SOCIAL MEDIA

search

Tuesday, June 30, 2015

Belajar Menyetir Mobil Itu…


“Apa sih susahnya nyetir itu… gampangan nyetir mobil daripada motor tauk…”

Mungkin apa yang dibilang suami saya itu benar baginya, atau sebagian besar orang, tapi bukan saya :(. Bagi saya, mobil adalah sebuah kendaraan yang sulit dikendalikan; dengan ukuran dan tenaganya yang besar, serta (jangan lupakan) tuas-tuas kemudi yang kompleks (baca: setir, kopling, rem tangan, dkk.). Dan itu sebabnya, saya selalu menolak untuk belajar menyetir, selain karena memang belum ada urgensinya. Saat itu, kemampuan saya bermotor sudah lebih dari memadai untuk memfasilitasi kebutuhan mobilisasi saya; karena saat itu memang kantor, bank, pasar, midi market dan sejenisnya jaraknya tidak lebih dari 4 km. Namun, all good things come to and end (meminjam lirik lagu Nelly Furtado dan Mandy Moore), akhirnya semua kemudahan itu berakhir…

Setelah mutasi ke Lampung, jarak ke kantor melar sampai 30 km (1 jam perjalanan) dan jalanan-jalanan kampung yang sangat bersahabat dengan pengendara motor berubah menjadi jalan lintas propinsi yang dipenuhi kendaraan-kendaraan raksasa. Beberapa saat setelah pindah ke Lampung juga, kami harus mencari pengasuh yang baik dan sayang pada Ganesh dan Mahesh, yang alhamdulillah kami temukan, namun tidak bersedia untuk menginap ataupun bekerja terlalu jauh dari tempat tinggal mereka (rumah kami saat ini), sehingga opsi pindah rumah mendekati kantor saya pun kami coret. Dua hal itulah yang akhirnya membuat saya (terpaksa) harus belajar menyetir! Karena jika tidak; itu sama artinya membuat suami saya terus terlambat ke kantor karena harus mengantar saya dulu dan juga harus meninggalkan Ganesh dan Mahesh lebih lama karena untuk pulang saya harus menunggu jemputan suami. Dan ini stressfull, karena pada saat sampai di rumah kadangkala Mahesh sudah rewel ingin tidur dan Ganesh jadi terabaikan. Padahal setiap pulang, Ganesh sudah menunggu-nunggu kedatangan saya.

Lupa pernah baca quote ini dimana,
tapi saya setuju bahwa rasa takut terkadang hanyalah ilusi yang tampak nyata

