SOCIAL MEDIA

search

Monday, March 9, 2015

Drama Psikologis Pasca Melahirkan

Pada posting-an sebelumnya, ‘Drama Fisiologis Pasca Melahirkan’, saya menceritakan pengalaman tentang ketidaknyamanan fisik yang terjadi sehabis melahirkan. Yaitu ketidaknyamanan sebagai akibat dari proses melahirkan dan proses tubuh untuk menulihkan diri (mengembalikan rahim ke ukuran semula) dan menyiapkan diri untuk mendukung kehidupan bayi kita (memproduksi ASI). Nah, selain tantangan fisik tersebut, banyak juga wanita yang mengalami tantangan psikis yang disebut sebagai baby blues atau post partum blues, yang membuat para ibu dari bayi baru menjadi larut dalam berbagai perasaan negatif (seperti sedih, kecewa, menyesal, dan sebagainya).

Jadi, apakah Anda merasakan kesedihan yang mendalam, depresi dan frustrasi dengan kehidupan Anda saat ini? Merasa powerless (tidak berdaya) dan putus asa? Ataupun perasaan-perasaan negatif lainnya pasca melahirkan? Jika ‘ya’, maka Anda memang sedang mengalami apa yang disebut sebagai baby blues.


Kedengarannya memang tidak masuk akal bukan? Bahwa pada saat yang begitu ditunggu-tunggu untuk bertemu dengan 'si kecil' yang tumbuh di dalam rahim kita selama kurang lebih 9 bulan, kita justru mengalami berbagai perasaan negatif tersebut. Bagaimanapun, bayi Anda adalah sebuah anugerah bukan, tidak layak rasanya kita merasa beratdan tidak nyaman karena keberadaannya. Dan itulah yang kadang membuat kita semakin bingung, merasa bersalah maupun bersikeras menolak/tidak mengakui perasaan negatif tersebut.

Monday, February 23, 2015

Drama Fisiologis Pasca Melahirkan

Memiliki buah hati, tentu adalah hal yang sangat menggembirakan. Dan melahirkan sebagai proses akhir dari waktu selama sembilan bulan mengandung adalah sebuah klimaks yang menjadi gerbang pertemuan kita dengan sang buah hati. Ya, proses melahirkan yang seringkali menegangkan tentu akan selalu diakhiri dengan kebahagiaan dan kelegaan yang tidak terkira.


Melahirkan memang akhir dari proses mengandung yang membuat perut kita semakin hari semakin membesar dan membuat tubuh kita harus menopang beban yang juga semakin berat. Hmm, tanpa mengatakan bahwa hamil itu sesuatu yang penuh perjuangan (karena mayoritas wanita pasti bahagia menjalaninya), tapi hamil memang menguras lebih banyak energi fisik maupun psikis. Melahirkan akan mengakhiri ‘perjuangan’ itu, tapi akan membawa wanita pada perjuangan selanjutnya, baik perjuangan fisik maupun psikis, yang tentunya juga menuntut kita untuk sabar dan tekun untuk menjalaninya. Dan berikut adalah tantangan fisiologis seorang wanita pasca melahirkan menurut saya, yang tentunya menegaskan bahwa wanita adalah makhluk yang kuat…

Sunday, February 15, 2015

Welcome to the World Mahesha…

Fiuh, akhirnya setelah absen menulis selama beberapa minggu, akhirnya malam ini mulai lagi… Awal tahun 2015 memang benar-benar hari-hari yang hectic untuk kami. Mulai dari bersiap-siap untuk menyelesaikan hutang pekerjaan kantor sebelum mengambil cuti melahirkan yang direncanakan pada tanggal 12 Januari 2015; yang ternyata harus diubah menjadi orientasi kerja ke unit baru karena saya mendapatkan SK Mutasi ke unit kerja baru. Alhasil sejak Bulan Desember hingga Januari benar-benar menjadi hari super sibuk ditambah dengan persiapan pindahan rumah juga! Dari Tanjung Enim, Sumatera Selatan ke Tarahan, Lampung Selatan… alhamdulillah satu kota dengan tempat kerja suami.

