SOCIAL MEDIA

search

Thursday, July 5, 2018

Each Marriage They Create Chemistry…

…kemudian mereka pun menikah dan hidup bahagia selamanya…
Hayoo… ada ga nih teman-teman yang menganggap kalimat di atas sebagai parameter paripurnanya suatu cerita percintaan? Kalimat pamungkas yang banyak kita temui pada cerita dengan genre fairy tale, semacam Cinderella, Rapunzel, Keong Mas, dan lusinan lagi yang jadi cerita favorit saya sejak dulu. Cerita-cerita yang membentuk relationship goal saya kala itu, bertemu seorang 'pangeran' baik yang mencintai saya, menikah, dan hidup bahagia selamanya…

Goal, yang tercapai sih… Saya menemukan seorang pria baik yang mencintai saya dan kemudian menikah… Juga merasa bahagia dengan pernikahan saya, tapi ya bukan berarti 'udah gitu aja selesai'. 'Bahagia' bukan berarti just happy all the time… hanya pelangi 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu, tanpa hujan dan badai sama sekali. Tanpa perbedaan pendapat, perselisihan paham, dan perang dingin.

Yah, asal tahu saja, dulu pas awal-awal menikah, prosentase akur dan berantemnya mungkin fifty-fifty ya...

Tapi, ya kami menerima situasi itu dengan kesadaran bahwa itu adalah bagian dari reaksi yang terjadi karena bertemunya kami dengan karakter yang sama-sama keras. Berusaha tetap berpikir logis dan tidak mendramatisirnya. Itulah yang akan saya ceritakan disini…

Spesial untuk adik saya tercinta dan juga teman-teman yang mungkin juga sedang menjajaki kemungkinan memasuki dunia pernikahan. Siapa tahu bisa memberi sedikit inspirasi dan mungkin pencerahan…


OK, mari kita mulai cerita ini dari skeptisnya saya akan cinta dimasa remaja… Saat dimana saya merasa kesulitan mengikuti perkembangan kedewasaan teman-teman sebaya yang mulai jatuh cinta dan pacaran sejak SMP. Sesuatu yang cukup mengganggu saya… Sampai-sampai saya menciptakan tokoh fiktif bernama Abimanyu yang bersekolah SMP lain supaya tidak dianggap nerd dan ga gaul karena belum punya gacoan… 😅

Saat teman-teman saya mulai jatuh hati pada si A, si B atau si C. Saya malahan sibuk mencari jawaban, 'cinta itu apa'. Call me over analize, tapi saya tidak bisa sepenuhnya menerima pendapat bahwa cinta itu adalah perasaan suka yang datang dengan sendirinya tanpa kita undang… Bahkan, saya berpikir bahwa 'cinta' itu sesungguhnya adalah perasaan yang bisa diciptakan. Not really like a gifted feeling or something that happen accidentally…

Dan karena tak kunjung mendapatkan jawaban, saya pun bereksperimen dengan diri sendiri untuk membuktikan hipotesis itu. Saat duduk di bangku kuliah, saya dengan sengaja, terus dan terus memikirkan seorang pria, memperhatikannya saat bertemu, dan sebagainya; hingga akhirnya simptom-simptom jatuh cinta seperti perasaan dag-dig-dug, malu saat bertemu, dan sebagainya itu muncul.

See? Hipotesis terbukti! Dan bahkan menguat, saat kemudian ada kejadian dimana saya melihat pria itu mencontek di kelas dan kemudian saya 'ilfeel' dan perasaan saya itu hilang begitu saja… 😅 Berarti, perasaan cinta itu pun bisa hilang jika tidak dipelihara…

Sehingga, lebih lanjut, saya mengambil kesimpulan bahwa perasaan 'cinta' tidak mutlak diperlukan untuk memulai sebuah hubungan romantis, karena perasaan itu bisa diciptakan. Dan justru yang lebih penting sesungguhnya adalah komitmen, karena itulah yang akan menjaga cinta kita tetap hidup pada seseorang…

Sejak itulah, saya tidak terlalu ambil pusing dengan yang namanya 'cinta' dan 'pacaran'. "Yah, nanti kalau ada laki-laki yang nembak, saya pertimbangin deh.." dengan pedenya saya berprinsip seperti itu. Dan berakhir saya menjomblo sekian lama, karena ga ada yang nembak dan baru mengenal pacaran di akhir masa kuliah 😅.
Rasa cinta itu bisa diciptakan, tapi kepribadian seseorang itu adalah sesuatu yang (nyaris) tidak bisa berubah…
Bapak dan ibu saya adalah alasan meyakini hal itu… Di mata saya, mereka adalah contoh nyata bagaimana jadinya kehidupan pernikahan yang tidak diiringi dengan kecocokan kepribadian dan penerimaan satu sama lain… Banyak sekali ribut-ribut, pertengkaran, sampai perang dingin yang berimbas tidak hanya pada kurang bahagianya kedua belah pihak, tapi juga stabilitas emosi anak-anaknya.

Mungkin cinta mereka untuk satu sama lain begitu besarnya hingga meskipun dengan ketidakcocokan yang tidak bisa terselesaikan, mereka tetap bertahan. Tapi, bertahan saja tidak cukup, karena keduanya seringkali mengeluhkan sikap masing-masing, terlibat pertengkaran, dan bahkan melibatkan saya sebagai anak pertama dalam perbedaan pendapat mereka. Dimana, di usia saya yang sama sekali belum matang saat itu, semua itu menimbulkan tekanan tersendiri bagi saya.

Juga semacam menciptakan membentuk stigma negatif pada sosok pria seperti bapak yang begitu sulit dipahami dan memahami orang lain. Sosok yang saya tandai dengan karakteristik: merokok, berasal dari background pendidikan teknik, serta memiliki karakteristik kepribadian sulit mengalah, merasa paling benar, selalu melihat orang lain salah, arogan, dan seterusnya. Yang kemudian saat mulai banyak bergaul dengan dunia psikologi, saya kenali dengan istilah Tipe Kepribadian Merah atau Cholerics.

"Tidak memiliki latar belakang teknik…" Statement ini mungkin sedikit menimbulkan pertanyaan karena tidak mengisyaratkan sesuatu yang negatif ya… Tapi, kalau saya sih iya… Bapak yang sering sekali bilang, "…kalau orang teknik itu…" penuh perhitungan lah, jarang salah lah… kata-kata yang berulang-ulang dikatakan untuk menyalahkan orang lain dan membenarkan diri sendiri, membuat saya (maaf) sedikit muak. Hingga setengah berjanji pada diri sendiri, untuk tidak menikah dengan seorang dengan latar belakang pendidikan teknik. 

So, I keep this on my mind…

Satu, tidak merokok…

Dua, dari sisi kepribadian, bukan Cholerics atau Merah…

Tiga, tidak dari latar belakang pendidikan teknik… pokoknya tidak dari segala macam fakultas teknik!

Daan… Eng-ing-eng… Ternyata dari ketiga kriteria itu, hanya poin pertama saja yang menjadi kenyataan. Fortunately, saya jatuh cinta dan menikah dengan seorang pria dengan yang lugas sekali kalau ngomong, almost selalu merasa dirinya benar, cenderung arogan… everything untuk mengkategorikannya ke dalam Tipe Kepribadian Merah… Lengkap dengan titel S.T. dari ITB dan kerjanya pun di bagian operasi pemeliharaan… 😱 Triple teknik! 😆

Dengan segala perbedaan dan pertentangan karakter kami berdua, tidak terlintas sedikit pun jika dia akan menaruh hati pada saya. Menurut logika, saya jelas bukan tipenya! Dan dengan segala stigma negatif saya padanya, tidak pernah terpikir kemungkinan kemudian saya pun jatuh cinta padanya. Makanya, setuju lah saya, jodoh itu memang misteri…

Dan bisa ditebak, perjalanan cinta kami pun cukup terjal dan berliku… Putus pada saat usia pacaran beberapa minggu saja, dan ga pernah nyambung-nyambung lagi sampai akhirnya dia (suami) melamar saya… Sejak awal, kami berdua sadar akan tajamnya perbedaan karakter kami berdua. Itu kenapa, setelah putus, butuh waktu yang cukup lama sampai akhirnya sepakat berkomitmen lagi.

Menurut pengakuan suami sih, dia ga ingin kami nyambung lalu putus lagi, jadi harus benar-benar yakin. Saya sendiri, kurang lebih sama… merasa bahwa butuh keyakinan dua orang untuk berkomitmen, tidak bisa satu pihak saja. Apalagi dengan tipe saya yang suka over analyse, takutnya kalau tidak benar-benar yakin suami memang menginginkan saya, akhirnya sedikit masalah saja membuat saya gamang. Yes, it is complicated… I am complicated… apalagi bagi seorang seperti suami saya (baca: Cholerics) yang kurang sensitif secara emosional.


Baiklah… Memangnya sepenting apa sih peran kepribadian dalam sebuah pernikahan?

Menurut saya, penting sekali, seperti halnya yang saya lihat dari bapak dan ibu. Mereka berdua adalah bukti nyata bagaimana jadinya sebuah pernikahan yang dilakukan oleh dua orang yang memiliki perbedaan karakter yang sangat mencolok dan tidak disertai oleh keikhlasan dan sukacita menerima hasil reaksi dari perbedaan itu.

Setiap orang itu adalah unik, setiap dari kita memiliki bakat (potensi genetis) dan juga lingkungan tumbuh yang berbeda. Karenanya, kemudian kita pun memiliki kepribadian (karakteristik berpikir, perasaan dan perilaku) yang berbeda-beda. Ada kalanya perbedaan ini begitu mencolok atau bahkan saling bertentangan, misalnya ada seseorang yang cenderung bersikap santai, ada pula yang bersikap serius; ada orang yang begitu perasa dan ada juga orang cenderung tidak peka secara emosional; dan sebagainya…

Dan saat dua kepribadian yang berbeda atau bahkan bertolak belakang itu terlibat dalam sebuah interaksi yang intens dalam waktu yang lama, maka akan timbul suatu reaksi yang bermacam-macam. Bisa jadi itu adalah sebuah keluarga yang adem ayem dan tenteram tanpa banyak gejolak. Tapi, bisa juga yang terjadi adalah sebuah keluarga yang penuh dengan perbedaan pendapat dan pandangan, dihiasi dengan diskusi-diskusi sengit, pertengkaran, dan gejolak-gejolak lainnya.

Mungkin, secara umum, orang memang memandang bahwa pernikahan yang membahagiakan itu adalah pernikahan yang adem ayem, damai dan tentram… Tapi tidak selalu seperti itu… Bisa jadi, seseorang justru merasa bosan dengan keadaan yang terkesan stagnan dan gejolak-gejolak yang ada justru menimbulkan semangat. Bahkan bisa jadi, gejolak-gejolak yang ada itu justru mendewasakan kedua belah pihak…

Semua kemungkinan bisa terjadi, sehingga yang penting kemudian adalah bukan seperti apa reaksi yang terjadi atas pertemuan kepribadian kita dan pasangan… Tapi, apakah kita bisa menerima hasil reaksi itu…

Saat kita jatuh cinta, mungkin kita menjadi merasa begitu powerfull untuk BERUBAH atau MERUBAH pasangan supaya kehidupan pernikahan seperti harapan kita. Tapi, perlu diingat, bahwa saat menikah interaksi kita dengan suami/istri itu hampir tanpa jeda dan begitu intens. Jadi, ya benar-benar dipertimbangkan pelan-pelan, hati-hati, dan baik-baik senya itu.

Pun yang terjadi pada saya dan suami, memerlukan waktu yang cukup lama untuk akhirnya yakin melangkah ke jenjang pernikahan…

Saya Melancholy dan suami Cholerics… Atau, saya lebih suka menggunakan penggolongan kepribadian Hartman; saya Biru dan suami Merah. Motivasi inti saya adalah intimasi, sementara suami adalah kekuasaan (power).

Suami cenderung tipe commander (suka memerintah) dan arogan, sedangkan saya cenderung perasa dan memasukkan semuanya dalam hati. Suami senengnya mengatur semua supaya benar menurut dia, sementara saya inginnya diperlakukan dengan lembut dan kasih sayang. Alhasil, saat kami berinteraksi suami merasa marah dan kesal, sementara saya merasa tidak dimengerti dan kurang dicintai. Karenanya, tidak berlebihan jika Hartman (2007) dalam bukunya The People Code, kemudian menyebut hubungan antara seseorang dengan kepribadian dominan Merah dan Biru itu bagai 'blood, sweat and tears'… 'Darah, keringat dan air mata'… 👻

Seorang dengan kepribadian dominan Merah berorientasi pada produktivitas atau hasil, sementara seorang dengan kepribadian Biru berorientasi pada intimasi. Bagi seorang Merah sikap arogan, suka memerintah, dan lugas adalah salah satu cara untuk mendapatkan hasratnya akan kekuatan dan otoritas. Sementara seorang Biru, sikap ini (arogan, suka memerintah, dan lugas) ini adalah sesuatu yang sangat mengecewakan karena dipersepsikan sebagai sikap kurang mencintai.

