SOCIAL MEDIA

search

Friday, May 31, 2019

Traumatisnya Tembakau bagi Saya

Rokok atau tembakau mungkin adalah hal yang sangat biasa kita temui di Indonesia… Pada saat berbelanja di minimarket, deretan rokok yang dipajang rapi ada di hadapan kita saat membayar di kasir, bahkan dengan gambar-gambar mengerikan yang sudah menghiasi kemasannya sejak beberapa tahun lalu…

Karenanya pula, dampak rokok bagi kesehatan bukan lagi rahasia, jadi silakan googling aja kalau mau tau bahayanya rokok bagi kesehatan. Atau, cukup nongkrong di depan kasir minimarket, udah keliatan kok… Saking biasanya, mungkin orang menganggap semua itu sepele saja…


But no! Saya tidak pernah menganggap rokok sesepele itu… Bahkan bagi saya, dia adalah satu karakteristik yang krusial dalam menentukan pasangan hidup di masa lajang saya. 

Yup, saya benci rokok! Dan saya tidak ingin suami saya adalah perokok! Sounds judgmental sekali ya… Tapi ya ini adalah perasaan pribadi saya… Toh saya juga tidak memaksa kok, dan saya pun tahu tidak bisa memaksa seseorang berhenti merokok, karena itulah, daripada saya makan hati seumur hidup hidup bersama perokok, ya sudah lah ya… better I'm looking for someone who's not

***

Kenapa sih saya benci rokok?

Baik… sejak kecil, sesungguhnya saya sudah cukup akrab dengan yang namanya rokok, bapak saya seorang perokok berat. Tidak jarang bahkan beliau menyuruh saya ke warung membeli rokok. Sampai sekarang, saya masih ingat betul kok rokok favoritnya, tapi ga usah disebutin lah ya… 

Ya, sejak kecil saya biasa melihat bapak saya atau pun orang di sekitar saya merokok… Saya kecil kala itu, ya tidak tahu apa sih sebenarnya rokok itu? Sampai akhirnya saya beranjak remaja dan merasa bahwa rokok itu adalah benda jahat yang mengukuhkan arogansi dan keegoisan seseorang yang saya kenal. Ya siapa lagi kalau bukan Bapak saya…

Tapi, ini bukan berarti saya benci dengan bapak saya ya… kami memiliki hubungan baik kok… meskipun benda bernama rokok itu tetap meninggalkan jejak di hati saya…

OK, sepertinya cerita selanjutnya akan jadi melankolis ya…

Rokok dan Adiksi

Beberapa orang mungkin berdalih bahwa rokok itu tidak menimbulkan ketergantungan sebagaimana zat-zat psikotropika, namun harus tetap diakui bahwa berhenti merokok itu adalah hal yang sangat sulit dilakukan.

Keluarga kami bukan lah keluarga berada dan saya happy-happy saja sih dengan segala keterbatasan itu… Bahkan saya bangga tuh tidak kalah berprestasi dengan teman-teman lainnya yang notabene memiliki kelonggaran finansial lebih dari saya. Saya juga sangat bangga dengan ibu saya yang jualan di pasar dan bapak saya yang pinter banget ngebengkelnya…

Tapi, saya tidak suka bagaimana bapak tetap merokok meskipun dengan segala keterbatasan kami… Bahkan dengan arogannya berkata, supaya saya tidak usah mengurusi kebiasaannya merokok. Sakit lho rasanya…

Bayangkan kata-kata seperti itu diucapkan pada anak yang baru duduk di akhir bangku SD dan berlanjut hingga SMP, SMA dan seterusnya. Masa-masa dimana anak sudah mulai bisa berpikir tentang baik, buruk dan moralitas… Dari saat itulah saya berpendapat bahwa rokok itu jahat! Karena demi dia, seorang kepala keluarga terkadang memangkas kebutuhan keluarganya yang lebih penting. Bukan sekedar kebutuhan finansial, tapi juga kebutuhan akan perhatian, merasa dihargai dan disayangi…

Rokok dan Stroke

Tahun 2005 bapak saya terserang stroke! Saat itu, saya masih kuliah di semester lima… benar-benar di tengah masa kuliah saya. Dan segalanya berubah menjadi lebih berat lagi sejak saat itu… bukan hanya karena permasalahan finansial, tapi juga psikologis.

Kondisi bapak yang lumpuh pada tubuh bagian kiri praktis membuatnya tidak mampu bekerja membantu memenuhi kebutuhan kami. Beruntung kami masih memiliki keluarga besar yang turut meringnkan beban kami, namun besarnya biaya berobat bapak, biaya sekolah kami bertiga, dan biaya sehari-hari; semua tetap terasa berat di pundak Ibu seorang diri.

Belum lagi kondisi psikis bapak yang menjadi jauh lebih temperamental akibat gangguan pada otaknya. bapak saya yang dulu sudah cukup keras kepala dan pemarah, karena stroke yang pada otak kanannya membuatnya berlipat lebih temperamental. Kami anak-anaknya dan juga Ibu tentu saja seringkali menjadi sasaran amarahnya dan juga kesedihannya.

Di satu sisi, saya begitu iba pada bapak yang kemudian tidak mampu melakukan begitu banyak hal secara mandiri dan harus tergantung pada orang lain. Namun, itu tidak menghilangkan marahnya hati saya saat kemudian menjadi sasaran temperamen bapak dan harus memaksa diri saya sendiri untuk mengalah.

Itu adalah situasi yang sangat berat bagi kami semua… Dan dari segala kebiasaan hidup tidak sehat  yang bapak jalani, saya semakin benci dengan benda bernama rokok!

Saya tidak akan bilang bahwa rokok adalah satu-satunya penyebab bapak mengalami stroke, karena bapak pun memiliki kebiasaan makan yang kurang sehat. Tapi, sepanjang pengetahuan saya dari berbagai literatur dan penelitian yang saya baca, kebiasaan merokok adalah satu hal yang akan meningkatkan risiko kejadian stroke.

Jadi, tidak salah bukan, jika kemudian saya sebegitu bencinya dengan rokok? Apalagi melihat kenyataan bahwa bahkan setelah mengalami stroke pun, beberapa tahun kemudian bapak masih kembali kepada rokok, meski dengan intensitas yang jauh berkurang.

Rokok itu jahat! Jangan mendebat itu dengan saya…

***

Yah, begitulah cerita saya teman-teman… Setelah semua pengalaman saya, rokok itu begitu identik dengan sikap egois, mau menang sendiri dan arogan.

Egois dan mau menang sendiri, karena demi rokok tidak jarang penikmatnya menomorduakan kebutuhan yang lebih utama dan penting dalam keluarganya. Padahal, rokok sendiri sesungguhnya bukanlah kebutuhan hidup…

Serta arogan, karena meskipun dengan berbagai fakta dan hasil penelitian yang menunjukkan bahaya rokok bagi kesehatan, penikmatnya masih menantang kenyataan itu. Dengan berkata, "Ah, yang merokok umurnya panjang juga banyak…" Padahal, oh man, ini bukan masalah umur panjang, tapi kualitas kesehatan kita yang tidak bisa selalu dibandingkan satu sama lain. Jika pun ingin membandingkan, bandingkan kesehatan kita sebagai perokok dan tanpa rokok, bandingkan diri kita sendiri, ga usah  cari pembenaran dari seupil kejadian langka diantara lautan fakta.

Bagi saya, memilih untuk menjadi perokok adalah keputusan yang kurang smart… karena sama dengan mengumpankan diri kepada monster jahat. Rokok akan membelenggumu, meskipun tidak sekuat narkoba. Dia akan membuatmu kesulitan untuk lepas, meskipun dihadapkan dengan berbagai kondisi yang tidak mendukung lagi, baik secara finansial atau secara kesehatan.

Jadi, jika kamu bukan perokok, better never try lah…

Dan jika kamu adalah perokok, please lihat orang-orang yang kamu cintai, jangan sampai mereka merasa dinomorduakan, diperlakukan egois, dipaksa mengerti sesuatu yang salah… hanya karena rokok…

Kadang saya menangis sambil menulis diari masa kecil saya dalam kondisi itu. Dan lebih buruk saat merasa bahwa dia (rokok) adalah penyebab bapak saya jatuh stroke, sehingga memperberat kehidupan kami, baik dari sisi finansial maupun psikologis. Tidak salah bukan jika hati saya jadi sekeras ini mengenai rokok…

Dan percayalah, kalian tidak ingin orang-orang yang kalian cintai merasakan apa yang saya rasakan…

Jadi, dengarkan lah pada saat mereka mengeluh atau menasehati tentang kebiasaan merokokmu… Singkirkan jauh-jauh, perasaan bahwa apa yang mereka bicarakan hanyalah omong kosong yang sudah kamu ketahui semuanya. Bukan, bukan tentang itu… Mungkin mereka bukan hanya sekedar memberitahumu, tapi mereka sedang mencari kasih-sayangmu untuk mereka…

Kamu mencintai mereka bukan?

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Wednesday, May 29, 2019

Mengatasi Anak yang Takut ke Dokter Gigi

Teman-teman ada yang anaknya takut ke dokter gigi? Kalau iya, samaan kita…

Sungguh, ke dokter gigi itu bagaikan sinetron yang bikin gemes ending-nya. Anaknya sih seneng-seneng aja diajak ke dokter gigi, pas disuruh duduk di meja tindakan juga masih OK. Tapi, begitu disuruh mangap, dioles anastesi dan dokter pegang tang untuk mengambil giginya… mulai lah Ganesh nanya macem-macem begini begitu dalam rangka membuat dokter menunda mencabut giginya.


Asli gemes kalau udah kaya gini! Beberapa kali saya sampai memilih membawa Ganesh keluar dari ruang praktek dulu untuk membujuknya, supaya tidak menghambat antrian…

Sebenarnya kenapa Ganesh jadi susah dieksekusi masalah gigi ini juga ada andil kesalahan kami sih… Jadi, dulu pada saat giginya pertama kali goyang, kami mengajaknya ke dokter gigi yang sedikit kurang friendly gitu deh… juga kok kayaknya wejangannya menyesatkan kami. Jadi, waktu itu, sang dokter bilang kalau gigi anak ya memang kalau sudah saatnya walaupun belum goyang harus dicabut biar giginya rapi. Well, ini membuat kami sedikit obsessed dan buru-buru mengajak Ganesh ke dokter gigi begitu giginya goyang sedikit…

Padahal, kemudian pada saat kami pindah dokter gigi, sang dokter tidak menyarankan mencabut gigi anak yang baru goyang sedikit, karena takut trauma… Terus, saya setuju dengan pendapatnya, dan lumayan nyesel sih kenapa dulu anak Ganesh ke dokter gigi itu.

Di dokter gigi lama itu, memang Ganesh sempat mengalami insiden yang membuatnya (mungkin) trauma.

Jadi, waktu itu, Ganesh mau cabut gigi di dokter lama ini… Bukan yang pertama sebenarnya, tapi hari itu mendadak dia ga mau pas sudah di meja tindakan. Nah, kok ya kami ga sabar dan pulang dulu saja, tapi malah tetap mencabut giginya. Alhasil tangan sang dokter digigit…

Sejak itulah, drama maju mundur di meja tindakan terjadi dan berulang sampai beberapa kali…

Ya akhirnya anaknya tetap dicabut juga sih… tapi effort-nya itu lho… Sampai beberapa kali keluar masuk ruang praktek karena pas mau dicabut, anaknya ada aja alasannya untuk ga dicabut. Bahkan yang terakhir, saking lamanya akhirnya keluar juga gratifikasi berupa janji mau beliin mainan kalau mau dicabut gigi. Juga ancaman, kalo ga mau juga dicabut giginya, nanti akan ditinggal pulang…

Yes, dua yang terakhir sangat tidak mendidik saya akui… tapi, kondisi terjepit… udah hampir satu jam di dokter gigi anaknya masih aja maju mundur dan jika pun mau pulang dan kembali lagi lain hari, takutnya malahan anaknya semakin menjadi, berpikir kalo dia bisa menunda sampai hari beriutnya. Jadi, ya sudahlah…

Hingga akhirnya, Selasa kemarin kami sukses mengakhiri drama yang menguras kesabaran itu… Tanpa drama sama sekali, anaknya akhirnya duduk di meja tindakan dan membiarkan giginya dieksekusi begitu saja.