Jadi, apa yang terjadi selama satu setengah bulan pertama di tahun 2015 ini? Hmm, jawabannya: banyak! :D. Mungkin nanti akan ada waktu untuk menceritakan hal-hal berkesan yang menciptakan insight-insight dalam hidup saya, tapi untuk sekarang saya ingin bercerita tentang kelahiran anak kedua kami, ‘Mahesha Abiyasa Parmana’ (Mahesh), pada Hari Minggu 18 Januari 2015 lalu. Here it is…


***

Hari itu, Selasa (13/01/2015) malam setelah segala persiapan pindah selesai, kami pun berangkat dari Tanjung Enim, Sumatera Selatan ke Tarahan, Lampung Selatan via kendaraan darat dan  sampai pada Hari Rabu (14/01/2015) siang. Sebuah perjalanan yang jauh (400 km), lama (12 jam) dan melelahkan (jalan berkelok-kelok dan berlubang-lubang). Dan karena itu, suami sebenarnya menyarankan saya untuk beristirahat dan melapor pada Hari Senin (19/01/2015) supaya tidak terlalu capek. Tapi, saya memiliki pertimbangan lain. Usia kandungan saya sudah 38 minggu pada Hari Sabtu (17/01/2015), dan saat itu bayi sudah cukup matang untuk dilahirkan. Ditambah dengan kelahiran Ganesh yang waktu itu juga terjadi pada usia kandungan 38 minggu, saya pikir lebih baik berjaga-jaga; segera melapor dan mengurus cuti melahirkan, daripada nanti keburu melahirkan :D.

Saturday, January 3, 2015

Sebuah Kisah di 2014

Setiap orang pasti memiliki kisah di 2014. Sebuah kisah yang mungkin biasa-biasa saja bagi sebagian orang, tapi begitu bermakna bagi beberapa orang yang lain. seperti kisah yang akan saya ceritakan di bawah ini misalnya… Ini adalah kisah seorang teman dekat, yang menganggap 2014 adalah tahun dimana dia mendapatkan sebuah insight (pencerahan) baru bagi dirinya dalam memandang hidup, penghidupan dan harapan. Sebuah kisah yang mungkin biasa saja, tapi ada pelajaran di dalamnya, tentang bagaimana mempertahankan sebuah niat baik yang seolah dipatahkan oleh keadaan, dan juga kepercayaan bahwa kebaikan akan selalu mendatangkan kebaikan juga, meski dengan cara yang tidak kita prediksi sebelumnya… Penasaran? Berikut apa yang diceritakannya pada saya…

***

2014 bagi saya adalah tahun yang memberikan begitu banyak pelajaran yang membuat saya menjadi pribadi yang lebih ‘dewasa’ dan ‘bijaksana’. 2014 adalah tahun pembuktian seberapa mampu saya bangkit dari keterpurukan (resilience) dan membalikkan sebuah momen buruk menjadi kekuatan untuk melawan balik. Ah, ngomongin apalah saya ini, sebenarnya setiap hari, setiap tahun tentu memberikan pelajaran kedewasaan tersendiri yang bisa kita maknai. Tapi, tahun ini, itulah yang saya rasakan, perasaan yang akhirnya membuat saya merasa powerfull dan yakin pada kuasa Tuhan lebih dari sebelumnya.

Tahun ini saya berusaha mendorong diri saya sendiri untuk keluar dari zona nyaman dan mengambil kesempatan untuk menerima tanggung-jawab yang lebih besar. Demi sebuah mimpi, bahwa bidang tempat saya mencari nafkah selama ini bisa membawa keadilan yang lebih besar bagi orang lain. Dengan menjalankannya sesuai prosedur dan hakikat yang sesungguhnya, bukan hanya sekedar memenuhi tuntutan administrasi tanpa arti. Namun, apalah daya, rasa kecewa itu pasti ada, pada saat niat itu tidak bergayung sambut dengan visi dan misi sang pengambil keputusan. Seberapa baik pun hasil yang saya tunjukkan dalam sebuah kompetisi, saat sang pengambil keputusan merasa bahwa apa yang saya suarakan bukanlah sesuatu yang penting, maka kalahlah saya. Meski dengan seberapa jauh pun jarak kemenangan saya dalam kompetisi itu.