Jadi, meskipun pesimis akan hasilnya, saya pun ‘menutup mata’ dan berusaha, seperti ini…
  1. Diajarin suami. Beberapa minggu sebelum cuti melahirkan habis beberapa kali suami mengajari saya menyetir. Tapi usaha ini mandeg sampai usaha menjalankan mobil dan saya semakin percaya bahwa mobil itu memang kendaraaan yang sulit dikendalikan. Kopling itu adalah benda yang menyusahkan sekali dan setir adalah alat kendali yang abstrak karena tidak jelas berapa derajat diputar akan membuat mobil belok sekian derajat. Alhasil, mau jalan saja mati mesin berkali-kali. Dan kalau pun berhasil jalan, pada saat panik merasa akan menabrak, reaksi saya adalah menginjak rem sekuat tenaga (tanpa injak kopling), sehingga (lagi-lagi) mati mesin dan mobil melompat! Stress? Iya! Hopeless? Juga iya… Sampai suami pun ikut-ikutan hopeless :'(. 
  2. Belajar di tempat kursus setir profesional. Ternyata beda lho instruksi orang yang memang biasa ngajarin nyetir! Lebih mudah dipahami dan dipraktekkan… Selain itu, karena kopling dan remnya diparalel (ada dua), tekanan mentalnya juga lebih ringan. “Ga mungkin nabrak…” paling tidak itu membuat proses belajar lebih santai daripada diajarin suami :D. Karena itu, disini saya akhirnya bisa menjalankan mobil, mengarahkan mobil dengan setir dan berhenti tanpa mati mesin! Yeay! Tapi, tetap saja sih, saat mencoba mobil sendiri masih kocar-kacir dan tidak semudah mengemudi mobil latihan, jadi artinya tetap harus membiasakan diri dengan mobil sendiri… 
  3. Belajar didampingi suami (lagi). Setelah pengetahuan tentang dasar-dasar menyetir; menjalankan mobil, pindah gigi, berhenti, jalan di jalan tanjakan, berbatu dan berkelok-kelok; sudah ada di kepala. Maka untuk membiasakan diri dan berani menyetir mobil sendiri, saya harus sering-sering membawa mobil sendiri. Nah, ini mah tugas suami, mau siapa lagi? And I called it, uji mental! Karena sepanjang jalan saya harus tahan diberi instruksi-instruksi yang kadang bagi saya membuat stress! Please note, instruktur itu sudah terlatih dan berpengalaman, jadi tidak bisa disamakan dengan suami atau siapa pun yang mengajari kita. Kalaupun ada kata-kata yang ‘gimana-gimana’, jangan dimasukkan ke hati, cukup masukkan ke otak saja. Dan tetap ingat pada tujuan utama untuk bisa menyetir. Jadi, kalaupun harus nangis saking stress-nya, ya cukup menepi dulu, setelahnya, ya jalan lagi… :D. 
  4. Ke kantor didampingi driver kantor. Suatu hari muncullah ide, mengajak driver kantor yang tinggal di dekat rumah untuk mendampingi pulang-pergi rumah – kantor setiap hari, dan ternyata dia bersedia. Jadilah selama 5 hari, saya menyetir pulang-pergi kantor bersamanya sambil belajar. Mulus? Tentu tidak semudah itu :D. Hari pertama, mobil sempat lompat karena nervous karena mobil mundur saat harus berjalan setelah berhenti di tanjakan. Lalu dag-dig-dug saat menyeberang jalan, mengambil u-turn atau berjalan lagi di lampu merah adalah makanan sehari-hari. Kopling, masih benda yang sulit saya pahami dan mati mesin itu bagaikan rutinitas. Dan setelah 5 hari, saya akhirnya menghentikan usaha ini karena mas driver ini ditugaskan dinas keluar kota. 
  5. (Finally) memberanikan diri membawa sendiri! Setelah 5 hari itu, saya pun meminta suami saya mendampingi ke kantor untuk menilai kelayakan saya membawa mobil sendiri, meskipun sebenarnya masih dag-dig-dug juga. Dan hasilnya adalah yes! Meskipun masih mati mesin beberapa kali, kecepatan maksimal 50 km/jam dan belum berani menyalip di jalan dua arah; hari berikutnya saya diijinkan berangkat sendiri. Dan rasanya perdana menyetir sendiri ke kantor itu adalah dag-dig-dug sepanjang jalan, setir basah oleh keringat, sakit perut sebelum berangkat, stress saat berhenti di tanjakan atau macet atau diklakson orang di lampu merah dkk. Tapi berbekal usaha maksimal, doa dan tekad perjalanan demi perjalanan pun saya lalui dengan selamat :). Alhamdulillah… 
Dan akhirnya, setelah 3 minggu, dag-dig-dug membawa mobil sendiri ke kantor, tulisan ‘belajar’ yang tertempel di belakang pun di lepas. Bukan karena sepenuhnya sudah ‘jago’ di segala kondisi (karena nyatanya untuk kondisi-kondisi sulit, seperti berhenti dan berjalan lagi di tanjakan masih belum lancar), tapi rasanya secara mental dan kemampuan sudah cukup memadai untuk tidak selalu minta dimaklumi oleh pengendara lain.

And now, here I am… memiliki kehidupan yang lebih manusiawi setelah bisa berangkat dan pulang sendiri ke kantor. Tidak lagi pontang-panting berangkat pagi-pagi sekali supaya suami tidak terlalu terlambat; tidak lagi tiba di rumah saat matahari terbenam saat anak mulai rewel ingin tidur. Fiuhh, akhirnya, setelah perjuangan panjang yang menegangkan, saya bisa (bukan ahli ya…) juga menyetir :).

