuan anak kita. Kadang, sebagai seorang ibu, kita memiliki begitu banyak ketakutan yang berasal dari rasa sayang yang begitu besar. Yang membawa kita takut membuatnya sedih, apalagi menyakitinya. Ketakutan itulah yang kadang membuat kita tidak memberi anak kesempatan untuk mengaktualisasikan potensinya. Untuk itu, terkadang kita harus memberinya kepercayaan, meski kita pun harus menguatkan diri untuk itu. Sebagaimana saya berusaha menguatkan diri untuk percaya bahwa Mahesh sudah besar dan bisa lepas dari nenen.

Dalam hal ini, saya pun tidak menggunakan cara seperti mengoleskan sesuatu ke puting, menempelkan plester dan sebagainya. Karena bagi saya, momen menyapih justru adalah salah satu kesempatan kita untuk mendidik anak; untuk mengendalikan keinginannya serta berkomitmen. Menurut pendapat saya; saat kita menyapih dengan ‘berbohong’, anak justru akan mengalami dilema antara keinginannya untuk menyusu dan rasa tidak suka karena putingnya terasa pahit. Sementara dengan memberikan penjelasan dan penguatan (tanpa berbohong), justru kita membantunya untuk menemukan insight dan keyakinan untuk menyapih dirinya sendiri. Jadi, ya, secara pribadi saya lebih merekomendasikan cara menyapih ini. Lebih lagi dalam pengalaman saya menyapih dua orang anak, saya membuktikan bahwa pikiran bahwa setiap anak pasti rewel, tantrum dan mati-matian menolak untuk disapih; atau bahwa proses ini akan jauh lebih berat daripada dengan menggunakan brotowali dan sebangsanya… menurut saya, itu hanya mitos! 

Demikian menurut pendapat dan pengalaman saya… Tapi tidak berarti saya tidak respek pada ibu-ibu yang memilih cara yang saya sebutkan di atas. Just another point of view, only follow it when you’re agree. If not, then respect it ;)

Nah, kemudian, untuk proses menyapih sendiri, berikut langkah-langkah yang kami lakukan:
  1. Sounding untuk memberikan pemahaman dan pengertian bahwa dia harus berpisah dengan nenen, apa alasannya, hal menyenangkan apa yang bisa dilakukan tanpa nenen, dan sebagainya. Tentu dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami anak dan jauh-jauh hari, sebelum memulai untuk mengurangi frekuensi menyusui dan sebagainya. 
  2. Pilih waktu yang tepat, yaitu waktu dimana anak cukup rileks dan stabil. Jangan menyapih saat anak menghadapi kondisi berat; seperti saat sakit, dalam perjalanan jauh, pindah rumah, ganti pengasuh, dan sebagainya. 
  3. Beri dukungan psikis. Berikan cinta dan perhatian yang lebih supaya anak merasa lebih tenang, serta percaya pada kita dan bahwa keadaan akan baik-baik saja. 
  4. Hindarkan benda-benda atau situasi-situasi yang membuatnya teringat pada momen menyusui; misalnya kamar, baju daster, dan sebagainya. 
  5. Pandai-pandai mencari kegiatan untuk mengalihkan perhatian saat anak ingin menyusu. Misalnya bermain, lihat bulan, lihat cicak, lihat burung, lihat ikan, dan sebagainya :D. 
  6. Percaya pada diri sendiri dan anak, bahwa berdua akan mampu melewati masa ini. Ingat, percaya potensi anak, never underestimate them! 
  7. Konsisten tapi jangan mendadak! Jangan tanpa angin tanpa hujan, tiba-tiba kita menghentikan proses menyusui. Tapi bukan berarti kemarin boleh, sekarang tidak boleh dan seterusnya; karena hanya akan menyiksa anak dan memperlama proses menyapih. 
**Whoa, nyaris 1700 kata! Saatnya kalimat penutup sebelum semua bosan membaca ocehan saya :D**

So, kira-kira itulah insight dan lesson learned apa yang saya dapatkan dari episode menyapih anak kedua saya ini. Terima-kasih sudah membaca, semoga bermanfaat… dan happy parenting ;).

With Love,
Nian Astiningrum
-end-