Berada pada sebuah kompetisi yang tidak fair itu ternyata sangat menyesakkan dada. Ah, tapi sudahlah, akhirnya saya bisa berpikir sehat, bahwa dia hanyalah menunjukkan kebodohannya sendiri pada semua orang. Dia hanya menunjukkan kelemahannya sendiri sebagai pengambil keputusan; menunjukkan ketidakmampuannya untuk mengambil resiko untuk membuat perubahan yang lebih baik. That’s your shame, not mine… Saya sudah melakukan hal yang terbaik yang saya bisa, dan saya pun yakin balasan yang setimpal akan hadir untuk saya; entah dengan jalan seperti apa dan melalui tangan siapa. Saya hanya perlu tetap teguh melakukan hal terbaik sesuai fungsi saya, dengan harapan itu akan membawa kebaikan pada orang-orang di sekitar saya yang terkena imbasnya.

Dan ternyata, jalan yang lebih lapang terbuka dengan sendirinya untuk saya bisa mewujudkan mimpi saya tanpa perlu sebuah kewenangan yang lebih besar. Akhir triwulan III tahun 2014, unit induk memberikan tugas dan tanggung-jawab yang lebih besar kepada sub unit induk seperti kami. Jika dulu, fungsi perencanaan dan kaderisasi pegawai nyaris tidak melibatkan sub unit, saat itu kran itu mulai dibuka, dan kami pun memiliki target untuk mencari dan membina kader yang layak untuk posisi-posisi strategis. Yang itu artinya sama dengan kami diberikan kesempatan dan sekaligus ‘dipaksa’ untuk mencari dan melaporkan pegawai-pegawai yang kompeten untuk dipantau sebagai ‘kader’ posisi strategis itu. Atau jika tidak, maka kinerja sub unit di bidang ini tidak akan terpenuhi. Yang ini artinya sederhana saja, bahwa perlahan-lahan pegawai-pegawai yang memang memiliki kompetensi akan mendapatkan haknya akan pengembangan karir, tidak lagi terbelenggu tirani senioritas. That’s exactly my dream!

Karena itu, tanpa komplain karena mendadak dilimpahi tugas baru yang menuntut saya bertanya kesana-kemari karena minimnya pengalaman dan sempitnya waktu; saya pun berusaha melakukan apapun yang bisa saya lakukan. And exactly, sepertinya memang saya didorong dan dibantu oleh alam untuk melakukan semua ini, sampai akhirnya pekerjaan itu selesai dan membuahkan hasil. Selain kinerja sub unit yang terdongkrak karena semua itu, somehow, rekan-rekan saya yang memang memiliki kemampuan menemukan jalannya masing-masing, entah di tempat ini atau di luar sana. Dan itu, rasanya seperti kemenangan yang sesungguhnya bagi saya. Akhirnya saya bisa bersuara, bahwa apa yang ‘mereka’ lakukan selama ini salah, dengan sebuah tindakan nyata.

And then… sesuatu yang indah tidak hanya berhenti sampai disitu, entah bagaimana ceritanya, rekan-rekan di luar sana jadi banyak bertanya kepada saya dan tentu saja saya sangat welcome! Rasanya seperti saya bisa menyebarkan mimpi saya lebih luas lagi, and that’s super great! Plus sebuah bonus perasaan pengakuan akan usaha saya oleh orang di luar sana. Kekecewaan saya benar-benar terbayar; mimpi saya akan keadilan dalam perencanaa karir pegawai dan pengakuan sedikit banyak sudah saya dapatkan. Dan akhir tahun ini ditutup dengan mutasi saya ke sub unit lain, mendekati tempat kerja suami saya… alhamdulillah. Well, ternyata nasib (yang saya kira) buruk itu membawah kebaikan bagi saya dan keluarga. Dengan tidak adanya rencana sub unit atas diri saya, itu justru mendekatkan kami sekeluarga.