Dan pada kenyataannya, inilah yang terjadi pada kami berdua…

Saya sering merasa kalau suami itu:
  • Tidak perhatian dan kurang romantis. Dulu, suami kebiasaan yang cukup mengganggu, yaitu tidur sembarangan! Capek pulang kerja, bisa langsung tidur di sofa ruang tamu, dan sebagainya… Padahal, saya maunya ya dia tidur di kamar sama saya… 😂 *Ingat, intimasi itu hal yang (paling) penting menurut saya…
  • Kurang mendengarkan keluhan saya. Kadang saya mengeluh apa, malah ditanggapin bercanda atau dipotong sebelum cerita saya selesai.
  • Sering mengeluarkan komentar yang membuat saya merasa bersalah. Saat saya sedih dan curhat karena seorang teman tersinggung atas ucapan saya, dan kemudian dia berkomentar, "Kamu sih, suka ga bisa mengemas kata-kata…" Kalimat yang justru membuat saya lebih merasa bersalah lagi.
  • Menuntut. Misalnya bagaimana dulu suami mengkomplain penampilan saya yang terkesan cuek… Juga, memaksa saya untuk menyalurkan hobi menulis dan bernyanyi lebih baik lagi.
  • Dan sebagainya. 
Sementara suami, merasa saya ini:
  • Terlalu perasa dan emosional. Dikasih tau aja marah, tersinggung, sedih, nangis… Lalu, juga mudah merasa iba, itu juga seringkali dianggapnya tidak realistis.
  • Suka melakukan kegiatan kontra produktif. Misalnya, sudah tau buru-buru harus anter Ganesh sekolah, malah foto-foto bekal dulu… 😂
  • Tidak lugas dalam berkomunikasi sehingga sulit dipahami. Maunya suami ngomong tuh langsung to-the-point, tapi saya suka muter-muter. Misalnya dia nanya boleh ga makan malam dulu, terus saya jawabnya, "Ya udah deh, gapapa…" Padahal sebenarnya saya udah capek ngurusin anak-anak berantem dari tadi, terus alhasil pas pulang saya ngambek… 😂 Maunya dia, ya langsung jawab aja, "Ga boleh…"
  • Dan sebagainya
Ya, hal-hal seperti itulah yang mewarnai kehidupan kami sebagai pasangan suami istri yang hidup bersama selama 24 jam sehari dan 7 hari dalam satu minggu.

Pada masa awal-awal pernikahan kami, perbedaan-perbedaan ini cukup tajam… Walaupun kami berdua sudah menyadari adanya perbedaan (dan bahkan pertentangan) karakter ini sejak sebelum menikah, ternyata saat bersama dan berinteraksi se-intens itu, tetap saja kami seringkali kehabisan stok sabar dan pengertian... Dan alhasil; ketegangan, ribut-ribut kecil, sampai ribut-ribut besar pun tidak bisa dielakkan.

At some point that's exhausting…

Tapi, enggak juga sih terus-terusan tentu saja; perasaan capek, kesal, bete, dan sejenisnya itu datang dan tidak pernah bertahan terlalu lama. Kenapa? Pertama, karena kami memang sama-sama sudah memprediksi hal ini akan terjadi… Kami sama-sama tahu kekerasan hati masing-masing, sedikit banyak tahu karakter satu sama lain… jadi meskipun ada pikiran, "Ternyata keras banget ya nih orang…" tapi, tidak terlalu kaget lah.

Kedua, kami berdua yakin dengan kualitas moral satu sama lain… maksudnya saya yakin kalau suami saya adalah orang baik, jadi pasti sesungguhnya deep inside selalu berusaha untuk menjalankan perannya sebagai suami dengan baik. Berusaha menjadi suami yang bertanggung-jawab untuk menjaga kesejahteraan lahir dan batin saya. Jadi, pada saat kemudian ada tindakannya yang menyebalkan dan tidak berkenan di hati saya… meskipun awalnya konflik tidak bisa dielakkan, tapi kemudian saat bisa kembali berpikir logis, saya akan melihat situasi itu sebagai miskomunikasi, perbedaan pendapat, perbedaan pandangan, dan perbedaan karakter; yang bisa diselesaikan dengan sedikit menurunkan ego, berbicara, dan berkompromi.

Dan ketiga, tentu saja adalah karena kami berdua bisa menerima kondisi itu, bahkan mungkin menikmatinya. Kan kalau adem ayem aja bagi beberapa orang rasanya kurang seru ya… Dan somehow, kemudian kami semakin santai menghadapi benturan-benturan yang terjadi. Juga semakin terbiasa untuk melihat segala sesuatu dari paradigma yang berbeda. Saya dan suami mulai memperbaiki gaya komunikasi masing-masing…

Saya belajar untuk berbicara lebih lugas, langsung saja ultimatum suami supaya tidak tidur di sembarang tempat, tapi harus di KAMAR, atau siap-siap saya jadi bete dan gampang marah 😅. Demikian juga dengan suami, dia berusaha lebih menghargai tuntutan-tuntutan saya berkaitan dengan intimasi yang dulu dianggapnya tidak penting… meskipun sudah ketiduran di sofa, dia akan pindah ke kamar kalau saya missedcall 😂. Dia juga belajar berbicara lebih halus, mulai memperhatikan mimik muka dan nada bicara saya, mulai paham kapan waktunya harus melunak, dan sebagainya.

Tapi bukan berarti kemudian ribut-ributnya terus sama sekali hilang ya, tetap kok polanya; marah-marah, ribut-ribut, perang dingin, terus baikan. Gejolak hanya berkurang intensitasnya, tapi tidak pernah hilang… dan kami sama sekali tidak keberatan.
It's OK, apapun kondisi dan situasi yang timbul akibat bertemunya kepribadian kita dan pasangan (damai, penuh gejolak, dinamis, adem ayem, dll.), selama kita tidak keberatan dan tetap mencintai serta menghargai pasangan kita… That's what make a happy marriage… 

Bonus! Meskipun seringkali melihat satu sama lain sebagai orang yang menyebalkan, harus diakui jika usaha untuk berkompromi membuat menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Tuntutan-tuntutan suami itu begitu stressfull dan menyebalkan, tapi itu membuat saya menjadi lebih berani dan ekspresif… Sampai akhirnya saya (cukup) aktif menulis dan berani tampil di depan orang banyak, itu adalah salah satu hasil karnyanya. Dia memaksa saya lebih all out menunjukkan sesuatu yang menurutnya adalah bakat.

Sikap decisive suami memang menyebalkan, tapi itu membuat saya menjadi seseorang yang lebih baik. Atau boleh dibilang… lebih bersinar… dan saya lebih bahagia…

Suami? Saya rasa dia juga mengalami hal yang sama… Juga menjadi pribadi yang lebih baik… hanya tidak pernah mengatakannya atau tidak merasakannya, karena ini membutuhkan perasaan yang halus dan sentimentil untuk memahaminya. Sesuatu, yang jelas bukan kompetensinya… 😂

Kurang lebih seperti itu…

Jadi, final words-nya…  Serius dalam hubungan cinta itu bukan sekedar niat untuk melangkah ke jenjang pernikahan, tapi yang tidak kalah penting adalah menjajaki karakter dan kepribadian satu sama lain untuk menemukan jawaban, "Apakah bisa menerima konsekuensi dan bahagia dari pertemuan kepribadian kita dan pasangan?"

That's it…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-


Catatan:
  1. The Color Code atau The People Code adalah penggolongan kepribadian menjadi empat kategori berdasarkan motif inti dari individu; yaitu Merah (motivated by power), Biru (motivated by intimacy), Putih (motivated by peace) dan Kuning (motivated by fun).  Motif = dorongan dalam diri individu.

Thursday, May 31, 2018

Spesialnya 'Tumpeng Enak' Lampung…

Perkenalan saya pada Tumpeng Enak, sebenarnya tidak sepenuhnya disengaja; dalam artian bukan kerena rekomendasi dari rekan yang sebelumnya sudah mencoba sebelumnya.


Waktu itu, seperti biasa, karena hari libur, saya pun libur masak… *Hmm, kalau ibu-ibu yang lain biasanya justru pas libur masak ya… Kalau saya, karena lima hari dalam seminggu sudah masak pagi buta untuk makan siang dan bekal anak, hari libur justru adalah waktunya untuk bersantai melakukan 'hobi' yang biasanya cukup terbengkalai (baca: menulis dan belajar piano). Semacam me time mungkin ya…


Nah, siang itu, di suatu Hari Sabtu (kalau tidak salah ingat), mendekati waktu makan siang, mulailah saya berselancar ke dunia kuliner melalui Go-Food. *Yes, Go-Food ini memang benar-benar solusi untuk orang-orang yang lagi males masak seperti saya… *Dunia benar-benar lebih indah setelah Go-Jek masuk ke Lampung tempat domisili saya…

Pada dasarnya, setiap kali mencari makan, sebagai emak-emak, sudah bisa dipastikan jika selera anak adalah satu aspek yang harus diperhatikan. Karenanya, kemudian tujuan terkerucut kepada nasi kuning, karena Anesh anak pertama saya sangat suka nasi kuning.

Searching… searching…

Voila! Terdampar lah saya ke lapak 'Nasi Kuning Kemiling'… *Ya, di Go-Food namanya 'Nasi Kuning Kemiling' padahal lokasinya ternyata bukan di Kemiling, tapi Kedaton… Infonya sih, dari pihak Go-Jek mendeteksi lokasi Tumpeng Enak ini di Kemiling…

Di Go-Food, hanya ada dua menu dari lapak 'Tumpeng Enak', yaitu Tumpeng Mini dan Bento Nasi Kuning. Dan kemudian, karena baru pertama kali coba, saya pesan aja masing-masing satu, buat Ganesh dan Mahesh, saya sih sisanya aja… Papanya? Waktu itu kayaknya dia sedang dinas, jadi tidak masuk hitungan…

Dari perkenalan pertama itu, kemudian saya pun cukup impressed dengan konsep 'Tumpeng Enak' ini… Unik lho, ada tumpeng dalam bentuk mini yang disajikan lengkap dengan lauk-pauknya (udang, ayam, mie, telur, kering tempe, jamur krispi, perkedel, urap, sambal dan mentimun)… Demikian juga dengan bento nasi kuningnya, dengan menu yang sama minus udang dan perkedel. *Karena beda menu ini, kemudian mereka berbeda harga… Tumpeng mini 45 ribu dan bento 35 ribu…

Selain itu, penyajian yang eye-catchy dan benar-benar 'niat' (tidak asal-asalan); lengkap dengan sticker ucapan selamat makan dan jangan lupa berdoa itu semakin menegaskan passion owner Tumpeng Mini pada produknya.



Dan soal rasa seperti apa? Hmm, jujur saja, karena lidah saya tidak terlalu peka… menurut saya ya, enak-enak saja… nothing special…

Sampai kemudian, penilaian saya tentang Tumpeng Enak ini pun teruji pada saat kantor mengadakan acara buka bersama sekaligus dalam rangka HUT ke 22 tahun… *Sebenarnya kantor saya (PLN Sektor Dalkit Bandar Lampung sudah berdiri sejak 27 tahun lalu, namun karena adanya pemisahan unit, maka dihitunglah ulang tahunnya sejak pemisahan tersebut…

Nah, disitu karena momennya ulang-tahun, maka sebagaimana tradisi, keberadaan tumpeng nasi kuning adalah keharusan! Dari sanalah, kemudian timbul ide menu buka puasa pun nasi kuning, agar semua peserta pun merasakan kebersamaan dan juga sakralnya perayaan hari ulang tahun kantor tercinta kami ini.

Hmm… ingatan saya pun langsung tertuju pada tumpeng mini-nya 'Tumpeng Enak' yang menurut saya merepresentasikan semua itu… Nasinya nasi kuning, bentuknya tumpeng, lauknya pun sama persis dengan tumpeng versi besarnya. See what I mean kan? Biasanya kan tumpeng simbolis saja, yang dapet kuncupnya satu orang saja, dan yang nyicip palingan beberapa orang yang duduk di depan saja… Nah, ini semua peserta dapet kuncupnya… spesial banget kan…

Dengan segala pertimbangan itulah, sesuai kesepakatan dipesanlah 250 porsi Tumpeng Mini plus tumpeng besar untuk 30 porsi…


Lalu… Bagaimana debut si Tumpeng Enak ini di kantor saya…

Awalnya, walau pun sedikit ada lah sedikit kekhawatiran akan reaksi orang-orang karena ini adalah kali pertama kami menggunakan konsep perayaan HUT dan buka bersama dengan menu tumpeng nasi kuning. Bagaimana kalau ternyata orang-orang kurang antusias? Apalagi ada yang sempat bertanya, "Is it OK, makan yang bersantan-santan untuk buka puasa?" Arrgh… Sebagai panitia dan pelempar ide, saya jelas merasa sangat bertanggung-jawab akan semua itu.

Untungnya… fiuhh… Si Tumpeng Mini sukses di debut pertamanya… Orang-orang bukan cuma suka makannya, tapi juga excited mau bawa buat oleh-oleh, waduhh…

Soal rasa, 'Tumpeng Mini' memang tidak diragukan lagi… Menurut testimoni beberapa rekan,  'Tumpeng Enak' rasanya benar-benar enak, bumbunya terasa! Hmm, wajar sih, karena menurut mbak Pipit owner 'Tumpeng Enak', dia benar-benar melakukan riset untuk menghasilkan tumpengnya saat ini… Mulai dari beras premium yang cukup lengket untuk dibentuk meskipun tanpa tambahan beras ketan, santan, sampai minyak gorengnya. Saya sampai ter-wow-wow ndengerin mbak Pipit cerita… Sampai segitunya ya cari resep makanan…

Dan bukan cuma perkara rasa, packaging-nya pun benar-benar eye catchy! Tumpeng-tumpeng mini dengan aneka lauknya ini ditata apik dalam wadah beserta penutup transparan yang dilengkapi dengan sticker customize sesuai tema acara kita! Waktu itu, saya hanya memberikan tulisan,  konsep sticker beserta warna tema yang diinginkan… kemudian Mbak Pipit akan memesan desain sticker tersebut kepada percetakan langganannya. Dengan tentu saja, sebelum desain sticker sudah kita setujui… OK kan…


Packaging yang 'unyu-unyu' ini, sontak menimbulkan excitement tersendiri bagi peserta buka bersama. Karenanya, dari pemantauan saya, cukup banyak peserta yang memotret si Tumpeng Mini… sekedar untuk dokumentasi pribadi atau diposting melalui akun  socmed masing-masing… hahaha… Pokoknya seru lah liat tingkah polah orang-orang pada njepret si Tumpeng Mini ini, juga scroll-scroll timeline Instagram dan menemukan postingan-postingan orang-orang tentangnya…

Yes! Alhamdulillah… lega…

Terima-kasih Mbak Pipit dengan Tumpeng Enak-nya yang sudah memberikan pelayanan dan sajian mengesankan untuk acara kami. Juga, kesanggupannya meng-handle tambahan porsi mendadak (100 biji loh…) satu hari sebelum acara. Tumpeng Enak T.O.P lah pokoknya… Sukses selalu yah…

Dan teman-teman, yang berniat mengadakan acara, terutama yang berbau ceremony pas banget nih dengan Tumpeng Enak, dijamin nuansa heritage dan sakralnya acara makin terasa dengan menu tumpeng, tumpeng mini, dan bento nasi kuningnya. Atau kalau kurang suka nasi kuning, bisa kok request dibuat dengan nasi putih biasa…

Dengan komplitnya paket, berupa menu lengkap dengan lauk-pauknya serta packaging plus sticker customize sesuai tema acara kita, insyaallah harganya relatif affordable… Bisa langsung cek di Instagram atau websitenya langsung untuk cari tahu…

Atau… kalau berniat beli satuan sekedar untuk menghilangkan rasa kangen pada nasi kuning… boleh banget langsung order melalui Go-Food! Gampang banget pokoknya…

Tumpeng Enak
Instagram: @tumpeng.enak
Website: http://tumpengenak.com/

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Sunday, April 29, 2018

Tampil Cantik dengan Produk Handmade di Qlapa.com

'Modis'… dulu, mana kata itu dalam kamus hidup saya. Di tahun 90-an, saya adalah remaja sangat tidak peduli pada penampilan! Boro-boro matching-in warna, saya malahan merasa bangga jika berani jalan-jalan ke mall dengan setelan kolor dan t-shirt yang cukup pantas disebut baju tidur… Tindakan yang tampaknya sangat percaya diri, namun sesungguhnya adalah manifestasi dari ketidaknyamanan saya menjadi pusat perhatian.



Itu dulu…

Semakin dewasa, mau tidak mau kemudian saya harus berubah. Awalnya karena selalu gagal di sesi wawancara kerja, saya pun mengikuti nasehat Bude untuk lebih memperhatikan perihal penampilan; karena mau tidak mau itu adalah hal yang penting untuk posisi kerja tertentu, seperti posisi HR Admin incaran saya…

Sejak itu, kok lama-kelamaan saya merasa 'tampil cantik' itu enak juga dan menjadi pusat perhatian juga sama sekali tidak menyakitkan. Jadi kenapa tidak? Apalagi setelah menikah… suami getol banget beliin berbagai baju, sepatu, dan pernak-pernik lainnya demi membuat istrinya makin cantik… Makin sempurna lah transformasi saya…

Sampai-sampai, sekarang suami suka 'takjub' dengan penampilan saya yang menurutnya 'aneh-aneh'… Yang, yaa… sepertinya itu kata lain dari preferensi saya yang cukup spesifik pada produk handmade.  'Unik' identik dengan 'aneh', masuk akal kan…


Pengolahan manual membuat uniknya tekstur, warna, dan pola serat rotan, kain goni, mendong, dan pandan; warna-warni batu-batuan alam asli; dan juga uniknya motif batik, tenun, dan kain tradisional tampil prima. Dimana hal ini, tidak dapat dilakukan oleh mesin karena masing-masing membutuhkan treatment yang personal. Demikian juga pada bahan-bahan modern seperti benang nilon dan kain kanvas…

Proses handmade membuat berbagai macam detail dari bahan-bahan ini mungkin untuk ditampilkan.

Pun kreatifitas tinggi dan passion pengrajinnya membuat produk handmade tidak hanya berkelas dan bernilai seni tinggi, tapi juga sarat akan cerita hidup para pengrajinnya…

Salah satunya yang sempat viral adalah cerita istri Perdana Menteri Singapura yang memakai tas tangan karya seorang anak penyandang autisme saat melakukan kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat (Tempo.co).


Yup, di balik benda-benda handmade, pun tersimpan cerita-cerita personal dan inspiratif para pengrajinnya yang beraneka… Satu hal yang membuat produk handmade semakin bernilai bagi banyak orang.

Itu kenapa, saya hampir tidak pernah lepas dari sentuhan mereka di setiap kesempatan… Bukan hanya saat kondangan, tapi juga saat ke kantor, dan acara harian lainnya; saya suka sekali memakai pakaian batik atau tenun, perhiasan berbahan batu atau kayu, juga tas dari kain goni maupun daun pandan.

Mereka membuat saya merasa cantik…




Dan tentu saja bukan sekedar penilaian subjektif saja ya, karena teman-teman pun seringkali memuji penampilan saya, dilanjutkan komentar bahwa entah itu tas, kalung, atau pakaian handmade yang saya kenakan juga cantik, belinya dimana, dan sebagainya… Yang tidak bisa dipungkiri sih, kadang membuat saya ragu, "Jadi yang cantik saya atau pernak-pernik handmade-nya ya?" Haha…

Nah, kalau menurut teman-teman sendiri bagaimana? Bisa dibilang lumayan cantik lah ya… Dan berikut sedikit tips tampil cantik dengan produk handmade menurut versi saya:
  • Be yourself. Pilih gaya dan tampilan yang nyaman dan menarik menurut kita, jangan terlalu terpaku pada mode atau apapun.
  • Tentukan tema. Untuk menghasilkan penampilan yang berkarakter, kita perlu mengikuti satu tema tertentu; misalnya sporty kah, colourful kah, atau tema warna… earthy kah, candy colour kah, dan sebagainya.
  • Simpel dan jangan berlebihan. Karena fitur utama yang harus ditampilkan tetap adalah diri kita. Menurut saya, tampilan yang terlalu ramai justru akan mengaburkan karakter kita.
  • Pilih produk handmade yang berkualitas. Kualitas sama dengan jaminan elegannya suatu produk. Tidak harus mahal; yang terpenting adalah pemilihan bahan yang baik, pengerjaan yang 'rapi', dan desain yang indah.
Produk handmade sendiri, karena skala produksinya yang relatif kecil, pemasarannya pun tidak terlalu luas. Dulu, mendatangi langsung pengrajin atau toko-toko seni di daerah (nyaris) adalah satu-satunya cara mendapatkan mereka dalam versi terbaiknya (baca: berkualitas).


Sampai akhirnya, pengrajin mulai memanfaatkan website dan media sosial untuk memasarkan produknya. Yang tentunya adalah solusi bagi pengrajin untuk memasarkan produknya, dan juga konsumen, namun juga sebuah tantangan bagi kedua belah pihak…

Bagi konsumen adalah tantangan untuk menemukan produk yang berkualitas; sementara bagi pengrajin adalah tantangan untuk meyakinkan calon pembeli akan kualitas pelayanan dan juga produknya.

Dan, salah satu solusi dari tantangan ini diberikan oleh Qlapa.com!

Tampilan website Qlapa

Situs yang mulai beroperasi sejak 1 November 2015 ini merupakan penghubung antara pengrajin dan konsumen.

Disini, saya bisa menemukan (nyaris) apapun benda handmade yang dibutuhkan; mulai dari produk-produk fashion (tas, aksesoris dan pakaian), furniture, hingga produk kuliner. Qlapa.com bagaikan etalase online dari para pengrajin benda-benda handmade di mana pun mereka berada. Dan lebih dari itu, Qlapa.com memiliki berbagai kelebihan yang membuat saya terus menjadi pelanggan sejak tahun 2016:
  • Produk berkualitas dan terkurasi. Tim Qlapa akan menyeleksi satu persatu produk handmade dan hanya yang memenuhi standard kualitas serta memiliki target pasar yang sesuai yang akan ditampilkan di situs ini.
  • Aman. Qlapa.com berfungsi sebagai perantara transaksi antara pengrajin dan pembeli, dimana Qlapa.com baru akan meneruskan dana kepada pengrajin setelah barang diterima.
  • Memberdayakan pengrajin di seluruh Indonesia. Jika dulu para pengrajin produk handmade hanya bisa menjual produknya melalui toko-toko di daerahnya atau berusaha mencari pasar sendiri secara online dengan segala kesulitannya. Melalui Qlapa.com, mereka bagaikan dibawa ke sebuah pasar yang selalu ramai dikunjungi oleh pecinta handmade dari seluruh penjuru nusantara (bahkan dunia). 
  • Memesan dengan customize. Untuk barang-barang tertentu, kita bisa meminta detail tertentu… Sangat cocok untuk cinderamata…
  • Ada aplikasinya mobile-nya! Wow, ini nih yang meningkatkan kenyamanan berbelanja di Qlapa.com sejak beberapa waktu lalu… Dengan adanya aplikasi berbasis Android, berbelanja barang handmade menjadi benar-benar mudah dan menyenangkan. Kapan saja tertarik, tinggal searching di aplikasi, masukkan ke dalam keranjang, dan checkout… 
Qlapa.com bagaikan angin sejuk pegunungan bagi pecinta produk handmade seperti saya. Kapan saja, dimana saja setiap, kali membutuhkan… tinggal search… kain tenun, rok lilit, gelang, apapun itu… masukkan keranjang, checkout, dan barang akan dikirim ke alamat tujuan. Tanpa rasa khawatir!

Makanya wishlist Qlapa.com tidak pernah kosong, haha… Ada saja barang impian yang tertinggal di sana dan menunggu direalisasikan saat kantong memadai.

Terima-kasih ya Qlapa.com, sudah perburuan benda handmade menjadi begitu mudah… dan juga membuat saya terlihat cantik tentu saja. Sebagai konsumen, saya sangat puas dengan produk-produk Qlapa.com…

Teman-teman, sudah pernah belanja di Qlapa.com belum? Hati-hati ya, sekali coba pasti bakalan jadi langganan kaya saya deh…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Thursday, February 22, 2018

Ini Perbedaan Paspor Biasa dan E-Paspor yang Kamu Harus Tahu

Sumber: nationalgeographic.co.id
Mendengar kata paspor, hiks, jujur saja, yang terlintas di kepala saya adalah kerepotan membuatnya. Kala itu, tahun 2012 saya sempat mengurus dokumen keimigrasian ini bersama suami dan anak pertama saya, Ganesh yang baru berumur kurang lebih 1 tahun… hmm, prosesnya sih tidak terlalu ribet, cuma foto, wawancara dan kemudian tunggu beberapa waktu hingga paspor terbit. 

Dan kemudian, 5 tahun kemudian, saat paspor kami bertiga akan habis masa berlakunya, kami kembali mengurus perpanjangan paspor sekaligus pembuatan paspor si kecil Mahesh yang belum berusia 1 tahun… di sinilah drama terjadi. Mungkin karena beda kota, 5 tahun lalu di kota kecil, dan saat perpanjangan di kota yang jauh lebih ramai… perpanjangan dan pembuatan paspor saat itu menjadi lebih 'rumit' dan panjang. Proses diawali dengan mendaftar online terlebih dahulu untuk mengisi data, baru datang ke kantor imigrasi untuk melengkapi data, foto dan wawancara.