Karakter Gator diambil dari sini

And at last… saran saya untuk teman-teman senasib yang merasa belajar menyetir itu sesuatu yang sangat sulit dan bahkan menakutkan; just remember that, fear is in your mind… Dimana sesungguhnya dia tidak perlu ditaklukkan, tapi diajak bersahabat dalam artian kita bersedia menerima rasa takut sebagai konsekuensi dari suatu usaha kita. Kalau katanya Gator dalam film Thomas and Friends: Tale of the Brave, “Being brave isn’t the same as not feeling scared, being brave is about what you do even when you do feel scared.” Jadi, kalau memang ingin bisa, ya go ahead, meskipun dengan rasa takut di hati kita. Percaya deh, pelan-pelan rasa itu akan hilang semakin sering kita bersamanya, meskipun pada awalnya harapan itu terasa kecil sekali.

If you really want something, just take the risk (of being scared) so you got the chance to get it…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Friday, June 12, 2015

Mahesha’s 4th Month: The Very Sociable Mahesha!

Tanggal 18 Mei 2015 lalu (hampir 2 minggu lalu), Mahesha tepat berusia 4 bulan! Yeay! Senang itu pasti, karena semakin bertambah usianya, berarti semakin bisa diajak jalan-jalan anaknya, hehe :D. Senang, salah satunya juga karena sehari sebelum usianya tepat 4 bulan, akhirnya Mahesh bisa tengkurap. Setelah beberapa hari sebelumnya sempat bertanya-tanya, kenapa si kecil tembem ini belum juga menunjukkan tanda-tanda belajar tengkurap, yang notabene adalah salah satu milestone perkembangan bayi 4 bulan. Iya, tepat sehari sebelum usianya 4 bulan, tanpa ada tanda-tanda belajar, mendadak dia tengkurap begitu saja! Wuah, leganya Le… Kamu ternyata pengen bikin kejutan buat Mama sama Papa ya :*

Mahesha Si Pantang Menyerah :D

Dan selain tengkurap, ada perkembangan lain yang membuat bermain bersama si kecil tembem ini lebih seru! Yes, sejak sebulan ke belakang (3 s/d 4 bulan) rasanya ‘antena’ Mahesh menjadi semakin tinggi sehingga mampu menangkap berbagai ‘sinyal’ yang ada di sekitarnya, sekaligus memberikan respon dengan caranya sendiri… dan ini jelas membuatnya semakin lucu! :D.

Jika sebelumnya paling Mahesh senyum jika ada yang mengajaknya berinteraksi (misal tersenyum dan mengajak ngobrol); tapi sekarang, dia bisa tertawa terkekeh-kekeh bahkan memalingkan wajah (seperti mengajak bercanda). Jika dulu, kosakata bayi Mahesha hanya teriakan ‘ang!’ dan menangis untuk semua maksudnya, maka sekarang dia bisa membuat berbagai bunyi yang lebih variatif, termasuk bermain ludah :P. Dan dengan kemampuan barunya mengekspresikan perasaan dan keinginannya, praktis Mahesha jadi lebih jarang menangis, karena dia punya cara lain untuk ‘berbicara’. Misalnya saja memonyongkan bibir sambil meluruskan kaki dan menegangkan tangannya plus mendengus, itu artinya dia bosan dan ingin segera diangkat. Atau kalau mau minta ‘nenen’ dia akan bergumam pelan (seperti merengek) sambil memandang saya dan menggerakkan kaki dan tangannya. Well, setelah 4 bulan, Mahesha kini sudah mulai beranjak dewasa, lebih sadar akan lingkungannya dan memberikan respon yang lebih ‘berarti’.