In resume… 2014 ini diawali dengan sebuah harapan dan keberanian untuk berbuat lebih. Dimana harapan dan keberanian itu harus awalnya tampak harus pupus atas nama sebuah kepentingan dan kompetisi yang tidak sportif. Namun, di tengah jalan kekuatan dan pencerahan itu datang, dibantu dengan alam yang menuntun kemana berjalan untuk tetap mewujudkan harapan itu. Dan akhirnya, keadilan pun berbicara dengan caranya sendiri, mimpi dan harapan itu pun menjadi kenyataan. Dan tahun ini, saya semakin percaya, bahwa tugas kita sebagai manusia adalah tetap berbuat baik sesuai kapasitas kita, meminta petunjuk saat hilang arah dan menyerahkan hasilnya kepada-Nya. Manusia hanyalah manusia, seberapa besar pun mimpi dan ambisinya, tanpa restu Sang Pencipta semua akan pupus dengan sendirinya. Keep the fight when you know you’re right. And you will find the way

***

Hmm, sebuah cerita sederhana namun sarat makna bukan? Sebuah cerita yang menularkan sebuah semangat bagi saya… Untuk tidak menyerah saat mimpi kita akan kebaikan dipatahkan oleh keadaan. Untuk tetap percaya bahwa selalu ada jalan untuk kebaikan, tetap lakukan kebaikan yang kita niatkan, putar otak dan temukan jalan kita untuk mewujudkan kebaikan itu. Dan yakinlah, bahwa selalu ada balasan kebaikan untuk kita atas kebaikan yang kita lakukan, meskipun terkadang tidak sesuai dengan prediksi kita sebelumnya.

And at last, happy new year all ;), semoga cerita ini bisa memberikan inspirasi bagi kita semua. Amin.

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Thursday, December 25, 2014

Aplikasi Pemantau Perkembangan Bayi dalam Kandungan

Kehamilan sudah pasti merupakan momen yang begitu membahagiakan bagi banyak pasangan. Bagaimana tidak, setelah kurang lebih sembilan bulan sepuluh hari masa kehamilan itu, nantinya akan hadir seorang makhluk kecil yang ditunggu-tunggu. Iya, sembilan bulan sepuluh hari, atau 40 minggu adalah waktu yang kurang lebih dibutuhkan untuk bayi kita untuk berkembang di dalam rahim, sebelum akhirnya lahir dan hidup di dunia luar. Sembilan bulan sepuluh hari, yang dinanti dan kadang menimbulkan rasa penasaran akan apa yang terjadi di dalam kandungan kita bukan? Sudah sebesar apa bayi kita, seperti apa pertumbuhannya, mengapa kita mengalami kondisi-kondisi fisik tertentu serta apa yang perlu dilakukan saat ini; tentu adalah hal yang menjadi perhatian seorang calon ibu (dan juga ayah).

Untuk menjawab rasa penasaran tersebut, kita bisa mendapatkan informasi dari berbagai sumber; memanfaatkan sesi konsultasi dengan Dokter Spesialis Kandungan, informasi dari berbagai media (terutama internet yang menyediakan informasi nyaris tanpa batas) maupun sharing dengan teman yang lebih berpengalaman. Dan sekarang, selain cara tersebut, dengan perkembangan teknologi, kita pun bisa mendapatkan informasi dengan mudah mengenai perkembangan bayi kita di dalam kandungan minggu demi minggu dan saran harian sesuai usia kandungan kita melalui sebuah aplikasi yang sangat informatif, bernama ‘My Pregnancy Today’.