Ya, tetep sih, dia sempat menjerit kesakitan pada saat giginya diambil… Pun pada saat diambil, tangannya ikut memegangi tangan sang dokter, tapi tidak menghalangi. Doesn't matter lah ya…

Penasaran kok bisa begitu? Begini ceritanya…

#1: Empati, kemudian menjelaskan mengapa harus, bagaimana caranya, dan siapa yang akan mencabut giginya

Pada saat anak-sanak mengalami emosi tertentu, dalam hal ini ketakutan, empati adalah kunci untuk dapat membuatnya lebih tenang, mengendalikan emosinya, dan kemudian lebih siap untuk berpikir rasional.

So, proses ini dimulai dengan

"Anesh, Mama tau Anesh takut… Mama dulu juga takut sih pas pertama cabut gigi. Tapi, meskipun takut, ya itu harus dilakukan… Kalo giginya ga dicabut, gigi kita jadi ada dua lho… Apa enak punya gigi dua? Udah gitu kalo giginya ga rapi kaya gitu, kotoran susah diilangin dan jadinya gampang berlubang lho Kak… Jadi, walaupun Anesh takut, ya tetap harus kita cabut…"

"Lagian, itu sakitnya ga banget lho Kak… Cuma sedikit aja, karena kan Tante Dokter pake gel yang diolesin ke gusi Kakak dan bikin saraf Kakak bobok sebentar…"

"Nanti Tante Dokter itu pake tang cabutnya, jadi ga meleset-meleset tangannya dan cepet cabutnya… Paling sakitnya satu detik aja…"

"Anesh tau enggak? Tante Dokter itu udah sekolah lama banget biar bisa jadi dokter gigi lho… Dia udah diajarin gimana caranya cabut gigi yang ga sakit, arahnya harus kemana, pake alat apa… banyak… Makanya, Anesh percaya ya sama Tante Dokter…"

#2: Mengulang-ulang prosesi mencabut gigi di dokter gigi sesering mungkin, juga maksud dan tujuan dari mencabut gigi

Selama seminggu menunggu waktu mencabut gigi berikutnya yang sudah mulai goyang, setiap hari saya selalu mengajak Ganesh membayangkan prosesi mencabut gigi yang dihadapinya selama ini…

"Anesh, ayo kita bayangin gimana sih kalo ke Tante Dokter mau cabut gigi itu… biar Anesh tau banget apa yang Anesh takutin itu…"

"Pertama Anesh, kita dateng tuh ke rumah sakit, terus daftar sama tante di bawah… Habis itu, kita naik ke atas, terus Anesh ditimbang sama diukur badannya. Habis itu, kita disuruh nunggu lagi sampe giliran kita."

"Terus, kita nunggu… Tante Dokternya dateng deh, terus kita dipanggil, "Anak Ganesha…" Terus kita masuk ke ruangan tante dokter…"

"Kita duduk di kursi depan tante dokter… baunya coba diinget-inget Nesh, kan Anesh katanya ga suka baunya ruangan tante dokter ya…"

"Habis itu, tante dokter nanya, "Kenapa Anesh?" Terus Anesh jawab, "Mau cabut gigi tante…" Terus Anesh disuruh duduk di kursi buat cabut gigi deh…"

""Buka mulutnya Nesh…" katanya Tante Dokter. Terus Anesh diolesin gel yang bikin ga sakit pas dicabut giginya… Habis itu, Tante Dokternya ngeliatin tangnya yang buat cabut gigi Anesh, terus ditempelin di gigi Anesh, terus nanya, "Sakit enggak Nesh?" Terus Anesh jawab, "Egghaak… soalnya Anesh kan jawabnya sambil mangap…" *Kasih joke dikit biar anaknya ketawa

"Terus, Tante Dokter nanya, "Giginya Tante ambil ya…" 

"Nah, udah Anesh bayangin kan… bagian mana nih yang bikin Anesh takut?"

Iya, sedetail itu… setiap hari… bahkan sehari bisa lebih dari sekali… untuk membantu Ganesh memvisualisasikan ketakutannya dengan sedetail mungkin. Yang tak lain semua ini bertujuan untuk mengidentifikasikan emosinya, sehingga kemudian akan membuatnya lebih mudah meng-handle emosinya tersebut.

Baca juga: 

Di sela-sela sesi visualisasi ini, juga saya menyisipkan alasan dari beberapa hal. Misalnya, pada saat dia bilang baunya ruangan dokter gigi yang membuatnya takut, kemudian saya jelaskan, "Anesh, jadi alat-alatnya Tante Dokter itu kan perlu diilangin kumannya, jadi dia pakai cairan khusus untuk nyeterilin alat-alatnya itu… nah inilah yg bikin baunya kaya gitu. Juga obat pelnya lho Kak, itu beda anti kuman…"

#3: Membuat perjanjian mengenai konsekuensi jika masih berlama-lama cabut giginya

Yak, selain poin satu dan dua, mendekati hari H, saya pun membuat kesepakatan dengan Ganesh seperti ini, "Kakak, besok Mama ga mau lagi ya Kakak lama-lama cabut giginya… Kalau besok lama, Mama ga mau anterin lagi… Anesh sama Papa aja cabut giginya!"

Hwahaha… saya galak banget ya… Tapi, ini ada tujuannya…

Jadi, si Ganesh ini anaknya tipe yang suka nawar… jadi selama masih dia tawar, ya dia akan nawar sampai dapat mendekati yang dia mau. So, I just need to make it clear kalau dia ga bisa nawar dalam hal ini. Dia harus segera mencabut giginya begitu kami memutuskan ke dokter gigi. Titik. Tidak ada tawar menawar lagi.

***

Daaan… tada… alhamdulillah… eksekusi gigi Ganesh kemudian benar-benar tanpa drama. Wow!

Jadi, hari itu di jalan pun saya ulang lagi memvisualisasikan prosesi pencabutan giginya pada poin dua. Lalu bertanya, "Bagian mana yang Anesh takut? Kira-kira Anesh berani enggak?" Dan dia menjawab, "Anesh enggak takut…"

Lalu saya ingatkan juga tentang kesepakatan pada poin tiga… dan saya tekankan bahwa tidak ada tawar-menawar setelah kesepakatan. Jadi, jika dia hari itu pake acara drama lagi cabut giginya, dipastikan kalau saya tidak akan mengantarnya lagi ke dokter gigi.

Daan… tumben, begitu duduk di meja tindakan, semua berjalan lancar… Diminta buka mulut, ya buka mulut… Diolesin gel anastesi ya anteng aja… Begitu waktunya cabut gigi juga ga ada apa-apa, cuma dia ikut pegangin tangan dokter giginya, terus "Aaak…" tau-tau giginya sudah dicabut gitu aja…

Asliii… kaya menang lomba blog aja rasanya, seneng banget…

Anaknya juga super happy berhasil mencabut giginya tanpa drama, sepanjang jalan dia tak henti-henti bercerita tentang kemenangannya. "Mama, I'm so proud of my self," katanya… dilanjutkan dengan, "Mama, do you proud of me?"

"Ooh Anesh, yes! Tentu saja yesss…" Tuh 'S' nya sampe banyak banget saking bangganya… "You do great!"

Lalu dia bilang lagi, "Mama, kapan Anesh cabut gigi lagi? Anesh pengen liatin Papa kalau Anesh udah berani…" Hahaha… Anesh… Anesh…

***

Iya… gitu deh ceritanya kami mengakhiri drama maju mundur waktu cabut gigi… Semoga habis ini, beneran ga ada drama lagi ya… Dan semoga juga cerita ini bisa bermanfaat untuk teman-teman semua ya… Amiin…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Sunday, May 19, 2019

Tentang Aktualisasi Diri, Hierarki Kebutuhan Maslow dan Konformitas

Di mata banyak orang, Lani adalah seorang wanita yang beruntung. Selepas menamatkan pendidikannya di sebuah universitas terkemuka, kemudian dia mendapatkan pekerjaan yang cukup prestise di sebuah perusahaan BUMN.

Dari social media-nya pun tampak dia cukup menikmati pekerjaannya, meskipun memang dia jarang posting hal berkaitan dengan pekerjaannya.

Pekerjaannya adalah idaman banyak orang… Gaji relatif besar, tunjangan kesehatan memberikan jaminan yang cukup untuknya dan keluarga, dan beban kerjanya pun tidak terlalu berat. Wow! Apalagi yang dicari coba?

Karena itu, saat dirinya mengungkapkan keinginannya untuk resign, kemudian beberapa orang berujar, "Sayang lho… pikir bener-bener deh…" Dan dia pun menuruti nasehat itu, dia bertahan hingga beberapa tahun, berusaha meyakinkan dirinya akan nasehat orang-orang padanya… Namun, anehnya keinginan itu bukannya surut, dan justru semakin menjadi-jadi…

***

Fiksi ya ini ya teman-teman… alias bukan kisah nyata… Tapi, kejadian seperti ini tidak jarang kita temui dalam kehidupan sehari-hari, meskipun tidak bisa dibilang sering.

Dan somehow, kemudian insting suka menganalisa hal-hal macam ini muncul dan dilanjutkan dengan pemikiran, "Lumayan juga buat update blog…" Sampai akhirnya, niat pun bulat untuk buat tulisan tentang 'gejolak' pikiran saya ini…

Here it is

***

Dalam sebuah teori, bernama Hierarki Kebutuhan Maslow, dikisahkan bahwa motivasi seseorang untuk melakukan berbagai hal itu dapat dikategorikan dalam lima golongan besar dan dijelaskan dalam konsep hierarki.

Biar kebayang, kita liat gambarnya dulu…


Jadi, menurut teori ini, hal pertama yang akan menjadi motivasi seseorang adalah kebutuhan fisiologis… Dan baru setelah kebutuhan tersebut terpenuhi dalam batas tertentu, kemudian motivasi akan naik ke level di atasnya, yaitu kebutuhan akan rasa memiliki dan cinta… Begitu seterusnya…

Ya, menurut Maslow, motivasi kita bersumber dari belum terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tertentu; kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa memiliki dan cinta, kebutuhan akan rasa memiliki dan cinta, kebutuhan harga diri, serta aktualisasi diri.

Dimana untuk empat level pertama, motivasi akan menurun semakin kebutuhan tersebut terpenuhi. Sementara untuk kebutuhan teratas yaitu aktualisasi diri, justru kebutuhan akan semakin meningkat semakin kebutuhan tersebut terpenuhi.

Gampangnya gini… saat seseorang lapar, maka mencari makan adalah motivasi utamanya. Dia mungkin akan mencari pekerjaan yang bisa menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan dasar ini. Kemudian, setelah kebutuhan ini terpenuhi pada taraf tertentu, maka dia tidak akan lagi menjadi motivasi bagi orang tersebut. Kemudian, orang tersebut akan berusaha memenuhi kebutuhannya akan rasa aman, mungkin dengan berusaha mencari pekerjaan dengan status pegawai tetap yang lebih memberikan kepastian, maupun risiko kecelakaan kerja lebih kecil.

Begitu… seterusnya… sampai akhirnya terpenuhi kebutuhannya akan harga diri, aktualisasi diri pun kemudian akan menjadi motivasinya.