Thursday, May 7, 2015

Mahesha’s 3rd Months: Memahami Pola Sederhana


Hayo, siapa yang sempat mengabadikan foto si kecil dengan pose di atas? Jujur lho, saya baru sadar kalau pose ini sangat umum dilakukan anak-anak di antara usia 2 sampai dengan 3 bulan, setelah memiliki anak kedua. Dan ternyata ada sesuatu lho yang melatarbelakangi pose lucu nan serius ini. Sesuatu yang menjadi pertanda bayi lucu kita semakin memahami dunia di sekitarnya, mengenal pola sederhana dalam dunia, sesederhana bahwa dia bisa menggerakkan tangan yang selama ini (mungkin) tidak disadari keterkaitannya dengan dirinya… Sebuah lompatan pemahaman yang oleh van de Rijt & Plooij disebut sebagai ‘leap of pattern’. *Ulasan tentang pendapatnya menyusul di postingan berikutnya.

Wednesday, April 8, 2015

‘Better than This’ but ‘Still I Fly’…


Seumur hidup, selama lebih dari 29 tahun, baru dua kali saya meninggalkan tempat yang saya sebut ‘rumah’. Tahun 2008 saat saya menerima tugas kerja pertama saya di Palembang kemudian ke Tanjung Enim, dan awal tahun 2015 saat saya menerima keputusan mutasi pertama saya ke Bandar Lampung. Migrasi yang membawa kebaikan sejauh ini, karena migrasi pertama membawa saya bertemu suami saya saat ini dan migrasi kedua pun mendekatkan kembali kami sekeluarga setelah suami terlebih dahulu mutasi di bulan Juli 2014. Hmm, kedengarannya memang nasib benar-benar berpihak kepada kami bukan? Dan sudah sepantasnya kami bahagia dan bersyukur… Tapi, selama 6 tahun tinggal di suatu tempat hingga kami menyebutnya rumah, tentu menyisakan kenangan tersendiri. Kenangan yang membuat kami berkali-kali melihat ke belakang, tapi tentu saja tidak membuat kami lupa bahwa tempat baru ini adalah jawaban atas doa-doa kami untuk bisa bersama-sama sekeluarga dan kami begitu bersyukur.

Tanjung Enim… 6 tahun lalu, di tahun 2008 saya pertama kali menginjakkan kaki di tempat itu sebagai seorang dewasa. Karena lucunya, semasa kecil saya pernah tinggal disana bersama orang-tua karena tugas kerja. Hmm, mungkin benar juga mitos yang beredar disana, bahwa sekali seseorang meminum air Sungai Enim, dia pasti akan kembali kesana. Saya buktinya :D. Waktu itu, dengan segala suka cita karena mendapatkan pekerjaan pertama saya sekaligus mimpi yang terwujud untuk hidup (benar-benar) mandiri setelah 25 tahun tinggal bersama orang-tua; saya pun melangkah dengan begitu mantap.

Tuesday, April 7, 2015

Menemukan Alasan yang Penting Bagi Anak untuk Mendorongnya Melakukan Sesuatu

“Ganesh, kalo di kelas ikutin katanya Bu Guru dong…  Biar Bu Gurunya tau kalo Anesh bisa nyanyi, terus dikasih nilai deh…” Beberapa kali saya sounding seperti itu pada Ganesh supaya mau aktif bernyanyi saat pelajaran sentra musik di kelas SPS*-nya. Tapi, tetott!  Apa pentingnya nilai untuk anak seusia Ganesh (3.5 tahun)? Dan Ganesh pun tetap tidak mau bernyanyi di kelas, meskipun sebenarnya memiliki katalog lagu yang cukup banyak… mulai dari lagu berbahasa Indonesia sampai berbahasa Inggris; dari ‘Balonku Ada Lima’ sampai ‘Still I Fly’ soundtrack-nya Planes: Fire & Rescue… (Beberapa rekaman nyanyian Ganesh ada di ‘Singing Ganesha: Mengenalkan Musik pada Anak').

  
Baik, pendekatan pertama gagal, kita coba cara lain…
Saya: “Ganesh, nanti kalo udah bisa nyanyi bisa ikut lomba nyanyi lho…  Nanti bisa dapet piala kaya mama… ”
Ganesh: “Mama, Anesh sudah pinter nyanyi, mana pialanya?”
Saya: “Kan nyanyinya harus di depan banyak orang, di depan juri biar bisa dinilai bagus apa enggak. Makanya Anesh belajar dulu…”
Ganesh: “Juri itu apa Mama?”
Saya: “Juri itu orang yang ngeliatin kita nyanyi dan ngasih nilai bagus ga nyanyian kita”
Ganesh: “Anesh kan nyanyi di depan Mama, Mama aja beliin Anesh piala…”
Saya: “(Speechless) (Ya sudahlah Le…  nikmati saja apa yang kamu inginkan di kelas…  mungkin nanti kamu akan menemukan alasan untuk bernyanyi di kelas).
Tamat.

Sampai pada suatu hari, dari kelas SPS terdengar suara lantang seorang anak bernyanyi, “Lihat kebunku penuh dengan bunga, ada yang putih dan ada yang merah…” Sontak saya dan beberapa ibu yang juga sedang menunggu anaknya menengok ke kelas. Suara itu tidak asing bagi saya, tapi masa iya Ganesh bernyanyi di kelas? Karena selama 2 bulan ini dia belum mau bernyanyi di kelas. Bukan karena tidak bisa, tapi karena tidak merasa perlu melakukan hal itu; menyanyi kan bisa dimana saja, kenapa harus di kelas dan di depan Bu Guru? Berbeda dengan permainan lain; seperti puzzle dan bantal bercerita yang hanya ada di kelas.

Wednesday, March 25, 2015

Mahesha's 2nd Month: Halo Dunia, Ini Mahesha…

Yeay! Bulan pertama Mahesha si bayi baru akhirnya terlewati. Kalau di aplikasi 'my baby today', sekarang Mahesha bukan lagi newborn tapi bayi 1 bulan. Fiuhh, benar-benar melegakan, dan sejak saat itu hari-hari menjadi lebih menyenangkan, tidak ada lagi acara menghitung hari berakhir jam demi jam :D.

Memasuki bulan keduanya, Mahesha sudah lebih gendut sehingga terlihat lebih lucu dan tidak ringkih seperti dulu. Jadi, kami pun lebih bersemangat mengajaknya bermain, meski pada awalnya dia belum bisa merespon. But, still it's fun ;). Paling tidak bisa menjadi pengimbang kegalauan kami karena permasalahan Mahesh yang tidak bisa tidur siang di tempat tidur masih berlanjut saat itu. Jadi, acara gendong-gendong masih berlanjut *_*.

Masalah Tidur Siang, Closed! Berbagai cara sudah kami coba untuk mengajarkan Mahesh untuk tidur siang di tempat tidur, tapi tetap, tempat tidur siang favoritnya adalah di dalam gendongan. Setiap kali diletakkan di tempat tidur, pasti dia akan ngulet-ngulet (menggeliat) dan kemudian terbangun. Jika sudah tidak mengantuk, selanjutnya kami bisa bermain sebengar, tapi jika dia rewel karena masih ingin tidur, maka kami kembali menggendongnya. Bau tangan? Hmm, mungkin, meskipun menurut saya istilah itu tidak terlalu tepat. Menurut saya, Mahesh memang memiliki kecenderungan suka bergerak dan menggeliat, namun belum bisa sepenuhnya mengontrol gerakan tangan, kaki dan tubuhnya; sehingga semua itu justru membuatnya tidak bisa tidur nyenyak di siang hari, karena banyaknya rangsang yang membuatnya tidak bisa tidur sepulas di malam hari.

Monday, March 23, 2015

Mahesha's 1st Month: Beradaptasi

Perkembangan anak itu selalu seru dan ditunggu-tunggu. Iya, melihat anak bayi yang dulu ada di rahim kita selama 9 bulan kemudian setelah dilahirkan perlahan-lahan bisa tersenyum, memasukkan tangan ke mulut, tengkurap, dst. itu sangat menyenangkan bukan? Atau lebih tepatnya menyenangkan dan tidak akan terulang, sehingga mendokumentasikan pertumbuhan dan perkembangan anak tentu akan menjadi hal yang berharga bagi kita. Ah, sesuatu yang belum terpikirkan oleh saya saat memiliki anak pertama dulu. Tapi sekarang, belajar dari pengalaman, saya bertekad akan berusaha mendokumentasikan pertumbuhan dan perkembangan Mahesh bulan demi bulan sampai usia 1 tahun. Supaya menjadi kenangan di masa depan dan siapa tahu bisa memberikan informasi bagi para ibu dan orang-tua yang lain (pede :D).

Dan berikut adalah cerita Mahesha pada bulan pertama. (Ceritanya dirapel karena bulan pertama belum bisa bagi waktu untuk menulis sepenuhnya).

***


Cerita Mahesh di dunia dimulai pada Hari Minggu tanggal 18 Januari 2015 pulul 12:03 WIB. Begitu dilahirkan di dunia, seperti bayi pada umumnya beberapa hari kehidupannya Mahesh menjadi bayi yang tenang, mudah diasuh dan ditidurkan. Hal ini terjadi sampai sekitar seminggu, hmm, baguslah karena seminggu pertama emaknya masih dalam pemulihan fisik dan psikis.

Wednesday, March 18, 2015

Ganesha the Big Brother: Membantu Anak Menjalani Peran Baru sebagai Kakak

“Ganesh kalo udah gede mau jadi apa?”
“Mau jadi kakak!” Itu jawaban Ganesh setiap saya menanyakan pertanyaan di atas.


Beberapa waktu lalu, pasca kelahiran Mahesha adiknya, sempat terlintas di pikiran saya bahwa Ganesh telah berubah pikiran karena dia terlihat jetlag dengan peran barunya. Jika dulu dia mendapatkan begitu banyak perhatian dari semua orang, maka setelah Mahesh lahir, dia menjadi harus sering mendenar jawaban, “Sebentar ya, mama lagi nenenin adek…” dan sejenisnya. Waktu itu, Ganesh sempat tampak begitu menuntut perhatian. Apa-apa; mulai dari makan, ganti baju, sampai pipis; minta sama mama dan papanya, padahal dulu biasa saja dibantu oleh simbah pengasuhnya. Waktu itu, sempat terpikir, apakah Ganesh belum siap memiliki adik dan apakah situasi ini terlalu berat baginya, ditambah baru beberapa hari kami pindah sehingga dia masih asing dengan lingkungannya. Dan kami pun tidak bisa mengelakkan rasa bersalah karena situasi yang dihadapinya ini.

Hari pertama Ganesh dijemput ke rumah sakit untuk menengok saya dan adiknya mungkin adalah kekecewaannya yang pertama. Saat itu, begitu melihat adiknya dan perut saya sudah mengempis, dia langsung minta gendong. Mungkin saat itu dia berpikir bahwa karena mamanya sudah tidak hamil, maka bisa minta gendong. Dan semua itu salah saya, karena sewaktu hamil selalu berkata bahwa setelah adiknya lahir, dia bisa minta gendong lagi. “Ganesh, maafkan mama ya nak… Mamamu ini memang kadang-kadang oon…”

Monday, March 16, 2015

Hiperlaktasi, am I?

Hari ini (Jumat, 27/02/2015) Mahesha tepat berumur 40 hari, dan berikut adalah penampakan freezer kulkas saya yang diakuisisi oleh ASI Perah yang saya kumpulkan pada saat payudara terasa bengkak karena intensitas Mahesh minum masih lebih rendah dibanding produksi ASI saya.