Thursday, December 18, 2014

Baju Hamil Ibu Bekerja

Hamil itu… disamping penuh tantangan; seperti morning sickness bagi beberapa orang, perut yang semakin membesar dan berat yang kadang berimbas pada kenyamanan, serta bahwa kita harus lebih berhati-hati dalam hal makanan dan kosmetik yang digunakan. Tapi, menurut saya ada banyak kesenangan dibalik momen selama kurang lebih sembilan bulan itu. Yang paling utama tentu merasakan pertumbuhan anak kita dari hari kehari di dalam rahim kita; lalu  perhatian suami, keluarga dan teman-teman di sekitar kita yang semakin hangat; dan juga lebih longgarnya peraturan berpakaian pada masa ini, hehe :D. Lagi-lagi ini menurut saya sih :p.

Pada saat hamil, seiring bertambah besarnya perut, saya boleh-boleh saja dan tanpa rasa bersalah pergi ke kantor dengan berbagai variasi baju dan tanpa seragam untuk Hari Senin dan Kamis! :D. Oh ya, tentu saja, itu bukan berarti bisa pakai baju yang biasa kita pakai di rumah atau ke mall ya :D. Tapi, dengan tetap memperhatikan kaidah kesopanan dan kesan profesional, rasanya pada saat hamil kita menjadi lebih leluasa memakai baju-baju yang ‘tidak biasa’. Baju-baju yang pada saat tidak hamil akan membuat orang berpikir kalau kita salah kostum, sekarang mereka malahan berkomentar, “Anaknya cewe ya… bajunya cantik deh…” Hihi, iyalah, bajunya aja yang cantik :D. Ah, tapi terlepas dari komentar orang dan apakah kostum kerja saya pada saat hamil memang terlihat eye catchy, saya jelas sangat menikmati kesempatan ini.

***

Bagi beberapa orang, mungkin berpikir kalau beli baju hamil itu sedikit mubadzir ya… “Kita kan ga hamil terus, jangan banyak-banyak beli baju hamil…” itu adalah pesan seorang teman dulu, dan saya sedikit banyak setuju dengan pendapat itu. Saya hanya membeli item esensial seperti celana hamil sebanyak empat buah dan dua buah baju hamil yang kebetulan sedang sale saat itu, sehingga harganya cukup ‘miring’. Selebihnya, saya lebih suka menggunakan baju-baju dengan cutting besar dan loose di bagian dada ke bawah (semoga istilahnya benar :D), jadi baju-baju ini masih bisa dipakai pada saat tidak lagi hamil. Lebih irit dan tidak mubadzir kan? Apalagi, baju hamil yang lucu-lucu itu mahal! Sayang kalau cuma dipakai sembilan bulan saja :D.

Thursday, December 11, 2014

Tentang Marah Pada Anak

Malam itu rasanya sedih sekali :(. Baru saja, saya terpancing dengan kerewelan Ganesh dan memarahinya. Sampai akhirnya dia menangis, dan saya semakin terpancing hingga mencubitnya dan dia berteriak, “Sakit…”. Kemudian setelah itu, saya lihat jelas, air matanya bercucuran… betapa sakit hatinya dia, mama yang dicintainya, memarahinya dan kemudian mencubitnya! Di matanya terlihat jelas bagaimana hatinya hancur, dan semua itu pun serta-merta membuat hati saya pun hancur, “Kenapa harus se-ekstrim itu reaksinya? Harusnya aku bersabar, dia kan hanya seorang anak kecil, dia bahkan tidak berniat membuatmu susah, sedih atau marah seperti tadi…” Tapi semuanya sudah terlanjur… Dan saat akhirnya dia tertidur, memandangnya, membuat penyesalan itu semakin membuncah,  “Maafkan Mama Nak…”

***

Secara psikologis, 'marah' (anger) didefinisikan sebagai emosi yang ditandai dengan sikap antagonis kepada seseorang atau sesuatu yang mengganggu kita. Sesungguhnya marah sendiri, bukan sesuatu yang selalu negatif, hanya saja emosi marah yang berlebihan atau terlalu kuat memang akan relatif berdampak negatif, karena membuat kita kesulitan berpikir secara logis dan berpengaruh pada kondisi fisik kita; misalnya detak jantung semakin kencang1.