Kedengarannya sederhana ya… tapi sungguh, pengalaman kedua ini cukup ribet karena antriannya cukup panjang, hingga kami yang membawa Mahesh bayi benar-benar kerepotan. Usut punya usut, ternyata kami memilih waktu yang salah untuk mengurus paspor, karena bertepatan dengan persiapan keberangkatan TKI ke luar negeri, sehingga antrian menjadi sangat panjang.

Baiklah, next time akan lebih memperhatikan pemilihan waktu pengurusan dokumen ini… Termasuk juga mau tetap memilih paspor biasa atau e-paspor, nah loh, istilah apalagi ini ya…

Kedua jenis paspor ini sama-sama bisa dipakai untuk syarat perjalanan ke luar negeri, namun masing-masing pun memiliki kelebihan dan kekurangan. Hmm, penasaran seperti saya? Berikut penjelasannya…

Paspor Biasa 

Sumber: depok.imigrasi.go.id
Paspor biasa adalah buku paspor yang selama ini kita gunakan untuk perjalanan ke luar negeri. Ketika kita bepergian dengan paspor ini, petugas imigrasi akan memeriksa lembar per lembar cap Negara yang ada di dalamnya dan kita harus memperpanjang ketika lembarannya habis. 

Kelebihan paspor biasa: 
  • Bisa diurus di kantor imigrasi manapun, bisa di kantor imigrasi kelas satu ataupun dua. 
  • Biaya pengurusannya lebih murah, sekitar Rp. 355.000 per paspor. Dengan biaya buku paspor yang murah, sisa dananya bisa dialokasikan untuk membeli tiket online pesawat. 
  • Penyimpanannya relatif lebih mudah daripada e-paspor. Karena tidak memiliki chip, kita hanya perlu menyimpannya seperti biasa, tidak perlu perlakuan khusus.
Kekurangan paspor biasa: 
  • Harus mengantri di imigrasi ketika berangkat ke luar negeri. 
  • Tidak mendapat kemudahan persetujuan visa. 
  • Mudah dipalsukan. 

E-Paspor 

Sumber: cermati.com
Sejak beberapa tahun belakangan, Dirjen Imigrasi Indonesia memperkenalkan sistem e-paspor kepada masyarakat. Secara bentuk, e-paspor tidak ada bedanya dengan paspor biasa. Keduanya sama berbentuk seperti buku paspor biasanya. Yang membedakan adalah chip yang ada di halaman depan buku paspor tersebut dan biaya yang harus dikeluarkan, sekitar Rp. 655.000 per buku paspor. 

Fungsi dari chip ini adalah menyimpan data biometrik pemegang paspor seperti standar yang ditetapkan oleh International Civil Aviation Organization (ICAO). Isi dari data ini adalah bentuk wajah dan sidik jari yang akan muncul ketika chip paspor dipindai di bandara. 

Kelebihan e-paspor: 
  • Lebih mudah mendapatkan persetujuan visa kunjungan karena data pemegang mudah diverifikasi oleh Negara yang akan kita kunjungi. 
  • Jika kita berangkat ke luar negeri dari Jakarta atau Bali, tidak perlu lagi ngantri di Imigrasi.…cukup masuk ke autogate, pindai paspor dan siap boarding. 
  • Bebas visa di beberapa Negara, salah satunya adalah Jepang. Selama ini Jepang dikenal sulit mengeluarkan visa kunjungan kepada wisatawan sekalipun. Namun dengan e-paspor, kita bersama keluarga bisa liburan ke Jepang tanpa perlu mengurus visa ke Kedutaan Jepang. Selain itu, kesempatan untuk mendapatkan bebas visa ke beberapa Negara juga terbuka lebar. Dengan demikian, kita hanya perlu membeli tiket online, tanpa perlu pusing dengan biaya visa. 
Kekurangan e-paspor 
  • Perbedaan paspor biasa dengan e-paspor adalah pada chip yang terletak di halaman depan bukunya. Chip ini harus dijaga sedemikian rupa, karena kalau sampai rusak, ya buku paspor kita akan beralih fungsi menjadi paspor biasa saja. Karena itu, agar tetap bisa digunakan, kita harus ekstra hati-hati menjaganya agar tetap aman.
  • E-paspor hanya bisa diurus di kantor imigrasi kelas 1 yang berada di ibukota provinsi masing-masing. Hal ini cukup menyulitkan, terutama bagi kita yang tinggal jauh dari ibukota provinsi. Tapi boleh juga sih sekali-kali sengaja mengambil cuti untuk mengantri pengurusan e-paspor ke ibukota propinsi, sekalian jalan-jalan dan refreshing kan. Seperti yang suka kami lakukan dulu sewaktu masih tinggal di Muara Enim… jalan-jalan ke Palembang hanya untuk ke mall.
Dengan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh masing-masing paspor, pilihan ada di tangan kita. Mau paspor biasa atau e-paspor… Tinggal sesuaikan saja dengan kebutuhan dan juga waktu yang kita miliki buat mengurus paspor di kantor imigrasi. 

Setelah paspor jadi, selanjutnya tinggal berburu tiket online ke negara tujuan kita. Jaman sekarang sih, tidak perlu repot-repot, tinggal cek saja promo tiket online di Traveloka, yang selalu update dan punya kejutan ke tujuan manapun di seluruh dunia.

So, teman-teman pilih mana nih? Paspor biasa atau e-paspor?

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Wednesday, January 24, 2018

Memahami Gender dan Peran Seksual melalui Film Mulan (1998)

Laki-laki dan perempuan itu beda… Dari sisi fisiologis saja laki-laki dan perempuan itu berbeda… Tidak hanya postur badan saja yang berbeda; bahkan metabolisme tubuh, struktur otak, dan juga hormon-hormon yang ada dalam tubuhnya. Sehingga karena inilah, kemudian adalah hal yang alami jika kemudian laki-laki dan perempuan memiliki sejumlah kecenderungan perilaku dan karakter yang berbeda. Lalu, berbagai perbedaan ini membentuk pola sosial yang berbeda juga antara keduanya. Karena keduanya (laki-laki dan perempuan) memiliki potensi, serta kelebihan dan kekurangan yang berbeda.
Gender adalah sekelompok karakteristik atau sifat yang diasosiasikan dengan jenis kelamin seseorang (laki-laki atau perempuan) (Wikipedia).
Itulah kemudian timbul tuntutan peran yang berbeda antara laki-laki dan perempuan… Laki-laki bekerja ke luar rumah, perempuan menjaga rumah dan merawat anak-anak. Atau laki-laki bekerja sebagai tentara dan perempuan bekerja sebagai perawat, dan sebagainya, dan sebagainya… Yang seringkali membentuk pemahaman yang overgeneralised tentang seperti apa laki-laki dan seperti apa perempuan. Ya kan walaupun memang sebagian besar pria memiliki kemampuan spasial yang lebih baik, bukan berarti semua wanita adalah pengendara yang buruk kan… dan banyak lagi, dan banyak lagi…
Gender Role atau Sex Role adalah peran sosial meliputi serangkaian perilaku dan sikap yang secara umum diterima, sesuai, atau diharapkan untuk seseorang berdasarkan jenis kelaminnya (Wikipedia).
So, muter-muter ini poinnya apa?

Poinnya ada dua teman-teman… Pertama, bahwa laki-laki dan perempuan itu memiliki perbedaan dalam beberapa hal, punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Kedua, karena itu, kemudian ada semacam prototype suatu aktivitas maupun profesi untuk laki-laki atau perempuan. Dimana hal tersebut harus dipahami, namun tidak untuk digeneralisir berlebihan. Adalah benar, pada umumnya profesi tentara yang banyak berhubungan dengan kekuatan fisik lebih cocok untuk laki-laki; namun tidak menutup kemungkinan bahwa seorang perempuan pun bisa menjadi tentara jika memang dia ‘mampu’.


Nah, kedua hal itulah yang tidak sengaja ternyata bisa saya sampaikan kepada Ganesh sembari menonton Film Mulan yang rilis pada tahun 1998. ‘Tidak sengaja’, karena awalnya saya tidak punya niat untuk itu. Semuanya mengalir begitu saja saat menonton bersama Ganesh, melalui pertanyaan-pertanyaannya yang membuat saya banyak menjelaskan kedua hal ini (gender dan sex role) secara sederhana kepadanya.

Penasaran?

Here it goes…

Film Mulan ini adalah film animasi besutan Walt Disney yang mengangkat cerita rakyat Negeri Cina, tentang tokoh wanita pemberani bernama Hua Mulan (dalam film Fa Mulan) yang menggantikan ayahnya yang sudah uzur maju ke medan perang.

Film ini diawali dengan cerita tentang sosok Mulan sebagai seorang gadis yang cerdas dan lincah. Sosok yang berbeda tuntutan masyarakat Negeri Tirai Bambu saat itu kepada seorang gadis, yang harus penuh sopan santun dan tata krama, lemah lembut, serta tidak ‘ngeyel’ atau banyak berdebat… Pokoknya, seorang perempuan harus terlihat kalem dan penurut… kira-kira seperti itu.

Kebayang kan…

Nah, karena sikap Mulan yang lugas ini.. dia kemudian mengalami banyak benturan antara tuntutan sosial di lingkungannya dan keinginannya. Ada kalanya benturan ini kemudian membuatnya harus melakukan sesuatu tidak diinginkannya. Atau kemudian lingkungan memandangnya negatif karena perilakunya yang tidak sesuai dengan nilai ideal tersebut. Ingat lagu 'Reflection' yang menjadi soundtrack film ini? Kira-kira seperti itulah gambaran kegalauan hati Mulan saat itu… Mulan merasa tidak bisa mengekspresikan dirinya yang sesungguhnya…

Dan cerita terus mengalir sampai saat dimana pada suatu hari Negeri China diserang oleh pasukan jahat yang dipimpin oleh Shan Yu… Hingga Raja China kemudian memerintahkan setiap keluarga untuk mengirimkan seorang laki-laki ke medan perang. Dan keluarga Fa sendiri tidak memiliki anak laki-laki, maka ayah Mulan yang telah uzur pun mengajukan diri untuk memenuhi perintah raja tersebut.

Melihat hal ini, tentu saja Mulan tidak tinggal diam… Dia membujuk ayahnya untuk tidak menjalankan perintah tersebut, karena toh tidak masuk akal bukan seorang yang telah uzur maju ke medan perang? Namun, karena ayahnya berkeras untuk tetap maju ke medan perang, akhirnya Mulan pun mencuri pedang serta baju perang ayahnya, menyamar menjadi laki-laki dan pergi menggantikannya menuju ke camp pelatihan prajurit perang.

Lalu disanalah segala masalah dan tantangan kemudian dimulai… Mulan yang notabene adalah seorang perempuan, tentu tidak memiliki fisik yang sekuat laki-laki tentu kesulitan dengan latihan berat yang harus dilakukan. Pun perilakunya yang tentu saja berbeda dengan laki-laki yang cenderung 'kasar' dan bercanda dengan fisik, membuatnya sulit diterima diantara teman-teman laki-lakinya. Oh ya, dan jangan lupa, karena Mulan perempuan dan semua teman-temannya laki-laki, itu juga berarti dia tidak bisa leluasa bergaul dengan mereka. Mulan harus tidur terpisah di tendanya sendiri dan juga mandi dengan sembunyi-sembunyi.

Akan tetapi, dengan segala tantangan itu, dengan ketekunan dan kecerdikan Mulan… semuanya bisa dilewati. Mulai dari Mulan bisa menjawab tantangan Panglima Li Shang untuk mengambil anak panah yang tertancap di puncak sebatang kayu tinggi, dimana teman-teman lainnya gagal. Bisa mengikuti latihan bela diri seperti halnya teman-teman laki-lakinya lainnya. Berhasil mengalahkan puluhan atau ratusan pasukan Shan Yu dengan kecerdikan dan keberaniannya menembakkan meriam ke sebuah gunung es. Dan bahkan akhirnya bisa menyelamatkan raja dan mengalahkan Shan Yu…

Ya, Mulan berhasil mengalahkan tantangan dan kesulitan yang dialaminya, mematahkan semua anggapan bahwa wanita itu lemah serta tidak bisa menjadi prajurit di medan perang… bahkan menjadi pahlawan dengan segala keberanian dan kecerdikannya. Note that!

Well, dari sini kelihatan bukan, ada banyak nilai berkaitan dengan gender dan peran seksual yang bisa diajarkan pada anak melalui film ini. Adapun menurut catatan saya, hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:
  • Bahwa perempuan dan laki-laki memiliki sejumlah perbedaan, salah satunya pada sisi fisik yang menyebabkan keduanya memiliki potensi yang berbeda. Dalam film ini ditunjukkan bagaimana laki-laki memiliki fisik yang lebih kuat daripada perempuan, sehingga Mulan kesulitan untuk mengikuti latihan sebelum maju ke medan perang. Sampai-sampai pada saat harus berlatih fisik membawa beban (memikul dua buah ember) sambil berlari, Mulan tidak bisa menyusul teman-temannya dan akhirnya dibantu oleh pelatihnya.
  • Bahwa itu juga mengapa kemudian ada profesi yang secara umum lebih cocok untuk laki-laki atau perempuan. Misalnya dalam hal ini yang menjadi tentara di medan perang… laki-laki secara umum lebih cocok, karena memiliki fisik yang lebih kuat. "Coba deh Anesh bayangin, kalo tentara itu gampang capek dan ga bisa ngangkat beban berat… nanti gampang ketangkap musuh deh… Baru bawa meriam misalnya, eh larinya jadi pelan banget… kan gampang ketangkap musuh…"
  • Bahwa karena fisiknya lebih kuat, seorang pria selayaknya membantu seorang wanita dalam hal yang relatif berat secara fisik. "Jadi, kalau Anesh liat ada cewe bawa barang berat, dibantuin ya…"
  • Bahwa, meskipun perempuan memiliki fisik yang lebih lemah, bukan berarti dia lebih tidak mampu dibanding laki-laki. Seperti halnya Mulan yang dengan lebih lemah secara fisik, namun selalu ketekunan dan sifat pantang menyerah yang membuatnya cakap dalam hal ilmu bela diri. Juga kecerdikannya dalam segala hal, sehingga bahkan dia bisa mengalahkan puluhan tentara musuh sekaligus dengan menembakkan meriam ke gunung es dan menyelamatkan raja dari serangan Shan Yu. Jadi, jangan pernah meremehkan seorang laki-laki atau perempuan dalam hal tertentu. Atau dengan kata lain, jangan menyamaratakan bahwa semua wanita atau pria tidak bisa melakukan suatu hal…
  • Bahwa pria dan wanita memiliki 'daerah pribadi' yang berbeda. Daerah pribadi adalah bagian tubuh yang hanya boleh dilihat dan disentuh oleh orang itu sendiri, serta papa-mama dan pengasuh pada saat masih kecil. Karena itu, ada adegan dimana para pria berlatih dengan bertelanjang dada, sementara Mulan tetap memakai baju. Juga kenapa Mulan harus diam-diam pergi dan tidak boleh mandi di sungai bersama teman-teman laki-lakinya.
Kurang lebih poin-poin itu yang tanpa kesengajaan saya sampaikan kepada Ganesh melalui pertanyaan-pertanyaannya. Seperti, "Emang kenapa kalo cewe pergi perang? Emang kenapa kalo Mulan mandi di sungai sama teman-temannya…" dll.

Benar-benar tidak direncanakan sebelumnya…

Nah, tapi ada satu pertanyaan yang saya masih agak bingung jawabnya… "Kenapa emangnya kalo cewe harus dandan?" Itu pertanyaan Ganesh melihat Mulan harus berdandan tebal pada saat bertemu dengan (sebut saja) bibi mak comblang profesional. Seorang yang menguji kepantasan seorang wanita untuk menjadi seorang istri dan kemudian dijodohkan.

Jika Ganesh sudah cukup dewasa (17 tahun), pastilah saya akan jelaskan bahwa itu adalah satu hal untuk menarik perhatian lingkungan, terutama lawan jenis. Pria secara alami memiliki ketertarikan pada hal yang indah secara visual, itu kenapa kemudian wanita berdandan. Walaupun kemudian, alasan wanita untuk berdandan kemudian telah berevolusi sedemikian rupa sehingga tidak lagi sesederhana itu.

Skip… skip… ini sih keluar dari topik ya… Tadi kan ngomongin soal bagaimana Film Mulan bisa menjadi alat bantu menjelaskan hal berkaitan dengan gender dan peran seksual. Kalau paragraf di atas, ya jelas ga mungkin dijelaskan pada anak umur 6 tahun seperti Ganesh.

"Nanti ya Anesh… Mama jelasin kalau Anesh sudah cukup umur akan Mama jelasin… Tentu saja kalau kamu belum nemu jawabannya sendiri…"

Sementara, untuk pertanyaan, "Kenapa emangnya kalo cewe harus dandan?" saya jawab saja, "Ya supaya cantik Anesh… Kalau di China yang dianggap cantik ya seperti itu… pake bedak tebal, lipstiknya merah, bibirnya dibentuk seperti itu, disanggul, dll… Setiap daerah kan punya budaya sendiri-sendiri, misalnya kalau di Jogja, cewe juga disanggul, tapi beda sanggulnya, terus jidatnya digambarin item-item…"

Dah, seperti itu aja… setelah itu segera pindah ke topik lain sebelum anaknya nanya-nanya yang susah dijelasin…

Back to Mulan… menurut saya film ini recommended! First of all, adegan dalam film ini aman untuk semua umur alias ga ada yang 'aneh-aneh'. Secondly, meskipun animasinya mungkin ga sebagus film-film animasi jaman sekarang, tapi ga bisa dibilang jelek juga… Dan yang jelas, dari sisi jalan cerita sangat bagus, ada banyak nilai moral yang bisa kita ajarkan pada anak melaluinya. Jadi, ibu-ibu… silakan mengosongkan jadwal setiap kali film ini tayang supaya putra-putrinya ga nonton sendirian dan kita bisa memasukkan nilai-nilai kebaikan pada mereka. Kayaknya sih, di stasiun TV beberapa kali diputar ya? Atau cari saja filmnya di iTunes dan sebangsanya… 

Happy watching ;)

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Monday, January 8, 2018

Pengalaman Operasi Gigi Miring (Impaksi) di Lampung

Hari itu, pada suatu pagi… entah kenapa, saya merasakan sensasi ngilu di gigi bagian belakang saya. Hanya ngilu sedikit saja, tidak benar-benar sakit seperti sakit gigi yang digambarkan orang… tapi saya langsung khawatir jika ada sesuatu yang terjadi pada gigi saya. Rasa ngilu siang itu, serta merta merontokkan kepercayaan diri saya… Mendadak saya ingat, bahwa meskipun rajin gosok gigi setiap pagi dan malam sebelum tidur, semua itu seringkali saya lakukan dengan buru-buru. Bahkan, bukannya semenjak menjadi ibu, tidak terhitung berapa kali saya ketiduran saat ngelonin anak dan lupa gosok gigi… *Tepok jidat* Bisa-bisanya saya begitu percaya diri selama ini, merasa bahwa gigi saya begitu bagusnya, hingga tidak pernah minimal memeriksa kondisi gigi sendiri…

Friday, December 29, 2017

Pelajaran dari 'Drama' Sakitnya Mahesh: Totalitas Ibu, Ketenangan Anak dan Penyembuhannya…

Anak sakit, tidak perlu panik… Yes, karena konon anak usia di bawah satu tahun, mengalami sakit rata-rata 8-12 kali dalam kurun waktu setahun dan berkurang menjadi 6-8 kali setahun setelah lebih besar. Faktor penyebabnya di antaranya adalah karena mereka belum sadar pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan, serta sistem imunitasnya belum sempurna.
Dan saya memang relatif tidak pernah terlalu panik sih saat anak sakit. Demam, batuk pilek hingga diare ringan biasanya akan sembuh dengan sendirinya dengan perawatan di rumah (tidak perlu ke dokter). Bahkan, ada riwayatnya kala itu Ganesh yang mengalami muntaber, hingga menurut dokter mengalami dehidrasi sedang dan seharusnya rawat inap, kami rawat sendiri di rumah, karena tidak ada kamar di RS. Adanya kamar gabungan, ya kan mikir-mikir juga, bagaimana jika malahan nanti tertular sakit lain, sementara daya tahan tubuh anaknya memang sedang lemah. Masih ingat sekali kata dokter saat itu, "Ini dehidrasinya masih sedang kok Bu, saran saya dirawat di rumah saja karena kondisi di rumah sakit sedang tidak memungkinkan… Nanti jika kemudian anaknya masih terus-terusan mutah berak dan bertambah lemas, silakan di bawa ke rumah sakit lagi…"

Dan alhamdulillahnya, perkataan dokter tersebut tidak meleset… Dengan berusaha sekuat tenaga (baca: terus-menerus menggendong anak selagi terjaga, memberi cairan setiap 5 menit sekali 1 sendok makan, 'memaksanya minum obat', dan mengusahakannya istirahat dengan nyaman), kemudian keadaan si sulung kala itu membaik hingga benar-benar sembuh. Fiuhhhh, benarrr-benarrr legaaaa… (dengan penekanan).

Dengan pengalaman jungkir baliknya saat anak pertama sakit, jelas mental saya sudah terlatih menghadapi sakitnya anak kedua, Mahesh. Demam, batuk pilek, hingga diare ringan hingga tiga hari, saya masih tenang merawatnya di rumah tanpa ke dokter. Prinsipnya adalah menjaga agar anak tidak dehidrasi, mendapat istirahat yang cukup dan tidak kekurangan nutrisi, maka kondisi anak pun akan membaik sedikit demi sedikit.

Ini pose tutup hidung Mahesh supaya ingus ga meler, sementara
Mamanya belum datang…

Prinsipnya sih seperti itu, dan selama ini alhamdulillah selalu terbukti benar… Sampai akhirnya saya dibuat galau saat Mahesh kemudian sakit di Bulan Oktober - November 2017 lalu. Sakitnya sih ringan saja… demam, batuk pilek dan disusul dengan diare. Tapi, yang membuat ketenangan saya kemudian rontok adalah sakitnya itu datang dan pergi silih berganti. Sehari demam, batuk pilek… sehari berikutnya demamnya hilang tinggal batuk pilek saja selama beberapa hari, kemudian demam lagi masih batuk pilek, demam hilang batuk pilek membaik beberapa hari, demam lagi kemudian diare… Terus, hingga dihitung-hitung sampai juga sebulan kondisinya turun naik seperti itu… Nafsu makan kacau balau hingga tulang-tulang tampak bersilangan di tubuhnya karena terlihat kurus. Juga tingkat kerewelannya yang meningkat drastis… sementara saya harus bekerja, ibu mana yang tidak tumbang kepercayaan-dirinya coba? 

Huhu, sungguh, sakit Mahesh kala itu sungguh drama! Selain makannya jadi agak susah, anaknya juga jadi pemilih banget, apa-apa maunya harus mama! Bahkan untuk hal sekecil pipis dan ngelap ingus… juga harus mamanya. Sementara saya, walaupun dengan kantor yang hanya berjarak 10 menit saja dari rumah, tentu tidak bisa seleluasa itu untuk mengurus semua kebutuhan Mahesh… Dan anaknya, sungguh cranky dan ngotot dengan maunya… Alhasil, anaknya pernah nangis sambil nungguin mamanya di depan rumah sambil nempelin jarinya ke lubang hidung supaya ingusnya ga meler, demi menunggu mamanya yang ngelapin. Pernah juga ketiduran di karpet ruang tamu karena nungguin mau eek sama mamanya. Atau terus menerus nangis, sampai tetangga nelponin ngabarin kondisi Mahesh.

Iya, dramanya sakit Mahesh kala itu sampai seperti itu. Sesuatu yang sangat bisa saya maklumi karena badannya yang terasa tidak nyaman. Tapi, sungguh menjadi dilema tersendiri buat saya, karena tidak bisa selalu ada di sampingnya dalam kondisi seperti itu…

Sampai akhirnya melihat kondisi Mahesh yang naik turun, sakitnya tidak kunjung benar-benar pergi… pada demam dan diarenya yang terakhir, saya memutuskan untuk mengambil cuti setelah mengambil kesimpulan bahwa Mahesh benar-benar membutuhkan saya untuk membuatnya merasa nyaman. Dimana rasa nyaman secara psikis itu pastinya adalah satu hal yang sangat membantunya untuk benar-benar sembuh 100% dan tidak sakit-sakit lagi.

Sebenarnya bukan keputusan yang bulat sih, tapi masih melihat situasi… Jadi, ceritanya Jumat sore saya membawa Mahesh ke dokter, dan mikirnya sih kalau memang nanti Minggu Mahesh sudah benar-benar sembuh dan ikhlas melepas saya ke kantor (ga rewel-rewel lagi), ya saya ga akan cuti. Tapi kalau Mahesh-nya masih belum sepenuhnya sembuh dan masih demanding sekali akan kehadiran saya, ya saya akan cuti. Maklumlah, pekerja seperti saya, cutinya cuma 12 hari setiap tahun, harus benar-benar digunakan untuk saat-saat yang penting…

💡 Berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, bisa dibilang, kami (saya dan suami) ini penganut aliran yang jarang ke dokter saat anak-anak sakit. Palingan ya saat sakitnya parah, sakitnya ga sembuh-sembuh, atau sakitnya datang dan pergi seperti kali ini, baru kami ajak anak-anak ke dokter.