Penampakan Freezer hari ke-40
Full, definitely need a new one!
*saat tulisan ini mulai dibuat*

Dulu pada saat usia Mahesh  kurang dari 2 minggu, saya harus memerah 3 x @100 ml/hari. Lalu setelah itu menurun menjadi 2 x @ 100 ml/hari seiring meningkatnya konsumsi ASI Mahesh. Nah, lalu, beberapa hari ini, pasca Mahesh mulai dilatih minum ASIP dengan soft cup feeder menggunakan satu kali waktu nenennya, intensitas memerah meningkat lagi menjadi 3 x @100 ml/hari.

Total ada 64 botol ASIP @100 ml dan sekitar 40 kantong ASIP dengan rata-rata volume @60 ml. Jumlah yang menurut saya sih banyak sekali, walaupun banyak ibu yang memiliki persediaan ASIP lebih banyak sampai membutuhkan 1 (atau bahkan lebih) freezer khusus ASIP. Iyah, paling tidak jumlah itu sudah membuat kami memutar otak dan mempertimbangkan untuk juga membeli freezer khusus ASIP karena di kota kami tidak ada persewaan freezer. Haruskah? Iya, sepertinya demikian atau ASIP yang saya kumpulkan setetes demi setetes terpaksa dibuang '_'.

Dan malam itu, saat hendak memerah botol ke 64 di hari ke 40, mendadak saya berpikir, “Apakah produksi ASI saya masih dalam ambang batas yang wajar? Ataukah memang terlalu banyak? Dimana segala sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik bukan?” Karena itulah malam itu saya kemudian browsing dengan kata kunci ‘air susu berlebihan’ dan menemukan sebuah istilah baru, yaitu ‘hyperlactation’ atau ‘hiperlaktasi’.

Tuesday, March 10, 2015

Lika-Liku Mencari Bra Menyusui yang ‘Pas’

Waktu itu, masih hitungan beberapa bulan sebelum perkiraan kelahiran Mahesh, saya sudah mulai sibuk mencari perlengkapan untuk Mahesh maupun saya pasca melahirkan nanti. Dan salah satu barang wajib yang kala itu sedikit sulit didapatkan adalah bra menyusui! Sampai-sampai seorang teman saya membantu hunting saat sedang berjalan-jalan ke mall di kotanya (walaupun akhirnya tidak membuahkan hasil karena pertimbangan ongkir).

Jika tinggal di kota besar, mungkin hal itu tidak perlu terjadi, karena saya bisa dengan mudah menjelajahi pusat-pusat perbelanjaan untuk menemukan bra menyusui yang pas dari sisi ukuran, kenyamanan dan juga harga. Tapi sayangnya lokasi saya yang cukup pelosok, membuat semua itu menjadi hal yang sulit dilakukan. Dan akhirnya, saya pun mengandalkan toko-toko di dunia maya untuk menemukan bra menyusui yang pas.

Oh ya, sebelum melanjutkan cerita perburuan ini, saya ingin bercerita pentingnya sebuah bra menyusui menurut saya, diantaranya sebagai berikut:
  1. Membantu melalui masa-masa pembengkakan payudara dengan lebih nyaman. Beberapa hari pasca melahirkan hampir semua wanita akan mengalami pembengkakan payudara dalam upaya tubuh untuk menghasilkan ASI untuk bayinya (rasanya bisa baca disini). Nah, menurut pengalaman saya, bra menyusui yang fleksibel dan nyaman sangat membantu melewati masa-masa itu dengan nyaman. Kebayang kan 'repotnya' merasakan payudara yang cenat-cenut dan harus disusukan, jika menggunakan bra yang tidak pas bisa dipastikan rasanya akan sangat menyiksa. 
  2. Membuat ASI lebih cepat 'disajikan' saat bayi membutuhkan. Jadi, salah satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah kemudahan membuka kancing bra pada saat akan menyusui. 
  3. Memudahkan pada saat harus menyusui di tempat umum. Dengan bra menyusui yang mudah dibuka dan dikancingkan, maka 'kehebohan' untuk menyusui akan dapat diminimalkan sehingga tidak terlalu mencolok. 
Jadi, setuju kan, kalau bra menyusui itu memang hal yang penting dan essential pasca melahirkan.

Kembali ke perburuan untuk menemukan bra menyusui yang pas ke berbagai toko online... saya pun menjelajahi berbagai toko online langganan dan juga browsing dengan bantuan google, karena ternyata mencari bra menyusui itu gampang-gampang susah! Ketemu yang kelihatannya nyaman dari sisi desain dan bahan, eh, harganya kurang pas alias kemahalan :(. Cukup tricky lah pokoknya.

Waktu itu, akhirnya saya jatuh hati beberapa tipe bra menyusui merk Mamaway yang sesuai untuk kondisi payudara bengkak dan saat tidur karena elastisitas bahannya dan jenis lainnya yang pas dipakai saat kondisi payudara mulai normal dikala siang hari dan bepergian. Namun, meskipun bra menyusui yang diinginkan sudah didapat, tapi perburuan belum selesai, karena toko yang diharapkan (menyediakan harga terbaik) belum didapatkan. Sampai akhirnya saya menemukan bra menyusui yang saya cari di toko langganan saya, Zalora. Walaupun sudah berkali-kali berbelanja Zalora, tapi saya baru tahu kalau mereka juga memiliki koleksi bra menyusui dan baju hamil (pernah saya posting disini) yang lengkap setelah googling melalui internet. Selama ini saya hanya berbelanja seputar baju, sepatu dan tas.

Harga yang ditawarkan Zalora memang sama dengan harga yang ditawarkan di toko resmi bra menyusui tersebut, tapi menjadi lebih ekonomis karena adanya program gratis ongkos kirim dan diskon 15% untuk pembayaran menggunakan Kartu Kredit Mandiri Visa kala itu. Dengan begitu, saya bisa berhemat banyak! Mengingat lokasi saya di Tanjung Enim, Sumatera Selatan yang cukup jauh sehingga tarif ongkos kirim beberapa ekspedisi relatif mahal, namun dengan program gratis pengiriman Zalora, saya tidak perlu membayar serupiah pun.

Dan berikut adalah bra menyusui favorit saya:

Mamaway crossover nursing bra 

Bra ini sangat elastis, sehingga mampu mengikuti ukuran payudara. Tapi meskipun demikian, dia mampu menopang payudara dengan baik, jadi sangat nyaman digunakan saat payudara membengkak dan terasa nyeri karena merangkaki (engorgement). Selain itu, bra ini juga sangat nyaman digunakan pada saat tidur malam, dimana pada saat pagi hari payudara bengkak karena penuh ASI.

Mamaway Fleur de Lace Crossover Sleeping & Nursing Bra 

Bra menyusui yang ini memiliki semacam busa tipis yang membuat sehingga terlihat rapi meskipun kita menggunakan breast pad. Sangat pas dipakai pada saat bepergian menggunakan baju yang press body (ketat) di bagian dada.

Mamaway Allure Wireless Maternity & Nursing Bra 

Bra ini memiliki bukaan dengan pengancing berupa kait. Sangat pas digunakan di siang hari atau pada saar bepergian.

Tiga jenis bra menyusui itulah favorit saya saat ini. Soal harga menurut saya sih lumayan berasa di kantong. Yah, bra menyusui kan kebanyakan memang cukup menguras kocek, karena itu, kita harus jeli memilih mana yang benar-benar nyaman, awet serta toko yang memberikan diskon dan gratis ongkos kirim agar lebih ekonomis. Oh ya, saya memperoleh ketiga bra ini sangat jauh lebih murah daripada harga aslinya karena promo yang sedang ada waktu itu.

Oh ya, bagi ibu-ibu dan calon ibu yang sedang mencari bra menyusui, silakan googling melalui internet untuk menemukan bra menyusui yang pas di badan dan di kantong. Sebagai referensi bisa intip Zalora. Toko ini, selain menyediakan berbagai jenis bra menyusui juga memberikan diskon pada berbagai event serta tentu saja gratis ongkos kirim ke seluruh Indonesia dengan minimal pembelian Rp. 250.000. Selamat berburu ;)

With Love,
Nian Astiningrum
-end-