Nah, karena definisi di atas, menurut saya marah pada anak sendiri dapat dibedakan menjadi dua macam; pertama adalah marah dengan intensitas yang wajar berisikan pesan ketegasan dan kedua adalah marah dengan intensitas yang berlebihan yang berisikan pesan emosional, kebencian dan ketidakpedulian pada perasaan anak. (Seramnya marah yang kedua ini ya x_x). Marah dalam intensitas yang wajar sebagai wujud reaksi tegas mungkin ada kalanya diperlukan dalam proses mendidik anak, karena lebih banyak melibatkan logika dan sangat minimal melibatkan aspek emosi. Dengan demikian, diharapkan akan membuat anak menyadari perilakunya yang tidak baik, namun tidak sampai membuatnya kecewa dan sedih. Sedangkan marah yang berlebihan sehingga mengurangi kemampuan kita berpikir secara logis, sebisa mungkin harus dihindari. Karena rawan membawa kita pada tindakan yang cenderung tidak terkendali dan ekstrim, dengan demikian dapat menyakiti perasaan anak.

Tuesday, November 25, 2014

Singing Ganesha: Mengenalkan Musik pada Anak

“Kaka… kaka… kaka…” begitulah senandung Ganesh pertama kali dulu, sewaktu usianya masih satu tahunan. Waktu itu, karena belum ada nadanya, saya tidak sadar kalau dia sedang menirukan lagu ‘Matahari Terbenam’ dan berusaha bersenandung, “Kuku… kuku… kukukuku…”. Sampai, suatu saat saya ngeh kalau dia menggumamkan kata-kata tersebut setelah mendengar lagu ‘Matahari Terbenam’ yang sering diputar di mobil saat berjalan-jalan dengannya. “Owalah Le… kamu ini sedang nyanyi toh…” itu pikir saya waktu itu.

Kalau menurut pengamatan saya sih, Ganesh memang tergolong anak yang cerewet (atau malah sangat cerewet ya :D). Yang bisa diartikan juga bahwa perkembangan verbalnya sedikit menonjol dibandingkan perkembangan lainnya yang kasat mata. Sejak usia satu tahunan, sebelum dia mulai berjalan, kosakata dan kejelasan pelafalan bahasanya sudah lebih dulu berkembang. Akibatnya ya itu tadi, Ganesh kelihatan cerewet sekali! Apa-apa ditanyain, apa-apa ditiruin dan kemudian… apa-apa dinyanyiin :D. Yah, semua itu sepertinya tidak lepas dari pengaruh kebiasaan saya yang suka bernyanyi dimanapun; tidak hanya di kamar mandi, kadang pas mandiin Ganesh atau pas dia main. Kadang saya ganti lirik lagu sesuai kebutuhan dan setting permainan kami, hmm, sampai terkadang suami suka sewot kalau saya mulai bernyanyi ngawur-ngawur seperti ini :D. Katanya sih, "Ringam!" alias bikin risih.

Selain itu, sejak kecil, Ganesh selalu saya suguhi dengan lagu-lagu anak yang saya download dari YouTube yang  diputar dengan laptop. Dan kemudian, sejak mulai mengenal gadget Android setahun lalu, saya juga hobi men-download aplikasi-aplikasi lagu anak-anak; sehingga lagu-lagu anak seperti ‘Balonku Ada Lima’, ‘Bintang Kecil’, ‘Twinkle-Twinkle Little Star’ dan sebagainya sudah begitu familiar bagi Ganesh sejak kecil. Berkaitan dengan hal ini, sebenarnya saya tidak melakukannya dengan sengaja apalagi memiliki ambisi agar Ganesh pandai bernyanyi. Awalnya, saya mengajak Ganesh menonton video, mendengar lagu atau bersenandung pada saat bermain, hanya karena merasa bahwa itu aktivitas yang menyenangkan bagi kami berdua dan mendidik baginya. Dan ternyata, pada saat dia malah menikmati kegiatan berhubungan dengan musik, saat itulah dia sendiri yang meminta diputarkan berbagai lagu, meminta saya menyanyi dan bahkan meminta suaranya direkam, haha :D. Berikut adalah beberapa nyanyian Ganesh hasil rekaman kami beberapa minggu ini, di usianya yang ke 3 tahun 3 bulan (kurang lebih).