Dan ikhtiar membawa anak ke dokter pun, diawali dengan pencarian dokter anak yang menurut kami kompeten dan mudah dijangkau. So, sehari sebelumnya, saya sudah hunting dokter anak yang recommended, yang buka hari Jumat dan lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah. Yes, kami baru pindah rumah dan di Lampung sendiri sedang banyak pembangunan fly over jadi macet dimana-mana… Mau nyamperin dokter kami yang dulu, kok rasanya effortful sekali, sudah jauh, ngantrinya panjang lagi…

Dan akhirnya, setelah survey ke beberapa teman, saya yakin untuk membawa Mahesh ke dr. Sri Murni A. Ritonga, Sp.A yang katanya teman saya yang pasien dia, orangnya ramah banget… Kalau ketemu anak-anak pasiennya, pasti menyapa dengan lembut, "Adeek… hayo, kenapa ya…" dalam bayangan saya sih kaya suaranya Princess Syah**ni gitu 👸. Lokasi prakteknya juga tidak terlalu jauh dari rumah, ideal lah pokoknya.

So, sore itu, sepulang dari kantor, saya pun langsung mengangkut Mahesh dan kakaknya dengan go-car menuju rumah sakit tempat praktek dokter. Sengaja pakai taksi online, karena nanti mau ketemuan dengan papanya yang pulang kerja di sana… jadi biar bisa pulangnya barengan, soalnya tempat kerja suami jauh, bakal telat kalau nunggu minta dianterin dari rumah… Tapi kalau saya benar-benar sendirian bawa dua anak cowo satu usil dan satunya gendongan terus, kayaknya juga berat 😅. Makanya, itu sudah jalan tengah banget deh…

Nah, di sana saya berusaha menceritakan poin-poin dari sakitnya Mahesh sedetail mungkin kepada perawat untuk diberikan kepada dokter sebagai berikut:
  • Keluhannya apa? Demam, batuk pilek dan diare. 
  • Demamnya sudah berapa hari? Dua hari, kalau dikasih obat penurun panas turun, tapi kemudian naik lagi. 
  • Diarenya berapa kali sehari? Sebenarnya sih ga sering mbak… cuma dua sampai tiga kali, tapi teksturnya encer sekali dan baunya tidak seperti biasanya. 
  • Sebelum diare, makan atau minum apa? Yang agak aneh mungkin pasta di Pi**a Hut… sorenya, Mahesh langsung demam dan diare. Sementara kakaknya juga demam sehari setelahnya. 
  • Susu yang diminum apa? Susu UHT Ul**a Mimi yang rasa strawberry… Biasanya ga ada masalah kok minum susu ini. 
  • Makan dan minumnya gimana? Nah, itu dia mbak… Kalau minumnya sih banyak, tapi makannya agak susah. Sebenarnya bukan ga nafsu makan, tapi setiap kali makan terlalu banyak dia akan muntah, makanya dia jadi ngerem makannya… 
  • Oh ya mbak, dia ini sakitnya kalau dihitung-hitung udah satu bulanan lho… Demam, batuk pilek, dan juga diare… Kalau batuk pileknya selama sebulan ini belum pernah sembuh 100%, kalau demamnya, pada saat ngedrop aja sih, kalau diare baru dua hari ini. Jadi sakitnya itu, misal dua hari demam, lalu pemulihan, lima hari sehat, terus tahu-tahu demam lagi… kaya gitu mbak. *Penting ini disampaikan, karena inilah alasan utama saya akhirnya mengajak Mahesh ke dokter. 
Informasi ini kemudian digunakan dokter untuk menegakkan diagnosa setelah memeriksa Mahesh secara fisik. Oh ya, pada saat diperiksa ini Mahesh nangis tantrum menolak, padahal sebelumnya saya sudah berusaha sounding bahwa dia akan diperiksa tante dokter supaya sembuh. Tapi ya anaknya tetap nangis, ya gapapa lah… for your goodness Le…

Dari hasil pemeriksaan dan informasi yang saya berikan sebelumnya itu kemudian dokter menyimpulkan dan memberikan saran kepada kami sebagai berikut:
  • Mahesh mengalami infeksi pada saluran cerna, kemungkinan besar karena pasta yang dimakan. So, stop dulu semua jajanan, makanan yang berpewarna dan berpengawet, semua jenis junk food (mau pasta, ayam goreng, pizza, dan semuanya makanan siap saji). Makannya hanya boleh nasi putih, dengan lauk ayam, daging sapi atau tahu, jenis sop lebih baik. Jangan dulu diberikan buah kecuali pisang atau sayur dan minumnya air hanya boleh air putih… Susu UHT-nya stop dulu, ganti dengan susu soya. "Kalau minum teh boleh enggak dokter?" tanya saya. "Teh tapi tanpa gula boleh, tapi sebaiknya ga usah, karena teh itu menghambat penyerapan zat besi," demikian penjelasan dokter.
  • Mahesh juga mengalami infeksi pada saluran pernapasannya, banyak lendir di sana, makanya dia batuk dan ada suara grok-grok. Jadi, jauhkan dulu dari segala potensi debu; selimut bulu, karpet bulu, boneka bulu dan sebagainya yang dapat menyimpan debu.
  • Kemudian dokter menanyakan obat apa saja yang sudah diberikan dan meresepkan obat untuk Mahesh. "Obat turun demam masih ada?" tanyanya. "Masih ada Dok, Tempra…" jawab saya. "OK, jika demam, lanjutkan pemberian tempranya sesuai dosis… Yang lain, saya resepkan obat antibiotik yang harus dihabiskan; obat X untuk saluran napasnya diminum sampai suara grok-groknya benar-benar hilang; obat Y minimal diminumkan selama sepuluh hari; obat Z untuk batuknya, hentikan jika sudah tidak batuk…" katanya kemudian, yang benar-benar berusaha saya rekam baik-baik dalam ingatan.
💡 Merawat Fisiknya Anak Selama Sakit.  Dengan penjelasan dokter yang begitu jelas, terperinci dan logis itu, saya pun merasa sependapat dengan penanganan yang diberikannya. Dan setelah pulang ke rumah pun, saya langsung memulai pemberian obat untuk Mahesh sesuai petunjuk dan melaksanakan petunjuk-petunjuk dokter lainnya. Awalnya tentu saja Mahesh menolak… dan saya pun akhirnya harus mengeluarkan kalimat ancaman kepada Mahesh, "Adek, nanti kalau ga diminum obatnya, nanti disuruh tante dokter nginep di rumah sakit lho… Emang Adek mau sendirian di rumah sakit?" Dan dia pun akhirnya mau minum obat meskipun dengan berat hati.

Mengenai makanan dan minuman, saya juga ikutin banget sarannya dokter… Saat sakit, Mahesh cenderung ingin makan yang segar-segar, seperti mangga, jeruk dan semangka; makanya kami seringkali berdebat dulu, sampai akhirnya Mahesh menurut dan mau makan pisang saja. Sementara untuk makan berat, dia cenderung mau makan nasi saja atau nasi dengan telor dadar. Telor dadar memang tidak masuk dalam list lauk anjuran dokter sih, tapi, rasanya ga masalah lah dikasih ke Mahesh.

💡 Merawat Psikisnya Anak Selama Sakit.  Selain merawat fisiknya dengan makanan, minuman dan obat-obatan yang mendukung penyembuhannya; sebagai seorang yang melankolis, saya sadar sekali bahwa salah satu hal yang akan mempercepat penyembuhan adalah perasaan tenang dan bahagianya anak. Sebagaimana jika anak merasa cemas, gelisah dan kurang bahagia, maka penyembuhan akan lebih lambat, meskipun fisiknya telah dirawat dengan baik. Jadi, sementara saya libur dan menjaga Mahesh, saya berusaha menuruti kemauannya yang tidak bertentangan dengan anjuran dokter. Ya, ambilin minum, ya ngajak ke kamar mandi, ya ngelapin ingus, ya ngelonin tidur, sampai gendong-gendong sama mama… semua saya turutin, walaupun artinya itu saya harus selalu di samping dia dan tidak melakukan aktivitas lain. Bahkan untuk mandi dan buang air besar kecil saja harus pamitan dulu supaya anaknya ga nyariin 😅

Saat sakit, Mahesh baru bisa tertidur setelah digendong kain Mamanya…

Dan alhamdulillah, setelah dua hari perawatan full body and soul, Mahesh sudah membaik; tidak demam lagi, tidak diare lagi dan batuk pileknya sudah berkurang. Tapi, melihat kondisinya yang masih terlihat masih lemas dan kurang nafsu makan, akhirnya niat cuti pun direalisasikan. "Pokoknya, kali ini Mama ga akan lengah lagi Mahesh… Mama akan memastikan kamu benar-benar sembuh dan siap mental melepas Mama ke kantor, baru mama ke kantor lagi… Tapi, tentu saja harapannya dua hari cukup ya Nak, soalnya cuti mama tinggal sedikit… huhu…"

Untuk membuatnya lebih bahagia, saya juga mengajak Mahesh mengantar jemput kakaknya ke sekolah sementara saya cuti, toh jaraknya tidak terlalu jauh, hanya 20 menit saja. Bawa bantal, berjaga-jaga kalau anaknya capek… Tapi, Mahesh-nya sih ternyata happy-happy saja ngobrol sama kakaknya di perjalanan. Senang melihatnya seperti itu, dia bahagia, berarti tubuhnya juga akan lebih cepat pulih…

***

Daaaan… setelah semua perawatan full body and soul extended-nya Mahesh… dia terlihat sudah cukup segar, ceria dan banyak makannya, woohoo! Kemudian, Selasa sore saat pun saya bertanya padanya, "Adek, besok Mama boleh ke kantor ga? Nanti kita anterin Kakak ke sekolah… Lalu, nanti Adek anterin Mama ke kantor… Terus, Mama anterin Adek ke rumah… Adek tunggu Kakak sama Mama di rumah sama Bude sama Mbak ya…" Dan dia bilang 'iya' dengan tetap ceria.. Nyess rasanya hati saya…

Walaupun jadinya lebih rempong karena itu artinya setiap pagi harus menyiapkan tetek bengek anak-anak sebelum berangkat jam 6.45; bolak balik dari rumah - sekolah kakak - kantor - rumah - kantor, semua itu terbayar lunas dengan keikhlasan dan ketenangan hati Mahesh yang berimbas juga pada kesehatan dan mood-nya. Lalu, apa kabar kantor? Alhamdulillah, jarak dari rumah ke kantor cuma 10 menit… jadi, dengan panjangnya perjalanan itu, saya bisa mulai bekerja pukul 07.50, dimana ini masih terlambat dari seharusnya jam 07.30, jadi pe-er saya sampai saat ini adalah supaya bisa berangkat dari rumah pukul 06.30! Which is, memang agak susah karena tidak ada IRT yang menginap… tapi, tetap optimis bisaa!!

***

Hmm, long story ya… Dan kemudian, lesson learned yang saya dapatkan dari pengalaman sakit anak-anak, terutama sakit Mahesh yang terakhir yang saya ceritakan panjang lebar adalah:
  • Bagaimanapun juga, sakitnya anak itu akan membawa banyak 'kerugian' bagi anak maupun orang-tua. Bagi anak, sebut saja, salah satunya adalah kurangnya asupan nutrisi yang (dikhawatirkan) berimbas pada pertumbuhannya. Huhu, inilah yang saya rasakan pada sakit Mahesh yang terakhir, sungguh sedih melihat badannya yang menjadi kurus karena sakitnya yang datang dan pergi… So, mencegah lebih baik daripada mengobati, caranya tentu saja dengan menjaga daya tahan tubuh dengan menjaga asupan nutrisinya, menjaga kebersihan, menjauhkan anak dari potensi sumber penyakit, dan imunisasi.
  • Jika anak terlanjur sakit, untuk mempercepat penyembuhan, kita harus total dalam merawatnya; baik fisik maupun psikisnya seperti yang saya ceritakan di atas. Fisik: dengan memastikan anak tidak kekurangan cairan dan nutrisi serta istirahat cukup. Dimana dalam hal ini, jika anak mengalami demam lebih dari 38o maka anak perlu diberikan obat penurun panas seperti Tempra agar anak bisa beristirahat lebih tenang dan juga menghindari dampak lebih serius karenanya.
  • Nah, jika sakit anak berlanjut setelah semua perawatan yang kita berikan atau seperti Mahesh yang sakitnya datang dan pergi, sangat dianjurkan untuk untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosa dan treatment yang lebih intensif.
Bonus… ngomong-ngomong soal obat penurun panas, sesungguhnya pada awalnya juga sedikit menghindari alias tidak memberikannya meskipun anak demam cukup tinggi (lebih dari 38o Celcius). Saya sih mikirnya waktu itu, toh demamnya masih normal, dan demam sendiri kan sesungguhnya hanyalah reaksi tubuh terhadap infeksi penyakit tertentu, bukan penyakitnya. Jadi, kalau pun diberi obat penurun panas dan panasnya turun, bukan penyakitnya yang hilang, tapi hanya simptomnya saja. Hingga perlahan-lahan, setelah memahami beberapa literatur yang ada serta terlebih lagi pengalaman akan dampak demam yang membuat anak kesulitan untuk beristirahat dan memperlambat penyembuhan, saya pun berubah pandangan…
Penggunaan obat penurun panas memang tidak menyembuhkan penyakit yang diderita tapi adalah sesuatu yang bermanfaat dan diperlukan pada kondisi dimana demam anak lebih dari sama dengan 38o Celcius; untuk menghindari gejala yang lebih buruk (kejang) atau sekedar untuk membuat anak nyaman dan dapat beristirahat dengan lebih baik.
Untuk obat penurun panasnya sendiri, kami selalu menggunakan Tempra yang selalu ada di kotak obat keluarga kami. Tempra adalah salah satu obat penurun panas untuk anak dengan kandungan aktif paracetamol dalam tiga varian yang bisa dipilih sesuai usia anak; Tempra Drops (0-1 tahun), Tempra Syrup (1-6 tahun), dan Tempra Forte (6 tahun ke atas).


Adapun alasan saya lebih memilih Tempra daripada obat penurun panas lain adalah:
  • Aman di lambung. Jadi rasanya lebih tenang memberikannya pada anak, sementara anak makannya cukup minimalis selama sakit.
  • Dosis Tempra tepat, tidak menimbulkan over dosis maupun kurang dosis. Sehingga obat ini bekerja secara efektif untuk menurunkan demam dan tidak berbahaya jika digunakan sesuai petunjuk.
  • Seringkali diresepkan oleh dokter anak yang menurut kami kompeten, sehingga kami yakin bahwa kualitas Tempra cukup terpercaya.
  • Rasanya disukai anak-anak. Rasa anggur untuk Tempra Drops dan Tempra Syrup, serta rasa jeruk untuk Tempra Forte.
  • Tidak dikocok karena larut 100%.
  • Mudah didapatkan di minimarket terdekat dan harganya relatif ekonomis.
  • Kemasannya aman (botol ulirnya tidak mudah dibuka anak-anak), serta lengkap dengan takaran yang mudah digunakan sesuai usia anak. Untuk Tempra Drops, takarannya sejenis pipet, sehingga mudah diberikan pada bayi.
Fiuhh, jadi begitu deh kira-kira pengalaman dan insight yang saya dapatkan terkait anak sakit, yang akhirnya ditulis karena sakit Mahesh terakhir yang begitu membekas alias drama banget… Semoga anak-anak kita selalu sehat ya ibu-ibu, tapi kalau sampai anak kita sakit, ya semoga saja segera sembuh dan sehat kembali. Amiin…

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Monday, December 11, 2017

Catatan-Catatan 'Naive' Ganesh di Sekolah

Menjadi orang-tua itu bukan perkara mudah… 
Bukan cuma masalah merawat fisik macam menjaga asupan nutrisi dan kesehatan; tapi juga merawat psikis mereka dengan kesabaran dan memberikan pendidikan yang tepat. Ya, semua orang-tua, pasti tahu yang saya maksud, termasuk breakdown-nya hingga perkara terkecil. Juga pasti setuju jika perkara (merawat fisik dan psikis anak) itu bagaikan ombak yang datang silih berganti; kadang sekedar riak-riak kecil yang menggelitik… kadang adalah ombak besar yang membahayakan keselamatan. Dan poinnya adalah, bahwa semua itu tidak pernah berhenti, tidak pernah selesai sepenuhnya… Sampai kapan pun, selama kita hidup, peran kita sebagai orang-tua tidak akan pernah berakhir. Merdeka!!

Yep, akhirnya saya sangat sependapat dengan quote pendek yang makna penjabarannya sangat panjang itu. Bukannya dulu tidak sependapat, tapi intensitas sependapatnya lebih-lebih lagi sekarang… setelah 6 tahun 5 bulan resmi menjadi seorang ibu. Setelah pada suatu hari, akhirnya merasakan sendiri mempunyai anak sekolah dan menerima laporan dari gurunya bahwa si anak melakukan tindakan yang negatif di sekolahnya. Saya kemudian benar-benar menjiwai sepenuhnya bahwa memang menjadi orang-tua itu bukan perkara mudah…

Setelah ombak besar Ganesh mogok sekolah di usia 4,5 tahun sekitar 2 tahun yang lalu… padahal awalnya dia sendiri yang ingin sekolah… Dimana kejadian ini praktis membuat mood Ganesh kacau balau karena bosan seharian di rumah tanpa kegiatan yang menyibukkannya; sementara mamanya 'harus' bekerja dari pukul 7.00 hingga 17.00… Ombak kali ini hitungannya cukup besar juga dan membuat saya cukup shock dan was-was…

Hari itu, saya mendapat laporan akan 4 perilaku buruk Ganesh di sekolah, yang dalam hal ini wali kelas sudah kewalahan dan kehabisan akal untuk menasehatinya.


Dan perilaku ini adalah: berkata jorok, bermain berlebihan hingga temannya kesakitan, bercanda tidak sopan (berkaitan dengan daerah pribadi), dan permasalahan kepatuhan pada aturan.

💡 Berkata jorok. Berkata joroknya Ganesh sesungguhnya menurut saya sangat light sih. Tidak ada unsur kasar seperti menyebut orang lain dengan sebutan binatang atau sesuatu yang sifatnya ke arah sesuatu yang seronok. Berkata joroknya Ganesh adalah mengatakan kata-kata (yang relatif) sensitif sebagai bahan bercandaan atau di saat yang tidak tepat. Misalnya begini, pas bercanda dengan temannya kemudian dia bilang, "Pantat!" atau "Eek!" Udah, gitu aja, lalu dia tertawa keras-keras dan semakin dia ulangin semakin orang berusaha memberi tahunya.

💡 Bermain berlebihan hingga temannya kesakitan. Ganesh semacam menggelitiki temannya sampai dia kesakitan gitu. Temannya minta Ganesh udahan, eh, Ganeshnya lanjut terus… Dan juga dari cerita Ganesh sih, dia juga menarik kerah baju temannya ala-ala orang berantem gitu… Ganesh sempat memperagakannya di depan saya dengan pengakuan polosnya, "Tapi kan, Anesh juga pernah diginiin sama X (sambil memperagakan) ga apa-apa…"

💡 Bercanda tidak sopan (berkaitan dengan daerah pribadi). Hemm… jadi begini, menurut gurunya, hari itu Ganesh bercanda dengan berlari menunduk ke arah bawah pinggang temannya. Enggak sampai menempel atau menyentuh, dia cuma semacam nakut-nakutin temannya gitu. Itu yang saya tangkap dari penjelasan gurunya. Mungkin untuk kita orang dewasa, perilaku seperti ini cukup embarassing dan dipersepsikan macam-macam ya, dan saya pribadi pun sempat sedikit shock juga. Tapi, ya ini seorang anak kecil, yang saya tahu lingkungannya bisa dibilang cukup steril dari hal semacam itu, jadi saya yakin dia hanya mencoba-coba dan kemudian diulangi lagi karena teman-temannya kemudian heboh akan perilakunya ini. Tidak ada sedikit pun niat buruk, dan bahkan dia tidak paham bahwa perilakunya itu tidak baik.

💡 Tidak patuh aturan/guru. Jadi keluhan gurunya Ganesh adalah dia ini susah mengikuti aturan yang ada… misalnya merapikan buku sebelum belajar. Dan kalau dinasehatin gurunya, kemudian dia akan menurut sih, tapi dengan ogah-ogahan mengerjakannya. Lalu, misalnya diminta untuk memperhatikan ke depan misalnya… iya, sebentar dia akan memperhatikan ke depan, tapi sebentar kemudian ya balik lagi, asyik dengan kegiatannya sendiri.

Borongan kan… Pertama kali mendengar laporan itu, saya benar-benar terpukul. Muka saya sampai panas rasanya menahan rasa malu, juga rasa kesal, dan terakhir merasa gagal menjadi seorang ibu… Setelah sempat memarahi Ganesh selama perjalanan pulang sekolah, setelah Ganesh sampai di rumah, di perjalanan kembali ke kantor; saya langsung telpon suami… Cerita panjang dan emosional, lengkap dengan sesi nangis-nangis, merasa gagal mendidik Ganesh, merasa bersalah, dan sebagainya…

Yang, yah… untung saja suami saya sudah terbiasa menghadapi cuaca ekstrim hati saya, jadi tetap bisa berpikir rasional mendengar curhatan saya, yang mayoritas penuh dengan drama. Dia bilang, "Yah, namanya anak-anak… kurasa Ganesh ini sebenarnya terlalu naive aja, dia ga tahu kalau apa yang dia lakukan itu salah… Malah dikiranya keren kali, temen-temannya lalu teriak-teriak ngadu ke miss-nya…"

Kata-kata yang akhirnya setelah sekitar 30 menit kemudian baru bisa saya cerna maksudnya, merasa sependapat dan kemudian mulai berpikir jernih tentang permasalahan ini…

OK, dan sebelum saya menceritakan apa yang kemudian kami lakukan dan bagaimana hasilnya… pertama kali saya ingin menggarisbawahi bahwa:
Pada dasarnya perilaku negatif anak adalah hasil dari pendidikan yang kita berikan atau tidak kita berikan padanya (kita = orang-tua).
Jadi, buang jauh-jauh rasa kesal dan marah pada anak. Kalau ada sesuatu yang salah dari perilaku anak, ya itu adalah sepenuhnya tanggung-jawab kita. Karena kita lah yang mendidiknya, memilihkan lingkungan untuknya, atau justru tidak memberikan pendidikan yang baik untuknya… Dan yang namanya kita manusia, pasti tidak sempurna… Membesarkan dan mendidik anak itu tidak ada manual bakunya, jadi jangan lantas merasa begitu gagal dan tidak layak menjadi orang-tua karenanya…

Slow down… tarik napas panjang-panjang dan mari kita mulai dengan menganalisa satu per satu kandidat tertuduh penyebab perilaku negatif tersebut. Dirunut satu persatu… hubungannya satu sama lain… karena yang namanya perilaku, pasti fungsi dari bakat dan lingkungan. Lingkungan, ya semua hal di luar individu; lingkungan sosial tempat tinggal, sekolahnya, teman-temannya, pengasuhnya, dan termasuk juga kita orang-tuanya. Sementara bakat itu bisa jadi adalah kecenderungan kepribadian atau sebagian kepribadian… pokoknya bukan keseluruhan kepribadian, karena keseluruhan kepribadian itu juga tidak lepas dari lingkungan.

So, mari singsingkan lengan, tarik napas panjang… pasang kaca mata… 😎

ANALISA PERMASALAHAN. Berbicara mengenai lingkungan, aspek ini sudah pasti memiliki peran penting dalam menentukan perilaku seseorang. Dalam kasus Ganesh yang baru berusia 6 tahun, dimana perkembangan kognitifnya belum sampai pada terciptanya konsep moralitas yang kuat, lingkungan adalah terduga kuat referensi perilakunya. Coret TV, karena kami memang tidak memiliki TV di rumah. Juga, bacaan, karena bahan bacaan Ganesh masih terbatas pada buku-buku yang kami sediakan untuknya dan kami yakin tidak ada bagian yang bisa menjadi referensi empat perilaku yang disebutkan guru Ganesh tersebut.

Baca: We're Having Fun Without TV at Home

Dan dengan demikian, praktis kami menduga bahwa ada interaksi antara Ganesh dengan temannya di rumah atau di sekolah lah yang secara langsung atau tidak langsung menjadi referensi Ganesh. Karena menurut pengamatan saya, kami orang-tua maupun bude dan mbak pengasuhnya tidak pernah mengatakan atau berbuat seperti itu.

I was carefully checked this to make sure… dengan berbicara dengan Ganesh. Yah, berita-berita pelecehan seksual yang bersliweran di berbagai media mau tidak mau membuat kita harus waspada akan kemungkinan di sekitar kita kan. Bukannya ga percaya sama bude atau mbak yang nemenin anak-anak tiap hari, tapi kan tidak ada salahnya mencari tahu. Tentu bukan dengan langsung tembak, tapi pelan-pelan, "Anesh, tadi miss bilang sama Mama… Katanya Anesh bercandanya kurang sopan lho… (begini, dijelasin)…" Terus… ajak ngobrol terus… dengan lembut, dengan bahasa yang dipahaminya, sampai kita yakin tidak ada hal lain yang bisa dikorek dari keterangannya. Pokoknya, korek sampai habis informasi mengenai semua permasalahan terkait 4 masalah yang dihadapi Ganesh.

MENGKAITKAN DENGAN PEMIKIRAN DAN KEPRIBADIAN GANESH. Berbicara mengenai motivasi yang mendorong Ganesh berbuat buruk, dugaan kuat saya adalah sekedar untuk mendapat perhatian dari teman-temannya. Ada sisi dari Ganesh yang membuatnya menikmati menjadi pusat perhatian, atau yah, bisa dibilang anak ini sedikit banyak suka 'show of' dan 'suka pamer'. Dan dengan tindakan-tindakannya itu, yes, dia sukses mendapatkan perhatian orang-orang di sekitarnya kan… Teman-temannya kemudian kaget, terheran-heran mungkin, atau sibuk mengingatkan Ganesh untuk tidak berkata-kata jorok misalnya.

Sifat suka 'show of' atau suka pamer sendiri sesungguhnya bukan sesuatu negatif, asalkan diarahkan secara positif dan pada proporsi yang adaptif. Sifat suka pamer akan bisa diarahkan untuk mendorong seorang anak menjadi kompetitif dan berprestasi. Tapi, dengan catatan jangan sampai kebablasan juga, sampai anak menjadi sangat obsessed hingga menghalalkan segala cara atau sulit merasa puas dengan usahanya sendiri. Maka dari itu, berkaca dari kejadian ini, kami harus benar-benar mengarahkan sifat ini ke arah yang positif dan adaptif.

Selanjutnya, berbicara mengenai kemampuan kognitifnya…  Sebagai anak yang baru berusia 6 tahunan, sependapat dengan suami, saya yakin Ganesh belum sepenuhnya tahu arti dan akibat buruk dari perbuatannya. Iyah, anak seusia Ganesh konsep moralitasnya jelas belum terbangun dengan kuat dan sempurna. Itu berarti, tugas kami adalah memberikan pemahaman kepada Ganesh bahwa perbuatannya itu tidak boleh dilakukan dengan bahasa yang bisa dipahaminya.

And the last big think is… Ganesh adalah anak yang sangat sangat-sangat kritis dan rasa ingin tahunya begitu besar. He's the analyst, who always dividing every question until the questions are complete. Dia adalah anak yang akan terus bertanya sampai akhirnya bisa memahami apa yang kita maksud. Pokoknya tanya terus, sampai detail terkecil, sampai akhirnya tidak ada pertanyaan lagi di benaknya… sampai dia memperoleh gambaran yang utuh tentang apa yang kita jelaskan padanya. Dan untuk akhirnya mau menurut… itu berarti dia harus benar-benar sepakat dengan pemikiran kita… Menjelaskan saja kadang sudah susah payah, ini berusaha membuat dia sepakat, sedikit lebih sulit dan tricky…

MENGKAITKAN DENGAN PEMIKIRAN DAN KEPRIBADIAN GANESH. OK, then, setelah berusaha mengumpulkan puzzle mengapa Ganesh melakukan hal-hal 'buruk' itu, kemudian saya mulai memutar otak tentang cara paling efektif membuat Ganesh sependapat untuk tidak melakukannya lagi. Dan setelah berpikir beberapa saat, saya pun seperti ini…

💡 Berkata jorok. Saya jelaskan kepada Ganesh bahwa berkata jorok atau speaking bad words itu tidak baik dilakukan karena tidak sopan dan akan menyakiti hati orang lain. Yang langsung disambar oleh Ganesh, "X pernah ngomong jorok sama Anesh, Anesh hatinya enggak sakit tuh…" Uh oh, pemilihan kata yang salah nih sepertinya, terpaksa deh muter cerita soal polisi tidur dulu, "Anesh,  sakit hati itu perumpamaan saja… Kaya polisi tidur… Itu kan sebenarnya bukan benar-benar ada pak polisi lagi tidur… tapi ada gundukan di jalan yang dibuat untuk jaga suapaya orang enggak ngebut, kaya pak polisi kan? Makanya disebut polisi tidur… Sama kaya sakit hati, itu perumpamaan kalau kita merasa sedih, kesal atau marah… Nah, Anesh ngomong jorok ke temen Anesh itu kan bikin temen Anesh ngerasa sedih, kesal atau marah kan? Itulah namanya sakit hati… Emang Anesh mau digituin sama temennya?"

Then, Ganesh pun berpikir… dan sepakat dengan pemikiran saya ini… bismillah semoga hasilnya baik…

💡 Bermain berlebihan hingga temannya kesakitan. Saya bilang pada Ganesh, "Kita tidak boleh menyakiti orang lain. Kalau kita main, Anesh dan teman Anesh harus sama-sama seneng… Jadi kalau teman Anesh sudah bilang 'sakit' atau 'jangan' ya jangan diterusin dong…" Yang kemudian ditimpali Ganesh, "Tapi kan si A pernah gituin Anesh juga…" dan saya bilang lagi, "Anesh, kan ga semua yang dilakuin temen Anesh itu boleh diikutin. Kalau itu jelek atau ga baik, ya jangan dilakuin dong… Kalau Anesh main sama temennya… Anesh dan teman Anesh harus sama-sama happy… ga goleh Anesh happy tapi temennya sedih…"

💡 Bercanda tidak sopan (berkaitan dengan daerah pribadi). Nah, jujur saja yang ini saya lumayan berpikir cukup keras untuk mencari penjelasan yang bisa dipahaminya, tapi bukan yang paling rumit dari empat hal yang saya bahas disini sih… yang paling susah dan tricky itu ada di poin empat setelah ini. Pada poin ini akhirnya saya jelaskan pada Ganesh bahwa daerah pribadi kita itu tidak boleh dijadikan bercandaan. Daerah itu hanya boleh dilihat dan disentuh oleh kita sendiri dan mama-papa saja. Daerah itu malu kalau dilihat atau disentuh orang lain… "Jadi, kalau Anesh bercanda seperti itu, itu ga sopan… temen Anesh jadi malu lho…"

Skak mat! Wih, senang banget karena Ganesh langsung sepakat!

💡 Tidak patuh aturan/guru. Yes, ini bagian yang menurut saya paling sulit dijelaskan pada Ganesh, karena menyangkut sesuatu yang efeknya tidak terlalu krusial menurut Ganesh, semacam nanti kalau disuruh ngerjain ga bisa misalnya… Sesuatu yang menurut Ganesh sama sekali bukan sesuatu yang penting. Dan kalau dijelasin lebih panjang, nanti Ganesh ga naik kelas dll, lebih lagi pikirannya belum sejauh itu… Jadi tantangan di poin ini adalah bagainama membuat Ganesh sepakat bahwa adalah hal yang penting patuh pada aturan atau guru di sekolah…

Awalnya saya coba jelaskan kalau di setiap tempat itu ada aturannya dan ada kaptennya (read: orang yang harus diikutin perintahnya), "… jadi kalau di sekolah, Anesh harus ikutin aturan dan miss, karena miss itu kapten Anesh di sekolah." Oh ya, analogi kapten ini saya dapat dari kegiatan baris berbaris sebelum masuk kelas, dimana setiap anak bergiliran mendapat tugas menjadi kapten yang memberi instruksi berbaris.

Tapi, ini belum efektif… lha nyatanya setelah dua tahun lebih sekolah, Ganeshnya masih saja mendapat catatan yang sama…

Kemudian akhirnya setelah beberapa hari, saya mendapat ide saat menonton film Cars 3! Wooho! Jadi saya terinspirasi bagaimana Lightning McQueen yang awalnya semaunya sendiri dan gagal menjadi juara, sampai akhirnya menurut pada mentornya Doc Hudson yang memang lebih ahli sehingga akhirnya bisa menjadi pemenang… yah, walaupun di Cars akhirnya dia kalah karena membantu The King. Dan di Cars 3 pun juga demikian, Cruz Ramirez akhirnya bisa menjadi pembalap dan menang karena mengikuti arahan dari mentornya, Lightning McQueen… Which is such a perfect picture for him, memberi gambaran bahwa seseorang yang hebat akan menjadi lebih hebat jika mengikuti arahan mentornya…

Saya bilang pada Ganesh, "Anesh… Anesh inget ga film Lightning McQueen? McQueen itu jago banget ya balapan… tapi, dia belum berhasil jadi juara… Sampai akhirnya dia ketemu sama mentornya Doc Hudson, belajar dan ngikutin nasehat Doc, terus dia jadi makin hebat dan jadi juara deh… Cruz juga begitu… Awalnya dia ga jago balapan walaupun bisa ngebut, eh setelah diajarin mentornya Lightning McQueen, dia jadi jago deh, terus menang deh… Anesh juga gitu ya… Anesh katanya mau jadi engineer? Mau bikin mobil balap yang kenceng banget… Anesh juga harus nurutin katanya mentor Anesh dong… Nah, mentor Anesh di sekolahan itu ya gurunya Anesh… ada miss, mister sama cece…"

Dan sepertinya penjelasan kedua ini lebih efektif dari yang pertama, walaupun tidak 100% membuat Ganesh menjadi 'anak manis' karena memang anaknya super ga bisa diem! Bukan pendapat saya saja lho, tapi semua guru dan mantan guru Ganesh… Bahasa positifnya, Ganesh itu anaknya aktif banget katanya…

SELANJUTNYA… Sebagaimana kata pepatah, "Belajar di waktu muda bagaikan mengukir di atas batu…" tentu saja bukan sekali dijelaskan kemudian Ganesh akan berubah begitu saja, hihi :D. Selanjutnya, saya pribadi selalu mengulang-ulang menjelaskan kepada Ganesh akan keempat pe-er ini setiap kali mau tidur dan dalam perjalanan ke sekolah. Guru wali kelasnya pun saya sampaikan mengenai hal ini, mengenai penjelasan saya mengenai keempat hal di atas kepadanya, supaya kami bisa satu suara dan proses internalisasi nilai-nilai tersebut kepada Ganesh lebih efektif.

Serta tak lupa, saya juga berusaha memantau perkembangan Ganesh melalui gurunya di sekolah. Alhamdulillah, guru wali kelas Ganesh sangat kooperatif dan komunikatif, sehingga saya bisa memantau perkembangan Ganesh dengan leluasa. Thanks ya miss 😊🙏. Terima-kasih juga sudah menginformasikan permasalahan Ganesh di sekolah, walau awalnya sempat shock juga…

Dan alhamdulillah, beberapa hari kemudian, saya mendapat informasi dari guru wali kelasnya bahwa perilaku Ganesh sudah membaik… Dia hanya sekali mengatakan kata-kata buruk dan itupun karena kelepasan saja, tidak diulangi lagi. Cara bermainnya dengan teman-temannya juga sudah 'normal', sudah membaik seperti sedia kala… Walaupun saya yakin untuk poin keempat anak itu masih akan fluktuatif, kadang nurut, kadang enggak… Akan sulit untuk benar-benar menjadi anak manis yang selalu menurut perkataan gurunya. Tapi, tetap saya positif thinking bahwa perilaku ini akan semakin berkurang seiring bertambahnya usia dan kedewasaannya…

CONCLUSION AND LESSON LEARNED… Dari peristiwa ini, ada beberapa pelajaran yang saya dapatkan:
  • Menjadi orang-tua itu benar-benar adalah tantangan yang terus dan terus bertambah berat. Be ready for every sureprise ya… Kaget boleh, merasa bersalah boleh, tapi jangan terlalu lama, karena kemudian kita harus menyadari bahwa hal itu adalah sesuatu yang wajar terjadi dan harus kita carikan solusi.
  • Jalin komunikasi yang baik dengan pembimbing anak kita yang lain; misalnya di sekolah adalah gurunya, mungkin juga guru tempat lesnya, dan lain-lain… karena dari sana kita bisa memperoleh informasi mengenai perilaku dan kejadian-kejadian terkait anak kita.
  • Memahami pola kepribadian anak kita, karena itu adalah modal besar untuk bisa membantunya menghadapi berbagai tantangan atau masalah yang dihadapinya.
  • Be creative! Karena untuk bisa berkomunikasi dengan baik dengan dengan anak, itu berarti kita harus pintar-pintar memilih analogi dan penjelasan yang bisa dipahami dan diterimanya.
  • Menjaga kedekatan emosional dengan anak. Ini sangat penting, karena ini akan membantu anak lebih mendengarkan dan mempercayai kita. Berkaitan dengan hal ini, saya selalu berpikir juga, dengan bertambahnya pengetahuan dan kapasitas berpikirnya bisa jadi pada satu titik kita benar-benar tidak bisa menyatukan pendapat akan suatu hal… dan kedekatan emosional itulah salah satu hal yang mungkin akan membuat anak mempertimbangkan untuk mengikuti saran kita.
  • Hmm apalagi ya… kayaknya itu aja deh…
Ya, itulah cerita saya kali ini tentang Ganesh si anak yang kayaknya baru kemarin bayinya kok tau-tau udah banyak aja ulahnya… Asli saya seringkali merasa kewalahan menghadapi pemikiran dan ulah-ulahnya sekarang, kadang bingung bagaimana menjelaskannya supaya dia bisa sepakat. Kadang juga dongkol, kenapa dikasih tahu berkali-kali masih saja diulangi… Walau kemudian kembali berpikir, "Ya, kan Ganesh ini anak-anak ya… kelihatannya aja udah jago debat, cuma sebenarnya kapasitas kognitifnya ya belum sempurna…"


Intinya… yah, inilah tantangan yang sekarang sedang di depan mata. Next, yakin deh, pasti ada tantangan-tantangan baru yang menunggu untuk dituntaskan. Akan kah kita melaluinya dengan baik? Bismillah, kita manusia hanya bisa berusaha… So, keep on learning and do our best… Semoga kita bisa menjadi orang-tua yang baik dan membimbing anak-anak kita menjadi orang-orang yang baik… amiin..

Teman-teman punya cerita juga?

With Love,
Nian Astiningrum
-end-