Tapi, perjalanan motivasi ini pun tidak mulus alias menapak ke atas terus… Bisa naik, bisa turun, bisa juga stuck alias diam di tempat, tergantung kondisi lingkungan dan juga kepribadian serta preferensi seseorang. Ya akan ada juga orang yang motivasinya all about the money, ga perlu tuh yang namanya harga diri, para koruptor misalnya kan…

Lalu, berbicara mengenai level motivasi tertinggi, yaitu 'aktualisasi diri', sesungguhnya hal ini lah yang mendorong Lani kemudian memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya.
Menurut Maslow, 'aktualisasi diri' adalah istilah untuk menyebut keinginan seseorang akan self-fulfillment (pemenuhan diri), yaitu kecenderungannya untuk mewujudkan dirinya sesuai potensi yang dimilikinya. 
Di tempat kerjanya saat ini, ternyata Lani merasa tidak merasa bisa mengembangkan potensinya dengan baik. Dia sudah berusaha keras menemukan kenyamanan dengan menampilkan performa terbaiknya, juga berprestasi dalam bidang-bidang sesuai passion-nya. Tapi, apa daya, pada satu titik dia benar-benar merasa tidak nyaman dan memilih untuk berhenti dari pekerjaannya.
Karena uniknya setiap individu, motivasi untuk mengaktualisasikan diri kemudian mendorong orang ke arah yang berbeda-beda. Ada yang mencapainya melalui seni atau literatur, dan bisa juga dalam bidang olah-raga, menjadi guru, atau dalam dalam setting perusahaan (Kenrick et. al., 2010).
Aktualisasi diri bukan tentang banyaknya materi, tapi sebuah kesempatan seseorang bisa menjadi sebesar potensi yang dimilikinya. Dan juga bukan berarti jika seseorang siap tinggal landas menuju level aktualisasi diri kemudian kebutuhan-kebutuhan lain yang telah dipenuhi akan selamanya aman… Tentu tidak…

Ada kalanya peluang mengaktualisasikan diri itu berisiko mengganggu stabilitas kebutuhan yang telah dipenuhinya. Contoh sederhananya adalah saat Lani ingin berhenti dari pekerjaannya untuk mengembangkan diri dengan risiko bahwa pekerjaan barunya tidaklah mampu menghasilkan sebesar penghasilan lamanya.

Inilah yang kemudian sering digaungkan orang sebagai, "Life's begin at the end of your comfort zone…" Dalam tujuan mencapai diri yang teraktualisasi itu, kita perlu mengambil risiko untuk keluar dari zona nyaman yang sudah kita capai. Karena itu, tidak berlebihan rasanya jika kemudian Maslow memperkirakan bahwa hanya dua persen orang yang mampu mencapai level aktualisasi diri.

Wah, hebat dong orang yang bisa sampai ke level aktualisasi diri?

Hmm, jika menilainya adalah dia bisa mencapai sesuatu yang tidak bisa dicapai orang lain, yup, dia hebat. Atau dari sudut padang psikologis netral, mereka ini adalah golongan orang-orang yang spesial alias unik. Tapi, latar belakang dan kondisi setiap orang itu kan berbeda… Jadi, just follow your heart… and let's embrace whatever our choice… Toh definisi kesuksesan setiap orang itu kan berbeda…

Dan kembali pada hal aktualisasi diri, berdasarkan pengamatan pada 18 orang yang dinilai mencapai level ini (aktualisasi diri), termasuk Abraham Lincoln dan Albert Einstein, Maslow mengidentifikasikan 15 karakteristik dari individu yang mampu mengaktualisasikan dirinya:
  1. Individu yang memahami realitas secara efisien dan dapat mentolerir ketidakpastian
  2. Menerima diri sendiri dan orang lain apa adanya
  3. Spontan dalam berpikir dan bertindak
  4. Berfokus pada masalah (bukan pada diri sendiri)
  5. Memiliki selera humor yang tidak biasa
  6. Mampu melihat kehidupan secara efektif
  7. Memiliki kreativitas tinggi
  8. Tidak mudah terpengaruh pada enkulturasi
  9. Peduli pada kesejahteraan manusia
  10. Mampu memberikan apreasiasi mendalam terhadap pengalaman hidup dasar
  11. Membangun hubungan interpersonal yang memuaskan dengan sedikit orang
  12. Pengalaman puncak (peak experiences
  13. Kebutuhan akan privasi
  14. Sikap demokratis
  15. Moral dan standar etik yang kuat
Dan kemudian, apa hubungannya antara aktualisasi diri dan konformitas? Eh, by-the-way, udah pada tau belum sih apa itu 'konformitas'?
Konformitas adalah salah satu jenis pengaruh sosial yang meliputi perubahan kepercayaan (sikap mental) atau perilaku untuk menyesuaikan dengan sebuah kelompok. Dimana perubahan ini merupakan respon pada tekanan kelompok yang nyata (misalnya kehadiran fisik orang lain) atau yang dibayangkan (misalnya tekanan dari norma sosial dan ekspektasi).
See… dari kelimabelas karakteristik orang yang mampu mengaktualisasikan diri tersebut jelas mengisyaratkan bagaimana individu tersebut menghargai keunikan diri sendiri dan orang lain, serta tidak mudah terpengaruh pada budaya atau lingkungan… Yes! Tidak salah bukan, jika saya merasa bahwa seseorang yang cenderung tidak konformis itu memiliki dorongan yang lebih tinggi akan aktualisasi diri dan potensi untuk mencapainya.

So, jika suatu saat teman-teman menemui sesosok orang yang tampak tidak sejalan dengan jalan berpikirmu dan banyak orang… No, itu bukan berarti bahwa orang tersebut buruk lho, dia hanya berbeda saja dengan kita, tidak lebih dan tidak kurang.

Sampai disini, cukup bisa dipahami bukan hubungan antara aktualisasi diri, Hierarki Kebutuhan Maslow dan konformitas yang ingin saya sampaikan?
Bahwa aktualisasi diri merupakan salah satu kebutuhan pada level tertinggi menurut Hierarki Kebutuhan Maslow. Dan somehow, menurut Maslow, orang-orang yang sampai pada level ini memang minoritas, dan bisa dipahami jika mereka ini adalah orang-orang yang memiliki pemikiran berbeda dengan lingkungan sekitarnya. Yes, indeed most of of them are nonconformist
Dan kembali pada kasus Lani… Saat dia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya yang begitu menjanjikan, yes, dia sedang keluar dari zona amannya. Dia mengambil satu keputusan yang tidak akan diambil oleh sebagian besar orang. Pun semua itu karena dia memiliki keinginan dan mimpi yang berbeda dengan kebanyakan orang.

Demikian juga jika pilihannya ini kemudian berbeda dengan kesuksesan yang didefinisikan banyak orang, itupun bukan berarti bahwa dia gagal. Semua itu semata karena kesuksesan di mata Lani berbeda dengan kesuksesan yang didefinisikan banyak orang. Dan berbeda itu sama sekali tidak salah bukan?

***
Kurang lebih begitu teman-teman…

Seribu dua ratusan kata nih by-the-way, terima-kasih sudah membaca ya… Harapannya sih, tulisan ini selain membantu saya mengeluarkan uneg-uneg karena gatel ingin menanggapi sesuatu, juga bermanfaat untuk teman-teman melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Dan selanjutnya, mungkin bisa membantu teman-teman memahami orang-orang di sekitar kita.

That's it

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Monday, May 6, 2019

Fuwa Fuwa… Finally Arrived in Lampung!

Tada! Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu penggemar Japanese Cheesecake seantero Lampung datang juga!

Yes, Fuwa Fuwa dengan tagline-nya 'First Japanese Authenthic Fluffy Cake in Indonesia' hadir di Lampung pada tanggal 2 April 2019! Dan sejak itu, maka resmilah warga Lampung tidak perlu jastip lagi kalo pengen makan Japanese Cheesecake yang sesungguhnya…

Iya lho, ternyata dari beberapa cerita customer Fuwa Fuwa, ternyata dulu mereka harus jastip ke Jakarta kalau pengen makanan satu ini… Alhamdulillah ya, sekarang sudah tidak perlu serempong itu lagi… Yeay!

Eh, tapi… tanggal 2 April 2019 itu sesungguhnya Fuwa Fuwa Lampung baru soft opening saja, alias belum terlalu woro-woro kemana-mana akan eksistensinya… Dan baru deh, pada tanggal 27 April 2019 lalu, dilaksanakan hajatan Grand Opening sebagai bentuk syukuran atas pembukaan sekaligus pengumuman kepada khalayak luas akan kehadiran Fuwa Fuwa Lampung.

Nah, sebagai bagian dari woro-woro tadi, secara mungkin beberapa dari teman-teman belum kenal nih apa sih Fuwa Fuwa… Cekidot ya…

Apa sih Fuwa Fuwa itu?


Yes, 'Fuwa Fuwa' adalah istilah dalam Bahasa Jepang untuk mendeskripsikan suara yang berasal dari sesuatu yang ringan dan lembut. Seperti itulah kira-kira lembutnya cake Fuwa Fuwa… Penasaran? Teman-teman bisa dengarkan dengan cara mendekatkan cake Fuwa Fuwa ke telinga dan menekannya dengan kedua jari. Teman-teman akan dengar suara lirih yang menandakan lembutnya cake Fuwa Fuwa.

Kok bisa selembut itu?

Semua itu dihasilkan dari perpaduan bahan-bahan berkualitas tinggi dan telur segar yang diolah dengan teknik Jepang yang (menurut saya) cukup rumit.

Yup, produk andalan dari Fuwa Fuwa sendiri adalah Japanese Cheesecake alias Cheesecake ala Jepang dengan karakteristik khasnya. Dan basically benang merah dari produk-produk dari Fuwa Fuwa sendiri adalah keju, sehingga mereka memiliki rasa dan aroma keju yang dikemas dengan berbagai bentuk, rasa dan tekstur. 

Here they are

#1 Cheesecake (Japanese style of course


Apa Itu Japanese Cheesecake?

Ini pun yang menjadi pertanyaan saya pertama kali mendengar istilah Japanese Cheesecake… Emang Japanese Cheesecake itu apa, dan apa bedanya dengan cheesecake lainnya? Ya secara selama ini saya kenalnya ya cheesecake gaya Eropa yang ada di gerai-gerai Bre***alk…

Dan ternyata, setelah membaca beberapa artikel, baru saya tahu bedanya…

Jadi, Japanese Cheesecake (atau sering disebut cotton cheesecake atau light cheesecake) adalah jenis chiffon cake yang berasal dari Hakata Jepang pada tahun 1947. Dan seperti halnya chiffon cake, cheesecake ini memiliki tekstur yang sangat lembut atau fluffy

Cheesecake ini memiliki rasa manis yang lebih ringan dan kalori yang lebih rendah daripada cheesecake pada umumnya, karena mengandung lebih sedikit keju dan gula.

Nah, cheesecake seperti inilah signature dishnya Fuwa Fuwa… Bagi saya pribadi sangat layak dimasukkan dalam list dessert favorit karena rasanya yang enak, rendah kalori dibandingkan cheesecake jenis lainnya, dan tanpa pengawet maupun pengembang. Ga salah, jika kemudian disebutkan bahwa sepotong atau dua potong cheesecake ini tidak akan membuat kita merasa bersalah… Totally agree!


Cheesecake ini terdiri dari tiga varian; yaitu Signature (original), Choco (coklat) dan Matcha (green tea). Meskipun memiliki rasa yang berbeda, ketiganya memiliki tekstur dan kelembutan yang sama, namun spesial pada varian Choco, terdapat chocochips di tengahnya, sehingga pada kondisi panas/hangat akan lumer. Yumm…

Saking lembutnya, seperti yang suka kita lihat di video, mereka ini pun jiggly-jiggly alias bisa goyang-goyang gitu… Apalagi dalam kondisi panas ya… Kalau dalam kondisi dingin sih, udah ga terlalu heboh lagi goyang-goyangnya, tapi tetap lembuttt…

#2 Pillow Cake



Nah, kalau Pillow Cake ini sesuai namanya emang asli empukkk kaya bantal…

Jadi, kalau Pillow Cake ini teksturnya tidak selembut Cheesecake dan sedikit menyerupai bolu, namun tetap jiggly-jiggly, apalagi dalam kondisi panas.

Rasa manis Pillow Cake tergolong light dan di tengahnya melintang keju slice dengan rasa dominan asin, sehingga menjadi paduan yang sangat pas untuk teman minum kopi atau teh.

#3 Cheese Cup


Nah, kalau Cheese Cup ini rasanya mirip es krim tapi lebih creamy

Cheese Cup terdiri dari tiga lapisan; yaitu creamy cheese filling pada bagian paling atas, kemudian soft sponge cake di bagian tengah, dan crunchy crumbles di bagian paling bawah.

Nyamm… kebayang kan yummy-nya…

Oh ya, Cheese Cup ini ada tiga varian rasa ya… Original, coklat dan strawberry… Warnanya sih mirip-mirip, karena ketiganya tidak memakai pewarna tambahan.

#4 Fuwa Stick


Kebayang ga sih si Cheesecake dibekukan kemudian dilapisi coklat cair dan diberi toping suka-suka? Huh, ini enak banget lho… Macam es krim magnum gitu, tadi di dalemnya cheesecake!

Untuk memesan Fuwa Stick, kita akan diminta untuk memilih cheesecake bagian dalamnya (Signature, Choco, atau Matcha), setelah itu pilih toping yang ada: kacang, choco pearls, oreo, rainbow sprinkle, choco spinkle, dan corn flakes (maksimal tiga toping untuk tiga sisi).

#5 Fuwa Bites


Dan yang terakhir ini, Fuwa Bites adalah cheesecake dalam bentuk biskuit… Ini adalah cheesecake yang dipanggang kering hingga menyerupai biskuit, jadi rasanya tentu saja menyerupai cheesecake tapi renyah. Pas dimakan sebagai camilan sambil kerja atau nonton TV…

Fuwa Bites ini dikemas dalam bentuk pouch yang masing-masing terdiri dari tiga varian rasa (keju, coklat dan matcha).

Grand Opening Fuwa Fuwa Lampung

Setelah kurang lebih empat minggu melayani customer di Lampung, Fuwa Fuwa Lampung pun melaksanakan hajatan grand opening yang digelar pada tanggal 27 April 2019 bertempat di Outlet Fuwa Fuwa Lampung di Mall Boemi Kedaton - Ground Floor.

Pada saat Grand Opening ini, 100 buah Cheesecake Signature normalnya seharga 80K dijual dengan harga prom 30-40K saja, dengan rincian 50 kue pertama  seharga 30K dan 50 kue berikutnya seharga 40K.

Yes! It's a big deallll… Kapan lagi ada promo lebih dari 50% gini kan… Dan para penggemar cheesecake khususnya Fuwa Fuwa di Lampung pun begitu antusias memanfaatkan kesempatan ini dan rela mengantri untuk mendapatkan cake super fluffy ini dengan harga miring.


Syaratnya pun hanya follow akun instagram @fuwafuwalampung dan @fuwafuwa_world… Jadi, setelah Tim Fuwa Fuwa memastikan customer mem-follow kedua akun ini, mereka pun berhak mendapatkan nomor antrian untuk melakukan transaksi dengan harga promo tersebut… Yeay!


And guess what, 100 kue ludes dalam waktu 1 jam 20 menit saja… Amazing! Dan bahkan ada beberapa customer yang terpaksa tidak terlayani karena kuota sudah habis…

Dan suksesnya hajatan Fuwa Fuwa Lampung ini tentu tidak lepas karena kerjasama seluruh kru yang bahu membahu melaksanakan tugas masing-masing agar keramaian ini berjalan lancar dan adil. Serta tentu saja customer yang kooperatif dan tertib untuk mendapatkan antrian dan bertransaksi.

***

Wooh… what a day! Setelah sepagian para baker mempersiapkan 100 buah kue dan seluruh tim membantu packaging, mengelola antrian, dan melakukan transaksi; capek itu pasti… Tapi, semua  pasti terbayar dengan rasa puas yang membuncah melihat antusiasme dari para customer…

Dan akhir kata, sebelum menutup postingan ini, teriring doa semoga Fuwa Fuwa Lampung selalu dapat menghasilkan produk yang berkualitas dari sisi rasa dan juga kesehatan, serta selalu mendapatkan tempat di hati masyarakat Lampung. Aminn…

Sekian reportase saya dan terima-kasih… *Duh, kok jadi kaku gini endingnya ya… 😂

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Tuesday, April 23, 2019

The Whole-Brain Child #2: Mengintegrasikan Otak Kanan dan Otak Kiri

Finally… setelah sekian lama, bisa juga menulis review chapter kedua dari buku 'The Whole-Brain Child yang nge-hits itu…

Beberapa teman mungkin tahu, kesibukan yang melanda saya beberapa minggu ini… Dan bagi yang belum tahu, nanti saya bisikin deh di post lainnya… 😁

Udah, itu aja intronya…

***

Pada chapter pertama, kita sudah memahami bahwa sesungguhnya otak manusia itu terdiri dari berbagai bagian dengan fungsinya masing-masing. Dan kondisi psikologis yang ideal atau sehat itu berarti bahwa bagian-bagian otak ini bekerjasama secara terintegrasi untuk merespon suatu keadaan.

Nah, dalam chapter kedua ini, secara spesifik dibahas mengenai integrasi dua belahan otak manusia, yaitu otak kiri dan otak kanan.
Otak kiri adalah bagian otak yang logis, literal, linguistik dan linear; sedangkan otak kanan adalah bagian otak holistik dan nonverbal (mengirimkan dan menerima sinyal berupa ekspresi wajah, kontak mata, nada suara, gesture, dan sebagainya), serta memiliki spesialisasi pada emosi dan memori personal. 
Kalau kita orang dewasa mungkin bisa mencontohkan tidak sinkronnya otak kanan dan otak kiri pada saat patah hati, dimana otak kiri meminta kita untuk move on, tapi otak kanan merengek masih cinta. Kalau anak-anak, mungkin bisa dicontohkan antara keinginan otak kanan untuk main, sementara otak kiri merasa harus mengerjakan PR.


Disintegrasi antara otak kanan dan otak kiri bisa muncul dalam kondisi dimana peran otak kanan dan kiri tidak sejalan, baik sama-sama kuat, maupun salah satu di antaranya ditekan atau bahkan terjadi penyangkalan (denial) pada salah satu aspek (sebut saja emosi dan logika).

Contoh konkret kejadian semacam ini adalah pada saat anak-anak yang tantrum minta es krim, padahal sudah diberi tahu bahwa dia tidak boleh makan es krim karena sedang sakit. Yes, anak-anak memang masih begitu dominan belahan otak kanannya, sehingga kejadian tantrum memang seringkali terjadi.

Sedangkan contoh lainnya adalah pada saat seorang anak yang lebih dewasa yang sedang bertengkar dengan sahabatnya, dan kemudian berkata, "Aku tidak peduli jika kami tidak pernah berbicara lagi, aku benar dan dia salah…" Dimana hal ini adalah salah satu kasus penyangkalan atas perasaan atau emosi yang dirasakannya.

Kondisi disintegrasi antara otak kanan dan otak kiri tentu berdampak pada ketidakstabilan kondisi psikis anak dalam level yang berbeda-beda (ringan maupun berat), dan ini tentu adalah kondisi yang tidak baik baginya. Untuk itu, sebisa mungkin, kita sebagai orang-tua mengupayakan agar anak-anak kita mampu mengintegrasikan kedua bagian otak ini.

Dan berikut adalah beberapa trik yang bisa dilakukan orang-tua atau pendidik untuk mengintegrasikan otak kanan dan kiri seorang anak:

#1: Menghubungkan dan Mengarahkan: Membantu Anak Merasakan Emosinya

Saat saya menginjak remaja, saya mendadak mempunyai sebuah jerawat yang literally ukurannya seperti 10 jerawat yang menjadi satu. Saat itu, takut anak gadisnya merasa minder dan tidak percaya diri, ayah saya pun selalu berkata, "Udah, ga usah dipikirin (itu jerawat)… Cuek aja… Anggap ga ada apa-apa… Yang penting tetep percaya diri…"

And guess what, ini justru membuat saya mengalami 'kebingungan' yang rasanya sangat tidak nyaman… Saya berusaha menyangkal perasaan tidak nyaman harus berinteraksi dengan orang-orang, sementara merasa bahwa mereka memandang aneh jerawat saya; tapi ya tidak semudah itu. Dan hasilnya adalah saya tetap tidak bisa merasa nyaman saat berinteraksi dengan orang di sekitar saya, bahkan rasanya 'menyakitkan'… Ada kalanya saya kemudian menangis saat sendirian karena begitu merasa tidak nyaman.

Saya tentu bukan satu-satunya anak yang mengalami kejadian semacam ini, kasus-kasus anak-anak diarahkan untuk berpikir rasional dan mengabaikan emosi yang dirasakannya adalah hal yang sangat sering terjadi.

"Mama, aku males ngerjain PR…" Lalu kita jawab, "Ayo semangat! Harus tetap dikerjain Kakak… nanti ga naik kelas lho…"

Atau…

"Mama, aku bosen sekolah… aku ga usah sekolah ya…" Lalu kita jawab, "Kalo ga sekolah, Kakak nanti mau jadi apa? Katanya mau jadi engineer?"

Dan sebagainya…

Itu adalah contoh-contoh praktik dimana kita berusaha mem-by-pass emosi anak menuju jalur rasionalitas untuk mendapatkan perilaku yang kita inginkan; anak menjadi percaya diri, anak menjadi mau mengerjakan PR atau tetap berangkat ke sekolah.

Sesuatu yang ternyata tidak lah tepat dilakukan…

Hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk membantu anak-anak pada saat-saat seperti itu adalah dengan membantu mereka menyadari emosi/perasaan yang dialaminya, baru kemudian menyampaikan aspek-aspek rasional dari kejadian tertentu untuk membantu mereka mengintegrasikan antara aspek emosi dan rasional… otak kanan dan otak kiri.

Jadi, berdasarkan contoh kasus di atas, alternatif respon kita sebagai orang-tua yang lebih baik adalah sebagai berikut:

"Mama, aku malu keluar rumah dengan jerawat segede ini…" Kita jawab, "Iya, Mama tau kamu pasti ga nyaman banget bertemu teman-temanmu dengan jerawat sebesar itu… Iya kan? Rasanya kaya orang-orang ngeliatin kita terus dan bertanya dalam hati soal jerawat itu kan?"

Biarkan anak menceritakan perasaannya, kita berikan empati agar anak berdamai dengan emosinya, baru kemudian menyampaikan sisi rasional… "Kakak, ada kalanya kita tidak merasa nyaman karena sesuatu, it's OK, ini manusiawi kok… Tapi, kita tetap harus berusaha memilah saat dimana kita harus tetap melangkah meskipun tidak merasa nyaman… Seperti yang Kakak alami, meskipun Kakak merasa tidak nyaman bersama teman-teman, tapi Kakak juga tau kan menghindar itu bukan hal yang baik… Kakak tetap perlu pergi ke sekolah dan bahkan bersama teman-teman Kakak, karena sesungguhnya mereka pun peduli pada Kakak…"

"Mama, aku males ngerjain PR…" Kita jawab, "Kadang Mama juga merasa begitu lho Kak… Males mau ngerjain sesuatu, kadang bosen juga… Sekarang apa yang Kakak rasain? Kok males ngerjain PR?"

Kita beri anak kesempatan untuk mengidentifikasi apa yang dirasakannya, baru kemudian memberikan pemahaman dari sisi rasional, "Coba Mama liat, emang PR Kakak masih berapa lagi sih? Kita kerjain bareng-bareng yuk…"

Kurang lebih seperti itu…
Jadi, sebisa mungkin kita mengajak anak untuk menyadari, memahami dan menerima emosi yang dirasakannya… Baru kemudian menyampaikan aspek rasional dari peristiwa tersebut. Connect with the right (brain), then redirect with the left (brain)
#2: Menceritakan Kembali Kejadian untuk Menenangkan Emosi yang Dahsyat

Pada saat anak-anak mengalami suatu kejadian yang menyakitkan, mengecewakan atau menakutkan, ada kalanya hal ini disertai dengan muatan emosi yang dahsyat, hingga anak tidak mampu mengidentifikasi apa yang sebenarnya terjadi atau dirasakannya.

Misalnya: anak-anak trauma dengan dokter gigi… Pada awalnya diajak ke dokter gigi sampai dengan masuk ruang periksa sih baik-baik saja, tapi begitu harus duduk di kursi tindakan, kemudian dia menjadi gelisah dan menolak.

Secara otomatis, biasanya kita akan menenangkannya dengan berkata, "Ga papa Kakak, ga sakit kok… Itu kan tante dokternya pakai 'dingin-dingin' ga akan kerasa lho…" dst.

Tapi, dalam intensitas emosi atau sebut saja trauma yang cukup mendalam, hal ini tidak akan efektif…

Salah satu cara untuk menghadapi anak dalam kasus seperti ini adalah dengan membantunya merasakan dan mengidentifikasi emosi yang dirasakannya. Dimulai dari apa yang dirasakannya saat akan duduk di meja tindakan, apa yang ditakutkannya, dan sebagainya… Semakin detail kita dapat menggali dan meminta anak menceritakan perasaannya, maka akan semakin baik anak mampu meng-handle emosinya dan tidak lepas kendali dari aspek rasionalnya.

Konkretnya mungkin bisa kita lakukan dengan cara bercerita dari hati ke hati…

"Kakak… kenapa sih Kakak tadi ga mau duduk di kursi Tante Dokter?"

"Kakak takut Mama… gimana ya, Kakak takut aja… kok rasanya mau dicabut giginya itu serem ya…"

"Hmm, gitu ya… Iya sih, emang cabut gigi itu agak serem dibayangin… Soalnya gigi kita kan ditarik dari gusi, bisa jadi agak sakit sih Kak… Karena kan pasti ada lukanya dan berdarah…"

Yeah, bring it on… kita bantu anak-anak memvisualisasikan dan mengidentifikasi rasa takutnya supaya mereka memahami apa yang membuatnya merasa takut…

Mungkin kita berpikir bahwa untuk menghilangkan rasa takut, marah, atau emosi negatif lainnya itu adalah dengan sebisa mungkin tidak memunculkan ketakutan, kemarahan atau apapun itu… Tapi, itu adalah sesuatu yang sepenuhnya salah!

Dengan upaya melupakan, tidak mengungkit, dan sebangsanya sesungguhnya hanyalah memendam 'permasalahan' yang ada ke alam bawah sadar, bukan 'menyelesaikannya'. Masalahnya tetap ada, demikian juga dengan emosi negatifnya… Dan mereka akan menciptakan disintegrasi antara belahan otak kanan dan kiri, antara emosi dan logika…

Dan lagi-lagi, saya membuktikannya pada diri saya…

Duluu sekali, sebagai seorang yang intravert garis keras, seringkali over analisa membuat saya mengalami self guilty alias merasa bersalah. "Gimana kalo aku ga bisa ya… Orang-orang kayaknya ngeliat aku aneh deh…" dan sebagainya… Sesuatu yang membuat saya merasa sangat tidak nyaman dalam pergaulan dengan teman sebaya.

Kemudian, saat saya menyadari bahwa saya perlu menyelesaikan perasaan-perasaan yang mengganjal dalam diri itu, kemudian saya pun rutin mereview kejadian dalam satu hari. Dan saat menyadari ada perasaan tidak nyaman untuk di-recall, disitu justru kemudian saya berusaha memvisualisasikan perasaan itu senyata mungkin. And that's work!
Sehingga, kini saya pun bisa bilang dengan yakin bahwa menceritakan kembali atau me-recall suatu pengalaman negatif akan membantu anak-anak mengelola emosinya serta mengintegrasikan kerja otak kanan dan kirinya.
***

Yes, kurang lebih seperti itulah beberapa hal yang bisa saya rangkum dari bab 2 Buku 'The Whole-Brain Child' dengan judul 'Two Brains are Better than One: Integrating The Left and The Right'. Yang kalau dipikir bener banget sih…
Bahwa untuk mencapai kondisi psikis yang sehat dibutuhkan integrasi antara otak kanan yang berfungsi memproses emosi dan otak kiri yang berfungsi memproses logika.
Terlalu menuruti emosi tanpa logika tentu akan konyol jadinya… Sementara terlalu mengedepankan logika dan menyangkal emosi pun jadinya akan terasa hampa dan berpotensi menyakiti perasaan sendiri dan orang di sekitar kita.

Terkadang, cara kita merespon dan memperlakukan anak tanpa kita sadari justru mendorong anak untuk mengesampingkan pemrosesan otak kanan atau otak kirinya. Ada kalanya kita mendorong anak untuk mengabaikan emosinya atau logikanya. Misalnya meminta anak untuk serta merta mengalah dari adiknya meskipun benar…

Dan sekarang kita tahu bagaimana cara merespon dan memperlakukan anak dengan lebih baik untuk membantu mereka mengintegrasikan bagian otaknya, jadi, mari kita berusaha…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Sunday, March 10, 2019

The Whole-Brain Child #1: Mendidik dengan Mengintegrasikan Otak Anak

Menjadi orang-tua itu sungguh penuh tantangan… Dan tantangannya tentu pun berbeda-beda…

Suami saya, katanya sih dulu anaknya cenderung nurut dan kompetitif… Tipe ga ada masalah sama tuntutan ranking kelas. Butguess what, waktu kecil dia susah banget makan sampai mertua saya malu dan mundur jadi kader Posyandu…

Sedangkan saya, sendiri lebih bermasalah karena karakter melankolis yang membuat saya over analyse dibandingkan orang di sekitar saya. Dan karena tidak mendapatkan treatment yang tepat, kemudian munculnya sebagai kebingungan dan stress, serta tidak percaya diri (sebut saja begitu).

Nah, sekarang setelah berstatus sebagai orang-tua, pun saya menghadapi tantangan yang berbeda lagi akan anak-anak saya mulai dari bayi hingga kini…

Baca juga:

Dan salah satu yang terbaru adalah mengenai perangai anak yang memburuk, sehingga anak menjadi mudah marah, sulit mengikuti aturan, dan sebangsanya…

Berkaitan dengan hal ini, berbekal insting, sedikit pengetahuan dari jaman kuliah dulu, second opinion dari psikolog, dan tentu saja belajar dari beberapa literatur… saya kemudian memiliki beberapa analisa mengenai kasus ini. Yang mungkin nanti akan saya ceritakan satu persatu dalam post lain, namun, dalam post kali ini saya akan bercerita mengenai pengasuhan dan bagaimana meng-handle perilaku anak…

Yang ternyata nyambung lho, sama buku 'The Whole-Brain Child' yang baru datang seminggu lalu!


CERITA KAMI

Singkat cerita, setelah ngobrol dari hati ke hati dan pengamatan perilaku, saya menyimpulkan adanya tekanan (stress) yang dialami anak. Dimana sumber tekanan ini, tidak terfokus pada satu permasalahan, tapi lebih kondisi akumulatif yang membuatnya menjadi sulit mengendalikan emosinya.

Kalau Bahasa Jawa menyebutnya 'bunek'… yang kalau dijelaskan dalam Bahasa Indonesia, itu adalah kondisi dimana kita jadi mudah terpancing emosi karena jenuh. Seperti halnya kita menjadi mudah marah pada saat capek, mengantuk atau lapar…

Dari kesimpulan ini, kemudian saya berusaha melakukan beberapa perubahan pada pengasuhan dan cara kami mendidik di rumah.

Merasa jika kami sering memberikan syarat atau target yang 'abstrak' untuk sesuatu yang diinginkan anak, kemudian kami menerapkan metode Token Economy… Dengan harapan itu lebih mudah dipahami dan dapat menguatkan perilaku positif tertentu.

Baca juga: 

Which is work well on him… Tapi, tentu bukan itu saja PR-nya…

Selain itu, kemudian saya juga berusaha memperbaiki pola interaksi dengan anak menjadi lebih intens. Di antaranya dengan selalu menyempatkan diri untuk menjemput sepulang sekolah, sehingga kami bisa saling bercerita tentang kejadian di sekolah… Memijit dan bercerita sebelum tidur, yang selalu disisipi dengan kata positif betapa mereka adalah anak-anak yang baik dan pintar, sehingga mereka bisa melakukan hal-hal yang baik dan hebat… Serta juga memberikan jawaban yang memuaskan akan pertanyaan-pertanyaan mereka yang sungguh banyak, detail, dan harus real time alias harus dijawab saat itu juga… tidak peduli jika kita sedang masak di dapur atau adik/kakaknya pun sedang bertanya… 

Dalam penalaran saya, semua itu sesungguhnya adalah untuk membersihkan pikirannya dari 'hal-hal yang tidak selesai' atau menjadi beban pikirannya… Entah itu dari suatu konflik yang tidak selesai, perasaan negatif, atau sekedar rasa ingin tahu.

Dan… yes, (again) it works!

Anak pun sedikit demi sedikit berprogress selama kurang lebih empat minggu saya menerapkan perubahan ini… Hari demi hari, perangainya mulai membaik menjadi sangat positif. Dia menjadi lebih sabar, empati pada orang-lain, berinisiatif membantu, bersedia menunggu, mengalah, dan banyak lagi…


CHAPTER #1 THE WHOLE-BRAIN CHILD


Dan somehow, apa yang saya pikirkan dan terapkan itu ternyata dapat dijelaskan dengan lebih gamblang dan terpercaya (soalnya yang bilang expert kan) oleh buku 'The Whole-Brain Child'…

Awalnya, saya tahu buku ini dari rekomendasi instagram Rabbit Hole… Kemudian, karena merasa sedang perlu inspirasi terkait dunia parenting, saya pun mencari tahu summarinya dan berakhir dengan memesannya lewat Bookdepository…

Yang… yup, yang pernah pesan disana pasti tahulah berapa lama bukunya sampai… Secara ini import tapi ongkos kirimnya gratis, hehe…

But, it doesn't matter… Walaupun lama, dia selalu sampai kok… Sekian intermezo-nya dan kembali pada cerita intinya…

Integrasi

Pada chapter pertama dengan judul, 'Parenting with the Brain in Mind', dijelaskan bahwa sesungguhnya otak manusia terdiri dari bagian-bagian yang memiliki fungsi tersendiri. Seperti otak kiri yang membantu kita berpikir logis dan otak kanan yang membantu kita mengalami emosi dan membaca bahasa non-verbal. Demikian juga ada bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan moral dan ada juga yang bertanggung-jawab pada penyimpanan memori.

Dimana dengan banyaknya bagian dan fungsi dari ini, sesungguhnya kunci dari kondisi psikologis yang sehat adalah integrasi dari seluruh fungsi otak ini… Yaitu bagaimana mereka dapat bekerja dengan baik bersama-sama.

Dan tidak terintegrasinya (disintegrasi) bagian dan fungsi otak ini akan bermuara pada kondisi psikologis yang (sebut saja) kurang sehat. Dimana pada anak-anak, disintegrasi ini akan muncul sebagai kewalahan menghadapi emosinya, kebingungan, ketidakmampuan merespon sesuatu dengan tenang, tantrum, kesedihan, dan juga agresi.

Lalu, bagaimana cara mengintegrasikan otak anak?

Yaitu dengan membantu anak memahami suatu peristiwa, sehingga seluruh aspek psikologis dalam dirinya (misalnya: emosi dan logika) dapat bekerjasama dengan baik meresponnya.

Misalnya begini:

Pada suatu hari Kakak dan Adik berebut mainan hingga Kakak akhirnya kesal dan memukul Adik. 

Melihat kejadian ini, Ibu kemudian berkata, "Kakak ga boleh kaya gitu, Adik-nya dipinjemin dong!" 

Kakak pun menolak dan berkata, "Ini kan punya Kakak, Adik ga boleh dong asal ambil…"

Lalu, ibu Kakak dan Adik kembali berkata, "Kakak kan lebih besar, harus mengalah sama Adik… Sekarang kasih mainannya sama Adik, terus minta maaf… Adik nangis tuh…"

Dan pada saat Kakak masih menolak, jurus terakhir pun dikeluarkan, "Kasih mainannya sama Adik, kalo enggak nanti Ibu juga ga mau beliin mainan Kakak lagi!"

Coba bayangkan chaos macam apa yang terjadi pada pikiran Kakak menghadapi situasi seperti ini…

Secara logis, dia harus memutuskan meminjamkan mainan itu pada adiknya agar nantinya tetap dibelikan mainan oleh ibunya. Tapi, secara emosi, dia belum bisa menerima kondisi itu, karena merasa bahwa itu adalah mainannya dan dia ingin memakainya untuk bermain. Sehingga yang terjadi adalah Kakak kemudian memberikan mainannya dengan cara dilempar ke adiknya… Salah satu bentuk agresi…

Dan sesungguhnya, kita sebagai orang-tua bisa membantu mengintegrasikan pikiran anak dalam menghadapi kejadian ini dengan cara memberikan penjelasan yang bisa diterima baik logika dan emosi anak…

Misalnya:

"Kakak, Ibu tahu, kalau ini mainanmu dan kalau kamu ga mau pinjemin ke Adik, ya Adik seharusnya ga boleh maksa… Tapi, Adik itu kan masih kecil… Belum bisa berpikir seperti kita orang yang lebih besar… Taunya Adik, kalau dia mau, ya dia harus dapet… Kakak inget ga, dulu waktu masih kecil juga kalau mau beli mainan, sudah dibilangin Ibu ga bawa uang, masih nangis tetep minta? Ya, Adik juga seperti itu, dia belum ngerti… jadinya maunya apa harus dapet…"

Penjelasan seperti ini memiliki potensi yang lebih baik untuk membuat anak mengintegrasikan pikirannya.

Baik logika maupun emosinya mampu memahami dan memiliki pendapat yang sama mengapa dia perlu memutuskan untuk meminjamkan mainan itu kepada adiknya.

It's not that easy…

Yes, tentu saja… siapa bilang jadi orang-tua itu gampang kan… 😁
Tapi, kabar baiknya adalah bahwa otak manusia itu selalu berubah bentuk sesuai dengan pengalaman sepanjang hayat! Bukan hanya pada saat masih bayi atau kecil saja…
Dulu, kita percaya bahwa bentuk otak akan berubah sampai dengan usia tertentu untuk kemudian menetap dan tidak berubah lagi. Jadi pada saat kita sudah dewasa, ya sudah begitulah adanya… Yang ternyata ini salah…

Jadi pada saat kita sudah terbiasa tidak sabaran pada saat menghadapi situasi-situasi genting (seperti anak berantem), kita masih bisa kok merubahnya. Tentu saja, pada awalnya akan terasa effortful ya… Tapi, seiring dengan semakin sering kita mengalami mengendalikan emosi dan lebih tenang menghadapi situasi semacam itu, selanjutnya sedikit demi sedikit semua tidak akan sesulit sebelumnya karena otak kita berubah sesuai pengalaman itu.

Dan saya membuktikannya…

Pada awalnya, bersikap sabar dengan segala pertanyaan yang harus dijawab real time dan bertubi-tubi itu adalah hal yang SULIT SEKALI. Juga pada saat anak kemudian marah lalu membentak atau melakukan tindakan fisik (mostly kepada adiknya).

Sehingga, ada kalanya kemudian saya pun melampiaskan emosi yang tidak tersalurkan karena harus bersikap sabar ini pada objek lain, seperti pada suami misalnya.

Namun, kemudian sedikit demi sedikit, kok semakin terasa ringan… Dan hari ini, setelah sekitar empat minggu berjibaku dengan hal mengendalikan emosi sendiri, kemudian saya sadar besarnya perubahan itu.

Jika dulu, semua terasa effortful… sekarang, pada saat anak bertanya bertubi-tubi dan harus dijawab real time, saya masih bisa tenang dan tetap menjelaskan. Juga pada saat anak ngotot atau marah, berantem ga mau mengalah, dan sebagainya… saya pun masih bisa tenang dan memberikan pengertian sampai akhirnya anak menjadi paham…

Pun saya menyadari hal yang sama pada anak saya… Dia menjadi lebih sabar, tenang dan empati…

So, yes, kami berdua berubah menjadi individu yang lebih baik somehow… Pengalaman kami tampaknya benar-benar merubah (literally) otak kami, sehingga dapat merespon kejadian di sekitar kami dengan lebih tenang.

Ini tak kasat mata sih ya… tapi, kan semua yang kita lakukan itu atas perintah otak… Jadi, percaya saja lah kalau memang bentuk otak kami berubah…😁

***

Yup, kurang lebih begitulah insight yang saya dapatkan dari pengalaman berusaha memperbaiki perangai anak dengan mengurangi tekanan atau menurunkan tingkat stress-nya. Yang ternyata ini dapat dijelaskan juga sebagai membantu anak mengintegrasikan otaknya.

Somehow, buku The Whole-Brain Child ini memang sangat insightful dan enlightening mind banget… Jadi, saya berencana untuk menuliskan inti dari chapter-chapter selanjutnya dalam blog ini dikorelasikan dengan pengalaman sehari-hari. Jadi, sambil belajar, sambil praktek, sambil berbagi juga kan…

Teman-teman yang mau baca, tolong bantu doa juga ya, supaya ini bukan hanya jadi wacana… *sambil melirik tumpukan buku yang belum dibaca* 😅

That's it…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Tuesday, March 5, 2019

Pengalaman Tes IQ Anak di Klinik KANCIL Jakarta

Pada suatu hari… 

"Selamat pagi, mbak maaf mau tanya, di Kancil ini bisa Tes IQ anak enggak ya?" tanya saya via telpon.

"Bisa, bla-bla-bla-bla… Untuk masuk SD atau pribadi ya Bu?" tanyanya kembali…

"Pribadi," jawab saya singkat, tapi sembari berpikir, "Oh, ternyata anak masuk SD pake tes IQ juga ya…" Soalnya, saya sendiri sebenarnya tidak melihat urgensinya Tes IQ pada anak-anak secara umum, dalam artian tidak memiliki issue tertentu dalam bidang akademis atau sosial.

***
Tes Inteligensi atau sering disebut Tes IQ (Intelligence Quotient) adalah ukuran dari kemampuan reasoning (penalaran) dan problem solving (penyelesaian masalah). Dimana dari hasilnya, kita akan mengetahui 'sebaik' apa kita pada test tertentu dibandingkan dengan orang lain pada kelompok usia kita.
Lalu, kenapa sih seseorang perlu Tes IQ?

Jawabannya bisa bermacam-macam tergantung keperluannya…

Pada setting rekruitmen pekerjaan dan juga penerimaan siswa, tes ini digunakan untuk memprediksi kemampuan kognitif calon pekerja atau siswa. Karena, tentu perusahaan atau sekolah pun mengharapkan kemampuan penalaran tertentu untuk dapat memahami dan melaksanakan tugas tertentu.

Sedang pada setting treatment psikologis, informasi mengenai IQ merupakan salah satu informasi yang penting untuk menentukan treatment yang sesuai untuk anak dengan kasus spesifik tertentu.

Maksudnya gini… Pada saat seorang anak kurang mampu mengikuti pelajaran di sekolah, maka untuk menentukan penanganan yang tepat untuk anak mungkin diperlukan informasi dari observasi, wawancara, dan Tes IQ sebagai salah satu pengukuran yang lebih objektif. Karena, tidak selamanya anak yang kurang berprestasi di kelas itu disebabkan kemampuan kognitifnya kurang, bahkan bisa terjadi sebaliknya. Teman-teman bisa googling tentang permasalahan anak gifted (memiliki kecerdasan di atas rata-rata) untuk tahu lebih banyak…

Jadi, jika anak bisa beradaptasi dengan kehidupan sehari-harinya dengan baik, prestasi cukup dan bahagia; ya menurut saya tidak ada urgensinya.

Lalu, teman-teman mungkin ada yang tanya nih, kenapa kemarin saya Tes IQ anak… Hmm, nanti kapan-kapan saya cerita deh, soalnya kepanjangan kalo saya ceritain disini kita kembali ke judul post ini, tentang 'Pengalaman Tes IQ Anak di Kancil Jakarta' ya… Siapa tau ada teman-teman yang memerlukan Tes IQ juga untuk masuk SD atau ada suatu issue terkait anaknya…

Profil KANCIL


Jadi KANCIL ini dulu bernama Cikal Bakal Sehat-Sehat. Didirikan tahun 2003, KANCIL memberikan layanan psikologi anak, remaja dan keluarga; dengan tujuan utama optimalisasi tumbuh-kembang anak mulai usia 0 bulan sampai 17 tahun.

Di KANCIL sendiri ada berbagai layanan, seperti: konsultasi psikologi untuk anak, remaja dan keluarga; Play Therapy; Terapi Perilaku Kognitif (CBT); Hypnotherapy; dan sebagainya. Yang semuanya diampu oleh tenaga-tenaga profesional di bidangnya, yang rata-rata saya lihat dari brosurnya sih profesional dalam bidang psikologi tentu saja.

Tes IQ Anak

Jadi, ada beberapa alat tes IQ yang digunakan mengukur kemampuan kognitif anak, dan yang cukup populer sih Coloured Progressive Matrices (CPM) dan Wechsler Intelligence Score for Children (WISC). Kalau CPM biasa digunakan untuk anak usia 5 - 11 tahun, kalau WISC usia 6 - 16 tahun… Itu aja infonya, soalnya saya harus belajar lagi juga untuk jelasin kedua test itu… maklum udah lulusnya udah tahun 2007, udah lupa… Kalo penasaran, teman-teman googling aja ya…😅

Nah, kalo kemarin itu tesnya pake WISC… saya taunya ya pas telpon mau booking. Penting ditanyain sih ini menurut saya, soalnya sekarang alat test makin aneh-aneh, ada yang pake sidik jari segala, yang belum teruji klinis. Jadi, pas denger alat testnya familiar, yakin deh…

Waktu itu saya daftar kurang lebih satu minggu sebelum jadwal untuk memastikan waktunya tepat. Namanya anak-anak ya, kadang siangan dikit dia ngantuk, udah kecapekan main, dan sebagainya… jadinya ga terlalu semangat menyelesaikan tugasnya dan bahkan simply ga mau. Jadi mendingan, cari waktu pagi aja… tapi, mungkin bisa disesuaikan dengan kebiasaan anaknya juga sih…

So, terjadwal lah kami untuk konsultasi (Tes IQ) pada hari Senin pukul 10:00 siang… Hari Sabtu-nya, kami kembali dikonfirmasi untuk mengingatkan sekaligus menginformasikan kalau jadwal bergeser ke jam 11:00. Ya sudah, it's OK, untuk jaga-jaga, anaknya kami usahakan untuk makan banyak-banyak sebelum tes, jadi meskipun melewati jam makan siang, dia ga kelaperan. Untungnya sih anaknya bukan tipe tidur siang, jadi aman lah…

Jam 10:45 kami telah tiba di Klinik KANCIL yang bertempat Rukan Duren Tiga Kav. 20, Jl. Duren Tiga Raya No. 7J, Jakarta Selatan. Sebelum sesi, kami diminta mengisi formulir mengenai data anak yang dibutuhkan. Dan selanjutnya, kami menunggu sampai giliran kami… But as we know kalau menunggu itu adalah musuhnya anak-anak, disini kita tidak perlu khawatir. Di Klinik KANCIL tempat menunggunya cukup child friendly


Kemudian, setelah menunggu kurang lebih 15 menit, giliran kami pun tiba…

Pertama, saya dan suami dipanggil untuk konsultasi terlebih dahulu terkait anak; keseharian anak di rumah, di sekolah, permasalahan (jika ada), pengasuhan, dan sebagainya. Dalam sesi ini, akhirnya saya aja sih terlibat, soalnya anak-anak mau ikutan masuk, jadinya suami terpaksa ngajak mereka main di luar saja.

Teman-teman mungkin bertanya, mau Tes IQ aja kok pakai konsultasi segala ya…

Hmm, sebenarnya sesi konsultasi ini pun lebih ke arah menggali informasi mengenai anak dari orang-tua sih. Manfaatnya bagi psikolog yang akan mendampingi anak mengerjakan tes (administrator tes) akan memahami karakter anak, karena kan namanya anak-anak perlu perlakukan tertentu supaya bisa mengerjakan test secara maksimal yang kurang lebih 2 jam lamanya.

Dan setelah informasi cukup, kemudian giliran anak yang masuk ke ruangan untuk melaksanakan tesnya. Kami orang-tua menunggu di luar saja…

Boleh ditemenin atau ga pada saat anak mengerjakan Test IQ?

Menurut saya sih strongly recommended, TIDAK. Yang dikhawatirkan itu karena adanya orang-tua, justru mengganggu jalannya tes. Misalnya: anak jadi lebih fokus kepada orang-tua daripada kepada administrator dan tesnya; atau orang-tua yang gemas lalu mendorong anak untuk menjawab; dan sebagainya.

Tapi, mungkin lain kasus jika anaknya takut ditinggal sendirian bersama orang asing… Tapii, yah, kenapa tidak mencoba memberi kepercayaan pada anak dan juga psikolognya kan? Percaya deh, yang namanya Psikolog itu rata-rata sudah kuliah 6 tahun untuk berhadapan dengan berbagai macam klien.

Back again

Tik… tok… tik… tok… akhinrya kurang lebih dua jam pun berlalu dan tesnya sudah selesai…

Terus hasilnya gimana?

Hasilnya ga langsung dong… tapi tunggu dua minggu lagi… Yang namanya Tes IQ dengan WISC atau pun CBT itu perlu waktu tersendiri untuk skoring. Setelah itu, baru kemudian hasilnya diinterpretasi, yaitu semacam narasi dari hasil tesnya… Bukan seperti tes pake komputer, yang hasilnya sedetik setelah tes pun bisa dihitung. Jadi… sabar ya…

And the last question but not least important… Biayanya berapa?

Itu juga yang saya tanyakan pada saat pertama kali telpon ke Klinik KANCIL… Jadi biaya untuk Tes IQ anak di Klinik Kancil kemarin itu rinciannya sebagai berikut:

Biaya konsultasi + lamanya tes (Rp. 350.000,-/jam) (2:15)Rp. 788.000,-
Biaya alatRp. 60.000,-
Biaya interpretasiRp. 150.000,-
Biaya pendaftaranRp. 60.000,-
Total± Rp. 1.058.000,-

Iyah, untuk biaya tesnya dihitung seperti konsultasi ya… Yaitu Rp. 350.000,- per jam. Mahal atau enggak, ya relatif sih… Kalau saya sih, so-so lah, biaya dokter aja nanya-nanya sebentar, periksa terus kasih resep itu kalau spesialis minimal Rp. 100.000,- kan. Yah, artinya keduanya sama-sama dihargai karena keahliannya ya…


***

Nah, kurang lebih begitu sih pengalaman kami melakukan Tes IQ di Klinik KANCIL Jakarta…

Jauh amat yak… emang di Lampung ga ada? Hoho, bukaan, ini sih ceritanya sebenarnya sekalian liburan dan nengokin keluarga sih… Jadi sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

Dan, sebelum post ini sampai pada epilog, beberapa tips untuk teman-teman yang ingin melakukan Tes IQ untuk anak juga adalah sebagai berikut:

Sebaiknya tidak dilakukan pada usia terlalu dini

Beberapa ahli dan praktisi berpendapat bahwa 6 tahun adalah usia paling tepat bagi seorang anak untuk mendapatkan Tes IQ pertamanya. Hal ini disebabkan, Tes IQ pada anak-anak yang lebih muda cenderung tidak stabil.

Pastikan alat test yang digunakan terpercaya

Jaman sekarang, perkembangan alat tes psikologi sangat pesat. Beberapa di antaranya, bahkan belum teruji secara klinis dan masih menjadi perdebatan di kalangan para ahli.

Saya pribadi, lebih prefer alat tes yang memang sudah teruji klinis.

So, sebelum melakukan tes, tidak ada salahnya bertanya alat tes apa yang akan digunakan dan kemudian googling. 

Pastikan administrator terbiasa menangani klien anak-anak

Setuju kan kalau anak-anak itu perlu trik tersendiri untuk menanganinya. Terkait dengan tes pun, jelas mereka tidak merasakan urgensi harus mengerjakannya dengan sebaik mungkin. Jadi, ya, mereka lebih mudah terdistraksi oleh emosi dalam dirinya ataupun lingkungan.

Pastikan anak dalam kondisi yang prima

Kita pasti ingin anak dapat mengerjakan tes dengan maksimal, sehingga hasil yang didapatkan valid bukan? So, mari kita minimalisir potensi-potensi yang membuat anak kurang maksimal mengerjakan tesnya. Misalnya: sedang sakit, mengantuk, lapar, capek, banyak pikiran, dan sebagainya.

Penting juga nih, supaya tidak justru membuat anak menjadi tegang. Anak-anak itu dunianya main, saran saya sih jelaskan saja bahwa apa yang akan mereka kerjakan itu semacam permaian yang seru.

***

Yaa, that's really it. Kurang lebih seperti itulah pengalaman sekaligus tips yang bisa saya sampaikan mengenai Tes IQ untuk anak. Semoga bermanfaat ya…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-

Thursday, February 21, 2019

Menguatkan Perilaku Positif Anak dengan Metode Token Ekonomi

"Metode Token Ekonomi apaan sih?" Jika teman-teman bertanya demikian, maka saya justru sebaliknya, sejak beberapa hari yang lalu berpikir, "Apalah namanya metode yang saya cobakan ke Ganesh ini ya…"

Dan akhirnya, setelah mengingat-ingat salah satu topik yang pernah dibahas di kuliah Psikologi Perkembangan bertahun-tahun lalu ini, saya pun ingat… It is 'Token Economy' atau sebut saja 'Token Ekonomi'!
'Token Economy' dalam setting edukasi adalah sistem untuk menyediakan positive reinforcement (penguatan positif) pada anak dengan memberikannya token setelah menyelesaikan suatu tugas atau bersikap seperti yang diharapkan. Setelah terkumpul, token ini kemudian dapat ditukarkan dengan reward yang lebih diinginkannya.
Jadi contohnya gini nih, misalnya si Totok kasih beberapa key behavior untuk mendapatkan token, yaitu: makan sayur, tidur siang, dan bangun tepat waktu. Maka pada saat si Totok melakukan makan sayur, dia akan mendapatkan satu token; demikian juga pada saat dia melakukan tidur siang dan bangun tepat waktu. Token-token ini, selanjutnya akan dikumpulkan dan setelah mencapai kuantitas tertentu dapat ditukarkan dengan hal yang diinginkan si Totok.


Or simpelnya, ya Totok melakukan sesuatu yang kita inginkan untuk mendapatkan yang diinginkannya.

Nah, metode itulah yang saya terapkan pada Ganesh beberapa waktu yang lalu… dengan tujuan utama sebenarnya adalah menciptakan lingkungan yang lebih jelas, sehingga less stressful, sebagai berikut:

Memberikan sasaran kinerja (key behavior) yang jelas bagi dan reward yang akan didapatkan.

Di setiap perusahaan, pasti ada tuh yang namanya penilaian kinerja kan… dimana pegawainya akan dinilai berdasarkan beberapa sasaran kinerja yang ditetapkan untuknya. Dan dari sasaran kinerja itulah kemudian akan diukur keberhasilan atau prestasi dari sang pegawai yang kemudian dari sana akan ditentukan reward untuknya.

Nah, demikian juga dengan Token Economy… Dengan metode ini, Ganesh lebih gamblang memahami sasaran kinerja dan juga reward yang akan didapatkannya jika berhasil melaksanakan sasaran kinerja tersebut.

Hal ini tentu menciptakan suasana yang fair dan jelas sehingga meminimalisir stress yang terjadi karena perasaan, "Sebenarnya apa sih yang harus kulakukan?" atau "Bagaimana sih mendapatkan yang aku inginkan?" atau juga "Aku ini sudah bagus belum sih?" dan sebagainya… akan terjawab dengan jelas.

Memberikan gambaran yang jelas, progress yang dicapai.

Metode Token Economy lebih baik diterapkan menggunakan media yang dapat memberikan visualisasi jelas terhadap pencapaian anak. Misalnya token berupa koin yang ditempatkan pada wadah transparan atau berupa papan dan token ditempelkan.

Dengan cara ini, anak akan dapat melihat dengan jelas sejauh mana pencapaiannya dan juga berapa jumlah token yang perlu dikumpulkannya untuk mendapatkan reward. Metode yang sangat tepat untuk memotivasi anak yang cenderung cepat bosan dan kurang sabaran.


Beberapa Tips dan Trik Menerapkan Metode Token Economy



Pada dasarnya, Token Economy itu ya sesimpel menentukan perilaku yang ingin dikuatkan, menyiapkan media dan juga reward yang akan diberikan. Akan tetapi, agar metode ini lebih efektif, terdapat beberapa tips yang dapat diterapkan… Yaitu:
  • Pilih tiga macam perilaku, sebagai berikut: perilaku yang sudah telah dilakukan anak dengan baik, perilaku yang membutuhkan sedikit peningkatan, dan perilaku yang menantang (jarang dilakukan anak).
  • Sampaikan perilaku yang diinginkan dengan cara yang positif. Misalnya alih-alih menyebut, "Jangan nakalin Adek," maka lebih baik disebut, "Menjaga Adek."
  • Pecah perilaku menjadi hal yang lebih kecil jika dibutuhkan. Misalnya tentang perilaku makan sayur; dapat dipecah menjadi makan sayur pada saat sarapan, makan siang, dan makan malam. Hal ini berguna untuk memecah sebuah perilaku yang cukup berat bagi anak-anak menjadi potongan-potongan yang lebih kecil dan mudah dilakukan. Ingat, tugas yang terlalu berat justru tidak akan memotivasi anak.
  • Siapkan token di tempat yang bisa dengan mudah dicapai anak. Jadi anak bisa segera mengumpulkan atau menempelkan token segera setelah suatu key behavior dilakukannya.
  • Menentukan menu reward yang bervariasi. Misalnya dengan 10 token bisa ditukar dengan jalan-jalan ke taman, 20 token dengan berenang, 30 token dengan main ke taman kelinci, dan sebagainya. Dengan demikian 'permainan' ini menjadi menarik dan anak-anak pun tetap bersemangat.

Latar Belakang Kami Menerapkan Metode Token Economy

Nah, kenapa kami menerapkan metode ini pada awalnya adalah karena mendapati bahwa Ganesh ternyata tampak jenuh dan (sebut saja) stress dengan keseharian dan lingkungannya.  Hal ini kami ketahui dari kecenderungan perubahan perilakunya menjadi mudah marah dan juga hasil ngobrol intensif dengannya.

Dari sini, kemudian ditambah dengan pengamatan kecenderungan kepribadiannya, maka saya merasa metode ini layak dicoba untuk mengurangi perasaan tertekan karena lingkungan. Dimana tertekannya anak itu sebenarnya cukup sederhana, seperti: 

Menginginkan sesuatu namun syarat yang diberikan orang-tua tidak pernah dapat dicapai

Ini lebih ke arah transparansi dan juga semacam raport mengenai progress anak mencapai hal yang diinginkannya.

Jadi begini, kami pernah menjanjikannya membelikan smart watch dengan syarat dia bisa menjadi anak baik. Nah, term 'anak baik' ini ternyata sulit sekali dicapainya; karena hal-hal kecil, seperti rebutan sama adeknya, kelepasan manjat mobil, ngegambarin tembok, dll. Setiap kali melakukan kesalahan semacam itu, ya jadi senjata kami untuk bilang, "Katanya Anesh mau jadi anak baik…" akhirnya dia patah arang dan bilang, "Ya udah, Anesh ga usah jadi anak baiklah…"

Merasa bukan anak baik, sering ditegur karena melakukan kesalahan dan bosan harus melakukan aturan tertentu, karena sesungguhnya tidak merasakan urgensi dari mengikuti aturan tersebut

Nah, loh, kok bisa begitu ya… Yup, jadi, Ganesh ini anaknya cukup kritis sehingga sulit untuk diyakinkan. Dia tidak mudah untuk menerima pendapat orang lain, adu argumen a.k.a ngeyel itu hal yang biasa terjadi.

Seringkali, kami sendiri kehabisan akal untuk menjelaskan suatu hal padanya… Misalnya begini; mengenai tentang kami melarangnya untuk bermain bergantung-gantung di pintu. Dia tidak akan terima dengan alasan bahwa itu berbahaya. "Anesh kan ga jatuh Mama, Anesh pegangan…" begitu argumennya. Dengan begitu, kami pun harus memutar otak untuk menjelaskan konsep abstrak bernama 'risiko' supaya dia bisa sepaham mengenai urgensi dari tidak bermain gantung-gantung di pintu.

Ini hanya satu hal saja… Selain itu, ya masih banyak contoh lain… Dan kami pun bukan Superman dan Wonder Woman yang bisa selalu memuaskan keskeptisan anak. So, ya cara Metode Token Economy ini bisa jadi satu hal yang menguatkan alasannya perlu melakukan suatu hal, meskipun sesungguhnya belum puas benar dengan argumen kami.

***


Dua hal itulah yang kemudian membuat saya merasa bahwa Metode Token Economy ini bisa mengurangi gejolak pikiran Ganesh ini.


Eksekusi Metode Token Economy Kami

Karena anak saya dua, walaupun sasaran utamanya Ganesh, Mahesh juga saya buatkan juga. Cuma, supaya ga panjang, disini saya cerita tentang Ganesh aja ya… Yang punya Mahesh, bisa liat fotonya aja…


Nah, berikut adalah key behavior untuk Ganesh:
  • Be a good brother! Karena Ganeshnya kadang-kadang ngusilin atau ga mau ngalah sama adeknya, jadilah key behavior ini.
  • Helping others! Yup, dalam hal ini Ganesh masih moody banget. Kalau lagi mood-nya bagus, dia akan dengan senang hati membantu kami, tapi kalo lagi biasa aja atau jelek, ya wassalam… And unfortunately dia masih jarang sih dengan inisiatif sendiri membantu orang lain.
  • Eat by yourself! Udah kelas 2 SD, makan sendiri sebenarnya gampil lah buat Ganesh… Cuma, yah, kalo lagi males, anak ini masih suka minta disuapin.
  • Go to school on time! Poin dari key behavior ini sebenarnya adalah di Ganesh bangun pagi dan kemudian cukup kooperatif untuk melaksanakan kegiatan di pagi hari hingga berangkat sekolah. Dalam praktiknya, ini berarti dia perlu bergegas mandi pagi, sarapan, ga banyak main, dan salah fokus.
  • Do not speak bad words! Nah, yang ini sebenarnya pemilihan kata yang kurang ideal sih… cuma saya belum menemukan kalimat yang lebih tepat, yah, kita pakai ini dulu saja. Berkaitan dengan key behavior ini, jadi ceritanya Ganesh nih masih sering mengucapkan kata-kata yang tidak pada tempatnya; misalnya: eek, bauk, dan sebagainya. So, kami perlu mendisiplinkan pemilihan bahasanya sehari-hari.
  • Eat veggetables two times a day! Ganesh suka kok sayur, cuma memang sedikit pemilih sih… So, yes, ini perlu diperkuat lagi…
  • Do homework or Kumon! Ini tipe perilaku yang mudah diselesaikan oleh Ganesh sih… Ditambahkan disini, untuk membuatnya bersemangat!
  • Go to bed on time! Nah, kalo yang ini, memang anaknya perlu di-oprak-oprak (Bahasa Jawa) alias diomelin dulu. Somehow, Ganesh itu susah disuruh tidur, mau siang atau malam. Kadang saya khawatir, untuk ukuran anak kecil 7,5 tahun apa tidurnya yang 8 jam sehari itu cukup.
  • Special awards. Dan yang ini adalah untuk mengakomodir perilaku-perilaku positif yang dilakukannya, tapi tidak termasuk key behavior lainnya. Hmm, tentang ini, jika anaknya kritis sekali, mungkin dipertimbangkan untuk di skip saja. Karena pengalaman saya pada Ganesh, kami jadi suka berdebat soal poin ini. Lesson learned
Selanjutnya, untuk medianya, saya sendiri menggunakan papan styrofoam dan token yang ditempelkan. Dan untuk itu, maka alat dan bahan yang saya pakai adalah: papan Styrofoam berwarna, spidol warna putih, penggaris, kertas origami warna-warni, bolpen, kain flanel, push pin, spidol hitam, gunting, dan double tip.


Adapun cara membuat adalah sebagai berikut::
  1. Buat papan token dengan media styrofoam yang digaris dengan spidol warna putih.
  2. Buat tulisan key behavior yang akan digunakan dengan menggunakan kertas origami warna-warni.
  3. Buat token dengan menggunakan kain flanel. Kalau saya sih memilih bentuk 'love' saja, karena lebih mudah dibuat.
  4. Selanjutnya tempelkan papan token pada dinding dengan menggunakan double tip dan push pin untuk menempelkan token pada dinding. Oh ya menempelkan papan tokennya di tempat yang terjangkau anak ya… jadi mereka bisa menempel sendiri dan lebih bersemangat.
Selanjutnya, setiap sore atau malam menjelang tidur, kita pun mengajak anak-anak me-review kegiatan mereka seharian. Apakah ada kegiatan yang masuk key behavior dan mendapatkan 'love' atau tidak.

Nah, lalu reward-nya apa… Ini jadi hal yang susah buat kami. Idealnya, reward itu sebisa mungkin bukan sesuatu yang sifatnya material kan, tapi ini agak susah, jadi tetap kami sertakan juga supaya lebih bervariasi. Tapi, tetap bukan dalam bentuk nominal uang tentunya, karena kalo begitu sih Ganesh tampaknya akan lebih memilih uang, secara anaknya cinta kebebasan…

Berikut daftar reward proyek Token Economy kami:
  • Kardus bekas (10 token). Believe it or not, Ganesh itu suka banget sama kardus bekas… Kalau liat kardus, udah excited banget anaknya. That's why kami jadikan reward juga, meskipun yakinnya sih dia bakal ngincer reward yang lain.
  • Bahan craft (20 token). Seperti lem, kertas origami, dll; soalnya anaknya suka banget bebikinan. Idenya itu ada aja, kadang tau-tau nelpon, minta dibeliin double tip lah, selotip lah, lem, dll. 
  • Beli mainan di *maret-maret* (40 token). Namanya anak-anak, tiap kali belanja apa, pasti nanya, "Boleh beli mainan ga?" So, yeah, kami rasa yang ini bakalan lebih menarik dari dua reward sebelumnya.
  • Beli buku (80 token). Bukan buku sekolah ya… tapi buku yang sesuai maunya anaknya. Ya buku Lego, dinosaurus, dll. Ini mahal, jadi lumayan banyak lah token yang ditukar ya…
  • Jalan-jalan (100 token). Maksudnya jalan-jalan dalam kota ya… kalau luar kota apalagi luar negri ya harus dibicarakan di luar token.

Hasilnya…

Jeng… jeng… jeng… dan hasilnya adalah… Yes! Anaknya excited banget lho dengan metode ini, even waktu itu masih trial dan reward-nya sebenarnya belum kami declare

Anaknya cukup licik sih… dia ulang-ulang kegiatan yang menurut dia mudah, misalnya di Special Awards itu dia kumpulkan dari membaca buku yang dia suka. Sementara untuk beberapa lainnya yang mungkin sulit baginya, ya dia ga terlalu ngoyo juga…

In resume, beberapa hal yang saya amati dari penerapan Metode Token Economy ini adalah:

Ganesh tampak lebih happy dan excited menjalani hari-harinya, termasuk mengerjakan hal-hal yang selama ini tidak terlalu dia minati.

Saking excited-nya, dia sampai bela-belain telpon papanya yang sedang di luar kota untuk ngabarin pencapaiannya hari itu… Apa yang sudah dia kerjakan hari itu dan juga total token yang sudah dia dapatkan. Dimana ini sesuai dengan tujuan awal dibikinnya proyek Token Economy ini, yaitu menciptakan situasi yang less stressful alias ga bikin stress.

Ganesh lebih bisa berempati dan menghargai kebaikan orang lain padanya.

Yang namanya anak kecil, pemikirannya seringkali masih egosentris sekali alias melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri. Misalnya dia minta diambilin minum, dia cuma melihat bahwa itu tidak capek baginya, tanpa berpikir bahwa bisa jadi orang lain capek karena permintaan itu.

Lha ini, beberapa hari setelah proyek ini dimulai, kok kemudian suatu hari dia minta diambilin minum dari bawah (anaknya lagi belajar di lantai atas), kok dia nyeletuk, "Mama, Mama itu bikin juga aja kaya punya Anesh biar bisa dapet love juga…"

Dan saya becandain aja… "Emang nanti kalo love Mama udah banyak, siapa dong yang kasih hadiah…"

Yang dijawabnya, "Ya Anesh lah…"

Dan dia tampaknya serius dengan kalimatnya itu, karena beberapa hari kemudian dia kembali mengingatkan saya, "Mama, Mama itu bikin aja lho kaya punya Anesh… dibikin, 'Be a good Mama gitu…' Nanti Anesh kan bisa kasih hadiah kalo udah banyak 'love'-nya…"

Wah, peningkatan banget ini… dia sekarang bisa lho menilai bahwa mamanya bantuin dia ambil minum, pijetin, dan sebagainya itu adalah sesuatu kebaikan. Cukup gimana juga rasanya dia secara implisit mengatakan bahwa apa yang saya lakukan itu adalah satu tanda mama yang baik.

So sweet kan…

Kok bisa begitu?

Menurut saya sih, karena dengan Metode Token Economy ini, kan kita memberikan penghargaan kepada anak berdasarkan key behavior yang dilakukannya. Anak merasa senang dengan penghargaan ini, dan kemudian merasa bahwa orang lain pun jika melakukan hal baik layak untuk diberikan penghargaan.

***

Jadi, menurut pengalaman saya, metode Token Economy ini recommended untuk menguatkan perilaku positif anak. Alasannya, ya bisa lihat di hasil yang sudah saya ceritain di atas ya…

So, yes, it's worth to try ya teman-teman… Jika memang teman-teman pun memiliki masalah untuk menguatkan perilaku positif pada anak. Namun, jika anaknya sangat kooperatif, mudah beradaptasi dengan aturan, mungkin urgensinya pun menjadi berkurang.

Dan sekian saja cerita saya tentang salah satu upaya saya menciptakan lingkungan yang menyenangkan (less stressful) untuk anak sekaligus menguatkan perilaku positif dalam dirinya. Berkaitan dengan tujuan membuat anak-anak lebih gembira dan tidak merasa tertekan, tentu masih ada beberapa usaha yang akan kami lakukan… dan insyaallah akan saya share di blog ini juga.

So, stay tuned ya…

And btw, teman-teman punya pengalaman juga tentang ini? Share dong…

With Love,
Nian Astiningrum
-end-