Friday, November 21, 2014

When the Morning Comes: Simply Marit Larsen’s Fresh Sounds

Baiklah, saya ga terlalu mengerti soal musik sebenarnya… Tapi kalo pencinta musik, tentu saja! Saya adalah seorang yang sangat-sangat menikmati musik, baik secara pasif sebagai pendengar maupun secara aktif sebagai orang yang didengar atau menyanyi *terlepas dari how it sounds ya :D.

Dan sekarang, saya ingin bercerita tentang album baru artis favorit saya nomor satu, yaitu Marit Larsen. Yang pernah populer bersama Marion Ravn melalui band M2M pada tahun 2000-an (baca disini dan disini). Dimana melalui album bertajuk ‘When the Morning Comes’ ini, Marit kembali membuktikan kemampuannya dengan berhasil mencapai puncak chart album Norwegia!

Menurut saya pribadi, album berisi 10 lagu yang digubah oleh Marit bersama beberapa kolaborator ini memang enak didengar dan memiliki makna yang mendalam. Wajar jika berhasil memikat hati penggemarnya di Norwegia sana. Dalam 10 lagu tersebut, Marit menceritakan berbagai kisah; mulai dari percintaan, persahabatan dan juga kehidupan melalui nada-nada dan melodi yang lemah lembut seperti ‘Lean on Me Lisa’ maupun bersemangat seperti ‘Travelling Alone. Sebuah album dengan variasi tema lagu, nada dan tempo yang membuat dinamika album ini jauh dari kata membosankan.

Di album keempat yang masih ber-genre pop/folk ini, Marit memilih berkolaborasi dengan musisi-musisi baru, tidak seperti ketiga albumnya, ‘Under the Surface’, ‘The Chase’ dan ‘Sparks’. Dan bahkan di album ketiga ini, Marit memproduseri sendiri albumnya, sementara ketiga albumnya diproduseri oleh orang yang sama, yaitu ‘Kåre Christoffer Vestrheim’. Jika biasanya Marit lebih sering menulis lagunya secara individual, setiap lagu dalam album ini digubah bersama musisi lain. Hmm, mungkin itu yang membuat album ini terkesan berbeda. Terkesan lebih rapi, tanpa mengabaikan sisi artistik dan juga unsur enak didengar. Album ini terkesan tidak mengabaikan selera penikmatnya, namun juga tidak mengesampingkan sisi artistik dan pesan yang ingin disampaikan. Saya memberikan nilai 4 dari skala 5 pada album ini.

Tuesday, November 18, 2014

Menanamkan Konsep ‘Kakak-Adik’ pada Anak

Rasanya baru kemarin,Ganesh selalu saja menjawab ‘tidak’, setiap kali ditanya mau punya adek atau enggak… dan tak terasa, sekarang saya sudah mengandung 6 bulan dan itu berarti sekitar 3 bulan lagi Ganesh akan resmi menjadi seorang kakak… Amin :).

Lalu, bagaimana Ganesh sekarang? Apakah dia masih kukuh tidak ingin punya adek? Hmm, sepertinya tidak… Alhamdulillah :). Sejak di-sounding bahwa ada adek di dalam perut mamanya, tidak sekali pun dia menunjukkan ketidaksukaan dan sebangsanya. Dan bahkan, dengan semakin tampak nyatanya eksistensi sang adek melalui perut saya yang semakin membesar, Ganesh pun semakin sering menyertakan adeknya dalam permainan-permainannya. Lho kok bisa? Hihi, iya, itulah salah satu kelebihan imajinasi seorang anak yang belum dibatasi logika yang rumit.

Ada kalanya, kesadaran Ganesh akan adanya adek di dalam perut mamanya dan keinginannya untuk berinteraksi dengannya menimbulkan kelucuan, keharuan atau ‘kekesalan’ bagi saya. Penasaran? Berikut adalah daftar kehebohan pertama Adek dan Kakak yang membekas bagi saya: